Penumpang Bersepeda Makin Mudah Naik KRL Yogya – Solo Menuju ke Tempat Tujuan

Hobi bersepeda bagi masyarakat Indonesia makin terlihat setelah wabah pandemi melanda. Olahraga bersepeda selalu rutin dilakukan baik dalam waktu luang maupun aktivitas dalam bekerja. Seperti yang dilakukan masyarakat Kota Yogyakarta sampai dengan Solo ini. Masyarakat yang membawa sepeda khususnya sepeda lipat masih diperbolehkab untuk menaiki transportasi KRL Yogya – Solo. Namun sepeda yang digunakan harus menggunakan sepeda lipat. Karena saat dimasukkan ke dalam rangkaian KRL tidak mengganggu penumpang lainnya dan bisa di simpan bersama dengan pemiliknya.

Baca juga: Pengguna Sepeda Non Lipat Bisa Bawa Masuk Sepeda ke Kereta di Fukuoka

Bagi masyarakat Yogyakarta dan Solo, adanya KRL ini bisa mempersingkat jarak tempuh kedua daerah. Kenyamanan dan keamanan menjadi pihan orang menggunakan moda transpotasi masal tersebut. Calon penumpang yang ingin menggunakan jasa KRL Jogja-Solo bisa melakukan transaksi melalui Kartu Multi Trip (KMT) maupun kartu uang elektronik seperti Flazz BCA, E-money Mandiri hingga BRIZZI.

Meski penumpang bisa membawa barang berlebih atau termasuk sepeda lipat, selama itu tidak mengganggu penumpang lainnya tarif yang dikenakan dalam satu kali perjalanan dengan KRL Jogja – Solo yaitu sebesar Rp8.000. KAI Commuter juga telah memberikan kemudahan untuk proses pembayaran. Untuk operasional KRL Yogyakarta – Solo juga tetap beroperasi dengan 20 perjalanan KRL per hari pada hari kerja mulai pukul 05.05 – 18.30 WIB. sedangkan untuk hari libur atau hari Sabtu dan minggu beroperasi sebanyak 24 perjalanan mulai pukul 05.05 – 20.17 WIB. (PRAS – Cinta Kereta Api)

Mengenang Kisah Gimli Glider, Pendaratan Darurat Pasca Pesawat Kehabisan Bahan Bakar di Ketinggian 41 Ribu Kaki

Bicara terkait kisah heroik pilot mendaratkan pesawat dalam keadaan darurat, Kapten Chesley “Sully” Sullenberger dan kopilot Jeffery Skiles mungkin jadi yang termasyhur. Namun, jangan lupakan kapten Robin ‘Bob’ Pearson dan kopilot Maurice Quintal dalam peristiwa Gimli Glider, dimana pesawat Boeing 767 Air Canada kehabisan bahan bakar saat di ketinggian 41 ribu kaki (12.500 meter)

Baca juga: Satu Dasawarsa Pasca Kejadian, Survivor Tragedi “Miracle on the Hudson” Langsungkan Reuni

Sebagaimana peristiwa lainnya di dunia aviasi, kisah Gimli Glider sebetulnya bermula dari masalah kecil. Namun, karena masalah kecil itu terus berlangsung, berpadu dengan masalah lainnya, baik teknis maupun non teknis, Gimli Glider pun akhirnya tercatat dalam sejarah. Tak hanya, sang kapten pilot, yang semula mendapat sanksi keras dari perusahaan, justru dianugerahi Fédération Aéronautique Internationale (FAI) Diploma for Outstanding Airmanship untuk pertama kalinya.

Dilansir Simple Flying, pada 22 Juli 1983, pesawat Air Canada Boeing 767 dalam penerbangan dari Montreal ke Edmonton via Ottawa, Kanada, mengalami masalah.

Kapten Robert Pearson, 48 tahun, dengan pengalaman 15.000 jam terbang, dan kopilot Maurice Quintal, 36 tahun, dengan waktu terbang 7.000 jam, mendapati bahwa alarm tekanan bahan bakar rendah pesawat yang dikemudikannya tiba-tiba berbunyi.

Ketika itu, pilot berasumsi bahwa bahan bakar masih banyak, merujuk pada indikator Flight Management Computer (FMC). Alarm pun dimatikan. Tak lama berselang, alarm yang sama kembali berbunyi dan kru pun memutuskan untuk mendarat di Winnipeg, berjarak sekitar 120 mil.

Saat pesawat mulai turun, mesin kiri mati, diikuti dengan ledakan pada mesin kanan. Alhasil, pesawat pun kehabisan bahan bakar di ketinggian 41 ribu kaki atau 12 kilometer dari permukaan tanah.

