Mengharukan, Warga Iringi ‘Kepergian’ Airbus A380 Terakhir Saat Lewati Pedesaan Perancis

Konvoi kendaraan yang membawa badan pesawat A380 terakhir belum lama ini melewati pedesaan Perancis. Mengetahui hal itu, warga pun berduyun-duyun datang memenuhi rute yang dilintasi konvoi kendaraan sambil tepuk tangan dan berteriak dengan meriah (saat iring-iringan melintas), bahkan saat malam hari sekalipun. Padahal, saat malam hari, desa-desa di Perancis biasanya sudah sunyi dimulai sejak matahari tenggelam.

Baca juga: Meski Jaya di Udara, Rupanya Airbus Andalkan Jalur Laut dalam Proses Perakitan Pesawat

Laporan Simple Flying, kemeriahan dan keharuan tersebut bermula saat bagian pesawat Airbus A380 terakhir -dengan kode registrasi MSN 272 tersebut- keluar dari pabrik Saint-Nazaire dengan dibawa oleh tiga truk besar, melewati pedesaan Perancis seperti Gers, Haute-Garonne, Gimont, dan Leignac menuju fasilitas perakitan akhir di pinggiran Toulouse, Perancis.

Tak seperti biasanya, sekalipun rute menuju fasilitas perakitan akhir di Toulouse sudah dilalui sejak 14 tahun lalu, namun, baru kali ini warga memenuhi nyaris sepanjang jalan di pedesaan yang dilalui. Hal itu tentu maklum, mengingat kendaraan yang melintas pada Rabu malam itu membawa bagian terakhir A380 yang akan dirakit.

Saking padat serta tingginya antusiasme warga yang melihat momen bersejarah itu, di beberapa titik, jalan-jalan menjadi sangat sempit –bahkan disebut nyaris tak ada jarak antara garis kerumunan warga dengan truk- sehingga memaksa iring-iringan truk memperlambat lajur. Selama truk-truk tersebut melitas, jutaan tepuk tangan tak henti-hentinya mengiringi sambil terus mengikut kendaraan keluar dari desa.

Selain dihadiri warga desa, CEO Airbus, Guillaume Faury juga ikut mengiringi konvoi truk pembawa bagian Airbus A380 terakhir. Malam itu, dari berbagai titik kerumunan, Faury lebih memilih untuk menepi di Levignac, salah satu wilayah di distrik Haute-Garonne, untuk menyambut karyawan muda Airbus, sambil melihat iring-iringan truk berlalu.

Karyawan yang ikut andil dalam memproduksi A380 terakhir dipajang di badan pesawat. Foto: Getty Images via Simple Flying

Melengkapi momen mengharukan di malam bersejarah itu, bila sebelumnya bagian-bagian badan pesawat A380 itu hanya ditutupi kain merah atau putih bertuliskan logo perusahaan, kini, Airbus menambahkan tulisan yang menandakan malam terakhir jalur tersebut dilewati bagian A380, “Goodbye Saint-Nazaire.”

Tak hanya itu, sebagai tanda penghargaan tertinggi kepada para karyawan yang tetap bekerja di masa pandemi corona ini, Airbus juga menyertakan mereka yang ikut memproduksi tiga bagian besar A380 ini juga dipajang di masing-masing jendela.

Belum jelas MSN 272 diperuntukkan untuk siapa. Yang jelas, saat ini, Airbus masih berhutang sembilan pesawat A380, dimana delapan di antaranya pesanan Emirates dan satu sisanya ANA. Namun, Emirates sejauh ini dikabarkan telah menegosiasi Airbus untuk mengambil tiga pesawat saja dan membatalkan lima lainnya; meskipun dengan dikenakan denda. Adapun ANA dikabarkan tetap akan mengambil pesawat komersial terbesar di dunia itu.

Baca juga: Libatkan 1.500 Perusahaan, Inilah Proses Perakitan Airbus A380 Yang Fenomenal

Sebagai informasi, proses perakitan Airbus A380 memang tidaklah mudah. Setidaknya ada 4 juta bagian pesawat Airbus A380 yang mesti disatukan sebelum bisa terbang. Misalnya, sayapnya dibangun di Broughton, Wales, bagian badan pesawat berasal dari Hamburg, Jerman, dan Saint-Nazaire, Perancis, sirip ekor horisontal diproduksi di Cadiz, Spanyol, dan sirip ekor vertikal di Hamburg.

Dari baut hingga mesin A380 terdiri dari sekitar 4 juta bagian yang diproduksi oleh 1.500 perusahaan dari 30 negara di seluruh dunia. Maka dari itu, tak heran bila konvoi di malam bersejarah Rabu lalu, truk-truk hanya membawa tiga badan Airbus karena bagian lainnya diproduksi di tempat lain.

