Hadirkan Empat Kereta Baru, KAI Berlakukan Gapeka 2019

Penghujung tahun 2019, PT Kereta Api Indonesia (KAI) menghadirkan empat kereta barunya. Kereta tersebut adalah Anjasmoro Ekspres, Dharmawangsa Ekspres, Sancaka Utara dan Argo Cheribon. Keempat kereta baru ini melayani kelas ekonomi bisnis dan eksekutif dan harganya beragam.

Baca juga: PT KAI Sambungkan Semarang-Demak-Kudus-Pati dengan Angkutan Terusan

Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Anjasmoro Ekspres akan melayani relasi Jombang-Yogyakarta-Pasar Senen, Dharmawangsa Ekspres melayani relasi Surabaya Pasar Turi – Pasar Senen. Sedangkan Sancaka Utara relasi Surabaya-Pasar Turi-Gambringan-Solo Balapan-Kutoarjo dan Argo Cheribon relasi Pemalang – Gambir serta Tegal – Pemalang.

Direktur Utama PT KAI Edi Sukmoro mengatakan bahwa masyarakat sudah bisa memesan tiket pada tanggal 1 November 2019 untuk jadwal keberangkatan 1 Desember 2019. Untuk pemesanan tiket ini dilakukan secara bertahap dan berlaku di semua kanal pembelian.

“Saya mengimbau kepada calon penumpang KA dengan keberangkatan 1 Desember 2019 dan seterusnya agar memerhatikan lagi jadwal yang tertera di tiket. Tujuannya agar tidak tertiggal kereta, karena sudah diberlakukannya Grafik Perjalanan Kereta Api (Gapeka) 2019,” kata Edi yang dikutip dari kompas.com, Jumat (1/11/2019).

Untuk tarif tiket kereta ini dibanderol variasi yakni KA Anjasmoro Ekspres dari Rp270 ribu sampai Rp380 ribu, KA Dharmawangsa Ekspres Rp160 ribu sampai 410 ribu. KA Argo Cheribon Rp40 ribu sampai Rp240 ribu dan KA Sancaka Utara sekitar Rp190 ribu sampai Rp280 ribu.

VP Public Relation PT KAI Edy Kuswoyo mengungkapkan KA Anjasmoro Ekspres menghadirkan 600 kursi dengan 200 kelas eksekutif dan 400 lainnya kelas ekonomi, KA Dharmawangsa Ekspres kursi yang tersedia 786 dengan pembagian 150 kursi eksekutif dan 636 kursi kelas ekonomi. KA Argo Cheribon menyediakan kursi 330 dengan 250 untuk kelas eksekuti dan 80 kelas ekonomi serta KA Sancaka Utara sebanyak 456 kursi kelas bisnis dan eksekutif.

Diketahui adapun rincian pengaruh dari penggunaan Gapeka 2019: Perubahan relasi KA Argo Wilis relasi Surabaya Gubeng-Bandung, menjadi relasi Surabaya-Gubeng-Bandung-Gambir (pp), KA Turangga relasi Surabaya Gubeng-Bandung, menjadi relasi Surbaya Gubeng-Bandung-Gambir (pp), KA Mutiara Selatan relasi Bandung-Surbaya Gubeng-Malang, menjadi relasi Gambir-Bandung-Surbaya Gubeng-Malang (pp).

KA Joglosemarkerto relasi Semarang Tawang-Tegal-Purwokerto-Solo-Semarang Tawang, menjadi relasi Solo-Tegal-Purwokerto-Solo-Semarang Tawang, KA Joglosemarkerto relasi Yogyakarta-Solo-Semarang Tawang, menjadi relasi Yogyakarta-Solo. Perubahan waktu tempuh KA Pasundan relasi Bandung Kiaracondong-Surabaya Gubeng akan mengalami pengurangan waktu tempuh sebesar 82 menit, dari sebelumnya 16 jam 7 menit menjadi 14 jam 45 menit.

Baca juga: Hanya Bisa Pesan Tiket H-30 Sebelum Keberangkatan, PT KAI Sukses Ambil Alih KAI Access?

