Merespon Tawaran Mahathir, Akankah Singapore Airlines Akuisisi Malaysia Airlines?

Penandatanganan kontrak kerja sama antara Singapore Airlines dan Malaysia Airlines yang terjadi pada tanggal 30 Juni kemarin memang menimbulkan kontroversi berkepanjangan di mata publik. Sejumlah pertanyaan terkait penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) ini pun kemudian muncul ke permukaan, salah satu yang paling santer ditanyakan publik adalah seberapa jauh kerja sama yang akan dijalin oleh kedua maskapai ini?

Baca Juga: Mahathir Siap Jual Malaysia Airlines, Mungkinkah AirAsia Berminat Akuisisi?

Sebelum membahasnya lebih jauh, spekulasi terkait Singapore Airlines akan menjadi investor strategis bagi Malaysia Airlines juga sudah kadung ‘mewabah’. Ya, sebagaimana yang kita ketahui bersama, kerja sama yang terjalin di antara dua maskapai ini bisa dibilang sedikit timpang, mengingat karir gemilang yang sudah ditorehkan Singapore Airlines agaknya tidak berimbang dengan catatan karir yang selama ini diraih oleh flag carrier dari Malaysia ini – terlebih publik tidak bisa lupa dengan peristiwa hilangnya Malaysia Airlines MH-370 yang hingga saat ini masih menjai salah satu misteri di sektor aviasi global yang belum terpecahkan.

Belum lagi pernyataan yang terlontar dari Perdana Menteri Malaysia, Tun Dr. Mahathir Mohamad di sela acara KTT Asia Pasifik ke-33 pada Selasa (25/6/2019) yang mengatakan bahwa Pemerintah Malaysia telah bersedia untuk menjual Malaysia Airlines apabila ada pihak luar yang hendak menimangnya – kendati Mahatir hanya mensyaratkan agar nantinya nama maskapai tidak diganti walaupun telah berpindah tangan.

Ketimpangan ini nampaknya sudah semakin nyata di mata publik, yang pada akhirnya hal ini berbuntut pada protes besar-besaran dari publik akan kerja sama antara Singapore Airlines dan Malaysia Airlines.

“Tetapi masih terlalu dini untuk mengatakan seberapa jauh kemitraan yang akan dijalin antara kedua maskapai ini,” ujar kepala analis CAPA Centre for Aviation, Brendan Sobie, sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman theindependent.sg (7/7/2019).

Menurut nota kesepakatan tesebut, baik Singapore Airlines dan Malaysia Airlines akan menjalin kerja sama penerbangan codeshare – dan tidak menutup kemungkinan untuk menjalin hubungan kerja sama potensial lainnya di waktu yang akan datang, mungkin di sektor kargo, pemeliharaan pesawat, hingga perbaikan pesawat jika dibutuhkan.

Baca Juga: Singapore Airlines Teken MoU dengan Malaysia Airlines, Warganet Mencak-Mencak di Media Sosial

Apabila menghubungkan pernyataan dari Mahathir Mohamad tadi dengan kerja sama ini, maka akan timbul satu buah pemikiran yang hingga saat ini belum dapat dipastikan kebenarannya: “Akankah Singapore Airlines di waktu yang akan datang membeli saham dari Malaysia Airlines sebagaimana yang sudah digaungkan oleh Mahatir Mohamad?”

Jika melihat kemungkinan kerja sama lanjutan seperti yang sudah disebutkan di atas, maka bukan tidak mungkin apabila Singapore Airlines akan mengambil alih keseluruhan pengoperasian dari Malaysia Airlines. Kalau memang benar inilah tujuan dari kerja sama yang terjalin di antara dua maskapai tersebut, lalu siapakah yang akan menjadi flag carrier dari Malaysia?

 

Autopilot, Kini Jadi Masalah Baru Pada Boeing 737 MAX

Setelah ditemukannya masalah pada Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS), kini polemik seputar Boeing 737 MAX mulai dengan babak baru lainnya, setelah diketahui fitur autopilot di 737 MAX menjadi masalah baru setelah dilakukan pemeriksaan tambahan sebelum diizinkan kembali melayani penumpang. Masalah autopilot ini diidentifikasi dan ditemukan bukan oleh pihak Amerika Serikat, melainkan oleh European Union Aviation Safety Agency (EASA) atau Badan Keamanan Penerbangan Uni Eropa.

Baca juga: Kembangkan Teknologi Autopilot, Boeing Tawarkan Self Flying Plane

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com (6/7/2019), ada beberapa masalah yang perlu diperbaiki oleh Boeing 737 MAX seperti potensi kesulitan yang dimiliki pilot dalam memutar roda trim manual jet. Selain itu sensor of attack tak bisa diandalkan, prosedur pelatihan pilot tidak memadai, kegagalan autopilot untuk melepaskan diri dari keadaan darurat tertentu.

