Adopsi Bus Listrik, Antara Harapan dan Tantangan yang Menghadang

Sebagai salah satu kota utama di Asia, Jakarta kini tengah melakukan uji coba dalam implementasi bus listrik. Persisnya lewat operator PT TransJakarta, unit bus listrik kini sedang lalu-lalang di sekitaran Monas dan Taman Mini Indonesia Indah guna melihat seberapa jauh respon masyarakat, selain tentunya melihat performa dari bus yang mengandalkan pasokan energi listrik dari baterai ini.

Baca juga: Mampu Angkut 250 Penumpang, BYD Automobile Luncurkan Bus Listrik Terpanjang di Dunia

Meski menawarkan sejumlah keunggulan berupa bebas emisi dan memajukan penggunaan energi terbarukan, namun adopsi bus listrik bukan tanpa kendala pada kota-kota yang masih dalam lingkup ‘berkembang.’

Dilihat dari populasinya, saat ini bus listrik baru menguasai pangsa 17 persen di dunia atau sebanyak 425 ribu armada dengan 99 persen bus listrik dioperasikan di Cina.

Selain penyiapan infrastruktur, lambatnya penetrasi bus listrik disebababkan oleh beberapa keraguan. Semisal beberapa produsen bus besar masih mengatasi masalah mereka dari sisi lini produksi. Selain itu ada tantangan pada kinerja, selama tes awal di tempat-tempat seperti Belo Horizonte, Brasil, bus listrik kesulitan melewati bukit curam dengan muatan penumpang penuh. Albuquerque, New Mexico, membatalkan kesepakatan 15 bus dengan BYD pabrikan Cina setelah menemukan masalah pada perangkat selama pengujian.

Bus listrik bisa menempuh jarak sekitar 225 mil atau 362,102 km dalam sekali charge (isi ulang) baterai, tergantung pada kondisi topografi dan cuaca, yang berarti operator harus kembali ke depot sekali sehari pada rute yang lebih pendek di kota padat dan ini menjadi masalah di berbagai area yang padat akan kemacetan. Hal utama yang tampaknya dilupakan orang-orang tentang bus listrik adalah bahwa mereka perlu dikenakan biaya. Perlu dicatat, waktu isi ulang baterai secara penuh bisa memakan waktu sampai 4 jam, ini tentu harus diperhitungkan agar tidak menganggu pelayanan.

Instalasi depot pengisian energi dalam ukuran standar bisa menelan biata US$50 ribu. Investasi akan lebih tinggi bila depot dirancang untuk meng-handle beberapa bus ukuran besar sekaligus. Nilai di atas belum termasuk biaya konstruksi. Di pusat kota yang padat, pergerakan di dalam depot bus dapat diatur dengan ketat untuk mengakomodasi parkir dan pengisian bahan bakar. Pembangunan infrastruktur bus listrik merupakan tantangan yang berat dalam hal pengembalian investasi.

Lain dari itu, penyedia jasa pengisian listrik harus mendapatkan pasokan langsung ke stasiun pengisian mereka, bukan tak mungkin harus ada investasi untuk menyiapkan gardu baru. Warren, eksekutif New Flyer, memperkirakan butuh listrik 150 megawatt-jam untuk membuat depot 300 bus terisi penuh sepanjang hari. Sebagai perbandingan rumah tangga di  Amerika Serikat hanya mengonsumsi 7 persen dari jumlah itu dalam satu tahun.

Baca juga: BYD K9 – Inilah Bus Listrik untuk Koridor 13 TransJakarta

Diperkirakan bahwa hanya kurang dari 60 persen dari semua armada bus di dunia yang akan dikonversi menjadi bus listrik pada tahun 2040.

[Video] Airbus Kembangkan “AlbatrossOne,” Desain Sayap yang Terinspirasi dari Burung Albatros

Anda pernah mendengar nama burung Albatros? Ya, siapa sangka burung yang identik dengan area perairan ini menjadi inspirasi para insinyur di sektor aviasi dalam menciptakan sebuah pesawat yang kompatibel dengan kebutuhan penerbangan di masa yang akan datang. Alih-alih menciptakan sebuah pesawat yang memiliki kontur body seperti burung Albatros yang terkenal bisa mengarungi angkasa tanpa harus mengepakkan sayapnya, namun para insinyur dari Airbus menduplikasi bagian sayap dari burung Albatros. Perkenalkan, AlbatrossOne!

