Enanthem (Ruam di Mulut) Bisa Jadi Pertanda Adanya Virus Corona

Menikmati perjalanan dengan kondisi sakit memanglah tak disarankan saat pandemi virus corona atau Covid-19. Meskipun hanya ruam-ruam di tubuh atau pun di mulut karena akan mengganggu perjalanan dan bisa menjadi salah satu tanda adanya virus dalam tubuh.

Baca juga: Ruam Pada Jari Kaki Bisa Jadi Gejala Covid-19, Tapi Jangan Langsung Panik

Sebab sebuah penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa ruam, kulit yang tidak terdaftar dalam Centers for Disease Control and Prevention (CDC) juga merupakan tanda virus yang mematikan. Dilansir KabarPenumpang.com dari foxnews.com (21/7/2020), penelitian yang dipublikasikan dalam JAMA Dermatology mencatat bahwa enanthem atau luka mirip ruam kulit dalam mulut seseorang diamati pada beberapa pasien dengan Covid-19. Para pasien ini dari 21 orang yang berusia 40 hingga 69 tahun, enam diantaranya pasien Covid-19 dan empat diantaranya adalah perempuan.

“Pekerjaan ini menggambarkan pengamatan awal dan dibatasi oleh sejumlah kecil kasus dan tidak adanya kelompok kontrol. Terlepas dari meningkatnya laporan ruam kulit pada pasien dengan Covid-19, menegakkan diagnosis etiologis merupakan tantangan. Namun, kehadiran enanthem adalah petunjuk kuat yang menyarankan etiologi virus daripada reaksi obat, terutama ketika pola petekie diamati,” tulis peneliti dari Rumah Sakit Universitas Ramon y Cajal di Madrid.

Mereka menambahkan, banyak pasien yang diduga atau dikonfirmasi Covid-19 tidak diperiksa rongga mulutnya karena masalah keamanan. Apalagi fakta bahwa pasien menggunakan masker dan mungkin gejala ini ada pada mereka.

Untuk diketahui, ruam dibagi menjadi empat kategori berbeda dan para peneliti menyebutkannya yakni petechial, macular, macular dengan petechiae, atau erythematovesicular. Para peneliti menjelaskan bahwa enanthems sebelumnya diidentifikasi pada beberapa pasien Covid-19 di Italia.

Pada bulan Juni, CDC menambahkan hidung tersumbat atau pilek, mual, dan diare ke daftar gejala Covid-19 yang sedang berlangsung. Pada bulan April, sekelompok ilmuwan terpisah di Spanyol menemukan lesi pada kaki yang mereka katakan mungkin terkait dengan virus corona.

Baca juga: Lewat Mata, ‘Pintu’ Masuk Penyebaran Covid-19 Lebih Cepat

Seorang juru bicara CDC menunjuk ke daftar gejala yang terkait dengan Covid-19 dan tidak mengomentari penelitian ini. Hingga Senin pagi, lebih dari 14,5 juta kasus virus korona telah didiagnosis di seluruh dunia, lebih dari 3,7 juta di antaranya berada di AS, negara yang paling terkena dampak di planet ini.

Keren, Bandara di Amerika Punya Alat Scan Covid-19! Seperti Apa?

Seattle-Tacoma International Airport (SEA), belum lama ini dikabarkan telah memperkenalkan alat baru dalam memerangi pandemi Covid-19 di Amerika Serikat (AS). Pasalnya, pandemi dari virus yang diduga pertama kali ditemukan di Wuhan, Cina, itu masih terus menghantui masyarakat AS. Hingga kini, sudah hampir menyentuh angka 4 juta kasus positif Covid-19, dengan 144 ribu di antaranya tewas.

Baca juga: Bersiap dari Awal Pandemi, Hong Kong Kembangkan Teknologi Buatan Sendiri untuk Hadapi Covid-19

Kiro7.com menulis, alat yang diproduksi oleh perusahaan teknologi asal New York, AS, PathSpot Technologies, itu merupakan alat scan khusus Covid-19. Sebagaimana namanya, alat mirip hand dryer yang banyak ditemukan di restoran itu, diklaim mampu mendeteksi ada tidaknya Covid-19 yang bersarang di tangan hanya dalam tempo beberapa detik saja.

Saat ini, Bandara Internasional Seattle-Tacoma dilaporkan tengah menguji efektivitas alat scan Covid-19 dari AS itu di beberapa restoran di bandara. Layaknya hand dryer, alat scan Covid-19 itu diletakkan tak jauh dari wastafel.

Mekanismenya, sebelum dan sesudah menyantap makanan atau setelah tiba dan sebelum meninggalkan restoran, seluruh pengunjung diarahkan untuk mencuci tangan terlebih dahulu. Lepas itu, mereka menscan bagian tangan ke alat scan Covid-19.

Dengan mengeluarkan sinar berwarna kebiru-biruan, alat tersebut akan membuat pengunjung menunggu beberapa detik sebelum akhirnya tangan mereka divonis terdeteksi membawa bakteri atau virus (termasuk Covid-19) atau tidak.

