Lima Kecanggihan Pesawat Kepresidenan Air India One, Nomor Dua Tak Ada di Indonesia One

Kemarin, PM Narendra Modi bertolak ke Amerika Serikat (AS) menggunakan pesawat kepresidenan India yang berbasis Boeing 777 VVIP, Air India One. Di AS, Modi diagendakan bertemu Presiden Joe Biden, Wakil Presiden Kamala Harris, yang juga keturunan India, Perdana Menteri Australia Scott Morrison, Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga, dan sejumlah petinggi negara lainnya.

Baca juga: Intip Kecanggihan Pesawat Dinas Presiden Erdogan, Punya Sistem Pertahanan Anti Rudal

Sebagai negara terluas keempat di dunia, negara dengan penduduk terbanyak kedua di dunia setelah Cina, negara dengan perekonomian terkuat keempat di dunia setelah AS, Cina, dan Jepang, serta negara dengan PDB tertinggi ketiga di dunia setelah Cina dan AS, pemimpin India rawan sabotase dari para musuh. Karena itu, dibutuhkan berbagai fitur canggih di pesawat Boeing 777 VVIP Air India One.

Dilansir zeenews.india.com, setidaknya, ada lima fitur canggih dalam memastikan keamanan dan kenyamanan di pesawat yang melayani Presiden, Wakil Presiden, dan Perdana Menteri India itu. Apa saja?

1. Sistem keamanan anti hacker dan anti rudal

Air India One memiliki sederet fitur canggih dalam menangkal serangan siber. Pesawat ini juga memiliki sistem pertahanan anti rudal Large Aircraft Infrared Countermeasures (LAIRCM).

Ini tentu bukan fitur keamanan langka mengingat pesawat VVIP negara lain seperti Air Force One, Air Force One Rusia, dan lain sebagainya, termasuk pesawat kepresidenan Indonesia -Indonesia One- yaitu CAMS (Civilian Aircraft Missile Protection System)

2. Self-Protection Suits (SPS)

Pesawat VVIP Air India One juga dilengkapi dengan fitur keamanan lain berupa Self-Protection Suits (SPS). Sistem pertahanan ini berfungsi mengganggu sinyal radar musuh dan mengelabui rudal yang mengarah ke pesawat.

3. Sistem komunikasi canggih

Dilengkapi dengan sistem komunikasi canggih yang memungkinkan penggunaan fungsi komunikasi audio dan video di udara terenkripsi tanpa bisa diretas.

4. Dilengkapi ruang konferensi dan pusat kesehatan

Urusan Presiden, Wakil Presiden, dan Perdana Menteri India terkait negara tentu tak bisa ditunda, termasuk jika terjadi keadaan darurat terhadap kesehatannya.

Baca juga: Intip Ilyushin Il-96 Air Force One Rusia, Punya Sistem Pertahanan Anti Rudal dan Kursi Lontar

Karena itu, pesawat kepresidenan India juga dilengkapi dengan ruang konferensi dan pusat kesehatan. Andai dalam perjalanan lintas benua dengan jarak tempuh belasan jam, pertolongan pertama dan komunikasi terhadap pejabat terkait bisa tetap dilakukan.

5. Jangakaun terbang hingga 17 jam, diawaki oleh pilot militer khusus

Pesawat kepresidenan Air India One mampu terbang dari India ke AS tanpa perlu transit untuk mengisi bahan bakar. Pesawat setidaknya mampu terbang selama 17 jam dalam keadaan bahan bakar penuh. Selain itu, Air India One juga diawaki oleh pilot yang dilatih khusus dari Angkatan Udara India.

Bandara Tribhuvan Kathmandu, Salah Satu Bandara Terburuk di Dunia

Plesiran ke luar negeri seyogyanya akan menjadi satu pengalaman berharga yang sulit untuk dilupakan. Selain dapat menemukan berbagai kebudayaan baru, pengalaman mengunjungi negara lain pun akan serta merta bertambah. Nampaknya Anda tidak akan menemukan masalah yang berarti ketika Anda menyambangi negara yang memiliki bandara berpredikat baik, seperti Singapura dengan Bandara Internasional Changi-nya, atau negara lain. Namun apa jadinya jika Anda dihadapkan pada sebuah negara dengan predikat salah satu bandara terburuk di dunia?

Baca Juga: Bosan Antri Lama di Bandara, Begini Cara Cepat Ambil Barang di Klaim Bagasi

Nepal, negara yang terkenal dengan Pegunungan Himalaya-nya ini disebut-sebut memiliki bandara yang ‘kurang bersahabat’ – bahkan namanya masuk ke dalam salah satu daftar bandara terburuk di dunia. Nah, semisal Anda berkesempatan untuk mengunjungi Nepal via jalur udara, berikut KabarPenumpang.com himpun beberapa tips dari laman roadsandkingdoms.com yang akan ‘menyelamatkan’ diri Anda dari Tribhuvan International Airport, bandara utama di Nepal.

