Dengan Teknologi SCOOT, Lampu Lalu Lintas Bisa Kurangi Waktu Keterlambatan Bus

Masih banyak masyarakat yang menggunakan bus dalam kota untuk melakukan perjalanan mereka ke tujuan. Tetapi sayangnya perjalanan bus terkadang tidak pernah tepat waktu atau bisa dikatakan terlambat baik saat kedatangan maupun keberangkatannya.

Baca juga: EzMetr, Platform Teknologi Transportasi Baru yang Berkembang di Amerika Serikat

Hal ini bukan hanya terjadi pada bus kota biasa, di Jakarta bus TransJakarta pun kerap kali mengalami keterlambatan meski memiliki jalur tersendiri. Namun apa saja sih penyebabnya? Biasanya karena macet dan traffic light atau lampu lalu lintas yang sudah menyala merah menandakan berhenti ketika bus akan lewat.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman theboltonnews.co.uk (11/7/2019), untuk mengurangi keterlambatan bus, Transport fot Greater Manches (TfGM) baru-baru ini melakukan uji coba melihat ketepatan waktu yang ditingkatkan di beberapa rute tersibuk. Karena hal ini, kemungkinana bis mengurangi keterlambatan yang biasa dirasakan penumpang.

Nantinya dalam empat minggu pihak TtGM akan melihat teknisi menguji teknologi Split Cycle Offset Optimization (SCOOT). Dalam uji coba ini yang akan dianalisis lainnya adalah data lalu lintas dimana waktu nyata untuk mengoordinasi penentuan waktu sinyal lalu lintas.

Teknologi ini sendiri akan berupa sebuah pemancar yang bisa ditemukan di sebagaian besar bus modern. Dimana sistem mengidentifikasi layanan berjalan terlambat mendekati dan memperpanjang nyalanya lampu hijah ketika bus mendekati lampu.

Bahkan secara efektif akan memungkinkan layanan berjalan terlambat untuk melewati persimpangan tanpa perlu berhenti ataupun menunggu. Sehingga bisa mengurangi waktu keterlambatan atau bahkan menepatkan waktu kedatangan bus itu.

Baca juga: Scania Rancang Bus Otonom Multiguna, Dipercaya Mampu Reduksi Tingkat Pencemaran Udara

“Mengatasi kemacetan dan meningkatkan kualitas udara adalah dua prioritas bagi kami saat ini dan jelas langkah-langkah yang meningkatkan keandalan transportasi umum adalah salah satu cara mendorong lebih banyak orang untuk meninggalkan mobil di rumah,” kata Kepala  Layanan Bus di TfGM Alison Chew.

Saat Tarif Tiket Melambung, AirAsia Justru Tidak Turunkan Tarif, Ini Alasannya!

Tarif penerbangan maskapai berbiaya rendah (LCC) kini tengah melambung tinggi. Karena itu pemerintah mengupayakan berbagai cara untuk menurunkan tarif tersebut, salah satunya dengan menurunkan tarif batas atas tiket pesawat.

Baca juga: Alokasikan 3.348 Kursi di 62 Penerbangan, Citilink Resmi ‘Turunkan’ 50 Persen Harga Tiket

Bahkan pemerintah membuat kebijakan diskon tarif hingga 50 persen untuk tiket pesawat berbiaya hemat di rute dan jadwal penerbangan tertentu. Permintaan penurunan tarif tiket ini diberlakukan untuk Citilink dan Lion Air pada waktu-waktu tertentu yang dimulai pada Kamis (11/7/2019) kemarin.

Namun, penurunan harga tiket dan diskon 50 persen tidak dimintakan kepada maskapai berbiaya hemat AirAsia. Pasalnya maskapai ini memiliki jumlah rute dan jadwal penerbangan yang tergolong dalam kategori diskon sangat sedikit.

Dirangkum dari berbagai laman sumber oleh KabarPenumpang.com, selain itu ternyata tiket AirAsia masih dibawah 50 persen dari tarif batas atas. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, meski tarif tiket AirAsia sudah berada dibawah 50 persen dari tarif batas atas, dia meminta maskapai tersebut tidak menaikkan harga tiketnya lagi.

“Kita cuma bilang, you (AirAsia) jangan mentokkan ke 50 persen loh. Karena you sudah di bawah itu. Nanti jangan gara-gara ini, ‘ah aku ambil 50 aja sekalian sekarang’. Kita udah ingatkan itu,” ujar Darmin yang dikutip dari kompas.com (9/7/2019).

