Mesin Self Service di Bandara Ternyata Jadi ‘Sarang’ Kuman dan Bakteri

Ilustrasi menggunakan self service check in di bandara (The Sun)

Anda masih ingat dengan penelitian di Inggris yang mengungkapkan bahwa di smartphone atau tablet terdapat lebih banyak kuman dan bakteri dibandingkan pada toilet duduk. Penelitian tersebut meneliti kurang lebih 90 perangkat dan menemukan bahwa pada perangkat-perangkat tersebut terdapat jumlah bakteri yang sangat banyak, termasuk bakteri E. Coli, yang bisa menyebabkan penyakit.

Baca juga: Bilik Toilet di Bandara Narita Dilengkapi Kertas Tisu Untuk Smartphone

Dan, sudah barang tentu bagian terbesar yang terpapar bakteri di smartphone dan tablet ada di bagian layar (screen). Ini wajar mengingat layar adalah bagian yang paling aktif di sentuh untuk melakukan navigasi menu. Dan ada kabar lain yang dirilis dari situs thesun.co.uk (8/2/2018), yang menyebut bahwa mesin self service, seperti self check in counter dan self baggage drop di bandara ternyata juga menjadi ‘sarang’ berdiamnya banyak kuman.

Ya dibandingkan smartphone, sudah barang tentu layar sentuh pada mesin self service punya ukuran yang lebih besar. Parahnya mesin self service ini memiliki sekitar seribu bakteri lebih banyak dari pada tempat duduk umum di bandara.

Hal ini didapat dari studi yang dilakukan oleh Insurance Quotes dimana melakukan tes untuk mengukur jumlah unit pembentuk koloni atau colony forming units (CFU) atau bakteri per inci persegi di beberapa daerah yang sering digunakan. Dari hasil studi, ditemukan 256.875 CFU di satu buah layar check in mandiri.

(The Sun)

Hitungannya kini satu juta CFU per inci persegi, sehingga baiknya Anda membawa ekstra pencuci tangan untuk membersihkan dari kuman dan bakteri yang menempel. Tak hanya itu, tangan yang bertumpu pada kursi di bandara juga sangat kotor.

Di kursi diketahui 21.360 CFU dan tombol air keran rata-rata memiliki 19.181 CFU yang tersebar di sekitarnya. Sedangkan perbandingan perangkat yang ada di toilet hanya ada 172 CFY per inci perseginya dan hasil ini tidak buruk sama sekali.

Tak hanya ittu, flush toilet pesawat dan meja lipat di pesawat juga terdapat bakteri. Namun lebih sedikit dibandingkan dengan yang lainnya. Hal ini bisa membuat satu dari lima penumpang terjangkit flu setelah penerbangan.

Para ahli mikrobiologi yang telah meneliti pesawat terbang menemukan kuman ini bisa hidup dan dapat bertahan berjam-jam atau berhari-hari setelah penumpang membawa mereka masuk dalam kabin. Biasanya virus bakteri yang bisa tinggal lebih dari seminggu dalam kabin yakni MRSA dan E coli.

Tak hanya itu, kuman dan bakteri penyebab influenza serta penyebab penyakit kulit hingga gangguan perut juga mampu bertahan lama. Dari beberapa penelitian lain, kelembaban udara kabin yang rendah juga bisa membuat kuman menempel pada tubuh penumpang.

Hal ini terlihat dari kelembaban udara yang mengganggu sistem pembersihan Mucociliary. Sistem ini terdiri dari lapisan tipis lendir dan rambut halus di hidung yang bisanya menjebak virus serta bakteri agar masuk ke tenggorokan melalui hidung dan dihancurkan oleh cairan asam di perut.

Jika sistem ini berfungsi tidak baik, maka bakteri dan virus akan lebih mudah masuk ke paru-paru. Apalagi di dalam pesawat penumpang yang ada dari berbagai negara atau kota dan membawa kuman yang berbeda-beda.

Baca juga: Meski Terlihat Bersih, Kursi dan Meja Lipat di Kabin Pesawat Dipenuhi Bakteri

Sebenarnya untuk terhindar dari penyakit seperti influeza dan berbagai penyakit lain yakni tidak menyentuh mata, mulut dan hidung dengan tangan. Memang sulit, tetapi cara ini lebih baik.

Sehingga jika ingin menyentuh baiknya bersihkan tangan dengan mencuci menggunakan sabun dan air. Tak hanya itu Anda juga bisa menggunakan hand sanitaiser yang mengandung setidaknya 60 persen alkohol. bersihkan tangan sebelum dan sesegera setelah penerbangan.