Helikopter Jatuh di Puncak Gedung Tinggi New York, Pilot Diketahui Tanpa Sertifikat Penunjang

Seorang pilot tewas setelah helikopter AgustaWestland AW109E yang diterbangkannya jatuh di salah satu gedung tinggi 54 lantai di New York. Pilot yang menerbangkan helikopter tersebut diketahui bernama Tim McCormack yang awalnya tidak diizinkan terbang dalam cuaca buruk.

Baca juga: Seorang Penumpang Truk Tewas Terkena Sebilah Rotor Helikopter yang Lepas

Federal Aviation Administration (FAA) mengatakan, Tim ternyata tidak memiliki sertifikat penerbangan yang tepat. Selain itu setiap pilot juga harus memiliki instrumen untuk terbang dalam cuaca buruk. “Pilot ini tidak memliki peringkat instrumen untuk penerbangan cuaca buruk,” ujar FAA yang dikutip KabarPenumpang.com dari cnn.com (12/6/2019).

Seorang analis penerbangan Mary Schiavo mengatakan, untuk mendapat peringkat instrumen tersebut, pilot membutuhkan 100 jam atau lebih pelatihan tambahan selain pelatihan dasar.

“Ini membantu pilot belajar terbang tanpa referensi visual ke langit di bawah aturan penerbangan instrumen, dengan hanya mengandalkan instrumen untuk “terbang buta” di awan atau kabut tebal di bawah arahan kendali lalu lintas udara,” ujar Schiavo.

Diketahui sebelum terjadi kecelakaan tersebut, yaitu Senin (11/6/2019), hujan deras dengan kabut tengah membasahi New York dan jarak pandang di Central Park menurun hingga 1,25 mil atau sekitar 2 km. Tidak itu saja, angin dengan kecepatan sembilan meter per jam menerpa dari arah timur. Saat helikopter jatuh, pihak kepolisian dan pemadam kebakaran langsung menuju lokasi di Midtown Manhattan.

AgustaWestland AW109E

Pejabat kota setempat mengatakan, helikopter tersebut jatuh setelah mencoba mendarat darurat di atas gedung 54 lantai yang tanpa helipad. Kecelakaanitu terjadi 11 menit setelah helikopter berangkat dari heliport.

Helikopter yang diterbangkan Tim lepas landas dari East 34th Street Heliport sekitar pukul 13.32 waktu setempat. Saat berada di ketinggian, Tim mengirimkan pesan ke heliport dirinya akan kembali. Helikopter nahas ini terbang tanpa penumpang, meski begitu kapasitas AW109 bisa membawa tujuh penumpang.

Bahkan terakhir sebelum kejadian dia berkomunikasi dengan heliport dan tak yakin dengan lokasinya saat itu. Kemudian Tim menerbangkan helikopternya disekitar Battery Park di ujung selatan Manattan dan kemudian mulai membelok ke arah Midtown Manhattan sebelum mendarat.

Tim sendiri sudah terbang bersama American Continental Properties selama lima tahun dan menerima lisensi pilot komersialnya pada 2004 lalu. Dari catatan FAA, Tim memiliki sertifikasi sebagai instruktur penerbangan untuk helikopter rotor tahun 2018.

Tahun 2014 lalu, Tim pernah menerbangkan sebuah helikopter di atas Sungai Hudson dengan membawa enam pelancong saat seekor burung menabrak dan memecahkan kaca depan. Hal ini kemudian membuat Tim mendaratkan helikopternya secara darurat.

Atas kejadian kecelakaan yang menimpa Tim pada Senin kemarin membuat Dewan Keselamatan Transportasi Nasional merilis rincian tentang penyelidikan yang bisa menghabiskan waktu hingga dua tahun. Untuk laporan pertama diharapkan dua minggu setelah kecelakaan.

“Helikopter itu tidak memiliki perekam data penerbangan atau perekam suara, juga tidak diharuskan memiliki alat-alat itu. Pesawat itu, bagaimanapun, mengandung perangkat lain untuk merekam data, dan penyelidik terus mencari mereka,” kata penyelidik keselamatan udara NTSB oug Brazy.

Baca juga: Tiba-Tiba Pilot Pingsan, Untungnya Penumpang Wanita Ini Berhasil Daratkan Helikopter

Masalah yang rumit adalah bahwa puing-puing kecelakaan terletak di atap. “Ini sangat terfragmentasi dan kebakaran pascakecelakaan menghabiskan banyak bukti. Pilot tidak pernah berkomunikasi dengan kontrol lalu lintas udara, tetapi itu juga bukan keharusan,” kata Brazy.