Baca Juga: Tak Kunjung Balik Modal, Tepatkah Airbus Hentikan Program A380?

Tentu saja nantinya sayap dari AlbatrossOne tidak akan bisa mengepak, melainkan bagian ujung sayapnya (wingtip) saja yang sengaja didesain untuk dapat bergerak mengikuti hembusan angin. Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (18/6/2019), nantinya pihak Airbus akan menambahkan engsel khusus pada bagian wingtip – sama seperti varian Boeing 777X yang dapat melipat bagian ujung sayapnya ketika bentang sayap terlalu lebar untuk masuk ke ‘parkiran’ pesawat.

Untuk bagian wingtip sendiri, Airbus menggunakan bahan semi-aeroelastik yang akan bergerak bebas ketika tertiup oleh angin. Penggunaan desain sayap seperti ini dipercaya oleh pihak Airbus akan memberikan perubahan yang cukup signifikan ketika pesawat menghadapi turbulensi. Selain itu, para insinyur juga percaya bahwa penggunaan wingtip berengsel ini dapat mengurangi berat sayap secara keseluruhan.

Dalam upayanya untuk mewujudkan model ini, pihak Airbus telah menciptakan versi remote control yang telah sukses diuji coba di Filton, Inggris. Ya, Filton diketahui sebagai rumah bagi Concorde, pesawat berkecepatan super yang sudah memasuki masa pensiunnya sejak puluhan tahun lalu.

“Panjang dari wingtip di AlbatrossOne diperkirakan akan memakan space sepertiga bentang sayap. Nantinya wingtip ini akan beroperasi secara mandiri selama turbulensi dan mengurangi beban sayap pada bagian pangkal – yang dimana ini akan berimplikasi pada pengurangan beban pada pesawat secara keseluruhan,” ujar salah satu insinyur di Airbus, Tom Wilson.

“Ketika ada hembusan angin atau turbulensi, sayap pesawat konvensional mentransmisikan muatan besar ke badan pesawat, sehingga pangkal sayap harus sangat diperkuat, dan secara otomatis akan menambah bobot pada pesawat,” tandasnya.

Baca Juga: Tidak Ada Varian Airbus A370, Netizen Sampai Bikin Ilustrasi Sendiri!

Tom Wilson percaya bahwa dengan mengaplikasikan wingtip yang mampu bereaksi mandiri sesuai dengan hembusan angin akan mengurangi beban pesawat secara keseluruhan. Pihak Airbus sendiri belum bisa menentukan kapan pesawat kembangannya ini dapat melakukan first maiden, namun uji coba penerbangan dengan menggunakan remote control sudah rampung dilakukan terhitung sejak bulan Februari 2019 kemarin.

Berikut adalah video yang menunjukkan hasil uji coba penerbangan dengan menggunakan remote control yang dilakukan oleh Airbus pada bulan Februari lalu.

Mark Heydon, Awak Kabin Aktif dengan Usia 63 Tahun!

Mimpi menjadi seorang awak kabin sepertinya tidak terbatas usia. Pasalnya seorang kakek yang akan memasuki usia 63 tahun di bulan depan baru saja mewujudkannya dan terbang bersama dengan salah satu maskapai serta melayani penumpang dengan baik.

Baca juga: Oman Air Kenalkan Seragam Baru Awak Kabin di London Heathrow

Mark Heydon, ya kakek yang satu ini tidak membiarkan usia senja menghalangi mimpinya. Dia bahkan meninggalkan pekerjaannya dengan jabatan sebelumnya sebagai petugas rumah tangga yang mengelola keuangan tahunan lebih dari 1 juta pounsterling.

KabarPenumpang.com melansir dari laman metro.co.uk (14/6/2016), bisa dikatakan posisinya saat ini adalah sangatlah berbeda dari pekerjaan sebelumnya. Tetapi kakek ini bahkan melakukannya dengan cepat karena dia sangat alami dalam melayani pelanggan.