Head of Communications AirAsia Group Audrey Progastama Petriny mengkonfirmasi hal tersebut dan mengatakan, yang disampaikan pemerintah betul adanya dimana AirAsia tidah termasuk yang harus memberikan diskon karena sejak awal tidak menaikkan tarif tiket pesawat. Meski pangsa pasar AirAsia di penerbangan domestik Indonesia baru dua persen, tetapi efisiensi besar-besaran menjadi strategi maskapai asal Malaysia ini untuk menjaga harga tiket tetap murah.

“Satu pesawat kami bisa diutilisasi 12-13 jam per hari, relatif lebih tinggi dibandingkan maskapai lain,” kata dia.

Tak hanya itu, AirAsia sejak awal juga hanya menggunakan satu tipe pesawat yang sama atau single-type operations, yaitu Airbus. Saat ini AirAsia Indonesia mengoperasikan 25 unit pesawat Airbus A320-200.

Dengan menerapkan prinsip tersebut, biaya yang terkait dengan lisensi dan pelatihan awak pesawat, awak kabin, staf darat, teknisi perawatan pesawat serta staf operasi menjadi sangat minim. Selain itu, pengoperasian satu jenis pesawat juga membuat pengelolaan suku cadang AirAsia juga menjadi lebih efisien.

“Grup kami juga mengoperasikan lebih dari 200 pesawat. Secara economy of scale, kami bisa membeli dengan negosiasi harga yang lebih murah,” lanjut Audrey.

Sebelumnya, pemerintah meminta Citilink dan Lion Air menurunkan harga tiketnya pada hari Selasa, Kamis dan Sabtu untuk jam penerbangan pukul 10.00 hingga 14.00. Kedua maskapai itu harus menjual tiketnya 50 persen dari TBA yang telah ditentukan.

Baca juga: Per 10 Juli, Lion Air Berikan Tarif Promo 50 Persen Mulai Rp1,4 Jutaan untuk Rute ke Indonesia Timur

Namun, diskon itu hanya berlaku untuk 30 persen dari total keseluruhan kursi yang tersedia dalam satu pesawat. Kebijakan ini berlaku mulai 11 Juli 2019 di seluruh bandara yang ada di Indonesia. Aturan ini hanya berlaku untuk penerbangan yang menggunakan pesawat bermesin jet saja.

Zipair Tokyo, Maskapai Berbiaya Murah Terbaru dari Jepang, Mengudara 14 Juli 2020!

Negeri Sakura sebentar lagi akan memiliki maskapai berbiaya rendah baru dimana maskapai ini merupakan anak perusahaan dari Japan Airlines. Adalah Zipair Tokyo, maskapai yang baru didirikan pada bulan Februari 2019 silam ini rencananya akan mulai mengoperasikan pesawat-pesawatnya pada tahun 2020 mendatang. Kelak, Zipair Tokyo tidak akan menggunakan embel-embel Japan Airlines, dan siap untuk mengecoh siapapun yang tidak mengetahui tentang fakta ini.

Baca Juga: Japan Airlines Terjun Ke Segmen Low Cost Carrier

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com (10/7), Bandara Internasional Narita Jepang menuju Bangkok akan menjadi penerbangan perdana Zipair Tokyo yang rencananya akan terbang pada tanggal 14 Mei 2020. Lalu pada tanggal 1 Juli 2020, Zipair Tokyo mulai melayani rute penerbangan Jepang menuju Seoul, Korea Selatan. Maskapai ini tergolong cepat dalam memulai usahanya.

Seperti yang sudah disebutkan di atas, Zipair Tokyo didirikan pada Februari 2019, lalu secara resmi mendaftarkan merk dagangnya pada bulan Maret, dan meluncurkan liverynya pada bulan April. Itu berarti, hanya butuh tiga bulan saja bagi Japan Airlines untuk menciptakan saingan baru di sektor aviasi Jepang.

Untuk urusan pesawat, Japan Airlines menghibahkan Boeing 787-8 yang mereka miliki kepada Zipair Tokyo dengan konfigurasi padat penumpang (290 penumpang) – padahal ketika masih menggunakan livery Japan Airlines, Boeing 787-8 ini hanya berisikan 186 kursi saja.