Habisnya bahan bakar ini terjadi saat pesawat sudah melakukan sekitar setengah perjalanan. Habisnya bahan bakar juga membuat semua mesin serta panel instrumen kokpit elektronik mati. Saat itu, Boeing 767-200 memang jadi salah pesawat jet pertama yang mengadopsi sistem instrumen penerbangan elektronik yang didukung oleh mesin. Praktis, ketika mesin mati, panel juga ikut mati.

http://https://www.youtube.com/watch?v=SjTz-OcECZc

Untungnya, turbin udara ram (RAT) cukup untuk memberi daya pada instrumen penerbangan darurat untuk mendukung proses pendaratan. Hanya saja, itu tidak termasuk vertical speed indicator yang menunjukkan kecepatan pesawat dan lokasi dimana pesawat harus mendarat.

Tak hanya itu, lokasi pendaratan di Gimli, Pangkalan Angkatan Udara bekas perang dunia yang sudah beralih fungsi jadi lokasi balapan mobil, berjarak 20 mil lebih dekat daripada Winnipeg, tengah diadakan balapan drag dan dipadati oleh banyak orang.

Minimnya informasi pendaratan -akibat panel instrumen kokpit mati- tak membuat Kapten Robert Pearson menyerah. Dengan pengalamannya menerbangkan glider (pesawat tanpa mesin) saat mengikuti pelatihan di angkatan bersenjata AS, Kapten Robert Pearson, mampu menerbangkan pesawat Air Canada di udara tanpa mesin.

Kapten Robert Pearseon, mampu mendaratkan pesawatnya di bekas markas angkatan udara Kanada di Gimli, Manitoba. Seluruh penumpang pesawat Air Canada yang berjumlah 69 orang berhasil selamat. Hanya sedikit dari mereka mengalami luka-luka ringan.

Sedangkan pesawat dengan nomor registrasi C-GAUN, yaitu Boeing 767 pertama Air Canada berusia empat bulan, sekaligus menjadi pesawat ke-47 yang dikirim dari fasilitas perakitan Boeing’s Everett.

Usut punya usut, peristiwa atau kisah Gimli Glider terjadi karena berbagai masalah, mulai dari masalah teknis, buruknya manajemen organisasi hingga menyebabkan lemahnya pengawasan, human error, dan sistem metrik.

Masalah bermula dari Sistem Indikasi Kuantitas Bahan Bakar (FQIS) pada pesawat tersebut, sehari sebelum penerbangan. Setelah dicek teknisi, masalah itu tuntas namun dengan catatan harus mengecek floatstick.

Baca juga: Akibat Kesalahan Sistem Alarm, Boeing 777 Air China Mendarat Darurat di Rusia Timur

Sayangnya, ketika pesawat berpindah tangan ke kru lain, baik teknisi maupun kru kokpit, terjadi kesalahpahaman pada instruksi tersebut. Masalah kemudian dilengkapi dengan sistem metrik.

Teknisi memberikan sejumlah catatan dalam bentuk pound / L sedangkan pesawat menggunakan kg / L. Alhasil, dari seharusnya pesawat mengisi 20.088 liter bahan bakar menjadi hanya di bawah 5.000 liter. Tak heran bila pada akhirnya pesawat kehabisan bahan bakar saat tengah mengudara.

Malaysia Airlines Tampilkan Desain Interior Kabin Baru untuk Armada Boeing 737-800NG

Malaysia Airlines membuat terobosan baru, mengandalkan Boeing 737-800NG sebagai backbone, maskapai plat merah Malaysia itu merombak desain interior kabin pada pesawat komuter regional bermesin tua itu. Interior baru yang apik mencakup kursi baru dan sistem IFE (In Flight Entertainment) gaya baru dan rencananya 39 unit Boeing 737-800 NG Malaysia Airlines akan dimodifikasi kabinnya dengan tampilan baru pada pertengahan tahun 2023.

Baca juga: Malaysia Airlines ‘Borong’ 25 Boeing 737 MAX, Ini Alasannya

Kondisi saat ini, Boeing 737-800NG tertua milik Malaysia Airlines hanya berusia di bawah 12 tahun, sedangkan yang termuda berusia sekitar tujuh setengah tahun. Usia rata-rata armada Malaysia Airlines 737-800NG di bawah sepuluh tahun. Itu tidak tua menurut standar industri penerbangan, tetapi setelah satu dekade terbang, Malaysia Airlines merasa sudah waktunya untuk melakukan penyegaran pada desain kabin.