Adapula masalah perangkat lunak mengenai mikroprosesor lagging yang baru-baru ini diidentifikasi oleh Federal Aviation Administration (FAA). EASA menemunkan bahwa autopilot tidak selalu terlepas dengan benar ketika keadaan darurat. Hal ini bisa menyebabkan insiden yang tidak menguntungkan jika pilot tak punya waktu untuk mengambil alih dari autopilot.

Karena berbagai masalah, FAA sendiri mendapat banyak pertanyaan terkait proses sertifikasi yang telah mengurangi kredibilitas mereka sebagai regulator penerbangan di seluruh dunia. Hal ini kemudian membuat EASA kemungkinan bakal memiliki pengaruh yang signifikan untuk agen-agen penerbangan lainnya.

“Kami terus terlibat dengan regulator dan memberikan informasi saat kami bekerja menuju pengembalian yang aman ke layanan untuk MAX,” ujar pihak Boeing menanggapi masalah yang ada.

Tak hanya itu, Boeing sendiri belum mengungkapkan detail tentang kekhawatiran baru dari EASA dan belum ada informasi bagaimana akan diperbaiki masalah yang baru saja ditemukan tersebut. Meski begitu, Boeing tetap menjadwalkan masuknya kembali 737 MAX pada September 2019.

Tetapi beberapa maskapai sudah menghapus penggunaan Boeing 737 MAX hingga Oktober dan beberapa negara melarang penerbangannya hingga tahun 2020. Untuk kembali menerbangan Boeing 737 MAX, badan pengatur penerbangan memiliki peran besar dalam penentuan pesawat tipe tersebut untuk disertifikasi ulang dan kembali melayani penumpang.

Baca juga: Pasca Insiden Boeing 737 MAX 8, Akankah Pilot ‘Kembali’ Menyandarkan Kepercayaan Pada Pesawat Tersebut?

Namun pertanyaan besar akan muncul bila sudah disertifikasi ulang. Apakah penumpang akan mau menggunakan pesawat Boeing 737 MAX kembali atau kepercayaan sudah hilang dan tak mau naik bila mereka tahu bakak terbang menggunakan pesawat itu?

Dari Embarkasi Luar Negeri, Lion Air Juga Layani Penerbangan Haji 2019

Bila Garuda Indonesia adalah maskapai resmi dan satu-satunya yang melayani penerbangan Haji dari Indonesia, maka bagaimana dengan maskapai lain? Ternyata maskapai lain (swasta) juga ada yang berpartisipasi dalam layanan penerbangan Haji, yaitu Lion Air. Namun Lion Air tidak memberangkatkan jamaah Haji dari Indonesia. Maskapai yang sudah biasa melayani rute Umrah ini menyebut akan melayani 67.457 jamaah pada Haji 2019. Dimana operasional dilaksanakan melalui kerjasama charter oleh salah satu perusahaan internasional.

Baca juga: Mulai 7 Juli, Garuda Indonesia Siapkan 14 Pesawat untuk Layani Penerbangan Haji

Danang Mandala Prihantoro, Corporate Communications Strategic Lion Air Group dalam catatan tertulis menjelaskan telah mempersiapkan 288 sumber daya manusia profesional, terdiri 65 pilot, 153 awak kabin, 57 teknisi serta 13 petugas pengatur kegiatan operasional darat (flight operation officer/ FOO atau Aircraft Dispatcher). Lion Air menggunakan basis operasional (home base) di Madinah (MED) dan Jeddah (JED), untuk masa operasional berkisar 2,5 bulan, terhitung 10 Juli 2019 hingga 05 September 2019.

Pada penerbangan Haji tahun ini, Lion Air melayani kota asal pemberangkatan (emberkasi) dari beberapa negara di Asia, Timur Tengah, Afrika dan Eropa dengan kota tujuan penurunan (debarkasi) di Bandar Udara Internasional Raja Khalid, Riyadh (RUH); Bandar Udara Internasional Pangeran Mohammad bin Abdul Aziz, Madinah (MED); serta Bandar Udara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah (JED).

Lion Air akan mengoperasikan tiga Airbus 330-300 (440 kursi), dua Airbus 330-900NEO (436 kursi) dan dua Boeing 737-900ER (215 kursi). Rata-rata pesawat tersebut berusia muda yang diproduksi pada 2015 – 2019. Seluruh pesawat sudah menjalani perawatan intensif, dalam performa terbaik dan laik terbang (airworthy for flight).