Bila tidak, layar kecil yang ada di bagian atas alat itu akan menunjukkan centang hijau, pertanda mereka aman. Sebaliknya, bila terdeteksi adanya virus atau bakteri, maka hasil scan menunjukkan centang merah dan mereka diharuskan kembali mencuci tangan dengan baik dan benar.

“Perangkat ini bekerja lewat gelombang cahaya tertentu untuk mencari kontaminasi mikroskopis di tangan Anda. Se-kecil apapun kontaminasi itu bersembunyi di bawah kuku jarimu, di antara perhiasanmu, di sela-sela jari tangan,” kata Christine Schindler, CEO PathSpot.

“Ini memberikan respon yang sangat nyata. Jadi, hei, 98 persen saat seseorang gagal melakukan pemindaian tangan di lokasi restoran Anda, jari (yang mengandung bakteri) itu berada di jari kelingking kanan Anda, atau saat terburu-buru makan siang,” lanjut Schindler.

Baca juga: Khawatir Covid-19, Pria Ini dengan ‘PD-nya’ Gunakan Kostum Dinosaurus di Bandara Miami

Juru bicara Bandara Internasional Seattle-Tacoma, Perry Cooper, menyebut saat ini pihaknya tengah mempertimbangkan penggunaan alat scan Covid-19 itu di seluruh area bandara. Tentu, bahan pertimbangannya adalah hasil tes alat tersebut yang saat ini masih berlangsung di 11 restoran di bandara tersebut. Tidak diungkap dengan detail kapan pengujian tersebut akan berakhir.

“Ini adalah program percontohan. saat ini kami sedang mempertimbangkan apakah akan menggunakannya di seluruh terminal juga atau tidak. Pada titik ini, (proses pengujian) berjalan sangat baik, kami sangat senang dengan itu,” jelasnya.

Kenapa Pintu Kokpit Harus dalam Keadaan Terkunci dan Anti Peluru? Berikut Ulasannya

Suatu insiden telah mengubah segalanya. Sebelum peristiwa serangan 11 September 2001 atau lebih dikenal 9/11, produsen pesawat dunia telah berjuang membuat kokpit senyaman mungkin sebagai elemen pendukung kinerja kru. Namun, pasca serangan tersebut, perubahan drastis terjadi.

Baca juga: Kenapa Kokpit Pesawat Gelap? Ini Penjelasannya

Tak hanya harus dalam keadaan tertutup, pintu kokpit juga diwajibkan harus dalam keadaan terkunci. Hal itu sebagai salah satu cara untuk mencegah atau mungkin memperlambat tindak terorisme terhadap kru kokpit.

Selang beberapa bulan, komponen pintu kemudian diperkuat dengan tambahan logam. Logam dinilai mampu menahan pintu dari serangan. Namun, setahun setelahnya atau pada 2002, seorang penumpang masih bisa menembus pintu kokpit dan meneror kru, sebelum akhirnya ia tewas setelah kepalanya dikapak oleh pilot.

Sadar peluang tindak kejahatan masih mengintai kru kokpit, regulator penerbangan sipil Amerika Serikat (FAA) akhirnya mendorong penggunaan pintu kokpit anti peluru, sebagai pelengkap aturan kokpit harus selalu dalam keadaan terkunci.

Akan tetapi, Capt. Steve Luckey, ketua komite keamanan nasional Asosiasi Pilot Maskapai Penerbangan, menyebut aturan pintu kokpit harus dalam keadaan terkunci sulit diterapkan. Sebab, pilot mau tak mau harus membuka pintu, baik untuk mengecek keadaan sayap pesawat secara visual, ke toilet, atau bahkan berganti kru di udara saat dalam penerbangan jarak jauh (long range). “Itu penghalang saat ditutup, itu entri saat terbuka,” jelasnya, seperti dilaporkan cbsnews.com.

Dalam urusan safety terhadap kru kokpit, Israel bisa dibilang jawaranya. Maskapai nasional Negeri Yahudi, El Al, disebut memiliki dua pintu kokpit. Pilot diharuskan menutup satu pintu sebelum membuka pintu lainnya. Begitu kata Offer Einav, mantan direktur keamanan maskapai tersebut. Namun, tak dijelaskan dengan detail cara kerja pintu tersebut menahan tindak terorisme.

Hanya saja, pilot dan co-pilot flag carrier nasional Israel itu tidak sampai diizinkan memiliki pistol, seperti kru kokpit maskapai-maskapai Amerika Serikat (AS), sebagai elemen pengaman tambahan.

Tingkat keamanan pintu kokpit memang menjadi fokus utama penerbangan di AS. Bahkan, saking urgent-nya, kongres sampai mensubsidi maskapai dalam negeri sekitar $13 ribu dolar, meskipun biaya tersebut diklaim tak cukup untuk memenuhi kebutuhan standar baru pintu kokpit pesawat, sebagai syarat penerbangan. Maskapai asing juga diharuskan melengkapi kemampuan pintu kokpit pesawat mereka untuk bisa masuk ke AS.