Pemandangan Pegunungan Himalaya
Beruntung bagi Anda yang dijadwalkan landing saat matahari masih bersinar, itu berarti kesempatan Anda untuk melihat salah satu nilai jual dari Nepal terbuka lebar. Tapi, selain syarat mengudara di pagi, siang, atau sore hari, ada satu syarat lain yang harus Anda penuhi untuk melihat Pegunungan Himalaya ini.

Semisal pesawat Anda bertolak dari arah Timur, upayakan untuk duduk di sebelah kanan kabin, pun sebaliknya. Semisal pesawat Anda datang dari sebelah Barat, duduklah di sebelah kiri. Percayalah, pemandangan tersebut akan menjernihkan otak Anda sebelum menghadapi kekacauan sesungguhnya di bandara.

Antrean Baggage Claim
Setibanya di Tribhuvan International Airport, tentu Anda harus mengambil barang bawaan yang disimpan di kargo, bukan? Nah, ada baiknya Anda mempersiapkan diri terlebih dahulu sebelum berkutat dengan antrean di bagian baggage claim, karena usut punya usut, antrean di sini bisa memakan waktu hingga berjam-jam lho!

Belum lagi fasilitas pendukung bandara yang kurang terawat seperti banyaknya troli koper yang rusak, dan sistem keamanan bandara yang terkenal ribet. Duh!

Mobil Jemputan
Layaknya bandara-bandara lain yang ada di dunia, puluhan pengemudi taksi siap menyambut kedatangan Anda di Nepal. Beruntung bagi Anda yang sudah disediakan layanan antar-jemput dari pihak hotel yang Anda pesan. Namun jika tidak, Anda harus lebih cermat dalam memilih taksi.

Memang, harga yang ditawarkan untuk sampai ke pusat kota Kathmandu tidaklah terlalu mahal, berkisar antara 400 hingga 600 rupee (Rp58.000 hingga Rp87.000). Namun, jika Anda jeli, Anda akan menemukan Sajha Yatayat, layanan bus yang siap mengantarkan Anda menuju pusat kota hanya dengan harga 20 rupee atau yang setara dengan Rp8.500. Lumayan jauh kan selisihnya!

Baca Juga: Tips – Sebelum Masuk ke Kargo Pesawat, Pastikan Koper Anda Cukup Kuat

Bersiap Meninggalkan Kathmandu
Setelah menghabiskan waktu di Nepal, saatnya untuk pulang. Namun Anda akan kembali dihadapkan dengan semerawutnya Tribhuvan International Airport. Keberangkatan yang sering delay, dipadukan dengan fasilitas penunjang bandara yang tidak terawat nampaknya cukup untuk membuat Anda menarik napas dalam-dalam.

Sebut saja fasilitas toilet yang kurang terjaga – ada baiknya Anda membawa tissue dan hand sanitizer sendiri, hingga restoran yang ‘sangat banyak’ di dalam bandara itu sendiri. Untuk masalah perut, ada baiknya Anda membawa cemilan atau makanan sendiri sebelum bertolak dari Tribhuvan International Airport.






















Hari Ini, 169 Tahun Lalu, Kapal Udara Bertenaga Pertama di Dunia Sukses Terbang Perdana

Hari ini, 169 tahun yang lalu, bertepatan dengan 24 September 1852, kapal udara bertenaga pertama di dunia sukses terbang perdana.

Baca juga: Bukan Zeppelin, Kapal Udara Pertama di Dunia Adalah Star System Airship

Kapal udara non-rigid bermesin uap yang menggerakkan baling-baling tiga bilah ini berhasil terbang dari Paris ke Elancourt, barat Kota Paris, sejauh 27 km sekitar tiga jam perjalanan, langsung dipimpin oleh sang kreator sekaligus insinyur Perancis, Jules Henri Giffard.

Penerbangan perdana kapal udara bertenaga pertama di dunia tersebut bisa dibilang berjalan mulus. Namun, tidak terlalu mulus juga. Saat lepas landas dari arena pacuan kuda Paris, kapal udara berbentuk cerutu dengan panjang 44 meter ini awalnya berhasil terbang tanpa kendala.

Tetapi, dalam perjalanan, hembusan angin kencang membuat kapal udara Giffard berjalan lambat lantaran mesin uap berbobot 113 kilogram plus ketel 45 kilogram ini tak bisa memacu putaran rotor. Alhasil, selain lambat, penerbangan juga agak sedikit liar.

Kendati begitu, Jules Henri Giffard berhasil membuktikan bahwa dalam kondisi normal, penerbangan terkendali pada kapal udara bisa terwujud.