Pelaksanaan layanan haji ditandai pelepasan kru dan penerbangan Airbus 330-300 dari Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang (CGK). Pesawat lepas landas pukul 11.19 WIB (Western Indonesia Time, GMT+ 07) dan tiba di Bandar Udara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah (JED) pukul 16.21 waktu setempat (Arabia Standard Time, GMT+ 03).

Informasi 15 embarkasi tujuan Jeddah dan Madinah

1. Abuja – Bandar Udara Internasional Nnamdi Azikiwe, Federal Capital Territory of Nigeria, Afrika Barat (ABV).
2. Algiers – Bandar Udara Internasional Houari Boumediene, Republik Algeria, Afrika Utara (ALG).
3. Almaty – Bandar Udara Internasional Almaty, Nur-Sultan, Republik Kazakhstan (ALA).
4. Banjul – Bandar Udara Internasional Yundum, Republik Gambia, Afrika Barat (BJL).
5. Biskhek – Bandar Udara Internasional Manas, Kyrgyzstan, Asia Tengah (FRU).
6. Constantine – Bandar Udara Internasional Mohamed Boudiaf, Republik Algeria, Afrika Utara (CZL).
7. Dakar – Bandar Udara Internasional Blaise Diagne, Diass, Republik Senegal, Afrika Barat (DSS).
8. Kuwait – Bandar Udara Internasional Kuwait, Teluk Persia, Timur Tengah (KWI).
9. Lagos – Bandar Udara Internasional Murtala Muhammed, Ikeja, Federal Capital Territory of Nigeria, Afrika Barat (LOS).
10.Lome – Bandar Udara Internasional Gnassingbé Eyadéma, Republik Togo, Afrika Barat (LFW).
11.Muscat – Bandar Udara Internasonal Muscat, Oman, Arab (MCT)
12.Osh – Bandar Udara Internasional Osh, Kyrgyzstan, Asia Tengah (OSS).
13.Sarajevo – Bandar Udara Internasional Sarajevo, Republik Bosnia dan Herzegovina, semenanjung Balkan di Eropa bagian tenggara (SJJ).
14.Sokoto – Bandar Udara Internasional Sadiq Abubakar III, Federal Capital Territory of Nigeria, Afrika Barat (SKO).
15.Ta’if – Bandar Udara Internasional Ta’if, Makkah Al Mukarramah Rd, Taif Saudi Arabia (TIF)

Baca juga: Terkait Kriminalisme, Komisi Haji Nigeria Waspadai Kepulangan Jamaah Haji dari Arab Saudi

Informasi 6 embarkasi tujuan Riyadh

1. Abha – Bandar Udara Regional Abha, ‘Asir, Arab Saudi (AHB).
2. Amman – Bandar Udara Internasional Queen Alia, Zizya, Yordania (AMM)
3. Dammam – Bandar Udara Internasional Raja Fahd, Dammam, Arab Saudi (DMM).
4. Jizan – Bandar Udara Regional Jizan atau Bandar Udara Raja Abdullah Bin Abdulaziz, Jizan, Arab Saudi (GIZ).
5. Sharm el-Sheikh – Bandar Udara Internasional Sharm el-Sheikh, Sharm el-Sheikh, Mesir (SSH).
6. Ta’if – Bandar Udara Internasional Ta’if, Makkah Al Mukarramah Rd, Taif Saudi Arabia (TIF).

Citilink dan BIJB Kertajati Klarifikasi Video Viral Penumpang Seorang Diri di Penerbangan Surbaya

Baru-baru ini sebuah video viral dimana hanya ada satu orang penumpang dalam penerbangan maskapai berbiaya rendah (LCC) Citilink. Video tersebut sudah di bagikan oleh beberapa akun media sosial dan menjadi perhatian para warganet.

Baca juga: Bak Raja, Pria Asal Lithuania Menjadi Satu-Satunya Penumpang Pesawat Tujuan Italia

Dalam video tersebut yang benar-benar menarik saat penumpang satu-satunya itu merekam dirinya dan memperlihatkan seisi kabin yang tidak ada penumpang lain selain dia. Video berdurasi 40 detik tersebut memperlihatkan sosok penumpang yang mengenakan baju hitam dan berkacamata serta menyebut dirinya tengah dalam perjalanan menuju Surabaya.

“Mantap, carter pesawat ke Surabaya Rp1,1 juta,” ujarnya sambil mengarahkan kameranya ke bangku depan dan belakang.

https://youtu.be/K5MGo03y3-g

Dikutip KabarPenumpang.com dari detik.com (2/7/2019), Citilink yang diwakili VP Corporate Secretary & CSR Citilink Indonesia Resty Kusandarina mengatakan, pihaknya juga belum mendapat informasi secara detail penerbangan yang ditumpangi penumpang yang videonya viral tersebut.

