LRT Jakarta Siap Beroperasi, Inilah Kisaran Tarifnya!

Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta sebentar lagi akan mulai mengular di ibukota, namun bagaimana dengan Light Rail Transit (LRT) Jakarta? Ternyata LRT Jakarta yang sudah lebih dahulu menguji coba kereta mereka di lintasan tahun lalu dan mulai bergerak uji coba pada publik bau-baru ini.

Baca juga: LRT Jakarta Fase I Diperkirakan Beroperasi Pada Januari 2019

Humas officer LRT Jakarta Santhi Pradayini Savitiri mengatakan, pihaknya telah selesai melakukan uji coba bersama publik. Uji coba untuk publik sendiri sudah dimulai sejak 4 Maret hingga 18 Maret 2019 kemarin.

“Kita kalau uji coba kereta sendiri sudah dari tahun 2018 kemarin, kemudian untuk publik baru saja selesai dan bisa dibilang kita lebih dahulu dari MRT Jakarta untuk hal uji coba,” ujar Santhi yang ditemui KabarPenumpang.com di Busworld South East Asia, Kamis (21/3/2019).

Santhi menjelaskan, saat melakukan uji coba, LRT Jakarta bersama dengan TransJakarta untuk mengintegrasikan masyarakat. Dimana TransJakarta meluncurkan rute baru dari Pulo Gadung menuju Senen dengan bus TransJakarta 24 atau Jak 24.

“Rute ini dintegrasikan untuk masyarakat. Jadi penumpang yang naik bus TransJakarta 24 bisa turun di Boulevard Utara dan lanjut naik LRT Jakarta baik ke Pegangsaan Dua maupun ke Veledrome,” jelasnya.

Dia mengatakan pihak LRT dan Jakarta Propertindo (Jakpro) juga menginginkan secepatnya LRT Jakarta bisa beroperasi untuk masyarakat. Namun, pihak LRT Jakarta sendiri masih menunggu keputusan yang pasti dari Pemprov DKI.

“Kita harapannya bisa operasi bulan ini. Kita masih tunggu keputusan kapan di launching dan besaran tarif untuk LRT Jakarta,” tambah Santhi.

Kisaran tarif LRT Jakarta sepanjang 5,8 km dari Pegangsaan Dua, Kelapa Gading menuju Veledrome di Rawamangun adalah Rp6 ribu hingga Rp10 ribu. Sayangnya tarif ini pun sama seperti MRT Jakarta yang masih menggantung tanpa kepastian dari pihak Pemprov DKI Jakarta.

Baca juga: Dinilai Belum Siap, LRT Jakarta Urung Beroperasi Saat Asian Games 2018

Saat ini diketahui, pengerjaan sudah selesai 100 persen baik depo, stasiun maupun hal lainnya. Santhi mengatakan untuk segi operasional LRT Jakarta sudah bisa mengular di jalur ibukota.

“Kita juga akan lakukan uji coba dengan para penyandang disabilitas dalam waktu dekat ini, agar mereka bisa menggunakan fasilitas yang tersedia juga,” tambah Santhi.

PT INKA: Di Lebaran 2019 Akan Ada Kereta Tampilan Baru untuk PT KAI

PT Industri Kereta Api (INKA) yang merupakan perusahaan pembuatan kereta, ternyata sudah menghasilkan banyak kereta dan digunakan oleh PT Kereta Api Indonesi (KAI). Tapi apakah INKA hanya membuat kereta untuk KAI saja? Ternyata tidak, karena nama INKA sepertinya sudah tersebar di dunia perkeretaapian baik Indonesia maupun luar negeri.

Baca juga: Dari 438 Kereta Pesanan PT KAI, 288 Unit Telah Diserahkan oleh PT INKA

Baru-baru ini saat KabarPenumpang.com mengunjungi Busworld South East Asia di JI Expo Kemayoran sempat bertandang ke stand milik PT INKA. Salah seorang engineer menjelaskan bahwa kini INKA tengah mengerjakan sisa pesanan dari 438 kereta milik KAI.

“Kita sudah selesaikan sekitar 300 kereta dari 438 pesanan KAI dan ini akan ada yang baru,” ujar Engineer PT INKA Denna Maulana Ahmad, Kamis (21/3/2019).

