Kedapatan Bawa Peluncur Rudal, Penumpang Veteran Bikin Geger Bandara Baltimore

Petugas Transport Security Administration (TSA) di Baltimore/Washington International Thurgood Marshall Airport mengamankan seorang penumpang yang kedapatan membawa missile launcher (peluncur rudal) di dalam tas yang dibawanya. Kejadian ini terjadi pada Senin (29/7) kemarin dan penumpang ini langsung ditahan oleh otoritas keamanan bandara guna mendapatkan pemeriksaan lanjutan dan mengetahui motif di balik pembawaan missile launcher tersebut.

Baca Juga: Bandara di AS Kian Ketat, TSA Wajibkan Pemeriksaan Terpisah Pada Perangkat Elektronik

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, petugas keamanan bandara langsung memberhentikan penumpang terkait ketika melihat ada sesuatu yang aneh dari barang yang di bawanya di dalam tas. Di dalam keterangan yang diberikan petugas, pria yang tidak disebutkan namanya tersebut merupakan seorang veteran militer yang membawa pulang missile launcher tersebut sebagai souvenir.

Kala itu, pria ini tengah berada di dalam perjalannya dari Kuwait menuju Texas. Kendati missile launcher tersebut sudah tidak aktif, namun petugas tetap menyita barang tersebut dan menyerahkannya kepada petugas pemadam kebakaran negara untuk kemudian dimusnahkan.

“Untuk kepentingan apapun, senjata militer tidak bisa masuk ke dalam bagasi atau bagasi kabin,” ujar petugas TSA.

Setelah diintegorasi dan mendapatkan kepastian tentang missile launcher yang dibawanya ini, penumpang yang diidentifikasi berasal dari Jacksonville, Texas ini lalu diperbolehkan untuk mengejar penerbangannya kembali.

Kejadian ini lalu menjadi ramai diperbincangkan setelah juru bicara TSA, Lisa Farbstein mencuitkan perihal temuan rekan kerjanya tersebut di jejaring sosial Twitter.

“Petugas @TSA yang ada di @BWI_Airport mendeteksi missile launcher ini yang ada pada sebuah tas penumpang pagi tadi. Penumpang pria ini mengatakan bahwa missile launcher tersebut merupakan souvenir dari Kuwait. Mungkin ada baiknya jika ia membawa gantungan kunci saja!”

Baca Juga: Bisa Dibuka Langsung Oleh Petugas Keamanan Bandara, Inilah Gembok Koper TSA

Tentu saja, semua petugas keamanan di bandara harus menyisir setiap barang bawaan penumpang yang hendak naik ke dalam pesawat. Hal ini ditujukan agar menjaga kenyamanan dan keamanan penumpang lain yang ada di dalam penerbangan yang sama. Dapatkah Anda membayangkan apabila penumpang lain di dalam penerbangan Anda membawa missile launcher? Mungkin sepanjang perjalanan tersebut, Anda akan komat-kamit baca doa agar kejadian yang tidak diinginkan tidak terjadi, ya!

 

 

 

Masih Bingung Bedakan Boeing 737 dan Airbus A320? Simak Ini

Boleh dikata saat ini tumpuan layanan penerbangan domestik dan regional di banyak negara, termasuk Indonesia akan mengerucut pada dua keluarga pesawat kelas narrow body, tak lain Boeing 737 dan Airbus A320. Mungkinsebagian orang tak peduli dengan apa beda diantara kedua jenis pesawat tersebut, tapi sebagian lain cukup antusias untuk mengenali jenis pesawat yang ingin ditumpangi.

Baca juga: Ada di Jepang, Kamar Hotel dengan Simulator Kokpit Boeing 737-800!

Beberapa yang belum paham akan karakter pesawat, dapat melihat tipe pesawat yang mereka tumpangi melalui label tulisan di bodi pesawat. Namun yang lainnya dan sudah paham tentang perbedaan pesawat tahu dari berbagai bentuk luar dan dalamnya.

Kali ini KabarPenumpang.com yang merangkum dari laman simpleflying.com (27/7/2019), akan menjelaskan perbedaan antara Boeing 737 dengan Airbus A320. Nah, apa saja sih perbedaannya?

