Garuda Indonesia Operasikan Boeing 737-800 Lebih Tua dari Pesawat China Eastern Airlines yang Kecelakaan, Aman

Pesawat Boeing 737-800NG China Eastern Airlines jatuh di daerah perbukitan Teng, Wuzhou, Provinsi Guangxi, Cina dan menewaskan 132 orang kru dan penumpang. Data FlightRadar24 menunjukkan, pesawat jatuh dari ketinggian 982 meter dengan kecepatan 696 km per jam sebelum menghantam daratan.

Baca juga: Profil China Eastern Airlines, Punya Catatan Bagus dalam Rekor Keselamatan

Tak lama setelah kecelakaan, China Eastern Airlines resmi meng-grounded seluruh pesawat Boeign 737-800NG sampai proses penyelidikan lebih lanjut. Di dunia, reaksi maskapai global beragam terhadap kecelakaan tersebut, salah satunya Garuda Indonesia.

Maskapai nasional Indonesia itu diketahui memiliki 73 pesawat Boeing 737NG dan tetap akan mengoperasikannya sekalipun memiliki usia yang lebih tua dibanding pesawat Boeing 737-800 China Eastern Airlines yang kecelakaan.

Dalam keterangan resminya, Garuda Indonesia tidak secara implisit mengungkapkan bakal terus mengoperasikan pesawat tersebut. Namun, tidak pula sebaliknya.

Garuda Indonesia, dalam laman perusahaan, tercatat memiliki 73 pesawat Boeing 737-800, pesawat yang sama dengan kecelakaan pesawat Boeing 737-800NG Senin kemarin.

Menariknya, pesawat dengan panjang 39,47 meter, lebar sayap 35,78 meter, jangkauan 5.713 km, dan kecepatan rata-rata 853 km per jam yang dioperasikan Garuda Indonesia lebih tua dibanding pesawat China Eastern Airlines yang kecelakaan.

Data Planespotter, Garuda Indonesia memiliki pesawat Boeing 737-800NG tertua yang masih aktif dengan usia sekitar 12 tahun atau terhitung sejak 16 Jul 2010. Pesawat ini beroperasi di berbagai rute maskapai, seperti dari dan ke Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin, Bandara Aji Pangeran Tumenggung Pranoto Samarinda, Bandara Achmad Yani Semarang, dan tentu saja Bandara Seokarno-Hatta.

Selain dalam negeri, pesawat juga kerap mengoperasikan pesawat ke luar negeri, seperti ke dan dari Bandara Guangzhou Baiyun, Bandara Suvarnabhumi Bangkok, Bandara Kuala Lumpur, Bandara Changi, dan Bandara Brisbane.

Pesawat Boeing 737-800 termuda Garuda Indonesia sekalipun, masih di data Planespotter, masih lebih tua dibanding Boeing 737-800 China Eastern Airlines yang kecelakaan di Guangxi pada hari Senin (21/3) lalu.

Disebutkan, Boeing 737-800NG termuda Garuda Indonesia yang masih aktif berusia tujuh tahun atau sejak 11 Maret 2015. Ini beroperasi di dalam dan luar negeri.

Meski mengoperasikan pesawat yang lebih tua, Garuda Indonesia memastikan pesawat Boeing 737-800NG yang dioperasikan untuk penerbangan penumpang dan kargo aman.

Sejalan dengan itu, Pengamat penerbangan Gerry Soejatman, dalam sebuah wawancara di program berita CNN Indonesia, pernah menyebut bahwa pesawat sejatinya adalah benda mati.

Baca juga: Jatuh Menghujam Bumi, Ada Apa dengan Boeing 737-800 China Eastern MU5735?

Begitu komponen yang ada sudah tak lagi berfungsi secara optimal, ia tinggal diganti saja dengan yang baru dan pesawat pun sehat kembali. Beda dengan manusia sebagai benda hidup yang meski digonta-ganti komponen atau organ tubuhnya, tetap saja, akan ada masalah. Sebab, faktor usia amat menentukan.

Dengan kata lain, setua apapun pesawatnya, selama komponen yang melekat di pesawat selalu diperbarui dan mendapat pengawasan ketat secara rutin, itu tetap aman digunakan; termasuk Boeing 737-800NG Garuda Indonesia yang notabene lebih tua dari pesawat Boeing 737-800 China Eastern Airlines yang kecelakaan.

