34 Tahun Silam, Pan Am Flight 73 Dibajak dan Seorang Pramugari Dianugerahi Penghargaan Ashok Chakra

Sebuah pesawat Pan American World Airways Boeing 747-121 dengan penerbangan 73 dibajak 34 tahun yang lalu. Tepatnya 5 September 1986 ketika penerbangan Pan Am tersebut dari Bombay, India menuju ke New York, Amerika Serikat dibajak saat melakukan pemberhentiannya di Karachi, Pakistan. Pembajakan tersebut dilakukan oleh empat pria Palestina bersenjata di Organisasi Abu Nidal. Saat itu, pesawat baru saja tiba di Karachi pukul 04.30 waktu setempat. Pesawat membawa 394 penumpang, sembilan bayi, seorang awak pesawat Amerika dan 13 pramugari India.

Baca juga: Neerja Bhanot – Mengenang Tameng Hidup Tragedi Pan Am Penerbangan 73

Kemudian sebanyak 109 penumpang turun di Karachi dan bus pertama penumpang baru mencapai pesawat di landasan ketika pembajakan mulai terjadi. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, dua pembajak dari Pasukan Keamanan Bandara Pakistan menuju ke pesawat dengan van yang dilengkapi sirene dan lampu berkedip. Kemudian melepaskan tembakan ke udara dan naik tangga pesawat di mana dua pembajak lainnya bergabung dengan salah satunya menggunakan shalwar kameez Pakistan serta membawa koper penuh granat.

Para pembajak tersebut melepaskan tembakan ke kaki dari salah seorang pramugari yang memaksanya menutup pintu. Pramugari lainnya Neerja Bhanot yang tak terlihat oleh pembajak mengirimkan kode pembajakan ke pilot yang keluar dari pesawat melalui Perangkat Pelarian Reel Inersia. Keluarnya pilot, membuat pesawat yang sudah dalam kendali pembajak selama 40 menit tidak bisa bergerak.

Keempat pembajak itu kemudian diidentifikasi sebagai Zayd Hassan Abd al-Latif Safarini (Safarini, alias “Mustafa”), Jamal Saeed Abdul Rahim (alias “Fahad”), Muhammad Abdullah Khalil Hussain ar-Rahayyal (“Khalil”), dan Muhammad Ahmed Al-Munawar (alias “Mansoor”). Dalam waktu singkat setelah merebut kendali pesawat, pemimpin pembajak Safarini menyadari bahwa awak kokpit telah melarikan diri dan karena itu dia akan dipaksa untuk bernegosiasi dengan petugas.

Penumpang kelas satu dan bisnis diperintahkan menuju bagian belakang pesawat dan pada saat yang sama, penumpang di bagian belakang pesawat diperintahkan maju. Karena pesawat hampir penuh, penumpang duduk di lorong, dapur kecil dan pintu keluar. Sekitar pukul 10.00 pagi, Safarini naik pesawat dan tiba di kursi Rajesh Kumar, seorang warga Indian Amerika berusia 29 tahun.

Safarini memerintahkan Kumar untuk maju ke depan pesawat, berlutut di depan pintu pesawat dan menghadap ke depan pesawat dengan tangan di belakang kepala. Safarini bernegosiasi dengan pejabat, khususnya Viraf Daroga, kepala operasi Pan Am Pakistan, menyatakan bahwa jika awak pesawat tidak dikirim dalam waktu 30 menit, maka Kumar akan ditembak.

Karena tak sabar menunggu petugas, Safarini menembak bagian kepala Kumar di depan semua orang baik yang berada di dalam kabin pesawat maupun di luar. Safarini mendorong Kumar keluar dari pintu ke jalan di bawah. Personil Pakistan di jalan melaporkan bahwa Kumar masih bernafas ketika dia ditempatkan di ambulans, tetapi dia dinyatakan meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit di Karachi.

Safarini bergabung dengan para pembajak dan memerintahkan pramugari, Sunshine Vesuwala dan Madhvi Bahuguna, untuk mulai mengumpulkan paspor. Mereka memenuhi permintaan ini dan selama pengumpulan paspor, penumpang yang memiliki paspor Amerika akan dipilih oleh para pembajak, pramugari melanjutkan untuk menyembunyikan beberapa paspor Amerika di bawah kursi, dan membuang sisanya ke saluran sampah.

Kebuntuan pembajakan berlanjut hingga malam dan selama itu Dick Melhart diposisikan di dekat pintu dan mampu membukanya saat penembakan dimulai. Sekitar pukul 21.00 unit daya tambahan dimatikan, semua lampu dimatikan dan lampu darurat menyala. Penumpang di depan diperintahkan ke belakang, sedangkan penumpang di belakang diperintahkan maju.

Berhubung gang sudah penuh, penumpang yang berdiri itu hanya duduk. Dengan pesawat padam dan duduk di dekat kegelapan, seorang pembajak di pintu L1 mengucapkan doa dan kemudian bertujuan untuk menembak sabuk bahan peledak yang dikenakan oleh pembajak lain di dekat pintu. Tujuannya adalah untuk menimbulkan ledakan yang cukup masif untuk membunuh semua penumpang dan awak di dalamnya, serta diri mereka sendiri.

Namun, karena kabin gelap, pembajak meleset, menyebabkan ledakan kecil. Segera para pembajak mulai menembakkan senjata mereka ke kabin ke arah penumpang dan berusaha melemparkan granat mereka. Sekali lagi kekurangan cahaya menyebabkan mereka tidak menarik pin sepenuhnya dan hanya membuat ledakan kecil.