Kapasitas penumpang
Airbus A320 memiliki kapasitas 135-236 penumpang sekali angkut tergantung modelnya. Sedangkan Boeing 737 mampu menampung dan mengangkut dengan kapasitas 108-177 penumpang.

Bentuk hidung
Menarik ketika membahas tentang hidung, seperti manusia memiliki hidung mancung atau pesek, ternyata Airbus A320 dan Boeing 737 juga bisa dibedakan melalui hidung mereka. Airbus A320 berbentuk bulat dan Boeing 737 berbentuk runcing.

Jendela kokpit
Jendela pada kokpit Boeing 737 lebih sudut dengan potongan ke bawah tepat setelah hidung. Sedangkan Airbus A320 lebih membulat.

Melihat dari gerbang keberangkatan
Penumpang yang berada di gerbang keberangkatan biasanya melihat setiap pesawat bentuk bodi dan hidungnya terlihat mirip bahkan sulit untuk dibedakan. Jika Anda penumpang yang memiliki mata tajam, Airbus A320 memiliki ground clearance dan mesin bulat yang lebih tinggi. Sedangkan Boeing 737 mesin lebih rendah dan tidak bulat sempurna bentuknya.

Di dalam kabin
Di kelas ekonomi, kedua pesawat dilengkapi dalam konfigurasi 3-3. Kecuali Anda memeriksa dengan cermat kartu pengaman atau mencari penanda Boeing Sky Interior, tidaklah mudah untuk mengetahui pesawat mana yang Anda gunakan dengan konfigurasi tempat duduk. Ketika datang ke kelas bisnis, konfigurasi tergantung pada maskapai. Sebagian besar operator di luar Eropa mengoperasikan kelas bisnis sebagai kabin terpisah dengan kursi berbeda. Ini biasanya dalam konfigurasi 2-2. Namun, di Eropa, konfigurasi 3-3 tetap dipertahankan tetapi kursi tengah diblokir untuk tujuan kenyamanan.

Baca juga: Makin Strong! Batik Air Terima Kedatangan Airbus A320-200CEO Ke-44

Keseluruhan
Saat Anda memesan penerbangan, jenis pesawat biasanya ditunjukkan saat pemesanan. Meskipun pertukaran pesawat menit terakhir dapat terjadi, Anda lebih cenderung tidak tetap berada di pesawat yang sama seperti yang ditunjukkan selama pemesanan. Selain itu, tidak semua maskapai mengoperasikan keluarga pesawat Boeing 737 dan Airbus A320.

Setelah 2 Tahun Berlalu, Bagaimana Nasib Pembangunan Bandara Bali Utara?

Ketika berbicara Singaraja di Bali, yang terpikir pertama adalah terkait pembangunan Bandara Bali Utara. Gaung pertamanya dua tahun lalu dan Agustus 2017 akan ada peletakan batu pertama. Namun kabar ini tiba-tiba saja menghilang dan tak jelas apakah akan berlanjut atau berhenti.

Baca juga: 28 Agustus 2017, Jadwal Ground Breaking Bandara Internasional Bali Utara

Jika tidak berlanjut sepertinya sangat disayangkan, pasalnya daerah Bali Utara juga terkenal dengan tempat-tempat wisatanya meski jarang terjamah wisatawan. Tetapi bila berlanjut, daerah Bali Utara juga bisa sama terkenalnya dengan Bali Selatan seperti Denpasar.

Ternyata dilansir KabarPenumpang.com dari airport-technology.com (29/7/2019), Bandara internasional ini akan dibangun di desa utara Kubutambahan. Usulan rencanya adalah akan mengakomodasi semua maskapai berbiaya hemat (LCC).

Selain itu, kehadiran bandara ini juga untuk mengurangi beban Bandar Internasional I Gusti Ngurah Rai di Denpasar yang penumpangnya semakin melonjak dari hari ke hari. Tak hanya itu, kehadiran bandara baru di Bali Utara juga memangkas jalan dari Denpasar ke Singaraja yang memakan waktu dua setengah jam menjadi satu setengah jam.

Adapun konstruksi pembangunan dijadwalkan mulai tahun depan.  Berdasarkan rencana tersebut, hampir 70 persen penerbangan yang dioperasikan oleh maskapai berbiaya rendah Jetstar, Air Asia, dan Lion Air akan mendarat di Bali utara.

