Dari Inggris ke Sydney: Sejarah dan Peran Krusial Stasiun Liverpool yang Bukan di Merseyside

Nama Liverpool tidak hanya dimiliki oleh kota pelabuhan ikonik di Merseyside, Inggris, tetapi juga oleh sebuah suburb penting di barat daya Sydney, Australia. Inti dari suburb Australia ini adalah Stasiun Liverpool, sebuah simpul transportasi vital yang berdiri sebagai pengingat abadi akan sejarah kolonial New South Wales.

Penamaan suburb Liverpool dan stasiunnya berawal dari era kolonial awal. Pada tahun 1810, Gubernur New South Wales saat itu, Lachlan Macquarie, menamai wilayah tersebut untuk menghormati Robert Banks Jenkinson, Earl of Liverpool, yang kala itu menjabat sebagai Menteri Perang dan Koloni di Inggris (dan kemudian menjadi Perdana Menteri Inggris).

Stasiun kereta api Liverpool sendiri dibuka pada tahun 1869, menjadikannya salah satu stasiun tertua yang masih beroperasi di wilayah Sydney. Pembukaan stasiun ini menandai perluasan jaringan kereta api dari pusat Sydney ke kawasan barat daya yang saat itu masih berupa daerah pertanian.

Meskipun letaknya jauh dari pusat Central Business District (CBD) Sydney, Stasiun Liverpool memiliki peran yang sangat penting, jauh lebih signifikan daripada banyak stasiun pinggiran kota lainnya, yaitu berfungsi sebagai titik persimpangan utama di Jalur South Line dan Inner West & Leppington Line. Semua layanan kereta api ke barat daya Sydney melewati atau berakhir di stasiun ini.

Sydney Central, Eksotisme Stasiun Tua di Antara Deru Penumpang Metropolitan

Stasiun Liverpool adalah pusat utama bagi area komersial dan pemerintahan di wilayah South-Western Sydney. Kehadiran stasiun ini telah mendorong pertumbuhan Liverpool sebagai pusat perkotaan regional yang mandiri. Di masa lalu, stasiun ini sangat penting untuk mengangkut produk pertanian dari wilayah tersebut ke Sydney. Saat ini, perannya bergeser menjadi arteri vital bagi ribuan komuter harian.

Stasiun Liverpool telah mengalami banyak perubahan, tetapi bagian dari arsitektur platform aslinya, yang khas era Victoria, masih terlihat.

Salah satu kisah menarik terkait stasiun ini adalah perannya selama Perang Dunia I dan II. Karena lokasinya yang strategis, Stasiun Liverpool menjadi simpul penting untuk mengangkut pasukan militer Australia (termasuk unit yang berbasis di Casula) ke pelabuhan Sydney sebelum mereka dikirim ke luar negeri. Stasiun ini menjadi saksi bisu perpisahan emosional keluarga dan tentara yang berangkat menuju medan perang.

Dengan perpaduan antara sejarah kolonial, peran komersial regional, dan arsitektur bersejarahnya, Stasiun Liverpool, Sydney, membuktikan bahwa namanya memiliki arti penting yang setara dengan ‘rekan-nya’ di Inggris dalam konteks sejarah Australia.

Stasiun Macquarie Fields: Kisah Horor Hantu Gadis Berseragam Sekolah di Pinggiran Sydney

Stasiun Kampung Bandan Masih Minim Kenyamanan dan Keselamatan Penumpang KRL, Gak Percaya?

Stasiun transit yang satu ini termasuk stasiun yang cukup ramai dengan penumpang baik dari Jakarta maupun Bekasi. Stasiun ini juga terkenal dengan keunikan sejak dulu karena memiliki jalur atas dan bawah.

Ya, Kampung Bandan sebetulnya bukan hanya soal stasiun kereta nan unik, namun juga kisah asal-usulnya yang berkelindan dengan perkembangan Jakarta sebagai sebuah kota. Nama Kampung Bandan tak luput disebut dalam sejarah Jakarta sejak era kolonial Belanda.

Sejarah singkat mengatakan bahwa asal-usul Kampung Bandan menjadi sorotan dengan berbagai versi cerita. Ada yang menyebut bahwa nama Kampung Bandan berasal dari pulau Banda di Maluku.

Sementara versi lain menyebutkan bahwa kata “banda” diambil dari Bahasa Jawa yang berarti “ikatan”. Interpretasi lain mengaitkannya dengan kata “pandan”, mengacu pada pohon pandan yang dulunya tumbuh subur di kawasan ini.

Tak hanya sejarah yang dimiliki stasiun ini, ternyata ada hal lain yang dimiliki Kampung Bandan. Selain stasiun sebuah masjid tua yang dibangun akhir abad XVIII, Masjid Kampung Bandan, juga masih berdiri dengan pemandangan jalan tol ke arah bandara.