Desain interior Boeing 737-800NG Malaysia Airlines mengusung komposisi 12 kursi kelas bisnis dan 162 kursi kelas ekonomi. Kedua kabin yang telah diperbaharui memiliki lapisan kulit yang ringan dengan tata letak khas Boeing 737 2-2 (kelas bisnis) atau 3-3 (kelas ekonomi). Semua kursi dilengkapi dengan stopkontak pribadi USB tipe A dan C.

Baca juga: Malaysia Airlines Bagi-bagi Tiket Penerbangan Domestik Gratis untuk Penumpang Transit (Stopover)

Yang juga mendapat perhatian dari modifikasi kabin adalah sistem hiburan dalam pesawat. Kabin baru 737-800NG Malaysia Airlines menggunakan sistem IFE generasi terbaru yang disebut MHstudio. Meski berbalut desan segar, rupanya IFE pada desain kabin baru ini telah menghilangkan keberadaan layar sentuh di depan penumpang. Sebagai gantinya, akses IFE dapat dinikmati lewat smartphone atau tablet yang dibawa oleh penumpang. Desain interior baru pada Boeing 737-800MG akan diluncurkan Malaysia Airlines pada akhir Juli 2022.

Sering Lihat Perangkat ini di Dekat Pesawat? Inilah Fungsi Penting dari Ground Power Unit

Selalu berada di dekat pesawat, penampakan perangkat dengan empat roda yang ditarik ini tak asing terlihat di tarmak dan apron bandara. Meski bisa disebut kerap dilihat, namun kebanyakan orang tak mengetahui apa fungsi dan peran dari perangkat yang disebut sebagai Ground Power Unit (GPU) ini.

Baca juga: Ini Dia, Para Pekerja Ground Support System di Bandara

GPU yang merupakan bagian dari Ground Support Equipment (GSE), pada dasarnya dapat berupa unit tetap (fix GPU) atau bergerak (mobile/portable GPU) yang dapat dihubungkan ke sistem kelistrikan pesawat saat berada di darat untuk menyediakan daya 120V AC atau 28V DC. GPU biasanya terdiri dari generator yang ditenagai oleh mesin diesel.

Merujuk ke asasinya, GPU digunakan untuk memasok daya ke berbagai pesawat saat mereka berada di darat. Penggunaan paling umum untuk kendaraan pemasok daya yang lebih besar adalah mendukung pesawat besar saat mereka bergerak di sekitar landasan pacu, seperti setelah pendaratan. Ground power unit juga membantu menciptakan lingkungan bertekanan rendah di mana pilot dalam pelatihan dapat berlatih dan mempelajari avionik pesawat sebelum mereka benar-benar terbang.

GPU ada kalanya terlihat dalam bentuk kotak kecil hingga truk besar, tergantung pada pesawat yang dilayaninya. Perangkat GPU membawa energi listrik dari generator ke koneksi di pesawat. Beberapa bandara juga memiliki ground power yang terpasang. Ground power memungkinkan sistem pesawat digunakan tanpa menghabiskan baterai, sehingga pilot baru dapat berlatih tanpa tekanan terbang dan memastikan mereka merasa nyaman dengan pesawat dan semua instrumennya.

Ground power adalah sumber daya yang lazim ditemui di hampir semua bandara. Hal penting dari GPU yakni membantu mengurangi emisi, biaya bahan bakar, dan polusi suara di sekitar bandara saat pesawat mengitari landasan.

Baca juga: Inilah Marshaller, Tukang Parkir Pesawat Bergaji Rp1 Miliar

Hal terpenting yang perlu diperhatikan dalam penggunaan GPU adalah safety aspect. Mengingat pentingnya penggunaan GPU dalam setiap aktifitas maintenance di pesawat, maka setiap maintenance personnel harus meningkatkan awareness dalam penggunaan GPU.

Bandara “Bandaranaike” Kolombo, Saksi Bisu Beberapa Pendaratan Darurat Garuda Indonesia

Insiden pendaratan darurat yang dilakukan oleh Airbus A330 Garuda Indonesia GA972 di Kolombo, Sri Lanka pada Selasa (2/4/2019) sore kemarin sukses menyedot perhatian berbagai kalangan dari seluruh dunia. Diwartakan, pendaratan darurat ini terpaksa dilakukan di Bandara Internasional Bandaranaike karena dilatarbelakangi oleh informasi dari pilot yang mengatakan ada kepulan asap dari dalam pesawat. Sebelum-sebelumnya juga, bandara yang terletak di Katunayake, 35 km sebelah utara kota Kolombo ini juga sempat menjadi saksi bisu dari serentetan kecelakaan Garuda Indonesia (tahun 1974 dan 1978).