Untuk menenangkan wisatawan, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi juga telah menyarankan kemungkinan membangun kereta api pertama di Bali untuk mengangkut penumpang ke selatan secara gratis.

Seperti diberitakan sebelumnya, pembangunan bandara di wilayah Buleleng nampaknya belum dapat diwujudkan dalam kurun lima tahun ke depan. Pemerintah Pusat tak kunjung mengeluarkan izin penetapan lokasi (penlok), sebab Pemerintah Provinsi Bali dinilai harus mengembangkan infrastruktur jalan menuju ke Buleleng terlebih dahulu.

Budi Karya mengatakan, pihaknya sudah membahas dalam rapat koordinasi terkait prosedur pembangunan tergantung infrastruktur akses dari dan menuju ke Bali Utara. Akses itu bisa berupa jalan tol, kereta api atau highway.

“Tidak mungkin kita membangun Bandara Bali Utara tanpa ada infrastruktur akses jalan. Karena untuk membangun satu bandara kan maksimal tiga tahun baru selesai, dan lokasi tidak berubah tetap di sana nanti,” kata Budi Karya.

Gubernur Bali, Wayan Koster menyebutkan, terkait pembangunan bandara di wilayah Bali Utara hanya masalah waktu. Pembangunan shortcut atau jalan baru batas kota Singaraja-Mengwitani dinilai Koster belum cukup.

Baca juga: Moda Transportasi di Bandara Ngurah Rai dan Hasanuddin, Antara Fakta dan Harapan

Untuk itu pihaknya telah menyiapkan beberapa alternatif berupa membangun rel kereta api, atau bypass berkombinasi dengan tol. Kedua alternatif itu diakui Koster, masih dalam tahap kajian.

“Kereta api atau bypass kombinasi dengan tol itu akan dilakukan studi lebih dulu. Makanya penlok belum turun. Jangan sampai seperti Bandara di Kertajati (Jawa Barat). Bandaranya ada, tapi aksesnya belum cukup. Akhirnya lumutan Bandaranya,” kata Koster.

Didorong dari Peron, Bocah 8 Tahun Tewas Tergilas Kerera Cepat di Frankfurt

Seorang bocah laki-laki berusia 8 tahun tewas setelah didorong oleh seorang pria berusia 40 tahun ketika kereta cepat melintas di stasiun. Tak hanya sang bocah, ibunya pun sempat di dorong dan untungnya selamat dari insiden itu.

Baca juga: Terpleset diantara Peron dan Kereta Api, Kaki Seorang Wanita Harus Diamputasi

Polisi setempat mengatakan, tewasnya bocah ini terjadi di Stasiun Frankfurt di Jerman. Pihak kepolisian mengatakan, dari laporan saksi mata di tempat kejadian, seorang laki-laki 40 tahun mendorong bocah itu dan ibunya ke lintasan tepat ketika ICE (InterCity Express) atau kereta kecepatan tinggi tiba di stasiun tersebut.

“Sang ibu bersyukur dirinya bisa selamat dari insiden itu. Tetapi bocah 8 tahun tersebut tertabrak ICE dan menderita cedera fatal dan dinyatakan tewas saat dalam perjalanan ke rumah sakit,” ujar juru bicara kepolisian Isabell Neumann yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman japantimes.co.jp (30/7/2019).

Dia mengatakan, pelaku melarikan diri setelah melakukan kejahatannya, namun ditahan oleh penumpang lain yang melihatnya dekat stasiun. Neumann menambahkan, tersangka kemudian diperiksa dan ibu bocah laki-laki tersebut di bawa ke rumah sakit untuk mendapat perawatan.

“Tersangka adalah warga negara Eritrea,” tulis polisi Frankfurt di akun Twitter mereka.

Menteri Dalam Negeri Horst Seehofer sangat mengutuk “tindakan mengerikan” dan memperingatkan agar tidak mengambil kesimpulan apa pun karena polisi masih menyelidiki. Seehofer mengatakan dia akan memotong liburannya untuk membahas situasi keamanan dengan para pejabat senior pada hari Selasa dan menginformasikan kepada publik sesudahnya.