Buktinya, sekalipun tak begitu mulus, penerbangan perdana kapal udara bertenaga pertama, 51 tahun lebih cepat dibanding penerbangan pesawat bermesin pertama oleh Wirght bersaudara, berhasil mendarat mendarat dengan selamat di Elancourt, Perancis.

Usai era penerbangan kapal udara bertenaga pertama oleh Jules Henri Giffard dan hegemoni turunannya berakhir, itu kemudian dilanjutkan oleh Charles Renard dan Arthur C. Krebs, inovator dan perwira militer di Korps Insinyur Angkatan Darat Perancis, membuat kapal udara memanjang bernama La France.

La France ini memang lebih panjang dibanding kapal udara bertenaga pertama buatan Jules Henri Giffard, 50,3 meter. Bila Giffard mengandalkan mesin uap, duo Perancis penerusnya ini lebih mengandalkan motor listrik bertenaga sebagai penggerak baling-baling kayu berdiameter tujuh meter dengan empat bilah.

Tak hanya itu, kapal udara ini juga memiliki sejumlah fitur kontrol, seperti rudder and elevator, ballonnets, a sliding weight untuk mengimbangi setiap pergeseran di pusat gravitasi, dan heavy guide rope untuk membantu pendaratan.

Penerbangan perdana kapal udara La France sukses dihelat pada 9 Agustus 1884. Kapal udara yang diterbangkan oleh Renard dan Krebs ini berhasil menempuh jarak sejauh delapan kilometer selama 23 menit.

Baca juga: Hari Ini, 91 Tahun Lalu, Kapal Udara R101 Buatan Inggris Pesaing Zeppelin Terbang Perdana

Dikutip Space.com, selama tahun 1884 dan 1885, La France tercatat melakukan tujuh penerbangan. Meskipun baterai membatasi jangkauan terbangnya, kapal udara itu menunjukkan bahwa penerbangan terkontrol dimungkinkan jika memiliki motor ringan yang cukup kuat.

Sebagaimana ruh dari sebuah penelitian atau inovasi yang biasanya terinspirasi atau meneruskan inovasi atau penelitian sebelumnya, inovasi Renard dan Krebs lewat kapal udara La France tersebut kemudian menginspirasi inovator lain menciptakan kapal udara lainnya yang lebih kuat dan canggih, sampai akhirnya era pesawat lahir lewat Wirght bersaudara.

NASA Restui Xeric Buat Jam Tangan Special Edition Terbuat dari Meteorit dan Komponen Apollo 15

Sekali lagi, NASA menyetujui pembuatan jam tangan edisi terbatas bertema Apollo 15 oleh Xeric. Perusahaan asal California, Amerika Serikat (AS) ini sebelumnya sukses mendapat restu NASA membuat jam tangan limited edition bertema Apollo 11 dan laris manis di pasaran.

Baca juga: Dear Goweser, Jajal Nih Ban ‘Mati’ Canggih Anti Bocor dan Sekuat Baja Buatan NASA

Meski tak seindah dan fiturnya tak selengkap jam tangan digital, tetapi, jam tangan analog yang dibuat Xeric dengan menggandeng NASA, memang sangat ditunggu berbagai kalangan, dari mulai fasinoista sampai penggila Badan Antarika Nasional AS itu sendiri.

Di tahun 2019 silam, perusahaan tersebut merilis jam tangan spesial memperingati 50 tahun pendaratan Apollo 11 di bulan 1969 sekaligus memperingati 50 tahun perusahaan berdiri dan bergelut di bidang produksi jam tangan berkelas.

Ketika itu, proyek yang juga manggandeng Kickstarter, platform crowdfunding terbesar di dunia, tersebut berhasil laku keras di pasaran dan berhasil menjadi campaign jam tangan paling sukses sepanjang situs sejenis kitabisa.com itu ada.

Penasaran mengulangi sukses di tahun 2019, Xeric belakang hadir merilis jam tangan bertema luar angkasa (NASA) lainnya melalui juga melalui platform Kickstarter, yaitu mengenang penggunaan wahana rover pertama NASA ke bulan pada tahun 1971.

Berbeda dengan jam tangan bertema Apollo 11 NASA, jam tangan Apollo 15 ini ditawarkan dengan dua versi putaran jam. Satu jam tangan disebut sebagai American Moonphase Model yang dilengkapi dengan baterai.

Sedangkan versi satunya American Automatic Model yang menggunakan baterai, didukung oleh apa yang disebut self-winding mechanism yang memungkinkan jam tangan tetap berputar hingga 40 jam setelah jam tangan dilepas saat tidur di malam hari.

Baik American Moonphase Model maupun American Automatic Model, keduanya mengusung Super-LumiNova Planetary sebagai penunjuk jam dan menit serta bintang sebagai detik.