Senyum Anda Tak Dibutuhkan Saat Pemindaian Wajah di Bandara

Pengenalan wajah atau face recognition di bandara tidaklah sama dengan pengenalan wajah di ponsel pintar untuk membuka kunci. Seperti di Bandara John F Kennedy yang mana penumpang JetBlue tak lagi perlu memperlihatkan tiket dan paspor mereka ketika melalui keamanan bandara.

Baca juga: Terminal 4 Bandara Changi Kini Dilengkapi 14 Pemindai Tubuh dengan Teknologi X-CT Scan

Hal ini dikarenakan adanya teknologi pemindaian wajah yang digunakan maskapai ini di gerbang elektronik dan prototipe yang sebelumnya di pasang. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman washingtonpost.com (10/6/2019), JetBlue sendiri sudah memindai 150 ribu wajah dalam dua tahun terakhir untuk memverifikasi pelancong internasional sebelum mereka naik ke pesawat.

Bahkan di Bandara Atlanta, maskapai Delta sudah memiliki terminal biometrik yang menggunakan wajah penumpang saat check in, pengambilan tas, keamanan dan gerbang. Tak hanya itu, pemindaian ini juga membantu penumpang internasional lebih cepat sembilan menit dan menghemat dua detik per penumpangnya.

Kehadiran pemindaian wajah ini sendiri menjadikannya efisien dimana maskapai penerbangan dan pemerintah Amerika Serikat untuk tidak mencurigai pelaku kejahatan. Ini juga menjadi salah satu langkah Amerika untuk menormalisasikan dan memperlakukan wajah penumpang sebagai data yang dapat disimpan, dilacak dan lainnya.

Sayangnya sejauh pengunaannya, pemindaian wajah di bandara tidak ada hubungannya dengan peningkatan keamanan penerbangan. Cara pemindaian untuk bandara pun berbeda dengan membuka kunci di ponsel pintar yang hanya dengan memasang wajah senyum.

Tetapi penumpang harus berdiri di atas tanda kaki berwarna biru dan menghadap beberapa detik ke arah sebuah kotak di sebelah kanan dan kamera didalamnya akan mengambil foto sebanyak dua atau tiga hingga mendapatkan gambar yang bagus. Nantinya foto tersebut akan dibandingkan dengan basis data di bea cukai dan perlindungan perbatasan Amerika Serikat untuk menentukan penumpang bisa masuk atau tidak.

Tetapi, ternyata mesin pemindai juga bisa salah dan tidak mengenali dengan jelas penumpang. Bisa dikatakan gerbang elektronik tak berfungsi untuk 15 persen penumpang. JetBlue mengatakan ketidakcocokan dapat terjadi karena sejumlah alasan mungkin penumpang tidak memiliki foto referensi pada file, mencari cara yang salah, terlalu pendek untuk kamera atau telah menumbuhkan jenggot.

Tetapi studi akademik telah menunjukkan bahwa beberapa sistem pengenalan wajah memiliki waktu yang sulit untuk membaca orang kulit berwarna dan wanita. Tingkat keberhasilan dunia nyata yang disaksikan jauh lebih rendah daripada tingkat kecocokan teknis 98 persen yang dikutip oleh Departemen Keamanan Dalam Negeri untuk menjual gagasan itu kepada anggota Kongres dan publik. Penumpang yang tidak dikenali oleh komputer harus memeriksa paspornya oleh manusia.

“Kami mencari peluang untuk mengurangi titik gesekan dalam perjalanan pelanggan,” kata direktur pengalaman pelanggan JetBlue, Caryl Spoden.

Efisiensi mungkin mengarah pada pelanggan yang lebih bahagia dan menghemat biaya. Ketika penumpang dapat memeriksa bagasi dan naik pesawat sendiri, ada lebih sedikit pekerjaan yang dihafal bagi karyawan, yang dapat ditugaskan untuk berinteraksi dengan pelanggan di tempat lain atau dibuat berlebihan. Yang dikhawatirkan oleh libertarian sipil adalah bandara memeriksa wajah semua orang, termasuk warga negara AS.

Memang benar bahwa bandara sudah menjadi tempat Anda harus menunjukkan identifikasi. Tetapi memiliki komputer yang bisa membuka potensi penyalahgunaan Konstitusi seharusnya melindungi kita dari. Orang-orang di Amerika Serikat tidak dapat digeledah kecuali mereka dicurigai melakukan kejahatan. Dan anonimitas adalah pilar kebebasan berbicara.

“Jika kita menyerah pada ini, kita mengizinkan pemerintah dan maskapai penerbangan untuk membangun basis data pengenalan wajah raksasa dari kita semua,” kata Jennifer Lynch, direktur litigasi pengawasan di Electronic Frontier Foundation.