Ya, terkait banyaknya kecelakaan penumpang pada peron apakah screen door dibutuhkan? Ternyata penggunaan screen door di peron kereta sangat dibutuhkan untuk keamanan penumpang. Karena bisa mengamankan penumpang baik saat bercanda dengan teman ketika berada dekat peron, menghalangi penumpang mabuk jatuh ke jalur.

Baca juga: Merusak Screen Door di Stasiun Orchard, Pria Muda Didakwa Pengadilan Singapura

Bahkan seringkali ada penumpang yang terpeleset di peron hingga membuatnya jatuh ke jalur kereta.  Seperti baru-baru ini, seorang penumpang tergelincir dan jatuh diantara peron dan kereta Bandara gatwick, Inggris. Akibat insiden itu, kaki perempuan tersebut harus diamputasi karena insiden tersebut. Namun sayangnya hinga kini pun belum banyak stasiun di dunia yang memasang screen door di stasiun.

Gara-gara Monitor Hiburan Rusak, Garuda Indonesia Dituntut Rp100

Tuntutan imateril unik kembali dilayangkan seorang pelanggan pada maskapai Garuda Indonesia. Maskapai milik Indonesia ini dituntut harus memberi ganti rugi sebesar Rp100. Tuntutan tersebut dilayangkan oleh Ketua Komunitas Konsumen Indonesia (KKI) David Tobing.

Baca juga: Soal Kompensasi Akibat Delay, Garuda Indonesia dan David Tobing Sepakat Berdamai

Pasalnya pada Kamis (25/7/2019) kemarin, dirinya sebagai penumpang Garuda Indonesia rute Pontianak menuju ke Jakarta merasa dirugikan akibat monitor di kursi tempat duduknya tidak bisa dinyalakan. Gugatan tersebut disampaikan David melalui pengacaranya Muhamad Ali Hasan SH di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dengan No.433/PDT.G/2019/PN.JKT.

Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, menurutnya ini sebagai maskapai dengan pelayanan full service pihak Garuda tidak boleh menjual tiket untuk bangku yang monitornya tidak bisa dihidupkan atau rusak. Hal ini melanggar ketentuan Pasal 30 ayat (1) Permenhub 185 Tahun 2015 yang mewajibkan maskapai dengan pelayanan full services untuk menyediakan fasilitas diantaranya berupa media hiburan.

Selain menuntut ganti rugi imateril, David dalam gugatannya juga menuntut diberi ganti rugi materil kepada penggugat berupa satu tiket pesawat kelas ekonomi untuk rute penerbangan dari Pontianak menuju ke Jakarta dan dilengkapai media hiburan yang berfungsi dengan baik. Adanya gugatan ini, apakah pihak Garuda Indonesia menanggapinya?

Ternyata PT Garuda Indonesia mengaku sudah membaca isi laporan yang disampaikan oleh penggugat tetapi belum menerima panggilan pengadilan terkait isi dari gugatan itu. VP Corporate Secretary Garuda Indonesia Ikhsan Rosan mengatakan, Garuda Indonesia sendiri siap memenuhi panggilan apabila dilayangkan surat resmi dari pengadilan.

“Jadi terkait dengan laporan itu kita baca. Terus panggilan mungkin belum kita terima tidak tau apakah senin ini atau kapan keluarnya. Kami akan ikuti semua proses di dalam pengadilan termasuk ganti rugi yang diberikan oleh pihak penggugat,” kata Ikhsan yang dikutip dari merdeka.com (27/7/2019).

Atas ketidaknyamanan tersebut, pihak Garuda Indonesia juga tengah meminta maaf kepada pihak penggugat. Ke depan, Garuda ke depan berjanji akan melakukan perbaikan apabila ada hal-hal yang dirasa kurang terkait dengan pelayanan maskapai.

Baca juga: Dalam Wujud Gelang Pintar, Garuda Indonesia dan Indosat Luncurkan “Hajj Tracker”

“Kita mohon maaf atas ketidaknyamanan yang dialami,” tuturnya.

Sebelumnya David Tobing juga pernah menuntut Garuda Indonesia karena tidak memberikan snack saat keterlambatan dari Jakarta menuju ke Batam selama 60 menit atau satu jam.