Melihat langkah konkret AS, dunia pun mulai mengikuti pada beberapa bulan setelahnya. Melalui Organisasi Penerbangan Sipil Internasional dan badan penerbangan Perserikatan Bangsa-Bangsa, setiap pesawat di dunia diharuskan untuk memperbarui pintu kokpit mereka agar lebih kuat dan aman dari serangan sejak akhir tahun 2001. Seiring perkembangan, kokpit bahkan lebih ketat, bukan hanya untuk menghindari serangan, tapi juga kecelakaan, di bawah aturan sterile cokcpit rule.

Selama bertahun-tahun, kebijakan pintu kokpit harus dalam keadaan terkunci serta kemampuan yang ditingkatkan, seperti anti peluru dan mampu menahan serangan, diklaim berhasil menurunkan tindak terorisme atau pembajakan pesawat.

Namun, memasuki tahun 2015, kontroversi pintu kokpit harus selalu dalam keadaan terkunci serta berbahan anti peluru mulai muncul. Penyebabnya adalah kecelakaan tragis pesawat terbang yang menimpa maskapai Germanwings.

Disebut tragis, sebab, selain menewaskan seluruh kru dan penumpang, pesawat dengan nomor penerbangan 9525 yang jatuh di Pegunungan Alpen bukanlah murni kecelakaan, melainkan dengan sengaja ditabrakkan ke gunung oleh kopilotnya yang bernama Andreas Lubitz. Hal itu terkuak setelah penyelidik dari kejaksaan Marseille mempelajari posisi, arah, dan jatuhnya pesawat.

Baca juga: Kenapa Mikrofon Pilot Tidak Terdengar Jelas Dibanding Awak Kabin? Ini Dia Jawabannya

Berdasarkan rekaman percakapan yang diperoleh dari kotak hitam, Lubitz diketahui mengunci kokpit ketika kapten pilot meninggalkan ruang kemudi pesawat yang membawa 150 orang, termasuk kedua pilot.

Sang pilot sempat mengetok, menggedor, dan menghantam pintu kokpit dengan kapak saat Lubitz membawa pesawat menukik tajam ke arah pegunungan. Namun, usahanya sia-sia. Sebab, selain terkunci, pintu kokpit memang didesain tahan terhadap serangan, termasuk tipe serangan menggunakan senjata tajam seperti yang dilakukan pilot tersebut.
























Sistem ATMA, Bisa Cek Suhu Tubuh Hingga Periksa Tiket Penumpang di Stasiun

Berbagai operator transportasi umum saat ini mulai memikirkan cara baru untuk membuat penumpang merasa aman dan nyaman dari Covid-19. Mereka tak hanya membuat pengecekan suhu secara massal melalui kamera pemantau tetapi kini juga bisa memeriksa tiket demi mengurangi kontak fisik dengan penumpang.

Baca juga: Mirip di Bandara, Dua Stasiun Kereta di India Dilengkapi Sensor Thermal Canggih

Seperti Western Railway yang diharapkan memperkenalkan layar Automatic Checking and Managing Access (ATMA) di beberapa stasiun utama seperti Stasiun Mumbai Central, Bandra Terminus, dan Borivli dan akan digunakan selama lima tahun. Layar digital ATMA tersebut akan ditempatkan di pintu masuk stasiun kereta api dan melakukan pemeriksaan suhu tubuh dan tiket milik para penumpang.

KabarPenumpang.com melansir dari laman cntraveller.in (30/6/2020), seorang pejabat Western Railway mengatakan, kehadiran layar digital ini akan membantu membatasi kontak langsung dan pemantauan penumpang lebih mudah.

“Layar digital ATMA juga akan dapat memeriksa apakah penumpang mengenakan masker atau tidak. Setelah proses pemeriksaan, penumpang harus membersihkan tangan mereka dan dengan begitu baru diizinkan untuk naik ke kereta,” ujar pejabat tersebut.

ATMA ini akan bekerja ketika penumpang mendekati alat skrining dan akan memindai suhu tubuh mereka. Masker yang digunakan juga harus terlihat di layar. Kemudian penumpang harus menunjukkan tiket mereka di depan kamera HD yang dipasang. Nantinya petugas di belakang layar akan mulai memverifikasi dan mengarahkan penumpang untuk melanjutkannya dengan microphone dua arah.

Saat ini bahkan satu layar digital telah diperkenalkan di Stasiun Nagpur dan Central Railway berencana untuk memperkenalkan layar digital ini di Chhatrapati Shivaji Maharaj Terminus dan Lokmanya Tilak Terminus. Mereka menggunakan kamera termal FebriEye yang merupakan sistem pemantauan otomatis dan non-intrusif yang bisa melakukan penyaringan termal secara langsung dan bisa memastikan tidak ada penumpang yang memasuki stasiun dengan suhu di atas yang ditentukan.

“FebriEye menggunakan sensor panas yang dapat merekam panas yang dihasilkan oleh tubuh seseorang atau benda untuk membuat gambar 2D dengan tingkat suhu yang berbeda. Ketika penumpang lewat di depan kamera, siapa pun dengan suhu di atas kisaran yang ditetapkan akan ditampilkan dalam pola warna yang berbeda dari yang lain di layar komputer yang terhubung ke kamera,” kata Central Railway.