Janine Santos mengunggah gambar yang diambilnya dengan Heydon ke akun media sosialnya dan memuji grandad-of-five untuk layanan pelanggan yang luar biasa sepanjang penerbangan pada 3 Juni 2019 kemarin.

“Saya hanya menyambutnya dan temannya di atas kapal dan berbicara dengan mereka tentang liburan mereka. Sangat menyenangkan berbicara dengan mereka, cukup mencengangkan bahwa (posting Janine) telah memiliki jumlah hit yang dimilikinya luar biasa,” ujar Heydon yang berasal dari Porthcawl di Wales.

Menurutnya, alasan memilih untuk menjadi seorang awak kabin, karena merasa melakukan satu hal yang sama sekali berbeda bisa membawa kebaikan baginya.

“Saya percaya sejumlah masalah membuat Anda lebih muda, melakukan satu hal yang menakutkan Anda, adalah salah satunya. Jelas ini menakutkan dalam arti bahwa Anda tidak pernah tahu apa yang ada di depan Anda,” tambahnya.

Janine menambahkan, dirinya tersentuh ketika melihat Heydon karena dia seusia dengan ayahnya, yang baru-baru ini meninggal akibat kanker. Heydone mengaku, mendapat pekerjaan ini tidak mudah dimana dirinya satu dari 260 orang kandidat yang terpilih lebih dari 12 ribu kandidat. Bahkan dirinya mengakui butuh empat hari untuk pulih dari kelelahan setelah pelatihan.

Baca juga: Abaikan Tombol Panggilan dari Penumpang, Awak Kabin Emirates Terima Memo Peringatan

“Istri saya sangat bangga pada saya. Dia menjaga saya untuk memastikan bahwa saya mengenakan seragam saya dengan baik dan dia cenderung mengamati penerbangan saya secara online untuk melihat apakah telah lepas landas atau tertunda. Hari pertamaku sangat menegangkan, aku merasa agak seperti kelinci di lampu depan. Saya mencoba mengingat banyak hal karena perannya beralih antara layanan pelanggan ke keamanan pesawat dan keselamatan penumpang,” ujarnya.

Kalau di Indonesia boleh tidak ya untuk kakek-kakek jadi awak kabin?

Banyak Peminat, KA Galunggung Kini Punya Tarif Rp35 Ribu

Warga Tasikmalaya yang mau ke Bandung atau sebaliknya kini bisa terhubung dengan kereta api yang ditempuh dengan waktu 2 jam 30 menit. Kereta yang dioperasikan oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI) ini bernama Galunggung.

Baca juga: PT KAI Perpanjang Tarif Promo KA Galunggung

Kalau pernah dengar, nama kereta ini diambil dari sebuah gunung di kabupaten Tasikmalaya yakni Gunung Galunggung. Kereta ini sendiri merupakan kereta api lokal jarak menegah yang menggunakan rangkaian kereta Kahuripan.

Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, kereta api ini sudah mulai beroperasi sejak 26 Desember 2018 lalu dan tujuan kehadirannya untuk memudahkan masyarakat Priyangan Timur. Karena sebelumnya kereta api yang melayani relasi ini hanya kereta jarak jauh.

Kereta Galunggung akan berhenti di delapan stasiun dari arah Bandung dan tujuh stasiun dari arah Tasikmalaya. Stasiun yang disinggahi Kereta Galunggung yakni Stasiun Rancaekek, Cicalengka, Leles, Cibatu dan Cipeundeuy.

Dari awal beroperasi hingga 25 Januari 2019 kemarin atau selama sebulan, PT KAI bahkan mengratiskan tiketnya. Namun tiket ini hanya bisa dibeli langsung di stasiun yang dilintasi kereta api Galunggung dan bisa dipesan H-7 keberangkatan.

Ternyata KA Galunggung ini memiliki peminat yang sangat besar, apalagi kehadirannya juga bersamaan dengan KA Pangandaran yang melayani relasi Gambir-Bandung-Banjar. Rata-rata okupansi KA Galunggung saja mencapai 89 persen dari kapasitas tempat duduk di relasi ini. Setelah menggratiskan, PT KAI sempat memberikan harga Rp1000 hingga Mei 2019 kemarin.