Pihak perusahaan berharap agar Zipair Tokyo ini bisa beroperasi tepat waktu, agar tujuan utama mereka dapat terpenuhi – mengangkut penumpang yang membludak akibat Olimpiade Tokyo pada tahun 2020. Zipair Tokyo digadang-gadang sebagai satu-satunya maskapai berbiaya rendah yang mengoperasikan rute penerbangan menuju Bangkok – namun ketika terbang menuju Korea, Zipair Tokyo harus berkompetisi melawan lima maskapai berbiaya rendah yang sudah terlebih dahulu memiliki nama: Air Seoul, Eastar Jet, Jeju Air, Jin Air, dan T’way Air.

Baca Juga: Japan Airlines Terima Airbus A350-900, Tapi Justru Layani Penerbangan Domestik

Alih-alih merasa tersaingi oleh kelima maskapai di atas, Presiden Zipair Tokyo, Shingo Nishida mengaku lebih tertantang dengan anak perusahaan dari All Nippon Airlines (ANA), Peach Aviation.

Adapun salah satu goal yang harus dicapai Zipair Tokyo adalah menawarkan penerbangan Trans-Pasifik dan penerbangan menuju Eropa – dimana rute-rute ini kurang terlayani dengan baik oleh Japan Airlines. Selama ini di Jepang sudah ada beberapa maskapai berbiaya murah yang telah lebih dulu eksis, seperti AirAsia Japan, JetStar Japan, Peach, Spring Airlines Japan dan Vanilla Air.

Seru! Ada Perosotan Menuju Boarding Room di Terminal 4 Bandara Changi

Bandara kian lama tak hanya menjadi gerbang keberangkatan dan kedatangan pelancong dari dan ke suatu tempat. Kini bandara juga menjadi tempat wisata bagi masyarakat ataupun pelancong yang tengah menunggu keberangkatan mereka dan menghabiskan masa transit sebelum berpindah pesawat ke tujuan baru.

Baca juga: Jewel Changi, Berawal dari Ide Tempat Parkir Kini Menjadi Taman Spektakuler Dalam Ruangan

Seperti halnya Bandara Internasional Changi Singapura yang belum lama membuka Jewel Changi dengan menghadirkan air terjun raksasa dalam ruangan dengan tinggi mencapai 40 meter. Bernama HSBC Rain Vortex, digadang-gadang air terjun ini menjadi yang tertinggi di dunia dan berada di dalam gedung.

Namun ternyata, pengelola Bandara Changi tak kehabisan ide yakni menghadirkan slide atau perosotan untuk memudahkan penumpang menuju ke gerbang penerbangan mereka. Dilansir KabarPenumpang.com dari dailymail.co.uk (5/7/2019), seorang penumpang bernama Yusuf El Askary yang tengah melakukan perjalanan dengan pesawat melalui Terminal 4 Bandara Changi dikejutkan karena adanya perosotan.

Dia menemukan hal baru tersebut pada 8 Juni 2019 kemarin dan memvideokannya. Dalam video tersebut Yusuf menscan boarding passnya di gate untuk melewati penghalang. Kemudian di depannya terlihat sebuah perosotan yang bisa mengantar ke lantai bawah. Setelah melalui gate boarding pass, Yusuf menggunakan perosotan tersebut dan bergerak merosot turun dengan cepat sembari berteriak.

“Aku belum pernah melihat yang seperti ini di bandara. Aku tidak percaya itu benar sampai aku benar-benar mencobanya!” ujarnya usai menggunakan perosotan tersebut.

Dalam Terminal 4 Bandara Changi di lantai bawah terdapat Chandelier yang merupakan jaring dengan bagian dalamnya ada tiang panjat untuk meluncur ke bawah. Chandelier ini diresmikan pada Agustus 2018 lalu dan mampu menampung 50 orang sekaligus.

Ternyata sebelum di Terminal 4, perosotan seperti ini sudah ada di Terminal 3 dan disebut sebagai seluncuran tertinggi di dunia dalam sebuah bandara. Diresmikan pada 2010 lalu, perosotan ini setinggi 12 meter dan mencakup empat lantai dari level 1 hingga ke basement 3. Tetapi untuk tinggi perosotan di Terminal 4 sendiri tidak diketahui.

Baca juga: Terminal 4 Bandara Changi Kini Dilengkapi 14 Pemindai Tubuh dengan Teknologi X-CT Scan

Kehadiran perosotan seperti ini menarik perhatian pelancong dan mungkin bila diberikan pilihan dengan ekalator atau tangga, banyak yang akan memilih luncuran sebagai jalan tercepat. Selain itu, perosotan seperti ini bisa menjadi solusi baru untuk orang-orang yang sering terlambat karena dinilai lebih cepat.