Sebelumnya, Central Railway juga menyiapkan sistem robot interaktif di luar Stasiun Pune untuk pengecekan suhu tubuh penumpang. Sistem ini dilengkapi dengan pembersih berbasis sensor dan dispenser masker. Jika sistem ini menemukan penumpang dengan suhu tinggi maka alarm akan berbunyi untuk memberitahu ke otoritas kereta api.

Baca juga: India Mulai Komersialkan Lokomotif Listrik Terkuat dengan Tenaga 12.000 HP

“Sistem robot akan membantu meminimalkan kontak manusia selama pemutaran termal. Kami ingin memperkenalkan sistem serupa pada stasiun kereta api di Mumbai, ”kata Shivaji Sutar, kepala petugas hubungan masyarakat, Central Railway.

Stasiun Walikunkun – Punya Pemanis Mitos dari Daerah Setempat

Berada di Daerah Operasional (Daop) 7 Madiun, Jawa Timur, Stasiun Walikunkun merupakan stasiun kereta api kelas II. Berada pada ketinggian +74 meter diatas permukaan laut, stasiun ini berada di Walikunkun, Widodaren, Ngawi dan letaknya paling barat di Daop 7 Madiun.

Baca juga: Serba Antik dan Terawat, Si Kecil Stasiun Bedono Punya Segudang Cerita

Bangunan lama stasiun dan gudangnya merupakan peninggalan Staatsspoorwegen. Namun saat ini telah dirobohkan karena terkena dampak pembangunan sepur badung pada jalur 4 sehingga digantikan dengan bangunan baru yang lebih besar.

Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, awalnya Stasiun Walikunkun dengan bangunan lama memiliki tiga jalur kereta api dengan jalur satu lama sebagai sepur lurus dan satu lagi sepur badug atau jalur buntu yang berada di sebelah timur bangunan stasiun. Setelah jalur ganda mulai beroperasi pada 30 November 2019 kemarin di ruas Geneng – Kedungbanteng, jalurnya menjadi empat.

Bahkan ketika pembangunan jalur ganda ini, ada perubahan diagram lintasan stasiun dengan membongkar jalur 2 lama dan menambahkan satu jalur belok di isi selatan bangunan lama sebagai jalur 1. Sehingga jalur 2 lama menjadi jalur 3 dan jalur 3 lama menjadi jalur 2.

Stasiun Walikunkun sendiri juga melakukan perubahan pada sistem sinyalnya yang awalnya sistem mekanik menjadi elektrik. Stasiun Walikunkun hadir setelah Staatsspoorwegen mulai membangun jaringan kereta api pertama mereka di Indonesia pada tahun 1875 silam tepatnya di wilayah timur.

Lintas awal yang berhasil diselesaikan adalah Surabaya – Pasuruan sepanjang 63 km dan dalam perkembangannya Staatsspoorwegen berhasil membangun jaringan kereta api di wilayah timur sampai ke Madiun. Bahkan Staatsspoorwegen melajukan pembangunannya sampai ke wilayah tengah yakni Solo.

Adapun stasiun yang dibuat oleh Staatsspoorwegen yakni Stasiun Walikunkun, Kedungganlar, Paron, Geneng dan Barat. Namun sebelum berubah sebutan menjadi stasiun ini semua merupakan sebuah halte yang berada di lintas Madiun – Solo.

Baca juga: Terkenal Karena Didi Kempot, Inilah Jejak Sejarah Stasiun Solo Balapan

Tak hanya pembuatan yang bersejarah oleh Staatsspoorwegen, beberapa mitos yakni Rondo Kuning dari daerah Walikunkun yang terletak di sebelah selatan rel kereta dan Rondo ireng dari sebelah barat pasar desa. Rondo kuning sendiri dalam bahasa Indonesia memiliki arti janda dan keduanya ternyata hanya mitos belaka. Bahkan kedua mitos ini tidak ada kaitan dengan Stasiun Walikunkun alias sebagai pemanis saja.

Perusahaan Inggris Luncurkan Pesawat Penumpang Hybrid Pertama Di Dunia, Boeing Airbus Lewat!

Perusahaan rekayasa dan pengembangan asal Inggris, Electric Aviation Group (EAG) meluncurkan desain baru untuk Pesawat Regional Listrik Hybrid (HERA), Senin lalu. Bila tak ada kendala berarti, pesawat penumpang bertenaga hybrid dengan kapasitas 70 seat pertama di dunia tiu akan mulai beroperasi pada 2028 mendatang.

Baca juga: Kejar Target Produksi Pesawat Tanpa Emisi di 2035, Airbus Pertimbangkan Penggunaan Hidrogen

Geliat penerbangan bertenaga listrik dan hybrid sudah sejak beberapa tahun lalu banyak diagendakan berbagai produsen pesawat dan teknologi kenamaan di dunia, baik yang sudah established maupun startup.