“Mengenai video itu, karena di dalam video tersebut tidak terdapat waktu maupun detail penerbangan, kami tidak dapat memastikan mengenai video tersebut,” ujar Resty.

Video ini beredar dan ada yang menyebutkan bahwa penerbangan yang ditumpangi pria tersebut berangkat dari Bandara Kertajati di Majalengka menuju ke Bandara Juanda di Surabaya. Resty mengakui meski ada pemindahan operasional Citilink ke Kertajati tetapi tingkat keterisian atau seat load factor (SLF) sudah mencapai 50 persen.

“Rute KJT-SUB dan SUB-KJT sudah berada di atas 50 persen setelah pemindahan operasional berdasarkan catatan kami,” kata Resty.

Tak hanya Citilink yang mengklarifikasi hal tersebut, pengelola Bandara Internasional Kertajati mengatakan tidak ada penerbangan Citilink dari Kertajati ke Surabaya yang hanya mengangkut satu orang. Airport Operation and Performance Group Head PT BIJB, Agus Sugeng Widodo mengatakan, pada penerbangan 1 Juli 2019 kemarin memang ada penerbangan Citilink dari Kertajati ke Surabaya yang mengangkut sepuluh penumpang.

Tetapi saat penerbangan kembali dari Surabaya ke Kertajati Agus mengklaim load factor lebih dari 50 persen.

“Cuma kemarin itu memang ada ke Surabaya penumpangnya hanya sepuluh orang tapi kesininya penuh diatas 50 persen saya sudah klarifikasi. Kesana sedikit kesini banyak, sepuluh orang tapi bukan satu orang,” kata Agus.

Baca juga: Tunjukkan Hasil Screen Capture e-Ticket, Penumpang Kereta di Inggris Justru Kena Perkara!

Dia menjelaskan sedikitnya penumpang dikarenakan waktu pemasaran tiket yang cepat sehingga hanya sepuluh orang yang mendaftar. Selain itu bahkan penerbangan di hari tersebut sempat akan dibatalkan tetapi akhirnya dibuka kembali.

MS Roald Amundsen – Kapal Hibrida Asal Norwegia, Siap Berlayar Pada Musim Panas 2019

Kapal pesiar tradisional menimbulkan semua jenis masalah yang berkaitan dengan kualitas udara untuk kota-kota yang sering mereka datangi, terutama di titik-titik penting seperti Barcelona dan Venesia di mana penduduk setempat secara teratur memprotes partikel beracun yang dihasilkan oleh kapal-kapal tersebut ketika tengah berlabuh atau sekedar lewat saja. Tetapi operator kapal asal Norwegia, Hurtigruten tengah mempersiapkan masa depan perkapalan yang lebih hijau untuk armada yang dikelolanya. Baru-baru ini, mereka memperkenalkan kapal hybrid MS Roald Amundsen yang hanya digerakkan hanya dengan menggunakan daya baterai saja.

Baca Juga: HYBRIDShip Bangun Kapal Ferry Tanpa Emisi

Hurtigruten sendiri telah beroperasi sejak 1893 dan rencananya dalam beberapa tahun ke depan, Hurtigruten akan menyambut beberapa kapal hybrid ini ke dalam armadanya, dengan MS Roald Amundsen sebagai kapal pertama yang masuk ke dalamnya. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (4/7/2019), nama dari kapal ini sendiri terinspirasi dari nama penjelajah Norwegia yang pertama kali melintasi Antartika dan mencapai Kutub Selatan pada tahun 1911. Mengingat medannya yang tergolong tidak biasa, MS Roald Amundsen dirancang khusus untuk berlayar di perairan kutub yang sangat dingin dan menawarkan beragam fasilitas mewah yang siap untuk memanjakan Anda.

Fasilitas ini termasuk sauna dengan panorama yang menakjubkan, restoran, bar, dek observasi yang luas, kolam renang, kolam rendam air panas outdoor dan balkon pribadi di kabin MS Roald Amundsen. Ada pula ruang di dalam kapal yang cukup untuk menampung hingga 530 penumpang, dan bahkan pusat sains yang didedikasikan khusus untuk pendidikan dan hiburan.

Namun, inti dari perbedaan MS Roald Amundsen dengan kapal lainnya terletak pada daya gedor mesinnya yang tidak menggunakan bahan bakar tradisional seperti diesel atau gas, melainkan baterai. Drivetrain hibrida memungkinkannya untuk bergerak dengan menggunakan energi listrik, yang diharapkan akan mengurangi emisi karbon hingga 20 persen.

“Digadang-gadang sebagai pelopor kapal yang mengusung energi listrik yang ramah lingkungan, menjadi sebuah kehormatan bagi saya untuk bisa mengendarai MS Roald Amundsen untuk pertama kali,” ujar kapten Kai Albrigtsen, yang ‘mengeluarkan’ kapal ini untuk pertama kali dari galangannya untuk berlayar di lepas pantai Norwegia sebelah barat.