Terkait Musibah Boeing 737-800 China Eastern, NTSB Jamin Transparansi Dalam Investigasi Kecelakaan

Meski hubungan antara Amerika Serikat dan Cina kerap ‘panas dingin,’ namun untuk urusan keselaatan penerbagan, dan terlebih pada respon kecelakaan pesawat, kedua negara punya kepentingan yang sama, terlebih pesawat yang dimaksud adalah buatan AS. Seperti Presiden Cina Xi Jinping telah meminta bantuan National Transportation Safety Board (NTSB) yang berbasis di AS untuk mengorganisisr investigasi penyebab jatuhnya pesawat Boeing 737-800 milik China Eastern Airlines.

Baca juga: Profil China Eastern Airlines, Punya Catatan Bagus dalam Rekor Keselamatan

Mantan ketua Dewan Keselamatan Transportasi Nasional Jim Hall mengatakan pihaknya tidak bertanggung jawab untuk berspekulasi apa yang menyebabkan kecelakaan itu begitu cepat.

Namun ia menggambarkan bagaimana NTSB melakukan penyelidikan terhadap kecelakaan pada pesawat komersial itu. Hall mengatakan, tidak ada deatail yang ‘terlalu kecil’ untuk tidak menjadi bagian dari penyelidikan NTSB. Ketika sebuah pesawat komersial jatuh di A.S., “go-team” dikerahkan segera setelah kecelakaan itu, yang mencakup pakar teknis pada berbagai komponen pesawat dan operasi penerbangan.

Tim yang terdiri dari tujuh hingga sebelas orang ini dipimpin oleh penyelidik yang bertanggung jawab. Mereka mengumpulkan informasi dari responden pertama, kontrol lalu lintas udara dan menemukan kotak hitam. Selain itu juga mengamankan, mensurvei dan memetakan lokasi kecelakaan. Secara bersamaan, para penyelidik di Washington, D.C., mengumpulkan informasi tentang data satelit, jalur penerbangan dan pengiriman pesawat.

Penyelidik yang bertanggung jawab juga akan mengumpulkan “pihak-pihak dalam penyelidikan”, seperti produsen pesawat dan berbagai kelompok yang mewakili pramugari atau mekanik, yang memiliki tim yang mencerminkan “tim kerja” NTSB. Laporan awal tentang kecelakaan mengarah ke laporan faktual, yang digambarkan Hall sebagai laporan “Jack Webb” yang merujuk pada aktor dari acara detektif klasik “Dragnet.”

Laporan ini memberikan deskripsi naratif tentang kecelakaan itu. Setelah sekitar satu tahun, meskipun terkadang bisa lebih lama, penyelidikan akhirnya mengarah pada kemungkinan penyebab kecelakaan dan rekomendasi tentang keselamatan.

“Rekomendasi itu tidak harus dikaitkan sepenuhnya dengan kemungkinan penyebab selama penyelidikan. Jika dewan [NTSB] menemukan informasi yang mereka anggap penting untuk keselamatan penerbangan, itu mungkin juga merupakan rekomendasi dari laporan tersebut,” kata Hall yang dikutip KabarPenumpang.com dari foxnews.com (21/3/2022).

Hall menjelaskan bahwa perbedaan terbesar antara investigasi NTSB dan investigasi di negara lain adalah pada transparansi.

“Itulah perbedaan utama antara investigasi NTSB dan investigasi di beberapa yurisdiksi lain. Kami percaya bahwa proses kami pada dasarnya setransparan mungkin,” kata Hall.

Dalam kecelakaan Cina, Administrasi Penerbangan Sipil Cina dan maskapai China Eastern, keduanya mengatakan mereka telah mengerahkan pejabat ke lokasi kecelakaan sesuai dengan tindakan darurat. Seorang juru bicara Boeing mengatakan kepada Fox News Digital Senin bahwa pihaknya juga “bekerja untuk mengumpulkan lebih banyak informasi.”

Baca juga: Boeing 737-800 China Eastern MU5735 Jatuh Vertikal dengan Kecepatan 563 Km per Jam

“Pikiran kami bersama penumpang dan awak China Eastern Airlines Penerbangan MU 5735. Boeing telah menghubungi Dewan Keselamatan Transportasi Nasional AS dan pakar teknis kami siap membantu penyelidikan yang dipimpin oleh Administrasi Penerbangan Sipil Cina,” tambah juru bicara Boeing.

Lima Penyebab Umum Terjadinya Kecelakaan Pesawat

Apa respon Anda ketika mendengar berita tentang kecelakaan pesawat? Pasti sangat mengerikan dan mulai timbul pertanyaan-pertanyaan tentang keamanan pesawat bahkan sampai terpikir tentang adanya teroris di dalam pesawat. Namun, sampai fakta kecelakaan tersebut terjawab, spekulasi tentang apa yang menjadi penyebab kecelakaan adalah hal yang tidak bijaksana.