Sekarang untuk tiket kereta Galunggung relasi Kiarcondong menuju Tasikmalaya dikenakan tarif sekali jalan Rp35 ribu. Bahkan kini tiket KA Galunggung sudah bisa dipesan melalui web kai.id, aplikasi KAI Access, contact center 121 dan agen resmi PT KAI maupun langsung di stasiun.

Baca juga: KA Galunggung Rute Kiaracondong-Tasikmalaya Mulai Beroperasi

KA Galunggung akan berangkat setiap hari dari Stasiun Kiaracondong pukul 06.05 WIB dan tiba di Tasikmalaya pukul 09.25 WIB. Sedangkan dari Tasikmalaya pukul 10.35 dan tiba di Kiaracondong pukul 14.11.

Kata Pramugari, “Waktu Penerbangan Terbaik Ada di Pagi Hari”

Bagi Anda yang kerap mempercayakan pesawat untuk mengantarkan Anda dari satu kota menuju kota lainnya, kapan waktu penerbangan favorit Anda – siang hari atau malam hari? Tentu saja jawabannya akan sangat variatif, tergantung dari selera Anda masing-masing. Ada yang menjawab siang hari karena bisa melihat hamparan langit luas dari ketinggian puluhan ribu kaki, ada juga yang menjawab malam hari karena Anda gemar melihat kerlap-kerlip cahaya dari kota yang dilintasi oleh si burung besi.

Baca Juga: Inilah yang Diharapkan Seorang Awak Kabin dari Penumpang!

Namun percayalah, pilihan Anda tersebut berbeda dengan pilihan para awak kabin, yang sejatinya sudah mengetahui seluk beluk tentang sektor aviasi. KabarPenumpang.com melansir dari laman mirror.co.uk (14/6/2019), seorang awak kabin dari maskapai yang berbasis di New York, Stella Connolly mengatakan bahwa waktu terbang yang paling difavoritkan olehnya adalah di pagi hari.

Tentu Anda semua akan mengernyitkan dahi ketika mendengar pernyataan Stella, mengingat ada banyak pertimbangan yang harus dipikirkan secara matang sebelum mengambil tiket penerbangan di pagi hari – mulai dari kendaraan yang akan Anda gunakan menuju bandara, hingga waktu tidur yang secara otomatis akan tersita karena harus bangun lebih awal guna mempersiapkan diri.

Tapi ketika mendengar pernyataan dari Stella, maka semuanya akan masuk di akal – atau mungkin akan mengubah persepsi Anda tentang terbang di pagi hari.

“Sederhana saja, terbang di pagi hari sangatlah tepat waktu!” ujar Stella.

Sebentar, bukankah semua penerbangan itu dirancang untuk tepat waktu?

“Layaknya snowball effect, jika ada penerbangan di pagi hari yang mengalami keterlambatan, maka hal ltersebut akan berdampak keterlambatan lain pada jam-jam selanjutnya,” tandasnya.

Baca Juga: Sedikit Rahasia Yang Terlupakan dari Sosok Awak Kabin

Selain jarang terjadi delay, penerbangan di pagi hari juga berarti Anda akan menggunakan pesawat yang notabene masih bersih, karena pada dasarnya, petugas kebersihan selalu membersihkan pesawat di pagi hari – walaupun tidak menutup kemungkinan jika pesawat juga akan dibersihkan ketika tengah ‘bersandar’ di tengah operasi hariannya.

“Jika Anda bisa sampai di tujuan pada pagi hari, itu berarti Anda masih memiliki banyak waktu untuk bersantai dan tidak tergesa-gesa,” tambah Stella.

Kalau sudah mendengar penjelasan logis seperti ini dari seorang awak kabin, apakah Anda akan mengubah persepsi Anda tentang terbang di pagi hari?