Hingga akhirnya pembajak menembakkan peluru pistol mereka dan memantul dari permukaan kabin sehingga membuat pecahan yang melumpuhkan. Seorang pramugari di pintu L3 membuka pintu meskipun perosotan tidak menyebar, beberapa penumpang dan awak melompat dari ketinggian enam meter. Dick Melhart berhasil membuka kunci pintu di R3 yang merupakan pintu keluar di atas sayap, penumpang melompat keluar dari pintu keluar ini.

Kemudian Neerja membuka pintu darurat dan langsung membuka parasut peluncuran darurat, tetapi bukannya melarikan diri, gadis berusia 23 tahun ini membantu membawa penumpang keluar. Dia ditembak dan dibunuh ketika menjadi perisai tiga anak dari dari tembakan api peluru. Seorang staf lapangan yang terperangkap di kapal selama cobaan berat bertanggung jawab untuk membuka pintu R4, yang merupakan satu-satunya pintu yang dipersenjatai untuk memasang perosotan darurat. Pada akhirnya, perosotan ini memungkinkan lebih banyak penumpang untuk mengungsi dengan aman dan tanpa cedera.

Pakistan dengan cepat mengirim pasukan komando Kelompok Layanan Khusus (SSG) Angkatan Darat Pakistan dan Penjaga Pakistan disiagakan. Pembajakan selama 17 jam berakhir ketika para pembajak menembaki penumpang pada pukul 21.30 Waktu Pakistan, tetapi segera kehabisan amunisi, mengakibatkan beberapa penumpang melarikan diri dari pesawat melalui pintu keluar darurat pesawat.

Baca juga: Pembajakan Pesawat Terlama, 39 Hari Kelam Penumpang El Al Flight 426

Diketahui, dalam pembajakan Empat puluh tiga penumpang tewas saat pembajakan yang berasal dari India, Amerika Serikat, Pakistan dan Meksiko. Seluruh pembajak ditangkap dan dihukum mati di Pakistan. Namun, hukuman kemudian diubah menjadi penjara seumur hidup. Neerja Bhanot, kepala pramugari di penerbangan tersebut, secara anumerta dianugerahi penghargaan perdamaian tertinggi di India untuk keberanian, Penghargaan Ashok Chakra atas jasanya untuk menyelamatkan nyawa para penumpang saat pembajakan tersebut.

Selain Mandala Airlines dan Hercules TNI AU, Inilah Daftar Kecelakaan yang Terkait Bandara Polonia Medan

Tepat pada hari ini, 15 tahun yang lalu, bertepatan dengan Senin, 5 September 2005, pesawat Boeing 737-200 Mandala Airlines flight RI 091 jatuh dan menimpa pemukiman warga di Jalan Jamin Ginting, tak lama setelah lepas landas dari Bandara Polonia, Medan, Sumatera Utara. Insiden tersebut pun menewaskan 100 orang, ditambah 49 orang lainnya yang berada di darat.

Baca juga: Hari Ini, 15 Tahun Lalu, Mandala Airlines Flight 091 Jatuh dan Menimpa Pemukiman Warga di Medan

Bak deja vu, publik seperti melihat kejadian tersebut berulang beberapa tahun setelahnya. Pada Selasa, 30 Juni 2015, pesawat Lockheed C-130 Hercules C-130 milik TNI AU yang mengangkut logistik jatuh menimpa ruko-ruko juga di Jalan Jamin Ginting, Medan, Sumatera Utara. Pesawat diketahui lepas landas dari Lapangan Udara Suwondo (dulu Bandara Polonia), Medan, pukul 11:48 WIB. Dua menit kemudian, atau pada pukul 11:50 WIB, langsung jatuh.

Akibat kecelakaan tersebut, sebanyak 110 penumpang dan 12 awak diyakini tewas. Sembilan masyarakat yang ada di darat juga dilaporkan menjadi korban. Di antara 110 penumpang itu, terdapat lima orang yang jasadnya tidak ditemukan dan menyisakan misteri, layaknya kecelakaan Mandala Airlines flight RI 091 yang menyisakan 17 penumpang selamat dimana seluruhnya berada di kursi bagian depan; di samping misteri keberadaan durian dan hubungannya dengan kecelakaan.

Di luar kedua itu, tak banyak yang tahu bahwasannya Bandara Polonia Medan pernah terlibat beberapa kecelakaan atau insiden, baik secara langsung maupun tidak.

Dihimpun dari berbagai laman, Sabtu, 4 April 1987, Garuda Indonesia flight 035 mengalami kecelakaan di Bandara Polonia, Medan. Pesawat Douglas DC-9 buatan 1976 dengan nomor registrasi PK-GNQ ini diketahui menabrak tonggak menara dan jatuh saat melakukan landing approach menggunakan Instrumen Landing System.

Akibat insiden itu, 23 orang dari 45 penumpang dan kru yang ada di dalam pesawat tersebut tewas. Semua korban tewas diyakini bukan akibat langsung dari benturan pesawat dengan daratan, melainkan tewas terbakar bersamaan dengan terbakarnya pesawat. Begitu juga dengan korban selamat, sebagian besar korban yang selamat melarikan diri lewat sela-sela puing pesawat dan 11 lainnya terlempar dari pesawat.

Sama halnya dengan kecelakaan Garuda Indonesia flight 035, Garuda Indonesia lainnya juga mengalami kecelakaan pada Rabu, 11 Juli 1979, saat hendak melakukan approach landing di Bandara Polonia, Medan dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang. Pesawat Fokker F28 Garuda Indonesia bernama Mamberamo itu menabrak lereng Gunung Pertektekan, anak Gunung Sibayak, beberapa puluh meter dari Bandara Polonia. Sebanyak 61 orang, terdiri dari penumpang dan awak, dilaporkan tewas; termasuk Kapten pilot A.E. Lontoh.

