Sambut Olimpiade Tokyo 2020, Japan Airlines Tampilkan Desain Seragam Baru

Olimpiade Tokyo akan dibuka pada 24 Juli 2020 dan Japan Airlines (JAL) akan meluncurkan seragam terbarunya untuk menyambut pekan olahraga dunia tersebut pada April 2020. Desain seragam baru tersebut masih termasuk komponen kunci dan nantinya akan meningkatkan fungsionalitas.

Baca juga: Lebih Cepat dan Ramah Lingkungan, Perkeretaapian Jepang Siap Operasikan N700S Pada Olimpiade Tokyo

Seragam ini menggunakan rancangan desainer lokal Yasuthosi Ezumi dengan dua konsep yang disebut Refined Hybrid Beauty dan Hybrid Modern Beauty. Dalam pembuatan seragam ini, Ezumi menggunakan teknik hibrida yang menggabungkan berbagai bahan dan juga logo perusahaan serta warna merah yang menonjolkan JAL.

(businesstraveller.com)

“Siluet seragam one piece memiliki ‘kurva derek’ dan lengan berbentuk balon. Gaya syal dan celemek yang berbeda untuk setiap maskapai JAL Group,” kata JAL.

Pilihan celana panjang untuk staf perempuan juga tersedia. Bagi staf yang berada di darat akan menggunakan gaun one piece dengan tambahan sebuah syal yang bisa dibentuk pita. Sedangkan seragam untuk staf lounge, akan ada jas berwarna merah muda-krem dan staf layanan menggunakan jas berwarna krem.

Bahkan seragam baru ini memiliki desain uniseks dengan beberapa perubahan untuk memudahkan gerak staf. Untuk pilot wanita, jas dengan tanpa dasi dan sebuah syal yang bisa menggantikan dasi. Selama musim panas, kru penerbangan, kru kabin, dan staf bandara yang bekerja dengan maskapai penerbangan domestik JAL serta berbasis di Okinawa Japan Transocean Air (JTA) dan Ryukyu Air Commuter (RAC) akan mengenakan seragam khusus yang menampilkan Kariyushi, pakaian tradisional yang dikenakan pada musim panas di Okinawa.

“Kariyushi, semuanya dibuat di Okinawa, menampilkan lima bunga Okinawa. JAL mengatakan desain menunjukkan omotenashi (keramahan) Okinawa. Seragam pilot baru juga menampilkan Kariyushi untuk pertama kalinya. Staf teknik dan staf penanganan darat akan mendapatkan seragam baru juga,” ujar JAL.

(businesstraveller.com)

Sementara itu, untuk Pertandingan Olimpiade Tokyo yang akan diadakan tahun depan, JAL sejauh ini telah memperkenalkan dua pesawat dengan corak khusus yang menampilkan maskot resmi Olimpiade Tokyo. Dua pesawat livery khusus akan digunakan pada rute domestik antara Tokyo (Haneda) dan Osaka, Sapporo, Fukuoka dan Okinawa dari sekarang hingga akhir Oktober tahun depan. Yang ketiga akan diperkenalkan pada musim semi 2020.

Pesawat pertama dengan corak khusus ini adalah Boeing 777-200 berkapasitas 375 tempat duduk dengan 14 kursi kelas satu, 82 kursi Kelas J (produk kelas bisnis domestik maskapai), dan 279 kursi di kelas ekonomi. Pesawat kedua, yang mulai beroperasi pada 10 Juli, adalah pesawat Boeing 767-300ER dengan 252 tempat duduk dengan lima kursi kelas satu, 42 kursi Kelas J, dan 205 kursi kelas ekonomi.

Sayangnya foto untuk pesawat JAL belum bisa diberikan secara publik. Seorang juru bicara JAL mengatakan, hal ini dikarenakan peraturan kontrak kontrak dengan Komite Olimpiade yang berbasis di Jepang. Namun demikian, Anda dapat melihat di foto livery pesawat pertama di sini dan livery pesawat kedua di sini di situs web JAL.

Penumpang yang bepergian dengan pesawat livery khusus dapat menggunakan penutup kepala yang dirancang khusus dan cangkir kertas yang menampilkan maskot Olimpiade Tokyo. Versi mainan mewah dari dua maskot, Miraitowa dan Someity, juga ditampilkan di kabin.

Baca juga: Jelang Olimpiade Musim Panas, WiFi Gratis Siap Hadir di Kereta Peluru Shinkansen

Diketahui, JAL, bersama dengan maskapai penerbangan Jepang lainnya All Nippon Airways (ANA), telah menjadi mitra pendukung Relay Obor Olimpiade Tokyo 2020. Pembawa anggaran anak perusahaan baru JAL, Zcuu7ipair Tokyo, juga meluncurkan seragam kapal baru dan seragam awak pada bulan April tahun ini.