Kapal Pesiar Asuka II Terbakar Saat Bersandar di Pelabuhan Yokohama

Kapal pesair Asuka II yang tengah merapat di Pelabuhan Yokohama dekat Tokyo terbakar dibagian atasnya. Insiden ini terjadi pada Selasa (16/6/2020) kemarin dan langsung dilakukan pemadaman untuk mencegah api meluas.

Baca juga: Bill Gates Ramai Disebut Telah Beli Kapal Pesiar Mewah Seharga Rp8,8 Triliun, Ini Faktanya!

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman kyodonews.net (16/6/2020), markas penjaga pantai regional ke-3 yang berbasis di Yokohama mengatakan menerima laporan melalui radio dari seorang anggota kru sekitar pukul 01.00 malam waktu setempat. Kemudian awak kapal berusaha memadamkan api tersebut bersama penjaga pantai.

Namun penyebab kebakaran tersebut tidak diketahui dengan segera dan penjaga pantai melaporkan tidak ada yang terluka kerena penumpang tidak ada di dalam kapal. Api tersebut akhirnya berhasil padam setelah tiga jam dilakukan pemadaman yakni sekitar pukul 04.15 malam waktu setempat.

Penjaga pantai mengatakan, api mulai terlihat di area penyimpanan di dek atas Asuka II. Operator perusahaan induk kapal pesiar Nippon Yusen K.K mengatakan, sebanyak 153 awak berada di kapal untuk tugas penting dan membantu memadamkan api.

Kapal pesiar Asuka II telah merapat di Pelabuhan Yokohama sejak awal April setelah kembali dari Singapura tempat kapal pesiar ini menjalani perawatan. Untuk diketahui, kapal pesiar Asuka II awalnya dibangun oleh galangan kapal Mitsubishi Heavy Industries di Nagasaki, Jepang, sebagai Crystal Harmony untuk Crystal Cruises.

Pada tahun 2006, Crystal Harmony dipindahkan dari armada Crystal Cruises ke perusahaan induk Crystal, Nippon Yusen Kaisha, dan memasuki layanan dengan nama saat ini yaitu Asuka II. Kemudian Asuka II pada Februari 2009 menjadi kapal pesiar terbesar di Jepang.

Kapal pesiar Crystal Harmony melakukan pelayaran perdananya di perairan Amerika Selatan dan Karibia dan sempat terbakar karena kebocoran bahan bakar di ruang mesin bantu sekitar 320 km dari Christobal. Kemudian melayang tanpa daya selama 16 jam dan setelah perbaikan berhasil berhasil mencapai pelabuhan dengan uapnya sendiri dan menurunkan penumpangnya di Panama.

Baca juga: Jadi Heboh Setelah Serangan Virus Corona, Inilah Sosok Kapal Pesiar “World Dream”

Crystal Harmony berlayar ke pulau Curaçao, dikawal oleh sebuah kapal tunda, untuk diperbaiki. Setelah 15 tahun pelayanan, Crystal Harmony pensiun dari armada Crystal pada tahun 2005. Kapal ini dipindahkan ke perusahaan induk Nippon Yusen Kaisha untuk menggantikan Asuka dan kemudian menjalani renovasi dan memasuki kembali layanan sebagai Asuka II.

Asuka II, yang telah beroperasi sejak Februari 2006, memiliki panjang 241 meter dan berat sekitar 50 ribu ton. Ini memiliki kapasitas penumpang 872 dan 150 awak.

Krisis Besar, Qatar Airways Tolak Pesawat Airbus dan Boeing Hingga 2022

Qatar Airways memutuskan untuk menolak kedatangan pesawat Airbus dan Boeing setidaknya hingga tahun 2022 mendatang. Hal itu dikarenakan anjloknya permintaan perjalanan penumpang serta krisis uang tunai yang tengah dihadapi perusahaan. Bahkan, saking krisinya, pesanan Boeing 777X, besar kemungkinan akan ditunda hingga 2030 mendatang.

Baca juga: Awak Kabin Qatar Airways Gunakan Kostum Hazmat untuk Layani Penumpang

“Kami telah memberi tahu Boeing dan Airbus bahwa kami tidak akan ambil pesawat baru tahun ini dan tahun depan,” kata CEO Qatar Airways Group, Akbar Al Baker kepada Sky News, sebagaimana dilansir executivetraveller.com.

“Semua pesawat pesanan kami yang seharusnya dikirim dalam dua atau tiga tahun ke depan, sekarang akan molor sampai setidaknya delapan hingga sepuluh tahun mendatang. Kami akan mulai menerima pesawat pesanan kami seiring meningkatnya frekuensi penerbangan dan permintaan perjalanan,” tambahnya.