Sementara itu, dilihat dari jeninsnya, cukup banyak sekali. Ada yang berupa materi gelap di langit, ban rover yang dibawa Apollo 15, ribbed space glove straps, emblem misi Apollo 15, space window hour grille untuk wanita dan laki-laki, lunar module, lunar rover, quasar, interstellar, helix nebula, deep space purple, cosmic nebula, black hole, blue supernova, brown cosmos, red dwarf, blue moon, meteorite, black hole meteorite, sampai moon dust meteorite.

Semua itu jenis atau desain itu tersedia dalam dua versi atau model; American Automatic Model dan American Moonphase Model.

Kemudian, dari semua jenis di atas, bagian casing belakangnya tersedia dalam dua model; satu berwarna silver atau mirip-mirip warna bulan dan lainnya berwarna emas kemerah-merahan. Keduanya memiliki tema yang sama, yaitu bertuliskan 50 Tahun Apollo 15 dan gambar lunar rover, dan terbuat dari komponen Apollo 15.

Jam tangan Xeric edisi terbatas bertema luar angkasa juga terbuat dari meteorite yang dibawa pulang rover dan wahana Apollo 15 ke bumi. Tetapi, tidak semua model mengandung meteorit melainkan hanya tiga saja; blue moon, meteorite, black hole meteorite, sampai moon dust meteorite.

Baca juga: Pilah Pilih Jam Tangan Pilot, Pertimbangkan Hal ini Sebelum Membeli

Melengkapi berbagai keistimewaan di atas, kaca jam tangan ini disebut anti pantulan cahaya dan di malam hari temanya sangat erat dengan nuansa luar angkasa.

Bagi yang berminat, jam tangan Xeric bertema Apollo 15 NASA ini masih indent sampai sekitar pertengahan 2022. Sedangkan harganya rata-rata dibanderol paling mahal mencapai Rp13 juta lebih atau US$950.

 

Thailand Siapkan Stasiun Nong Khai untuk Jaringan Kereta Menuju Laos-Cina

Daerah Nong Khai yang merupakan provinsi paling utara di Thailand telah dipersiapkan oleh Departemen Transportasi Kereta Api untuk koneksi kereta api dengan Laos. Di mana Thailand tengah bersiap untuk lebih banyak membuka perdangangan dengan Cina di sepanjang jalur yang menghubungkan ketiga negara itu.

Baca juga: Thailand Canangkan Kereta Peluru Trans-ASEAN, Hubungkan Cina, Laos, Malaysia dan Singapura

Untuk itu sebuah situs 80-rai di Stasiun Nong Khai akan dikembangkan sebagai depo untuk menangani perdagangan internasional. Direktur Jenderal Departemen Kereta Api, Kittiphan Panchan mengatakan, sebuah halaman transshipment juga akan dibangun untuk menangani barang-barang yang dibawa dengan kereta api Thailand maupun Cina.

KabarPenumpang.com melansir bangkokpost.com (17/9/2021), negara ini juga merencanakan jembatan baru di atas Sungai Mekong untuk kereta api, sekitar 30 meter dari Jembatan Persahabatan Thailand-Laos saat ini. Sebab, jembatan yang berada di antara Stasiun Nong Khai dengan Thanaleng di Laos harus berbagi dengan kendaraan bermotor yang melintas keduanya.

Departemen ini tidak memberikan tenggat waktu untuk proyek-proyek tersebut, tetapi ada urgensi baru karena jalur kereta api Laos-Cina sepanjang 471 kilometer hampir selesai. Kereta pertama dari Cina ke Vientiane dijadwalkan tiba pada 2 Desember untuk merayakan Hari Nasional Laos.

Hal ini karena bagian trek akan diperpanjang dari Vientiane ke perbatasan Thailand. Kereta api Laos-Cina adalah bagian dari jaringan Trans Asia di bawah Belt dan Road Initiative yang dipelopori Cina untuk menghubungkan sistem kereta apinya dengan Asia Tenggara.

Alasan itulah yang membuat pihak berwenang Thailand membayangkan jalur yang ditingkatkan untuk memindahkan barang antara Cina dan pelabuhan laut dalam Laem Chabang di Pesisir Timur. Tetapi sayangnya, pekerjaan di Thailand terlambat bertahun-tahun dari jadwal.

Thailand sekarang berharap dapat terhubung dengan Laos dan Cina pada tahun 2028 ketika jalur kereta cepat pertama dari Bangkok ke Nong Khai selesai. Bagian pertama dari jalur berkecepatan tinggi sedang dibangun dari Bangkok ke Nakhon Ratchasima, dan dapat beroperasi pada tahun 2026.