Kereta Api Ternyata Juga Punya ‘Rahasia’ yang Tidak Diketahui Penumpang

Kereta di Indonesia masih menjadi pilihan moda transportasi yang digunakan oleh masyarakat baik untuk pergi dan pulang kerja ataupun keluar kota. Tapi tahukah Anda bahwa kereta dan isinya memiliki rahasia yang tak diketahui para penumpangnya.

Baca juga: [Tips] Kehabisan Tiket Kereta Lebaran? Jangan Keburu Loyo

Berikut ini ada beberapa rahasia yang mungkin belum diketahui penumpang yang dirangkum KabarPenumpang.com dari thetravel.com (24/7/2019).

1. Masinis tak bisa ubah kecepatan seenaknya
Bila satu dan lain hal yang membuat kereta terlambat maka penumpang kurang beruntung. Karena hal ini, masinis tidak bisa mengganti waktu yang hilang tersebut dan berjalan mengikuti waktu selanjutnya dengan kecepatan kereta yang sudah ditentukan. Perubahan kecepatan laju kereta akan berdampak pada rangkaian kereta lainnya dan dapat beresiko pada keselamatan perjalanan, seperti tabrakan misalnya.

2. Punya istilah khusus
Di kabin pesawat, setiap awak kabin dan pilot punya istilah khusus. Ini juga ada di dalam gerbong kereta. Biasanya untuk mempersingkat perintah dan bila ada penumpang yang mendengar percakapan tersebut tidak akan mengerti dan mungkin bingung.

3. Masinis menutupi sesuatu agar penumpang tenang
Bila ada sebuah kecelakaan atau sesuatu yang tidak beres di jalur atau kereta, masinis tidak akan secara blak-blakan memberitahunya. Mereka akan memberitahukan apa yang terjadi secara singkat. Ini untuk membuat penumpang tenang dan tidak panik.

4. Jangan tarik rem darurat bila lihat penumpang sakit
Tak perlu terburu-buru untuk menarik rem atau memencet tombol darurat di kereta saat melihat penumpang yang sakit. Beritahu petugas keamanan yang ada di dalam kereta agar ada penanganan pertama. Bahkan kalau bisa, tunggu tiba di stasiun selanjutnya agar penumpang sakit tersebut bisa mendapatkan perawatan atau dibawa ke rumah sakit terdekat.

5. Masinis banyak melihat kecelakaan
Sebagai yang mengemudikan kereta, masinis akan menjadi orang pertama di gerbong yang melihat kecelakaan. Mungkin bukan sekali atau dua kali masinis tersebut melihat kecelakaan yang menyebabkan kematian.

6. Berada di tengah
Pilih bagian tengah kereta baik untuk duduk atau berdiri. Bila berdiri selain tidak menggangu penumpang yang akan naik dan turun dari pintu, di bagian rasanya lebih aman. Karena banyak penumpang yang memaksa berdiri di dekat pintu dan ketika terbuka terjatuh hingga membuat cedera.

Baca juga: Perkenalkan Oshiya, “Tukang Dorong” Penumpang Kereta Komuter di Jepang

7. Banyak kuman
Tak hanya pesawat yang memiliki kuman atau bakteri, kereta pun sama, seperti tiang pegangan ataupun kursinya. Meski di bersihkan tetapi untuk menjaga kesehatan, penumpang baiknya membawa handsanitizer ataupun tisu basah untuk meminimalisir kuman yang terpegang ketika memegang tiang.

Menghilangkan Kopilot dari Dunia Penerbangan Sipil, Mungkinkah?

Evolusi yang terjadi pada sektor transportasi memang tidak akan pernah berhenti. Mungkin Anda ssemua masih ingat tentang pemberdayaan autonomous land vehicle seperti mobil dan bus listrik, ada juga kereta api nirawak yang sudah mulai beroperasi di berbagai penjuru dunia. Namun dari sejumlah moda transportasi tersebut, muncul pesawat yang hingga kini masih saja dikemudikan oleh dua orang (pilot dan kopilot).

Baca Juga: Serba Otomatis dan Komputerisasi Turunkan ‘Kemampuan’ Pilot Ketika Mengudara

Kendati berbagai perusahaan dirgantara di luar sana tengah mengembangkan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau yang biasa disebut drone untuk mengangkut penumpang, mungkinkah peran kopilot yang ada di pesawat ditiadakan? Setidaknya, jalan pemikiran ini merupakan ‘jembatan’ menuju pengoperasian pesawat tanpa awak, maklum tekanan dunia akan efisiensi biaya operasional tengah mengemuka di segala sektor transportasi.