Salah satu dari tiga maskapai terbesar di Timur Tengah itu diketahui sudah memesan sekitar 160-200 pesawat kepada duopoli produsen pesawat dunia, Airbus dan Boeing, dengan total investasi mencapai puluhan miliar dolar.

Adapun rinciannya, 50 A321neo dan A321neo LR, 12 Airbus A350-1000, 23 Boeing 787-9, 110 dari Boeing 777X (60 tipe 777-9 dan 50 tipe 777-8), serta pesawat pesakitan yang saat ini tengah di-grounded di seluruh dunia 60, Boeing 737 MAX 8.

Terkait Boeing 737 MAX 8 ini, bahkan, pimpinan tertinggi Qatar Airways itu dengan tegas menyebut pihaknya tak lagi butuh MAX. “Kami telah memberi tahu Boeing bahwa kami harus menggantinya dengan pesawat jenis lain. Kami tidak akan membutuhkan lagi 737 MAX,” jelasnya.

Dalam sesi wawancara bersama Sky News UK, Al Baker juga menyinggung soal kebijakan Qatar Airways terhadap pesawat komersial terbesar di dunia, Airbus A380. Ia menyebut, A380 besar kemungkinan akan terus di-grounded sampai pertengahan 2021 atau bahkan tidak terbang sama sekali sebagai kemungkinan terburuk.

Baca juga: Boeing 737 MAX ‘Tumbang’, Rusia Tantang Airbus A320neo Lewat MC-21

“Qatar Airways saat ini menggrounded 10 A380 dan pesawat tersebut tidak akan kembali selama setidaknya satu tahun atau mungkin tidak akan pernah (terbang),” ucapnya.

Skenario tersebut bukannya tanpa alasan. Dalam pengamatan Al Baker, dampak dari wabah Covid-19 terhadap industri penerbangan global setidaknya telah membuat pihaknya menggrounded sekitar 50an pesawat. Itupun masih mungkin bertambah mengingat krisis akibat corona seperti sekarang ini masih akan terus berlangsung sampai dua hingga tahun mendatang. “Saya pikir saya akan sangat terkejut jika sesuatu (industri kembali normal) akan terjadi sebelum 2023/2024,” pungkasnya.

Kembali Beroperasi, AirAsia Indonesia Baru Buka Dua Rute

AirAsia Indonesia mulai kembali beroperasi pada hari ini (19/6/2020) dan akan menyesuaikan rencana penerbangan berjadwal mereka secara bertahap di rute tertentu. Selain itu dengan membuka kembali penerbangan AirAsia Indonesia akan terus memantau perkembangan situasi.

Baca juga: India Mulai Buka Penerbangan Domestik, Penumpang Disarankan Tidak Gunakan Toilet Selama di Pesawat

Mereka juga akan melakukan langkah antisipasi yang diperlukan untuk memulai kembali layanan penerbangan berjadwalnya. Dikutip KabarPenumpang.com dari newsroom.airasia.com, nantinya calon penumpang yang terdampak karena perubahan ini akan menerima pemberitahuan pembatalan beserta informasi pilihan kompensasi melalui email dan SMS ke nomor yang terdaftar saat pembelian tiket.

Dalam pengoperasiannya kembali, AirAsia mengimbau seluruh calon penumpang yang akan melakukan penerbangan nantinya selalu memerhatikan dan memenuhi persyaratan kesehatan, imigrasi serta pembatasan perjalanan yang ditetapkan otoritas wilayah maupun pemerintah setempat. Rute penerbangan domestik yang dioperasikan kembali oleh AirAsia Indonesia yakni Jakarta – Denpasar (PP) dan Jakarta – Medan (PP) dengan jadwal hari Senin, Rabu Jumat dan Minggu.

Adapun jam keberangkatan dari Jakarta pukul 09.25 WIB dan tiba di Denpasar 12.25 WITA, sedangkan berangkat dari Denpasar pukl 12.10 WITA dan tiba di jakarta 13.35 WIB. Sedangkan keberangkatan Jakarta – Medan berangkat pukul 12.10, tiba 14.40 WIB dan kembali dari Medan – Jakarta pukul 15.05, tiba 17.25 WIB.

Semua penumpang AirAsia yang melakukan penerbangan domestik maupun internasional wajib mematuhi ketentuan berikut sesuai Surat Edaran Gugus Tugas Penanganan Covid-19 No.7/2020. Di mana setiap penumpang memastikan dirinya memenuhi persyaratan untuk melakukan perjalanan.

AirAsia Indonesia melakukan protokol kesehatan seperti pemeriksaan suhu tubuh penumpang, memberikan jarak antrean dengan tanda baik di kios check in maupun konter ketika di bandara. Bahkan penumpang juga disarankan untuk check in melalui website atau aplikasi AirAsia untuk mengurangi kontak fisik.