Aska – Moda ‘Dua Alam’ Karya Startup AS dan Israel Siap Terbang Perdana di 2020

Ketika sektor electric Vertical Take-Off and Landing (eVTOL) sudah mulai dirambah oleh para pemain lama di sektor kedirgantaraan seperti Airbus, kini ada satu perusahaan lagi yang juga turut berkecimpung di sektor tersebut. Adalah perusahaan startup asal Amerika dan Israel NFT yang mengembangkan mobil terbang bernama Aska. Menurut NFT, sesuai dengan namanya, Aska tidak membutuhkan landas pacu untuk menerbangkan moda ini. Dengan hadirnya Aska meramaikan pengembangan moda eVTOL, maka inikah salah satu pertanda bahwa moda udaralah yang akan mengambil alih mobilitas penumpang di masa yang akan datang?

Baca Juga: Setelah Alpha One Vahana, Kini Giliran P2 Xcursion yang Uji Terbang

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (12/6/2019), NFT mengatakan bahwa Aska bisa dikendarai di jalanan seyogyanya mobil konvensional, karena ukurannya yang hanya sebesar mobil Sport Utility Vehicle (SUV) saja. Ketika Aska akan memulai perjalanannya di udara, maka sayap lipat yang terdapat di belakang kendaraan dapat dikembangkan kapanpun si empunya Aska membutuhkannya,

Aska eVTOL. Sumber: newatlas.com

Ketika bertransformasi menjadi moda udara, Aska akan di-support oleh 14 baling-baling yang siap mengangkatnya ke udara secara vertikal – sama seperti helikopter. Ketika sudah berada di udara, maka baling-baling yang ada di bagian belakang akan berputar ke posisi vertikal dan bertindak sebagai pendorong ‘moda dua alam’ ini. NFT mengklaim bahwa penerbangan dengan metode seperti ini akan memungkinkan moda untuk bergerak lebih cepat di udara namun tetap hemat energi.

Sementara ketika di darat, Aska akan menggabungkan sejumlah teknologi yang kini sedang naik daun – salah satunya adalah Artificial Intelligent (AI) yang memungkinkan Aska untuk menghindari obstacle dan bergerak secara stasioner.

Untuk masalah daya gedor sendiri, Aska menggunakan baterai isi ulang yang mampu menydiakan daya untuk Aska bergerak hingga 563km dalam kondisi baterai terisi penuh.

Baca Juga: Prototipe Taksi Drone Ehang 184, Sukses Uji Coba Dalam 1000 Kali Terbang

Sadar bahwa untuk memiliki salah satu kendaraan ini membutuhkan kondisi dompet yang tebal, maka Aska menawarkan solusi lain dengan cara memberikan layanan langganan kepada para penggunanya agar mereka bisa menggunakan moda ini kapanpun dibutuhkan.

Aska sendiri diambil dari bahasa Jepang yang berarti burung terbang diluncurkan pada Senin (12/6/2019) bertepatan dengan dihelatnya acara EcoMotion di Tel Aviv. Sementara untuk jadwal first maidennya, pihak NFT mengatakan bahwa Aska direncanakan untuk terbang perdana pada kuartal pertama tahun 2020 mendatang.

 

Alstom, Hitachi, dan Bombardier Satukan ‘Kekuatan’ Garap HS2 Project

Perusahaan pembangkit listrik dan transportasi rel dan kapal asal Perancis, Alstom bersama dengan korporasi gabungan antara Hitachi dan Bombardier baru saja merilis desain kereta yang diusulkan untuk HS2 Project yang rencananya akan bergulir di Inggris. Sebelum membahasnya lebih lanjut, HS2 Project merupakan proyek kereta cepat yang akan mengular di Britania Raya. Untuk beberapa wilayah, bagian yang akan digunakan sebagai jalur kereta ini sudah disetujui sejak tahun 2017 silam dan sedang menunggu tahap konstruksi – sedangkan wilayah sisanya masih menunggu persetujuan.

Baca Juga: Masih Jauh dari Realisasi, Keandalan HS2 Siap Jadi Rival Setara Bagi Shinkansen

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman railway-technology.com (7/6/2019), Alstom telah mengajukan penawaran tunggal untuk kontrak senilai 2,75 miliar poundsterling (Rp49,78 triliun), termasuk pembuatan dan pengiriman setidaknya 54 kereta, yang akan beroperasi pada Fase 1 HS2 Project yang akan mengular antara London dan West Midlands.