Dibandingkan teknologi lainnya, hybrid dan listrik dinilai sebagai salah satu alternatif bahan bakar berkelanjutan paling realistis untuk diwujudkan serta memiliki potensi besar untuk mengatasi masalah emisi CO2; meskipun belakangan hidrogen muncul sebagai alternatif paling memungkinkan lainnya dikalangan inovator.

“Investasi besar-besaran untuk mengembangkan pesawat sub-19 hybrid dan all-electric, kami yakini sebagai strategi yang salah. Pesawat kecil ini tidak dapat memenuhi tuntutan transportasi udara massal atau persyaratan dekarbonisasi,” ujar Kamran Iqbal, founder dan CEO EAG kepada Simple Flying.

“Desain kami adalah untuk sebuah pesawat yang pada awalnya akan menawarkan kisaran 800 mil laut saat diluncurkan pada 2028, dan yang akan dapat mengangkut lebih dari 70 orang,” lanjutnya.

Sebagai pesawat dengan teknologi ramah lingkungan, HERA tentu saja memiliki berbagai fitur “hijau” seperti mengurangi polusi udara, thermal management (teknologi yang mendistribusikan panas pada perangkat elektronik dengan baik), serta regenerasi baterai saat di udara yang memungkinkan pesawat lebih “bernapas” panjang.

Tak hanya itu, untuk efesiensi maksimum, pesawat hybrid pertama di dunia buatan EAG juga akan didukung Gear Assisted Take-Off Run (GATOR). Sebagai pesawat dengan kapasitas di bawah 100 seat, HERA by EAG juga akan dilengkapi dengan Short Take-Off-and-Landing (STOL) yang bertujuan agar maskapai dimungkinkan membuka rute baru dengan landasan pendek.

Menariknya, HERA memiliki tingkat fleksibilitas tinggi di kabin, sehingga operator dapat dengan mudah mengubah konfigurasi dari pesawat penumpang ke kargo, satu nilai tambah yang sangat mungkin dilirik maskapai.

Guna meminimalisir perkembangan teknologi yang begitu cepat, EAG juga merancang HERA agar mampu beradaptasi dengan perubahan, dalam hal ini sumber energi alternatif lainnya yang tersedia selain hybrid dan listrik. Tetapi, bila teknologi pendukung pesawat listrik, seperti baterai dengan kapasitas dan tingkat kepadatan tinggi, HERA sangat mungkin menjadi pesawat all-electric, dari semula pesawat hybrid pertama di dunia.

Saat ini, EAG mengaku belum bisa buka-bukaan soal jangkauan terbang, kecepatan, dan emisi CO2 yang mampu ditekan oleh HERA. Namun demikian, proses yang tengah ditempuh EAG sangat progresif, dengan sudah mengajukan 25 paten atas berbagai temuan baru dalam proses pengembangan.

Selain baik untuk lingkungan, proyek HERA oleh EAG juga diprediksi mampu menyerap sebanyak 25 ribu tenaga kerja di Inggris, utamanya Bristol, sebagai lokasi pabrik produksi pesawat.

“Kami berharap ini menjadi contoh yang bagus untuk desain, teknik, dan pembangunan Inggris. Tidak hanya pengembangan HERA akan membantu Departemen Transportasi mempercepat tujuan pengurangan emisi karbon ‘Jet Zero’, tetapi juga membantu menciptakan peluang kerja yang sangat dibutuhkan di industri kedirgantaraan, manufaktur, teknik dan jasa pasca-Brexit,” jelas Iqbal.

Baca juga: Zunum Aero Siap Operasikan Pesawat Komuter Bertenaga Hybrid

Dalam persaingan global memproduksi pesawat hybrid pertama di dunia, EAG tentu bukan yang satu-satunya. Pada Mei lalu, perusahaan penerbangan asal Perancis, VoltAero, memamerkan desain Cassio2, pesawat hybrid berkapasitas sembilan kursi dengan kecepatan jelajah 230 mph. Tahun sebelumnya, California Ampaire berhasil menerbangkan model hybrid mereka pada Cessna 337 Skymaster.

Airbus tentu tak mau ketinggalan. Tahun lalu, mereka mengumumkan akan memulai proyek penelitian pesawat hybrid dan listrik pada akhir tahun 2020 mendatang bersama SAS. Pabrikan Eropa tersebut bertekad untuk menjadikan A320neo-nya sebagai pesawat hybrid pertama di dunia.

Di Farnborough AirShow Virtual, Boeing Ungkap Keterlibatan Etihad Boeing 787-10 Sebagai ecoDemonstrator

Di sela-sela hari pertama pelaksanaan Farnborough AirShow 2020 virtual, Boeing mengumumkan program ecoDemonstrator terbarunya. Program ecoDemonstrator yang melibatkan pesawat Etihad 787-10 Dreamliner ini nantinya akan menjalankan serangkaian tes, mulai dari mengukur tingkat polusi udara, aliran udara, hingga teknologi Air Traffic Control baru.