Sama-sama Cantik! Singapore Airlines Pernah Tugaskan Awak Kabin Kembar Identik Pada Penerbangan yang Sama

Jika satu awak kabin cantik saja di dalam sebuah penerbangan sudah bisa mendebarkan hati, lalu bagaimana ceritanya jika ternyata awak kabin tersebut kembar identik dan tengah bertugas di dalam penerbangan yang sama. Wah, bisa-bisa incaran Anda tertukar! Nah, kejadian ini sempat terjadi pada bulan Desember 2018 silam, dimana awak kabin kembar identik dari maskapai Singapore Airlines tengah bertugas pada satu penerbangan yang sama.

Baca Juga: 50 Tahun Tak Berjumpa, Awak Kabin dan Pilot Malaysia-Singapore Airlines Reunian

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman silverkris.com (13/6), Liz dan Lynn Ng, 22 tahun, merupakan kembar identik yang sama-sama berprofesi sebagai awak kabin dari maskapai kenegaraan Singapura, Singapore Airlines. Selayaknya kembar identik lain, mereka selalu bersama dalam kondisi dan situasi apapun. Tidak jarang juga mereka berbagai satu sama lain, mengenakan baju yang sama, dan kebiasaan lain yang selalu dilakukan oleh kembar identik lainnya.

“Mulai dari bangku sekolah dasar hingga bangku perguruan tinggi, kami selalu bersama,” tutur Lynn.

Sampai di satu titik dimana mereka berdua melamar menjadi awak kabin dari Singapore Airlines dan mulai menjalani tugasnya masing-masing. Sejak mereka masuk Singapore Airlines, dua bersaudara ini mulai terpisah satu sama lain karena tuntutan pekerjaan. Hingga pada Desember 2018 silam, Liz dan Lynn ditugaskan untuk melayani penumpang pada perjalanan dari Singapura menuju Paris PP.

Dalam penerbangan Singapore Airlines SQ 334 dan SQ333, mereka berdua bertugas sebagaimana mestinya yang dilakukan oleh seorang awak kabin – melayani penumpang dengan sebaik-baiknya.

“Dalam perjalanan menuju Singapura, kami berada di lorong kabin yang sama untuk membagikan handuk kepada para penumpang, dan kala itu, reaksi penumpang sedikit kebingungan karena melihat ada dua orang yang sama yang melayani mereka – padahal kami berdua adalah kembar identik,” tandas Lynn.

“Penumpang yang menyadari bahwa ada awak kabin kembar identik di penerbangan tersebut langsung memberitahu penumpang lain. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang mengajak kami foto bersama,” imbuhnya.

Baca Juga: Mau Jadi Awak Kabin Singapore Airlines? Cek Dulu Pelatihan dan Syarat-Syaratnya Berikut Ini!

Namun seperti yang sudah disebutkan di atas, menjadi awak kabin di maskapai yang sama tidaklah selalu menyenangkan bagi mereka, dimana mereka lebih sering terpisah satu sama lain dalam kurun waktu yang cukup lama.

“Mungkin kami bertemu hanya dua atau tiga bulan sekali, karena tuntutan pekerjaan,” tegas Liz.

“Momen terbang ke Paris bersama Lynn pada Desember 2018 kemarin tidak akan bisa dilupakan begitu saja. Selain ini momen pertama kami terbang bersama, Paris merupakan tempat favorit kami berdua,” tambahnya.

 

Hapus Mesin EDC untuk Pembayaran, TransJakarta Tambah Reader TOB di Bus Pengumpan

Pembayaran moda transportasi umum seperti TransJakarta, KRL hingga MRT dimudahkan dengan hanya mentapping kartu uang elektronik dari berbagai bank atau yang dikeluarkan oleh perusahaan transportasi tersebut di gate. TransJakarta yang memiliki bus pengumpan atau yang non BRT juga melakukan pembayaran dengan kartu uang elektronik.

Baca juga: Pertahankan Ikon “Bikun,” TransJakarta Rilis Dua Opsi Desain untuk Universitas Indonesia

Awal-awal ada bus pengumpang seperti MetroTrans dan MiniTrans, penumpang membayar dengan tapping melalui mesin electronic data capture (EDC) ataupun tiket kertas. Namun, untuk EDC hanya bank-bank tertentu untuk melakukan pembayarannya padahal tidak semua penumpang menggunakan kartu uang elektronik dari bank tersebut.