Guna memenuhi persyaratan yang dibutuhkan untuk mengular di HS2 Project, kereta dari Alstom dikabarkan telah sesuai dengan persyaratan tersebut, dan menurut pihak perusahaan, nantinya kereta yang akan mengular di HS2 Project ini akan menghasilkan kenyamanan yang sama dengan layanan kereta konvensional lainnya.

Sebelumnya, Alstom telah secara langsung terlibat dalam proses desain kereta cepat Avelia untuk Amerika, Perancis, dan Italia – sedangkan untuk Hitachi dan Bombardier dikabarkan telah merilis gambar pertama dari desain kereta yang diusulkan.

Di sini, perusahaan kerja sama gabungan Hitachi dan Bombardier harus sedikit membagi otak karena baru-baru ini, mereka memenangkan tender senilai US$643 juta atau yang berkisar Rp9,2 triliun dari operator kereta asal Italia, Trenitalia untuk menghadirkan 14 unit kereta berkecepatan tinggi, Frecciarossa 1000.

Baca Juga: Terlambat Karena Masalah Teknis, Azuma High Speed Train Kini Resmi Layani Rute London–Leeds

Diharapkan HS2 Project ini akan mulai menurunkan kontrak pada awal tahun 2020 mendatang. Diketahui, selain London, Birmingham, Manchester dan Leeds, layanan HS2 akan menghubungkan beberapa tempat di luar jaringan inti HS2, termasuk York, Newcastle, Liverpool, Glasgow dan Edinburgh.

Diinformasikan, bulan lalu, Economic Affairs Committee of the House of Lords telah mendesak pemerintah untuk membatasi adanya kemungkinan pertambahan biaya pembangunan dari HS2 Project.

 

Ngeri! Kereta Cepat TGV Tujuan Barcelona Terjebak di Terowongan Selama Enam Jam!

Pengap, sesak, gelap, dan terkadang bau dari asap merangsek masuk ke dalam kabin penumpang. Itulah kurang lebih gambaran ketika kereta yang Anda tumpangi melintasi sebuah terowongan. Dalam kurun waktu sekira dua hingga tiga menit, Anda akan merasakan suasana tersebut – sebenarnya ini tergantung dari panjang terowongan yang Anda lalui. Namun apa jadinya jika Anda terpaksa harus merasakan sensasi tersebut selama berjam-jam lamanya? Apakah Anda akan kuat?

Baca Juga: TGV, Masih Jadi Lambang Supremasi Kereta Cepat Eropa

Ya, inilah yang dirasakan oleh penumpang kereta yang ada di Paris, Perancis pada Selasa (4/6/2019) kemarin, dimana mereka terperangkap di dalam sebuah terowongan di luar Paris selama kurang lebih enam jam. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman thelocal.fr (5/6/2019), kereta TGV 9713 mengalami mati listrik sesaat setelah kereta tersebut bertolak dari Paris menuju Barcelona, Spanyol. Jangan tanyakan kondisi di dalam kabin kereta, karena sudah pasti sangatlah tidak nyaman – mengingat sistem kelistrikan di keseluruhan kereta mati total.

Kereta ini terperangkap di sebuah terowongan di daerah Yerres, tidak terlalu jauh dari perbatasan kota Paris. Operator kereta Perancis, SNCF mengatakan bahwa sebenarnya masalah kelistrikan ini hanya berlangsung 10 hingga 15 menit saja. Namun karena posisi kereta yang kala itu tengah berada di dalam terowongan, maka dari itu pihak SNCF berdalih bahwa kereta tidak bisa langsung melanjutkan perjalanannya.

Menanggapi kejadian yang bisa menjadi mimpi buruk bagi para penumpang ini, pihak SNCF lalu mengirimkan kereta lain dengan tujuan untuk bisa mendorong TGV 9713 tersebut – namun upayanya nihil.

Mengingat kondisinya yang sudah semakin mendesak, pihak operator kereta lalu memerintahkan penumpang untuk direlokasi menuju kereta lain yang berada di luar terowongan dengan didampingi oleh petugas SNCF, pemadam kebakaran, dan pihak kepolisian.