Baca juga: Tingkatkan Pengalaman Penumpang, Boeing Siap Uji Coba Program EcoDemonstrator

Setelah proses pengujian selesai, armada tersebut akan diserahkan Boeing ke Etihad untuk bergabung dalam barisan armada Dreamliner. Adanya Etihad dalam proyek ecoDemonstrator tahun ini Boeing bukanlah hal baru, melainkan lanjutan dari program eco-partnership antara Etihad dan Boeing yang sudah dimulai sejak November 2019 silam.

Simple Flying melaporkan, proses pengujian akan dimulai pada Agustus mendatang. Selama kurang lebih empat minggu, pesawat akan diteliti dalam upaya mengurangi polusi suara dan mengadaptasi desain pesawat masa depan untuk penerbangan yang lebih nyaman. Menurut Flight Global, dalam proses pengujian, pesawat akan dilengkapi dengan 222 sensor tekanan dan lebih dari 1.000 mikrofon untuk memeriksa landing gear dan tingkat kebisingan.

Selain itu, sistem perangkat lunak baru juga akan diujicoba. Perangkat lunak tersebut notabene akan menghubungkan pilot ke Air Traffic Control dan Airline Operation Center untuk mengoptimalkan rute. Jika berhasil, kehadiran perangkat lunak tersebut diklaim dapat membantu meminimalisir kepadatan atau antrean di bandara, mengurangi beban kerja dan lalu lintas radio, serta meningkatkan efisiensi.

Teknologi ini juga akan membantu sistem pemetaan pesawat dengan lebih akurat dalam empat dimensi; lintang, bujur, ketinggian, dan waktu. Tak lupa, sebagai bagian dari upaya menjaga bumi agar tetap hijau atau biasa juga disebut blue sky, seluruh proses uji terbang akan menggunakan campuran bahan bakar penerbangan berkelanjutan untuk meminimalkan emisi karbon, sebagaimana pesawat Greenliner besutan Boeing-Etihad yang menggunakan campuran bio-fuel sebanyak 30 persen.

Langkah tersebut dinilai berhasil menurunkan emisi CO2 hingga 50 persen dari bahan bakar jet biasa. Hanya saja, untuk penerbangan ecoDemonstrator Agustus nanti, tidak disebutkan dengan jelas berapa persen campuran bio-fuel yang digunakan.

EcoDemonstrator sendiri sudah mulai dilakoni Boeing sejak 2012 lalu. Setiap tahun, program tersebut selalu dijalankan. Biasanya Boeing memilih pertengahan tahun sebagai waktu yang tepat.

Sebelumnya, Boeing berkolaborasi dengan FedEx untuk menguji 777 Freighter, Embraer untuk menguji E170, Stifel untuk menguji 757, dan American Airlines untuk menguji 737-800. Selain itu, Boeing juga telah menguji beberapa pesawatnya sendiri, termasuk 777-200 dan 787-8.

Baca juga: Lima Alternatif Pengganti Bahan Bakar Fosil Pesawat di Masa Depan, Nomor Dua Aneh!

Tahun lalu, program ecoDemonstrator Boeing dikabarkan menguji beberapa cara baru untuk berbagi informasi digital dengan menara kontol lalu lintas udara, kantor pusat operasional maskapai, dan teknologi baru yang menghubungkan berbagai bagian di dalam ruang kabin.

Tidak menutup kemungkinan juga jika Boeing akan turut menguji toilet pintar yang akan mampu untuk mendeteksi dan menyesuaikan suhu dan kelembapan ruangan. Juga keberadaan kamera yang akan memungkinkan penumpang untuk melihat lebih jauh dan lebih luas ke arah luar pesawat ketika mengudara.

Mobil Wisata Cirebon Mirip dengan Bandros di Bandung

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa barat (Jabar) baru saja memberikan bantuan mobil wisata kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cirebon. Sayangnya mobil wisata ini hanya ada satu unit dan membuat Pemkab Cirebon merubah rute operasional yang sebelumnya sudah mereka rencanakan.

Baca juga: Keliling Bandung Naik Bus Bandros Yuk!

Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Cirebon, H Hartanto menjelaskan pada rute awal, pihaknya merencanakan ada dua yang akan dilalui mobil wisata ini. Namun karena baru hadir satu, maka pihaknya akan melintas di satu rute saja.

KabarPenumpang.com mengutip dari laman suaracirebon.com (21/7/2020), satu rute yang akan dijalankan yakni dari Banyu Panas Gempol menuju ke Trusmi Plered sampai ke Gunungjati dan sebaliknya. Hartono mengaku rute ini dipilih karena Pemkab Cirebon ingin lebih banyak mempromosikan wisata khususnya batik Trusmi.

“Saat ini mobil pariwisata yang ada belum diperuntukkan bagi masyarakat umum dan akan mengoperasikannya khusus untuk para pelajar yang ada di Kabupaten Cirebon,” kata Hartono.

Dia menjelaskan, meski belum untuk masyarakat umum dan terbatas pada City Tour Pelajar, kehadiran mobil wisata ini untuk mengedukasi. kadisbudparpora itu menambahkan, setelah berlalunya masa Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) dan dilaunching oleh Bupati Cirebon dan Forkopimda Kabupaten Cirbeon, mereka merencanakan pergantian siswa dari satu sekolah dengan sekolah lain untuk mengikuti edukasi dalam perjalanan City Tour Pelajar tersebut.