Baca juga: Menjadi yang Pertama di Australia, Bandara Melbourne Hadirkan eGate dan Smart Security

Pejabat telah mengambil langkah untuk membatasi intrusi. Bea Cukai mengatakan itu menghapus foto yang diterima warga setelah 12 jam. JetBlue dan Delta mengatakan mereka tidak menyimpan foto yang mereka ambil dari kita. Petugas bea cukai dan maskapai penerbangan juga menekankan bahwa partisipasi dalam pengenalan wajah adalah sukarela.

“Ini bukan program pengawasan, karena para pelancong tahu bahwa foto mereka diambil dan itu di tempat-tempat di mana dokumen perjalanan fisik diperiksa,” kata Tanciar.

Ikuti Bahrain, Turki Tenggelamkan Airbus A330 untuk Dongkrak Wisata Bawah Air

Pada 14 Juni mendatang, sebuah pesawat Airbus berjenis A330 rencananya akan ditenggelamkan di Saros Bay atau yang lebih dikenal sebagai Gulf of Saros, Laut Aegean sebelah Utara. Nantinya, pesawat ini akan mengambil peranan yang sama seperti “the Queen of the Skies” di Bahrain – menjadi daya tarik tersendiri bagi para penyelam. Selain menjadi daya tarikbagi para pelancong yang hobi menyelam, ditenggelamkannya pesawat ini juga membawa misi lain, yaitu menjadi rumah bagi terumbu karang buatan.

Baca Juga: Di Bahrain, Bakal Ada Sosok Boeing 747 di Bawah Permukaan Laut

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman hurriyetdailynews.com (11/6/2019), pesawat berbobot 90 ton ini akan dibawa ke Pelabuhan Ibrice di distrik Keşan di provinsi barat laut Edirne dengan cara diangkut oleh enam truk. Sebelumnya, pesawat ini telah terlebih dahulu dibongkar di provinsi Mediterania Antalya pada bulan Maret kemarin. Menurut rencana, A330 ini akan ditenggelamkan di kedalam 30 meter sekitar satu mil dari Pelabuhan Ibrice.

“Ini akan menjadi pesawat terbesar yang pernah ditenggelamkan di seluruh dunia,” ujar salah satu penyelam yang nantinya akan bertugas untuk menenggelamkan pesawat ini, Serdar Savaşal.

“Dimensinya sangat besar, memiliki panjang sekitar 60 meter dengan bentang sayap mencapai 60 meter,” tandasnya.

Lokasi penenggelaman sendiri sebelumnya sudah terkenal sebagai salah satu lokasi penyelaman di kalangan para pelancong, dan Serdar Savaşal percaya bahwa pelancong yang akan datang ke tempat ini akan mengalami peningkatan setelah adanya A330 yang berbaur dengan asinnya air laut.

“Saya percaya bahwa berkat wisata selam ini, banyak penyelam terutama dari Yunani dan Bulgaria akan datang ke sini,” imbuh Serdar Savaşal.

“Tidak ada pesawat lain (yang ditenggelamkan) yang lebih besar dari A330 ini, dan saya yakin itu akan menjadi daya tarik tersendiri bagi para penyelam,” ujarnya.

Baca Juga: Terbang 4 Jam 45 Menit Hanya dengan Satu Mesin, Airbus A330-900 Raih Sertifikasi ETOPS

Menurut salah satu penyelam profesional yang mengamati proyek ini, ia mengatakan bahwa Turki dapat mengambil keuntungan tidak hanya dari satu penenggelaman ini saja, melainkan ini hanya menjadi awalan bagi perkembangan sektor pariwisata Turki.

“Saya harap proyek ini tidak berhenti sampai fase penenggelaman A330 saja,” ujarnya yang ingin tetap anonim.

Kelak, Airbus A330 yang ditenggelamkan ini akan melengkapi museum historikal bawah air pertama yang ada di Gulf of Saros yang diluncurkan pada tahun 2010 silam.

 

Puncak Arus Balik di Bakauheni Terjadi Pada 9 Juni, 81 Persen Pemudik Telah Kembali ke Jawa

Data terbaru dari PT ASDP Indonesia Ferry per 12 Juni 2019, diwartakan sebanyak 732.049 orang atau sudah 81 persen pemudik telah meninggalkan Sumatera, diikuti 68.016 unit roda dua (82 persen) dan 89.629 unit (81 persen) kendaraan roda empat keatas/lebih pada H+5 Lebaran Tahun 2019. Saat ini, trafik penumpang dan kendaraan di Pelabuhan Bakauheni yang akan menyeberang ke Merak sudah kembali normal dan lancar.