Selain itu, AirAsia selama masa pandemi tak menjual makanan berat sehingga calon penumpang diminta untuk memesan makanan terlebih dahulu 24 jam sebelum mereka terbang baik dari situs AirAsia maupun aplikasi. Meski begitu, awak kabin tetap melakukan penjualan camilan dalam kemasan dan minuman dalam botol atau kaleng.

Untuk diketahui, AirAsia Indonesia dengak kode penerbangan QZ menghentikan sementara seluruh layanan penerbangan mereka mulai 1 April 2020. Hal ini dilakukan karena AirAsia mempertimbangkan situasi risiko wabah Covid-19 dan untuk mendukung upaya pemerintah Indonesia dalam mengatasi penyebarannya.

Baca juga: Tiga Maskapai Besar Ini Kompak Bebaskan “Change Fees” di Tengah Wabah Covid-19

Meski menghentikan perjalanan berjadwal saat itu, AirAsia Indonesia juga tetap menawarkan layanan penerbangan dalam repatriasi Warga Negara Indonesia maupun Warga Negara Asing. Selain itu juga menjadi pesawat kargo yang mengirim bantuan ke lokasi-lokasi yang terdampak karena pembatasan perjalanan.

Insiden di Aberdeen Belanda, Pesawat Embraer 145 ‘Jepit’ Bombardier Q400

Pesawat FlyBe dilaporkan menabrak pesawat lainnya milik Loganair yang tengah parkir di Bandara Aberdeen, Belanda. Dari gambar yang beredar, pesawat Bombardier Q400 tampak menghantam bagian sisi kanan belakang Embraer 145 dan membuatnya terjepit di bawah mesin pesawat.

Baca juga: Bodi Pesawat JAL Robek Gegara Tertabrak Truk Katering Garuda, “Netizen: Gaji 100 Tahun Pun Ga Akan Sanggup Bayar”

Daily Mail melaporkan, kejadian tersebut bermula saat pesawat dari maskapai yang telah bangkrut itu tengah melakukan Elephant Walk di bandara. Namun, entah apa yang merasuki pilot, alih-alih masuk ke runway, pesawat malah nyasar ke apron dan menabrak pesawat Loganair.

“Tepat sebelum jam 6 sore kemarin, jet regional Loganair Embraer 145, yang tengah parkir tanpa penumpang atau awak pesawat, ditabrak oleh pesawat Flybe Bombardier Q400, yang kami pahami saat itu sedang melakukan persiapan untuk take off setelah sekian lama di-grounded di Bandara Aberdeen,” kata juru bicara Loganair.

Dari pengakuan awak kabin FlyBe, insiden pesawat menabrak pesawat lainnya itu tidak terlalu kencang. Namun demikian, pesawat memang sempat terguncang sebelum akhirnya sedikit mendorong Embraer 145 dan bersarang di bawah mesin. Beruntung, baik dari pihak Loganair maupun FlyBe tidak ada korban jiwa maupun korban luka.

“Yang paling penting adalah tidak ada yang terluka dalam insiden itu, dengan para kru yang bekerja di pesawat eks-Flybe (yang telah bangkrut) aman, dan selamat, walaupun pesawat sempat terguncang akibat kejadian itu,” juru bicara Loganair melanjutkan.

“Kami tidak berharap bahwa kejadian malang ini akan menyebabkan gangguan (delay) kepada pelanggan pada penerbangan Loganair lainnya dari Aberdeen, sebab kami memiliki pesawat cadangan yang selalu siaga dan tersedia untuk memenuhi jadwal kami,” tambahnya.

Insiden seperti itu sejak lama memang kerap terjadi. Penyebabnya bisa karena kesalahan teknis oleh pilot atau gangguan eksternal seperti cuaca, atau bisa juga disebabkan karena terlalu banyak pesawat yang parkir di bandara; seperti apa yang menimpa dua pesawat Cathay.

Sebelumnya, pada pertengahan April lalu, menurut Travel Radar dua pesawat milik Cathay Pacific, A350 AND B777 dilaporkan bersenggolan di Bandara Hong Kong. Belum jelas waktu persis kejadian tersebut, entah kemarin atau lusa.

Namun, petugas ground control bandara mengaku, pihaknya menerima informasi adanya insiden senggolan dua pesawat pada pukul 12:30 (waktu setempat) di Taxiway J. Taxiway J belakangan memang terungkap sudah dimanfaatkan otoritas bandara untuk memarkirkan pesawat karena space yang ada sudah tak lagi menampung.

Baca juga: Tak Hanya Tabrak Tiang, Pesawat Juga Saling Bertabrakan di Apron dan Landas Pacu

Akibat dari insiden tersebut, baik Airbus A350 ataupun Boeing 777 keduanya mengalami sedikit kerusakan. Airbus A350 mengalami kerusakan pada winglet sebelah kanan sedangkan Boeing 777 rusak pada stabilizer horizontal sebelah kiri.

