Tingkatkan Ketepatan Waktu, KAI Commuter Menambah Kecepatan KRL Lintas Jatinegara – Cikarang

Pernahkah menyadari saat naik Kereta Rel Listrik (KRL) melintas Jatinegara sampai dengan Cakung kecepatan lebih kencang dari biasa? Ya, ini dikarenakan jalur tersebut sudah diperbaharui kecepatan untuk kereta yang melintas termasuk KRL. KAI Commuter telah menambah kecepatan yang semula hanya 70 – 80 km per jam, kini menjadi 90 – 95 km per jam. Jika diukur menggunakan aplikasi kecepatan melalui ponsel, terpantau kecepatan KRL mampu mencapai 90 – 93 km per jam. Kecepatan tersebut guna meningkatkan ketepatan waktu dan juka mempercepat laju KRL agar semakin efisien dalam waktu perjalanan.

Baca juga: Mengenal Marka Batas Kecepatan Kereta Api

Semenjak diberlakukan perubahan jalur lintas Cikarang via Manggarai tujuan Tanah Abang – Kampung Bandan, via Pasar Senen tujuan Kampung Bandan melewati Tanah Abang pastinya membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Belum lagi perjalanan lintas tersebut melewati persinyalan yang harus menahan KRL untuk menunggu aman untuk masuk ke beberapa stasiun besar. KRL yang merupakan jalur Cikarang ini juga tetap menggunakan rangakain 8 hingga 12 kereta. Saat keberangkatan dari Stasiun Jatinegara menuju Bekasi, KRL langsung dikebut sampai Stasiun Klender. Saat berangkat dari Klender, KRL kembali meningkatkan kecepatannya hingga Buaran, dan seterusnya.

Baca juga: Kecepatan Kereta Ternyata Faktor Utama Pembunuh Satwa Liar di Taman Nasional Banff dan Yoho

Hingga saat ini, kecepatan KRL masih dimaksimalkan hingga 95 km per jam, kecuali pada petak tertentu yang mengharuskan perjalanan KRL mengurangi kecepatannya. Bahkan ada beberapa lokasi saat memasuki stasiun harus lambat, karena selain proyek double – double track belum kunjung usai, ada beberapa rel bahkan wesel yang masih perlu diperbaiki hingga adanya pergantian rel. PT KAI optimis saat semua 100 persen selesai, kecepatan kereta api akan disesuaikan bahkan bisa ditingkatkan kecepatannya, mengingat prioritas yang diutamakan untuk kenyamanan penumpang dalam perjalanan termasuk ketepatan waktu. (PRAS – Cinta Kereta Api)

Profile Pilatus Porter PC-6, Pesawat Susi Air Buatan Swiss yang Kecelakaan di Papua

Pesawat Pilatus Porter PC-6 PK BVM Susi Air mengalami kecelakaan di Papua saat melayani penerbangan rute Timika-Duma. Beruntung, enam penumpang dan satu pilot dilaporkan selamat. Belum diketahui secara pasti penyebab kecelakaan.

Baca juga: Mengenal Jasa Penerbangan Charter di Indonesia

Terlepas dari itu, pesawat Pilatus Porter PC-6 yang dipiloti oleh Capt. Dayle Peter Houzet itu sejatinya adalah pesawat tangguh. Pesawat ini memang didesain untuk beroperasi di wilayah-wilayah terpencil dengan medan perbukitan, pegunungan, dan perhutanan.

Pilatus PC-6 Porter tercatat memegang rekor sebagai pesawat yang mampu mendarat di lokasi tertinggi, untuk kategori fixed-wing aircraft. Pesawat bermesin tunggal ini tercatat pernah mendarat di gletser Dhaulagiri, Nepal, yang memiliki ketinggian 18.865 kaki atau 5.750 meter di atas permukaan laut.

Dilansir disciplesofflight.com, Pilatus Porter PC-6 buatan Pilatus Aircraft pertama kali diperkenalkan pada tahun 1959. Ketika itu, pesawat masih ditenagai oleh flat six 340 hp Lycoming GSO-480 yang hanya mampu mengangkut beban di bawah 2.000 pon. Cukup kecil untuk ukuran pesawat yang beroperasi di medan berat.