Baca juga: Spesifikasi KMP Port Link, Kapal Ferry Teranyar dan Terbesar

Jika melihat data, puncak arus balik dari Bakauheni menuju Merak terjadi pada Minggu (9/6) atau H+3 dimana penumpang pejalan kaki mencapai 25.968 orang, roda dua mencapai 21.231 unit dan khusus mobil pribadi mencapai 19.077 unit. “Tren puncak arus balik di Bakauheni tahun ini cukup tinggi. Bahkan mengalahkan jumlah trafik penumpang dan kendaraan saat puncak arus mudik dari Merak pekan lalu dimana trafik penumpang pejalan kaki di Merak sebanyak 20.344 orang, diikuti roda dua 14.973 unit dan mobil pribadi sebanyak 17.679 unit,” ujar Ira Puspadewi, Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Ira Puspadewi dalam catatan tertulis yang diterima KabarPenumpang.com

Kendati trafik penumpang dan kendaraan sudah kembali normal, ASDP tetap akan mengoperasikan kapal-kapal berukuran besar yakni diatas 5000 GT selama arus balik Lebaran berlangsung, dan melakukan percepatan waktu bongkar muat maksimal 45 menit, sehingga pelayanan terhadap pengguna jasa dapat lebih cepat, aman, dan nyaman.

Untuk layanan kapal eksekutif, pengguna jasa dapat menikmati layanan KMP Portlink, KMP Sebuku, KMP Batumandi dan KMP Portlink III, yang selama arus balik Lebaran ini beroperasi selama 24 jam.

Baca juga: KMP Athaya, Arungi Selat Sunda dengan Sensasi Hotel Berbintang

ASDP juga menyiapkan fasilitas loket yang terdiri dari 17 loket penumpang (reguler 12 loket, eksekutif 5 loket), 15 loket roda 2 (reguler 14 loket, eksekutif 1 loket), dan 19 loket roda empat/lebih (reguler 13 loket, eksekutif 6 loket). Selain itu juga disediakan fasilitas pendukung keselamatan dan keamanan yakni 6 unit ambulance, 1 unit mobil derek, 1 unit Damkar, 1 unit tug boat, 1 unit rubber boat, dan 5 unit shuttle bus.

Gegara Tak Ada Kursi di Gerbong MRT, Kakek Ini Terpaksa Duduk di Lantai Kereta

Pengurangan kursi di dalam Mass Rapid transit (MRT) Singapura membuat para penumpang lansia sulit untuk duduk dan terpaksa berdiri. Bahkan seorang pria tua kedapatan duduk dilantai dan bersender di salah satu gerbong SMRT tanpa kursi tersebut.

Baca juga: Remajakan Armada, MRT Singapura Adopsi Kursi Lipat Guna Antisipasi Lonjakan Penumpang

Fotonya tersebut viral di Facebook setelah seorang penumpang bernama Sue Goh mengunggahnya di media sosial tersebut. Dia menulis bahwa penghapusan lebih banyak kursi untuk meningkatkan kapasitas penumpang tetapi memberikan efek buruk bagi orang tua yang bepergian menggunakan kereta api. MRT Singapura seperti diketahui juga memiliki gerbong lipat untuk memaksimalkan kapasitas penumpang, terutama pada jam-jam sibuk.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman theindependent.sg (11/6/2019), dalam postingannya, Sue menambahkan bahwa kereta kini memiliki lebih sedikit kursi dan kursi cadangan sulit didapat karena mungkin digunakan oleh penumpang yang tidak membutuhkannya.

Sue menulis caption untuk foto pria tersebut di Facebook, “orang tua hanya dapat menundukkan kepala mereka dan menerima kenyataan sunyi yang kejam ini: ‘Saya duduk di lantai.”

Adanya pengurangan kursi dalam MRT sendiri ternyata sudah tercetus sejak tahun 2008 lalu, dimana Otoritas Transportasi Darat (LTA) di bawah Kementerian Transportasi mengatakan bawa akan mengatasi masalah kepadatan dan memodifikasi kereta SMRT tersebut untuk memiliki banyak ruang dengan mengurangi kursi. LTA mengatakan ini merupakan inisiatif bersama dengan operator kereta SMRT.

“Memindahkan kursi berdasarkan umpan balik dari komuter tentang peningkatan kepadatan selama periode puncak, kami setuju sepenuh hati dengan saran untuk mengeksplorasi menambah lebih banyak gerbong atau tingkatkan frekuensi kereta,” ujar pihak LTA.