Saat ditanya apakah KAI menambahkan sleeper train, Denna mengatakan kali ini akan ada sesuatu yang baru dan dihadirkan jelang Lebaran 2019. Menurutnya pengerjaan kereta baru tersebut tidak bisa diberitahu secara jelas oleh INKA, sebab ini adalah sebuah produk baru dan akan menjadi kejutan.

“Kalau mau tahu seperti apa baiknya tanya KAI, kami tidak bisa membocorkan jadi tunggu saja nanti saat jelang Lebaran ya. Yang jelas pesannya adalah peningkatan pelayanan untuk angkutan lebaran dan untuk tahu ini harus sabar,” ujarnya lagi sembari tersenyum.

Denna sendiri tidak mengatakan jumlah pasti kereta terbaru yang dipesan KAI tersebut. Namun dia mengakui bahwa kereta baru itu merupakan bagian dari 438 kereta yang dipesan pihak KAI.

“Jumlahnya berapa dan untuk melintas di jalur mana di tunggu saja,” tambah Denna.

Sayangnya saat di konfrimasi, Humas PT KAI Edy Kuswoyo mengaku belum mendengar apapun tentang rangkaian kereta terbaru yang akan diluncurkan pada Lebaran 2019.

“Saya malah belum tahu, nanti saya cari datanya dulu ya,” ujar mantan Kepala Humas Daop I ini kepada KabarPenumpang.com, Jumat (22/3/2019).

Baca juga: Gelontorkan Rp2 Triliun, PT KAI Pesan 438 Kereta dari PT INKA

Tak hanya KAI, Denna mengatakan, LRT Jabodebek juga memesan sebanyak 31 rangkaian kereta dimana satu rangkaian terdiri dari enam kereta sehingga total semuanya adalah 186 kereta. Rencananya akan di uji coba bulan Maret ini, namun karena satu lain hal diperkirakan akan di uji coba pada Juni 2019 mendatang.

Hasil CVR Lion Air JT-610 Bocor ke Publik, KNKT Tegaskan Datanya Tidak Sama

Dengan ditemukannya komponen blackbox – Cockpit Voice Recorder (CVR) dari Boeing 737 MAX 8 Lion Air JT-610 2,5 bulan setelah kecelakaan maut yang menewaskan 189 penumpang pada akhir Oktober 2018 silam di perairan Tanjung Karawang, seolah siap untuk mengungkapkan apa yang melatarbelakangi jatuhnya pesawat ini. Salah satu bagian inti dari blackbox tersebut, CVR dari pesawat nahas ini kini tengah ramai diperbincangkan – pasalnya, dalam rekaman detik-detik sebelum pesawat tersebut jatuh, terungkap kepanikan yang luar biasa dari ruang kemudi pesawat.

Baca juga: Setelah MPV Everest Gagal, Justru KRI Spica 934 Berhasil Temukan CVR Lion Air JT-610

Pada Rabu (20/3/2019), media asing Reuters mempublikasikan tiga sumber yang mengetahui isi dari CVR tersebut, dan ini merupakan kali pertamanya isi dari CVR diungkap ke hadapan publik. Kendati begitu, Reuters tidak memilki rekaman atau bahkan transkrip dari isi CVR tersebut. Dalam hal ini, kemungkinan tiga sumber yang mengetahui isi dari CVR ini adalah Boeing, Lion Air, dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Seperti yang dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, salah satu narasumber dari Reuters mengatakan bahwa pilot Bhavye Suneja asal India meminta kopilot untuk mengecek buku pegangan referensi cepat yang berisi check list untuk peristiwa abnormal. Dari sini, suasana di dalam kokpit mulai dirundung kepanikan.

Mengutip dari laman detik.com, dalam 9 menit berikutnya, sistem pesawat memberi tahu pilot bahwa pesawat dalam kondisi stall dan mendorong hidung pesawat ke bawah sebagai responsnya. Pilot berusaha untuk menaikkan hidung pesawat tetapi komputer masih salah mendeteksi stall. Akibatnya, hidung pesawat terdorong ke bawah oleh sistem trim pesawat. Normalnya, trim berfungsi untuk menyesuaikan permukaan pesawat sehingga tetap terbang lurus.