Dan dari sekian banyak evolusi yang sudah terjadi pada sektor transportasi, tampaknya nilai utama dari evolusi ini adalah pengurangan pengoperasian kendaraan oleh manusia. Dan apabila nilai tersebut diadopsi pada moda udara, jawabannya adalah tidak mungkin – setidaknya dalam waktu dekat ini. Air Line Pilots Association (ALPA) menyebutkan bahwa teknologi otomatisasi yang ada saat ini belum mampu mengalahkan kinerja manusia – dalam hal ini adalah seorang pilot atau kopilot.

“Sampai teknologi otomatis dapat memberikan tingkat kesadaran situasional, komunikasi, dan penilaian yang sama dengan manusia, dua pilot di dalam kokpit akan tetap menjadi kebutuhan utama dalam dunia penerbangan untuk mencapat keselamatan yang maksimal,” tulis ALPA, dikutip KabarPenumpang.com dari laman thepointsguy.co.uk (21/7).

Namun jika lebih peka lagi terhadap pemberitaan terkait sektor aviasi, keberadaan dua pilot ini bisa dibilang sudah paling ideal untuk mengoperasikan jalur udara – mengingat tugas ko-pilot yang didaulat sebagai ‘cadangan’ ketika sang pilot mengalami kesulitan atau kejadian di luar dugaan (sakit, hilang kesadaran, dll).

Itu baru dari segi teknis, belum lagi dari segi kenyamanan penumpang yang mungkin akan sedikit was-was ketika mendengar pesawat yang ditumpanginya itu hanya dioperasikan oleh satu pilot saja. Bukan tidak mungkin apabila stigma, “Nanti kalau pilotnya mengalami kendala, siapa yang akan mengendalikan pesawat?” seperti ini akan muncul di benak masing-masing penumpang.

Baca Juga: Kembangkan Teknologi Autopilot, Boeing Tawarkan Self Flying Plane

Maka dati itu, peran teknologi otomatisasi memang benar-benar harus dipatenkan agar dapat menghasilkan trust di setiap lini – baik dari pihak maskapai yang tidak perlu ragu lagi untuk mengoperasikan pesawat dengan satu pilot, hingga penumpang yang akan merasa nyaman ketika pesawat yang ditumpanginya dioperasikan hanya oleh satu orang saja.

Mungkin saja pesawat dengan kemudi satu orang beroperasi, namun dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mengembangkan sistem otomatis yang lebih andal dari seorang ko-pilot.

 

Omnibus, Jenis Bus Awal Abad Ke-19 yang Ditarik Kuda

Menapaki sejarah transportasi dunia sepertinya tak akan habis. Sebab di dunia banyak transportasi yang bisa digunakan secara umum dengan mengangkut penumpang yang banyak atau massa. Kali ini yang akan dibahas adalah sejarah transportasi bus umum dunia.

Baca juga: Screecher, Moda Kayuh Roda Empat yang Unik nan Fleksibel

KabarPenumpang.com merangkum dari laman gogocharters.com, sejak 1820-an ternyata moda transportasi umum sudah hadir di seluruh dunia. Selain memberi dampak dalam perjalanan tetapi juga pada penataan kota secara umum.

(Gail Thornton)

Saat layanan bus pada awalnya mulai bermunculan di seluruh dunia, pengangkutan dari satu titik ke titik lainnya menjadi lebih mudah. Ini juga menyamakan kesenjangan antara pusat kota dengan daerah pinggiran.

Kali ini yang akan dibahas adalah Omnibus. Apasih itu? Ini adalah sebuah bus yang ditarik dengan kuda dan menjadi papan iklan berjalan karena di pasangi spanduk bagian atasnya. Omnibus hadir tahun 1826 silam dengan sebuah gerbong penumpang yang bisa ditarik oleh satu hingga tiga ekor kuda sekaligus tergantung ukurannya.

Omnibus terbesar yang pernah ada yakni mampu mengangkut 42 orang penumpang dan membutuhkan tiga ekor kuda untuk menariknya. Bahkan ada beberapa yang bisa ditumpangi hingga ke bagian atapnya atau istilah kerennya bus tingkat.