“Kita akan rencanakan untuk pergantian sekolah yang satu ke sekolah yang lain, yaitu SMP dulu, baru kemudian SMA,” ujarnya dia.

Hartono menambahkan, pada tahun 2021 mendatang dan kondisi sudah kembali normal, City Tour Pelajar akan menyasar siswa di jenjang pendidikan SD, TK dan PAUD. Untuk pengoperasiannya sendiri, mobil wisata akan berkeliling satu minggu sekali di akhir pekan.

Hal ini karena biaya operasional mobil wisata tersebut yang belum masuk perencanaan anggaran mereka. Hartono mengatakan, pihaknya akan mengajukan biaya operasional bus wisara pada anggaran perubahan 2020 pada September mendatang.

“Mudah-mudahan di anggaran perubahan nanti disetujui, jadi kita bisa langsung action,” ungkapnya.

Baca juga: Pownis, Mobil Kayu Berbahan Bakar Solar dan Bensin

Bus Bandros. Sumber: griyagawe.files.wordpress.com

Bila dilihat-lihat, bentuk mobil wisata di Kabupaten Cirebon ini serupa dengan Bandros yang diadaptasi dari bentuk double decker yang menjadi ikon kota London, bentuk Bandros senada dengan double decker jaman dulu ini. Meski begitu selain perbedaan Bandros adalah double decker dan mobil wisata single deck, warnanya pun berbeda yakni Bandros merah dan mobil wisata tersebut hijau.

Maskapai Penerbangan Andalkan Erdorse Selebriti untuk Dongkrak Popularitas, Efektifkah?

Belum lama ini, maskapai berbiaya rendah (LCC) asal Polandia/Hungaria, Wizz Air, dikabarkan telah menandatangani kontrak kerjasama dengan selebriti asal Inggris, Gemma Collins. Kemitraan tersebut akan terwujud dalam beberapa konsep, mulai dari konten video atau iklan TV, iklan online, sampai billboards yang memuat pose Collins.

Baca juga: Inilah 13 Video Iklan Maskapai Terbaik Sepanjang Masa, Nomor 11 Paling Hot!

Tak hanya itu, Wizz Air juga tentu saja mendapatkan benefit lainnya dari iklan di media sosial Instagram Collins, yang notabene memiliki followers hampir 2 juta orang. Sayangnya, nominal kontrak kerjasama antar keduanya tak disebutkan dengan jelas. Diperkirakan, jutaan dolar digelontorkan oleh Wizz Air untuk mendapatkan service terbaik Collins.

Senada dengan Wizz Air, tahun 2016 lalu, Emirates juga pernah menggelontorkan uang sebanyak US$5 juta guna mendapatkan jasa Jennifer Aniston, aktris, produser, sekaligus sutradara kenamaan Amerika Serikat. Kala itu, salah satu maskapai terbaik di dunia itu bermitra dengan Aniston untuk membantu promosi armada andalan mereka, Airbus A380.

Begitu juga dengan American Airlines dan Turkish Airlines, yang masing-masing menggandeng aktor dan sutradara kenamaan AS sekaligus pemenang Academy Award, Kevin Spacey dan Morgan Freeman. Kedua maskapai tersebut coba memaksimalkan pengaruh dari nama besar dua selebriti tersebut untuk mendongkrak penjualan mereka, khususnya di kelas bisnis.

Di Indonesia, national flag carrier, Garuda Indonesia, beberapa kali terang-terangan menggandeng selebriti dalam negeri. Belum lama ini, maskapai pelat merah yang dinahkodai Irfan Setiaputra itu, merekrut salah satu selebriti sekaligus YouTuber tersukses Indonesia, Raffi Ahmad. Belum diketahui berapa cuan yang keluar dari Garuda Indonesia untuk itu.

Dilansir Simple Flying, apa yang dilakukan Wizz Air dan tentu saja Garuda Indonesia, sebetulnya bisa dibilang sejenis. Adapun Turkish Airlines, Emirates, dan American Airlines mungkin berbeda dengan keduanya (Wizz Air dan Garuda Indonesia), mengingat saat ini industri tengah dihantam pandemi Covid-19. Tentu, cuan yang dikeluarkan GA dan Wizz Air kondisinya berbeda dengan yang dikeluarkan tiga maskapai di atas.

Bila dilihat dari segi efektivitas dan relevansinya dengan pandemi Covid-19, kehadiran selebritis tentu sangat berdampak positif untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat dalam menggunakan moda transportasi udara. Dengan kepribadian ceria masing-masing selebriti tersebut (Gemma Collins dan Raffi Ahmad), diharapkan masyarakat akan berbondong-bondong menikmati layanan pesawat udara seperti sediakala.