Ketika kondisinya sudah semakin mengerikan, sang pilot lalu meminta kopilot untuk mengambil alih sistem kemudi, sementara ia mengecek buku panduan untuk mencari solusi dari masalah di dalam pesawat tersebut. Di detik-detik akhir, terdengar pilot meminta kepada ATC di sekitar untuk membersihkan jalur penerbangan di ketinggian 3.000 kaki, dan meminta ijin untuk meningkatkan ketinggian pesawat menuju ketinggian 5.000 kaki – dan disetujui.

Namun sayang, ketika pilot tengah berusaha untuk mencari solusi pada penerbangan Lion Air JT-610, kopilot Harvino asal Indonesia tidak mampu mengendalikan pesawat tersebut. Kumandang takbir dari kopilot Harvino lalu mengakhiri rekaman penuh kengerian tersebut.

Kendati pemberitaan ini sudah kadung tersebar luas, namun pihak KNKT selaku salah satu institusi yang memiliki ‘kendali’ untuk mempublikasikan pemberitaan semacam ini mengatakan bahwa rekaman tersebut tidaklah sama dengan fakta yang terpapar di dalam CVR.

Baca Juga: Pesawat Secanggih Boeing 737 Max 8, Mungkinkah Mengalami Stall?

“Dengan demikian, menurut KNKT isi berita itu adalah opini seseorang atau beberapa orang yang kemudian dibuat seolah-olah seperti isi CVR,” ujar Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono dalam konferensi pers, Kamis (21/3/2019).

Jika mundur lagi ke belakang, preliminary report KNKT memfokuskan pada masalah Angle of Attack (AoA) pada penerbangan Lion Air JT-610.

“Digital Flight Data Recorder (DFDR) mencatat perbedaan antara AoA kiri dan kanan (sayap) sekitar 20 derajat dan berlanjut hingga akhir rekaman,” ujar investigator KNKT Subkomite Penerbangan, Nurcahyo Utomo (28/11/2018).

KNKT sendiri mengatakan bahwa pihaknya akan merilis temuan mereka berdasarkan CVR dan FDR pada rentang bulan Juli hingga September 2019 mendatang.

Gara-Gara Vodka, Penumpang Mabuk Hina Awak Kabin dengan Sebutan “Pedofil”

Seorang penumpang pria berteriak dan menghina awak kabin pedofil. Penumpang ini diduga mabuk setelah menenggak sebotol vodka di dalam toilet pesawat sebuah penerbangan yang dibelinya di toko bebas bea. Insiden ini sendiri terjadi dalam penerbangan maskapai Qantas yang berangkat dari Melbourne menuju Singapura dan terekam dalam video seorang penumpang.

Baca juga: Gara-Gara Penumpang Mabuk, Pesawat Scoot TR7 Mendarat Darurat di Sydney

KabarPenumpang.com melansir dari laman independent.co.uk (19/3/2019), pria itu bernama Henry yang awalnya terlihat berdiri di lorong kabin dan meneriaki awak kabin serta penumpang lain berusaha memeganginya dari belakang. Dia kemudian diamankan agar duduk dan ditahan oleh sabuk pengaman sambil terus secara verbal menghina awak kabin.

“Orang-orang seperti kamu adalah pedofil, jadi kamu tidak bisa memberitahuku bagaimana harus bersikap. Saya tidak ilegal,” ujar Henry.

Tak hanya menghina, pengakuan penumpang lain, Henry sempat meninju punggung awak kabin dan hinaanya sangat tidak sopan serta mengecewakan sebagai seorang penumpang. Untungnya awak kabin Qantas bisa menangani insiden yang mengkhawatirkan tersebut dan penumpang memujinya.

“Penumpang itu ditahan oleh kru dan bertemu dengan pihak berwenang setempat setibanya di Singapura. Kami mengambil pendekatan tanpa toleransi terhadap perilaku anti-sosial di atas kapal dan kami berterima kasih kepada kru kami atas profesionalisme mereka dalam mengelola situasi,” ujar juru bicara Qantas.

Insiden itu terjadi setelah diumumkan bahwa maskapai penerbangan menindak konsumsi alkohol di pesawat dengan melarang penumpang minum bir, wine (anggur) dan minuman keras apa pun yang dibeli secara bebas bea. Aturan ketat datang saat maskapai berusaha mengurangi insiden kemarahan di udara.