Hal ini kemudian menjadi pemikiran PT Transportasi Jakarta untuk mengubah sistem yang memudahkan, seperti menambah alat tapping yang bisa digunakan oleh semua kartu uang elektronik yang dipakai di halte-halte TransJakarta di bus non BRT. Direktur PT Transportasi Jakarta Agung Wicaksono mengatakan, karena rute non BRT ini haltenya tidak berada di tengah koridor, penumpang bisa mentap kartu mereka di dalam bus.

Sehingga menurut Agung mekanisme yang palling memungkinkan untuk pelanggan TransJakarta non BRT adalah Tap on Bus (TOB). Ini agar tidak menggunakan mesin EDC yang terbatas untuk bank tertentu hingga menggunakan tiket kertas.

“Penggunaan EDC dan tiket kertas merupakan akibat Transjakarta tidak melakukan investasi sendiri untuk sistem pembayaran. Oleh sebab itu, sistem ini harus berhenti tahun ini,” jelas Agung.

Ini mengisyararatkan bahwa semua bus pengumpang akan dipasang reader untuk TOB dan perlahan TransJakarta akan terlepas dari ketergantungan dengan bank. Agung menambahkan, ini merupakan proses transformasi dan perubahan budaya sistem pembayaran yang masih berproses.

“Pengadaan sedang dilakukan, dan di akhir tahun ini semua reader Tap On Bus ditargetkan akan terpasang,” ungkapnya.

Apalagi setiap bulannya PT TransJakarta membuka rute non BRT yang nantinya juga dibarengi dengan pengadaan TOB.

“Sebenarnya sudah ada tap on bus, namun kami akan tambah lagi untuk pengadaannya,” ujar Kepala Hubungan Masyarakat PT TransJakarta, Wibowo

KabarPenumpang.com yang menggunakan non BRT pun telah melihat beberapa rute bus tersebut sudah dipasangi oleh TOB seperti Tanah Abang-Gondangdia, Pulo Gadung-Pinang Ranti dan beberapa lainnya. Dari pengamatan yang dilakukan, petugas bus non BRT akan menyampaikan kepada penumpang untuk mentapping kartu mereka di mesin bagian depan atau tengah bus.

“Silahkan penumpang yang naik bisa mentapping kartu di bagian depan,” ujar seorang petugas bus non BRT.

Petugas juga tak lupa menginformasikan bagi penumpang yang tidak punya kartu, bahwa pihak TransJakarta tak lagi menggunakan uang tunai dalam pembayaran dan disediakan kartu uang elektronik dari JakLingko di dalam bus dengan harga Rp30 ribu sudah berisi saldo Rp10 ribu.

Agung berharap perubahan dari EDC ke TOB ini akan memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan Transjakarta, serta membawa Transjakarta ke depan menjadi angkutan modern yang terus berkembang.

Baca juga: Kontroversi MetroTrans Melaju di Jalur ‘Sempit,’ Inilah Tanggapan PT TransJakarta

“Kita semua terus bersama-sama membuat layanan Transjakarta lebih baik. Dari yang dulunya selalu pakai tiket kertas dan EDC untuk non-BRT, kedepannya menjadi dengan Tap On Bus. Biar kayak orang-orang di angkutan modern kota-kota lain di dunia,” tutupnya.

Nantinya, ada 900 unit bus non-BRT yang akan terpasang fasilitas tersebut. Artinya, semua bus non-BRT dalam proses pemasangan reader untuk tap on bus.

Boeing 757 Eks Singapore Airlines, Hanya Empat Tahun di Singapura dan Lanjut Keliling Dunia

Penggemar maskapai kenegaraan asal Singapura, Singapore Airlines mungkin ingat masa dimana pihak maskapai mengoperasikan pesawat berbada kecil, Boeing 757. Namun momen tersebebut agaknya berlalu begitu cepat. Ya, varian Boeing 757 pertama datang ke Singapura pada tahun 1984 dan hanya membutuhkan waktu sekira empat tahun saja untuk bisa ‘menghilangkan’ armada ini sepenuhnya dari tubuh maskapai. Lalu sebenarnya, apa yang terjadi pada varian Boeing 757 ini?

Baca Juga: Terima Airbus A350-900ULR, Singapore Airlines Siap Terbang ke New Jersey Non-Stop

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com (29/7), banyak orang-orang di luar sana yang bertanya-tanya mengenai usia pesawat yang hanya seumur jagung saja. Pada era 1984-an, Singapore Airlines mengoperasikan empat pesawat Boeing 757: 9V-SGK, 9V-SGL (datang pada bulan November 1984), 9V-SGM dan 9V-SGN (datang pada bulan Desember 1984).