Tak berhenti sampai di situ, 18 tahun kemudian, bertepatan dengan Jumat, 26 September 1997, Garuda Indonesia flight GA152 juga jatuh jelang masuk Bandara Polonia, Medan. Pesawat Airbus A300-B4 Garuda Indonesia diketahui mengalami crash di Buah Nabar, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, 45 km dari Kota Medan. 234 orang, termasuk awak dan penumpang, tewas seketika; termasuk dua orang Inggris, satu Perancis, enam Malaysia, empat Jerman, dua Amerika, dan dua dari Kanada.

Baca juga: Tragedi GA152: Sempat Terjadi ‘Kebingungan’ Identifikasi ATC dengan MA152

Meskipun sejak 25 Juli 2013 (85 tahun beroperasi) seluruh area bekas Bandara Polonia Medan itu sudah berganti nama menjadi Pangkalan Udara (Lanud) Soewondo (di bawah Pangkosek Hanudnas III), ditandai dengan keberangkatan terakhir pesawat komersial oleh AirAsia QZ 780, tetapi, hal itu tak lantas menghilangkan jejak bandara tersebut dari beberapa insiden kecelakaan pesawat di Indonesia. Bahkan, insiden yang terjadi sebelum era kemerdekaan Indonesia sekalipun; mengingat bandara tersebut sudah ada sejak sekitar tahun 1928.

Diketahui, sebuah pesawat Koninklijke Nederlandsch-Indische Luchtvaart Maatschappij (KNILM), maskapai penerbangan Hindia Belanda, Douglas DC-3-194B “Nandoe” (PK-ALN), hancur digempur pesawat pembom Jepang saat tengah parkir di apron Bandara Polonia, Medan. Beruntung bandara dengan luas sekitar 144 hektare yang kini digantikan oleh Bandra Kuala Namu (KNO) ini tak ikut digempur habis Jepang.

Penggunaan Partisi dalam Taksi Rusia Masih Kontroversi

Semenjak pandemi virus corona melanda dunia, partisi atau penyekat pengemudi dengan penumpang di dalam taksi konvensional atau taksi online mulai terpasang. Hal ini untuk meminimalisir penularan Covid-19. Namun di Rusia, partisi ini akan dipasang karena untuk melindungi pengemudi dari penumpang yang melakukan kejahatan.

Baca juga: Sekat Partisi Digunakan Pengemudi Ojol, Efektifkah untuk New Normal?

Sebab bukan hanya pengemudi yang menyerang tetapi penumpang pun kerap kali menyerang pengemudi. Bahkan karena banyaknya penyerangan yang dilakukan penumpang, pengemudi sering merekam perilaku yang tidak pantas tersebut.

Terkadang masalah penyerangan pengemudi yang dilakukan penumpang ini pun sepele seperti pengemudi yang menolak membawa anak tanpa kursi mobil anak dan berbagai hal lainnya. Penambahan partisi untuk pengemudi ini sudah dibahas oleh Lembaga Pemerintahan Duma pada musim semi.

Tetapi dalam pembahasan tersebut perwakilan agregator taksi belum ikut dan menurut wakil ketua komite majelis rendah parlemen bidang transportasi dan konstruksi, Vladimir Afonsky mereka harus ikut ambil bagian karena masalah perilaku penumpang dan pengemudi. Dirangkum KabarPenumpang.com dari pledgetimes.com (2/9/2020), beberapa perusahaan mendukung inovasi pembuatan partisi tersebut.

Namun keberadaan partisi ini di dalam taksi tidak menjadi sebuah keharusan melainkan sebagai opsi tambahan. Perusahaan Vezet mengatakan kepada Izvestia bahwa struktur partisi mobil memang memberikan perlindungan dari manifestasi agresif penumpang atau pengemudi, tetapi menekankan, “Kewajiban apa pun yang terkait dengan investasi material akan menciptakan hambatan tambahan bagi pengangkut legal.”

Pavel Stennikov kepala departemen hubungan masyarakat layanan taksi Maxim menyebut masalah pemasangan partisi itu sulit. Sebab ada banyak bagian dari persewaan mobil taksi di Moskow, mereka secara khusus dibeli dan disewakan untuk kebutuhan ini. Dengan beberapa kemungkinan, Anda dapat bereksperimen dengan mereka.

Tapi di dalam negeri secara keseluruhan tidak mungkin, karena di daerah lebih dari 90 persen pengemudi bekerja di mobil pribadi yang digunakan untuk taksi dan perjalanan keluarga. Menurut koordinator gerakan “Blue Buckets” Pyotr Shkumatov, tidak ada titik di sekat yang hanya menutupi punggung pengemudi.

Tetapi jika Anda memasang partisi, maka hanya satu yang memisahkan seluruh ruang belakang dan hanya dalam kasus-kasus tersebut ketika sebuah kendaraan taksi milik perusahaan taksi dan hanya dioperasikan di dalam taksi. Selain itu, ahli mengenang adanya banyak penumpang yang duduk di jok depan di samping pengemudi, karena diguncang dangkal di jok belakang.

Pakar otomotif independen Dmitry Popov menyebutkan dua alasan untuk tidak memasang partisi pelindung di dalam mobil. Pertama, keberadaan objek apa pun di jalur pengemudi di kaca spion mengubah jarak, mengubah pandangan. Kedua, keberadaan benda asing yang rentan terhadap perubahan bentuk dan kerusakan saat kecelakaan juga tidak diterima di dalam kabin.

”Jadi bisa dibayangkan jika kaca plexiglass ini pecah saat terjadi kecelakaan dan pecahannya menyebabkan cedera serius pada pengemudi dan penumpang. Mobil menggunakan kaca depan tiga lapis – tripleks, yang direkatkan ke film khusus dan jika terjadi kecelakaan tidak pecah menjadi potongan besar, tapi hancur menjadi debu kecil,” ujarnya.