Di bawah langkah-langkah baru, alkohol apa pun yang dibeli di bandara bebas bea perlu dikemas ke dalam kantong plastik tertutup. Tas khusus ini dicap dengan instruksi: “Jangan buka pembelian alkohol sampai tujuan akhir Anda.”

Penumpang pesawat tidak akan dapat membukanya, karena hanya gunting atau pisau yang dapat memotong, yang keduanya dilarang dari tas tangan. Peraturan ini sedang dilaksanakan oleh World Duty Free, yang merupakan satu-satunya penyedia toko bebas bea di sebagian besar bandara UK, termasuk Heathrow, Gatwick, Stansted, Manchester dan Birmingham.

Baca juga: Tangkal Masuknya Penumpang Mabuk, Inggris Perketat Peredaran Alkohol di Bandara

Ini adalah pertama kalinya penumpang secara aktif dilarang minum alkohol yang dibeli secara bebas bea. Namun, maskapai sebelumnya telah menyarankan penumpang untuk tidak minum minuman keras yang dibeli di bandara.

Alih Operasi ATR dari Garuda Indonesia ke Citilink Selesai di 2020

Lima armada pesawat ATR 72-600 milik Garuda Indonesia kini sudah menggunakan livery dari maskapai berbiaya hemat atau low cost Carrier (LCC) Citilink. Tetapi hingga kini baru dua pesawat ATR yang sudah dioperasikan oleh anak perusahaan Garuda Indonesia tersebut.

Baca juga: Dua Pesawat ATR Garuda Kini Resmi Jadi “Milik” Citilink

Direktur Utama Garuda Indonesia IGN Askhara Danadiputra mengatakan, pihaknya akan mengalihoperasikan 16 armada pesawat ATR 72-600 nya ke Citilink. Pengalihoperasian ini sendiri diperkirakan akan selesai di tahun 2020 mendatang.

“Sisanya akan dialihoperasikan secara bertahap sampai dengan tahun depan sekitar Januari atau Februari,” ujar Ari Askhara yang dikutip KabarPenumpang.com dari bisnis.com (18/3/2019).

Ari sapaan Dirut Garuda Indonesia ini mengatakan, pengalihoperasian tersebut dilakukan bertahap sesuai dengan perkembangan permintaan masyarakat maupun evaluasi rute-rute Citilink yang menggunakan pesawat ATR. Dia mengaku, pihaknya memperkirakan evaluasi terhadap rute-rute yang diterbangi pesawat ATR itu membutuhkan waktu selama enam bulan kedepan.

Namun, dia menambahkan, evaluasi tersebut tidak menjadikan tingkat keterisian kursi atau seat load factor sebagai acuan utama. Tak hanya itu, dia mengatakan dalam dua tahun yang terhitung 2019 ini, proses pengalihoperasian 16 armada ATR milik Garuda kepada Citilink harus selesai.

“Program selama dua tahun, nanti semuanya di operasikan Citilink,” tambah Ari.

Sebenarnya pengalihoperasian ini sendiri sudah ada sejak September 2018 kemarin saat Garuda Indoensia dipimpin oleh Pahala N Mansury untuk mengurangi biaya operasional induk perusahaan. Bahkan Garuda telah meminta kepada pihak pabrikan yang berbasis di Toulouse Perancis agar pengiriman sembilan unit sisa pesanan ATR tidak dilakukan. Tercatat, Garuda telah memesan 25 unit ATR dan hingga saat ini sudah dikirim sebanyak 16 unit.

Dalam pengalihoperasian pesawat ATR milik Garuda Indonesia ke Citilink di nilai pengamat, harusnya ada maskapai baru untuk mengoperasikan pesawat jenis itu dibanding harus menyerahkannya pada Citilink. Sebab pesawat Airbus A320 yang kini dioperasikan Citilink memiliki kelas operasi yang berbeda dari ATR 72-600.

“Kalau menurut saya lebih baik pengoperasian ATR Garuda dioper ke maskapai baru, tetapi bukan Citilink,” kata Pengamat penerbangan Gerry Soedjatman.

Baca juga: Citilink Gunakan ATR 72-600 untuk Rute Bandung dan Lampung

Menurutnya, struktur pendapatan bisa berbeda saat menggunakan pesawat dengan mesin jet atau baling-baling. Tak hanya itu, struktur biaya pun berbeda sehingga Garuda Indonesia lebih baik memiliki unit usaha baru yang khusus untuk pengoperasian ATR dan CRJ Bombardier yang dimiliki. “Supaya GA fokus pada rute full service, sedangkan Citilink fokus pada LCC,” ujarnya.