Baca juga: Boeing 737-800 China Eastern MU5735 Jatuh Vertikal dengan Kecepatan 563 Km per Jam

Berikut dilansir dari theconversation.com, ini dia lima alasan umum terjadinya kecelakaan pesawat.

1. Kesalahan pilot
Kondisi pesawat semakin hari semakin maju, apalagi saat ini, teknologi pesawat semakin canggih. Sehingga 50 persen keamanan pesawat terjadi karena kesalahan pilot. Pesawaat merupakan mesin yang kompleks dan membutuhkan banyak pihak untuk mengecek kondisinya baik dalam pembuatan ataupun saat bersandar di bandara sebelum keberangkatan dan tibanya pesawat. Kenapa kesalahan pada pilot? Karena pilot sudah pasti terlibat dalam setiap tahapan penerbangan, sehingga banyak kemungkinan untuk melakukan kesalahan. Contoh fatalnya seperti gagal untuk memprogram manajemen vital computer penerbangan (FMC) atau salah memperhitungkan bahan bakar yang dipakai dan hal lainnya.

Contoh yang pernah terjadi Januari 2009 lalu, Airbus A320 menghantam sekawanan angsa di atas kota New York. Kapten pesawat Chesley Sullenberger harus mengambil opsi yang cepat seblum terjadi apa-apa pada pesawat yang dikemudikannya. Dengan jam terbang yang tinggi dan pengetahuan yang luas, kapten pesawat tersebut memilih untuk mendaratkan pesawatnya di atas sungai Hudson. Atas kelihaian pilot, 150 penumpang pesawat tersebut terselamatkan tanpa ada yang terluka.

http://theconversation.com
http://theconversation.com

2. Kegagalan teknik
Kecelakaan yang diakibatkan oleh kegagalan alat mencapai 20 persen walaupun ada perbaikan pada desain dan kualitas manufaktur. Meskipun mesin saat ini lebih bisa diandalkan secara signifikan dibandingkan 50 tahun lalu, namun sesekali masih saja terjadi kegagalan.

Tahun 1989, terjadi kecelkaan pesawat Boeing 737-400 karena kegagalan teknis, dimana mengakibatkan 47 penumpang pesawat meninggal dan lainnya luka-luka. Ini akibat pilot salah membaca intrumentasi sehingga pesawat kehilangan tenaga. Saat itu, pilot mematikan mesin kedua yang ada di sebelah kanan dan pesawat jatuh di Runway East Mudlands Airport 27. Baru-baru ini, kejadian kesalahan teknis pun terjadi pada pesawat Qantas A380 yang membaw 459 penumpang. Mesin pesawat mengalali kegagalan saat berangkat dari Batam, Indonesia. Untungnya pilot pesawat tersebut mampu mengendalikan pesawat dan menyelamatkan semua penumpang termasuk awak pesawat. terkadang, teknologi dengan jenis baru bisa membuat kegagalan penerbangan.

3. Cuaca
Faktor ini bisa mendukung terjadinya kecelakaan pesawat. Memang hanya 10 persen saja penyebab kecelakaan pesawatat karena cuaca, walaupun dibantu banyak alat seperti kompas, gyroscopic, naviagasi satelit dan up-link data cuaca tetap saja tidak bisa pesawat menghalau badai salju ataupun kabut.

Desember 2005 lalu, Southwest Airllines 1248 yang terbang dari Baltimore-Washington, mencoba untuk mendarat di tengah badai salju. Sayangnya pendaratan itu gagal, pesawat tergelincir dari landasan pacu dan menabrak barisan mobil yang terparkir diluar landasan dan mengakibatkan balita meninggal. Tak hanya itu tahun 1958 silam, Eropa Airways pesawat penumpang yang memiliki mesin ganda jatuh saat akan lepas landas dari Munich-Riem. Sebanyak 23 orang pemain bola dari club Manchaster United tewas. Kejadian ini diakibatkan landasan pacu yang terkontaminasi yang membuat gagalnya take off.

4. Sabotase
Sekitar 10 persen keelakaan pesawat terjadi akibat sabotase. Sambaran petir, yang menimbulkan resiko akibat sabotase. Hal ini jauh lebih sedikit dari pada yang banyak orang percayai. Namun masih banyak serangan lebih spektakuler dan mengejutkan yang dilakukan oleh penyabotase.

Pada September 1970, terjadi pembajakan pesawat jet dengan tiga orang penumpang ke Dawsons-Yordania. Pesawat ini dibajak oleh Front pembebasan Palestina, pesawat diledakkan dan menjadi berita bagi dunia pers internasional.