KA Brantas relasi Blitar ke Pasar Senen mulai 1 Desember 2019 akan mengalami pengurangan waktu tempuh sebesar 54 menit, dari sebelumnya 15 jam 4 menit menjadi 14 jam 10 menit. KA Singasari relasi Blitar ke Pasar Senen mulai 1 Desember 2019 akan mengalami pengurangan waktu tempuh sebesar 45 menit, dari sebelumnya 15 jam 55 menit menjadi 15 jam 10 menit.

Desainer Ferrari Rancang Halte Bus Canggih dengan Konsep Alami

Jika selama ini kita melihat halte bus hanya berupa sebuah ruang beratap yang dilengkapi dengan beberapa buah tempat duduk – atau mungkin belakangan ini sudah dilengkapi dengan stasiun pengisian daya, maka Anda akan sedikit kebingungan ketika mendengar sebuah halte bus yang dibuat oleh sebuah firma yang mendesain mobil berlogo kuda jingkrak, Ferrari. Tentu pikiran Anda langsung mengarahkan pada sebuah halte yang modern nan futuristik, dan memang seperti itulah konsepnya.

Baca Juga: Nunggu Bus di Halte ini Bisa Bikin Tambah Pintar, Lho!

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman miamiherald.com (29/8/2018), adalah Pininfarina, sebuah perusahaan mobil asal kota Turin, Italia yang telah mendeklarasikan niatnya untuk membangun sebuah halte bus di daerah Miami Beach dalam beberapa waktu ke depan. Wajar rasanya jika gambaran tentang pemberhentian bus buatan Pininfarina ini akan melebihi ekspektasi Anda – dengan segala teknologi yang tersemat di dalamnya.

Dengan mengedepankan konsep “Yesterday, Today, and Tomorrow”, Paolo Trevisan selaku kepala desain dari Pininfarina of America mengatakan bahwa tampilan dari halte ini akan sangat alami, namun tetap futuristik pada bagian dalamnya. “Tampilannya akan sangat alami, yang kami gabungkan dengan teknologi terkemuka yang akan menampilkan kesan modern – percampuran alami dan teknologi,” tutur Paolo.

Nantinya, Paolo beserta jajarannya akan mendesain halte bus ini seperti sebuah batang pohon palem, “namun di sisi lainnya halte bus ini sangat terkontrol,” tandas Paolo. Berbekal pengalaman di sektor otomotif, maka sudah seyogyanya jika Pininfarina memperhatikan setiap detail yang akan disematkan di halte bus futuristik ini. “Kami memperhatikan setiap detail – bahkan yang terkecil sekalipun, karena kami berpatokan bahwa apa yang kami ciptakan ini bukanlah hanya sebuah produk, melainkan satu keseluruhan sistem yang saling terintegrasi,” lanjutnya.

Baca Juga: Perbaiki Halte Bus, Pramuka Ini Diganjar Gold Award!

Selain futuristik, halte bus ini juga hemat energi karena menggunakan panel surya yang tersimpan di bagian atap guna memenuhi kebutuhan elektrikal di dalamnya, seperti menyalakan lampu dan papan penunjuk informasi. Ketika siang hari, bayangan kaleidoskop akan tampak pada bagian lantai halte bus ini – hasil pembiasan dari cahaya matahari yang masuk. Terdapat juga ruang khusus bagi para pengiklan yang ditujukan sebagai pemasukan tambahan bagi produsen.

Enggan merinci lebih jauh soal halte bus ini, namun Paolo berpendapat bahwa pembangunan halte bus ini merupakan sebuah awalan dari perkembangan sebuah kota yang modern. “Bagi saya, ini hanyalah permulaan. Masih banyak yang bisa kita lakukan – masih banyak potensi.” Tutup Paolo.

Wujudkan Kota Pintar, Penang Kini Punya Smart Bus Shelter yang Serba Canggih

Jika di Indonesia keberadaan halte (shelter) bus seolah tersingkirkan dan banyak diantaranya yang sudah terbengkalai dan dibiarkan rusak begitu saja, maka lain halnya dengan yang ada di Malaysia – dimana salah satu perusahaan yang menekuni konektivitas berkelanjutan masa depan, EDOTCO Malaysia Sdn Bhd pada Mei 2019 kemarin meluncurkan Smart Bus Shelter. Dari namanya saja, tentu Anda sudah bisa mengira kelebihan dari halte bus ini, persisnya halte ini dilengkapi dengan solusi telekomunikasi – sejalan dengan tujuan digitalisasi yang tengah dikembangkan oleh Malaysia.