Awal adanya Omnibus sendiri di Perancis yang menguji konsep angkutan umum ini. Dimana para royalti dan rakyat jelata bisa naik berkeliling kota. Sayangnya gagasan ini tersendat dan pada tahun 1828, New York menetapkan Omnibusnya sendiri dan di ikuti oleh kota di Amerika Serikat lainnya serta Eropa.

Sementara seluruh ide “transportasi umum” secara umum dianggap sebagai hal yang positif, Omnibus menawarkan perjalanan yang sangat tidak nyaman. Sebab Omnibus hadir dengan kursi tanpa bantalan, dan penumpang bisa merasakan goyangan dan benturan di jalan berbatu yang tidak rata sehingga membuat pengalaman yang tidak menyenangkan.

Baca juga: Pownis, Mobil Kayu Berbahan Bakar Solar dan Bensin

Belum lagi, dengan harga 12 sen per perjalanan terlalu mahal bagi sebagian besar warga kota. Namun, pada akhirnya, Omnibus menemukan audiensnya di kelas menengah reguler dimana mereka menganggap terlalu mahal ketika bepergian dengan kereta kuda pribadi. Omnibus ini bertahan cukup lama bila dilihat dari banyaknya peningkatan di tahun-tahun berikut.

Pertahankan Ikon “Bikun,” TransJakarta Rilis Dua Opsi Desain untuk Universitas Indonesia

Jelang operasional bus kampus baru untuk Universitas Indonesia (UI) pada 1 Agustus 2019, pihak penyelenggara angkutan, yaitu PT TransJakarta telah merilis dua desain bus kampus khas UI – Bis Kuning (Bikun). Sebagai platform kendaraan tetap memgandalkan bus lower deck dari MetroTrans. Nantinya Bikun Next Generation ini akan melayani lebih dari 40 ribu mahasiswa UI.

Baca juga: Mulai Agustus 2019, MetroTrans Gantikan “Bikun” di Kampus UI Depok

Dikutip dari keterangan Humas PT TransJakarta, dua pilihan desain bis kuning dibuat khusus oleh TransJakarta agar tidak menghilangkan identitas ikon bus kuning legendaris yang sebelumnya telah melayani keseharian mahasiswa berpindah dari satu fakultas ke fakultas lain sejak UI didirikan.

Bus Kuning UI yang dilansir oleh TransJakarta nantinya akan menggunakan jenis MetroTrans yang memiliki karakteristik pijakan Rendah dan ramah disabilitas. Kapasitas satu bus terdiri dari 34 tempat duduk dan mampu menampung 20 orang tambahan pada posisi berdiri.

TransJakarta mengeluarkan dua opsi desain, opsi pertama adalah bus berwarna kuning di keseluruhan badannya dan disamping kiri kanan terdapat logo TransJakarta disertai simbol tanda contreng khas bermakna Lebih baik dan Logo Universitas Indonesia. Desain ini menggambarkan kerjasama kedua belah pihak dengan tidak menghilangkan ciri khas dari masing-masing instansi.

Opsi kedua berwarna kuning khas Universitas Indonesia dengan Aksen daun dan Contreng khas Transjakarta, daun yang ada pada desain tersebut menggambarkan kepedulian terhadap lingkungan hidup seperti yang sudah ada pada desain bus kuning UI sebelumnya, sedangkan contreng disamping logo transjakarta menggambarkan upaya pelayanan dan jangkauan semakin baik untuk seluruh kalangan warga DKI dan sekitarnya.

Desain yang sudah disiapkan oleh PT TransJakarta kini sedang dimusyawarahkan di dalam lingkungan Universitas Indonesia untuk dapat dipilih satu desain yang akan direalisasikan.
Keseluruhan Bus yang akan dipakai sudah dilengkapi dengan OBU (On Board Unit) suatu alat yang berfungsi untuk menginformasikan titik lokasi bus dan keadaan sekitar bus yang kemudian dikoordinasikan ke Ruang Control Command Center Transjakarta sehingga kedatangan dan jarak tempuh bus dapat diketahui dari ruang pusat kendali transjakarta. Alat ini juga memberikan informasi kepada pelanggan melalui PIS (Passanger Information Sistem) dan Aplikasi Resmi Transjakarta ‘TijeKu’.