Sepanjang tahun 1985 dan 1986, Singapore Airlines mengoperasikan Boeing 757 di rute-rute Asia saja – Jakarta, Bandar Sri Begawan, Kuala Lumpur, Kuantan, dan Penang. Namun karena Singapore Airlines ingin memperluas sayap bisnisnya – dimana mereka membutuhkan pesawat yang mampu mengangkut penumpang yang lebih besar dengan jarak tempuh yang lebih jauh, maka perusahaan mau tidak mau melepas keempat pesawat Boeing 757 dan menggantinya dengan armada baru.

Boeing 757 ini lalu dilepas kepada maskapai American Trans Air (ATA) pada rentang waktu November 1989 hingga Juni 1990. ATA merupakan maskapai berbiaya rendah yang berbasis di Indianapolis. Namun pada tahun 2008, maskapai ini mengalami kebangkrutan dan sertifikat serta aset dari ATA diambil alih oleh Southwest.

Sebelum bangkrut, tepatnya pada 1996, ATA harus melepaskan empat armada Boeing 757 ini ke pihak Delta karena satu dan lain hal. Ketika mengabdi bersama Delta Airlines, Boeing 757 beroperasi selama kurang lebih 20 tahun lamanya, sebelum pada tahun 2016 silam, pihak Delta memutuskan untuk berhenti mengoperasikan empat pesawat yang sudah melang-lang buana di angkasa luas ini.

Baca Juga: Singapore Airlines Terbangkan Perdana A350-900 ULR ke New York

Ya, itulah perjalanan panjang dari empat pesawat Boeing 757 yang mampu mengangkut hingga 295 penumpang dan mengarungi angkasa hingga 7.590 km ini. Sebagai informasi tambahan, varian ini diproduksi pada rentang tahun 1981 hingga 2004. Pertama kali mengudara pada 19 Februari 1982 dan pertama kali mengoperasikan penerbangan komersial bersama Eastern Air Lines di tanggal 1 Januari 1983.

 

 

Ada “Thomas & Friends” dalam Gerbong Khusus Keluarga di Kereta Bawah Tanah Tokyo

Ruang untuk lansia dan penyandang disabilitas sudah jamak ada di moda transportasi massal masa kini. Di Indonesia baik MRT, kereta rel listrik (KRL) hingga TransJakarta sudah melengkapi bagian khusus ini. Namun bagaimana dengan ruang khusus orang tua yang membawa anak-anak?

Baca juga: MRT Jakarta: Pemberlakuan Gerbong Khusus Wanita Hanya di Jam Tertentu

Pasalnya anak-anak cukup berisik dan tidak bisa diam alias duduk dengan tenang ketika menggunakan transportasi massal. Sebab naluri anak-anak mereka yang memiliki keingintahuan cukup besar hingga mondar-mandir dan bertanya kepada orang tuanya tentang segala hal yang mereka lihat dalam perjalanan.

Karena hal ini, kemudian kereta bawah tanah di Tokyo akhirnya menyediakan ruang khusus yang ramah anak. Gerbong kereta bawah tanah Tokyo ini dihiasi dengan karakter animasi asal Inggris yang populer yaitu Thomas & Friends.

Dikutip KabarPenumpang.com dari laman japantoday.com (31/7/2019), gerbong ini sendiri diperlihatkan ke media pada Selasa (30/7/2019) atau satu hari sebelum mulai di uji coba yang tujuannya untuk akses yang memudahkan keluarga dengan membawa anak-anak. Ada enam gerbong di jalur Oedo Toei Subway yang menawarkan ruang dukungan pengasuhan anak atau penitipan anak ini yang dihiasi oleh karakter Inggris yang menggambarkan tokoh kereta tersebut.

Stiker-stiker tersebut tidak hanya dipasang di bagian luar gerbong untuk menandai ruang khusus, tetapi juga di bagian dalam gerbong. Ini agar penumpang yang membawa kereta bayi serta keluarga dengan anak-anak lebih merasa nyaman saat menggunakan kereta.

Tokyo sebagai pusat kota sebenarnya terkenal dengan kereta api yang penuh sesak di jam-jam sibuk. Penumpang dengan membawa anak-anak sering dianggap mengganggu dan tidak dianjurkan menggunakan layanan transportasi umum seperti kereta api.

“Lucu sekali,” kata Gubernur Tokyo Yuriko Koike ketika memasuki gerbong khusus tersebut.

Dia memeriksa ruang karena pemerintah metropolitan mengoperasikan layanan kereta bawah tanah.

Baca juga: Tujuan Hello Kitty Land, Kereta di Tokyo Dibalut Livery dan Interior Hello Kitty

“Ruang ini mengirimkan pesan bahwa tidak apa-apa ditemani oleh anak-anak. Aku ingin menjadikan Tokyo tempat yang nyaman untuk hidup bagi semua orang,” kata Koike.