Barulah pada tahun 1961, pesawat dengan kemampuan STOL atau lepas landas dan mendarat di landasan pendek ini mulai mendapat banyak peningkatan pada mesin tanpa mengubah desain awal pesawat. Seri ini dinamakan PC-6/A Turbo Porter dengan mesin 523 shp Turbomeca Astazou. Pesawat inilah masuk ke jajaran armada Susi Air dan hari ini dilaporkan kecelakaan.

Seri Pialtus Porter PC-6 yang lebih bertenaga baru dirilis pada tahun 1964 menggunakan mesin Pratt & Whitney. Meski begitu, seluruh varian pesawat PC-6 keluaran dekade 60-70an belum ada yang mencolok.

Barulah pada tahun 1984, Pilatus Aircraft mengeluarkan seri yang paling populer sampai saat ini, Pilatus Porter PC-6/B2. Model B2 ini dilengkapi dengan mesin Pratt Whitney PT6A-27 yang sangat andal dan mampu menghasilkan 680 shp. Sayangnya itu diturunkan menjadi 550 shp di seri PC-6 selanjutnya.

Saat ini, Pilatus Porter sudah dibangun sampai 600 pesawat sejak tahun 1960an. Dari jumlah tersebut, 300 di antaranya masih beroperasi sampai saat ini di seluruh dunia. Sampai saat ini, pesawat itu masih diproduksi oleh Pilatus Aircraft hingga kini karena ada saja permintaan.

Baca juga: Susi Air, Maskapai Eks Menteri Susi yang Meroket Pasca Tsunami Aceh dan ‘Tenggelam’ Gegara Virus Corona

Di dunia, pesawat Pilatus Porter PC-6 digunakan untuk banyak operasi, mulai dari survei udara dan pemetaan, perang (perang Vietnam), kargo, komuter, operasi SAR, pemadam kebakaran hutan, operasi medis, terjun payung, joyflight, dan banyak lagi, baik di medan padang pasir, salju, hutan, pegunungan, dan sebagainya.

Spesifikasi Porter Pilatus PC-6 (PC-6/B2-H4)

Mesin : 550 shp Pratt & Whitney PT6A-27 turboprop

Propeller : Hartzell three-blade feathering kecepatan konstan; tersedia empat bilah

Rentang Sayap : 52.1′

Panjang : 35.75′

Tinggi : 10.5′

Kapasitas Bahan Bakar : 298 galon

Berat T/O Maksimum : 6.173 lbs

Berat Kosong Standar : 2.800 lbs

Beban Berguna : 3.373 lbs

Rentang : 870 NM (dengan tangki bawah sayap)

Plafon Servis : 25.000′

Jarak Lepas landas di atas 50′ rintangan : 1.444′

Jarak Mendarat di atas 50′ rintangan : 1,030′

Kecepatan Pelayaran Maks : 125 kts

Kecepatan Kios: konfigurasi pendaratan 52 kts

Penumpang : hingga sepuluh
























Tak Seperti MRT Jakarta, Ternyata LRT Jakarta Masih Saja Lengang Saat Tarif Rp1

Tim kabarpenumpang.com menjajal transportasi dengan tarif Rp1 dalam harga hari ulang tahun Kota Jakarta ke-495 kemarin. Berawal mencoba untuk naik MRT Jakarta dari Stasiun Dukuh Atas pada siang hari. Kepadatan penumpang sedikit terlihat saat memasuki stasiun. Kebanyakan penumpang yang menggunakan MRT ini adalah kaum remaja yang menikmati liburan sekolahnya. Begitu pula saat memasuki peron Stasiun Dukuh Atas, kebanyakan penumpang yang menuju ke Stasiun Bundaran HI.

Baca juga: Cegah Kereta Tergelincir, LRT Jakarta Adopsi Teknologi “Sand Box”

Saat tim mencoba ke Stasiun Blok M, terlihat di dalam rangkaian belum begitu terlihat adanya kepadatan. Namun saat berada di Stasiun Blok M hampir kepadatan penumpang pun terlihat saat MRT datang menuju ke arah Bundaran HI. Ini terbukti bahwa penumpang selain ingin menghabiskan waktu melakukan aktivitas mengisi liburannya sekaligus memanfaatkan tarif murah yang di berlakukan oleh Pemprov DKI Jakarta.

Setelah tim mencoba menggunakan MRT Jakarta, kemudian berpindah menuju LRT Jakarta yang berada di kawasan Jakarta Utara. Cuaca saat itu cukup cerah pada sore hari saat tiba di Stasiun Velodrome. Ternyata para penumpang yang menggunakan moda transportasi sangat lengang, meski kapasitas kursi terlihat penuh, namun untuk penumpang yang berdiri tidak terlihat kepadatan.