Baca Juga: Spesifikasi KMP Port Link, Kapal Ferry Teranyar dan Terbesar

Setelah perjalanan perdana kapal ini yang sukses, MS Roald Amundsen rencananya akan mulai mengangkut penumpang pada musim panas 2019 ini dan melakukan ekspedisi di sepanjang pantai Norwegia, kepulauan Svalbard dan Greenland.

 

Dongkrak Pengalaman Penumpang, Singapore Airlines Siap “Rombak” Lounge di Changi

Maskapai plat merah asal negeri tetangga, Singapore Airlines diwartakan baru saja merilis rencana untuk menginvestasikan lebih dari SG$50 juta atau yang setara dengan Rp521,8 miliar untuk proyek renovasi besar-besaran di Lounge SilverKris dan KrisFlyer Gold yang terletak di Terminal 3 Bandara Internasional Changi. Ketka rampung kelak, nantinya lounge ini akan menghasilkan ruang sebanyak 30 persen lebih besar daripada yang sekarang – dan secara otomatis daya tampung penumpangnya pun akan serta merta bertambah.

Baca Juga: Changi Stopovers, Siap Manjakan Penumpang Transit Jelajahi Singapura

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com (4/7/2019), lounge baru ini akan menawarkan sejumlah fitur yang sangat berkarakter dan dipercaya mampu meningkatkan pengalaman penumpang; seperti ruang terbuka yang lebih luas, peningkatan fasilitas, beragam makanan dan minuman, tampilan dan nuansa lounge yang modern namun sederhana, serta penonjolan kesan keanggunan yang abadi.

Dalam upayanya untuk melakukan renovasi besar-besaran ini, Singapore Airlines tidak bekerja sendirian, melainkan menggunakan jasa yang ditawarkan oleh Hirsch Bedner Associates, sebuah firma asal California yang menggeluti bidang desain interior dan memiliki keahlian lebih di sektor perhotelan.

Kembali ke tahun 2008, dimana pihak maskapai pertama kali memperkenalkan Singapore Airlines Suites Class, kelas penerbangan paling mewah yang pernah tersedia di jagad aviasi global. Nah, sebagai keuntungan dari penumpang yang mengambil kelas ini, mereka dan penumpang yang duduk di First Class akan dimanjakan oleh hadirnya The Private Room dan First Class Lounge yang baru.

First Class Lounge ini akan kembali menampilkan bar andalannya, dan di The Private Room, “penumpang akan menikmati perjalanan epicurean yang disempurnakan dengan santapan penganan segar dan musiman,” ujar pihak Singapore Airlines.

Sementara itu, perluasan dari Business Class Lounge akan mencakup empat zona yang berbeda – cafe, coworking space, area untuk bersantai dan beristirahat, serta area yang menyerupai foodcourt dimana pengunjung dapat mencicipi beragam jenis makanan dari seluruh penjuru Asia. Business Class Lounge juga akan dilengkapi dengan bar yang tidak kalah lengkap dengan yang ada di First Class Lounge.

Baca Juga: Megah dan Bertabur Hiburan Mewah, Jewel Bandara Changi Siap Dibuka 17 April 2019

Sebagai langkah awal pengaplikasian rencana ini, pihak Singapore Airlines akan terlebih dahulu merenovasi Business Class Lounge, lalu First Class Lounge yang diikuti dengan The Private One, dan yang terakhir adalah KrisFlyer Gold Lounge.

Apakah dengan hadirnya rencana renovasi ini akan menjadikan Anda semakin rajin mengudara dengan Singapore Airlines?

Bukan Fans Pentolan Grup Band, Inilah Istilah “Deadhead” di Kalangan Awak Kabin!

Sebagai salah satu moda transportasi yang terkenal sangat complicated dan memiliki banyak istilah yang tidak lazin di dengar di telinga, sudah sewajarnya jika awak kabin di dalam sebuah penerbangan akan berbicara dengan rekannya dengan menggunakan kode khusus. Hal ini ditujukan supaya penumpang tidak mengetahui apa yang tengah mereka bicarakan – setidaknya penumpang tidak panik ketika awak kabin ini berbicara soal sebuah kecelakaan atau lain-lain. Nah, di dalam dunia penerbangan, ada sebuah istilah yang namanya deadhead. Wah, namanya cukup menyeramkan, ya? Tapi kira-kira apa sih definisi sesungguhnya dari deadhead ini?

Baca Juga: Apa Arti Nomor di Ujung Landas Pacu, Cari Tahu di Sini!