Bahkan jika Anda meletakkan partisi, Anda perlu memahami yang mana. Ada dua jenis desain, yang mana salah satunya adalah sekat ukuran penuh yang memisahkan jok depan.

“Orang sering bepergian dengan perusahaan, keluarga dengan anak-anak, dengan barang bawaan. Partisi solid melintang akan menyisakan penumpang hanya di baris belakang, dan untuk kursi anak yang terpasang, hanya satu kursi gratis untuk orang dewasa. Karenanya, pembatasan fisik seperti itu tidak sesuai untuk penumpang, tidak mungkin untuk menggunakan layanan sesuai kebutuhan, ”kata Stennikov.

Baca juga: Hilangkan Kursi Ganda di Bus, Torsus Buat Sekat Antar Kursi Penumpang Guna Cegah Penularan Covid-19

Opsi kedua adalah partisi parsial yang hanya menutupi jok pengemudi. Pakar otomotif Vladimir Bakharev yakin bahwa Anda perlu mulai memasang partisi dengan jenis struktur ini yang melindungi leher dan punggung pengemudi.

Dramatis! Kapal Ferry di Yunani Selamatkan Gadis Kecil dengan Pelampung Unicorn yang Terbawa Arus Hingga ke Tengah Laut

Gadis kecil berusia sekitar tiga tahun yang duduk di atas pelampung unicorn dan terombang-ambing di laut lepas. Gadis kecil tersebut bisa mengapung ke tengah laut karena tersapu arus dan luput dari perhatian orang tua.

Baca juga: Terombang-Ambing Selama Tujuh Jam, Penumpang Kapal Ferry ini Tidak Bisa Gunakan Toilet!

Untungnya saat itu ada kapal Ferry yang tengah berlayar melihat gadis kecil tersebut.  Para awak kapal kemudian langsung melakukan penyelamatan dramatis pada anak ini dan videonya pun viral di media sosial.

Awal penyelamatan dilakukan karena kapten kapal Ferry Salaminomachos, Grigoris Karnesis melihat ada yang terombang-ambing dan mengapung di laut. Dia tak percaya apa yang dilihatnya karena anak itu dan pelampungnya bergerak begitu cepat sehingga tak ada waktu berpikir.

Dilansir KabarPenumpang.com dari greekcitytimes.com (25/8/2020), kapten kapal Ferry berusia 50 tahun tersebut langsung membawa kapalnya mendekat dengan pelampung dan menyelamatkan anak kecil tersebut. Setelah mendekat terdengar jeritan dari si gadis kecil tersebut.

Meski begitu, dirinya harus menjaga agar pelampung yang ditumpangi gadis itu tidak terjebak di backwash supaya bisa mengamankan tanpa terjatuh ke laut. Kemudian mekanik kapal, Vasilis Karnesis bergeser ke tepi kapal dan menarik pelampung serta mengangkat gadis tersebut ke kapal.

“Tidak ada yang bisa dilakukan anak ini,” kata Grigoris.

Aksi penyelamatan ini terekam kamera oleh seorang penumpang bernama Petros Kritsonis dan mengunggahnya ke media sosial pada Senin (25/8/2020) tak lama setelah insiden itu terjadi. Hal ini kemudian viral dan Perdana Menteri Kyriakos Mitsotakis memanggil kapten kapal untuk berterimakasih kepada sang kapten dan kru kapal.

Inisiden ini terjadi di Teluk Corith, Yunani di mana ketika gadis itu terbawa arus di atas pelampung, sang ayah mencoba mengejarnya. Namun ayah gadis kecil ini terjebak dalam arus yang cukup kuat dan pelampung anaknya semakin menjauh dari bibir pantai serta tak bisa terjangkau.

Orang tua anak ini  kemudian memberitahukan kepada otoritas pelabuhan terkait insiden yang menimpa anaknya itu. Karena hal ini kemudian pihak otoritas mencoba memberitahu kapal kapten Karnesis yang paling dekat dengan tempat kejadian.

Sebelum diselamatkan, anak tersebut mengapung bersama unicornya selama 20 menit di tengah laut. Bahkan ketika diselamatkan, gadis kecil ini kewalahan  karena kaget dan diam tidak berbicara. Setelah dipertemukan dengan orang tuanya, sang ibu pun tak bisa berkata-kata.

Baca juga: Francisco, Kapal Ferry Wisata dengan Kecepatan 51,8 Knot!

“Kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan dan ini pertama kalinya dia berurusan dengan penyelamatan seorang anak,” ujar Vasilis.

Pesawat Flying-V KLM-TU Delft Sukses Terbang Perdana! Lebih Hemat 20 Persen Dibanding A350

Setelah berproses hampir satu setengah tahun, pesawat konsep model skala Flying-V besutan KLM-TU Delft sukses terbang perdana. Hanya saja, Flying-V yang berhasil terbang belum lama ini masih dalam skala miniatur. Meski begitu, pesawat tanpa awak itu tetap mewakili aerodinamika yang dibutuhkan dalam proses pengembangan konsep Flying-V.

Baca juga: KLM Gandeng TU Delft Kembangkan Pesawat Hemat Energi “Flying-V”

Pieter Elbers, presiden dan CEO KLM mengatakan, “Kami sangat ingin tahu tentang karakteristik penerbangan Flying-V. Desainnya sesuai dengan inisiatif Fly Responsibly kami, yang mewakili semua yang kami lakukan dan akan terus kami lakukan untuk meningkatkan keberlanjutan kami. Kami menginginkan masa depan yang berkelanjutan untuk penerbangan dan inovasi adalah bagian darinya,” jelasnya sebagaimana dikutip dari aero-mag.com.