5. Kesalahan manusia
Penyebab lainnya dikaitkan pada hal lain dari kelalaian manusia. Contohnya seperti yang dilakukan pengendali lalu lintas udara, dispatcher, loader, pengisian bahan bakar dan teknisi/insinyur pemeliharaan pesawat. Kadang, teknisi/insinyur pemeliharaan juga dapat membuat kesalahan yang berpotensi bencana akibat kerja shift panjang karena dibutuhkan.

Baca juga: Empat Faktor Eksternal Penyebab Kecelakaan Pesawat Saat Take Off dan Landing

Tahun 1990, sebuah ledakan terjadi di kaca depan pesawat tempat pilot mengemudikan pesawat. Ledakanpada British Airways ini saat diselidiki ada 90 baut yang menahan kaca ini, namun ada yang miss dalam pemasangannya atau ukuran baut berbeda dari yang lain. Hal ini adalah kelalaian teknisi/insinyur. Sebenarnya ada baiknya, seorang teknisi/insinyur mengistirahatkan badannya terlebih dahulu saal melakukan pekerjaan penggantian kaca depan pesawat.

Delapan Kecelakaan Pesawat yang Terjadi di Cina Sejak 1990 Hingga 2010

Kecelakaan pesawat yang terjadi pada China Eastern Airlines hari Senin (21/3/2022) kemarin, seperti membuka luka lama pada dunia penerbangan Cina. Di mana penerbangan ini terjadi setelah lebih dari satu dekade. Hal tersebut kemudian kembali membuka beberapa kecelakaan besar yang pernah terjadi di Cina.

Baca juga: Profil China Eastern Airlines, Punya Catatan Bagus dalam Rekor Keselamatan

Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman timesofindia.indiatimes.com (21/3/2022), ada sekitar delapan kecelakaan yang terjadi sebelum jatuhnya China Eastern di Guangxi. Berikut ini rangkuman kecelakaan yang terjadi sejak tahun 1990.

Pertama, pada 2 Oktober 1990, pesawat Boeing 737 yang dimiliki Xiamen Airlines (XiamenAir) dibajak dan menabrak Boeing 757 di Bandara Canton, Cina Selatan. Dalam insiden tersebut sebanyak 128 orang meninggal dunia. Kecelakaan kedua terjadi 24 November 1992 yang melibatkan pesawat Air China Boeing 737 yang terbang ke tempat wisata di Cina Selatan menabrak gunung di wilayah Guangxi.

Dalam penerbangan ini menewaskan sebanyak 141 orang. Berselang dua tahun kemudian, kecelakaan ketiga terjadi tepatnya 6 Juni 1994, pesawat Tupolev-154 buatan Rusia yang dioperasikan oleh China Northwest Ariliens dan China Northwes Arilines jatuh di provinsi Shaanxi.

Kecelakaan ini menewaskan seluruh penumpang dan awaknya sebanyak 160 orang. Kecelakaan keempat terjadi lima tahun kemudian pada 24 Februari 1999. Di mana Tupolev-154 lainnya, kali ini dioperasikan oleh China Southwest Airlines, meledak di tengah penerbangan saat terbang dari kota Chengdu di barat daya ke Wenzhou di timur Cina.

Insiden kelima terjadi 22 Juni 2000 yang menewaskan sebanyak 51 orang. Kecelakaan tersebut terjadi pada pesawat Yun-7 yang dioperasikan oleh Wuhan Airlines yang jatuh saat badai di pusast kota Wuhan. Lalu yang keenam, 7 Mei 2002 pesawat China Northern Airlines dengan model McDonnell Douglas MD-82 jatuh ke laut saat mulai turun ke bandara Dalian yang menewaskan 112 orang di dalamnya.

Baca juga: Boeing 737-800 China Eastern MU5735 Jatuh Vertikal dengan Kecepatan 563 Km per Jam

Tahun 2004, tepatnya tanggal 21 November menjadi kecelakaan ketujuh, di mana sebuah pesawat Bombardier CRJ200 yang dioperasikan oleh China Eastern Airlines jatuh ke danau beku di wilayah Mongolia Dalam Cina. Jatuhnya pesawat ini menewaskan sebanyak 55 orang. Insiden kedelapan di mana pesawat jet Embraer ERJ-190 yang dioperasikan oleh maskapai regional Henan Airlines terbakar setelah mendarat darurat di bandara Yichun, Cina timur laut pada 24 Agustus 2010. Dalam insiden ini menewaskan 44 orang. Sedangkan 47 penumpang dan awak selamat termasuk pilot.