Senggolan antar dua pesawat Cathay Pacific pun seperti mengulang insiden serupa. Pesawat terbaru A350-1000 milik British Airways dilaporkan bersenggolan dengan pesawat Boeing 777-300ER milik Emirates di Bandara Internasional Dubai, Uni Emirat Arab, pada Selasa (14/4).

Tak Puas dengan Layanan Singapore Airlines, Desain Interior Pesawat Bebas Covid-19 Ini Pun Lahir

Banyak inovasi diawali oleh sebuah pengalaman tak memuaskan. Tak terkecuali dengan Jeffrey O’Neill. Pemuda jebolan sekolah manajemen Boston University ini sampai harus mengeluarkan desain kursi kelas ekonomi premium jarak jauh, Zephyr Seat, setelah mengalami pengalaman tak menyenangkan bersama salah satu maskapai terbaik di dunia, Singapore Airlines.

Baca juga: Virus Corona Bikin Singapore Airlines Turun Kelas Jadi Maskapai LCC?

Dalam pengakuannya kepada CNN International, cerita pengalaman buruknya bersama Singapore Airlines bermula saat ia menumpangi pesawat rute New York-Singapura beberapa tahun yang lalu. Dengan menempuh jarak sejauh 18 jam 45 menit nonstop, kursi kelas ekonomi premium yang ia tumpangi nyatanya tak membuat ia bisa dengan mudah berbaring. Alhasil, selama perjalanan, ia tak bisa tidur.

“Saya mungkin berada di maskapai penerbangan berperingkat terbaik di dunia, dan saya mendapatkan layanan yang luar biasa dan makanannya bisa dimakan, tetapi saya tidak bisa tidur,” kenang founder sekaligus CEO Zephyr Aerospace ini.

“Ini benar-benar tidak nyaman. Mengapa sangat sulit untuk menemukan cara yang terjangkau untuk berbaring di (pesawat) penerbangan selama 19 jam?” lanjutnya.

Zephyr Seat memudahkan penumpang untuk berbaring di kursi ekonomi premium pada penerbangan jarak jauh. Foto: Zephyr Aerospace via CNN International

Menariknya, pengalaman buruk bersama Singapore Airlines itu seolah mendapat antitesa. Kala itu, saat dalam perjalanan di Argentina sekitar dua tahun lalu, ia menumpangi sebuah bus yang menawarkan fasilitas kursi double-decker. Saat mencobanya, ia pun teringat dengan pengalaman buruk bersama Singapore Airlines tadi. Dari situlah ia terpikir untuk menghadirkan desain kursi interior pesawat –nyaris serupa dengan yang ia alami- pada penerbangan ekonomi premium jarak jauh (long haul).

Dilihat dari dimensi dan bentuknya, desain double-decker Zephyr Seat bisa dibilang memanfaatkan celah atau ruang kosong antara kursi (standar) dengan kompartemen kabin (overhead). Karena bentuknya memanjang ke atas, memuat satu orang di bawah dan lainnya di atas, Zephyr Seat juga dibilang lebih menjaga privasi dan bahkan ancaman wabah Covid-19 sekalipun, mengingat, saat ini ICAO telah merekomendasikan untuk menerapkan aturan physical distancing di pesawat.

Tentu, secara tidak langsung, Zephyr Seat telah menerapkan hal tersebut tanpa harus mengkosongkan kursi, sebagaimana desain interior kursi yang ada saat ini.

Dengan begitu, walaupun satu kursi diisi hanya satu orang, maskapai tetap bisa menjaga kapasitas mirip seperti desain ekonomi premium sebelumnya, dengan konfigurasi 2-4-2. Hanya bentuknya saja yang dibuat memanjang ke atas. Penumpang pun bisa dengan mudah berbaring atau duduk berkat adanya kursi retract yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan.

“Kami pada dasarnya memasang kembali seluruh kursi di atas yang lain. Jadi dibuat dua tingkat dan tidak setinggi seperti yang dibayangkan, hanya empat setengah kaki dari space masuk kursi bawah ke kursi atas,” jelasnya.

Baca juga: Sambut New Normal, Interior Kabin ini Digadang Mampu Cegah Sebaran Corona di Pesawat

Meskipun masih desain tahap awal, O’Neill mengaku telah membuka komunikasi dengan empat maskapai besar di Amerika Serikat (AS), termasuk Delta Air Lines. Pada tahun 2019 lalu, ia juga pernah membawa desain ini ke Airline Interiors Expo di Hamburg, Jerman dan mendapat beberapa masukan untuk menjadikan Zephyr Seat double-decker lebih diterima di pasaran. Selain itu, Zephyr Seat juga digandag-gadang jadi desain kursi masa depan.