Di antara kekumuhan, kondisi tak sehat, kotor, berantakan, kawasan ini tetap layak menjadi tujuan wisata karena menyisakan stasiun dan masjid dari abad 19. Kampung Bandan dalam peta kawasan Kota Tua sesuai dengan Peraturan Gubernur No 34 tahun 2006 adalah batas bagian Timur. Jadi tempat ini pun masuk dalam program revitalisasi Kota Tua.

Sampai sekarang Stasiun Kampung Bandan tak hanya melayani penumpang, namun hingga kini masih berfungsi sebagai stasiun keberangkatan kereta barang yang melayani jurusan Jakarta-Surabaya pp. Tapi dari megahnya stasiun ini ternyata masih minim keamanan dan keselamatan bagi penumpang.

Ya, seperti yang terlihat pertama di stasiun ini banyaknya anak tangga untuk penyeberangan menuju ke peron lainnya. Ada total 5 jalur di Stasiun Kampung Bandan. Jalur 1 sampai dengan 3 melayani perjalanan KRL rute Jakarta Kota, Manggarai, maupun Cikarang. Sedangkan jalur 4 dan 5 atau berada di lantai atas untuk rute Jakarta Kota maupun Tanjung Priok.

Di tengah padatnya arus penumpang yang setiap hari berganti antara jalur yang disebutkan masih memiliki fasilitas yang minim membuat perjalanan di stasiun ini terasa seperti uji napas bagi banyak orang. Tentunya keluhan yang tak bisa dihindari saat ingin berpindah peron.

Tanpa eskalator, tanpa lift, dan tanpa jalur ramah difabel, keseharian penumpang di Kampung Bandan berubah menjadi pertaruhan kenyamanan bahkan keselamatan. Tentu ini berdampak pada penumpang lansia, disabilitias, ibu menggendong anak, hingga penumpang yang membawa barang lebih.

Harapan untuk Stasiun Kampung Bandan ini sangatlah besar apalagi menyangkut kenyamanan dan keamanan pengguna KRL. Dan sekali lagi, Stasiun Kampung Bandan bukan sekadar titik pemberangkatan. Stasiun ini menjadi jalur transit dari berbagai arah Jakarta Kota, Tanjung Priok, Angke, Duri, Pasar Senen, hingga Manggarai. Setiap hari, penumpang silih berganti memadati peron atas dan bawah.

Jika sudah tersedia fasilitas penunjang yang memudahkan penumpang untuk keselamatan, tentu merasa sangat terbantu. Apalagi Stasiun Kampung Bandan berusia sudah sangat lama serta penumpang yang transit sudah cukup padat. Dan jika ada fasilitas yang ramah akan penumpang lansia maupun disabilitas, tentu hal ini menjadi kabar baik bagi seluruh penumpang KRL. Kita tunggu saja!

Seutas Cerita di Balik Kelamnya Stasiun Kampung Bandan

Dubai Hadirkan Check-In Tanpa Kontak, Tamu Hotel Tak Perlu Antre Berkat Transformasi Digital

Dubai mengumumkan penerapan solusi check-in hotel tanpa kontak berbasis satu kali verifikasi di seluruh kota. Inisiatif ini menetapkan standar global baru dalam hal kenyamanan, keamanan, dan inovasi di sektor perhotelan, sekaligus memberikan opsi bagi tamu untuk melewati proses check-in tatap muka setelah sistem ini diterapkan di seluruh hotel dan jenis penginapan lainnya di Dubai.

Kemampuan teknologi biometrik dan digital yang inovatif, dikembangkan oleh Visit Dubai dan tersedia melalui sejumlah penyedia independen, kini siap diintegrasikan langsung oleh hotel dan penginapan lainnya di seluruh Dubai. Teknologi ini memungkinkan tamu menikmati pengalaman kedatangan yang lebih mulus dan cepat. Penerapannya menegaskan komitmen Dubai dalam memanfaatkan teknologi maju untuk memperkuat posisinya sebagai destinasi wisata global yang berorientasi masa depan, dengan mengutamakan kepuasan tamu sekaligus keunggulan operasional.

Sistem inovatif ini memungkinkan tamu menyelesaikan seluruh proses check-in sebelum tiba, langsung dari ponsel mereka. Dengan sekali unggah dokumen identitas dan data biometrik, seluruh alur check-in menjadi jauh lebih sederhana, memangkas bahkan menghilangkan waktu tunggu check-in konvensional.

Sesampainya di hotel, tamu dapat langsung melewati prosedur check-in di resepsionis pada setiap awal masa menginap di hotel yang berpartisipasi. Data yang disimpan secara aman akan tetap berlaku hingga dokumen identitas kedaluwarsa, sehingga pada kunjungan berikutnya tamu hanya memerlukan autentikasi cepat, misalnya melalui pengenalan wajah.

Hampir seperempat dari total kunjungan tahunan ke Dubai berasal dari wisatawan yang datang kembali. Layanan baru ini menyambut para repeat visitors dengan kenyamanan tambahan, sekaligus memperkuat kedekatan mereka dengan Dubai sebagai destinasi pilihan.