Baca Juga: Nunggu Bus di Halte ini Bisa Bikin Tambah Pintar, Lho!

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman digitalnewsasia.com (14/5), adapun Smart Bus Shelter ini sendiri terletak di Lengkok Tenggiri, Seberang Perai, dimana di dalamnya Anda bisa menemukan fasilitas untuk mengisi ulang daya gadget, kamera CCTV, hingga panic button untuk lebih meningkatkan keamanan para penggunanya. Seperti yang sudah disebutkan di atas, solusi telekomunikasi yang ada di Smart Bus Shelter ini juga merupakan testbed untuk Penang yang terhubung dalam persiapan untuk implementasi konektivitas 5G.

Proyek ini sendiri merupakan dukungan nyata bagi Penang Vision 2030, yang antara lain menguraikan investasi untuk memperkuat mobilitas, konektivitas dan infrastruktur digital, dan mengintegrasikan layanan kota dengan teknologi pintar. Energi yang ada di Smart Bus Shelter ini dihasilkan oleh panel surya yang berada di atap halte. Penggunaan energi terbarukan ini juga merupakan bagian dari Penang Vision 2030 yang bertumpu pada penggunaan energi terbarukan.

“Proyek percontohan Smart Bus Shelter ini dilakukan sebagai bagian dari upaya untuk mengubah Penang menjadi kota pintar, yang menjadi fokus kami di tahun 2019,” tutur Ketua komite Pemerintah Daerah, Perumahan, dan Perencanaan Kota Penang, Jagdeep Singh Deo.

“Keberhasilan pembuktian konsep ini membuka jalan bagi Penang untuk menjadi salah satu negara terkemuka yang siap untuk mengadopsi konektivitas 5G,” tandasnya.

Baca Juga: 10 Halte Bus Ini Jelas Tidak Biasa

Tingkat akses terhadap jaringan internet via smartphone di Malaysia sana sudah mengalami pertumbuhan nilai yang cukup signifikan. Malaysian Communications and Multimedia Commission (MCMC) mencatat, pengguna internet via smartphone pada tahun 2014 silam masih berada di angka 74,3 persen – sedangkan di tahun 2018 kemarin angkanya sudah meningkat drastis ke level 93,1 persen. MCMC memproyeksikan bahwa di tahun 2022 mendatang, konsumsi data per pengguna mencapai angka 1GB per hari.

Tangani Masalah Penumpang Saat Connecting Flight, United Airlines Punya “Connection Saver”

Istilah connecting flight di sektor kedirgantaraan global memang sudah tidak asing lagi terdengar. Bagi Anda yang belum mengetahuinya, connecting flight merupakan suatu kondisi dimana Anda akan berganti pesawat di titik transit untuk tiba di satu destinasi. Karena pesawat yang akan Anda tumpangi berbeda, maka nomor penerbangannya pun akan berbeda pula.

Baca Juga: Klasik, Ini Dia Rentetan Alasan Delay di Dunia Penerbangan

Nah, kendati sudah terjadwal, namun connecting flight ini tetap saja memiliki beberapa masalah, satu yang paling mengundang keringat dingin penumpang adalah ketika pesawat keberangkatan menuju titik transit mengalami keterlambatan atau delay. Jamaknya, jeda waktu antara penerbangan satu dan penerbangan lainnya di connecting flight adalah berkisar 30 hingga 60 menit – bisa saja lebih, tergantung jadwal penerbangan masing-masing maskapai. Lalu, bagaimana jadinya jika penerbangan sebelumnya mengalami keterlambatan? Apakah pesawat selanjutnya akan menunggu Anda datang?

Jawabannya tentu saja tidak, karena mereka harus tetap menjalankan penerbangannya secara normal. KabarPenumpang.com mengutip dari laman vox.com, di Amerika Serikat, jika Anda mengalami kejadian seperti ini, maka yang harus Anda lakukan adalah melakukan booking ulang terhadap penerbangan Anda. Tidak jarang juga pihak maskapai yang akan memberikan kompensasi lebih kepada Anda yang ketinggalan connecting flight, seperti menginap di hotel atau berupa makanan.

