Bagi sebagian besar pekerja Kantoran, perjalanan lintas kota atau memakan waktu lebih dari dua jam setiap hari menuju tempat kerja sudah dianggap sangat menguras tenaga. Namun, dalam dunia penerbangan, tidak sedikit awak kabin (flight attendant) maupun pilot yang justru memilih tinggal di kota lain—bahkan negara lain—yang jaraknya ratusan hingga ribuan mil dari bandara basis tempat mereka ditugaskan (home base).
Fenomena yang dikenal di industri penerbangan sebagai commuting by air ini melibatkan para awak kabin yang harus terbang menumpang penerbangan lain terlebih dahulu hanya untuk mencapai bandara awal tugas mereka. Di balik risiko kelelahan dan kerumitan logistik tersebut, terdapat sejumlah alasan strategis mengapa profesi ini memilih gaya hidup commute jarak jauh.
1. Fleksibilitas Menentukan Tempat Tinggal dan Keseimbangan Hidup
Salah satu keunggulan terbesar bekerja di maskapai penerbangan adalah kebebasan relatif untuk memilih tempat tinggal. Banyak bandara pusat (hub) utama tempat awak kabin ditempatkan berada di kota-kota megapolitan dengan biaya hidup (cost of living) dan harga hunian yang sangat tinggi, seperti New York, San Francisco, atau London.
Dengan memilih commute, awak kabin dapat tetap tinggal di kota-kota kecil atau daerah yang harga propertinya jauh lebih terjangkau. Bahkan bagi penerbangan lintas negara, perbedaan nilai tukar mata uang memungkinkan awak kabin menikmati standar hidup yang lebih tinggi di negara asalnya sembari memegang gaji berstandar bandara hub utama. Selain urusan finansial, keberadaan keluarga, pasangan yang bekerja di lokasi tertentu, hingga sekolah anak menjadi alasan kuat mengapa mereka enggan berpindah domisili setiap kali mendapatkan alokasi basis baru.
2. Alokasi Base dan Tingkat Senioritas (Seniority)
Di awal karier, pramugari atau pramutra umumnya tidak memiliki kebebasan penuh untuk memilih bandara base mereka. Maskapai menempatkan anggota kru baru sesuai kebutuhan operasional, yang kerap kali berlokasi jauh dari kampung halaman sang awak kabin.
Bagi mereka yang berada di tingkat senioritas rendah (junior), opsi untuk mengajukan pindah base membutuhkan waktu bertahun-tahun. Dibandingkan harus memindahkan seluruh kehidupan dan rumah tangganya secara permanen ke kota base yang belum tentu bertahan lama, banyak awak kabin muda memilih untuk commute secara berkala hingga senioritas mereka cukup untuk mengajukan mutasi ke bandara yang diinginkan.
3. Fasilitas Staff Travel dan Standby Flight
Sistem perjalanan commute ini dimungkinkan berkat adanya fasilitas staff travel atau tiket konsesi yang disediakan oleh maskapai maupun jaringan kemitraan antar-maskapai. Awak kabin dapat terbang menuju base mereka tanpa biaya atau dengan biaya yang sangat terpotong.
Kendati demikian, penerbangan ini menggunakan status standby (non-revenue). Artinya, awak kabin baru bisa mendapatkan kursi jika seluruh penumpang berbayar telah terakomodasi. Risiko tidak mendapatkan tempat duduk di tengah tingginya tingkat keterisian pesawat (load factor) menjadi tantangan tersendiri, sehingga para commuter harus memperhitungkan jadwal penerbangan cadangan jauh-jauh hari agar tidak terlambat melapor untuk dinas (check-in duty).
Sisi Lain: Risiko Kelelahan dan Pengeluaran Tambahan
Meski menawarkan fleksibilitas gaya hidup, commuting antar-kota atau lintas negara bukan tanpa kendala. Maskapai penerbangan pada dasarnya tidak mendorong skenario ini karena potensi risiko keterlambatan serta manajemen risiko kelelahan (fatigue). Sebelum memulai tugas penerbangan jarak jauh, awak kabin dituntut berada dalam kondisi fisik yang prima.
Selain itu, biaya tambahan seperti sewa crash pad (hunian bersama sementara untuk kru) atau hotel di dekat bandara base sebelum hari H penerbangan, hingga pajak atau retribusi bandara tertentu pada tiket standby, tetap membutuhkan alokasi anggaran pribadi yang tidak sedikit.
Pada akhirnya, commuting by air adalah bentuk penyesuaian gaya hidup unik di industri penerbangan. Bagi para awak kabin yang telah terbiasa, pengorbanan waktu dan tenaga di perjalanan terbayar dengan kualitas waktu istirahat yang utuh bersama keluarga di rumah saat hari libur tiba.
“Jam Tubuh” Berubah, Pilot dan Awak Kabin Berpotensi Kelelahan Fisik dan Mental