Pelayanan Buruk, Presiden Afrika Selatan ‘Terperangkap’ Selama 3 Jam di Kereta Komuter

Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa mungkin ingin mengikuti jejak Presiden Jokowi yang pada 6 Maret lalu menaiki kereta komuter KRL Jabodetabek dari Stasiun Tanjung Barat menuju Stasiun Bogor. Namun pengalaman Cyril Ramaphosa naik kereta komuter rupanya tidak berjalan mulus.

Dikabarkan Sang Presiden Afrika Selatan ini terjebak di dalam sebuah kereta komuter selama beberapa jam pada Senin (18/3/2019) kemarin. Alih-alih mengeluhkan kesialannya tersebut, Presiden Cyril malah bersyukur karena ia bisa melihat secara langsung realitas sehari-hari yang dialami oleh para komuter – tepat dua bulan sebelum pemilihan umum Afrika Selatan digelar. Patut diketahui, terjebaknya Presiden Cyril di dalam rangkaian kereta tersebut merupakan ajang sang petahana untuk melakukan kampanye.

Baca Juga: The Blue Train, Kereta Super Mewah dari Ujung Selatan Afrika

Seperti yang dirangkum KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, adapun insiden ini terjadi ketika Presiden Cyril hendak bertolak menuju Pretoria dari Mabopane. Bahkan sebelum terjebak di dalam kereta, Presiden Cyril terpaksa harus menunggu rangkaian kereta datang selama kurang lebih satu jam lamanya. Bahkan, perjalanan dari Mabopane menuju Pretoria yang hanya berjarak 50 km harus ditempuh sang presiden dan rombongan lainnya dalam waktu tiga jam – normalnya 45 menit saja.

Adapun lamanya perjalanan yang harus ditempuh oleh sang presiden ini dilatarbelakangi oleh masinis kereta lain harus berhenti akibat dirinya dilempari batu oleh oknum tidak bertanggung jawab.

Ketika tengah mengular, sejumlah lensa kamera para jurnalis berhasil menangkap beberapa momen dimana Presiden Cyril berbincang dengan para komuter. Para jurnalis pun menyebarkan momen tersebut ke jejaring sosial – dan netizen menanggapinya dengan negative tones. Komentar buruk netizen ini muncul karena pelayanan kereta yang buruk.

Keterlambatan pemberangkatan kereta api di Afrika Selatan bukanlah hal yang aneh. Hampir setiap harinya, para komuter harus menunggu rangkaian ular besi yang terlambat untuk tiba di stasiun. Bahkan tidak hanya keterlambatan pemberangkatan saja, kereta yang anjlok juga seperti sudah menjadi pemberitaan yang lumrah di sana. Buruknya pelayanan kereta api di Afrika Selatan semacam inilah yang pada akhirnya membuat mereka geram dan menjadi bahan gunjingan para netizen.

“Dari 45 menit menjadi tiga jam … Selamat datang di dunia kami!” ujar salah seorang netizen.

Baca Juga: Chapman’s Peak, Jalur Tebing Nan Indah Meski Sarat Maut

“Presiden Cyril tidak tahu malu! Kami sebagai rakyat sudah mengeluhkan tentang buruknya pelayanan kereta api selama hampir satu dekade!” tandas yang lainnya.

Mengingat ini merupakan masa kampanye baginya, di akhir perjalanan Presiden Cyril berbjanji akan menemui pemangku kepentingan terkait guna mencari jalan keluar dari masalah nasional ini.

“Sangat tak bisa diterima, perjalanan sejauh 50 km membutuhkan waktu tiga jam dan kondisi ini harus segera berakhir,” ujar sang Presiden.

Hadirkan Desain Doodle, Google Rayakan Hari Jadi Tactile Paving Ke-52

Anda masih ingat dengan tactile paving yang biasa ditemui di trotoar atau infrastruktur transportasi lain? Nah, instrumen yang berfungsi sebagai ‘penuntun’ langkah bagi penyandang disabilitas (tuna netra) ini ternyata baru saja memperingati hari jadinya yang ke-52 tahun. Sebagai salah satu bentuk apresiasi dan penghormatan terhadap Seiichi Miyake, orang yang pertama kali menetaskan ide dari tactile paving ini, mesin pencarian Google pun memajang gambar intrumen tersebut di laman utama.