Kronologi Uji Coba Jalur Bogor – Sukabumi Tidak Dilanjutkan, Ini Alasannya

Setelah 99 persen pembangunan jalur ganda di jalur Bogor – Sukabumi beberapa hari yang lalu, akhirnya hari ini Selasa (22/3) untuk uji coba menggunakan rangkaian kereta api. Uji coba dilakukan guna pengecekan kelaikan jalur ganda yang berada di lintas Stasiun Bogor Paledang sampai dengan Stasiun Cicurug. Tidak seperti diberitakan sebelumnya yang menggunakan rangkaian panjang atau KA Pangrango, uji coba hari ini terdiri dari 1 lokomotif dan 1 kereta kelas eksekutif.

Baca juga: Sudah 99 Persen, Jalur Ganda Bogor – Sukabumi Siap Diuji Coba

Lokomotif bernomor seri CC 206 13 58 (Depo Induk Yogyakarta ) yang diberangkatkan dari Depo Cipinang pada pukul 07.00 WIB menuju Stasiun Pasar Senen terlebih dahulu untuk ambil rangkaian kereta. Saat di Stasiun Pasar Senen lokomotif dilangsir lalu menggandeng 1 kereta bernomor seri K1 0 01 04 JAKK. Setelah tersambung rangkaian pun berangkat dari Stasiun Pasar Senen pada pukul 07.30 WIB melewati Kemayoran, Kampung Bandan, dan Manggarai. Pukul 10.00 WIB rangkaian akhirnya tiba di Stasiun Bogor.

Saat di Stasiun Bogor rangkaian memasuki jalur 5 kemudian berjalan perlahan menuju Stasiun Bogor Paledang. Saat masuk di Stasiun Bogor Paledang terjadi suatu insiden kecil yaitu rangkaian kereta mengenai peron besi. Peron besi yang dipasang sementara di Stasiun Bogor Paledang mengenai bagian depan body kereta. Hampir setengah jam rangkaian dilakukan pengecekan oleh tim yang ikut dalam KLB uji coba ini.

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by KabarPenumpang.com (@kabar.penumpang)

Selang beberapa menit kemudian akhirnya rangkaian di berangkatkan dari Stasiun Bogor Paledang. Dengan kecepatan tidak lebih dari 30 km/jam rangkaian berjalan di jalur kiri dan masih menggunakan satu jalur. Pukul 10.45 rangkaian KLB uji coba masuk Stasiun Batu Tulis dengan disambut bunyi sirine pintu perlintasan.

Saat memasuki peron Stasiun Batu Tulis kejadian terulang kembali. Jarak antara body lokomotif dengan rangkaian hampir terkena peron stasiun. Petugas pengecekan meminta untuk berhenti dan memerintahkan untuk berjalan mundur ke arah utara. Pintu perlintasan kembali ditutup guna langsiran mundur rangkaian KLB uji coba.

Beberapa pekerja yang berada di stasiun diperintahakan untuk memangkas ujung peron agar tidak mengenai rangkaian. Saat dipangkas rangkaian kembali maju secara perlahan. Lagi – lagi peron masih terlalu lebar dan hampir mengenai body rangkaian. Satu jam lebih KLB uji coba di Stasiun Batu Tulis, lalu pada akhirnya pukul 12.10 WIB rangkaian diperintahkan mundur hingga ke Stasiun Bogor. KLB uji coba tidak bisa melanjutkan perjalanan hingga ke stasiun Cicurug sampai waktu yang belum ditentukan.

Baca juga: Waspadai Titik Rawan Longsor Jalur Kereta Api Lintas Bogor – Sukabumi

Rencananya uji coba rangkaian di lintas Bogor – Cicurug masih dilakukan hingga evaluasi berjalan baik dan tidak mengalami kendala. Agar saat dilakukan pengoperasian reguler menggunakan KA Pangrango berjalan aman, lancar dan terkendali. (PRAS – Cinta Kereta Api)























Waspadai Titik Rawan Longsor Jalur Kereta Api Lintas Bogor – Sukabumi

Uji coba kereta api lintas Bogor – Sukabumi akan segera dilakukan. Wilayah yang dilewati kereta api di jalur tersebut ada beberapa titik rawan longsor yang harus diwaspadai. Bahkan jika cuaca yang tidak bersahabat, curah hujan yang tinggi pun terus mengguyur wilayah itu. Meskipun rel kereta api yang sudah diperbaharui dan area yang telah diperluas namun bencana alam bisa saja terjadi.

Baca juga: Sudah 99 Persen, Jalur Ganda Bogor – Sukabumi Siap Diuji Coba

Uji coba kereta api lintas Bogor – Sukabumi akan segera dilakukan. Wilayah yang dilewati kereta api di jalur tersebut ada beberapa titik rawan longsor yang harus diwaspadai. Bahkan jika cuaca yang tidak bersahabat, curah hujan yang tinggi pun terus mengguyur wilayah itu. Meskipun rel kereta api yang sudah diperbaharui dan area yang telah diperluas namun bencana alam bisa saja terjadi.