Baca juga: Di Tengah Pandemi dan Sepinya Penumpang, PT LRT Jakarta Justru Buka Lowongan

Meski jalur LRT yang dirasa cukup jauh dari perjalanan transportasi lainnya kecuali Transjakarta, menggunakan LRT cukup efisien dan terbantu. Perjalanan yang hanya menempuh selama 13 menit dari Stasiun Velodrome hingga Stasiun Pegangsaan Dua, membuat LRT Jakarta menjadikan solusi terbaik atasi kemacetan jalan raya. (PRAS – Cinta Kereta Api)

Maskapai Ini Buka 8.000 Lowongan di Seluruh Dunia dalam 2 Tahun

Tren pertumbuhan penumpang pesawat terus membaik di seluruh dunia. Menyambut itu, maskapai pada umumnya mulai membuka lowongan pekerjaan besar-besaran untuk berbagai posisi; tak terkecuali Cathay Pacific. Tak tanggung-tanggung, grup maskapai ini mengumumkan bakal membuka 8.000 lowongan kerja untuk sejumlah posisi.

Baca juga: Bukan Hanya Cathay Pacific, Ini Deretan Pesawat Sipil yang Nyaris Kena Rudal

Sebagaimana maskapai lain di seluruh dunia, pandemi Covid-19 telah membuat keuangan grup maskapai Cathay Pacific berantakan.

Maskapai Cathay Pacific, sebagai induk perusahaan, misalnya, terus mem-PHK karyawan sejak pertengahan tahun 2020 sampai tahun 2021.

PHK besar-besaran terakhir dilakukan Cathay Pacific pada September tahun lalu. Ketika itu, PHK besar-besaran terhadap pilot dilakukan sebagai bagian dari tinjauan operasional pilot di luar negeri. Ketika itu, mayoritas pilot-pilot Cathay Pacific di seluruh dunia dipecat atau di-PHK. Sekalipun tidak di-PHK, gaji pilot-pilot Cathay sudah dipangkas sampai setengahnya.

Meski ada pilot-pilot di beberapa basis negara yang tidak dipecat, Deborah McConnochie, manajer umum Cathay untuk aircrew, mengungkapkan hal itu menjadi sinyal kuat perusahaan terhadap kondisi keuangan yang tidak sehat, performa yang buruk akibat penerbangan penumpang sepi, dan PHK pilot Cathay di wilayah lainnya.

“Covid-19 terus berdampak buruk pada industri kami dan maskapai penerbangan kami. Menyusul rekor kerugian pada tahun 2020, semua tindakan penyimpanan kas perusahaan terus berlanjut. Jelas bahwa kami harus terus meninjau semua area bisnis untuk memastikan kami muncul secara kompetitif dari krisis global yang belum pernah terjadi sebelumnya ini,” jelasnya.

Dua tahun pandemi Covid-19 menerjang, Cathay Pacific mulai melihat secercah harapan. Dalam rapat tahunan IATA di Doha, Qatar, baru-baru ini, CEO Cathay Pacific Augustus Tang, mengungkapkan, grupnya membutuhkan 8.000 karyawan baru sampai dua tahun ke depan.

Rinciannya, 4.000 untuk anak perusahaan, yaitu maskapai HK Express dan Air Hong Kong, dan 4.000 sisanya untuk Cathay Pacific.

Disebutkan, dari 4.000 karyawan baru yang dibutuhkan maskapai Cathay Pacific, rinciannya adalah sekitar setengahnya atau 2.000 karyawan baru untuk menempati posisi pramugari atau awak kabin, 700 untuk pilot, dan sisanya untuk staf darat.

Baca juga: Siap-siap, Lowongan Kerja 60 Ribu Pilot Bakal Dibuka!

“Ini adalah komitmen kami untuk Hong Kong dan memastikan bahwa hub penerbangan Hong Kong akan siap dan akan kompetitif dan tetap menjadi hub penerbangan utama di dunia. Kami berada pada kecepatan yang berbeda [dibandingkan dengan] kota-kota lain,” jelasnya.