Baca Juga: Kolombo, “Kota Keramat” Bagi Garuda Indonesia yang Terbang Menuju Tanah Suci

Bandara Internasional Bandaranaike, atau yang biasa juga disebut Bandara Katunayake atau Bandara Internasional Kolombo ini pertama kali beroperasi sebagai pangkalan udara Royal Air Force (Angkatan Udara Inggris) pada tahun 1944 pada masa Perang Dunia II. Lalu pada tahun 1957, Perdana Menteri Salomon West Ridgeway Dias Bandaranaike memindahkan semua lapangan terbang Militer Inggris dari Ceylon (Nama jajahan Inggris sebelum berubah menjadi Sri Lanka), dan lapangan terbang tersebut diserahkan kepada Royal Ceylon Air Force (RCyAF) dan lapangan tersebut berganti nama menjadi Katunayake.

Sejatinya seperti Bandara Halim Perdanakusuma dan Bandara Adi Sutjipto di Indonesia, hingga saat ini, sebagaian dari Bandara Internasional Bandaranaike masih berfungsi sebagai lapangan terbang militer. Bandara yang dikelola oleh Airport and Aviation Services of Sri Lanka ini merupakan hub dari SriLankan Airlines (flag carrier Sri Lanka) dan maskapai domestik Cinnamon Air.

Bandara ini tidak hanya satu kali saja berganti nama – tahun 1977 berubah menjadi Katunayake International Airport dan pada tahun 1995 kembali berubah menjadi Bandaranaike International Airport. Bisa dikatakan, pergantian nama bandara ini (menjadi Bandaranaike International Airport) merupakan suatu bentuk penghargaan terhadap mendiang Perdana Menteri Salomon West Ridgeway Dias Bandaranaike yang berhasil merebutnya dari tangan Inggris.

Menara ATC Bandara Internasional Bandaranaike. Sumber: istimewa

Pembangunan bandara ini sendiri dimulai pada tahun 1964 yang ditujukan untuk menggantikan peran dari bandara internasional pertama di Sri Lanka, Ratmalana International Airport dan rampung tiga tahun berselang.

Perkembangan demi perkembangan terus dilakukan Pemerintah setempat guna meningkatkan fungsi dari bandara ini – selain juga memperindahnya. Tercatat, ada satu landas pacu yang sudah dilapisi oleh aspal dan dua lainnya masih dalam perencanaan. Satu landas pacu yang ada di bandara ini memiliki panjang 3.441 meter dengan arah 04/22.

Baca Juga: Untuk Direct Flight Umrah, Mei 2019 Airbus A330-900NEO Lion Air Tiba di Indonesia

Selain itu, Bandara Internasional Bandaranaike ini juga dilengkapi oleh dua bangunan terminal penumpang (satu terminal lagi sedang dibangun dan direncanakan dibuka pada tahun 2019 ini) dan satu terminal kargo.

Mengutip dari Civil Aviation Authority of Sri Lanka, pada tahun 2018 kemarin, bandara ini berhasil mengakomodir 10,8 juta penumpang dan 66,8 ribu pergerakan pesawat selama satu tahun.

Pendaratan perdana Airbus A380 di Sri Lanka. Sumber: istimewa

Satu sejarah yang tidak boleh dilupakan dari bandara ini adalah ketika maskapai Timur Tengah Emirates berhasil mendaratkan armada Airbus A380-800nya di Bandara Internasional Bandaranaike pada 9 Januari 2012 silam. Ini merupakan pendaratan perdana super-jumbo jet di bandara di Sri Lanka.

Jelajahi Terowongan Kereta Api Terpanjang di Indonesia, Ini Dia Urutannya

Perjalanan kereta api tak luput dari stasiun, jembatan, dan juga terowongannya. Stasiun kereta api di Indonesia lebih dominan dengan bangunan cagar budaya, sama halnya dengan jembatan dan terowongan. Untuk jembatan kereta api di Indonesia saja banyak diantaranya terdapat yang terpanjang, begitu pula terowongannya. Ternyata terowongan kereta api di Indonesia ada beberapa yang terpanjang, lho. Nah, kali ini kabarpenumpang.com akan memberikan informasi beberapa terowongan kereta api terpanjang yang ada di Indonesia.

Baca juga: 10 Terowongan Kereta Terpanjang di Indonesia, Ada Dimana Saja Ya?

1. Terowongan Ijo
Berada di jalur antara jalur Kroya – Kebumen, terowongan ijo merupakan terpanjang yang berada di wilayah Daop 5 Purwokerto. Memiliki panjang 580 meter, Terowongan Ijo yang satu ini merupakan terowongan dengan bangunan baru dan memiliki jalur ganda didalamnya. Awalnya Terowongan Ijo sudah dibangun sejak jaman kolonial Belanda, namun karena usianya sudah cukup tua dan adanya progres pembangunan jalur ganda kereta api lintas Kroya – Kutoarjo, terowongan dibuat baru dengan konstruksi yang lebih kuat. Tak jauh dari Terowongan Ijo, terdapat stasiun yang memiliki nama yang sama, yaitu Stasiun Ijo.