“KLM telah menjadi salah satu dari tiga maskapai penerbangan paling berkelanjutan (ramah lingkungan) di dunia dalam Indeks Keberlanjutan Dow Jones selama bertahun-tahun. Kami ingin terus melakukannya di masa mendatang. Oleh karena itu kami sangat bangga bahwa kami dapat mencapai ini bersama dalam waktu dekat,” tembahnya.

Flying-V sendiri adalah desain pesawat jarak jauh yang diklaim sangat hemat energi. Itu karena, desain kabin penumpang, kargo, dan tangki bahan bakar terintegrasi dengan sayap sehingga menciptakan bentuk “V”. Desain tersebut tentu berbeda dengan pesawat pada umumnya, dimana desain badan pesawat dan sayap tidak terintegrasi.

Dari hasil permodelan di komputer, desain aerodinamika konsep Flying V terbukti mengurangi bobot pesawat sehingga menghasilkan penerbangan hemat energi hingga 20 persen dibandingkan pesawat tercanggih yang ada saat ini, Airbus A350-900. Menariknya, efisiensi tersebut diperoleh dengan dimensi pesawat yang lebih kecil namun tetap memuat kursi dalam jumlah banyak, mencapai 314 penumpang.

Desain Flying V sendiri, bila dilihat dari efisiensi bahan bakar yang ditawarkan (hingga 20 persen), sebetulnya nyaris serupa dengan MAVERIC (Model Aircraft for Validation and Experimentation of Robust Innovative Controls) by Airbus yang mengusung konsep model “Blended Wing Body”.

Namun, model “Blended Wing Body” pada MAVERIC Airbus desainnya tak sampai membentuk “V” mengingat bagian tengah belakang pesawat tetap diisi oleh penumpang. Tetapi, penempatan mesin di bagian tengah belakang serta aerodinamika pesawat memiliki kemiripan dengan konsep Flying V.

Sejak dipresentasikan model skala Flying V pada pertemuan tahunan KLM Experience Days di Amsterdam Airport Schiphol (AMS), bertepatan dengan ulang tahun ke-100 KLM, beberapa mitra besar tertarik untuk sama-sama mewujudkan konsep tersebut; salah satunya Airbus.

Dukungan dari berbagai pihak, terlebih dari perusahaan sekaliber Airbus, tentu sangat penting. Apalagi, menurut Pieter Elbers, inovasi sulit terwujud bila berjalan sendiri tanpa adanya kolaborasi dengan berbagai pihak.

“Anda tidak dapat membuat sektor penerbangan lebih berkelanjutan sendiri, tetapi Anda harus melakukannya bersama-sama. Berkolaborasi dengan mitra dan berbagi pengetahuan membawa kita semua lebih jauh,” ujarnya.

Baca juga: Bahan Kimia Penyebab Ledakan di Beirut Jadi Alternatif Bahan Bakar Pesawat Ramah Lingkungan

“Itu sebabnya kami akan mengembangkan lebih lanjut konsep Flying-V dengan semua mitra. Langkah selanjutnya adalah menerbangkan Flying V dengan bahan bakar berkelanjutan,” tutupnya.

Saat ini, peneliti di dunia sudah mempunyai beberapa calon bahan bakar berkelanjutan pengganti bahan bakar fosil. Dua yang paling mungkin ialah hidrogen dan listrik; termasuk campuran dari hidrogen dan amonium nitrat (cairan kimia ledakan Lebanon).

Di Balik Penerbangan Bersejarah ke Uni Emirat Arab, Boeing 737 El Al 971 Israel Dibekali Sistem Anti Rudal

Ada yang menarik di balik penerbangan bersejarah Israel-Uni Emirat Arab (UEA) pada 31 Agustus lalu. Guna menjamin keamanan dan keselamatan tamu penting penerbangan El Al 971, pesawat Boeing 737 yang ditumpangi delegasi Israel dan Amerika Serikat (AS) itu dikabarkan sampai harus dilengkapi sistem anti-rudal C-Music yang menjadikannya sebagai maskapai komersial pertama dan satu-satunya di dunia yang dilengkapi sistem pertahanan udara (anti-rudal). Adopsi sistem anti rudal pada pesawat penumpang biasanya itu diterapkan pada pesawat kenegaraan atau pesawat kepresidenan.

Baca juga: Intip Ilyushin Il-96 Air Force One Rusia, Punya Sistem Pertahanan Anti Rudal dan Kursi Lontar

Dilansir Simple Flying, untuk pertama kalinya Arab Saudi membuka ruang udaranya untuk penerbangan komersial Israel. Pesawat El Al terbang dari Tel Aviv ke Abu Dhabi membawa delegasi AS dan Israel.

Disebutkan, delegasi AS dan Israel yang ada dalam penerbangan bersejarah El Al 971 bukanlah sembarang orang, mulai dari agen rahasia Amerika Serikat (AS) dan Mossad Israel, pejabat tinggi Israel mewakili Perdana Menteri Netanyahu, sampai mantu Presiden AS Donald Trump, Jared Kushner, yang secara resmi menjabat sebagai penasehat khusus Timur Tengah bagi pemerintah AS.

Dengan memuat tamu penting, ditambah tensi geopolitik di Timur Tengah yang tengah meningkat, di samping memang Israel itu sendiri mempunyai banyak musuh di Timur Tengah, wajar bila Boeing 737 El Al dilengkapi dengan sistem anti-rudal. Terlebih, kasus pesawat komersial dirudal sudah terjadi sejak lama. Umumnya, pesawat tersebut tidak dilengkapi dengan sistem pertahanan anti-rudal layaknya pesawat kenegaraan.