Dewan hukum mengatakan bahwa mereka akan memangkas jumlah kursi di kereta tertentu sebanyak 30 persen, dengan tujuannya adalah untuk menciptakan lebih banyak ruang berdiri di kabin kereta api, sehingga pintu tidak akan terlalu macet, dan penumpang akan lebih mudah naik dan turun. LTA mengakui bahwa ini dapat menimbulkan kesulitan bagi orang-orang seperti warga lansia.

“Kami sepenuhnya memahami bahwa pemindahan kursi mungkin menjadi masalah bagi penumpang dengan kebutuhan khusus, seperti lansia, orang tua dengan anak kecil, ibu hamil dan orang cacat mobilitas. Oleh karena itu, LTA dan SMRT telah memastikan bahwa semua kabin kereta akan terus memiliki kursi, bahkan kabin kereta api yang dimodifikasi akan tetap memiliki 36 kursi,” kata LTA.

“Sejauh mungkin, kereta api yang dimodifikasi ini tidak akan berjalan secara berurutan di platform stasiun mana pun, sehingga penumpang dengan kebutuhan khusus yang lebih memilih kereta yang tidak dimodifikasi masih dapat memiliki akses yang memadai ke kursi.”

Tahun lalu, satu dekade sejak memutuskan untuk menghapus kursi untuk meningkatkan kapasitas penumpang, LTA mengumumkan bahwa mereka akan menerapkan ‘kursi tip-up’ pada kereta MRT baru untuk meningkatkan ruang berdiri selama jam sibuk.

Baca juga: MRT Singapura Larang Pengguna PMD untuk Gunakan Layanan!

Pengemudi kereta yang mengoperasikan kereta berita dengan ‘kursi tip-up’ akan membuat kursi terlipat selama jam sibuk pagi dan sore hari untuk memungkinkan lebih banyak ruang berdiri dan membuka kursi selama jam tidak sibuk untuk meningkatkan kapasitas tempat duduk. Inisiatif ini mendapat reaksi keras dari netizen online yang menolak inovasi ‘tip-up seats’ sebagai “ide bodoh”.

Muhammad Syaugi – Dari Penerbang Jet Tempur Kini Menjadi Komisaris Utama PT MRT Jakarta

Setelah resmi mengular pada April lalu, PT MRT Jakarta melakukan pergantian komisaris dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang dihelat pada Rabu (12/6/2019). Dalam hal ini, PT MRT Jakarta mengangkat Muhammad Syaugi (M. Syaugi) sebagai Komisaris Utama menggantikan Rukijo yang sebelumnya menjabat sebagai Plt. Komisaris Utama Perseroan yang telah menduduki posisi tersebut sejak 10 Mei 2018.

Baca Juga: Soerjanto Tjahjono – “Ilmu Yang Diterapkan Langsung, Jadi Kunci Kesuksesan Kinerja di KNKT”

Tidak hanya M. Syaugi yang diangkat oleh PT MRT Jakarta, melainkan juga Adnan Pandu Praja yang dipercaya untuk mengisi posisi sebagai Komisaris Perseroan, menggantikan Yusmada Faizal yang telah mengabdi sejak 24 Agustus 2016.

Bagi sebagian kalangan, nama M. Syaugi sudah tidak asing lagi di telinga. Pria yang lahir di Malang, 10 Desember 1960 silam ini sudah sangat banyak memakan asam garam di kalangan eksekutif. Sebelum naik menjadi Komisaris Utama PT MRT Jakarta, Purnawirawan bintang tiga TNIa AU ini menjabat sebagai Kepala Badan Nasional Pancarian dan Pertolongan (BASARNAS) yang ke-13, terhitung sejak 1 Februari 2017 hingga 25 Januari 2019.

Sebelum didaulat sebagai Kepala BASARNAS, M. Syaugi sudah terlebih dahulu menduduki jabatan sebagai Direktur Jenderal Perencanaan Pertahanan Kemhan RI terhitung sejak 15 Juli 2014 hingga 1 Februari 2017. Lebih jauh lagi, M.Syaugi juga sempat mengemban tanggung jawab sebagai Panglima Komando Operasi Angkatan Udara I (10 Desember 2012 – 15 Juli 2014), Komandan Pangkalan Udara Iswahyudi (25 Juli 2011 – 10 Desember 2012),

Sebagaimana yang dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, M. Syaugi merupakan lulusan Akademi Angkatan Udara (AAU) pada tahun 1984 dan peraih Adhi Makayasa – penghargaan tahunan kepada lulusan terbaik dari setiap matra TNI dan Kepolisian.

Setelah lulus dari AAU pada tahun 1984, M. Syaugi melanjutkan jenjang pendidikannya di Sekolah Komando Kesatuan Angkatan Udara (Sekkau) pada tahun selanjutnya. Lalu di tahun 1992, M. Syaugi bertolak ke Bandung untuk kembali mengenyam pendidikan di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Udara (Seskoau).