Sebelumnya PT KAI akan melakukan uji coba lintasan pada 20 Maret 2022 untuk melihat kesiapan rel kereta api yang akan melintas Sukabumi – Bogor. Namun, karena beberapa hal yang belum terlaksana akhirnya uji coba diundur hingga beberapa hari kedepan. Rencana akan dilakukan pada Selasa 22 Maret 2022.

Menurut Dinas Perhubungan Kabupaten Sukabumi, Dedi Chardiman, menyarankan kepada PT KAI untuk melakukan pengawasan dan deteksi dini perihal titik lokasi rawan longsor yang dijadikan lintasan jalur KA tersebut. Daerah Kabupaten Sukabumi yang rentan bencana longsor, tepatnya di lokasi lintasan KA yakni, di wilayah Ciomas, Maseng, Cicurug, Parungkuda serta wilayah Cibadak.

Baca juga: Rute KA Bogor – Sukabumi – Cianjur, Masih Eksis Meski Terlupakan

Meski akan dilakukan uji coba terlebih dahulu, PT KAI akan terus mengevaluasi jalur kereta api secara keseluruhan. Uji coba sementara dilakukan di jalur Stasiun Bogor Paledang sampai dengan Stasiun Cicurug. Uji coba dilakukan di area jalur ganda terlebih dahulu dan hanya menggunakan satu jalur. (PRAS – Cinta Kereta Api)
























Profil China Eastern Airlines, Punya Catatan Bagus dalam Rekor Keselamatan

Terkait dengan musibah yang menimpa Boeing 737-800 di wilayah pegunungan di dekat kota Wuzhou, Guangzi, Cina Selatan pada Senin (21/3/2022), nama China Eastern dalam beberapa jam ini telah menjadi trending global. Bagi netizen di Indonesia, nama maskapai asal Cina ini terasa asing, namun maskapai full service ini termasuk yang punya catatan baik selama ini.

Baca juga: Boeing 737-800 China Eastern MU5735 Jatuh Vertikal dengan Kecepatan 563 Km per Jam

Persisnya, China Eastern memiliki catatan bagus dalam rekor keselamatan. Hal tersebut terlihat dari kecelakaan besar yang terakhir terjadi yakni pada 12 tahun lalu atau tepatnya Agustus 2010.

Dalam kecelakaan pesawat yang terbang dari Harbin ke Yichun tersebut ada 42 korban meninggal. Untuk diketahui China Eastern Airlines merupakan maskapai penerbangan yang berkantor pusat di China Eastern Airline Bulding dan salah satu maskapai tiga terbesar di Cina bersama dengan Air China dan China Southern Airlines.

Maskapai ini mengoperasikan rute internasional, domestik dan regional. Sebagaimana dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, China Eastern Arilines yang sering disebut China Eastern berada diurutan kedua terbesar bila berdasarkan dengan jumlah penumpang. Mereka berada tepat di bawah China Southern Airlines.

Maskapai ini didirikan pada 25 Juni 1988 di bawah Administrasi Penerbangan Sipil China Huadong. Kemudian tahun 1997, China Eastern mengambil alih China General Aviation yang tidak menguntungkan dan juga menjadi maskapai penerbangan pertama negara itu yang menawarkan saham di pasar internasional.

Baca juga: China Eastern Klaim Jadi Maskapai Terbesar di Dunia

China Eastern dan anak perusahaannya Shanghai Airlines menjadi anggota ke-14 SkyTeam pada 21 Juni 2011. Pada 26 Februari 2020, China Eastern Airlines meluncurkan OTT Airlines sebagai anak perusahaan untuk mengoperasikan pesawat produksi dalam negeri, seperti Comac C919 dan Comac ARJ21, di wilayah Delta Yangtze selain operasi jet bisnis.

Boeing 737-800 China Eastern MU5735 Jatuh Vertikal dengan Kecepatan 563 Km per Jam

Data dari Flightradar24 menyebutkan bahwa Boeing 737-800 China Eastern MU5735 jatuh ke permukaan dengan kecepatan 350 mile per jam, atau setara 563 km per jam. Data pelacakan menunjukkan pesawat terbang pada ketinggian 29.100 kaki (8.870 meter) pada pukul 14.20. Dan sekitar dua menit kemudian turun menjadi lebih dari 9.000 kaki (2.743 meter) dan 20 detik setelah itu menjadi hanya 3.225 kaki (983 meter).

Baca juga: Jatuh Menghujam Bumi, Ada Apa dengan Boeing 737-800 China Eastern MU5735?