Akan tetapi, keputusan Wizz Air mengeluarkan dana besar untuk mengendorse selebriti tentu masuk akal, mengingat, neraca keuangan mereka berada dalam posisi stabil, dengan memiliki uang tunai lebih dari €1.5 miliar atau Rp25 triliun (kurs 16.785). Di samping itu, maskapai tersebut juga memiliki pangsa pasar besar di tataran regional, dengan menguasai sekitar 17,5 persen penerbangan di Eropa Timur dan Tengah. Tentu saja kondisi yang berlawanan dengan Garuda Indonesia.

Dengan mencatat neraca keuangan yang baik serta pangsa pasar besar di regional dan dalam negeri, tentu, endorse dari selebriti dalam mempromosikan bahwa penerbangan sudah kembali aman dan nyaman, bisa dibilang efektif mendongkrak penjualan. Terlebih jika maskapai sudah mempersiapkan diri untuk lonjakan penumpang, mulai dari SDM, pelayanan, dan lain sebagainya.

Terkait hal ini (efektivitas selebriti dalam mendongkrak popularitas maskapai), Boutros Boutros, Senior Vice President of Advertising Emirates, mengungkapkan, bahwa harga mahal yang dikeluarkan untuk membayar jasa selebriti dapat dipetik dengan jangkauan organik yang dihasilkan.

Baca juga: Iklan ‘Diterjemahkan’ Netizen Berbau Promo Wisata Seks, AirAsia Minta Maaf

“Selebriti menawarkan kesempatan untuk menembus kekacauan, dan (Aniston) adalah salah satu aktris Hollywood yang paling terkenal, yang dikenal karena humor, kehangatan, dan kepribadiannya yang hebat. Jadi itu mungkin memerlukan investasi awal yang lebih signifikan, tetapi itu diperoleh kembali oleh jangkauan organik yang dihasilkan dalam jutaan rumah tangga yang mungkin belum pernah mendengar tentang merek Anda. Dalam hal ini, khususnya, AS, yang merupakan pasar yang penting bagi kami,” jelasnya, saat mengomentari keputusan Emirates merekrut Jennifer Aniston.

Akan tetapi, bila menggandeng selebriti ditujukan untuk menonjolkan sisi iklan mereka atau bisa dibilang untuk mendapatkan gelar iklan maskapai penerbangan terbaik di dunia, tentu hal itu tak sepenuhnya benar, mengingat banyak iklan maskapai terbaik di dunia tak datang dengan melibatkan selebriti dunia.

Bulgaria Buka Voting Desain Lokomotif Bagi Masyarakat, MRT Jakarta Juga Pernah

Bisakah warga masyarakat ikut andil dalam pemilihan desain lokomotif atau gerbong kereta agar terlihat lebih menarik? Sepertinya kampanye tersebut ideal dilakukan, pasalnya warga masyarakat sejatinya dalah stake holder dari jasa layanan transportasi itu juga. Dengan melibatkan partisipasi warga, maka kedekatan dan rasa memiliki akan moda yang dimaksud lebih bisa dicapai.

Baca juga: Australia Pamer Desain Interior Final Kereta Vlocity

Seperti baru-baru ini, operator kereta api di Bulgaria, yakni BDZ mengajak masyarakat untuk memilih secara online desain untuk lokomotif Siemens Smartron terbaru miliki mereka. BDZ menghadirkan empat pilihan desain yang bisa dipilih oleh masyarakat dengan cara voting dan dibuka sejak 17 Juli kemarin hingga 31 Juli 2020.

KabarPenumpang.cm melansir sofiaglobe.com (17/7/2020), empat konsep ini telah dikembangkan dan memiliki pesan dan sensasi visual yang berbeda. Tak hanya itu, masyarakat bisa memilih sesuai dengan tren mode di kancah kereta api Eropa.

Pembuat desain bernama Konstantin Planinski dan memiliki studio BackonTrack merupakan bagian dari tim RailColor – Ziemon di Jerman yang mana para ahli dalam pengembangan desain untuk rolling stock untuk kereta api Eropa.

Untuk biaya desain sendiri ternyata sudah termasuk dalam harga pengiriman lokomotif baru. BZD mengumumkan pada 10 April lalu, mereka telah memilih tawaran konsorsium Siemens Tron untuk memasok sepuluh lokomotif baru.

Bahkan ada juga tawaran tender seharga 55,5 juta leva yang belum termasuk dengan PPN. Ternyata tak hanya di Bulgaria, Indonesia pun pernah melakukan hal serupa. Namun bedanya, Bulgaria untuk lokomotif, sedangkan di Indonesia untuk mobil atau kereta Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta.

Selain itu perbedaannya pun bukan hanya itu, di Bulgaria, mengajak seluruh warga masyarakat pengguna kereta untuk berpartisipasi dalam voting. Sedangkan di Indonesia hanya untuk bagian internal alias tidak untuk masyarakat, meskipun itu untuk bagian kereta MRT Jakarta.

Baca juga: Lokomotif Uap D1410, Kembali Beroperasi Jadi Kereta Wisata di Solo

“Kita pernah buat sayembara desain kereta, tapi hanya untuk internal saja bukan untuk publik. Ini kami lakukan pada 2017 lalu,” ujar Humas MRT Jakarta Diza ketika dihubungi KabarPenumpang.com, Senin (20/7/2020).