“Harga untuk kelas bisnis dan first class akan meningkat tajam jauh dari biasanya, mungkin sekitar 85 persen. Itu berarti pilihan traveler yang paling terjangkau namun nyaman –di luar kelas bisnis dan first class- kini menjadi kenyataan,” tutupnya.

Kabar Sedih, Australia Tutup Akses Masuk Buat Wisatawan Hingga 2021

Mungkin bagi sebagian orang di Indonesia, Australia bakal terasa begitu ‘jauh,’ pasalnya Negara Benua tersebut telah menutup rapat-rapat bagi hadirnya wisatawan, setidaknya hingga tahun 2021 mendatang. Konkritnya, bagi Anda yang ingin berwisata atau ada niatan menengok sanak saudara yang menetap di Australia, maka harus gigit jari. Kebijakan lockdown bagi turisme ini terkait pandemi Covid-19, dimana Pemerintah Australia berusaha memproteksi kesehatan warganya dari potensi masuknya virus yang kemungkinan dibawa oleh pelancong.

Baca juga: Bandara Changi Hadirkan Transit Holding Areas untuk Penumpang Singapore Airlines

Meski hal tersebut merupakan kabar yang membuat sedih, namun, negara asal Koala ini tetap berusaha untuk melonggarkan aturan masuk bagi pelajar dan pengunjung yang sudah atau berencana tinggal dalam jangka panjang di Australia, seperti halnya warna negara asing yang telah mendapatkan hak sebagai permanent resident. Hal tersebut dikatakan oleh Menteri Perdagangan Simon Brimingham pada Rabu (17/6/2020).

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman mothership.sg (17/6/2020), Simon mengatakan, meski begitu aturan karantina selama 14 hari untuk warga negara yang kembali tetap diterapkan kepada para pelajar internasional dan pelancong yang akan tinggal dalam jangka panjang. Kewajiban karantina selama 14 hari menjadi pertanda tak memungkinkan bagi terbukanya sektor pariwisata, pasalnya setiap turis yang tiba di Australia, sudah akan kehabisan waktu 14 hari di karantina, sebelum nantinya dibebaskan bila dinyatakan tak terkangkit Covid-19.

Simon menambahkan, kembalinya pelajar internasional akan menjadi pendorong bagi universitas yang menghadapi kerugian finansial karena pembatasan selama ini. Apalagi pelajar internasional adalah penghasil devisa terbesar keempat Australia yang menghasilkan sebesar Aus$38 miliar setahunnya.

Saat ini Australia punya lebih dari 7300 kasus Covid-19 dan 102 orang meninggal. Ini mencatat kenaikan harian terbesar dalam infeksi baru lebih dari sebulan dan sebagian besar kasus Covid-19 terjadi di Negara Bagian Victoria. Victoria sendiri merupakan negara bagian kedua terpadat dan mencatatkan 21 kasus baru dalam semalam dengan 15 diantaranya adalah pelancong yang kini dalam karantina.

Baca juga: Marak Virus Corona, Wanita di Australia ini Timbun Tisu Toilet untuk Stok 12 Tahun!

Terkait hal tersebut, KabarPenumpang.com telah mencoba mendapatkan tanggapan dari Wakil Duta Besar Australia di Indonesia Allaster Cox, namun belum ada jawaban sampai tulisan ini diturunkan.

Menolak Pakai Masker Selama Penerbangan, Siap-siap Pramugari Akan ‘Catat’ Nama Penumpang!

Saat calon penumpang masuk ke area bandara, sesuai standar dan protokol pencegahan  Covid-19, maka semua diwajbkan mengenakan masker, dan itu telah berlaku di seluruh dunia. Namun, saat penumpang sudah berada di dalam kabin pesawat, rupanya banyak yang justru melepas masker, mungkin karena jengah terus-terusan mengenakan masker dalam perjalanan, apalagi jika yang dilakoni adalah long flight.

Baca juga: JetBlue Jadi Maskapai Besar AS Pertama yang Wajibkan Penumpang Pakai Masker

Nah, guna menrapkan kepatuhan pada penumpang, selain himbauan, maka maskapai seperti American Airlines rupanya punya cara tersendiri untuk menangani penumpang yang menolak mengenakan masker saat di kabin.

American Airlines dengan cepat menerapkan kebijakan baru pada penumpang yang tidak mau menggunakan masker saat di dalam kabin. Bahkan penolakan tersebut bisa berujung kepada penumpang itu kemungkinan di masa depan tak lagi boleh terbang bersama maskapai American Airlines.

Pemberitahuan ini dibagikan pada hari Selasa (16/6/2020) kepada awak kabin yang mana American Airlines meminta mereka untuk meningkatkan situasi yang melibatkan penumpang bandel. Awak kabin dalam pemberitahuan tersebut hanya cukup melaporkan nama-nama para penumpang bandel yang tak mengenakan masker.