Jadwal operasi kereta ramah anak akan dirilis di situs web Biro Transportasi pemerintah Tokyo setiap pagi. Pemerintah kota mengatakan akan mempelajari apakah akan memperluas layanan setelah mendengar pendapat pengguna.

Keren! Airbus A350 Bisa di “Restart” Guna Hindari Bug Pada Sistem Perangkat Lunak

Sudah bukan menjadi sebuah rahasia lagi apabila gadget yang Anda gunakan mengalami error, maka Anda akan memuat ulang gadget tersebut agar bisa kembali digunakan secara normal. Aksi ini kerap menjadi solusi bagi banyak orang di luar sana yang mengalami kendala pada gadgetnya. Namun apa jadinya jika fitur serupa diterapkan pada moda transportasi? Mungkinkah sebuah moda transportasi di restart ulang untuk mengembalikan performanya?

Baca Juga: Japan Airlines Terima Airbus A350-900, Tapi Justru Layani Penerbangan Domestik

Jawabannya adalah mungkin! Fitur semacam ini diterapkan oleh manufaktur aviasi asal Eropa, Airbus yang menyebutkan bahwa apabila pilot mengalami kendala sistem (bug) pada varian A350, mereka cukup mematikan ulang pesawat secara keseluruhan dan menghidupkannya kembali. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman mic.com (31/7), pihak Airbus mengatakan bahwa restart semacam ini juga dianjutkan untuk dilakukan pilot jika pesawat sudah mengudara selama 149 jam. Ini ditujukan untuk menghindari komplikasi pada sistem pesawat A350.

Fitur ini diterapkan Airbus sejak mendapatkan peringatan dari European Union Aviation Safety Agency (EUASA) pada tahun 2017 silam, yang menyebutkan bahwa usia maskapai yang lebih tua akan berpengaruh pada munculnya bug pada sistem perangkat lunaknya – dan ini akan berdampak pada pengoperasian pesawat terkait.

“Jika tidak lekas diperbaiki, maka dikhawatirkan penerbangan berada dalam kondisi yang tidak aman,” tutur pihak EUASA.

Tidak mau mengambil risiko dan terpuruk seperti rivalnya, Boeing, akhirnya pihak Airbus menambahkan fitur restart pada varian A350nya untuk terhindar dari masalah keselamatan ketika beroperasi. Untuk memastikan perangkat lunak terus beroperasi seperti yang diharapkan, pihak Airbus menyarankan kepada setiap maskapai untuk melakukan restart setiap 149 jam sekali (pada dasarnya sekitar enam hari sekali).

Baca Juga: Singapore AirShow 2018: Airbus Perkenalkan A350-1000 Untuk Pasar Trans-Pasifik

Ya, hadirnya fitur semacam ini pada sektor aviasi global seolah menjadi jawaban dari masalah kekurangan armada ketika salah satu dari mereka keluar dari layanan untuk perbaikan dan pemeliharaan – setidaknya armada Airbus A350 hanya akan memakan waktu yang lebih pendek untuk maintenance dan perbaikan karena sistem perangkat lunak sudah bisa di restart sendiri.

Pertanyaannya adalah, akankah teknologi semacam ini tersemat pada pesawat-pesawat jenis lain yang ada di luar sana?

Garuda Indonesia Rekrut 2 Pilot Perempuan Pertama asal Papua

Selain diramaikan dengan kabar seputar layanan, Garuda Indonesia hari ini (31/7) mewartakan telah merekrut 2 (dua) pilot perempuan pertama yang merupakan puteri daerah asal Papua. Rekrutmen tersebut menjadikan kedua pilot sebagai angkatan pertama rekrutmen pilot asal Papua yang bergabung dengan Garuda Indonesia Group.

Baca juga: Ellen Church, Pramugari Pertama di Dunia yang Juga Punya Lisensi Pilot

Adapun kedua pilot tersebut adalah Sdri Vanda Astri Korisano dan Sdri Martha Itaar dimana keduanya merupakan lulusan Nelson Aviation College, New Zealand. Dengan sebelumnya mengambil standarisasi Indonesia DGCA Licence atau Surat Ijin terbang dari Direktorat Jendral Perhubungan Udara di Ganesa Flight Academy, Jakarta.