“Hong Kong terbuka dan kami sangat terdorong oleh penyesuaian baru-baru ini oleh pemerintah Hong Kong, dalam hal pembatasan perjalanan dan karantina kru. Jadi, arah perjalanannya ada di sana dan kami ingin melihatnya lebih dipercepat juga,” tutupnya, seperti dilansir South China Morning Post.
























Bagaimana Reaksi Pramugari Saat Temukan Penumpang Berhubungan Seks di Pesawat?

Pramugari/pramugara saat bertugas melihat berbagai hal menarik di pesawat. Mulai dari mayat yang dibiarkan duduk di bagian belakang kabin pesawat, penumpang mabuk berat yang bertingkah lucu ataupun mengesalkan, sampai penumpang yang bergabung dengan Mile High Club atau dengan kata lain berhubungan seks pesawat, entah di toilet atau di dapur, saat mengudara.

Baca juga: Video Tersebar Saat Berhubungan Seksual di Toilet Pesawat, Awak Delta Airlines di Skorsing

Saat awak kabin mendapati penumpang, baik itu suami istri ataupun bukan, tengah berhubungan seks di pesawat, apa yang akan dilakukan?

Secara bahasa Mile High Club adalah kelab yang berada tinggi di atas awan. Tetapi, secara istilah, Mile High Club adalah kumpulan orang-orang (penumpang) yang bebas melakukan apa saja di pesawat, termasuk berhubungan intim atau berhubungan seks di pesawat.

Dikutip dari Daily Mail, orang-orang yang berhubungan seks di bandara tersebut 42 persennya mengaku berbuat hal tersebut di toilet bandara. Sedangkan 28 persennya berhubungan seks di lemari bandara. Namun, tak disebutkan dengan jelas, lemari seperti apa.

Sebanyak 14 persen penumpang mengaku berhubungan seks di bandara dengan memanfaatkan mantel musim dingin yang panjang sebagai media menutupi aktivitas mereka. 12 persen lainnya mengaku melakukan hubungan seks di lounge bandara.

Celakanya, dari segitu banyaknya orang-orang yang sudah berhubungan seks di bandara sebelum penerbangan berlangsung, hanya 17 persen dari mereka yang ditangkap petugas keamanan.

Survei tentang perilaku penumpang, lebih spesifik lagi tentang penumpang yang berhubungan seks di bandara sebelum penerbangan, dilakukan oleh platform flight shopping US.Jetcost.com, dengan jumlah 4.915 responden di Amerika Serikat (AS) berusia 18 tahun atau lebih yang telah terbang setidaknya sekali selama dua tahun terakhir. Survei tersebut dirilis pada tahun 2017 lalu.

Sama parahnya dengan penumpang yang berhubungan seks di bandara sebelum memulai penerbangan, penumpang yang berhubungan seks di pesawat saat penerbangan berlangsung atau dikenal dengan istilah Mile High Club, juga cukup banyak. Bahkan lebih banyak dari yang diperkirakan.

Pada tahun 2010, sebuah survei menyebut bahwa tiga persen penumpang pesawat berhubungan mesra atau berhubungan seks selama penerbangan. Kalau ada tiga miliar penumpang terbang setiap tahun, itu artinya ada 10 juta orang yang berhubungan seks di pesawat setiap tahun.

Sebagian besar dari mereka tertangkap basah awak kabin melakukan itu dan reaksi pramugari terkait ini beragam.

Dalam sebuah diskusi di Reddit, salah satu pengguna yang mengaku seorang pramugari mengungkapkan ia akan meminta penumpang berhenti melakukan itu. Pramugari lainnya menanggapi bahwa ia hanya membiarkannya melakukan itu sampai tuntas. Artinya baik melarang atau melanjutkan, tidak ada konsekuensi hukum atas hal itu.

“Saya hanya mengalaminya beberapa kali dalam lima tahun karir saya. Itu hampir selalu pada red eye (idiom yang artinya bergadang) atau bermalam ke Eropa,” katanya.

“Waktu itu ada penumpang pasangan yang meminta izin ke dapur untuk meluruskan kaki. Tak lama setelahnya, saya mendengar mereka mengerang, dan saya mendapati mereka berhubungan seks di sana,” jelasnya.

Baca juga: Lebih Parah dari Siskaeee, Survei Membuktikan: 1 dari 10 Penumpang Berhubungan Seks di Bandara

“Kemudian saya menghampirinya dan memintanya untuk menyelesaikannya di toilet atau kembali ke tempat duduk dan menunggu (melakukan hal itu) sampai pesawat mendarat,” tambahnya.