Dilansir KabarPenumpang.com dari forbes.com (16/6/2020), seorang awak kabin American Airlines yang baru-baru ini melakukan perjalanan selama seminggu mengatakan, banyak penumpang yang menggunakan masker, tetapi semakin banyak yang tidak menggunakan. Awak kabin yang tidak mau disebutkan namanya itu menambahkan, pernah mendapati seorang penumpang tidak menggunakan masker padahal sudah diminta.

Dalam kasus seperti ini, pemberitahuan tersebut mengatakan awak kabin harus memberikan nama penumpang kepada departemen keamanan maskapai. Nantinya pihak departemen akan menentukan apakah penumpang tersebut bisa terbang dengan mereka lagi atau tidak.

Sayangnya pihak maskapai belum secara terbuka menyebutkan prosedur untuk penumpang yang tidak menggunakan masker. Dalam siaran pers yang dikeluarkan American Airlines, pada (15/6/2020), mereka mengatakan akan memberlakukan kebijakan yang sudah diumumkan pada 4 Mei lalu di mana setiap penumpang wajib menggunakan masker.

Otoritas penerbangan mengatakan dalam pengumuman publik sebelum berangkat, awak kabin harus mengingatkan penumpang bahwa masker harus dikenakan. Namun, persyaratan penggunaan masker tidak berlaku jika ada pengecualian medis. Meski begitu awak kabin juga akan membagikan masker kepada penumpang yang tidak memilikinya.

Dalam pengumuman pra-penerbangan, penumpang akan diberitahu, maskapai sekarang meminta semua pelanggan untuk mengenakan penutup wajah selama penerbangan. Mengenakan penutup wajah membantu melindungi Anda dan orang-orang di sekitar Anda dan menunjukkan pertimbangan kepada orang lain yang bepergian.

“Meskipun diperbolehkan untuk melepas penutup wajah saat makan atau minum, Anda harus mengenakan penutup wajah Anda sepanjang waktu selama penerbangan kami. Jika Anda tidak mau mengikuti persyaratan ini, Anda mungkin tidak diizinkan terbang bersama kami di masa depan,” kata American Airlines.

Baca juga: Garuda Indonesia Bakal Hapus Kewajiban Pakai Masker, Penumpang ‘Cukup’ Kenakan Face Shield

United Airlines juga membuat kebijakan yang sama dengan mewajibkan seluruh penumpang menggunakan masker selama penerbangan.

Pramugari Garuda Indonesia Dikomplain Gegara Masker, Sinyal Kuat Penumpang Ingin Cuci Mata?

Garuda Indonesia memutuskan untuk menanggalkan penggunaan masker pada pramugari akibat banyak dikomplain penumpang dewasa. Rata-rata, mereka komplain karena tak bisa melihat ekspresi pramugari saat melayani mereka, entah sambil tersenyum atau sebaliknya.

Baca juga: Bak Tanpa Riasan Penuh, Inilah Rahasia Cantik ala Pramugari Singapore Airlines

“Banyak penumpang dewasa komplain tentang pramugari kami yang menggunakan masker,” kata Irfan belum lama ini dalam webinar Stadium Generate Binus Univesity.

Sinyal keputusan Garuda Indonesia untuk melepas pemakaian masker dan menggantinya dengan face shield, agar penumpang bisa melihat senyum (wajah) pramugari, sebetulnya sudah sejak awal Januari lalu disinggung bos maskapai pelat merah ini.

“Kalau pakai masker kan tidak ketahuan apa dia itu senyum atau bagaimana. Jadi (masker) bisa dibuka dan sebagai gantinya pakai face shield,” kata Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra kepada wartawan dalam konferensi pers virtual melalui Zoom, Jumat (5/6).

Meskipun Irfan tak menyebut jenis kelamin penumpang dewasa yang mengkomplain pramugari Garuda, namun, patut digarisbawahi bahwa pramugari memang tak bisa dilepaskan dari paras cantik atau paling tidak sedap dipandang mata.

Demikian juga sebaliknya, penumpang yang memutuskan untuk menggunakan jasa sebuah maskapai, besar kemungkinan salah satunya berkat konsistensi maskapai menjaga penampilan awak kabinnya, baik dari segi usia, wajah, postur, hingga penampilan, dengan sederet SOP terkait make up (agar tak terlalu menor) dan seragam pramugari itu sendiri agar terlihat anggun dan tak seronok.