Sebelum Boeing 737 El Al, sudah ada pesawat penumpang pertama dari Rusia yang dilengkapi dengan sistem anti rudal, yakni Ilyushin Il-96-300. Pesawat tersebut dilengkapi dengan sistem pertahanan udara untuk melawan rudal anti pesawat portabel atau man-portable air defence systems (MANPADS). Hanya saja, pesawat tersebut tak digunakan oleh maskapai penerbangan komersial, melainkan untuk kebutuhan pesawat kenegaraan dan kebutuhan lainnya di luar komersial penumpang.

Usai penerbangan bersejarah Israel-UEA ditandai dengan pendaratan pesawat Boeing 737 El Al dengan nomor penerbangan 971 di Abu Dhabi, penerbangan lainnya direncanakan bakal segera terwujud.

CEO Israir Airlines, belum lama ini mengungkap bahwa pihaknya ingin segera memulai layanan berjadwal (reguler) ke UEA. Proses mewujudkan impian tersebut, saat ini, tengah ditempuh. Bila tak ada aral melintang, impian itu mungkin bukan hanya pepesan kosong belaka. Apalagi, Arab Saudi juga sudah mau membuka ruang udara mereka untuk penerbangan Israel-UEA.

Selama ini, Arab Saudi turut memainkan peran penting dalam penerbangan Israel-UEA. Bila mereka tak mau membuka ruang udara, maka, penerbangan Israel-UEA harus memutar jauh ke Utara ataupun Selatan.

Lagi pula, selain penerbangan bersejarah El Al sebagai maskapai pertama yang berhasil mendarat di UEA, sebelumnya, maskapai asal negeri kaya minyak tersebut, Etihad Airways, sudah lebih dahulu membuka jalan interaksi yang lebih tinggi antar kedua negara.

Baca juga: Sama-sama Jatuh Dirudal, Inilah Persamaan dan Perbedaan Insiden Malaysia Airlines MH17 dan Ukraine International PS752

Maskapai itu merupakan maskapai pertama yang mengoperasikan pesawat UEA ke Israel. Kala itu, penerbangan dilakukan dalam rangka menyalurkan bantuan ke Palestina. Bahkan, pada saat itu, tepatnya di awal tahun ini, UEA sama sekali belum menjalin kesepakatan damai dengan Israel.

Jika sudah begitu, menarik ditunggu, akankah penerbangan reguler UEA-Israel terwujud dalam waktu dekat, seiring penerbangan bersejarah yang dicetak kedua negara?

Mulai Hari ini, Wings Air Resmi Buka Penerbangan Makassar-Tana Toraja

Setelah melakukan rute evaluasi (proving flight) pada 20 Agustus, maka mulai hari ini, Jumat, 4 September 2020, Wings Air (Lion Air Group) resmi membuka penerbangan berjadwal dari dan ke Bandara Internasional Sultan Hasanuddin di Maros (UPG) Bandara Toraja di Kecamatan Mengkendek, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan (TRT).

Baca juga: Lima Maskapai Ini Kondang Untuk Rute Perintis

Untuk tahap awal, Wings Air menyediakan layanan dengan frekuensi terbang empat (4) kali dalam seminggu setiap Selasa, Rabu, Jumat dan Minggu. Penerbangan Wings Air menggunakan pesawat ATR-72 600 IW-1330 memiliki jadwal keberangkatan dari Bandara Sultan Hasanuddin pukul 09.35 WITA dan dijadwalkan tiba di Bandar Udara Toraja pada 10.35 WITA. Untuk penerbangan kembali, masih di hari yang sama Wings Air IW-1331 akan mengudara dari Bandara Tana Toraja pukul 10.55 WITA dan waktu kedatangan di Bandara Sultan Hasanuddin diperkirakan pada 11.55 WITA.

Dalam penerbangan Makassar – Tana Toraja – Makassar, Wings Air menawarkan nilai lebih kepada penumpang dengan total waktu tempuh sekali jalan (one way) berkisar 50 menit, relatif singkat, memperpendek jarak, terjangkau dan efektif.

“Rute terbaru Wings Air merupakan bagian kelanjutan dari proving flight pada 20 Agustus lalu dalam upaya melakukan pengkajian pasar dan potensi layanan penerbangan berjadwal atau rute evaluasi. Selain itu, Wings Air menguji kemampuan (kapabilitas) pengoperasian pesawat ATR 72 di Bandar Udara Toraja yang menjadi salah satu pintu masuk ke Kabupaten Tana Toraja.

Baca juga: ATR-72 600 Wings Air Sukses Lakukan Proving Flight di Bandara Taufik Kiemas

Wings Air mengoperasikan armada tipe ATR 72-600 atau ATR 72-500, berkapasitas 72 kursi kelas ekonomi, dinilai paling nyaman dan canggih di kelasnya yang mampu menerbangi rute jarak pendek. Wings Air optimis, pengoperasian pesawat tersebut dapat menggugah minat traveling, akan menambah pengalaman terbang setiap penumpang dengan sensasi tersendiri menggunakan pesawat turboprop atau baling-baling.

Cek Fakta Dibalik Kemunculan Flight 513 Pasca 35 Tahun Hilang!

Sabtu, 4 September 1954, pesawat Santiago Airlines dengan nomor penerbangan (flight) 513 dikabarkan hilang di Samudera Atlatik Utara dalam perjalanan dari Aachen, Jerman menuju Porto Alegre, Brasil. Namun, 35 tahun kemudian, tepatnya pada 12 Oktober 1989, Santiago Airlines flight 513 secara tiba-tiba muncul kembali dan berhasil mendarat di Porto Alegre dengan memuat 92 penumpang dan awak yang sudah menjadi tengkorak. Tak butuh waktu lama, insiden tersebut pun membuat heboh dunia.