Mulai Agustus 2019, MetroTrans Gantikan “Bikun” di Kampus UI Depok

Mulai Agustus 2019 mendatang, bus TransJakarta akan mulai melayani kawasan Universitas Indonesia (UI). Hal ini setelah adanya nota kesepahaman yang telah disepakati oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan UI.

Baca juga: “Bikun,” Bus Kampus Yang Kadung Jadi Legend

Direktur Utama PT TransJakarta Agung Wicaksono mengatakan, layanan bus TransJakarta rute Lebak Bulus ke UI dan Manggarai menuju UI akan diperpanjang hingga ke dalam kompleks Kampus UI Depok.

“Layanan TransJakarta di area UI gratis bagi setiap orang,” kata Agung.

Bus yang digunakan adalah MetroTrans milik TransJakarta dengan kapasitas 68 orang baik duduk maupun berdiri. Agung menambahkan, pihaknya akan terus mengevaluasi operasional TransJakarta untuk pelayanan yang lebih optimal.

Pihaknya pun merencanakan menambah rute TransJakarta dalam melayani aktivitas di UI. Adapun rute baru tersebut yakni Kampung Rambutan-UI via Lenteng Agung, Kampung Rambutan-UI via Bogor dan Margonda-UI.

Hal ini pun sudah disampaikan kepada Dishub DKI Jakarta untuk disetuju. Agung berharap dengan layanan baru ini semakin membantu dan memudahkan masyarakat serta menambah pelanggan TransJakarta.

Dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, beberapa hari sebelum adanya nota kesepahaman antara TransJakarta dengan UI terjadi penghadangan bus TransJakarta rute Pasar Minggu-Tanah Abang oleh Metromini. Kepala Dishub DKI Jakarta Syafrin Liputo mengatakan melakukan setop operasi dan metromini penghadang tersebut sudah dikandangkan.

“Kemarin kita langsung operasi dan kita dapatkan kendaraan yang bersangkutan. Kita setop operasi dari baik itu Metromini, Kopaja dan lainnya yang melakukan pelanggaran termasuk kendaraan satu ini yang kemarin melakukan penghadangan TransJakarta B7094NP,” ujarnya.

Adanya hal ini Agung mengapresiasi langkah Dishub dalam menindaklanjuti penghadangan yang diterima oleh TransJakarta. Dia berharap adanya kejadian ini memberi efek jera sehingga kejadian serupa tidak terulang.

“Tindakan ini menjadi bukti bahwa setiap pelanggaran akan mendapatkan sanksi. Ini akan menjadi pelakaran bagi semua agar ke depannya hal ini tidak terjadi lagi karena pemerintah bersikap tegas menegakkan peraturan,” ujar Agung dalam keterangan tertulisnya, Rabu (10/7/2019 ).

Sebelumnya, dilaporkan bahwa sebuah bus TransJakarta dengan rute Pasar Minggu-Tanah Abang dihalang sebuah metromini pada Jumat (5/7/2019 ) sekitar pukul 18.35 WIB. Pengadangan dilakukan saat proses menaik dan menurunkan penumpang di titik Komdak arah Pasar Minggu.

Baca juga: TransJakarta Punya Rute Baru Setiap Bulan, Bagaimana Integrasi dengan Mikrolet?

Sopir dan kondektur Metromini sempat mengancam pramudi dan supir bis TransJakarta. Kejadian ini sempat menganggu pelayanan saat itu.

Kereta Api Mutiara Malam 4 Kali Berubah Rangkaian Sejak 1970

Kereta Api (KA) Mutiara Selatan relasi Malang-Surabaya Gubeng-Bandung merubah rangkaian gerbongnya dengan kereta jenis baru stainless steel buatan PT INKA. Kereta rangkaian baru tersebut berubah menjadi tiga gerbong kereta eksekutif, empat gerbong ekonomi dan satu gerbong kereta makan plus pembangkit listrik dengan daya tampung menjadi 470 kursi per gerbongnya.

Baca juga: PT INKA Raih Pesanan Kereta Rel Diesel Untuk Jaringan Metro Manila

Sebelumnya KA Mutiara Selatan memiliki rangkaian yang terdiri dari tiga gerbong eksekutif, empat gerbong bisnis dan satu gerbong makab serta pembangkit listrik dan mampu menampung 406 penumpang per gerbong. KA rangkaian baru ini sendiri mulai di gunakan sejak 1 April 2019 kemarin.