2. Terowongan Eka Bakti Karya
Terowongan terpanjang berikunya adalah Eka Bakti Karya (EBK) dengan panjang 850 meter. Terowongan ini menghubungkan jalur antara Blitar dan Malang. Terowongan Eka Bakti Karya berada di wilayah Daop 8 Surabaya. Uniknya terowongan ini berada dekat dengan bendungan besar yang berlokasi di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Ya, pembangunan terowongan asli buatan Indonesia ini berada di dinding Bendungan Karangkates. Di bagian dinding mulut terowongan dibuat ada lubang lengkungan seperti jendela tanpa kaca.

3. Terowongan Lampegan
Terowongan yang satu ini merupakan terowongan yang sangat legendaris di jalur Sukabumi – Cianjur dan termasuk wilayah Daop 2 Bandung. Terowongan tertua dengan panjang 687 meter yang pernah dibangun, hingga saat ini masih digunakan dan masih aktif. Berlokasi di Cianjur, Jawa Barat, Terowongan Lampegan dibangun mulai tahun 1879 hingga 1882 yang dekat dengan situs cagar budaya Indoneesia, yaitu Gunung Padang. Melihat dan merasakan terowongan ini cukup naik kereta api lokal dengan rute Sukabumi – Cipatat pp.

4. Terowongan Mrawan
Menuju wilayah ujung timur Pulau Jawa. Terowongan Mrawan termasuk terowongan terpanjang yaitu 690 meter. Terowongan Mrawan masuk di wilayah Daop 9 Jember dan dekat dengan Stasiun Mrawan. Terowongan ini menembus Gunung Gumitir yang membatasi wilayah Kabupaten Jember dengan Kabupaten Banyuwangi. Pemandangan sekitar Terowongan Mrawan cukup bagus untuk pengambilan gambar, karena aksesnya sangat strategis dan dekat dengan pemukiman warga. Namun sangat disayangkan, kereta api yang melintas terowongan ini tidak begitu banyak.

Baca juga: Tiga Terowongan Jalur Ganda ‘Hiasi’ Jalur Kereta Api Lintas Selatan Jawa

5. Terowongan Sasaksaat
Beralih ke jalur ramai berada di wilayah Daop 2 Bandung, Terowongan Sasaksaat merupakan terowongan yang paling panjang dari terowongan kereta api lainnya di Indonesia. Dengan panjang 949 meter, terowongan ini masih terawat dan terjaga konstruksi bangunannya. Meski banyaknya kereta api yang melintas, saat memasuki terowongan sudah bisa melampaui kecepatan maksimal 50 km/jam. Tak hanya itu, Terowongan Sasaksaat terdapat pos penjaga yang rutin berjaga setiap hari guna mengecek perawatan terowongan tersebut. Terowongan Sasaksaat berlokasi di Kabupaten Bandung Barat dan berjarak 700 meter dari Stasiun Sasaksaat.
(PRAS – Cinta Kereta Api)

Pengaruhi Bobot Pesawat, Inilah Alasan Pesawat Udara Menggunakan Frekuensi Daya 400 Hz

Sebagai wahana canggih yang beroperasi dengan begitu banyak sistem elektronik, sudah barang tentu pesawat udara membutuhkan frekuensi daya (power frequency) yang digunakan untuk menjalankan beragam fitur dan fasilitas yang ada pada sistem pesawat itu sendiri. Dan dalam terminologi dunia penerbangan, dikenal frekuensi daya 400 Hz, frekuensi tersebut digunakan pada pesawat yang memiliki generator yang menghasilkan tenaga.

Baca juga: Pesawat Hybrid Desaer ATL-100H Padukan Motor Listrik MagniX dengan Turboprop

Saat pesawat mengudara, generator atau alternator pesawat akan menghasilkan daya yang didistribusikan ke berbagai perangkat dan komponen listrik lainnya. Alih-alih menggunakan frekuensi 50 atau 60 Hz yang sama seperti stopkontak standar, pesawat terbang menggunakan daya frekuensi 400 Hz. Tentu menjadi pertanyaan tersendiri, mengapa begitu banyak pesawat menggunakan daya 400 Hz?