Direktur Utama Garuda Indonesia Ari Askhara dalam pesan tertulis mengungkapkan, “Rekrutmen pilot yang merupakan putra daerah asal Papua ini merupakan wujud komitmen Garuda Indonesia dalam memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada putera daerah yang berprestasi dan berdaya unggul untuk dapat berkontribusi dan mengembangkan karir bersama Garuda Indonesia Group”

Ari mengungkapkan rasa bangganya dapat merekrut putri papua terbaik. Hal ini membuktikan bahwa siapapun bisa menjadi pilot asal berprestasi dan mampu. Ari berharap langkah yang dibuat Vanda dan Marta dapat menjadi lokomotif penarik putera/puteri Papua lainnya di Garuda Indonesia.

Adapun Martha nantinya akan menempuh pendidikan pilot untuk ditempatkan di Citilink Indonesia sedangkan Vanda akan menempuh pelatihan untuk kemudian ditempatkan di Garuda Indonesia Untuk selanjutnya, Vanda akan mengikuti pendidikan pilot di Garuda Indonesia Training Center (GITC) pada awal Agustus 2019 mendatang yang rencananya akan mengambil rating tipe pesawat Boeing 737-800 NG.

Pendidikan pilot yang akan dijalani oleh mereka kurang lebih selama 6 bulan, kemudian di lanjutkan dengan Flight Training. Sedangkan untuk Martha akan mengikuti proses training lebih lanjut di Citilink Indonesia.

Baca juga: Lakukan Go Around, Pilot Garuda Indonesia GA425 Selamatkan Penerbangan dari Petaka

Sejalan dengan komitmen pemberdayaan putera puteri daerah yang diinisiasikan perusahaan, Garuda Indonesia secara berkelanjutan memastikan pihaknya akan terus membuka kesempatan bagi putera puteri daerah berprestasi untuk bergabung menjadi bagian dari keluarga Garuda Indonesia Group tidak hanya sebagai pilot, melainkan awak kabin, hingga pegawai darat.

Dampak Krisis Politik, Sektor Pariwisata Hong Kong Kondusif Meski Ada Pelemahan

Krisis politik hebat yang terjadi di Hong Kong dalam rentang waktu beberapa hari ke belakang ternyata menarik perhatian banyak kalangan. Tidak hanya itu, kondisi yang dilatarbelakangi oleh rencana pemberlakuan Rancangan Undang-Undang (RUU) Ekstradisi ini juga dampaknya semakin meluas dan sejumlah pihak mengkhawatirkan soal industri parisiwata yang menjadi salah satu daya tarik Hong Kong selama ini.

Baca Juga: Alipay Siap Ganti Sistem Pembayaran MTR Hong Kong dengan Scan QR Code

Kerusuhan yang ditimbulkan oleh lebih dari satu juta penduduk demonstran ini mulai merambat ke berbagai fasilitas publik – salah satunya adalah bandara. Sebagaimana dikutip KabarPenumpang.com dari laman cnn.com (26/7), pengunjuk rasa berkumpul di terminal kedatangan Hong Kong International Airport untuk menginformasikan kepada wisatawan mancanegara yang datang terkait krisis politik yang tengah terjadi di sana.

Tidak terkecuali rakyat Indonesia yang ada di Hong Kong sana, dimana Konsulat Jenderal RI (KJRI) menghimbau, “untuk menghindari penggunaan baju/kaos berawarna hitam atau pun putih serta payung kuning,” tulis pihak KJRI di laman Facebook-nya.

Terkait demonstrasi besar-besaran yang terjadi, ternyata sektor pariwisata di Hong Kong benar-benar mengalami pelemahan – kendati tidak signifikan. CEO Langham Hospitality Group., Stefan Leser mengatakan bahwa terjadi pelemahan pada sisi perhotelan yang ada di Hong Kong.

“Segmen-segmen tertentu di hotel-hotel Hong Kong kami telah mengalami penurunan,” tuturnya.

“Kendati begitu, menurut pantauan kami, perjalanan liburan tetap stabil,” tandasnya.

Ya, ternyata krisis politik yang terjadi di Hong Kong tidak terlalu berdampak signifikan terhadap perkembangan sektor pariwisata di sana – walaupun ada beberapa wisatawan yang lebih memilih untuk membatalkan semua rencana mereka untuk berlibur atau mengembangkan bisnis di Hong Kong.

Namun kondisi pariwisata yang sudah dijabarkan di atas hanyalah bersifat temporer, dimana situasi bisa berubah drastis tergantung pada tindakan yang dilakukan oleh para demonstran. Apabila mereka semakin ‘menggila’ menolak RUU ekstradisi ini, maka bukan tidka mungkin apabila sektor pariwisata di Hong Kong akan mengalami penurunan dari segi kuantitas.

Begitu juga kebalikannya, apabila kondisinya berangsur kondusif, maka sektor pariwisata di sana juga bisa kembali normal seperti sedia kala.