Dari analisa perubahan ketinggian, menujukkan pesawat mengalami penurunan vertikal 31.000 kaki per menit, atau sekitar 563 km per jam. Dari video beredar di media sosial, tampaknya menunjukkan pesawat melesat ke tanah dalam posisi vertikal hidung ke bawah. Radio FreeAsia melaporkan bahwa video itu ditangkap oleh kamera CCTV di sebuah area pertambangan.

Penerbangan MU5735 meninggalkan kota barat daya Kunming pada pukul 13:11. dan dijadwalkan mendarat di Guanzhou pada pukul 15:05. Menurut data dari FlightRadar24, Boeing 737-800 itu berusia enam tahun dan terakhir terlacak pada pukul 14:22.

Boeing mulai membuat seri 737-800 pada pertengahan 1990-an dan mengirimkan 5.200 unit ke maskapai penerbangan di seluruh dunia sebelum dihapus dua tahun lalu. China Eastern memiliki lebih dari 100 unit pesawat, yang kini telah di temporary grounded untuk kepentingan investigasi.

Baca juga: Boeing 737 Gulf Air 771 Jatuh Gegara Penumpang ‘Ketinggalan’ Pesawat

Setelah kecelakaan yang mengerikan itu, saham Boeing turun sekitar 8 persen dan saham di China Eastern Airlines juga anjlok 6,5 persen. Kecelakaan pesawat fatal terakhir di terjadi pada tahun 2010, ketika sebuah jet Embraer E-190 yang diterbangkan oleh Henan Airlines jatuh saat mendekati bandara Yichun dalam jarak pandang rendah. Empat puluh empat dari 96 orang di dalamnya tewas.

Jatuh Menghujam Bumi, Ada Apa dengan Boeing 737-800 China Eastern MU5735?

Dunia kini sedang dikejutkan dengan musibah jatuhnya Boeing 737-800 China Eastern MU5735 pada hari Senin (21/3/2022) pukul 13:15 waktu setempat (12:15 WIB). Pesawat dari Kunming menuju Guangzhou itu berisi 132 orang (123 penumpang dan 9 awak) dan jatuh di wilayah pegunungan dekat Wuzhou. Detik-detik jatuhnya pesawat terekam oleh kamera surveillance, dan memperlihatkan bahwa pesawat jatuh menghujam, dan bukan dalam posisi melayang (gliding) ketika menghempas daratan.

Baca juga: KLM Retrofit Boeing 737-800 Bikin Pesawat Lebih Enteng dan Hemat 812 Ton Bahan Bakar

Terlepas dari investigasi yang kini sedang dijalankan pada pesawat berusia enam tahun tersebut, pada dasarnya pesawat twin engine seperti Boeing 737 punya kemampuan xtended-range Twin-engine Operational Performance Standards (ETOPS) memungkinkan pesawat twin jet tetap terbang meski hanya menggunakan satu mesin.

Tetapi, bagaimana ketika seluruh mesin mati, apakah pesawat, baik twinjet, trijet, ataupun quadjet, apakah pesawat langsung terjun bebas?

Dilansir Simple Flying, ketika seluruh mesin pesawat mati, pilot biasanya akan meminta co-pilot untuk memulihkan Auxiliary Power Unit (APU). APU berfungsi sebagai sumber energi pesawat seperti listrik dan pendingin ruangan. Dalam kondisi tertentu seperti saat seluruh mesin pesawat mati, APU juga berfungsi sebagai supporting engine untuk menghidupkan atau start ulang mesin utama.

Andaipun tak berhasil, pilot akan menginfokan keadaan darurat atau mayday ke ATC. Bila posisi pesawat berada di sekitar bandara atau masih sanggup mencapai bandara, maka ATC akan memberikan clearance ke pesawat untuk mendarat di bandara tersebut sekaligus membersihkan jalur pesawat itu sendiri. Bila tidak, tentu pilot akan mencari tempat pendaratan yang menurutnya paling aman.

Dalam kondisi seluruh mesin mati, bisa dibilang pesawat meluncur layaknya mobil menuruni sebuah turunan dalam keadaan mati mesin dan tanpa rem tangan. Hanya saja, sejauh mana pesawat meluncur bergantung banyak faktor.

Setiap pesawat tentu memiliki rasio terbang yang berbeda, artinya mereka akan kehilangan ketinggiannya dalam tingkat yang berbeda-beda. Hal ini mempengaruhi seberapa jauh pesawat bisa terbang tanpa dorongan mesin.

Contohnya, jika sebuah pesawat memiliki rasio angkat dan tarikan 10:1, maka untuk setiap 10 mil (16 kilometer) pesawat kehilangan ketinggian satu mil (1,6 kilometer).