Dikutip dari monroeaerospace.com, disebutkan sistem kelistrikan memainkan peran kunci dalam fungsi pesawat modern. Semua pesawat berisi begitu banyak perangkat dan komponen listrik, yang tentunya membutuhkan daya untuk berfungsi. Seperti disebutkan sebelumnya, pesawat terbang dapat menghasilkan tenaga baik dengan generator atau alternator. Pesawat dapat beroperasi pada rentang frekuensi daya yang berbeda, beberapa di antaranya adalah arus bolak-balik (AC), sedangkan yang lain adalah arus searah (DC).

Dengan itu, sebagian besar pesawat memiliki sistem kelistrikan yang secara khusus menggunakan 400 Hz. Itu, tentu saja, jauh lebih tinggi daripada frekuensi 50 atau 60 Hz yang digunakan di stopkontak standar.

Dan salah satu alasan mengapa begitu banyak pesawat menggunakan daya 400 Hz adalah karena memungkinkan bobot yang lebih rendah. Berat merupakan faktor penting dalam desain pesawat terbang. Jika pesawat terlalu berat, mungkin tidak bisa lepas landas. Paling tidak, itu semua membutuhkan mesin yang lebih bertenaga. Perusahaan manufaktur kedirgantaraan dapat mencapai bobot yang lebih rendah dengan menggunakan daya 400 Hz.

Singkat kata dengan 400 Hz, pesawat terbang membutuhkan lebih sedikit generator atau alternator untuk menghasilkan daya yang cukup. Pada akhirnya itu mengurangi berat total pesawat, sehingga memudahkan pesawat untuk lepas landas. Jika pesawat menggunakan frekuensi daya yang lebih rendah, mereka akan membutuhkan lebih banyak generator atau alternator, sehingga meningkatkan berat totalnya.

Baca juga: DHL Express Pesan 12 Pesawat Kargo Listrik Alice Eviation, Bisa Terbang Tanpa Pilot!

Alasan lain mengapa daya 400 Hz menjadi begitu umum adalah karena memungkinkan standarisasi perangkat dan komponen listrik. Jika pesawat dirancang dengan sistem kelistrikan dalam frekuensi daya yang berbeda, mereka tidak akan memiliki perangkat dan komponen yang kompatibel secara silang. Sebaliknya, beberapa perangkat dan komponen akan dibatasi untuk pesawat tertentu. Menggunakan daya 400 Hz memastikan terciptanya standar untuk perangkat dan komponen listrik. Karena sebagian besar pesawat menggunakan daya 400 Hz, perangkat dan komponennya dapat dengan mudah diganti.

Airbus Luncurkan Sayap Pesawat Full Composit Canggih Masa Depan, Apa Bedanya dengan yang Lain?

Airbus sukses menyelesaikan prototipe sayap full-size pertama dengan material full komposit dari target tiga sayap. Sayap yang dinilai lebih canggih dan lebih efisien dari segi perakitan dan performa tersebut dihasilkan berkat program R&T transnasional Airbus, Wing of Tomorrow.

Baca juga: Tekan Emisi Karbon, Airbus Luncurkan Pesawat Demonstrator dengan Sayap Canggih

Sayap pesawat canggih Airbus yang disebut sebagai sayap masa depan ini menggabungkan 100 komponen dan teknologi yang berbeda, utamanya dari segi perakitan.

“Wing of Tomorrow menghadirkan filosofi pembuatan yang sama sekali berbeda dengan cara kami merakit sayap saat ini dan merupakan bagian penting dari portofolio R&T kami yang akan membantu kami menilai kelayakan industri produksi sayap di masa depan,” jelas Sabine Klauke, Chief Technical Officer Airbus, dalam rilis yang diterima KabarPenumpang.com.

Selain sayap full komposit canggih, program yang melibatkan tim ahli dari banyak negara yang dipimpin Inggris ini, juga melakukan banyak inovasi lainnya, seperti melakukan penelitian tentang bahan bakar penerbangan berkelanjutan (SAF), propulsi hidrogen, serta banyak lagi dalam kaitannya dengan upaya dekarbonisasi atau menekan emisi karbon.

Filosofi baru yang dibawa Wing of Tomorrow Airbus ini memang benar-benar berbeda dari sebelumnya dalam konteks perakitan sayap pesawat di pabrik. Selama ini, sistem yang ada tidak mengakomodir perakitan sayap pesawat dengan sempurna dalam hal ini kombinasi antara tenaga manusia (manual) dengan robot (otomatisasi).

Lewat program Wing of Tomorrow ini, Airbus berupaya memaksimalkan kolaborasi antara pengerjaan manual dengan mesin yang dinaungi oleh sebuah sistem canggih di pabrik perakitan.