Baca juga: (Lagi) Hipotesa Baru Misteri MH370: Pesawat Diduga Kehilangan Tekanan Kabin

Dilansir mysteriesrunsolved.com, atas insiden tersebut, pihak berwenang tak sedikit pun berani membuka suara. Hal itu lantaran pemerintah khawatir malah membuat warga jadi takut. Namun, proses penyelidikan tetap dilakukan guna mencari fakta terkait kemunculan pesawat Santiago Airlines flight 513.

Selama proses penyelidikan dimulai, berbagai teka-teki terus bermunculan. Dr Celso Atello, seorang peneliti sekaligus paranormal percaya bahwa pesawat Santiago Airlines flight 513 telah memasuki time warp atau lorong waktu.

“Pesawat Santiago Airlines flight 513 pasti telah masuk ke dalam lubang waktu dalam penerbangannya tahun 1954, tak ada kemungkinan lain. Hanya Tuhan yang tahu,” katanya.

Black Hole (lubang hitam) dan Time Warps (lorong waktu) sendiri sudah lama dibicarakan karena kerap membuat pesawat dan kapal laut hilang misterius tanpa jejak dan tak pernah kembali. Alhasil, kemunculan pesawat tersebut dari lorong waktu benar-benar menjadi buah bibir di dunia.

Sementara itu, proses penyelidikan terus dilakukan. Sayangnya, para saksi yang melihat kejadian tak bisa menggambarkan dengan utuh proses kejadian.

Mereka hanya melihat, pesawat Lockheed Super Constellation muncul tiba-tiba dan mendarat di bagian Barat Bandara Porto Alegre dengan landing approach tak biasa, mulai dari kecepatan dan tahapan pendaratan itu sendiri. Terlebih, ketika dicek, penumpang dan awak sudah menjadi tengkorak; termasuk tengkorak Kapten Miguel Victor Cury yang masih memegang kemudi.

Begitu juga dengan para mantan karyawan. Sebagian dari mereka banyak yang sudah tiada, sebagian lagi sudah termakan usia dan hilang ingatan. Lagi pula, maskapai Santiago Airlines dikabarkan sudah lama bangkrut tak lama setelah armada mereka hilang bak ditelan bumi di Samudera Atlantik.

Proses penyelidikan yang tak kunjung menemui titik terang pada akhirnya menimbulkan berbagai teori konspirasi. Publik percaya, bahwa pemerintah telah menyembunyikan bukti-bukti terkait hal ini (fenomena time warp) dengan dalih melindungi masyarakat. Sejalan dengan itu, seorang profesor ilmu fisika di Porto Alegre, Roderigo de Manha, mendesak pemerintah agar membuka fakta-fakta ke publik agar tak terus-menerus menjadi polemik di masyarakat.

Baca juga: Smartphone Hilang di Kabin Pesawat, Kemudian Muncul Foto Pramugari Misterius di iCloud

Akan tetapi, sekalipun seorang jurnalis, Irwin Fisher membenarkan kejadian ini, publik percaya, minimnya data dan fakta telah menunjukkan bahwa kemunculan Santiago Airlines flight 513 setelah 35 tahun hilang tak lebih dari sekedar hoax. Terlebih, kabar terkait hal itu diketahui muncul pertama kali dari Weekly World News.

Lagi pula, bila pun memang benar masuk ke time warp atau empat dimensi, waktu di sana tidaklah sama dengan waktu di bumi. Satu hari di ruang empat dimensi bisa jadi bertahun tahun atau bahkan berpuluh tahun waktu dibumi. Sama seperti waktu di bumi yang berbeda satu sama lain dengan waktu di merkurius, mars atau planet lainnya.

Sepuluh Ferry Baru dengan Dek Atas Tak Muat Saat Melintas di Beberapa Jembatan Sydney

Sepuluh kapal ferry baru milik Sydney, Australia tidak muat ketika melintasi di bawah beberapa jembatan yang ada di kota tersebut. Hal ini membuat penumpang yang duduk di dek atas harus mengosongkan daerah tersebut atau menunduk untuk berlindung. Kapal ferry ini sendiri dibuat di Singapura dan Indonesia serta akan melayani Sydney Harbour mulai akhir tahun ini.

Baca juga: Francisco, Kapal Ferry Wisata dengan Kecepatan 51,8 Knot!

Sepuluh kapal tersebut memiliki dek atas di mana penumpang yang menumpang bisa menikmati pemandangan kota terbesar di Australia. Namun ternyata kapal ferry ini hanya muat di bawah dua jembatan di Sungai Parramatta dan penumpang harus berlindung atau pindah dua kali dalam perjalanan mereka ketika berada di dek atas.

kapal ferry di Australia ketika melintasi bawah jembatan (smh.com.au)

“Sementara pelanggan dapat menikmati dek atas selama perjalanan mereka, mereka harus pindah ke dek bawah saat melewati Jembatan Kereta Api Camellia dan Jembatan Pabrik Gas,” kata juru bicara Transport for New South Wales (NSW) yang dikutip KabarPenumpang.com dari cnn.com (24/8/2020).

Bahkan masalah ini membuat Menteri Transportasi New South Wales Andrew Constance dikritik karena membeli kapal buatan asing dan gagal menyesuaikan desain dengan lalu lintas yang lewatinya. Ferry River Class baru yang dioperasikan oleh perusahaan transportasi Transdev akan bergabung dengan armada kapal penumpang yang mengelilingi pelabuhan terkenal Sydney dan daerah sekitarnya setiap hari.

“Pemerintah mengakui bahwa penumpang harus melompat dari dek atas, atau menunduk, untuk menghindari jembatan yang akan datang. Mereka telah diberitahu, berkali-kali, membangun hal-hal ini di dalam negeri … mereka bersikeras membangunnya di luar negeri dan kami melihat bencana seperti yang telah kita lihat dengan ferry hari ini,” kata menteri transportasi bayangan Chris Minns.