Executive Vice President PT KAI Daop VIII Surabaya, Suryawan Putra Hia berharap pergantian rangkaian gerbong ini bisa meningkatkan okupansi penumpang KA Mutiara Selatan.

“Tercatat pada 2017, volume penumpang KA Mutiara Selatan mencapai 241.670 penumpang. Tahun 2018 meningkat 18 persen menjadi 285.252 penumpang,” ujar Suryawan yang dikutip dari memontum.com (11/7/2019).

Pada gerbong terbaru ini, akan ditemukan beragam fasilitas baru seperti bodi rangkaian yang lebih tahan karat dan cat stripping yang minimalis. Dua toilet duduk pada masing-masing gerbong yang letaknya bersebelahan dan dilengkapi indikator ada orang atau tidak.

Kursi yang lembut dan dilengkapi lampu tidur, meja mini yang bisa di lipat di sandaran tangan serta bagasi kabin dengan pembatas untuk tiap-tiap penumpang. Ada pula empat layar monitor 32 inci dan 19 inci di setiap gerbong, audio jack earphone di setiap tempat duduk untuk mendengarkan tayangan televisi, smoke detector dan mushola yang luas dalam restorasi KAI dengan dilengkapi sarung, mukena dan cermin.

Bahkan kini ada CCTV untuk menjaga keselamatan penumpang. KA Mutiara Selatan pertama kali beroperasi pada 1970-an bersamaan dengan KA Turangga yang sama-sama memiliki kombinasi kelas bisnis dan eksekutif. Namun pada 11 Oktober 1999 rangkaian KA Mutiara Selatan diganti dengan kelas bisnis.

Tak hanya sekali perubahan kelas, 28 September 2016, KA Mutiara Selatan diganti seluruhnya dengan kereta ekonomi new image dan susunan rangkaiannya diperpanjang rutenya sampai Malang. Namun akhirnya rangkaian KA Mutiara Selatan kembali menggunakan rangkaian lamanya demi kenyamanan penumpang.

Baca juga: [Tips] Kehabisan Tiket Kereta Lebaran? Jangan Keburu Loyo

Susunan tersebut terdiri dari tujuh kereta bisnis, satu kereta makan dan pembangkit serta kereta bagasi. Kemudian 13 Maret 2017 rangkaian KA ini kembali menjadi campuran kelas bisnis dan eksekutif.

Dilanda Hujan Badai, Pesawat British Airways Alami Kebocoran di Ruang Kabin!

Apa yang akan Anda rasakan jika pesawat yang Anda tumpangi mengalami kebocoran ketika tengah mengudara? Mungkin pikiran yang terlintas pertama kali di benak Anda adalah bencana yang diakibatkan oleh proses dekompresi. Namun tidak pada kasus bocor yang dialami oleh maskapai British Airways, dimana kejadian yang hampir serupa terjadi di dalam sebuah penerbangannya.

Baca Juga: Lagi Enak Duduk, Penumpang Lufthansa Terkena ‘Hujan Lokal’ dari Arah Lampu Baca

Dikutip KabarPenumpang.com dari laman The Sun (10/7), sepasang penumpang yang baru saja pulang dari Orlando, Nicola Agiu dan suami mendapati pesawat yang mereka tumpangi mengalami kebocoran. Kejadian ini bermula ketika Nicola dan sang suami duduk tepat di belakang pintu darurat ketika hendak pulang menuju London Gatwick. Kebetulan, cuaca di Orlando sedang hujan badai ketika Nicola dan penumpang lainnya boarding.

Sumber: istimewa

Proses taxi, take-off, hingga mengudara masih berjalan lancar kendati cuaca di luar sana sedang tidak bersahabat. Namun tak lama berselang, Nicola melihat ada tetesan air yang rembes melalui celah pintu darurat. Karena panik, Nicola langsung memanggil awak kabin untuk melaporkan temuannya tersebut.

Guna menenangkan Nicola, awak kabin tersebut mengatakan bahwa kebocoran di dalam pesawat merupakan hal yang normal. Namun entah dilandaskan oleh apa, tak berselang lama datang lima awak kabin lain bersama sang pilot untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Karena air terus menetes, salah satu awak kabin langsung berinisiatif untuk menggunakan selimut supaya air tidak rembes.