Komponen komposit dari program tersebut dirancang untuk memanfaatkan teknologi sebaik mungkin dan mengurangi jumlah pekerjaan selama proses perakitan sampai 50 persen, jauh lebih efisien dan efektif dari sebelumnya.

Meski begitu, semua yang telah dicapai Airbus sejauh ini sampai prototipe sayap full komposit pertama yang atau sayap demonstrator berhasil dibangun, belum berakhir.

Baca juga: Kenapa Sayap Komposit Irkut MC-21 Buatan Rusia Jadi yang Pertama di Dunia?

Tim internasional yang tergabung dalam program tersebut masih akan terus mencari formula terbaik, baik dari segi teknologi perakitan maupun teknologi pada sayap itu sendiri, untuk tujuan menciptakan sayap pesawat masa depan.

Berkenaan dengan sayap pesawat, tentu saja ini bukan proyek pertama Airbus. Pada September tahun lalu, Airbus meluncurkan pesawat demonstrator berbasis jet bisnis Cessna Citation VII dengan extra-performing wing. Ini dilakukan sebagai upaya perusahaan dalam dekarbonisasi atau menekan emisi karbon, selain juga membuat pesawat melaju lebih cepat berkat optimalisasi aerodinamika.

Ilmuwan Jepang Canangkan Pembangunan Kereta Cepat “Space Express”, Hubungkan Bumi, Bulan dan Mars

Sebagai bukti hadirnya peradaban teknologi modern, maka wajar masing-masing negara berlomba untuk menghadirkan layanan kereta berkecepatan tinggi, dalam hal ini termasuk Indonesia yang tak lama lagi akan membuka rute kereta cepat Jakarta – Bandung. Namun, teknologi kereta cepat punya dinamika yang begitu cepat. Bila saat ini kebanyakan masih berfokus bagaimana menggelar layanan kereta cepat konvensional, maka lain halnya di Jepang. Ilmuwan di Negeri Sakura telah mencanangkan pembangunan kereta cepat bukan lagi di Bumi.

Baca juga: Insinyur NASA: Helikopter Akan Gantikan Manusia Jelajahi Planet Mars

Dikutip dari eurasiantimes.com (13/7/2022), Bekerja sama dengan Kajima Construction, para peneliti di Universitas Kyoto, Jepang telah mengumumkan pembangunan konsep habitat luar angkasa buatan dan kereta cepat antarplanet yang menghubungkan Bumi, Bulan, dan Mars. Dalam konferensi pers minggu lalu, tim peneliti mengumumkan rencana futuristiknya untuk mengembangkan struktur habitat ‘Kaca’ yang mereplikasi gravitasi, medan, dan atmosfer Bumi untuk mencegah ‘melemahnya’ sistem muskuloskeletal manusia di lingkungan gravitasi nol dan rendah.

Perlombaan antariksa generasi terbaru telah dimulai, dengan misi ke Bulan, Amerika Serikat, Cina dan Rusia telah mencanangkan untuk membuka pangkalan di Bulan. Dengan kondisi tersebut, manusia mulai mempelajari cara hidup di luar Bumi. Namun, hidup di luar gravitasi bumi dan atmosfer di dalam tubuh dan karakteristik fisik kita telah berevolusi selama jutaan tahun dapat membawa risiko.

Rencana kelompok ilmuwan juga mencakup hal-hal yang berbau fiksi ilmiah. Mereka membayangkan sistem transportasi antarplanet, yang disebut ‘Hexatrack,’ yang mempertahankan gravitasi 1G bahkan selama perjalanan jarak jauh untuk mengurangi efek dari paparan gravitasi rendah yang berkepanjangan. Wahananya berupa heksakapsul, yaitu kapsul dengan bentuk heksagonal, dan perangkat bergerak disiapkan untuk bagian tengah.

Ada kapsul mini kecil (radius 15 meter) yang bolak-balik antara Bumi dan Bulan dan kapsul besar (radius 30 meter) yang berjalan antara Bumi dan Mars dan Bulan dan Mars. Kapsul besar memiliki struktur di mana kerangka luar ‘mengambang’, mungkin menggunakan teknologi elektromagnetik, terlihat pada kereta Maglev di Jerman dan Cina.

Pergerakan orang dari setiap kendaraan menggunakan poros tengah radial. Pergerakan antara Bulan dan Mars mempertahankan 1G (radius 30 meter, 5,5 putaran/menit). Stasiun lintasan di Bumi dijuluki Stasiun Terra, sementara kereta api yang bergerak di lintasan pengukur standar dengan enam gerbong akan disebut Space Express.