Issam Kazim, CEO Dubai Corporation for Tourism and Commerce Marketing (Visit Dubai), yang merupakan bagian dari Dubai Department of Economy and Tourism, mengatakan: “Penerapan inovasi yang berfokus pada tamu ini akan meminimalkan hambatan sejak para tamu tiba, memberikan awal masa menginap yang lebih mulus dan efisien, serta memaksimalkan waktu mereka untuk menikmati Dubai. Teknologi ini juga membuat kunjungan ulang menjadi lebih praktis bagi para repeat guests yang setia, sekaligus memungkinkan hotel dan rumah liburan di Dubai untuk lebih fokus pada interaksi tamu yang bernilai dan bermakna. Inovasi ini memiliki potensi besar untuk meningkatkan layanan perhotelan, dan kami mengajak lebih banyak pemilik dan operator untuk mengintegrasikannya ke dalam sistem mereka demi mengoptimalkan pengalaman tamu.”

Solusi ini dirancang agar mudah diintegrasikan ke dalam aplikasi atau platform web hotel yang sudah ada, sehingga transisi bagi pelaku bisnis yang berpartisipasi berlangsung mulus. Selain manfaat langsungnya, teknologi ini juga memiliki potensi besar untuk diterapkan di berbagai titik layanan wisata lainnya, seperti penyewaan mobil, sehingga menghadirkan pengalaman kunjungan yang lebih terintegrasi dan personal di seluruh kota. Inisiatif ini juga melanjutkan penerapan teknologi pintar di Dubai, termasuk penggunaan smart tunnels di Bandara Internasional Dubai yang mampu memangkas waktu pemeriksaan paspor menjadi hanya beberapa detik.

Sektor perhotelan Dubai telah menjadi salah satu pilar utama pertumbuhan kota sebagai destinasi global, dengan fasilitas dan layanan berkelas dunia yang tersedia di 820 hotel dan apartemen hotel di seluruh kota. Melengkapi beragam daya tarik Dubai lainnya, sektor ini turut mendorong pencapaian baru, dengan 15,70 juta wisatawan mancanegara yang menginap sepanjang sepuluh bulan pertama 2025, naik 5% dibandingkan tahun sebelumnya, serta total 36,71 juta malam kamar yang dipesan di seluruh emirat.

Dubai Metro: Efisiensi Transportasi Driverless dari Gurun ke Kota Global

 

Yuk, Kenali Terowongan Kereta Api Terpanjang di Dunia, Ada yang Hampir 60 Km

Jalur kereta api tak sekadar memberikan keindahan pemandangan saat berada di perjalanan. Namun, berbagai bangunan yang disediakan untuk melancarkan perjalanannya, ada berbagai keunikan tersendiri. Seperti halnya bangunan yang biasa ditemukan pada jalur kereta api, yaitu terowongan.

Di Indonesia jalur kereta api tentu identik dengan pemandangan yang menawan dan sangat indah dipandang. Hamparan sawah yang luas, pegunungan, hingga bangunan cagar budaya seperti stasiun, jembatan, dan terowongan. Jalur kereta api di Indonesia juga memiliki terowongan dengan usianya lebih dari satu abad.

Sebenarnya terowongan kereta api di Indonesia memiliki terowongan terpanjang. Bahkan terowongan ini menjadi ikonik jalur kereta api yang memiliki sejarah yang panjang. Tak hanya terowongan terpanjang yang aktif yang berada di wilayah Bandung Barat, namun ada pula terowongan terpanjang non aktif yang berada di wilayah Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.

Diketahui terowongan kereta api terpanjang di Indonesia dipegang oleh Terowongan Sasaksaat yang berada di Kabupaten Bandung Barat. Terowongan aktif dan bersejarah ini memiliki panjang hingga 959 meter yang dibangun pada tabun 1902 – 1903.

Sedangkan terowongan panjang Terowongan Wilhelmina adalah sekitar 1.127 meter menjadikannya terowongan kereta api terpanjang di Indonesia. Meskipun kini sudah tidak aktif, terowongan bersejarah di Pangandaran ini juga dikenal sebagai Terowongan Sumber dan dibangun pada masa kolonial Belanda.

Nah, selain di Indonesia, terowongan kereta api di belahan dunia pun tak kaleng-kaleng. Panjangnya itu bisa mencapai lebih dari 50 kilometer. Bahkan hampir menembus 60 kilometer. Kabarpenumpang akan merangkumnya untuk kalian terowongan kereta api terpanjang di dunia. Sekaligus negara yang menjadi pemegang rekor sebagai terowongan kereta api terpanjang di dunia.