Sebagai perwira TNI AU, M. Syagi adalah seorang penerbang tempur, dimana ia mengawaki F-16 Fighting Falcon hingga mencapai 2.000 jam terbang. Saat berpangkat Letnan Kolonel, Syaugi dengan F-16-nya berhasil melakukan uji coba penembakan rudal udara ke permukaan, AGM-65 Maverick.

Ia juga sempat duduk di bangku Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal) dan Sekolah Staf dan Komando Tentara Nasional Indonesia (Sesko TNI), sebelum akhirnya bergabung dengan Program Pendidikan Reguler Angkatan Lembaga Ketahanan Nasional (PPRA LEMHANNAS) di tahun 2010.

Baca Juga: Silvia Halim – Srikandi di Balik Konstruksi MRT Jakarta

Tidak hanya Adhi Makayasa saja, sejumlah tanda kehormatan juga berhasil dikantongi oleh M. Syaugi; seperti Satyalancana Dwidya Sistha Ulangan I, Satyalancana Wirakarya, Satyalancana Darmanusa, Satyalancana Wiradharma, dan masih banyak lagi.

Wah, ternyata M. Syaugi bukanlah sosok yang bisa dipandang sebelah mata, ya! Bertabur penghargaan dan bermodalkan segudang pengalaman akan menjadikannya sosok yang disegani di tubuh PT MRT Jakarta. Selamat bertugas, Marsekal!

 

 

BPS: 78 Persen dari Total Penumpang Kereta Berasal dari KRL Jabodetabek

Menjadi salah satu moda transportasi yang diminati, kereta api menjadi incaran masyarakat baik kereta listrik ataupun kereta jarak jauh di Pulau Jawa dan Sumatera. Karena menjadi yang diminatai ternyata sebanyak 38,5 juta orang tercatat menggunakan kereta api pada April 2019.

Baca juga: Ternyata Kereta Api Indonesia Sudah Berganti Logo 3 Kali

Hal ini di catat oleh Badan Pusat Stastistik (BPS) yang mengatakan adanya kenaikan sebesar 0,16 persen dibandingkan pada bulan Maret 2019 kemarin. Jumlah ini sendiri sebagian besar merupakan penumpang Jabodetabek yang adalah penumpang pelaju atau commuter.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, jumlah ini sendiri di dominasi penumpang kereta listrik (KRL) Jabodetabek sebanyak 28,1 juta atau 78,37 persen dari total penumpang kereta api. Tak hanya itu, peningkatan juga terjadi di wilayah Jawa yang bukan Jabodetabek dan Sumatera.

“Kenaikan itu masing-masing untuk Jawa bukan Jabodetabek sebesar 5,10 persen dan 2,93 persen di Sumatera. Sebaliknya ada penurunan jumlah penumpang di wilayah Jabodetabek sebesar 1,07 persen,” ujar Suhariyanto yang dikutip KabarPenumpang.com dari merdeka.com (10/6/2019).

Meski begitu jika di total secara kumulatif penumpang kereta api dari Januari hingga April 2019 mencapai 138,6 juta orang dan ini naik 0,68 persen bila dibandingkan periode sama di tahun 2018 kemarin. Peningkatan tersebut terjadi di Pulau Jawa bukan Jabodetabek sebesar 11,55 persen dan Sumatera 12,60 persen.

Namun, Jabodetabek sendiri menurun hingga 1,88 persen bila di total secara kumulatif. Adanya kenaikan penumpang tidak sama dengan jumlah barang yang diangkut, sebab ada penurunan sebesar 7,79 persen dibandingkan bulan lalu yang menjadi 3,9 juta ton.

“Sebagian besar barang yang diangkut tersebut tercatat di wilayah Sumatera sebanyak 2,7 juta ton atau 70 persen dari total barang yang diangkut dengan kereta api. Penurunan jumlah barang terjadi di semua wilayah Jawa bukan Jabodetabek dan Sumatera masing-masing turun sebesar 0,94 persen dan 10,44 persen,” kata Suhariyanto.

Baca juga: Tandingi Layanan Dunia Dirgantara, Otoritas Kereta Api Rusia Siap Ganti Kereta Sleepers Legendaris

Selama periode Januari-April 2019 kumulatif jumlah barang yang diangkut kereta api mencapai 16,1 juta ton atau naik 4,88 persen dibanding periode yang sama tahun 2018. Peningkatan terjadi di wilayah Sumatera sebesar 7,93 persen, sementara itu wilayah Jawa non-Jabodetabek turun sebesar 2,17 persen.