Baca juga: Tarung Keluarga Boeing 737 vs Keluarga Airbus A320, Siapa yang Akan Menang?

Pesawat biasanya terbang di ketinggian 36 ribu kaki atau sekitar 10 kilometer, jadi pesawat yang kehilangan kedua mesinnya masih bisa terbang sejauh sekitar 112 kilometer sebelum sampai ke permukaan tanah. insiden seluruh mesin pesawat mati sangat jarang terjadi; kecuali tertentu saja, seperti kehabisan bahan bakar, abu vulkanik, dan bird strike. Di antara ketiga itu, abu vulkanik pernah menyebabkan insiden seluruh mesin pesawat mati di Indonesia.

Kapal Ferry Hibrida Pertama Inggris Digerakkan oleh Daya dari Danfoss Editron

Kapal ferry penumpang hibdrida dan berkecepatan tinggi pertama di Inggris akan bergabung dengan armada Uber Boat by Thames Clipper pada musim gugur 2022. Ferry ini menggunakan daya dari Danfoss Editron Power Solutions. Kapal ferry hibrida ini ada dua unit dan memiliki panjang 40 meter, dibangun oleh Wight Shipyard Company di Isle of Wight.

Baca juga: Eleanor Roosevelt, Kapal Ferry Express Pertama di Dunia Pakai Mesin Berbahan Bakar LNG

Seperti dilansir KabarPenumpang.com dari offshore-energy.biz, dua kapal hibrida kecepatan tinggi tersebut masing-masing mampu mengangkut hingga 230 penumpang. Kehadiran kapal ferry tersebut akan membantu London mencapai target ambisiusnya mnjadi kota nol karbon tahun 2030 mendatang.

Selain mengurangi dampak lingkungan, ferry berkecepatan tinggi tersebut juga memberikan peningkatan kenyamanan bagi penumpang. Ini karena tingkat kebisingan dan getaran yang lebih rendah yang dihasilkan oleh sistem propulsi listrik hibrida Danfoss.

Saat beroperasi di pusat kota London, ferry hibrida akan berjalan dengan penggerak listrik tanpa emisi, beralih ke tenaga biofuel begitu berada di luar zona pusat. Wight Shipyard beralih ke penentu sistem, integrator dan penginstal SEC Marine, divisi Editron Danfoss, dan pemasok sistem baterai Spears Trident untuk memberi daya pada ferry hibrida baru.

Divisi Editron akan menyediakan sistem distribusi dan kontrol DC tegangan tinggi lengkap untuk kapal, serta motor dan inverter. Sedangkan kelebihan daya dari mesin biofuel akan digunakan untuk memasok pasokan AC onboard dan mengisi baterai, menghilangkan kebutuhan untuk generator set tambahan yang digerakkan diesel terpisah untuk mengirimkan pasokan AC onboard.

Tak hanya itu, dalam mode pengambilan daya, solusi ini dapat mengalirkan energi yang tersimpan dalam baterai kembali ke jalur propulsi utama. Oleh karena itu, ferry dapat berlayar dengan penggerak listrik saja atau menggabungkan energi baterai dengan mesin penggerak utama, mengurangi konsumsi bahan bakar dan memberikan perjalanan yang lebih tenang dan nyaman bagi penumpang.

“Kota-kota dan negara-negara semakin beralih ke solusi elektrifikasi untuk kapal dekat pantai mereka, tidak hanya untuk mengurangi emisi CO2, tetapi juga untuk meningkatkan efisiensi operasional. Potensi global untuk konversi listrik ini juga didukung oleh inovasi teknologi dan penurunan harga baterai yang stabil, memungkinkan proyek untuk mencapai waktu pengembalian yang menarik bagi pemilik ferry,” kata Erno Tenhunen, direktur Kelautan divisi Editron Danfoss.

Dia mengatakan, terlepas dari penyimpanan energi onboard, baik baterai, sel bahan bakar hidrogen atau teknologi lainnya, mereka memiliki solusi untuk mengintegrasikannya ke dalam sistem DC. Di mana ini mengubah energi menjadi mesin penggerak listrik.

Baca juga: Filipina Bangun Kapal Penumpang dengan Teknologi Trimaran untuk Kurangi Emisi Karbon

“Kami menantikan untuk melanjutkan pekerjaan kami dengan Wight Shipyard Co dan SEC Marine untuk membantu kota-kota melakukan dekarbonisasi. Kami senang dapat membawa masa depan transportasi laut ke Sungai Thames dan membantu mengurangi kemacetan London, pada saat transportasi darat bertanggung jawab atas hampir setengah dari polusi kota,” kata Steve Hopkins, pemilik dan direktur SEC Marine.