Sumber: istimewa

“Kami belum pernah menemukan kasus semacam ini sebelumnya,”ujar salah satu awak kabin.

Rasa panik semakin menyelimuti perasaan Nicola karena penerbangan masih menyisakan waktu sembilan jam lagi. Beruntung karena pesawat berada dalam kondisi tidak terlalu penuh pada saat itu, dan Nicola pun akhirnya dipindahkan ke bangku lain.

Baca Juga: Terpaksa Gunakan Kantung Muntah? Baca Dulu Tips Ini

Menanggapi pemberitaan ini, pihak British Airways lalu memberikan keterangan:

“Karena hujan yang sangat deras di Orlando, pesawat kami berada di landasan untuk waktu yang lama dan air hujan berhasil masuk melalui segel pintu. Meskipun jarang, ini normal ketika sebuah pesawat berada dalam kondisi tertekan saat berada di tanah dalam cuaca yang sangat buruk. Keselamatan dan keamanan pelanggan kami adalah prioritas utama kami, dan kami tidak akan mengoperasikan penerbangan kecuali itu aman untuk dilakukan.”

Dilengkapi 17 Stasiun, LRT Jabodebek Siap Mengular di 2021

Setiap melintas di jalan tol dari Jakarta baik ke Bogor maupun ke Bekasi akan melihat proyek pembangunan Light Rail Transit (LRT) Jakarta-Bogor-Depok-Bekasi. Bahkan mungkin banyak timbul pertanyaan kapan akan selesai dan mulai mengular di ibukota atau daerah yang disinggahinya.

Baca juga: Penasaran dengan Biaya Pembangunan LRT dan MRT Per Kilometernya? Simak Berikut Ini

Ternyata pengerjaannya hingga kini baru mencapai 63,03 persen. Karena berada di dua provinsi yakni DKI Jakarta dan Jawa Barat, pengerjaannya di bagi tiga lintasan. Tiga lintasan ini berada di Cibubur-Cawang, Bekasi Timur-Cawang dan Cawang-Kuningan-Dukuh Atas. Saat ini lintasan 1 yang meliputi Cawang hingga Cibubur, pengerjaannya sudah 82,3 persen

Dikutip KabarPenumpang.com dari kompas.com (9/7/2019), Corporate Secretary PT Adhi Karta Ki Syahgolang Permata mengatakan. Untuk lintasan 2 dari Cawang menuju Kuningan hingga Dukuh Atas mencapai 51,5 persen dan lintasan 3 Cawang ke Bekasi Timur 56,5 persen.

Adapun tiga lintasan yang akan dilalui LRT Jabodebek ini akan memiliki 17 stasiun. Berikut ini pembagian stasiun dari tiga lintasan tersebut.

Untuk lintasan Cibubur menuju Cawang yakni Stasiun Harja Mukti, Ciracas, Kampung Rambutan, Taman mini dan Cawang. Lintasan Bekasi Timur ke Cawang ada Stasiun Jati Bening Baru, Cikunir 1, Cikunir 2, Bekasi Barat dan Jati Mulya.

Sedangkan lintasan ketiga yakni Cawang ke Dukuh Atas meliputi Stasiun Ciliwung, Cikoko, Pancoran, Kuningan, Rasuna Said, Setiabudi dan Dukuh Atas. Namun, meski terlihat tengah dalam pengerjaan, ternyata ada kendala pembangunan prasarana LRT Jabodebek yaitu pembebasan lahan seluas 12 hektar untuk Depo di Bekasi Timur.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan pembebasan lahan yang menyisakan satu area di Bekasi akan diselesaikan paling lambat Agustus 2019. Setelah itu, pekerjaan konstruksi LRT Jabodebek bisa kembali dilanjutkan.

“Pembangunannya itu kan berhenti karena tanahnya belum dibebaskan. Sekarang sudah diukur, diselesaikan masalah surat-menyuratnya, oleh LMAN juga sudah siap dibayar,” kata Luhut.

Sementara itu, berdasarkan data yang diperoleh, dana yang sudah dibayarkan oleh LMAN untuk LRT sebesar Rp508,55 miliar. Nominal itu dibayarkan untuk 121 bidang tanah. Moda transportasi massal berbasis rel ini akan mulai mengular pada 2021 mendatang. Nilai pengerjaannya pun cukup fantastis dengan menghabiskan dana mencapai Rp22,8 triliun.