1. Terowongan Guanjiao Baru (32,65 kilometer)
Berada di jalur kedua kereta api Qinghai-Tibet, menembus Pegunungan Guanjiao di China bagian barat laut. Terowongan ini dikenal sebagai terowongan kereta dataran tinggi terpanjang di dunia, karena berada di ketinggian lebih dari 3.300 meter di atas permukaan laut.

Terowongan yang memiliki dua lorong paralel, masing-masing berisi satu jalur kereta (single track), dan dirancang untuk kecepatan hingga 160 km/jam. Terowongan ini menjadi salah satu infrastruktur kunci dalam jaringan Qinghai-Tibet Railway, yang memperkuat konektivitas Tibet dengan jaringan rel utama di Tiongkok.

2. Terowongan Dasar Lotschberg (34, 57 kilometer)
Terowongan Dasar Lotschberg dibangun menembus Pegunungan Alpen sebagai bagian dari proyek New Railway Link through the Alps (NRLA). Terowongan ini mulai beroperasi pada 2007.

Terowongan yang dirancang dengan standar keselamatan tinggi ini mampu melayani kereta penumpang dan barang. Terowongan Dasar Lötschberg menggunakan rel tanpa ballast, dan kereta dapat melaju hingga kecepatan 250 km/jam.

3. Terowongan Yulhyeon (50,3 kilometer)
Terletak di Provinsi Gyeonggi, mulai beroperasi pada tahun 2016. Terowongan ini menjadi salah satu terowongan kereta bawah tanah terpanjang di Asia, terutama karena melayani lalu lintas penumpang yang sangat padat di wilayah metropolitan Seoul.

Terowongan ini membentuk bagian terbesar dari jalur Suseo High-Speed Railway sepanjang 61.1 km, yang menghubungkan Suseo di Seoul dengan Pyeongtaek di selatan ibu kota. Proyek ini dibangun menggunakan metode New Austrian Tunneling Method (NATM).

4. Terowongan Seikan (53,85 kilometer)
Merupakan salah satu terowongan kereta bawah laut terpanjang di Asia, sebagian besar jalurnya berada di bawah dasar laut Selat Tsugaru yang diresmikan pada 1988. Terowongan ini melintas di bawah Selat Tsugaru dan menghubungkan dua pulau besar Jepang, Hokkaido dan Honshu.

Saat ini, terowongan Seikan dilintasi Shinkansen dan juga kereta reguler. Sekitar 23,3 km dari total panjangnya berada tepat di bawah dasar laut. Di dalam terowongan ini terdapat dua stasiun bawah tanah, yaitu Stasiun Tappi-Kaitei dan Stasiun Yoshioka-Kaitei.

5. Terowongan Dasat Gotthard (57,09 kilometer)
Hampir sepanjang 60 kilometer, Terowongan Dasar Gotthard dioperasikan pada 2016, merupakan terowongan kereta api terpanjang di dunia yang menembus Pegunungan Alpen Swiss.

Kehadiran terowongan ini meningkatkan kapasitas angkutan melalui pegunungan Alpen, terutama untuk kereta barang di koridor Rotterdam, Basel, dan Genoa, sehingga mendorong perpindahan moda angkutan dari truk ke kereta.

Itulah negara-negara yang memiliki terowongan kereta api terpanjang di dunia. Apakah kalian tertarik untuk mencoba merasakan sensasinya?

Sensasi Naik Kereta Api di Bumi Parahyangan Melewati Jembatan Terpanjang dan Tertua

Stasiun Macquarie Fields: Kisah Horor Hantu Gadis Berseragam Sekolah di Pinggiran Sydney

Stasiun kereta api Macquarie Fields, yang terletak di jalur T8 Airport & South Line di barat daya Sydney, Australia, mungkin tampak biasa saja pada siang hari. Namun, stasiun kecil yang relatif tidak ramai ini telah mendapatkan reputasi angker, menjadikannya salah satu tempat paling seram di kawasan Sydney.

Isu horor ini tidak hanya sekadar desas-desus, tetapi berakar pada sebuah tragedi nyata yang terjadi beberapa dekade lalu. Kisah seram di Macquarie Fields berpusat pada penampakan yang diyakini sebagai arwah seorang gadis muda yang meninggal karena kecelakaan tragis di dekat stasiun tersebut.

Sosok yang sering menampakkan diri digambarkan sebagai seorang gadis muda berseragam sekolah putih dan biru (seragam khas sekolah di Sydney).

Mayoritas cerita merujuk pada insiden tragis yang terjadi pada tahun 1980-an atau 1990-an. Beberapa versi menyebutkan gadis itu tewas tertabrak kereta saat berdiri terlalu dekat dengan tepi peron atau saat mencoba menyeberang jalur rel.

Mengingat stasiun ini tidak dijaga dan cenderung sepi setelah jam sibuk, banyak penumpang terakhir, pekerja kereta api, dan bahkan polisi yang bertugas di area tersebut melaporkan pengalaman yang menakutkan.