Menurut laporan, dua orang penumpang terpaksa dirawat oleh petugas karena kondisinya yang membutuhkan penanganan medis.

Seorang turis asal Australia yang juga berada di dalam rangkaian kereta tersebut, Heather Manton (68 tahun) mengaku kecewa atas insiden yang membuat panik seisi kabin kereta.

“Insiden tersebut sangatlah mengerikan,” papar Heather.

Baca Juga: 10 Terowongan Kereta Terpanjang di Indonesia, Ada Dimana Saja Ya?

Ya, bagaimana tidak? Anda melintasi kereta dalam hitungan menit saja perasaan sesak dan pengap sudah memenuhi seisi kabin – sebut saja ketika kereta api Argo Parahyangan melintasi Terowongan Sasaksaat. Tentu bagi Anda yang sering plesiran menuju Bandung dengan menggunakan kereta api sudah tidak asing lagi dengan keberadaan terowongan yang terletak di antara Stasiun Sasaksaat dan Stasiun Maswati ini. Pengap dan sesak bukan rasanya ketika kereta Gopar (Argo Parahyangan) melintasi terowongan ini? Nah, sekarang saatnya Anda membayangkan apabila Anda terjebak di dalam terowongan tersebut selama kurang lebih enam jam lamanya!

 

Sempat Sesak Napas, Penumpang Turkish Airlines Coba Mendobrak Kokpit

Pesawat Turkish Airlines yang menuju ke Sudan harus kembali ke Istanbul tempat keberangkatannya karena seorang penumpang yang mendadak mengeluh tidak bisa bernafas. Pria tersebut selain menjerit juga mencoba menghancurkan jendela kabin dan mencoba berlari ke arah kokpit.

Baca juga: Panik Saat Pesawat Mengudara, Pria Ini Coba Buka Pintu Darurat

KabarPenumpang.com melansir dari laman thesun.co.uk (15/6/2019), karena perilaku pria tersebut awak kabin dibantu penumpang lain menghentikannya di kelas bisnis Boeing 737-900 tersebut. Awak kabin kemudian menenangkannya selama 15 menit perjalanan dan penumpang tersebut dibawa kembali ke kursinya saat pesawat melanjutkan perjalanannya meuju Khartoum.

(The Sun)

Namun, setelah dua jam kejadian, pilot pesawat Turkish Airlines tersebut mengumumkan bahwa pesawat akan kembali ke Istanbul. Kemudian beberapa menit setelahnya, pria itu tiba-tiba berdiri dan menuju ke bagian depan pesawat.

Karena perilakunya ini, mau tak mau penumpang lain yang melihat tindakannya mencoba untuk mengamankannya dengan pengekang plastik yang disediakan awak kabin tetapi dia menolaknya. Hal ini membuat penumpang yang lain berteriak dan anak-anak menangis.

Kemudian pesawat akhirnya mendarat kembali di Istanbul setelah tiga jam lepas landas dan penumpang tersebut turun dengan kawalan polisi. Saat pria tersebut pergi, dirinya berjabat tangan dengan beberapa penumpang dan mencium anak-anak.

Hingga diamankan, pria asal Sudan tersebut tidak jelas dibawa kemana dan identitas aslinya tidak disebutkan maskapai. Hingga pengamanan pria ini, pihak Turkish Airlines tidak memberikan komentar apapun.

Pada Mei 2019 kemarin, seorang penumpang asal Cina juga merasa panik saat tengah berada di dalam sebuah penerbangan menuju ke Kunming di barat daya Cina. Pria tersebut meminta dipanggilkan keluarganya.

Pria tersebut sempat mondar-mandir dan membenturkan dirinya ke kursi serta sisi pesawat. Bahkan sepuluh menit sebelum pesawat mendarat, pria berusia 50 tahun tersebut melompat dari kursinya dan mencoba membuka pintu darurat. Untungnya dalam insiden ini maskapai mengkonfirmasi tidak ada penumpang lain yang terluka.