Tapi bagi Anda yang merupakan penggemar dari grup band rock asal Amerika, Grateful Dead – terutama sang vokalis, Jerry Garcia yang memiliki basis penggemar yang dinamakan Deadhead, istilah di dunia penerbangan ini bukanlah ditujukan bagi mereka. Sebagaimana yang dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, deadhead di sini merupakan sebuah istilah bagi awak pesawat yang sebenarnya tengah bertugas namun terbang dalam kapasitasnya sebagai penumpang untuk kembali ke kota atau negara asal, atau ke bandara lain untuk melanjutkan penerbangan.

Lalu muncul pertanyaan, “ketika tengah bertugas yang diindikasikan mengenakan seragam atau atribut tertentu, mengapa ia masih saja mengenakan seragam? Kenapa tidak dilepas saja seragamnya dan berganti pakaian dengan pakaian casual seperti biasa?”

Kita asumsikan saja awak kabin deadhead ini hendak bertugas di rute penerbangan Surabaya – Lombok dan diwajibkan untuk bersiap pada pukul 14.00WIB di Bandara Juanda, sedangkan dirinya tengah berada di kota Jakarta dan penerbangan dari Jakarta menuju Surabaya dijadwalkan akan tiba di Bandara Juanda sekitar pukul 13.30 WIB. Nah, alih-alih awak kabin ini tidak sempat bersolek sebelum bertugas, maka dari itu ia lebih memilih untuk berdandan dan mengenakan seragam di Jakarta, padahal rute penerbangan yang ia layani adalah dari Surabaya menuju Lombok. Kurang lebih seperti itu penjabaran sederhananya.

Tapi istilah deadhead ini tidak melulu digunakan untuk situasi seperti itu saja. Mengutip dari laman latimes.com (1/7/2019), bisa jadi skema deadhead ini diberlakukan pada awak kabin yang mendadak terserang penyakit ketika tengah bertugas.

Baca Juga: Lebih Mengenal Plug Door, Pintu Khusus Milik Si Burung Besi

Ambil contoh, seorang awak kabin merasa tidak sanggup untuk melanjutkan tugasnya ketika pesawat tengah transit di Yogyakarta, maka ia akan memanggil lead flight attendant untuk mengabarkan kondisinya. Setelah dinilai tidak mampu untuk melanjutkan penerbangan, maka lead flight attendant akan menghubungi awak kabin lain yang tersedia untuk menggantikan posisi dari awak kabin yang sakit tersebut.

Jadi, sekarang sudah paham kan dengan istilah deadhead?

 

Dianggap Tak Miliki Tiket Valid, Penumpang Diamankan dan Giginya Patah

Dituduh tidak memiliki tiket ketika menaiki kereta api, seorang pria muda dipukul dan diamankan British Transport Police (BTP). Pria berusia 22 tahun tersebut bahkan mengklaim saat diamankan itu giginya patah karena para petugas.

Baca juga: Telanjang dan Buang Air Besar di Kereta, Pria Paruh Baya Diamankan Polisi

Dilansir KabarPenumpang.com dari metro.co.uk (2/7/2019), insiden ini terekam sebuah kamera milik penumpang yang melihat kejadian itu. Dalam rekaman terlihat tiga orang petugas BTP bergulat dengan penumpang muda itu dan mulai memborgolnya di atas kereta Bletchley, Milton Keynes.

Pria yang diamankan tersebut mengatakan, “Apa yang saya lakukan?”. Bahkan sempat mengumpat karena terkapar di gerbong dan di pindahkan keluar setelah berlumuran darah sebelum jam 21.00 waktu setempat.

Bahkan ketika itu juga dia berteriak kesakitan, “Kamu menyakiti pergelangan kakiku”. Tetapi para petugas menyuruhnya tenang saat bersiap menariknya keluar dari kereta.

Namun seorang penumpang yang merekam kejadian itu yakin bahwa pria tersebut tidak bersalah dan memiliki tiket kereta yang sah. Kemudian tak lama, kondektur kereta meminta maaf atas keterlambatan melalui pengeras suara.

“Hadirin sekalian, ini adalah konduktor senior yang berbicara. Saya minta maaf atas penundaan yang berkelanjutan di Bletchly. Saya khawatir kita memiliki BTP yang berurusan dengan seorang evader on board. Saya minta maaf. Kami akan segera berangkat dan kami sedang menunggu bantuan,” ujar kondektur itu.

Bahkan insiden ini sebenarnya membuat penumpang bertanya mengapa banyak polisi yang menahannya.

“Tidak perlu bagi tiga orang untuk menahannya … Itu konyol. Lihatlah betapa kecilnya dia. Kenapa butuh tiga pria besar untuk menahan pria seperti itu? Ini adalah alasan bahwa banyak waktu ketika situasi terjadi seperti ini, orang yang ada di lantai mati, karena terlalu banyak,” kata penumpang itu.