“The Exit 8” – Game Indie yang Bikin Kamu Ketakutan di Stasiun Bawah Tanah Tokyo

Penampakan paling sering disertai dengan suara tangisan atau rintihan pilu yang berasal dari jalur rel atau ujung peron yang gelap. Suara ini terdengar jelas meskipun tidak ada orang lain di sana. Hantu gadis berseragam tersebut sering terlihat berdiri di Peron 1 jalur ke arah pusat kota) atau di rel. Ketika didekati atau ketika pengamat berkedip, sosok tersebut akan menghilang secara instan.

Beberapa saksi melaporkan bahwa lampu stasiun berkedip-kedip atau mati total ketika sosok itu muncul. Selain itu, peralatan komunikasi radio dan ponsel juga dilaporkan mengalami gangguan saat berada di area rel tertentu pada malam hari.

Stasiun Macquarie Fields telah menjadi subjek penelitian paranormal dan video ghost hunting di Australia. Reputasinya yang angker telah diabadikan dalam berbagai cerita urban, memperkuat statusnya sebagai salah satu hotspot paranormal utama di sistem kereta api Sydney.

Terlepas dari kisah horornya, otoritas transportasi setempat tidak pernah secara resmi mengomentari insiden supranatural, tetapi mereka sering mengingatkan publik untuk selalu menjaga jarak aman dari tepi peron, terutama di malam hari.

Tak Hanya Satu, Ada 4 Stasiun MRT Singapura yang Terkenal Angker

Begini Penampakan KA Wisata Jaka Lalana Saat Lakukan Uji Coba

Elegan. Mungkin itulah kata yang diberikan untuk kereta wisata yang jadi perbincangan hangat akhir-akhir ini. Ya, Kereta Api (KA) Wisata Jaka Lalana akhirnya ‘keluar kandang’ untuk lakukan uji coba. Rangkaian ini digadang-gadang akan digunakan pada 14 Desember 2025 mendatang sebagai kereta wisata dengan rute Stasiun Gambir hingga Stasiun Cianjur pulang pergi.

Ya, rangkaian dengan livery warna hijau bertuliskan ‘Haritage Class’ ini merupakan rangkaian baru hasil karya Balai Yasa Manggarai di uji coba pada hari ini, Rabu 10 Desember 2025. Rangkaian uji coba kereta wisata ini terdiri dari lokomotif – 2 unit kereta Djoko Kendil – 2 unit kereta kelas eksekutif 1 kereta makan – 1 kereta pembangkit.

KA Wisata Jaka Lalana interior dan eksterior. (Foto: Dok. Istimewa)

Uji coba ini dari Stasiun Manggarai menuju ke jalur selatan. Dimana jalur tersebut yang akan beroperasi sebagai kereta wisata ini. Keberangkatan dari Stasiun Manggarai pukul 11.30 WIB melewati berbagai stasiun besar sepeti: Bogor, Sukabumi dan berakhir di Stasiun Cianjur.

Adapun saat tiba di Stasiun Bogor berhenti cukup lama. Selain pengecekan rangkaian, uji coba kereta wisata ini menunggu keberangkatan rangkaian KA Pangrango (rute Bogor Paledang – Sukabumi). Karena kecepatan setelah Stasiun Bogor hanya dibatasi hingga 50 – 60 km/jam tergantung jalur yang memiliki wilayah yang ekstrem.

Melihat rangkaian yang memiliki corak livery heritage sangat sesuai dengan jalur yang dilewati. Selain pemandangan yang menawan, jalur Bogor – Cianjur pun merupakan jalur legendaris yang merupakan jalur tertua yang menghubungkan antara Jakarta – Bandung. Jalur kereta tertua ini pun terlihat saat melewati Terowongan Lampegan yang berada di jalur yang sama. Terowongan tersebut dibangun pada 1879 – 1882.

Uji coba memang memakan waktu cukup lama, karena hampir semua stasiun disinggahi kereta ini. Masing-masing stasiun berhenti sekitar 2 menit untuk pengecekan rangkaian. Selain itu, dipilihnya jalur Bogor – Cianjur karena bisa menguji coba pengereman saat melewati tanjakan maupun turunan. Adapun jalur-jalur yang terkenal ekstrem salah satunya di kilometer 77 antara Stasiun Lampegan dengan Stasiun Cibeber.

Uji coba KA Wisata Jaka Lalana merupakan angin segar untuk masyarakat yang ingin menambah pengalaman baru sensasi kenyamanan saat menggunakannya. Ditambah interior kereta ini menawarkan suasana heritage yang bisa dinikmati masyarakat dengan pelayanan yang lebih memuaskan.

Lampegan, Terowongan Tertua di Indonesia, Abadikan Misteri Nyi Ronggeng

Hari ini 106 Tahun Lalu, Penerbangan Terjauh di Dunia Inggris-Australia Dimulai! Sempat Mampir di Batavia dan Surabaya

Pada hari ini, 106 tahun lalu, bertepatan dengan 10 Desember 1919, penerbangan terjauh di dunia, dari Inggris ke Australia, dimulai. Penerbangan tersebut dijajaki oleh veteran Perang Dunia I asal Australia, kakak-beradik Keith Macpherson Smith dan Ross Macpherson Smith, dibantu dua mekanik Wally Shiers dan Jim Bennett.