Partai Buruh negara bagaian tersebut mengatakan, kegagaglan ini menunjukkan dengan tepat bahwa Australia harus membangun kapal ferry sendiri. Graeme Taylor, dari kelompok kampanye Action for Public Transport, mengataka, mereka telah memesan kapal yang salah dan kapal ini harus benar-benar digunakan di tempat lain di pelabuhan, hanya saja tidak cocok untuk Sungai Parramatta.

Departemen transportasi kota bersikeras bahwa mereka mengetahui masalah pemasangan ferry tinggi di bawah dua jembatan, tetapi tetap mengambil keputusan untuk memesan ferry baru. Juru bicara Transport for NSW mengatakan, persyaratan izin Camellia Railway Bridge dan Gasworks Bridge selalu dikenal dan dianggap sebagai bagian dari desain ferry.

Mereka menambahkan bahwa tidak ada rancangan kapal ferry dua tingkat yang bisa muat di bawah dua jembatan tersebut, dan bagian Sungai Parramatta merupakan medan yang sulit untuk kapal. Perkembangan itu terjadi bahwa beberapa ferry dalam armada yang sama ditemukan mengandung asbes.

Baca juga: Pernah Dengar dan Tahu Makna Ferry Flight? Simak Di Sini Jika Belum

Perjalanan perahu di sekitar Pelabuhan Sydney populer di kalangan wisatawan, meskipun arus pengunjung kota yang biasa terhambat oleh pandemi virus korona dalam beberapa bulan terakhir.

Boeing 747 Cathay Pacific Legendaris Dijual Rp525 Ribu! Tidak Percaya?

Bisnis pesawat purna tugas lama-kelamaan semakin diminati. Sebab, 6.000 pesawat dalam 20 tahun mendatang akan mencapai akhir jam terbangnya. Lantas pesawat tua dibuang ke mana? Sebagian mungkin bakal dibuang ke kuburan pesawat di Gurun Mojave, sebagian lagi didaur ulang dan dibuat jadi barang berharga.

Baca juga: Percaya atau Tidak? Airbus A320 Lufthansa Dijual Rp429 Ribu!

Melihat hal itu, riset di Eropa coba mencari teknik pembuangan yang paling ekonomis dan ramah lingkungan. Hal itu dikarenakan pesawat dibuat dari 60 persen alumunium, 15 persen baja, 10 persen logam berharga mahal seperti titanium. Jadi, terlalu sayang untuk dibuang begitu saja, selain untuk menyelamatkan lingkungan.

Valliere Aviation, salah satu raksasa daur ulang pesawat tua di Eropa, mengerti betul betapa menggiurkannya pesawat tua. Biasanya pesawat tua dihancurkan, dibersihkan dari komponen radioaktif sesuai panduan hijau Eropa, diklasifikasikan, dan diteliti bagian mana saja yang masih bisa dipertahankan, seperti suku cadang berharga, roda pendaratan, mesin, dan peralatan avionik.

Boeing 747-400 B-HUJ Cathay Pacific saat sedang proses daur ulang. Foto: Aviationtag

Semua itu untuk dijual kembali di pasar suku cadang internasional. Namun, itu bukan bisnis satu-satunya. Di Eropa, tepatnya di Jerman, pesawat purna tugas dibongkar dan dijadikan souvenir atau gantungan kunci oleh Aviationtag. Salah satu produk souvenir atau gantungan kunci perusahaan tersebut datang dari pesawat legendaris Uniform Juliet Boeing 747-400 B-HUJ Cathay Pacific.

Melalui situs aviationtag.com, perusahaan yang berbasis di Cologne, Jerman, itu selain hendak menyelamatkan lingkungan dengan menghindari penumpukan pesawat-pesawat bekas yang jumlahnya jutaan di dunia, mereka juga melihat minat tinggi para pecinta penerbangan untuk mengabadikan pesawat favoritnya sekalipun dalam bentuk yang lebih kecil; tak terkecuali Queen of the Skies B-HUJ Cathay Pacific.

Gantungan kunci dari pesawat itu sendiri dijual dengan harga cukup terjangkau, sebesar Rp525 ribu (kurs 17.489).Cukup mahal memang bila dibanding dengan pesawat superjumbo dari Airbus, A380, yang dijual seharga Rp415.000 atau €27.95. Namun, harga segitu sebetulnya masih masuk akal bila dilihat dari rekam jejak pesawat.

Gantungan kunci Boeing 747-400 B-HUJ Cathay Pacific. Foto: Aviationtag

Boeing 747-400 B-HUJ Cathay Pacific diketahui melakukan penerbangan terakhir pada 1 Oktober 2016. Pesawat tersebut pensiun setelah terbang selama 21 tahun, mengangkut 4,3 juta penumpang dan merengkuh 53 juta miles.

Cathay Pacific B-HUJ diketahui amat berharga dalam barisan armada maskapai asal Hong Kong tersebut. Salah satu yang paling monumental adalah tatkala pada 1998 lalu, pesawat tersebut mencetak penerbangan transpolar terpanjang (the longest transpolar flight) rute New York-Hong Kong sejauh 13.824 km.

Baca juga: Percaya atau Tidak? Airbus A380 Dijual Rp415 Ribu!

Tak cukup sampai di situ, di momen tersebut, Queen of the Skies B-HUJ Cathay Pacific juga menjadi pesawat pertama yang diberi keistimewaan mendarat di Bandara Internasional Hong Kong setelah melahap perjalanan panjang mencapai 15 jam 35 menit.

Dengan berbagai keistimewaan tersebut, wajar bila gantungan kunci dari badan pesawat legendaris Uniform Juliet Boeing 747-400 B-HUJ Cathay Pacific dibanderol seharga itu. Namun, bagi para pecinta pesawat tersebut, masih cukup worth it, bukan?