Namun guna memangkas kejadian dimana penumpang harus mem-booking ulang tiket penerbangannya, maskapai United Airlines menggunakan sebuah teknologi yang dinamakan sebagai Connection Saver.

Teknologi ini menjalankan fungsi penghitungan alogaritma beberapa kemungkinan dimana hasilnya akan memberikan opsi kepada pihak maskapai, apakah akan tetap meninggalkan penumpang yang terlambat ini atau menunggunya. CEO dari United Airlines, Oscar Munoz mengatakan bahwa sejak aplikasi ini diluncurkan pada bulan Januari silam, aplikasi ini terbukti sudah ‘menyelamatkan’ lebih dari 50.000 penumpang yang mengalami keterlambatan di penerbangan pertama mereka.

Baca Juga: Duh! Dokter ini Diseret di Lorong Kabin Pesawat, Kenapa ya?

Dengan melihat begitu banyaknya penumpang yang ‘diselamatkan’ oleh United, maka bisa dibilang bahwa pihak maskapai lebih memprioritaskan penumpang, kendati pihak maskapai harus mengalami penurunan rating dari segi on-time performance.

Namun jika dilihat lagi ke belakang, nama United muncul sebagai salah satu maskapai paling kontroversial di dunia – terlebih ketika kasus perlakukan tidak sepantasnya menimpa seorang dokter pada tahun April 2017 silam. Apakah pengaplikasian teknologi Connection Saver ini merupakan upaya pihak maskapai untuk merebut kembali hati penumpang?

Lawan GoJek dan Grab, “Bonceng” Tawarkan Tarif Ojol Berdasarkan Cluster

Lagi-lagi GoJek dan Grab punya saingan baru dalam persaingan transportasi online ibukota saat ini. Ya, nama pesaing baru itu adalah “Bonceng.” Bonceng merupakan aplikasi yang sebenarnya sudah muncul sejak November 2018 lalu.

Baca juga: Saingan GoJek dan Grab, “Anterin” Bisa Pilih Pengemudi Suka-Suka

Aplikasi ini berasal asli dari Indonesia yang namanya pun diambil agar tidak membebani dengan istilah barat. Bahkan cinta tanah airnya pun bisa terlihat dari warna jaket dan helm yang seperti bendera merah dan putih.

Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Tak hanya Bonceng sepeda motor (ojol), aplikasi buatan anak bangsa ini juga punya layanan seperti Grab dan GoJek yakni Bonceng Mobil, Bingkis yang merupakan layanan paket, Bungkus layanan antar makanan dan Bonceng Pasar di mana penumpang bisa berbelanja kebutuhan di pasar tradisional.

Bonceng sendiri sudah tersebar di Jakarta, Bogor, Bekasi dan beberapa daerah lainnya seperti Labuan Bajo. Founder dan CEO Bonceng, Faiz Noufal mengatakan, kini sudah ada 50 ribu pengemudi terdaftar dan baru lima ribu yang aktif.

Sedangkan untuk pengguna sudah ada 75 ribu dan belum jelas berapa yang sudah aktif menggunakan aplikasi Bonceng ini. Bonceng sendiri merupakan aplikasi besutan perusahaan developer PT Swa Nusa Multimedia.

Karena besutan anak bangsa, untuk pembayaran non-tunainya Bonceng menggunakan LinkAja dan berbeda dari GoJek yang menggunakan GoPay dan Grab yang menggunakan OVO. Tarif Bonceng sendiri menawarkan harga cluster bukan per kilometer yang artinya beberapa jarak perjalanan dikelompokkan pada beberapa harga yang bulat.

Tarifnya sendiri mulai dari Rp5 ribu, Rp10 ribu dan seterusnya. Bahkan uniknya, penumpang yang melakukan pemesanan diperbolehkan memesan layanan Bonceng hingga tujuh hari kedepan. Bonceng kini sudah bisa diunduh melalui App Store ataupun Play Store.

Baca juga: Aplikasi Ride Hailing Kedatangan Pemain Baru, Anterin dan BitCar

Untuk mendaftar jadi mitra driver ojek online Bonceng, kamu harus mengunjungi situs bonceng.id. Calon driver diwajibkan untuk mengisi data pribadi mulai dari nama lengkap, alamat hingga informasi kendaraan.