“Seluruh pendapat saya adalah, selama Anda tidak melakukannya di depan umum, Anda diam tentang hal itu, dan Anda tidak bersikap curiga sepanjang penerbangan, jika Anda ingin berhubungan seks di kamar mandi. maka lakukanlah,” tutupnya.
























Warga Semarang dan Banyuwangi, Siap – siap Akan Hadir KA Baru

Selama ini jarang adanya kereta api melintas di jalur utara langsung menuju ke ujung timur Pulau Jawa. Kali ini masyarakat bisa bernafas lega, karena sebentar lagi akan ada rangkaian yang membawa penumpang dari Jawa Tengah menuju ke ujung timur Pulau Jawa. Ya, nama kereta api ini adalah Blambangan Ekspres. Rangkaian ini akan dijalankan dengan rute Semarang Tawang – Ketapang pp.

Baca juga: Mengenang 9 Tahun Tragedi Lokomotif “Nyeruntul” Tanpa Masinis di Semarang

Pengoperasian rangkaian KA Blambangan Ekspres ini rencananya milik PT KAI Daerah Operasi 9 Jember. Menurut informasi dari berbagai sumber bahwa KA Blambangan Ekspres ini masih belum dioperasikan sampai waktu yang belum ditentukan. Namun jadwal kereta api tersebut sudah beredar lengkap dengan stasiun pemberhentiannya.

Seperti diketahui, KA Blambangan Ekspres merupakan salah satu kereta api fakultatif yang sejak diterbitkan nya jadwal perjalanan KA terbaru pada tahun 2021 lalu hingga kini masih belum pernah dijalankan sama sekali. KA Blambangan ekspres sebenarnya sangat dinanti masyarakat khususnya warga Semarang yang ingin berwisata di Banyuwangi atau beberapa kota yang dilewati KA tersebut, begitu pula sebaliknya.

Baca juga: KA Cantik Ekspres, Hanya 5 Tahun Layani Jember-Surabaya!

Berharap kedepannya, KA Blambangan Ekspres bisa terwujud dan dijalankan dengan waktu yang efisien bagi calon penumpang yang ingin menikmatinya. Sebelumnya KA Blambangan Ekspres yang di targetkan beroperasi tahun 2021 lalu berangkat dari Semarang Tawang kemudian melewati Surabaya Pasar Turi, Surabaya Pasar Gubeng, Sidoarjo, Bangil, Probolinggo dan berakhir di Ketapang.

PRAS – Cinta Kereta Api

Diamuk Putin, Cina Akhirnya Tegas Bantu Rusia Lawan Barat, Kirim Pasokan Suku Cadang Pesawat

Cina akhirnya tegas membantu Rusia dalam menghadapi sanski Barat, dalam hal ini terkait sektor dirgantara. Melalui Duta Besar Cina untuk Rusia, Zhang Hanui, Cina mengaku siap memasok suku cadang ke Federasi Rusia.

Baca juga: Cina Larang Pesawat Boeing-Airbus dari Maskapai Rusia Masuki Wilayahnya, Gegara Putin Tewas?

Sebelumnya, Cina mengambil sikap sangat hati-hati untuk membantu Rusia yang terus tertekan akibat sanksi. Selain melarang masuk pesawat-pesawat yang memiliki registrasi ganda, yang itu berarti seluruh pesawat maskapai Rusia termasuk di dalamnya, Cina juga menolak menyuplai suku cadang pesawat lantaran khawatir turut menjadi sasaran sanksi aliansi Barat.

Sikap Cina tersebut, termasuk sikap lainnya, kemudian menyulut emosi Presiden Rusia Vladimir Putin.

Presiden yang juga mantan intelijen KGB era Uni Soviet itu dilaporkan melontarkan kata-kata kasar yang memaki Presiden China Xi Jinping. Hal ini disebut-sebut dilakukan Putin karena tidak optimalnya Beijing dalam membantu Rusia yang saat ini terkena sanksi ekonomi Barat.

“Kami siap memasok suku cadang ke Federasi Rusia. Kami akan mengatur kerja sama seperti itu,” katanya.

“Tidak akan ada batasan dari pihak Tiongkok (soal suplai suku cadang pesawat),” jelasnya kepada kantor berita TASS pada 17 Juni lalu.