Bahkan penumpang lain mengklaim pria itu menunjukkan tiketnya kepada kondektur dan mengatakan membeli dengan diskon Gold Rail. Kemudian kondektur mengatakan agar pria 22 tahun yang diamankan itu menunjukkan Gold card dan tiketnya atau itu tidak valid. Insiden ini kemudian membuat juru bicara BTP mengatakan pria yang diamankan itu ditangkap atas dugaan pelanggaran ketertiban umum.

Baca juga: Gigit Polisi dan Penumpang di Kereta Api, Remaja Pria Diganjar 60 Jam Kerja Tanpa Bayaran

“Selama penangkapan, pria itu mengalami luka di bibirnya dan dia ditangkap karena dicurigai menentang penangkapan. Kemudian dia dibebaskan sementara pihak kepolisian melakukan penyelidikan lanjutan,” ujar juru bicara tersebut.

Kelola Data 22 Ribu Karyawan, AirAsia Kerja Sama dengan Cloud Workday

Cloud sudah mulai banyak digunakan hampir seluruh kalangan baik perusahaan maupun perorangan. Biasanya sistem cloud ini untuk menyimpan data-data atau foto. Salah satu yang menggunakannya adalah maskapai berbiaya rendah terbesar di Asia Tenggara yakni AirAsia.

Baca juga: Mahathir Siap Jual Malaysia Airlines, Mungkinkah AirAsia Berminat Akuisisi?

AirAsia baru-baru ini berkerja sama dengan Cloud Workday mengadopsi sistem mereka untuk mengelola data 22 ribu karyawan perusahaannya di seluruh kawasan sebagai bagian dari transformasi digital. Pemberitahuan terkait penggunaan Cloud milik Workday ini menjadi salah satu lompatan besar dalam manajemen sumber daya manusia.

Dimana Cloud Workday membantu menyediakan perangkat lunak untuk manajemen keuangan ataupun sumber daya manusia. KabarPenumpang.com melansir laman thejakartapost.com (2/7/2019), Kepala staf dan budaya AirAsia Varun Bhatia mengatakan bahwa teknologi Cloud Workday dapat membantu perusahaan mempertahankan apa yang disebut sebagai “sumber tunggal kebenaran dan data karyawan”.

“Kami percaya kami harus bergerak menuju pendekatan yang lebih personal dan karyawan harus mendapatkan pengalaman pribadi,” kata Bhatia baru-baru ini.

Kolaborasi ini, kata Bhatia, memungkinkan karyawan maskapai untuk mengakses platform terintegrasi berbasis cloud secara terpisah dari ponsel mereka kapan saja dan dari mana saja.

“Ini adalah platform swalayan di mana karyawan dapat melakukan hal-hal dasar seperti mengatur cuti, melengkapi informasi data mereka dan sejenisnya,” katanya.

Platform menyimpan informasi tentang masing-masing karyawan dan catatan pekerjaan mereka, termasuk jalur karir, tingkat keterampilan teknis dan pengembangan profesional, serta informasi standar yang diperlukan karyawan untuk melakukan pekerjaan mereka. Karyawan juga dapat memeriksa jadwal kerja harian mereka, mengelola hari cuti, dan melacak informasi tentang gaji mereka.

Workday president for Asia Asia Rob Wells mengatakan bahwa dengan bantuan teknologi dan digitalisasi, AirAsia dapat memungkinkan tenaga kerjanya mencapai efisiensi dan membuat pekerjaan mereka lebih mudah.

“Setiap hari, 22.000 karyawan AirAsia melayani kami, menerbangkan kami, merawat barang-barang kami atau memastikan bahwa pesawat itu bekerja sepanjang waktu. Mereka tidak punya waktu untuk datang ke kantor ke perangkat desktop. Jadi, melibatkan tenaga kerja melalui seluler, melalui akses ke digitalisasi, sangat penting, ”katanya.

Baca juga: Gunakan Satu Jenis Pesawat, Jadi Jurus AirAsia Tetap Efisien dengan Harga Tiket Terjangkau

Mengadopsi teknologi cloud untuk mengelola sumber daya manusianya adalah bagian dari visi “AirAsia 3.0” maskapai untuk lebih dari sekadar perusahaan perjalanan udara dan menjadi perusahaan teknologi perjalanan. AirAsia 3.0 juga membayangkan menyediakan pemesanan hotel dan layanan logistik sebagai platform e-commerce satu atap untuk para pelancong.

Bangkitkan Produk ‘Lama,’ Mungkinkah Airbus Rilis A340NEO?