Kalau Jakarta Punya MRT, Bangkok Punya BTS Skytrain yang Telah Mengular 20 Tahun

Kini hampir setiap belahan negara menyediakan transportasi massal yang memudahkan perjalanan baik bagi masyarakatnya maupun pelancong yang bertandang ke negara tersebut. Kalau di Jakarta punya CommuterLine, Moda Raya Terpadu (MRT) dan Lintas Rel Terpadu (LRT), Bangkok juga punya transportasi massal berupa MRT dan Bangkok Mass Transit System (BTS) Skytrain.

Baca juga: Warna Warni Taksi di Bangkok Ternyata Merupakan ‘Kode’

BTS ini dioperasikan oleh BTS PCL di bawah konsesi Administrasi Metropolitan Bangkok (BMA). BTS dibangun sejak 20 tahun silam dan memiliki 44 stasiun yang terdiri dari dua jalur yakni Jalur Sukhumvit dengan rute ke arah utara dan ke arah timur berakhir di Mo Chit dan Samrong serta jalur Silom yang melintas Jalan Silom dan Sathorn.

Kemudian melalui kawasan pusat bisnis di Bangkok dan berakhir di Stadion Nasional dan Bang Wa. BTS ini kemudian dikenal secara resmi sebagai kereta api melayang dalam rangka memperingati Ulang tahun Raja ke-6.

Stasiun BTS Skytrain ternyata terhubung dengan kereta Bandara Suvarnabhumi sehingga memudahkan pelancong yang akan berwisata ke kota Bangkok. Untuk tarifnya, berkisar antara 15-50 Baht atau sekitar Rp7 ribu-Rp25 ribu tergantung jarak dan tujuan yang mana pelancong biasanya menggunakan tiket sekali jalan.

Pembelian tiketnya pun bisa melalui vending machine ataupun langsung di loket dengan petugas. Tenang, bagi yang tak bisa bahasa Thailand, pada tiket terdapat bahasa Inggris sehingga memudahkan pelancong mengetahui tujuan mereka.

Di setiap gate tap in, akan ada petugas yang siap membantu penumpang bila kesulitan mentap tiket mereka dan membantu memeriksa barang bawaan. Stasiun BTS Skytrain dihiasi dengan berbagai iklan baik dinding maupun tiang-tiangnya.

Bangku di dalam kereta BTS sendiri berwarna kuning dan sangat empuk. Petunjuk jalan dan peta terpampang jelas di atas pintu untuk memudahkan penumpang melihat tujuan mereka. Apalagi ketika stasiun yang dilewati peta tersebut tandanya akan berubah menjadi merah dan stasiun yang belum dilewati akan berwarna hijau.

Baca juga: Kumuh di Luar, Ciamik di Dalam. Inilah Stasiun MRT Caojiawan

Bagian tengah kereta ada yang dikosongkan dan satu sisi tidak terdapat bangku untuk memudahkan penyandang disabilitas dengan kursi roda. Waktu tunggu keretapun tak jauh berbeda dengan MRT yakni 10-15 menit

Fase II MRT Jakarta Diprediksi Selesai Tahun 2024

Proyek Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta fase II diperkirakan akan selesai tahun 2024 dan mulai beroperasi 2025 mendatang. Namun banyak pertanyaan muncul, bagaimana saat ini progres pengerjaan MRT Jakarta fase II tersebut?

Baca juga: MRT Jakarta Segera Luncurkan QR Code untuk Tiket, Provider Uang Elektronik Mulai Bersaing

Ternyata saat ini proyek MRT fase II dari Bundaran Hotel Indonesia (HI) menuju Kota terus berjalan. Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar mengatakan nantinya ketika beroperasi perjalanan dari Lebak Bulus menuju Kota dengan headway lima menit maka kereta tiba hanya membutuhkan waktu 45 menit.

Sabandar mengatakan, estimasi pada 2025 mendatang, MRT Jakarta bisa mengangkut penumpang sebanayk 551.200 penumpang per harinya. Hal ini berdasarkan desain Basic Engineering Design fase II.

“Jalurnya dibuat sedalam 17-36 meter di bawah tanah. Dengan rel R54 yang memiliki lebar jalur 1067 mm. Jarak antar stasiun dibuat sekitar 0,6-1 km,” jelas Sabandar.