Baca Juga: Sering Terlupakan, Tactile Paving Penting Sebagai “Pemandu” Kaum Difabel

Tarik mundur ke tahun 1965, dimana Seiichi Miyake menjadi orang yang pertama kali menelurkan ide tentang kehadiran tactile paving di tempat-tempat umum. Kala itu, Seiichi Miyake menghabiskan kocek pribadinya untuk mengembangkan tactile paving. Hal ini ia tempuh hanya demi untuk membantu temannya yang mengalami masalah pada penglihatannya. Sejak saat itu, tactile paving menjadi instrumen yang lazim kita temukan di mana-mana.

Jika diperhatikan, ada dua jenis dari tactile paving ini – bulatan kecil dan garis lurus. Tactile paving dengan bentuk bulatan kecil menandakan bahwa para penyandang tuna netra ini akan mendekati satu area yang berbahaya, seperti persimpangan jalan, atau batas akhir di peron kereta api. Sementara untuk yang berbentuk lurus, ini menandakan bahwa penyandang tuna netra berada di lokasi yang aman.

Kendati ide dari pengadaan tactile paving ini sudah ada sejak tahun 1965, namun Seiichi Miyake baru bisa mengaplikasikan inovasinya ini pertama kali pada tahun 1967. Adapun lokasi yang dipilih pertama kali untuk pengadaan tactile paving ini adalah di Okayama School – untuk membantu para penyandang tuna netra di kota Okayama. Satu dekade berselang, Pemerintah setempat mewajibkan semua daerah di Jepang untuk mengaplikasikan penemuan dari Seiichi Miyake ini – tidak terkecuali di stasiun kereta api.

Baca Juga: Perusahaan Bus di California Hadirkan Peta Audio dan Tactile Untuk Kaum Difabel

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman straitstimes.com (21/3/2019), Google juga mengaplikasikan tactile paving di laman utama mereka, dengan konsep doodle yang lucu. Mesin pencarian ini mewarnai bulatan tactile paving dengan warna khas mereka – biru untuk huruf G, merah untuk huruf O, kuning untuk huruf O, biru untuk huruf G, hijau untuk huruf L, dan merah untuk huruf E.

BYD K9 – Inilah Bus Listrik untuk Koridor 13 TransJakarta

Seiring desakan menghadirkan moda transportasi yang ramah lingkungan dengan biaya operasional rendah, maka era bus listrik di Indonesia tinggal di depan mata. Ibarat gayung bersambut, pasokan teknologi untuk implementasi bus listrik sudah tersedia di pasaran. Seperti di ajang Busworld South East Asia 2019, ditampilkan dua bus listrik ukuran besar dari jenis low deck yang nantinya digadang melayani armada TransJakarta.B

Baca juga: Busworld South East Asia 2019 Resmi Dibuka, Unggulkan Solusi Bus Listrik dan Ramah Lingkungan

Bus pertama dengan livery kombinasi biru dan hijau, adalah BYD buatan Cina yang didatangkan oleh distributornya, PT Bakrie Autoparts. Sedangkan satunya lagi adalah bus listrik dengan merek MAB, buatan manufaktur lokal Mobil Anak Bangsa dengan bodi garapan karoseri New Armada, Magelang. Di Busworld South East Asia 2019, Bakrie Autoparts juga membawa bus listrik dengan ukuran yang lebih kecil (mini bus) dari merek BYD juga yang dapat diuji coba untuk berkeliling di area JIExpo Kemayoran.

Khusus bus listrik low deck hanya ditampilkan secara statis di indoor area. Secara khusus, BYD tak hanya menampilkan sosok bus-nya saja, melainkan juga diperlihatkan stasiun penyediaan daya listrik untuk bus tersebut. Bus low deck dengan panjang 12 meter ini dilengkapi 32 kursi serta dukungan fasilitas untuk kaum difabel, berikut folding ramp pada pintu bagian tengahnya. Soal kemudahan akses, dek bus ini cukup rendah (140 mm) dan dilengkapi dengan ramp untuk menaik turunkan penumpang yang memiliki kebutuhan khusus.

