Jalur Kereta di Sulawesi, Nyaris Tak Terdengar Tapi Ada Bukti Jejak Sejarahnya

Jejak sejarah jalur kereta api di Sulawesi (Wikipedia)

Selain di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera, jejak jalur kereta api peninggalan masa kolonial juga terdapat di Pulau Madura. Tak seperti di Jawa dan Sumatera, yang disebut terakhir nyaris terlupakan, karena tak lagi dioperasikan sejak lama. Namun, apakah Belanda hanya meninggalkan jejak jalur kereta di Jawa, Sumatera dan Madura?

Baca juga: Jalur Kereta di Pulau Madura, Terlupakan Meski Nyaris Dihidupkan Kembali

Ternyata tidak, walau hanya terbentang puluhan kilometer, fakta sejarah menyebut bahwa di Pulau Sulawesi juga ada jalur rel kereta. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber jalur kereta ini terbentang dari Makassar menuju Takalar. Panjang jalurnya adalah 47 km dan menjadi satu-satunya jalur kereta api buatan Belanda yang ada di Pulau Sulawesi dan pernah dilewati Takalar Express.

Dibangun tahun 1922, proyek pengerjaan jalur kereta ini sempat berhenti karena Perang Dunia I dan akhirnya diremsikan pada 1 Juli 1923. Jalur kereta api ini menghubungkan Passer Boetoeng, Sungguminasa hingga Takalar. Sayangnya jalur kereta ini tidaklah beroperasi dalam waktu lama. Sebab moda transportasi lainnya seperti mobil dan truk masih lebih efektif dibandingkan kereta api.

Bangunan stasiun Takalar yang menjadi rumah (Kompas)

Hal ini juga dikarenakan jalur kereta api yang terbatas dan tidak menjangkau semua daerah. Pada 1827, banyak kritik yang disampaikan kepada Staatsspoorwegen (SS) sebagai pihak pengelola.

Sehingga masyarakat Celebes (Sulawesi) kehilangan daya tarik untuk menggunakan kereta api. Meski tak lagi beroperasi, salah satu stasiunnya hingga kini masih berdiri kokoh, bahkan dijadikan rumah tinggal.

Stasiun Takalar yang berada di pesisir Cilalang desa Takalar masih berdiri dan menjadi saksi sejarah adanya jalur kereta di Sulawesi. Dulunya di stasiun ini ada meja putar lokomotif dan sarana lainnya seperti dipo dan bak penampungan air untuk lokomotif uap. Stasiun Takalar sendiri kini sudah menjadi benda cagar budaya.

Tak hanya stasiun Takalar, tetapi ada juga jejak jalur kereta ini yang masih bisa ditelusuri dan sebagian lainnya sudah dijadikan saluran irigasi. Jalur kereta yang berubah menjadi saluran irigasi dimulai setelah stasiun Kalukuang.

Baca juga: Jalur Kereta Rangkasbitung-Saketi-Labuan Kembali Direaktivasi

Bekas jembatan kereta api di Rappokaleleng juga masih terlihat dan jembatan kereta di atas sungai Palekkok kini digunakan untuk saluran irigasi. Untuuk menemukan jalur kereta yang tersisa ini cukup sulit sebab tidak diberi penanda yang memadai.

Sebenarnya, jika dihidupkan kembali, jalur ini sangat menarik dan bisa meningkatkan potensi wisata sejarah Makassar. Selain itu juga bisa mengeksplorasi desa Takalar sendiri.