Dia menyebutkan untuk dana MRT fase II sebesar Rp22,5 triliun yang dibantu oleh Japan International Cooperation Agency (JICA).

“Nanti tinggal kita cari siapa yang mau bantu pembiayaan, mungkin JICA. Kita maunya sih JICA biar satu line sekalian,” kata Sabandar.

Dia menambahkan, untuk pembangunan fase II ini banyak yang unik dari pengerjaan proyeknya yakni adanya jalur bertingkat di bawah tanah. Untuk Stasiun BHI sampai dengan Harmoni akan sejajar sedangkan dari Stasiun Harmoni sampai Glodok akan bertingkat, Stasiun Sawah Besar dan Mangga Besar bahkan berada empat lantai dibawah tanah.

“Ini karena menyempit disekitar Harmoni, jadinya jalur kita tidak kanan kiri tapi bertingkat di bawah tanah. Masuk Sawah Besar sampai Kota balik lagi sejajar kana kiri,” kata Sabandar.

Dari 5,8 km jalur yang dibuat akan melewati tujuh stasiun mulai dari Sarinah, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok dan Kota. Sabandar menambahkan, terkait depo yang akan berlanjut ke Ancol Barat dari Kota saat ini masih dalam tahap desain.

Desain tersebut akan selesai pada November dan perencanaan anggaran yang dibutuhkan juga sudah ada. Sementara itu untuk lelang paket proyek, dari lima paket ada satu paket sudah selesai pembangunannya, yaitu CP 200 alias pembangunan gardu dan transmisi kelistrikan bawah tanah MRT sudah selesai semua pembangunannya.

Baca juga: Depo di Ancol Barat, MRT Jakarta Fase II Punya Tujuh Stasiun

“CP200 kita udah 100 persen, masih on going 2024 selesai sampai Kota. Paket lainnya masih jalan proses lelang,” jelas William.

Pelelangan yang dilakukan termasuk pada proyek CP201, hingga CP203 yang membangun jalur Bundaran HI ke Stasiun Kota. Dia menegaskan bulan April tahun depan ketiga proyek ini sudah berjalan.

INACA Punya Pengurus Baru, Targetkan Membangun Konektivitas di Seluruh Daerah

Rapat Umum Anggota (RUA) Tahunan 2019 Indonesian National Air Carrier Association (INACA) mengusung tema “Providing Better Public Communication of National Aviation Industry Environment”. Dalam RUA ini, banyak hal yang dibahas seperti pemilihan kepengurusan INACA 2019-2022 mendatang hingga lima Bali baru yang menjadi super prioritas.

Baca juga: Klarifikasi INACA, “Harga Avtur Tidak Berpengaruh Langsung Pada Tingginya Harga Tiket Pesawat”

Adapun pengurus INACA periode 2019-2022 yakni Denon B. Prawiraatmadja (WhiteSky Aviation) terpilih sebagai Ketua Umum INACA 2019-2022, Sekretaris Jenderal INACA Bayu Sutanto, Ketua Penerbangan Berjadwal Wuri Septiawan (AirAsia Indonesia), Ketua Penerbangan Tidak Berjadwal Arif Wibowo (AirFast Indonesia), Ketua Penerbangan Kargo Muhammad Ridwan (My Indo Airlines). Denon selaku ketua baru INACA mengatakan pihaknya akan ikut mensukseskan penerbangan Indonesia. Di mana asosiasi punya peran dalam mensukseskan program pemerintah sekarang terkait transportasi udara seperti konektivitas di seluruh tanah air.

“Program utama yakni membangun konektivitas bukan hanya kota besar di pusat melainkan bagian tengah dan timur,” kata Denon yang ditemui usai RUA di Hotel Borobudur, Kamis (30/10/2019).

Dia mengatakan, konektivitas udara memegang peran penting dalam menghubungkan masyarakat Indonesia serta mendukung pergerakan perekonomian Indonesia serta visi pemerintah dalam menggerakkan sektor industri pariwisata nasional. Seperti saat ini, lima Bali baru yang menjadi super prioritas yakni Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Likupang dan Labuhan Bajo mulai dikembangkan.

INACA dalam hal pengembangan lima Bali baru tersebut mengaku tidak akan berjalan sendirian sehingga harus bersinergi dengan banyak pihak seperti Kementerian Pariwisata, Pemda setempat dan yang lainnya.