Sepanjang Mei 2019, Boeing Tak Dapat Orderan (Lagi)

Awan kelabu sepertinya belum berpindah dari Boeing. Setelah kemarin diberitakan bahwa perusahaan kedirgantaraan asal Negeri Paman Sam ini disangka bermasalah oleh Federal Aviation Administration (FAA) karena adanya temuan tentang cacat komponen pada pesawat jenis 737 MAX dan 737NG, kini beredar kabar bahwa Boeing kembali tidak mendapatkan pesanan dari pelanggan sepanjang bulan Mei 2019 kemarin.

Baca Juga: Duh! Tidak Ada Pesanan yang Masuk ke Boeing Sepanjang April 2019

Ya, absennya pesanan ke perusahaan ini merupakan kali kedua sepanjang tahun 2019 ini – setelah sebelumnya pada bulan April pun, Boeing mengalami polemik yang sama. Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman cnn.com (11/6/2019), absennya pesanan ini merupakan salah satu buntut dari kasus jatuhnya dua pesawat jenis 737 MAX 8 yang dioperatori oleh Lion Air dan Ethiopian Airlines dalam kurun waktu kurang dari lima bulan.

Tapi grounded berjamaah terhadap 737 MAX yang dilakukan oleh maskapai di seluruh dunia ini bukanlah satu-satunya alasan dari absennya pesanan ke tubuh Boeing, melainkan minat dan kepercayaan pelanggan yang mulai menurun. Pasalnya, Boeing masih memiliki sekitar 5.000 pesanan pesawat dari berbagai pelanggannya, dan kebanyakan dari mereka tidak akan melanjutkan pesanan atau tidak akan menambah jumlah armadanya lagi.

Seolah tidak mau menekan dari segi mentalnya saja, Boeing juga harus menanggung malu karena pada pagelaran Paris Air Show yang rencananya dihelat pada minggu ketiga bulan Juni ini, Boeing harus membongkar absennya pesanan ke pihak mereka di hadapan Airbus – rival terbesarnya. Ya, biasanya baik Airbus maupun Boeing selalu mengumumkan jumlah pesanan yang masuk ke tubuh perusahaan masing-masing. Namun apa daya, yang masuk ke tubuh Boeing adalah nihil.

Baca Juga: Belum Rampung Masalah 737 MAX, Boeing Diterpa Isu Cacat Komponen di Seri 737NG

Sebenarnya, Boeing telah membatalkan 71 pesanan untuk pesawat jenis 737 MAX pada bulan Mei 2019 kemarin, namun ini tidak ada hubungannya dengan grounded berjamaah yang sudah disebutkan di atas. Pembatalan ini merupakan tindak lanjut Boeing atas pesanan dari maskapai asal India, Jet Airways. Pada bulan April lalu, Jet Airways gagal mendapatkan pinjaman dana dan pihak maskapai memutuskan untuk menghentikan operasinya.

Gelontorkan Rp17,7 Triliun, Russian Railways Hadirkan Kereta Cepat Velaro RUS

Perkeretaapian Rusia, Russian Railways dikabarkan baru saja memesan sejumlah kereta Velaro RUS berkecepatan tinggi yang diharapkan untuk bisa memasuki masa operasionalnya di masa yang akan datang. Velaro RUS ini sendiri merupakan kereta rakitan Siemens yang memiliki basis ICE 3M/F yang semula ditujukan untuk menunjang operasional dari Deutsche Bahn. Adapun investasi yang dilakukan oleh Russian Railways untuk menghadirkan sejumlah kereta ini mencapai €1,1 miliar atau yang setara dengan Rp17,7 triliun.

Baca Juga: Inilah 10 Kereta Tercepat di Dunia

KabarPenumpang.com mengutip dari laman railway-technology.com (10/6/2019), adapun jumlah kereta yang dipesan oleh Russian Railways berjumlah 13 unit. Sebelumnya, Russian Railways telah melakukan pemesanan terlebih dahulu untuk delapan unit kereta yang sama pada tahun 2006 dan delapan lainnya lagi pada tahun 2011. Pesanan ini merupakan bagian dari kontrak kerja sama selama 30 tahun yang terjalin di antara dua perusahaan tersebut.

“Fakta yang tersaji dengan adanya pemesanan armada tambahan dari Russian Railways kepada pihak Siemens adalah terjalinnya satu kerja sama yang kuat antara dua perusahaan ini. Selain itu, tercermin juga performa Velaro rakitan kami yang kuat, dimana kereta mampu menghadirkan keamanan dan kenyamanan bagi para penumpangnya, dimana ini akan berimplikasi langsung pada pengalaman mereka,” ujar CEO Siemens Mobility, Sabrina Soussan.