Tak heran bila konsistensi maskapai untuk menjaga penampilan pramugari, beberapa di antaranya sampai berujung PHK. Salah satu maskapai yang pernah melakukan ini adalah Malaysia Airlines. Pada akhir Februari lalu, maskapai nasional Malaysia ini pernah memecat pramugari hanya karena kelebihan berat badan kurang lebih sebesar1 kg, yakni 61,7 kg, dari berat maksimum yang diizinkan sebesar 61 kg. Meskipun terdengar tak elok, namun, maskapai terpaksa melakukannya semata untuk menjaga kualitas pelayanan ke para pelanggan.

Kembali ke masalah pramugari Garuda Indonesia yang dikomplain karena masker, reputasi pramugari maskapai pelat merah ini memang patut diacungi jempol. Sejak tahun 2014 lalu, Garuda Indonesia berhasil menyabet gelar The World’s Best Cabin Crew versi Skytrax hingga tahun 2018.

Baca juga: Punya Standar Tinggi, Malaysia Airlines Pecat Pramugari yang Kelebihan Berat Badan Meski 1 Kg

Setahun berikutnya, predikat itu juga hampir kembali direbut setelah menempati posisi kedua di bawah Singapore Airlines. Penghargaan tersebut -dari segi layanan- dirasa sangat prestisius karena setidaknya ada sekitar 41 penilaian yang harus dilewati, mencakup postur, penampilan, pelayanan, hingga paras cantik pramugari.

Dari rekam jejak tersebut, wajar saja bila penumpang Garuda Indonesia komplain pramugari karena tak bisa melihat senyum mereka saat melakukan pelayanan, baik kepada penumpang pria maupun wanita. Hal itu juga menjadi indikasi kuat bahwa penumpang pun juga butuh dibuat senang sekalipun dengan sebuah senyum, mulai dari pertama kali masuk hingga keluar pesawat.

Lion Air Group: Pengaturan Jarak Aman di Kabin Disesuaikan dengan Tipe dan Kapasitas Pesawat

Ketika maskapai mulai menerbangkan pesawat mereka dengan mengangkut penumpang, banyak pertanyaan yang muncul bagaimana dengan jarak aman atau physical distancing dalam kabin. Lion Air Group salah satu maskapai Indonesia melakukan pengaturan jarak aman sesuai dengan jumlah kursi berdasarkan tipe pesawat yang dioperasikan.

Baca juga: Kosongkan Kursi Tengah di Pesawat, Apakah Ini Efektif Selama Pandemi?

Corporate Communications Strategic of Lion Air Group, Danang Mandala Prihantoro mengatakan, mereka memiliki banyak jenis pesawat yakni narrow body dengan konfigurasi 3-3 pada Boeing 737-800NG, Boeing 737-900ER, Airbus 320-200CEO dan Airbus 320-200NEO. Sedqangkan wide body tata letak kursi 3-3-3 yakni Airbus 330-300CEO dan Airbus 330-900NEO serta pesawat ATR 72-500 dan 72-600 dengan letak kursi 2-2.

Danang menjelaskan untuk prioritas pengaturan penumpang sesuai protokol, Lion Air Group mengatur barus kursi bagian depan adalah penumpang grup dan penumpang yang memiliki hasil uji kesehatan PCR atau Swab Covid-19 dengan hasil negatif. Untuk kursi berikutnya akan disesuaikan di mana penumpang akan duduk dekat jendela dan lorong.

“Kami menyediakan kursi baris paling belakang sebagai area karantina bagi penumpang yang membutuhkan penanganan khusus. Misalnya seperti terindikasi atau memiliki gejala Covid-19,” ujar Danang melalui siaran pers, Rabu (17/6/2020).

Dia mengatakan, adanya pengaturan ini membuat adanya jarak aman antar penumpang saat duduk di dalam pesawat. Tak hanya saat check in, awak kabin dan petugas layanan darat juga membantu teknis pengaturan jarak ketika berada di kabin pesawat.

Danang mengatakan, untuk alasan keselamatan dan keseimbangan pesawat udara saat lepas landas dan mendarat, penumpang bisa dipindah sesuai dengan instruksi awak darat atau awak kabin. Meski begitu, Danang menambahkan, bahwa ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam sistem pengaturan tempat duduk bagi penumpang dalam kabin.

“Kursi di baris pintu dan jendela darurat harus terisi sesuai ketentuan tersebut dengan kriteria dewasa dan diutamakan penumpang yang tidak bepergian dengan keluarga. Mereka juga harus memenuhi ketentuan fisik dan memahami instruksi dari awak kabin dalam Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris,” jelas Danang.

Baca juga: Begini Cara Maskapai Dunia Terapkan Physical Distancing di Pesawat

Sedangkan untuk penumpang yang membutuhkan penangan khusus tetap harus mengikuti arahan dan instruksi awak kabin. Selain dalam kabin, penumpang juga harus mematuhi ketentuan wajib sesuai protokol kesehatan dalam perjalanan udara bagi setiap penumpang saat berada di bandara.