Baca juga: Bikin Panik Penumpang! Masker Oksigen Mendadak Keluar di Boeing 777 British Airways

Pria itu, yang menurut polisi tidak sehat, telah dibebaskan tanpa biaya kembali ke perawatan keluarganya, yang telah meminta maaf atas cobaan itu. Namun, tidak jelas apakah ia akan menerima larangan terbang seumur hidup oleh otoritas penerbangan Cina.

Gara-Gara Lupa Ubah Aturan AirDrop di Ponsel, Penumpang ini Terima Foto Porno

Seorang penumpang Southwest Aairlines membuka pesan dari iPhone miliknya dan mendapatkan kiriman foto porno. Kejadian tersebut terjadi dalam penerbangan dari Louisville ke Chicago pada Jumat (14/6/2019) dengan nomor penerbangan 1388, saat penumpang yang dimaksud baru saja selesai mengirim pesan kepada suaminya.

Baca juga: Ponsel Terjatuh di Sela Kursi Pesawat, Sebaiknya Minta Awak Kabin untuk Mengambilnya!

“Itu sangat eksplisit dan mengejutkan saya,” ujar Kat Pitman yang menerima gambar porno di ponselnya.

Penumpang berusia 40 tahun tersebut setelah mendapat kiriman gambar itu langsung mematikan AirDrop yang merupakan fitur dari Apple untuk mengirim foto, video dan dokumen secara nirkabel ke ponsel atau laptop terdekat dengan menggunakan Bluetooth atau WiFi. Namun, karena Pitman akan mengadukannya ke awak kabin, kemudian menyalakan kembali fitur itu dan mengambil tangkapan layar nama pengirimnya.

KabarPenumpang.com melansir laman traveller.com.au (17/6/2019), saat menyalakan fitur tersebut dia juga kembali mendapat dua pesan lainnya yakni foto dan video. Dari hasil tangkapan layar, nama yang tertera adalah Bilbo Baggins dari The Hobbit.

Kemudian Pitman menunjukkan tangkapan layar tersebut kepada dua orang awak kabin Southwest Airlines karena merasa khawatir pengirimnya berada tak jauh dari dirinya sehingga membuat tidak nyaman.

“Saya tahu ini terdengar gila,” kata dia kepada awak kabin.

Untungnya dengan sigap para awak kabin melakukan tindakan dengan menyalakan interkom dan mengatakan Tuan Baggins untuk menghentikan AirDrop-nya. Hal ini kemudian membuat Pitman terkesan dengan tindakan cepat awak kabin untuk membantunya.

“Keamanan dan kenyamanan semua penumpang kami adalah perhatian utama, dan kami tidak memaafkan perilaku yang tidak pantas seperti itu. Kru kami diperlengkapi untuk merespons dengan cepat dan tepat untuk mengatasi masalah ini yang diungkapkan oleh penumpang yang persis seperti yang dilakukan dalam kasus ini,” ujar juru bicara Southwest Chriz Mainz.

Mainz menyebutnya insiden terisolasi di Southwest, meskipun apa yang disebut insiden cyberflashing pada angkutan umum menggunakan AirDrop telah menjadi berita utama. Diketahui, Pitman melakukan perjalanan mingguan untuk pekerjaannya sebagai eksekutif nirlaba dan mengatakan ini adalah pertama kalinya hal tersebut terjadi padanya di pesawat. Dia telah menerima satu AirDrop lain dari orang asing.

Bahkan, Pitman mengatakan dia biasanya mematikan fitur, mengaktifkannya hanya ketika dia perlu untuk bekerja atau untuk berbagi barang dengan anak perempuannya yang masih remaja. Tetapi sehari sebelum penerbangannya, dia telah mengubahnya menjadi “semua orang” sehingga seseorang yang dia temui di sebuah konferensi dapat mengiriminya kartu nama mereka. Saat itu dia menawarkan AirDrop sebagai alternatif untuk mengirim pesan teks ketika peserta meminta nomor ponselnya.

Baca juga: (Lagi) Kasus Ponsel Meledak, Kali Ini Dialami Air Canada Flight 101

Dia mengatakan, selanjutnya tidak akan menggunakan pengaturan “semua orang” lagi AirDrop karena takut diulang. Tetapi dia mengatakan bahwa fokusnya seharusnya bukan pada pengaturan ponselnya.