Baca juga: Hari Ini, 88 tahun Lalu, Wolfgang von Gronau Keliling Dunia Selama 111 Hari Pakai Pesawat Amfibi

Dikutip dari adelaide.edu.au, penerbangan epik itu dimulai saat Pemerintah Persemakmuran Australia menawarkan hadiah sebesar £A10.000 untuk penerbangan pertama dari Inggris Raya ke Australia, Mei 1919.

Saat itu, setelah konsultasi dengan Royal Aero Club, Billy Hughes, Perdana Menteri Australia, dan George Pearce, Menteri Pertahanan Australia, mengumumkan agar penerbangan terjauh di dunia -untuk ukuran kala itu- dalam kompetisi tersebut harus diikuti oleh warga negara Australia dan menggunakan pesawat buatan Inggris.

Tak hanya itu, kompetisi tersebut juga mengharuskan para peserta menyelesaikan penerbangan itu dalam tempo 720 jam berturut-turut (30 hari) dan diselesaikan sebelum 31 Desember 1920 pukul 00.00 waktu setempat.

Disebutkan pula, titik keberangkatan harus dimulai dari Hounslow Heath Aerodrome, London (untuk pesawat di darat) atau Royal Naval Air Station (RNAS) Calshot, selatan London (untuk pesawat amfibi dan flying boat), dengan titik cek point di Alexandria dan Singapura, sebelum sampai di tujuan akhir di wilayah Darwin, Australia. Setiap penerbangan akan berlangsung di bawah aturan kompetisi Royal Aero Club, yang akan mengawasi awal, dan mengendalikan jalannya kompetisi secara umum.

Dalam kompetisi itu, ada sekitar enam kelompok dengan enam pesawat berbeda. Masing-masing kelompok melakoni penerbangan di waktu yang berbeda-beda. Salah satunya pesawat Vickers Vimy yang diawaki oleh duo Smith dan dua teknisi.

Pesawat tersebut diketahui lepas landas pada titik yang ditentukan pada 8.30 pagi tanggal 12 November 1919. Pesawat kemudian terbang melewati Lyon, Roma, Kairo, Damaskus, Basrah, Karachi, Delhi, Kalkuta, Akyab, Rangoon, Songkhla, Siam, Singapura, Batavia, dan Surabaya. Di Surabaya, pesawat sempat mengalami kendala teknis sehingga harus mendarat darurat di landasan pacu sementara yang terbuat dari serat bambu.

Dari Surabaya, pesawat melanjutkan penerbangan ke Darwin dan tiba di sana pada pukul 16.10 pada 10 Desember 1919, melalui jarak sejauh 18.250 km, dengan total waktu terbang mencapai 135 jam 55 menit pada kecepatan rata-rata 131,8 km.

Perlu diketahui, di sumber lain, justru tanggal 12 November 1919, dua Smith baru memulai perjalanan dan menyelesaikannya setelah 28 hari.

Baca juga: Hari Ini, 37 Tahun Lalu, Pertama Kali Dalam Sejarah Dua Maskapai Barter Pesawat

Terlepas dari itu, setelah sampai di Darwin, duo Smith dan tim mekanik langsung disambut oleh perdana menteri serta pejabat lainnya. Di momen itu, keempat orang tersebut juga menerima uang yang dijanjikan sebagai pemenang pertama kompetisi tersebut.

Sayang beribu sayang, usai memenangi kompetisi tersebut, Keith Macpherson Smith tewas mengenaskan bersama Jim Bennett saat sedang menguji coba pesawat untuk kompetisi selanjutnya. Nahasnya lagi, kecelakaan itu disaksikan langsung oleh saudaranya Ross Macpherson Smith.

Ingin Merasakan Kereta Wisata saat Libur Nataru? Simak Daftarnya

Lain dari yang lain. Ya, mungkin itulah yang ingin dirasakan masyarakat saat libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 saat menggunakan kereta api. Berbagai kelas yang disediakan PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) tentu membuat masyarakat yang menggunakannya sudah menjadi hal yang biasa. Ada kelas ekonomi hingga eksekutif telah tersedia pada jadwal yang diinginkan. Namun bagaimana sensasi jika menggunakan kereta wisata?

Ya, dalam perjalanan kereta api saat libur Nataru tentu KAI sudah menyiapkan kereta api dari berbagai kelas termasuk kelas wisata. Nah, kereta wisata ini akan menemani perjalanan penumpang saat libur Nataru dengan fasilitas yang lebih nyaman dibanding kelas lainnya. Kereta wisata ini akan melintasi jalur kereta api di sepanjang Pulau Jawa. Tentunya ada berbagai macam kereta wisata yang nantinya disediakan.