Baca juga: “Bikun,” Bus Kampus Yang Kadung Jadi Legend

TransJakarta kini sedang melakukan ujicoba rute selama 7 (tujuh) hari guna mempelajari ritme perjalanan sebagai bahan evaluasi untuk Memastikan keseluruhan rute dapat dilayani dengan baik.

Tengah Dikaji Pemerintah, Apakah O-Bahn Bakal Mengular di Indonesia?

Kemacetan banyak dialami oleh kota-kota besar di Indonesia, karena hal ini membuat pemerintah mencari moda transportasi yang tepat untuk mengatasinya. Bahkan, belakangan nama O-Bahn sering disebut pihak pemerintah untuk membantu mengatasi masalah kemacetan khususnya di Jakarta padahal sudah ada TransJakarta, MRT dan LRT.

Baca juga: Skybridge MRT Jakarta Hubungkan Poins Square dan Halte TransJakarta

Namun, apasih O-Bahn yang tengah direncakan oleh pemerintah tersebut? O-Bahn, merupakan moda transportasi yang menggabungkan elemen-elemen dari sistem bus dan kereta api ini memiliki jalur yang dibangun secara khusus. Tak hanya melalui jalur khusus, O-Bahn juga bisa melaju di jalur biasa.

Kendaraan percampuran antara BRT dan LRT ini mampu mengangkut 20 persen lebih banyak dibandingkan TransJakarta. Kecepatan melaju O-Bahn pun bisa lebih tinggi karena memiliki jalur sendiri.

Sayangnya harga penyediaan O-Bhan ini lebih mahal dibandingkan BRT tetapi lebih murah daripada membangun LRT. Meski daya angkutnya sama dengan BRT O-Bahn yang melaju di jalan biasa atau rel bisa menempuh waktu lebih cepat. Sehinga dalam periode yang sama, bisa mengangkut penumpang lebih banyak.

Bus ini memiliki roda pandu yang berada di samping ban depan bus. Roda pandu ini menyatu dengan batang kemudi roda depan, sehingga ketika bus memasuki jalur O-Bahn, supir tak perlu lagi mengendalikan arah bus karena roda pandu akan mengarahkan bus sesuai dengan arah rel pandu serta mencegah bus terperosok ke celah yang ada di jalur.

Biasanya O-Bahn menggunakan bus gandeng dan bisa membantu mengurangi jeda antar bus yang bermanfaat di jam-jam sibuk. Dari sisi kecepatan tempuh, O-bahn bisa melesat lebih cepat ketimbang BRT. Bahkan sampai di atas 80 km per jam pada jalur khusus. Sedangkan kecepatan BRT rata-rata hanya 60 km per jam.

Sistem ini sendiri pertama kali digunakan di Kota Essen, Jerman dan tahun 1986 diperkenalkan di Adelaide untuk melayani pinggiran kota timur laut yang berkembang pesat menggantikan rencana sebelumnya untuk perluasan jalur trem. Selain itu juga sudah diterapkan di Nagoya, Jepang.

Direktur Jenderal Perkeretaapian Zulfikri mengatakan, ide ini datang dari daerah-daerah yang tidak terakses angkutan kereta. Mengenai kota yang tepat untuk diterapkan angkutan moda anyar itu, Zulfikri berujar perlu kajian mendalam. Karena itu, ia pun belum bisa memastikan kapan O-Bahn bisa diterapkan di Indonesia.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan gagasan itu muncul sebagai jawaban dari permintaan Presiden Joko Widodo untuk mengatasi kemacetan di sejumlah kota besar di Indonesia. Kota yang disebut Budi antara lain Surabaya, Bandung, Makassar, Medan, Palembang, hingga Yogyakarta.

Baca juga: Dilengkapi 17 Stasiun, LRT Jabodebek Siap Mengular di 2021

Munculnya O-Bahn, kata Budi, bisa merevolusi transportasi umum di Indonesia dan bisa membuat perjalanan masyarakat lebih mudah.

“Dengan mengedepankan smart city. Kemenhub sedang melakukan kajian tentang transportasi ini untuk diterapkan di Indonesia,” kata Budi yang dikutip KabarPenumpang.com dari tempo.co (24/6/2019)