Tak lama setelah perang Rusia-Ukraina meletus pada 24 Februari lalu, Airbus dan Boeing mulai menghentikan pasokan suku cadang, menangguhkan perawatan, dan dukungan teknis untuk seluruh armada mereka yang dioperasikan maskapai-maskapai Rusia, sebagai bagian sanksi AS dan Eropa menyikap invasi Rusia ke Ukraina.

Laporan The Guardian, sebanyak 332 pesawat Boeing dan 304 Airbus saat ini terdaftar dalam barisan armada maskapai-maskapai Rusia.

Meski pasokan suku cadang, perawatan, dan dukungan teknis untuk semua pesawat tersebut untuk sementara waktu di-stop Airbus-Boeing, namun, beberapa analis menduga itu tidak akan berdampak pada operasional maskapai dalam waktu dekat. Tentu dengan catatan, tidak ada kerusakan yang berarti.

Andaipun ada kerusakan ataupun sudah habis masa pakai sebuah suku cadang, maskapai bisa saja melakukan tambal sulam atau kanibal dengan suku cadang atau komponen pesawat lain.

Meski begitu, mengkanibal suku cadang hanya bisa dilakukan untuk jangka pendek. Dalam jangka panjang, mengkanibal suku cadang harus dihindari. Karenanya, Rusia tetap membutuhkan pasokan suku cadang dari negara lain dan ini disambut Cina.

Usai komitmen Cina memasok suku cadang pesawat Rusia, Wakil Perdana Menteri Rusia, Yuri Borisov, memastikan seluruh pesawat Boeing dan Airbus di Rusia akan terus beroperasi dengan aman sampai lima tahun mendatang.

Baca juga: Masih Disanksi, Maskapai Rusia Mulai Mengkanibal Pesawat Barat

“Ada masalah tentang pengoperasian yang aman dari pesawat ini selama periode ini. Saya pikir ada saluran impor paralel, dan mungkin industri Rusia juga akan dapat mereproduksi sesuatu. Tetapi tentu saja tidak akan dapat mereproduksi semuanya – kami tidak memiliki dokumentasi teknis maupun teknologi,” ujarnya.

“Jadi kita bisa sepakat bahwa ketika armada menurun, suku cadang akan dilepas, dan ini harus disediakan. Padahal hitung-hitungan Kementerian Perhubungan menunjukkan bahwa kita akan bisa hidup dengan pengoperasian armada ini selama lima tahun lagi,” tutupnya.
























Boeing Sulap Pesawat Tua B777 Jadi Pesawat ecoDemonstrator, Uji 30 Teknologi Baru

Boeing meluncurkan pesawat uji ecoDemonstrator baru berbasis Triple Seven. Pesawat berusia 20 puluh tahun itu nantinya akan diplot untuk menguji sejumlah teknologi baru untuk mengurangi penggunaan bahan bakar, emisi, dan kebisingan, sambil menggabungkan bahan ramah lingkungan.

Baca juga: Di Farnborough AirShow Virtual, Boeing Ungkap Keterlibatan Etihad Boeing 787-10 Sebagai ecoDemonstrator

Boeing 777-200ER ecoDemonstrator baru ini akan menjalani serangkaian tes di darat maupun di udara selama enam bulan ke depan sebelum mulai menguji sekitar 30 teknologi baru. Sepertiga dari teknologi tersebut sudah dinikmati oleh penumpang dan maskapai.

Di antara 30 teknologi baru yang akan diuji pesawat ecoDemonstrator baru ini adalah generator pusaran SMART, hasil kolaborasi antara Boeing dan NASA. SMART adalah baling-baling vertikal kecil di sayap yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi aerodinamis saat lepas landas dan mendarat.

Pesawat juga akan menguji sistem yang dirancang untuk menghemat air abu-abu di dalam pesawat – air yang dicuci ke wastafel akan digunakan untuk menyiram toilet, yang juga mengurangi berat pesawat.

Refrigeran ramah lingkungan untuk mengurangi emisi karbon dan sistem penglihatan yang ditingkatkan untuk pilot saat mengoperasikan pesawat juga termasuk ke dalam 30 teknologi yang akan dliuji coba.

Proyek penggabungan bahan bakar penerbangan berkelanjutan (SAF) dan bahan bakar jet konvensional juga turut diuji. Pesawat tersebut nantinya akan menggunakan campuran 30 SAF/70 sisanya konvensional.