Baca Juga: Di Tengah Lesunya Pasar, Mulai Juni Citilink Buka Penerbangan Langsung ke Phnom Penh

Dilansir dari laman skift.com (29/7), kondisi Hong Kong saat ini tidaklah seperti yang Anda bayangkan. Ledakan demonstran hanya terjadi di beberapa titik saja, dan kiranya bagi para pelancong untuk menghindari titik-titik tersebut.

“Tidak ada alasan untuk tidak mengunjungi Hong Kong, di sini masih aman,” ujar Direktur Eksekutif dari Abercrombie & Kent Luxury Travel, Gerald Hatherly.

Sementara itu, flag carrier Garuda Indonesia yang juga membuka rute penerbangan menuju Hong Kong mengaku tidak terpengaruh apapun terkait krisis politik tersebut.

“Semua (penerbangan menuju Hong Kong) tetap berjalan normal,” ujar Humas Garuda Indonesia, Dicky Irchamsyah.

Operasional Bus Listrik di Jakarta Masih Menanti Regulasi

Udara ibukota Jakarta semakin hari semakin buruk kualitasnya. Salah satu penyebabnya adalah polusi yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor yakni emisi atau gas pembuangannya. Karena masalah ini, beberapa perusahaan transportasi kemudian memikirkan hal baru untuk armada mereka seperti bus listrik.

Baca juga: Adopsi Bus Listrik, Antara Harapan dan Tantangan yang Menghadang

Namun, bagaimana regulasi untuk bus listrik ini sendiri? Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, ada beberapa perusahaan yang sudah mulai ekspansi dari bus berbahan bakar minyak ke listrik. Bahkan perusahaan bus ini pun menyetujui adanya tren pergeseran ke bus listrik.

PT Ekasari Lorena Transport Tbk yang diwakili Managing Directornya yakni Dwi Ryanta Soerbakti mengatakan dirinya akan menjadi pendukung utama dari pihak swasta untuk mencoba alternatif lain seperti bus listrik. Adapun syarat yang perlu untuk mendukung infrastruktur menurutnya yakni tempat pengisian baterai, peizinan dari pemerintah hingga PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk mendorong program ini.

Bahkan Perum Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia (DAMRI) saat ini masih menantikan pengesahan beleid terkait kendaraan listrik dan kesiapan mitra untuk memulai investasi. Sebab secara prinsip DAMRI siap mendukung dan menjadi pionir dalam penggunaan bus listrik di Indonesia. Alasannya, DAMRI tidak mempersoalkan penggunaan bus listrik tetapi lebih ke waktu permulaan, kata Pelaksana Tugas Khusus Program Bus Listrik Perum Damri Dipo Wirawan.

“Sektor transportasi publik mempunyai peran yang besar untuk mengurangi emisi gas buang kendaraan. Rasionya, jika satu bus diesel diubah menjadi bus listrik, sama dengan meng-elektrifikasi 30 mobil pribadi,” ujarnya.

Terkait mitra, dia siap mendukung rencana penggunaan bus listrik oleh PT Transportasi Jakarta. Dia mengklaim terus berkoordinasi dengan TransJakarta untuk memformulasikan model bisnis yang saling menguntungkan.

“Mengingat biaya investasi bus listrik yang cukup tinggi bisa mencapai 2-3 kali lipat bus diesel, maka perencanaan yang dilakukan harus benar-benar matang,” katanya.

Diketahui, DAMRI tengah bekerja sama dengan Asian Development Bank (ADB) dalam menyusun kajian terhadap kelayakan investasi bus listrik serta mitigasi risiko yang dibutuhkan.

“Selain dengan TransJakarta, DAMRI pun siap jika seandainya beberapa layanan di kawasan Bandara Soekarno Hatta secara bertahap harus menggunakan Bus Listrik seiring dengan kebijakan PT Angkasa Pura II terkait sustainable atau green airport,” tegasnya.

Sedangkan TransJakarta kini sudah selesai menguji coba bus listrik yang mereka miliki. Salah satu diantaranya adalah buatan PT Mobil Anak Bangsa (MAB) yang sudah mendapat sertifika uji tipe (SUP) dari Kementerian Perhubungan.

Direktur Utama PT TRansportasi Jakarta Agung Wicaksono mengatakan, sedangkan yang dua lainnya dri BYD tengah menjalani sertifikasi dan nantinya jika semuanya lulus akan ada proses dari kepolisian untuk mengeluarkan STNK, nilai jual kendaraan bermotor dan lainnya.

“Untuk peraturan terkait bus listrik masih proses lintas kementrian. Kalau bisa ada Perpres atau ada peraturan di tingkat pusat yang akan membuat berbagai kementerian ini bisa saling sinergi atau lebih konfidence izin-izin yang dibutuhkan,” ujarnya.