Kereta berkecepatan tinggi di Thailand akan dapat berlari dengan kecepatan maksimum 250 km per jam, sedangkan kereta api di Laos akan mencapai kecepatan 160 km per jam. Pemerintah mengharapkan koneksi kereta api untuk mempromosikan lebih banyak perdagangan dan pariwisata antara Thailand dan Cina.

Baca juga: Desember 2021, Laos dan Cina Akan Terhubung dengan Jalur Kereta Api

Kereta cepat akan memungkinkan produk Thailand mencapai Cina selatan dalam waktu tidak lebih dari satu setengah hari, dibandingkan dengan dua atau tiga hari di darat dan hingga seminggu di laut.

Tekan Emisi Karbon, Airbus Luncurkan Pesawat Demonstrator dengan Sayap Canggih

Airbus belum lama ini meluncurkan pesawat demonstrator berbasis jet bisnis Cessna Citation VII dengan extra-performing wing. Ini dilakukan sebagai upaya perusahaan dalam dekarbonisasi atau menekan emisi karbon, selain juga membuat pesawat melaju lebih cepat berkat optimalisasi aerodinamika.

Baca juga: Sebelum A380 Lahir, Ternyata Airbus Sempat Mau Bikin Pesawat Ini untuk Lawan Boeing 747

“Demonstrator sayap berkinerja ekstra dari Airbus adalah contoh lain dari solusi berorientasi teknologi baru Airbus untuk menghilangkan karbon di sektor penerbangan,” kata Sabine Klauke, Chief Technical Officer Airbus, dalam keterangan resminya kepada KabarPenumpang.com.

“Airbus terus menyelidiki solusi paralel dan pelengkap seperti infrastruktur, operasi penerbangan, dan struktur pesawat. Dengan demonstran ini, kami akan membuat langkah signifikan dalam teknologi kontrol aktif melalui penelitian dan pengujian terapan dari berbagai teknologi yang terinspirasi oleh biomimicry,” lanjutnya.

Menekan emisi karbon dan meningkatkan kecepatan pesawat melalui pesawat dengan extra-performing wing atau sayap canggih ekstra panjang tentu bukan isapan jempol. Secara naluriah, teknologi extra-performing wing dalam menekan emisi karbon melalui efisiensi bahan bakar dalam penerbangan sudah tersedia di alam dan Airbus memanfaatkan itu melalui biomimicry.

Biomimicry sendiri adalah praktik menyadur desain atau teknologi apapun yang ditemukan di alam untuk mendukung kemajuan teknologi manusia.

Dalam proyek pesawat demonstrator extra-performing wing ini, Airbus meniru bagaimana elang terbang serta perbandingan badan dan sayapnya, serta bentang sayap itu sendiri. Semua biomimicry itu diaplikasikan dengan baik di pesawat tersebut.

Agar data-data yang didapat lebih akurat, pesawat akan diuji coba dengan dibekali berbagai teknologi sensor di sayap, didukung berbagai teknologi lain seperti semi-aeroelastic hinge, multifunctional trailing edges, dan lainnya.

Pada akhirnya, data-data yang berhasil dihimpun sensor dkk itulah yang akan membuktikan apakah pesawat demonstrator extra-performing wing betul mampu mengurangi atau mengefisiensi bahan bakar dalam penerbangan atau dengan kata lain menekan emisi karbon.

Airbus sendiri bukan pertama kali melakukan upaya dekarbonisasi melalui pengembangan sayap dalam mengoptimalkan aerodinamika pesawat saat di udara.

Sebelum tahun 2000, Airbus pernah melakukan mengembangkan pesawat widebody P500 dengan konsep horizontal double bubble (HDB).

Pesawat Aurora Double-Bubble D8 diklaim akan membuat konsumsi bahan bakar lebih hemat 37 persen atau menurunkan emisi karbon dioksida hingga 87 persen serta lebih senyap atau minim polusi suara dibanding pesawat jet pada umumnya.

Baca juga: Pesawat Flying-V KLM-TU Delft Sukses Terbang Perdana! Lebih Hemat 20 Persen Dibanding A350

Teknologi terbaru di bagian sayap Aurora D8 disebut mampu mengurangi hambatan pada badan pesawat sehingga membuat penerbangan jadi lebih efisien hingga 70 persen.

Selain itu, sayap terbaru itu juga membuat pesawat melaju lebih kencang mencapai kecepatan sekitar 936 km per jam atau Mach 0,74, didukung oleh mesin terbaru yang lebih kecil dan ringan dari Pratt & Whitney serta United Technologies. Pesawat juga disebut lebih senyap dari pesawat pada umumnya.

Jadi Ikon Pendaratan di Sungai Hudson, Dimanakah Airbus A320 N106US Saat ini?