Baca juga: Tak Kunjung Rampung, LRT Jabodebek Lintasan Kuningan-Dukuh Atas Terganjal Masalah!

“Pengerjaan kami target selesai Juli 202. Lalu, perlu enam bulan uji coba sehingga beroperasi efektif di 2021,” ujar Syahgolang.

Sempat Adopsi Sistem Tanpa Kondektur, Perum PPD Justru Malah Semakin Terpuruk

Agaknya sedikit aneh apabila bus yang Anda tumpangi hanya beranggotakan seorang pengemudi saja, tanpa kehadiran seorang kondektur. Bak dokter dan suster, nampaknya hubungan antara pengemudi bus dan kondektur ini memang tidak boleh terpisahkan. Mungkin Anda semua yang tinggal di Ibukota sejak puluhan tahun lalu masih ingat dengan kehadiran bus kota yang hanya beranggotakan pengemudi saja – dan hasilnya malah membawa defisit pendapatan terhadap operatornya.

Baca Juga: Bus Tingkat di Indonesia, Transformasi dari Moda Angkutan dan Wisata

Pukul mundur ke tahun 1993-an, dimana Perusahaan Pengangkutan Djakarta (PPD) mengalami tiga kerugian pasca menerapkan sistem Wajib Angkut Penumpang (WAP) – defisit anggaran, hubungan buruk antara perusahaan dan karyawan, dan ketidakpuasan penumpang.

Ketika menggunakan sistem WAP, terhitung ada banyak kecacatan yang dirasakan oleh sejumlah pihak, mengingat paradigma WAP yang mengisyaratkan awak bus untuk mengangkut penumpang sebanyak-banyaknya.

Konflik Dua Arah
Dikutip KabarPenumpang.com dari laman historia.id, awak bus Patas AC (yang dioperatori oleh PPD) berkewajiban mengangkut sejumlah penumpang berdasarkan target dari PPD.

Namun di sisi awak bus, memenuhi target yang sudah ditentukan sebelumnya oleh pihak perusahaan sedikit sulit untuk dicapai apabila mereka terlalu patuh pada peraturan lalu lintas dan peraturan yang berlaku pada tubuh PPD sendiri. Maka dari itu, para awak bus selalu kesulitan untuk memenuhi target dan berdampak pada minimnya uang setoran kepada perusahaan.

Pertentangan mulai terjadi tatkala pihak operator tidak suka dengan cara kerja dari awak bus yang terpaksa melanggar hanya demi memenuhi target – sedangkan awak bus menilai bahwa perusahaan terlalu banyak menuntut.

Penerapan Operasi Tanpa Kondektur
Situasi inilah yang menjadi titik balik bagi perusahaan untuk memperbaiki situasi yang sudah kadung memanas. Sistem WAP yang dianggap sudah tidak efektif lalu diganti dengan Rute Metode Baru (RMB). Salah satu aturan di RMB yang harus ditempuh adalah penghapusan peran dari kondektur, dimana PPD percaya bahwa pendapatan yang selama ini ‘bocor’ tidak lepas dari peran kondektur.

“Dari mencari penumpang sebanyak-banyaknya kepada memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya,” ungkap Sri Haryoso Suliyanto, dalam tesisnya yang berjudul “Perbandingan Sistem Wajib Angkut Penumpang dan Rute Metode Baru dalam Rangka Meningkatkan Kinerja Perum PPD”.

Lalu peran kondektur digantikan oleh kotak transparan (fare box) yang berfungsi sebagai penampung ongkos penumpang. Kotak ini sendiri terletak di bagian depan bus – tepatnya di samping pengemudi.

Baca Juga: Bus Listrik Untuk TransJakarta, Antara Harapan dan Realita

Malah Semakin Mundur
Ibarat “Manis di Awal, Pahit di Akhir”, ternyata perubahan sistem dari WAP ke RMB yang terjadi di tubuh PPD tidaklah berjalan sesuai harapan. Banyaknya oknum penumpang yang memasukkan uang ke fare box tidak sesuai dengan nominal yang ditentukan kala itu (Rp1.300) ternyata ‘sukses’ membuat kas PPD semakin berlubang.

Belum lagi penumpang yang nekat menggulung selembar kertaas dan memasukkannya ke dalam fare box – itu berarti ia sukses naik bus Patas AC secara cuma-cuma. Ya, penghapusan kondektur pada bus Patas AC kala itu menjadi satu blunder besar bagi PPD.