Penumpang memasuki kereta wisata di Stasiun Gambir. (Foto: Dok. KAI)

Begitu pun pada PT Kereta Api Pariwisata (KAI Wisata) memastikan kesiapan operasional dalam melayani pelanggan selama periode Angkutan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026, yang berlangsung mulai 18 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026 mendatang. Melalui layanan Kereta Wisata, KAI Wisata menargetkan peningkatan minat perjalanan wisata berbasis kereta api di berbagai rute unggulan.

Direktur Utama KAI Wisata Hendy Helmy mengatakan KAI Wisata siap melayani pelanggan selama masa Angkutan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 dengan peningkatan layanan, ketersediaan armada, serta kesiapan operasional di seluruh lini. Melalui layanan Kereta Wisata, KAI Wisata menargetkan peningkatan minat perjalanan wisata berbasis kereta api di berbagai rute unggulan.

Pada periode Angkutan Nataru yang berlangsung 18 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026 mendatang, KAI Wisata menjalankan 32 perjalanan Kereta Wisata Pola FIT yang terdiri dari berbagai tipe yaitu kereta Priority, Imperial, dan Panoramic dengan kapasitas maksimal 1.152 penumpang per hari.

Pada periode Angkutan Nataru yang berlangsung 18 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026, KAI Wisata siap menjalankan 32 perjalanan Kereta Wisata Pola FIT yang terdiri dari berbagai tipe yaitu kereta Priority, Imperial, dan Panoramic dengan kapasitas maksimal 1.152 penumpang per hari. Biasanya estimasi puncak lonjakan penumpang diperkirakan terjadi pada 24 Desember 2025 serta 2 Januari 2026.

Selain pola FIT, KAI Wisata juga mencatat 18 pemesanan perjalanan charter hingga saat ini dan diprediksi terus bertambah mendekati masa libur. Layanan pola charter terdiri dari berbagai jenis armada:
• Kereta Istimewa
• Kereta Priority
• Kereta Imperial
• Kereta Panoramic
• Kereta Tematik Bali, Sumatera, dan Toraja.

Untuk menjaga kenyamanan pelanggan, seluruh layanan unggulan KAI Wisata seperti Luxury Lounge, Shower & Locker, Rail Transit, serta E-Porter di berbagai stasiun juga disiagakan sepenuhnya. KAI Wisata dalam memberikan pengalaman perjalanan berstandar tinggi berkomitmen menyambut masa liburan ini dengan pelayanan terbaik, peningkatan fasilitas, serta kesiapsiagaan penuh di seluruh titik operasional dan berharap seluruh pelanggan dapat menikmati momentum liburan akhir tahun dengan aman dan menyenangkan.

Kereta Panoramic Belum Bisa Dioperasikan Secara Reguler, Kenapa? Ini Jawaban dari PT KAI

Si Hijau Lokomotif CC 203: Nasibmu Berujung Tak Pasti

Bagi pecinta kereta api (railfans) pasti sudah mengenal lokomotif dengan ciri unik yang satu ini. Ya, lokomotif seri CC 203 dengan livery identik warna hijau strip orange ini adalah satu-satunya warna yang sangat berbeda. Lokomotif ini hanya ditemukan di Sumatera Selatan.

Nah, lokomotif hijau ini hanya dapat ditemui di wilayah PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) Divisi Regional (Divre) 3 Palembang dan 4 Tanjung Karang, Lampung. Keberadaannya saat itu sebenarnya melengkapi koleksi lokomotif unik lain yang hanya ada di Divre IV selain lokomotif CC 202, CC 205 dan CC 201.

Masa kejayaan saat dinas, lokomotif tersebut hanya ada 4 unit CC 203 bercat hijau yang beroperasi di sana. Namun uniknya, seluruh lokomotif tersebut milik pabrik kertas PT Tanjung Enim Lestari (TEL). Meskipun bukan milik KAI, namun operasional lokomotif berhidung miring ini tetap dilakukan oleh kru dari KAI.

Seri lokomotif hijau ini terdiri dari CC 20331, CC 20332, CC 20333, dan CC 20334. Namun ada hal yang membuat salah satu lokomotif tidak bisa dioperasikan lagi, yaitu seri CC 20333 mengalami Peristiwa Luarbiasa Hebat (PLH) yang ringsek dan terguling pada Februari 2008 lalu.

Lokomotif CC 203 saat membawa Gerbong Tutup (GT) angkutan bubur kertas. (Foto: Dok. Laman Kaori Nusantara)

Lokomotif buatan General Elektrik (GE) Lokindo tahun 2000 ini berwarna putih strip biru seperti saudaranya yang ada di Jawa. Namun pada Desember 2007, warnanya diganti menjadi hijau setrip orange-kuning. Pengecatan lokomotif ini dilakukan di Balai Yasa Lahat, Sumatera Selatan. Saat pengecatan tentu tak ada logo KAI bahkan Departemen Perhubungan hanya polos hijau strip orange saja.