Mobil yang memimpin dan yang tertinggal akan memiliki pendorong roket yang diikatkan pada mereka untuk mempercepat dan mengurangi kecepatan di ruang angkasa sementara juga berfungsi untuk menghindari tarikan gravitasi setiap planet dan tetap berada di luar atmosfer. Saat bepergian di planet dengan atmosfer, sayapnya terbuka. Ini akan beroperasi di bulan dan Mars sebagai jalur kereta api berkecepatan tinggi, menghubungkan kota-kota dasar.

Yosuke Yamashiki, Direktur Pusat Penelitian Kosmologi Berawak SIC dan Sekolah Pascasarjana Kajian Terpadu Lanjutan di Universitas Kyoto, mengatakan bahwaAmerika Serikat dan Uni Emirat Arab secara aktif mendorong migrasi ke Mars, dia ingin Jepang menangani masalah yang sama sekali berbeda. , “ide orisinal secara mandiri.”

Baca juga:Temukan Objek Misterius di Bulan, Ini Profil dan Sejarah Rover Yutu-2

“Melalui diskusi selama beberapa tahun terakhir, tiga pilar yang kami usulkan kali ini adalah teknologi inti yang tidak ada dalam rencana pembangunan negara lain dan sangat diperlukan untuk memastikan terwujudnya kolonisasi antariksa manusia di masa depan,” tambahnya.

PO Sumber Alam, Bus AKAP Kebanggaan Warga Purworejo

Perusahaan Otobus (PO) Sumber Alam mungkin tak asing lagi bagi pecinta bus apalagi yang akan berangkat dari Jakarta menuju kota Gudeg, Yogyakarta atau sebaliknya. PO yang beralamat di Jalan Diponegoro No. 164 Purworejo, Jawa Tengah ini biasanya membawa penumpangnya melalui jalur selatan Pulau Jawa untuk tiba di tujuannya.

Baca juga: Sejarah PO Santoso, Ternyata Digawangi oleh Seorang Dokter

Berdirinya PO Sumber Alam berawal dari pendirian PO Tresna oleh Thung Tjie Hing pada tahun 1969 lalu. Kemudian bisnis PO ini diturunkan kepada anak cucunya dan berganti nama menjadi PO Hidup Baru. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, PO Sumber Alam sendiri baru benar-benar berdiri tahun 1975 oleh Judi Setijawan Hambali yang merupakan cucu dari Thung Tjie Hing dan menjadikannya sebagai perusahaan keluarga.

Salah satu armada tua Sumber Alam

Kemudian tahun 1984 kelangsungan bisnis PO Sumber Alam baru benar-benar dikelola oleh Judi Setijawan Hambali bersama sang istri. Tak heran bila Judi mewarisi bakat mengelola sebuah perusahaan otobus. Pasalnya anak dan cucu dari Thung Tjie Hing sendiri juga banyak yang bergelut di bidang transportasi bus seperti PO Santosa dan Kencana Jaya.

Awal berdirinya PO Sumber Alam tak banyak memiliki armada dan hanya bermodalkan enam unit bus yang melayani trayek Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) dari Yogyakarta menuju ke Jakarta dan sebaliknya. Kelanjutannya PO asal Purworejo ini memperluas trayek dalam provinsi dengan membuka Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) dan juga shuttle bus.

Tahun 2007, PO Sumber Alam pernah mendapat gelar perusahaan bus terbaik di masa Menhub Jusman Syafii Djamal. Pelayanan yang baik, membuat masyarakat di pesisir Selatan Pulau Jawa menjadikan PO Sumber Alam andalan bepergian ke Jakarta dan daerah-daerah lain di sekitarnya.

Pada masa kejayaannya dulu, PO Sumber Alam memiliki armada sebanyak empat ratus bus dan Judi dikalangan pengusaha PO dikenal apik dan lihai merawat kendaraannya. Dikenal memiliki hobi otomotif ada 20 unit kendaraan berumur di atas 30 tahun sebagai benda koleksi.

Pemilik PO Sumber Alam mendirikan Sumber Alam Adventure wahana bermain keluarga di Kutoarjo dengan koleksi kendaraan tua yang tergolong langka sebagai salah satu atraksinya. Tidak hanya di bisnis transportasi darat saja, Judi juga melebarkan bisnis PO Sumber alam ke bidang lainnya, yang paling besar dari pengembangan bisnis ini pada adalah Rumah Makan dan SPBU.

Baca juga: Bukan Nama Wanita, Rosalia Indah Kondang Sebagai Perusahaan Otobus

Dua unit bisnis ini juga menjadi penunjang layanan dari bisnis PO Sumber Alam. Sejarah PO Sumber Alam ini bakal terus berlanjut lagi, mengingat bus kebanggaan masyarakat Purworejo ini masih mantap menginjakkan rodanya di jalanan Pulau Jawa.