Agung juga mengatakan, saat ini peraturan masih dibahas dengan Pemprov DKI untuk peraturan gubernur dan tingkat nasional masih menunggu peraturan presiden. Saat ini juga diketahui, PT MAB sudah digandeng oleh Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPJT) dalam pengadaan bus listrik yang akan digunakan sebagai armadanya.

Baca juga: Kontroversi MetroTrans Melaju di Jalur ‘Sempit,’ Inilah Tanggapan PT TransJakarta

BPTJ sendiri menargetkan memiliki seribu armada bus listrik tahun 2020 mendatang.Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 55 Tahun 2018 tentang Rencana Induk Transportasi Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi Tahun 2018-2029, dalam jangka menengah sudah harus tersedia 5.000 kendaraan angkutan massal bertenaga listrik.

Tiga Rute Citilink Tutup Sementara, Ada Apalagi dengan Bandara Kertajati?

Tiga rute penerbangan Citilink dihentikan sementara dari Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB), Kertajati sejak 26 Juli 2019. Penghentian sementara operasi tiga rute itu dikarenakan tingkat keterisian atau load factor dalam penerbangan relatif rendah.

Baca juga: Mulai Hari Ini, Penerbangan Domestik dari Bandara Husein Sastranegara Pindah ke Kertajati

Corporate Communications Citilink Fariza Astriny, menyebutkan tiga rute yang ditutup sementara adalah Kertajati-Medan, Kertajati-Denpasar, dan Kertajati-Palembang. “Itu karena load seat factor yang rendah dan memang sedang low season, sehingga untuk commercial reason kita berhentikan dahulu,” ujarnya.

Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Fariza mengatakan jumlah load factor Kertajati tidak sampai 50 persen dan ini menguras biaya operasional serta margin pendapatan pun jauh dari yang ditargetkan. Fariza juga mengaku belum mengetahui kapan ketiga rute tersebut akan kembali dibuka.

Selain hengkang sementara, ada beberapa rute Citilink yang sampai saat ini belum terlaksana. Saat itu Garuda Indonesia mengatakan akan membuka layanan penerbangan Umroh mereka dari Bandara Kertajati, tetapi hingga kini pun belum terealisasikan dengan baik.

Hengky Heriandono yang saat itu menjabat sebagai VP Corporate Secretary Garuda Indonesia mengatakan, penerbangan Haji tersebut terbang ke Bandara Internasional Soerkarno-Hatta dari Kertajati untuk faktor teknis seperti pengisian bahan bakar. Dia mengatakan akan ada lima kloter Haji yang akan berangkat dari Kertajati dan mengambil slot milik Saudi Airlines.

Kemudian belum lama ini seorang penumpang yang berangkat dari Kertajati menuju ke Juanda dengan pesawat Citilink merekam dirinya menjadi satu-satunya penumpang dalam penerbangan tersebut. Video pria tersebut sempat viral dan pada 1 Juli 2019 penerbangan maskapai berbiaya hemat tersebut hanya mengangkut sepuluh penumpang menuju ke Surabaya yang sebelumnya sempat akan dibatalkan.

Diketahui, selain Citilink ada empat maskapai lainnya yang diminta regulator untuk memindahkan penerbangan mereka dari Bandara Husein Sastranegara ke Bandara Kertajati yakni Garuda Indonesia, Lion Air, AiraAsia Indonesia dan Xpress Air. Tantangan lain pun menjadi cerita tersendiri bagi Perum Damri yang mengoperasikan armadanya menuju ke Bandara Kertajati.

Dari Terminal Harjamukti bus Damri tujuan ke Kertajati awalnya hanya mengangkut 3-5 orang dan kemudian beranjak sehari rata-rata 15 orang. Mereka juga mengaku memberangkatkan bus meski dalam kondisi kosong tak berpenumpang.

Baca juga: Citilink dan BIJB Kertajati Klarifikasi Video Viral Penumpang Seorang Diri di Penerbangan Surbaya

Menurut pihak Damri, sedikitnya penumpang dikarenakan banyak yang menaiki kendaraan pribadi ataupun shuttle, tetapi bila dari Bandara Kertajati sendiri lebih banyak karena yang menggunakan armada tersebut tidak hanya dari wilayah Cirebon tetapi dari Kuningan, Brebes dan Tegal.

Lain dari itu, faktor sepinya Bandara Kertajati bisa juga dikarenakan jarak tempuh dari Bandung yang cukup jauh, yakni 179,4 km, dibandingkan dari Bandung ke Bandara Halim Perdanakusuma yang hanya 143,5 km.