Karena lokomotif ini sepenuhnya milik PT TEL, maka dinasan si Hijau ini hanya untuk kepentingan PT TEL saja, yaitu mengangkut ‘bubur kertas’ dari Niru ke Tarahan sejauh 347 kilometer. Gerbong yang dipergunakan mengangkut bubur kertas ini berjenis Gerbong Tutup (GT). Menggunakan gerbong jenis itu supaya kertas yang diangkut tidak berhamburan keluar.

Saat rangkaian tiba di Tarahan, pengangkutan bubur kertas selanjutnya diteruskan dengan kapal. Perjalanan rangkaian ini hanya dilakukan satu kali dalam sehari. Waktu itu lokomotif CC 203 hanya menarik satu unit saja, terkadang hingga 2 unit lokomotif tergantung berapa jumlah gerbong yang dibawa. Namun biasanya yang dibawa sebanyak 15 gerbong.

Saat ini keberadaan lokomotif CC 203 hijau masih berada di Tarahan, bahkan bisa dibilang mangkrak tak ada aktifitas. Pengelola dari PT TEL pun tak ada pergerakan sama sekali untuk diapakan selanjutnya lokomotif tersebut. Sempat ada kabar burung, lokomotif hijau ini akan dikirim ke Balai Yasa Yogyakarta untuk diperbaiki, namun hingga kini masih kurang belum ada informasi selanjutnya. Bisa dikatakan lokomotif ini tak memiliki kepastian apakah akan dioperasikan atau tidak.

Produksi Indonesia, Lokomotif CC203 Atau GE U20C Pernah Digunakan di Filipina dan Australia

PTDI dan PT BIBU Panji Sakti Tanda Tangani MoU Pengadaan 3 Unit Pesawat N219 Konfigurasi Kargo

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan PT BIBU Panji Sakti mengenai pengadaan 3 unit pesawat N219 konfigurasi kargo. Nota Kesepahaman ini ditandatangani oleh Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PTDI, Moh Arif Faisal dan Direktur Utama PT BIBU Panji Sakti, Erwanto S. Adiatmoko Hariwibowo di Hanggar Aircraft Services (ACS), PTDI Bandung.

PT BIBU Panji Sakti merupakan salah satu Perusahaan swasta berbasis di Bali yang saat ini juga tengah mempersiapkan pengembangan aktivitas penangkapan dan pengolahan hasil laut yang membutuhkan fasilitas distribusi udara. Untuk memastikan kelancaran rantai pasok dan pengiriman komoditas laut bernilai tinggi, pesawat N219 menjadi pilihan yang diharapkan dapat menunjang aktivitas distribusi komoditas laut tersebut.

”Melalui pengoperasian N219 sebagai feeder aircraft, proses pengumpulan komoditas dan biota laut dari berbagai titik di wilayah Bali dapat dilakukan secara lebih cepat dan efisien. Hasil komoditas tersebut selanjutnya akan diteruskan ke pesawat berbadan besar untuk jalur ekspor, sehingga membentuk rantai logistik end-to-end yang terintegrasi. Melalui pengoperasian N219, waktu tempuh logistik juga dapat dipersingkat secara signifikan sehingga memperkuat daya saing produk laut bernilai tinggi tersebut,” tambah Moh Arif Faisal.

PTDI dan PT BIBU Panji Sakti berkomitmen bersama untuk melakukan penyusunan analisis investasi pengangkutan komoditas laut di Bali melalui pengoperasian pesawat N219, meliputi pemetaan rute potensial, volume kebutuhan, analisis teknis dan ekonomis, serta penyusunan rekomendasi operasional. Nota Kesepahaman ini akan menjadi fondasi penting kerja sama komersial dan teknis dalam mendukung rantai pasok industri maritim Bali kedepan.

Saat ini, PTDI telah mengamankan sejumlah kontrak dan Letter of Intent (LoI) terhadap pesawat N219, antara lain kontrak pengadaan 6 (enam) unit dari Kementerian Pertahanan RI untuk mendukung operasi TNI AD dan kontrak pengadaan 5 (lima) unit dari Setdco Group untuk Pemerintah Demokratik Republik Kongo.

Selain itu, PTDI juga telah menerima LoI untuk 4 (empat) unit N219 dari Badan Keamanan Laut (BAKAMLA) RI, serta LoI untuk 25 (dua puluh lima) unit dari Linkfield Technologies, Cina. Di samping itu, beberapa Nota Kesepahaman dan LoI dengan sejumlah Pemerintah Daerah juga telah disepakati untuk mendukung kebutuhan transportasi udara perintis dan pelayanan publik di berbagai wilayah Indonesia.

Pacu Konektivitas Daerah, Pesawat N219 Siap Mengangkasa di Kepulauan Riau