“Untuk pengembangan ini tidak akan berjalan masing-masing. Sinergi stakeholder, bukan hanya tanggung jawab INACA tetapi semua kementerian yang terlibat. Sinergi ini gimana cara kita bisa selesaikan,” kata Wuri Setiawan, Ketua Penerbangan Berjadwal yang ditemui KabarPenumpang.com, Kamis (30/10/2019).

Dia menjelaskan bahwa dalam pengembangan ini selain Kemenhub, pihaknya juga berharap Pemda di lima Bali baru tersebut mengadakan event untuk lebih memperkenalkan daerah mereka. Sebab bukan hanya wisatawan mancanegara saja, tetapi wisatawan dalam negeri pun tidak sepenuhnya tahu daerah Indonesia.

“Karena hal ini maka INACA rangkul semua potensi yang ada untuk duduk bersama baik Kementerian Pariwisata, Pemda, UMKM atau siapapun yang akan bangun kemajuan daerah itu,” jelas Wuri.

Dia bahkan menambahkan, kehadiran inflight magazine atau majalah dalam penerbangan yang disediakan setiap maskapai juga turut membantu dalam mengenalkan lima Bali baru tersebut.

 Baca juga: Ditjen Perhubungan Udara: “Maskapai Asing Jangan Hanya Mengambil Rute Gemuk Saja”

“Mandalika salah satu contohnya, dalam majalah pesawat kita bisa membaca itu ada dimana dan ada apa didalamnya. Jadi semua sama-sama saling bantu promosi. Kita semua bergerak dan kami yakin dengan kerja sama pasti bisa,” tambah Wuri.

Bertarung Melawan Waktu, Inilah Kesibukan di Jeda Penerbangan yang Padat

Bayangkan Anda sedang berada di terminal keberangkatan di suatu bandara, dimana Anda bisa sedikit bersantai sembari menunggu gerbang keberangkatan di buka, menikmati kopi, dan memainkan ponsel. Namun pernahkah terbesit di benak Anda betapa sibuknya kru maskapai dan bandara manakala Anda menikmati waktu tunggu di terminal keberangkatan? Di rentang waktu antara pesawat tiba dan kembali harus menerbangkan penumpang, sejatinya itulah waktu krusial bagi pihak maskapai dan petugas bandara.

Baca Juga: Ini Dia, Para Pekerja Ground Support System di Bandara

Kira-kira, apa saja yang dilakukan oleh mereka di rentang waktu tersebut? Untuk menjawab pertanyaan ini, KabarPenumpang.com melansir dari laman cntraveler.com, dimana perhitungan tiap menit di masa-masa ini sangatlah berharga – mengingat pesawat harus kembali mengudara dengan jadwal yang sudah ditentukan sebelumnya. Di sini, laman sumber mengambil contoh maskapai SAS Scandinavia Airlines yang ada di Stockholm Arlanda Airport, Swedia.

Pukul 09.00: Pesawat Airbus A320 SAS dengan nomor penerbangan SK1416 dari Copenhagen mendarat di Stockholm dan setibanya pesawat di terminal, petugas bandara dan kru maskapai langsung dengan sigap mempersiapkan untuk penerbangan selanjutnya – SK535 menuju Dublin.

Setelah pesawat terparkir, pilot akan mematikan kedua mesinnya dan daya listrik yang ada di pesawat mulai dipasok dengan menggunakan Ground Power Unit (GPU).

Pukul 09.03: Sesaat setelah penumpang keluar dari kabin, petugas kebersihan akan masuk ke dalam pesawat untuk memulai tugasnya – membersihkan keseluruhan kabin, mengeluarkan sisa-sisa katering di dalam pesawat, mengosongkan tangki toilet, mengisi ulang air, hingga membongkar-muat kargo dan bagasi penumpang.

Pukul 09.18: Bahan bakar pesawat mulai diisi guna memenuhi kebutuhan penerbangan selanjutnya.

Pukul 09.20: Kru kokpit penerbangan SK535 akan mulai melakukan walk-around untuk memeriksa apakah penerbangan sebelumnya meninggalkan masalah yang tidak tercatat di catatan riwayat penerbangan – sementara kru kabin akan memeriksa semua instrumen keselamatan dan katering.

