Gubeng, Angkut Hasil Bumi Hingga Serdadu Belanda, Inilah Stasiun Kebanggaan Arek Suroboyo!

Sumber: istimewa

“Naik kereta api, tut tut tuuut.. Siapa hendak turut? Ke Bandung, Surabaya.. Bolehlah naik dengan percuma?”

Ya, penggalan lirik dari lagu ciptaan Ibu Soed berjudul Kereta Apiku (Naik Kereta Api) ini seolah sudah jadi lagu wajib setiap anak-anak di Indonesia. Terkait dengan lirik lagu tersebut, jika Bandung terkenal dengan Stasiun Bandungnya, maka Surabaya memiliki Stasiun Surabaya Gubeng. Kendati ada Stasiun Turi yang juga terkenal, namun stasiun yang terletak di Jalan Gubeng Masjid, Kelurahan Gubeng, Kecamatan Gubeng, Kota Surabaya ini memiliki sejarah yang menarik untuk dibahas.

Baca Juga: Stasiun Bandung, Gerbang Masuk Pelancong Yang Jadi Saksi Bisu Suburnya Tanah Priangan

Berada di bawah naungan PT KAI Daerah Operasi (Daop) 8, Stasiun Gubeng melayani keberangkatan kereta api dari Surabaya via jalur selatan menuju ke Bandung maupun Jakarta. Kala diresmikan pada 16 Mei 1878, Stasiun Gubeng merupakan salah satu stasiun kereta api milik Staatsspoorwegen (perusahaan kereta api Hindia Belanda) yang menjadi bagian dari proyek pembangunan jalur kereta api Soerabaja–Pasoeroean.

Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman kereta-api.info, sama halnya seperti Stasiun Bandung, pada masa awal berdirinya, Stasiun Gubeng ditujukan untuk mengangkut hasil bumi dan perkebunan dari daerah pelosok Jawa Timur, khususnya dari Malang, ke Pelabuhan Tanjung Perak yang juga mulai dibangun sekitar tahun itu. Beberapa tahun berselang, stasiun yang mulai dibangun pada 1870-an ini pun sempat beralih fungsi menjadi hub para serdadu Belanda yang akan dikirim ke berbagai daerah yang mengalami gejolak perlawanan dari kaum pribumi khususnya di sekitar Surabaya dan Pulau Jawa.

Stasiun Gubeng Lama. Sumber: istimewa

Tercatat, sejumlah renovasi pun dilakukan terhadap Stasiun Gubeng ini, seiring dengan Surabaya yang sudah resmi ‘naik kelas’ menjadi sebuah Kotamadya. Renovasi pertama terjadi pada tahun 1905 dimana atap peron menjadi fokus pembenahan ini. Kemudian pada tahun 1928, atap bangunan utama pun tak luput dari sasaran perbaikan. Dan renovasi paling besar terjadi pada tahun 1990-an, dimana sebuah bangunan baru berarsitektur modern didirikan di sebelah timur rel, dengan tujuan agar stasiun kebanggaan Arek Suroboyo ini dapat menampun jumlah penumpang yang lebih banyak.

Stasiun Gubeng Baru. Sumber: Heritage – Kereta Api Indonesia

Mengingat Stasiun Gubeng Lama didirikan ketika masa kolonial Belanda, maka tidak heran jika stasiun ini memiliki gaya bangunan kebelanda-belandaan atau Indische. Gaya ini ditandai dengan bangunan tembok tinggi kokoh yang pada pinggiran atapnya biasa diberi ornamen besi tempa, serta menggunakan jendela yang besar-besar dan memakai jalusi besi.

Baca Juga: Jejak Sejarah Yang Terlupakan, Stasiun Gambir Dulunya Adalah Tanah Rawa

Karakter arsitektur bangunan pintu utama Stasiun Gubeng Lama tampak begitu kokoh namun terkesan terbuka karena di sampingnya berjejer jendela-jendela lengkung yang berderet di sepanjang teras. Karena bentuknya yang unik nan artistik, tidaklah mengejutkan jika bangunan utama Stasiun Gubeng Lama menjadi salah satu bagian dari daftar Cagar Budaya yang ada di Kota Pahlawan ini.

Hingga kini, stasiun yang memiliki enam jalur utama dengan tujuh peron ini masih berdiri kokoh dan melayani puluhan keberangkatan dan kedatangan kereta api dari berbagai wilayah di Pulau Jawa.