15 Januari 2009 menjadi momen yang tidak bisa dilupakan oleh 155 penumpang Airbus A320-214 (nomer registrasi N106US) maskapai US Airways Flight 1549 tujuan Seattle-Tacoma International Airport. Sekitar tiga menit setelah US Airways Flight 1549 mengudara, pesawat ini menabrak sekawanan angsa Kanada yang berimbas pada matinya kedua mesin.

Baca juga: Satu Dasawarsa Pasca Kejadian, Survivor Tragedi “Miracle on the Hudson” Langsungkan Reuni

Beruntung, kejadian yang sampai diangkat ke layar lebar dengan judul “Sully” ini tidak memakan korban jiwa – sejumlah penumpang memang mengalami cidera ringan hingga parah. Sebenarnya, pesawat ini berada di dalam jarak aman untuk mendarat di Bandara Teterboro, New Jersey. Namun kala itu pilot Chesley “Sully” Sullenberger dan kopilot Jeffery Skiles lebih memilih untuk melakukan pendaratan darurat di Sungai Hudson, di sebelah Timur New York.

Bagi para pecinta aviasi, tentu yang menjadi pertanyaan, dimanakah pesawat Airbus A320-214 N106US saat ini? Mungkinkah pesawat itu berhasil diperbaiki dan terbang kembali, atau kah berakhir di tempat pembuangan. Mengutip dari simpleflying.com, rupanya setelah insiden pendaaratan di Sungai Hudson, pesawat tersebut ditarik dari sungai pada 17 Januari 2021 untuk keperluan investigasi.

(Foto: N970ah via Wikimedia Commons)

Persisnya pesawat dipindahkan ke Kearney, New Jersey, di mana analisis kecelakaan dilanjutkan. Lantaran puas atas bukti bahwa pesawat memang kehilangan tenaga mesin akibat bird strike, maka kegiatan selanjutnya adalah apa yang dilakukan pada badan pesawat tersebut.

Pada awal Januari 2010, Airbus A320-214 N106US disiapkan untuk dilelang secara online oleh perusahaan asuransi Chartis. Penjualan berlangsung tiga bulan di mana tidak ada penilaian yang diberikan. Pesawat itu pun tidak ada yang membeli, itu dapat dimengerti karena sifat kerusakan dan skala pesawat.

(Foto: RadioFan via Wikimedia Commons)

Namun, nasib Airbus A320-214 N106US tidak ditakdirkan untuk berakhir di tempat pembuangan. Pada 10 Juni 2011, pesawat itu disumbangkan ke Museum Penerbangan Carolina oleh American International Group (AIG). Menurut pejabat di museum, hadirnya pesawat itu akan menambah pemasukan bagi keuangan museum. Pengunjung Museum Penerbangan Carolina tidak hanya dapat melihat pesawat tetapi juga menyaksikan kesaksian penumpang dan mengetahui lebih banyak tentang kecelakaan dramatis itu.

Baca juga: Kapten Sully Kritik Habis Boeing 737 MAX, Crew Alerting System dan Sensor Ketiga AoA Jadi Sorotan

Sayangnya, saat ini Museum Penerbangan Carolina ditutup sementara untuk mencari hanggar baru untuk menampung koleksinya. Selama dua setengah tahun, Airbus A320-214 N106US akan ditutup untuk dilihat oleh publik hingga lokasi baru dapat ditemukan dan dibuka kembali rencananya pada tahun 2022.























Dirumahkan, Pramugara ini Sukses Cuan Besar dari Bisnis ‘Dapur Hantu’

Terkena PHK sementara atau cuti tanpa dibayar tak menyulutkan semangat hidup pramugara berusia 27 tahun, Nicholas Alston. Alih-alih depresi karena meratapi kehilangan pekerjaan, ia justru bangkit sukses berbisnis kuliner dengan brand Clutch Handheld Breakfast.

Baca juga: Lika-liku Pramugari Terdampak Covid-19, Banting Setir Jadi Perawat dan Pilot

Sejatinya, pramugara dari maskapai yang tak disebutkan dengan gamblang itu baru bekerja setahun. Sebelum bergabung menjadi pramugara, ia sudah bergelut di bidang kuliner dengan menjadi manajer di sebuah food truck yang menjual penganan Jerman. Ketika itu, ia hanya dibayar sebesar US$15 per jam.

Namun, di tengah perjalanan, ia diperkenalkan dengan profesi pramugari/pramugara. Ia mengaku diceritakan betapa nikmatnya jadi kru pesawat, gaji besar mencapai US$45 per jam, bonus, waktu fleksibel, dan bisa keliling dunia gratis, bahkan dibayar.

Setelah meriset, ia akhirnya mengirim lamaran ke enam maskapai di Amerika Serikat (AS) dan berhasil mencapai tahap selanjutnya di dua maskapai. Ia akhirnya diterima di salah satu maskapai dan menjalani pelatihan selama delapan pekan sebelum menjalani debut penerbangan pertama pada tahun 2019.