Patut diketahui, biasanya pilot dan kru kabin akan mulai berganti shift setelah beberapa kali melakukan penerbangan dalam satu hari – tidak berganti shift dalam sekali penerbangan.

Pukul 09.22: Setelah semua persiapan guna melakoni penerbangan selanjutnya rampung, maka proses boarding penumpang mulai dilakukan.

Baca Juga: “Zero Mistake dan Tahan Tekanan,” Jadi Keharusan Bagi Petugas Menara ATC

Pukul 09.31: Petugas darat akan memberikan tenggat waktu untuk menunggu penumpang connecting flight. Jika hingga pada waktu yang ditentukan penumpang tidak kunjung datang, maka petugas berhak untuk mengeluarkan bagasi penumpang terkait dan menyerahkannya ke pihak terminal.

Pukul 09.35: Pilot akan meminta akses kepada pihak ATC untuk memberangkatkan SK535, dan setelah mendapat persetujuan, pesawat akan mulai melakukan push-back dari apron untuk mengopeasikan penerbangan selanjutnya menuju Dublin.

Wah, ternyata sesibuk itu ya kru penerbang dan petugas darat!

Akibat Ledakan Tabung Gas Saat Memasak, 70 Orang Tewas di Dalam Kereta Tezgam Express

Sebanyak 70 orang tewas dan puluhan lainnya terluka setelah kebakaran terjadi di kereta penumpang di Pakistan. Kebakaran kereta ini terjadi akibat ledakan tabung gas lantaran ada penumpang yang memasak makanan mereka di atas kompor pada Kamis (30/10/2019) pagi.

Baca juga: Saat Kembang Api Beraksi, 60 Orang Tewas Tertabrak Kereta Saat Festival Dussehra

Penumpang yang tewas dan luka-luka sebagian besar karena mencoba turun dari kereta untuk melarikan diri dari api. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman theguardian.com (31/10/2019), dalam sebuah rekaman, menunjukkan tiga gerbong kereta dilalap api dan asap keluar dari sela-sela jendela serta saksi mata mengatakan mendengar penumpang terjebak menangis dan menjerit. Menteri kereta api Rashid Ahmed mengatakan, sebagian besar penumpang tewas karena melarikan diri untuk menghindari api.

“Dua kompor meledak ketika seseorang sedang memasak untuk sarapan. Padahal membawa tabung gas dalam kereta api adalah hal yang ilegal sebab dilarang dalam aturan,” kata Rashid.

Insiden tersebut terjadi di kereta Tezgam Express yang melakukan perjalanan dari kota-kota Karachi dan Rawalpindi yang kala itu tengah melintas Provinsi Punjab. Asisten komisaris kota Multan, Mansoor Ahmed membenarkan jumlah korban jiwa mencapai 70 orang dan 40 diantaranya terluka bahkan kritis.

Diketahui, pada Kamis sore, para petugas penyelamat mulai membersihkan reruntuhan yang hangus untuk pencarian korban. Sembilan orang dengan luka bakar dibawa ke rumah sakit di distrik Multan.

Bahkan karena banyaknya korban, Mansoor mengonfirmasi bahwa rumah sakit di distrik Raim Yar Khan juga tak bisa mengakomodasi jumlah korban sehingga harus dibawa ke distrik Multan yang berjarak tiga jam perjalanan.

“Sangat sedih dengan tragedi mengerikan dari kereta Tezgam. Belasungkawa saya sampaikan kepada keluarga korban dan doa untuk pemulihan yang cepat dari yang terluka. Saya telah memerintahkan penyelidikan segera untuk diselesaikan atas dasar mendesak,” kata Perdana Menteri Pakistan Imran Khan melalui cuitan di akun Twitternya.

Baca juga: Hari ini 31 Tahun Lalu, Terjadi Kecelakaan Kereta Terbesar di India, Tewaskan 140 Orang!

Insiden di kereta api biasa terjadi di Pakistan, di mana korupsi, salah urus, dan kurangnya investasi telah menyebabkan kereta api menurun selama beberapa dekade terakhir. Kepadatan juga sering menjadi masalah keamanan. Pada Juli, sedikitnya 23 orang tewas di distrik yang sama ketika sebuah kereta penumpang dari kota Lahore di bagian timur Pakistan menabrak kereta barang yang berhenti di persimpangan.