“Velaro telah membuktikan keandalannya di Rusia setelah mengular lebih dari 50 juta kilometer terhitung sejak tahun 2009 silam,” imbuhnya.

Kelak, Velaro RUS ini akan beroperasi di jalur Moskow – St. Petersburg untuk mengakomodasi penumpang di jalur sepanjang 650km ini.

Sedikit berbeda dengan kereta Velaro yang tersebar di belahan bumi lainnya, Velaro RUS ini dirancang khusus untuk mampu beroperasi di bawah suhu ekstrem khas Negeri Beruang Merah.

Baca Juga: Inilah 5 Operator Kereta Mancanegara dengan Pendapatan Spektakuler

Dikenal dengan nama Sapsan dalam bahasa lokal, kereta ini mampu mengangkut sekitar 550 penumpang maksimal dalam sekali perjalanannya.

Menambahkan pernyataan dari Sabrina, Presiden dan CEO dari Siemens, Joe Kaeser mengatakan, “kami akan terus bekerja sama untuk memperluas jaringan ini dan dengan demikian kami secara langsung akan memberikan kontribusi penting dalam pengembangan infrastruktur modern di Rusia dan menciptakan lapangan kerja yang berkualitas di negara ini.”

 

 

Di India, Suzuki Ertiga Hadir Dalam ‘Setelan’ Taksi Lho!

Setelah beberapa waktu yang lalu sempat beredar sentilan-sentilun tentang kelas Honda Mobilio yang turun akibat digunakan menjadi armada taksi, kini kabar mengejutkan lain datang dari produsen otomotif asal Jepang lainnya, Suzuki, dimana baru-baru ini produsen otomotif yang bermarkas di Hamamatsu, Prefektur Shizouka memperkenalkan Ertiga varian terbaru di India. Usut punya usut, kendaraan yang bernama Suzuki Ertiga Tour M ini akan ditargetkan untuk menjadi armada taksi. Nah lho, apakah kasusnya akan sama seperti Honda Mobilio lagi?

Baca Juga: Bus Kota di Chennai, Potret Buruk Transportasi di India

Sebagaimana yang dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, pasar taksi di India terus mengalami perkembangan dan hal tersebut berdampak pada pencarian dari para perusahaan taksi terhadap mobil yang harganya ramah di kocek namun mudah untuk dirawat dan murah untuk dioperasikan. Dengan spesifikasi yang dijabarkan di atas, pihak Suzuki India menilai bahwa Ertiga cocok dengan persyaratan tersebut dan memutuskan untuk menghadirkannya dalam versi khusus taksi.

Kendati Ertiga Tour M dirancang untuk kebutuhan taksi seperti yang sudah dijabarkan di atas, tapi itu bukan berarti ada komponen yang diubah darinya – sebut saja mobil ini tetap dilengkapi dengan bohlam halogen sebagai lampu depan proyektor, grille krom, gagang pintu, dan bemper sewarna bodi, cover kaca spion, serta pelek dengan dop.

Selain itu, mobil ini juga telah dilengkapi dengan fitur power steering, power window pada bagian depan dan belakang, electric mirror, remote kunci, dua unit airbag pada bagian depan, sistem pengereman ABS dan EBD, pengingat sabuk keselamatan, sensor parkir belakang, dan speed limiter. Melihat dari fiturnya, nampaknya pihak Suzuki India sudah paham betul dengan kriteria yang dibutuhkan untuk mobil sekelas taksi.

Mengutip dari laman drivespark.com (1/6/2019), Suzuki Ertiga Tour M ini menggunakan mesin yang sama dengan varian lain, namun rumornya, model yang disasar untuk pembeli borongan (fleet) dan taksi ini akan menggunakan bahan bakar gas yang tengah naik daun di India.

Baca Juga: Jajal Tuk Tuk, “Bajaj” dengan Argometer di Bangalore, India

Jika ditanya apakah Suzuki Ertiga Tour M ini bisa merangsek ke pasar Indonesia, tentu saja jawabannya masih belum dapat dipastikan – bisa iya, bisa juga tidak. Pasalnya, Direktur Pemasaran Suzuki Indomobil Sales (SIS), Donny Saputra menjelaskan bahwa fungsi dari mobil ini ditujukan untuk mobil keluarga, bukan sebagai taksi.

“Jadi kalau kami, menurut Suzuki, pada saat kami membuat produk untuk jadi taksi, lebih banyak negatifnya,” ucap Donny, dikutip dari laman kompas.com (28/5/2018).

Namun, pernyataan tersebut dirilis pada tahun lalu, mungkin di tahun 2019 ini pihak SIS akan berubah pikiran dan akan membuntuti jejak dari Suzuki India.