Di awal-awal, ia mendapat gaji sebesar US$35 per jam dan berharap bisa mencicipi gaji sebesar US$69 per jam seiring berjalannya waktu. Selama bekerja sebagai pramugara, ia berhasil mencatat 100-120 jam terbang per bulan, tergolong tinggi dibanding rata-rata penerbangan paling minim sekitar 65 jam per bulan.

Sebelum terkena PHK sementara pada November 2020, Alston sebetulnya sudah berminat untuk nyambi bisnis kuliner di pertengahan tahun. Saat itu, ia sudah mempunyai modal sekitar US$28.000. Tetapi, ia sadar bahwa itu masih belum cukup untuk memulai bisnis kuliner berupa food truck. Alhasil, ia terus fokus menjadi pramugara.

Namun, setelah terkenal PHK, ia mau tak mau banting setir ke dunia bisnis. Karena modal berbisnis kuliner berbasis food truck tidak cukup, ia akhirnya membuka apa yang disebut sebagai dapur hantu.

Dilansir CNBC International, dapur hantu ini sebutan untuk sejenis dapur sekaligus toko yang disewa Alston untuk menjalankan bisnis kulinernya dengan brand Clutch Handheld Breakfast. Disebut dapur hantu, sebab, pelanggan tak disediakan tempat untuk makan di tempat dan hanya boleh untuk take away.

Baca juga: Viral! Mantan Pilot Kerja Serabutan Jadi Tukang Antar Paket dan Kuli Bangunan Usai Dipecat

Selama delapan bulan setelah November, ia fokus di bisnis ini. Pendapatannya pun tergolong menggiurkan, mencapai US$760 per enam hari membuka restoran. Sayangnya, ia tak terlalu mau buka-bukaan soal pendapatan totalnya selama dirumahkan sampai ia kembali terbang mulai Mei lalu.

Meski begitu, ie menyebut bisnis kulinernya saat ini belum begitu greget lantaran belum mencapai konsep yang diinginkannya. Karena itu, ia bertekad untuk tetap terus terbang sambil mengumpukan uang dan kelak membeli trailer untuk membuka food truck Clutch Handheld Breakfast.

Promosikan Budaya Jepang, Bento Jadi Pilihan Kuliner di Stasiun Paris

Siapa yang tak kenal makanan kotak Jepang yang disebut dengan bento? Biasanya di Jepang sendiri, makanan bento menjadi pilihan para penumpang kereta cepat Shinkansen.

Baca juga: Naik Kereta Shinkansen, Jangan Lupa Beli Ekiben di Kios Stasiun untuk Bekal Makanan

Dikenal banyak orang di dunia, makanan bento akan memperluas jangkauannya di Eropa, tepatnya di Stasiun Paris pada November mendatang. Makanan bento tersebut terdiri dari hidangan ayam yang dibumbui dengan nasi. Makanan bento tersebut akan dihidangkan oleh Hanazen yang merupakan perusahaan dan berbasis di prefektur Akita, Jepang timur laut.

Perusahaan tersebut mengatakan akan mulai menjual makanan bento yang juga menghadirkan makanan lokal lainnya seperti mie atau udon dan acar lobak asap di Stasiun Gare de Lyon yang adalah salah satu stasiun terbesar di Perancis dengan 160 juta pengguna tahunan. Perusahaan menyebutkan kotak ekiben akan dijual di toko pop-up di stasiun hingga April tahun depan.

Penjualan makanan bento dari Hanazen sendiri karena kerja samanya telah disetujui oleh perusahaan kereta api nasional Prancis. Selain itu, makanan bento dijual di Perancis sebenarnya adalah bagian dari upaya untuk mempromosikan budaya makanan Jepang.

Nantinya tak hanya makanan bento, udon dan acar, tetapi Hanazen juga memiliki rencana menjual daifuku yang merupakan kue beras bulat lembut berisi pasta kacang manis serta sake Jepang.

Baca juga: Sambut New Normal, Maskapai Bakal Kurangi Penggunaan Troli dan Sajikan Makanan dalam Kotak ‘Bento’

“Jika budaya ekiben menyebar, orang mungkin ingin datang ke Prefektur Akita dan makan di sana,” kata kepala Hanazen Shuichi Yagihashi, yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman kyodonews.net (20/9/2021).

Untuk diketahui, Hanazen memiliki anak perusahaan di Perancis dan sudah membuka outlet di Paris 2019 lalu.

Turun Harga, Tarif Rapid Test Antigen PT KAI Hanya Rp45 Ribu! Ini Daftar Stasiun yang Melayaninya

Mulai besok, Jum’at, 24 September 2021, tarif rapid test antigen PT KAI turun menjadi Rp45.000 dari sebelumnya seharga Rp85.000. Tarif rapid test antigen seharga Rp45 ribu oleh PT KAI ini bisa dinikmati masyakarat setidaknya di 64 stasiun.