Meski tak terlalu sukses di pasaran, namun pesawat angkut jarak jauh empat mesin Airbus A340 dapat dikatakan legendaris, lantaran pamornya pernah sukses dan kemudian terjepit karena munculnya rival Boeing 777 series yang menawarkan lebih efisien dengan daya angkut dan jarak jangkau relatif sama. Meski begitu, A340 populasi masih cukup besar sampai saat ini, yaitu mencapai 370 unit yang sebagian besar digunakan maskapai Jerman, Lufthansa.

Baca Juga: Airbus Rayakan Ulang Tahun ‘Emas,’ Digdaya Hampir di Semua Lini

Bukan saja kondang di segmen maskapai, A340 series juga dipercaya sebagai pesawat VVIP (Very Very Important Person). Sebut saja pesawat resmi perdana menteri Jerman, pesawat sultan Brunui Hassanal Bolkia, dan pesawat Emir Qatar, kesemuanya mengguanakan varian A340. Pesawat dengan teknologi fly by wire yang kecanggihannya setara A330 ini resmi terbang perdana pada 25 Oktober 1991 dan diluncurkan pada 15 Maret 1993.

Jika Anda masih ingat, pada Indonesia AirShow 1996, Airbus pernah mendatangkan A340 ke Bandara Soekarno-Hatta, saat itu A340 berhadapan langsung dengan rivalnya, Boeing 777. Tidak ada masalah serius pada A340, namun proyek pengembangan A340 terpaksa dihentikan Airbus pada tahun 2011, sebab utamanya A340 tak mampu melawan efisensi yang ditawarkan rival-rivalnya di segmen pesawat jarak jauh. Dan melihat kondisi saat ini, muncul pertanyaan, mampukah Airbus ‘menyulap’ dan membangkitkan kembali pamor dari A340?

Sebagaimana diketahui, strategi Airbus untuk tetap bertahan di jalur persaingan adalah dengan cara menciptakan kembali pesawat yang sebelumnya sudah mereka rakit, dimana mayoritas pesawat yang mereka ambil ini merupakan varian terlaris. Setelah itu, pihak Airbus akan melakukan eksplorasi lebih lanjut, menambahkan sejumlah fitur terbaru, dan menyematkan embel-embel “NEO” pada bagian belakang varian terkait.

Kendati saat kemunculannya sempat menggoyang singgasana Boeing 747, namun bukan berarti Airbus tidak memiliki kendala dengan varian A340nya ini. Ya, beroperasi dengan empat mesin jet membuat varian ini sangat boros bahan bakar. Hal ini semakin diperparah dengan daya angkutnya yang bisa dibilang sangat tanggung – hanya 375 penumpang dengan konfigurasi standar.

Jika dibandingkan dengan lawan sepadannya, Boeing 747 mampu mengangkut hingga 416 penumpang dengan pembagian tiga kelas. Jika hendak dibandingkan lebih jauh lagi, varian Boeing 787 Dreamliner saja yang menggunakan dua mesin jet mampu menangkut hingga 335 penumpang. Padahal, Dreamliner masuk ke dalam kategori mid-size wide-body aircraft, tidak seperti A340 yang tergolong sebagai pesawat wide-body.

Baca juga: Alami Masalah pada “Ventilasi,” Airbus A340 Air France Terpaksa Mendarat Darurat di Iran

Diwartakan KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com (1/7/2019), tentu saja masalah borosnya bahan bakar dan kapasitas angkut dari A340 menjadi masalah utama bagi Airbus yang harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum merilisnya kembali dengan embel-embel “NEO” pada bagian belakang namanya.

Secara hipotesis, diperkirakan akan ada dua varian dari A340NEO, dimana:

1. A340-700NEO – varian A340NEO yang memiliki ukuran lebih kecil, berkapasitas 340 penumpang, dan mampu mengudara hingga ke kisaran 9.700 nmi (17.964 km)
2. A340-800NEO – lebih besar dari A340-700NEO yang mampu menangkut hingga 400 penumpang dengan jarak tempuh mencapai 9.000 nmi (16.668 km)

Menimbang masalah kenyamanan penumpang, nampaknya sudah tidak perlu dibahas lagi karena Airbus sudah pasti akan memberikan pelayanan terbaiknya, sehingga penumpang yang menunggangi armada buatannya akan kerasan.

Lalu, kapan rencananya Airbus akan mengeksekusi ide brilian yang akan menjadikannya penguasa angkasa? Jawabannya adalah nyaris tidak mungkin. Karena secara spesifikasi, Airbus sudah memiliki A350 yang hampir menyerupai kembangan dari A340 ini, punya kemampuan serupa dengan hanya menggunakan dua mesin. Namun sepenuhnya keputusan ada di pihak Airbus, akankah pabrikan pesawat yang bermarkas di Leiden ini menghadirkan varian A340NEO?