Lahirnya TransJakarta
Dibawah komando Sutiyoso yang kala itu menjabat sebagai Gubernur Jakarta periode 1997-2007, Jakarta mulai memperkenalkan sistem busway – dimana ini merupakan hasil dari seminar garapan Japan International Cooperation Agency (JICA) dan Bappenas bertajuk “Towards an Integrated Transportation System for Jabotabek”. Hadirnya busway merupakan jawaban dari gagalnya penerapan sistem WAP dan RMB yang mencakup penghapusan kondektur dari layanan bus kota.

Mampukah Pesawat Bertenaga Listrik Geser Kedigdayaan Pesawat Komersial?

Selain dari kendaraan yang mengunakan bahan bakar fosil, salah satu penyumbang emisi karbon terbesar adalah dari pesawat terbang. Tak ayal jika belakangan ini ada banyak perusahaan yang bergerak di sektor aviasi yang mulai merancang pesawat bebas emisi karbon yang bertenagakan energi listrik. Tapi, seberapa efektifkan kehadiran pesawat semacam ini dalam upayanya untuk menekan tingginya angka pencemaran udara?

Baca Juga: Tahun 2020, Dipercaya 14.419 Pesawat Komersial Gunakan Akses WiFi di Kabin

Sebelum membahas pertanyaan di atas secara rinci, sebuah startup yang bernama Israel Eviation merupakan salah satu perusahaan yang turut meramaikan bisnis pesawat bertenaga listrik ini. Dengan produk andalannya yang bernama Alice, mereka dengan bangga memamerkan prototipe dari pesawat yang mampu menampung sembilan penumpang ini pada pagelaran Paris Air Show yang diadakan bulan Juni kemarin. Menyandang predikat sebagai calon moda transportasi masa depan, Alice pun cukup banyak menyedot perhatian para pengunjung.

Tidak main-main, Alice dari Israel Eviation yang digerakkan dengan menggunakan energi listrik yang tersimpan di dalam baterai ini mampu merengkuh jarak maksimal hingga 1.000km dengan kecepatan jelajah mencapai 240 knot atau setara dengan 445 km/jam.

Mari mulai berandai-andai, “Apabila moda seperti memang dapat dijadikan contoh kendaraan masa depan, maka bukan tidak mungkin apabila pesawat semacam Alice inilah yang kelak akan menguasai angkasa dan meruntuhkan kedigdayaan yang selama ini dipegang oleh dua produsen pesawat raksasa di jagad aviasi global, Boeing dan Airbus,”

Mengapa hadirnya pesawat bertenaga listrik ini dikatakan dapat meruntuhkan kejayaan dari Airbus dan Boeing yang selama ini masih menggunakan bahan bakar fosil – walaupun beberapa maskapai yang menggunakan produk mereka mulai melakukan pencampuran bahan bakar agar bisa menekan angka emisinya. Jawabannya karena moda berbasis tenaga listrik ini lebih ramah lingkungan. Bukankah selama ini para pemain di sektor transportasi selalu menekankan perjalanan yang ramah lingkungan? Maka moda berbasis listrik inilah jawabannya.

“Kami percaya bahwa elektrifikasi dan praktik bisnis yang berkelanjutan adalah jalan masa depan, saat ini teknologi belum memenuhi tuntutan industri penerbangan dan pariwisata dunia saat ini,” ujar Presiden Harbour Air, Randy Wright yang seolah mengisyaratkan bahwa masa depan tranportasi dunia akan bertumpu pada energi listrik – demi mewujudkan perjalanan yang ramah lingkungan.

Baca Juga: Setengah Mobil Setengah Pesawat, AeroMobil 4.0 Siap Mengudara di 2020

Selain ramah lingkungan, pemanfaatan tenaga listrik pada sektor moda udara juga dinilai sangat efisien karena secara signifikan dapat menurunkan biaya pengoperasian (tidak membutuhkan avtur yang selama ini menjadi salah satu penyebab mahalnya harga tiket pesawat). Pun dengan biaya perawatan yang lebih rendah karena motor dan drivetrain yang tidaklah serumit pesawat komersial.

Berlandaskan pada pemberitaan yang sebelumnya sudah banyak membahas soal moda berbasis tenaga listrik ini, tahun 2020 menjadi salah satu tahun yang paling ditunggu-tunggu oleh banyak pihak, karena ada banyak moda udara berbasis tenaga listrik yang akan diperkenalkan kepada publik.