Dapat Tindakan Diskriminasi, Penumpang AS Keturunan India Laporkan Aeroflot

Aeroflot

Maskapai plat merah Rusia, Aeroflot, diwartakan telah memberikan perlakuan tidak menyenangkan kepada sejumlah pelancong muslim saat akan naik ke pesawat miliknya. Hal ini lantaran warna kulit mereka, sehingga tidak diperbolehkan naik dalam pesawat Aeroflot tujuan Amerika.

Baca juga: Aeroflot Terkena Turbulensi Langit Cerah, 27 Penumpang luka Serius

Masalah ini baru diketahui melalui surat komplain yang ditujukan pada badan transportasi udara di Washington DC beberapa hari yang lalu. Protes tersebut dilayangkan oleh sejumlah warga negara Amerika keturunan India Muslim.

KabarPenumpang.com merangkum dari laman independent.co.uk (27/3/2018), diketahui peristiwa tersebut terjadi pada 7 Januari 2018 kemarin dimana para pelancong tersebut terdampar selama transit di Moskow karena salju tebal di New York yang membuat mereka tidak bisa terbang langsung menuju bandara JFK. Diduga Aeroflot mengatakan kepada para pelancong tersebut bahwa mereka harus kembali ke Delhi bukan New York dikarenakan warna kulit mereka.

Salah seorang staf Aeroflot bahkan mengatakan pada para pelancong Amerika yang merupakan keturunan India akan mendeportasi mereka jika menolak naik ke dalam pesawat. Padahal lima orang dari pelancong ketururan India tersebut dengan jelas memberikan paspor Amerika yang mereka miliki.

Saat itu, Aeroflot mengatakan kepada lima penumpang tersebut dimana tidak ada kursi yang tersedia untuk penerbangan alternatif mereka dari Moskow menuju Amerika Serikat. Tetapi ada dugaan dimana maskapai tersebut menawarkan kepada penumpang kulit putih untuk penerbangan alternatif.

Sebenarnya para penumpang Amerika Serikat keturunan India tersebut menolak untuk transit, sebab dalam hukum Rusia, penumpang transit tak bisa meninggalkan Bandara Sheremetyevo atau tetap di negara tersebut selama 24 jam. Karena masalah ini, penumpang tersebut kemudian menelpon kedutaan Amerika Serikat yang ada di Moskow, namun pihak Aeroflot tetap menolak untuk berbicara dan kembali menegaskan mereka akan di deportasi jika tidak ingin kembali ke India.

Kelima penumpang tersebut ialah Marc Fernandes yang terbang bersama pasangannya Shahana Islam dan adik-adik Shahana yaitu Sabiha Islam, Bakiul Islam, dan Anshul Agrawal. Namun, akhirnya mereka kembali melakukan perjalanan ke India bersama dengan 20 penumpang lainnya.

Setibanya di Delhi, mereka juga harus menunggu seminggu dikarenakan penerbangan Aeroflot ke New York tidak ada. Empat dari mereka kemudian menggunakan Qatar Airways untuk kembali ke Washington DC dengan menghabiskan cukup banyak uang. Sedangkan Anshul Agrawal terbang menuju Miami menggunakan Aeroflot setelah enam hari kemudian.

“Saya kehilangan waktu kerja satu minggu dan pasti tidak akan diizinkan untuk liburan tahun ini. Saya menghadapi tekanan mental yang luar biasa. Saya telah terbang selama lebih dari 17 tahun dan tidak pernah dilecehkan atau diperlakukan seperti ini,” tulis Agrawal di akun Facebook-nya.

Pengacara di Muslim Advocates, Juvaria Khan mengatakan, perilaku Aeroflot menggemparkan dan melampaui hal yang tidak seharusnya. Keluhan yang diajukan ke Departemen Transportasi Amerika Serikat harus dilakukan penyelidikan penuh dan menyeluruh serta meminta pertanggungjawaban Aeroflot atas tindakan diskriminatif yang mereka lakukan.

Karena masalah ini, Aeroflot dikenakan denda oleh otoritas Amerika Serikat karena melanggar aturan perlindungan penumpang Amerika Serikat.

“Keluhan ini adalah untuk memastikan bahwa pesan yang jelas dan tegas dikirim ke seluruh dunia ke maskapai manapun yang memilih bekerjasama dengan Amerika Serikat. Dimana tidak akan diterima dan di toleransi jika warga Amerika Serikat mendapat perilaku buruk karena ras, agama, etnis ataupun orientasi seksual mereka,” ujar Waleed Nassar partenr Lewis Baach.

Baca juga: Diskriminasi Penumpang Israel, El Al Tolak Turunkan Dana Kompensasi

Karena adanya masalah ini Aeroflot mengatakan, pihaknya jelas gagal memenuhi standar pelayanan tinggi dalam insiden tersebut. Ini terjadi lebih dari dua bulan lalu dan pihak Aeroflot telah menghubungi para penumpang dan menawarkan permintaan maaf. “Penyelidikan internal kami yang menyeluruh menetapkan bahwa ini bukan kasus diskriminasi berdasarkan penampilan, dan kami tidak menerima karakterisasi ini dalam keluhan,” kata pihak Aeroflot.