Bus yang diberi label “TransJakarta Electric Vehicle” BYD K9 ini menggunakan baterai tipe Lithium Fenno Phosphabe (LiFePo) dengan kapasitas 259 kWh. Tenaga maksimum yang dapat dicapai dari bus ini mencapai 268 horse power. Sementara kecepatan maksimum bus ini adalah 70 km per jam.

Dalam kondisi baterai penuh, bus dapat menenpuh rute sepanjang 250 km. Bicara tentang waktu pengisian baterai (charging), memang tak bisa secepat isi ulang tenaga ponsel, semisal untuk pengisian daya menggunakan arus 80 kW dengan waktu pengisian dari kosong hingga penuh butuh waktu 3 jam.

Baca juga: Dukung Operasional Bus Listrik Bandara Soekarno-Hatta, PLN Akan Bangun 4 SPLU

Dari spesifikasinya, bus listrik dengan bobot 18 ton ini punya dimensi panjang 12 meter,lebar 2,5 meter, tinggi 3,4 meter, serta jarak sumbu roda sejauh 6,1 meter. Bus listrik ini selanjutnya akan di uji coba selama 6 bulan oleh TransJakarta. Nah, penasaran dengan sosok bus yang nantinya akan melayani rute koridor 13 (CBD Ciledug – Kapten Tendean) TransJakarta ini? Simak video-nya di bawah ini.

Dirut PT KAI Jajal Kereta Hidrogen di Jerman dan Siap Bawa ke Indonesia

Coradia iLint yang merupakan keret Hidrogen pertama di dunia baru saja di jajal naik oleh Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI) Edi Sukmoro. Edi menjajal kereta tersebut dengan rute Bremervorde dan Buxtehude dengan kecepatan laju kereta 80 km per jam.

Baca juga: Dubes RI untuk Jerman Jajal Langsung Kereta Bertenaga Hidrogen

Rute sepanjang 40 km tersebut berada di negara bagian Lower Saxony, Jerman tersebut ramai oleh penumpang yang bekerja di Hamburg. Stefan Schrank, Project Manager Coradia iLint mengatakan, setiap hari ada dua kereta hidrogen yang beroperasi di rute Cuxhaven, Bremerhaven, Bremervorde, dan Buxtehude.

Edi Sukmoro dan rombongan mencoba kereta hydrogen di Jerman (istimewa)

“Total jarak tempuhnya sekitar 100 km. Dengan kapasitas penumpang 150 orang, kereta ini normalnya berkecepatan 140 km per jam. Namun untuk rute Bremervorde – Buxtehude, kecepatan maksimal yang diperbolehkan hanya 80 km per jam,” ujar Stefan yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers (20/3/2019).

Stefan menjelaskan, kereta hidrogen ini sangat ramah lingkungan karena menggunakan elektrifikasi melalui proses kombinasi hidrogen dan oksigen sehingga emisi yang dikeluarkan adalah air. Bahan baku utama yang digunakan adalah Hidrogen yang berasal dari biomass ataupun sumber-sumber energi berkelanjutan seperti energi angin dan matahari.

“Nilai investasi kereta ini cukup kompetitif. Dari harga belinya memang kereta ini lebih mahal dari kereta diesel. Namun biaya pengoperasiannya cukup rendah karena tidak menggunakan grid listrik dan mesin diesel. Selain itu biaya maintenancenya pun murah. Sehingga bila dihitung secara total biaya investasi untuk kereta ini justru lebih murah,” kata Stefan.

Dubes RI di depan kereta hidrogen.

Negara bagian Lower Saxony sudah memesan 14 kereta Coradia iLint yang akan tersedia pada tahun 2021. Beberapa negara bagian di Jerman sudah menandatangani kontrak pemesanan kereta hydrogen. Beberapa negara di dunia juga telah menyatakan ketertarikan yaitu Austria Inggris, Belanda, Denmark, Norwegia, Italia dan Kanada.

“Luar biasa kereta ini. Satu langkah lebih maju dari teknologi elektrifikasi yang selama ini kita lihat yang menggunakan baterai. Kami siap untuk bekerjasama dengan Alstom Jerman dan kami siap untuk membawa kereta hidrogen pertama di dunia ke Indonesia,” komentar Edi.