Baca juga: Terus Ditambah, Kini 11 Stasiun Kereta Jarak Jauh Layani Vaksinasi Gratis

Adapun daftar stasiun yang melayani pemeriksaan rapid test antigen PT KAI seharga Rp45 ribu di Jabodetabek ada di Stasiun Gambir, Pasar Senen, dan Bekasi saja.

Sisanya berada di luar Jabodetabek, mulai dari Cikampek, Karawang, Bandung, Kiaracondong, Tasikmalaya, Banjar, Cimahi, Cirebon, Cirebon Prujakan, Jatibarang, Brebes, Semarang Poncol, Semarang Tawang, Tegal, Pekalongan, Cepu, dan Purwokerto.

Kemudian, Kroya, Kutoarjo, Kebumen, Sidareja, Gombong, Yogyakarta, Lempuyangan, Solo Balapan, Klaten, Purwosari, Wates, Madiun, Blitar, Jombang, Kediri, Kertosono, Tulungagung, Nganjuk, Surabaya Gubeng, Surabaya Pasar Turi, Malang, Sidoarjo, Mojokerto, Bojonegoro, Lamongan, Jember, Ketapang, Banyuwangi, Rogojampi, Probolinggo, dan Kalisetail.

Di luar Pulau Jawa, PT KAI juga turut melayani tarif test antigen seharga Rp 45 ribu. Stasiun-stasiun yang melayaninya sendiri antara lain, Medan, Kisaran, Tanjung Balai, Kertapati, Lahat, Lubuk Linggau, Prabumulih, Muara Enim, Tebing Tinggi, Tanjungkarang, Martapura, Kotabumi, dan Baturaja.

“Penyesuaian tarif merupakan salah satu bentuk peningkatan pelayanan KAI kepada pelanggan,” ujar VP Public Relations KAI Joni Martinus, dalam keterangan resmi yang diterima KabarPenumpang.com.

Hadirnya layanan rapid test antigen di stasiun seharga Rp45 ribu ini merupakan hasil Sinergi BUMN antara KAI dengan Rajawali Nusantara Indonesia melalui anak usahanya yaitu Rajawali Nusindo, Indofarma melalui anak usahanya yaitu Farmalab, serta pihak-pihak lainnya.

Perlu dicatat, layanan rapid test antigen PT KAI seharga Rp45 ribu hanya bisa dinikmati oleh para calon penumpang kereta. Sebab, untuk dapat melakukan pemeriksaan Rapid Test Antigen di stasiun, calon pelanggan harus memiliki tiket atau kode booking KA Jarak Jauh yang sudah lunas.

Turunnya tarif rapid test antigen PT KAI di stasiun menjadi Rp45 ribu tentu sangat membantu masyarakat, dalam hal ini calon penumpang kereta api jarak jauh dan bukan tidak mungkin ini akan mendorong lebih banyak masyarakat yang melakukan rapid test antigen di stasiun.

Sejak PT KAI melayani rapid test antigen pada tahun lalu, setidaknya sudah jutaan orang dilayani BUMN perkeretaapian ini.

“Sejak dibuka pada 21 Desember 2020 sampai dengan 21 September 2021, KAI telah melayani 1.043.582 peserta Rapid Test Antigen di Stasiun,” jelas Joni.

Sebelumnya, sesuai SE Kemenhub No 69 Th 2021, pelanggan KA Jarak Jauh diharuskan menunjukkan kartu vaksin minimal vaksinasi Covid-19 dosis pertama. Pelanggan juga wajib menunjukkan surat keterangan hasil negatif test PCR maksimal 2×24 jam atau rapid test antigen maksimal 1×24 jam sebelum jadwal keberangkatan. Pelanggan usia di bawah 12 tahun untuk sementara waktu tidak diperkenankan melakukan perjalanan.

Baca juga: Ini Alasan Anak 12 Tahun Tak Diizinkan Naik Kereta Api Jarak Jauh

PT KAI telah mengintegrasikan sistem boarding KAI dan aplikasi Peduli Lindungi sehingga data vaksinasi dan hasil tes Covid-19 pelanggan akan otomatis muncul pada layar komputer petugas. Integrasi ini bertujuan untuk mempermudah pelanggan, memperlancar proses pemeriksaan dokumen, dan menghindari pemalsuan dokumen.

Bagi pelanggan dengan kondisi kesehatan khusus atau penyakit komorbid yang menyebabkan tidak dapat menerima vaksin, wajib melampirkan surat keterangan dokter dari rumah sakit pemerintah yang menyatakan bahwa yang bersangkutan belum dan atau tidak dapat mengikuti vaksinasi Covid-19.