Indonesia merupakan negara Asia pertama yang secara serius menunjukkan ketertarikannya pada kereta hidrogen Coradia iLint. Ini bukan kali pertama Indonesia melakukan penjajakan kereta ini. Sebelumnya, Duta Besar RI untuk Jerman, Arif Havas Oegroseno, pada tanggal 4 Desember 2018 juga telah bertemu dengan Alstom Jerman dan berkunjung ke Bremervorde untuk mencoba kereta tersebut.

“Sudah saatnya Indonesia juga mengunakan hidrogen sebagai bahan bakar sektor transportasi, khususnya untuk kereta. Kehadiran kereta hidrogen di Indonesia dapat menjadi bagian dari pembangunan sektor transportasi yang berkelanjutan,” ujar Dubes Oegroseno.

Baca juga: Tahun 2021, Kereta Bertenaga Hidrogen Siap Mengular di Rel Jerman

Coradia iLint dibangun oleh Alstom, perusahaan multinasional asal Perancis, dengan pembiayaan dari pemerintah Federal Jerman. Pembangunan kereta tersebut didukung oleh pemerintah negara bagian Lower Saxony, serta Eisenbahnen und Verkehrsbetriebe Elbe-Weser GmbH (EVB), selaku operator penyedia jasa transportasi kereta api di kota Bremervӧrde, Jerman. Sejak bulan September 2018 sampai dengan saat ini, Coradia iLint telah menempuh jarak sepanjang 65 ribu km atau 81 kali perjalanan Jakarta-Surabaya.

Alami Perbaikan, MRT Jakarta Terlambat 30 Menit dari Arah Blok M Menuju Bundaran HI

Bagi penumpang yang tengah mengikuti uji coba Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta sepertinya akan merasakan sedikit perubahan keberangkatan di beberapa stasiun. Pasalnya saat ini, pihak MRT Jakarta tengah melakukan pemeriksaan dan pemeliharaan minor di jalur rel downtrack Setiabudi dan Dukuh Atas.

Baca juga: Mulai 1 April MRT Jakarta Resmi Beroperasi Komersial, Ini Kata Warga Kalau Tarifnya Rp1000 Per Km

Corporate Secretary Divison Head PT MRT Jakarta Muhamad Kamaludin mengatakan, selama dilakukan pemeriksaan dan pemeliharaan minor jalur rel tersebut, maka layanan uji coba publik MRT akan terhambat dari Stasiun Blok M menuju ke Stasiun Bundaran Hotel Indonesia (HI).

“Akan ada keterlambatan dari Blok M menuju Bundaran HI serta sebaliknya dan akan dijalankan dengan frekuensi terbatas yakni headway 30 menit,” ujar Kamaludin dari siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com, Kamis (21/3/2019).

Namun penumpang yang ikut uji coba publik yang berangkat dari Stasiun Blok M ke Stasiun Lebak Bulus atau sebaliknya tetap dijalankan dengan frekuensi normal yakni headway sepuluh menit.

“Untuk perkembangan pemeriksaan dan pemeliharaan minor tersebut serta pemulihan frekuensi uji coba publik ini kami akan sampaikan berikutnya,” tambah Kamaludin lagi.

Dalam uji coba yang dilakukan MRT Jakarta, terlihat penumpang lebih banyak di hari Sabtu dan Minggu ketimbang hari kerja lain. MRT Jakarta sebelumnya menambah kuota uji coba publik yang tadinya hanya 28.800 penumpang per hari kini ditambah hingga hampir dua kali lipatnya atau menjadi 50 ribu penumpang per hari di minggu ini.

Uji coba publik MR Jakarta dilakukan pukul 08.00 pagi hingga 16.00 sore. Tak hanya itu, hingga kini tarif komersial untuk MRT Jakarta sendiri yang akan beroperasi akhir Maret 2019 belum jelas. Bahkan Pemprov DKI Jakarta baru-baru ini mengusulkan tarif Rp1000 per km-nya.

Baca juga: Perluas Jaringan di Jalur MRT, XL Axiata Lakukan Negosiasi dengan MRT Jakarta

Kehadiran MRT sendiri di ibukota Jakarta untuk meningkatkan mobilitas masyarakat. Selain itu juga untuk perbaikan kualitas udara dan mendorong perubahan gaya hidup masyarakat yang beralih dari penggunaan kendaraan pribadi ke transportasi publik.