“Boeing berkomitmen untuk mendukung pelanggan kami dan memungkinkan industri penerbangan komersial untuk memenuhi komitmen bersama kami untuk emisi karbon nol bersih pada tahun 2050,” kata Stan Deal, presiden dan CEO Boeing Commercial Airplanes, dalam sebuah pernyataan.

“Pengujian ketat program ecoDemonstrator terhadap teknologi baru semakin meningkatkan kinerja lingkungan dari produk dan layanan kami dan sangat berharga untuk terus meningkatkan keselamatan,” tambahnya, seperti dikutip dari CNN International.

Pesawat ecoDemonstrator baru Boeing, dengan nomor registrasi N861BC, pertama kali dikirim ke Singapore Airlines pada 2002, kemudian terbang ke seantero dunia bersama Air New Zealand dan Suriname Airways selama 20 tahun masa pakai.

Baca juga: 20 Maskapai Dunia Tandatangani Komitmen Gunakan Teknologi Baru Tekan Emisi Karbon

Sejak habis masa pakai, pesawat akhirnya dicat ulang dengan corak bertema Bumi, yang menurut Boeing melambangkan satu dekade program ecoDemonstrator sebagai lab terbang untuk mengurangi penggunaan bahan bakar, emisi, dan kebisingan.

Selain Boeing 777-200ER, sebelumnya Boeing juga pernah mengoperasikan pesawat ecoDemonstrator lain. Di sela-sela hari pertama pelaksanaan Farnborough AirShow 2020 virtual, Boeing mengumumkan program ecoDemonstrator terbarunya berbasis 787-10 Dreamliner kolaborasi dengan Etihad Airways.

Kenapa Musim Hujan di India Bisa Tingkatkan Risiko Bird Strike?

Insiden bird strike terjadi setiap hari di seluruh dunia. Di momen-momen tertentu semisal musim hujan, di beberapa negara, salah satunya India, risiko pesawat mengalami insiden bird strike meningkat tajam. Terbaru, bird strike saat masuk musim penghujan melibatkan dua pesawat sekaligus dalam sehari. Bagaimana bisa risiko bird strike meningkat saat musim hujan?

Baca juga: Dikira Kerusakan Mesin, Api di Pesawat Boeing 737 SpiceJet Ternyata Gegara Bird Strike

Pada hari Minggu, dua pesawat yang terbang menuju New Delhi, India, terpaksa harus return to base atau kembali ke bandara asal lantaran mengalami insiden bird strike.

Insiden pertama menghampiri penerbangan SG 723 dari Bandara Patna ke Bandara New Delhi, India. Ketika itu, mesin sebelah kiri pesawat mengeluarkan api sesaat setelah lepas landas. Beruntung, pilot cepat merespon dan pesawat RTB atau return to base ke Bandara Patna dengan selamat 22 menit setelah take-off.

Dugaan awal, insiden api yang keluar dari mesin sebelah kiri pesawat Boeing 737-800 SpiceJet itu akibat bird strike dan hal itu lumrah terjadi di seluruh dunia.

Namun, meski berbagai kesaksian dari para penumpang mengarah ke kerusakan mesin, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara India (DGCA) dan maskapai mengungkapkan insiden itu akibat bird strike.

Insiden bird strike kedua di hari yang sama terjadi pada penerbangan 6E-6394 IndiGo dari Guwahati ke New Delhi. Saat itu, pesawat Airbus A320neo menabrak seekor burung tak lama setelah lepas landas atau saat di ketinggian 1.600 kaki.

Beruntung kedua pesawat yang terlibat bird strike itu berhasil mendarat dengan selamat tanpa adanya korban jiwa maupun luka. Kendati demikian, ini tetap menjadi warning bagi penerbangan di India, khususnya saat musim hujan yang meningkatkan risiko bird strike.

Di India, saat memasuki puncak musim hujan, hujan  lebat kerap terjadi dan meningkatkan aktivitas burung. Ini pada akhirnya disebut sering menyebabkan terjadinya bird strike.

Nyatanya tidak selalu demikian. Akar permasalahan yang sesungguhnya ada pada infrastruktur yang kurang memadai.

Banyak kota di India memiliki pengelolaan sampah dan saluran air yang buruk sehingga sering menyebabkan banjir saat hujan lebat. Perkembangbiakan serangga dan binatang lainnya yang dimangsa burung juga lebih massif saat musim hujan.

Celakanya, itu terjadi di wilayah atau pemukiman sekitar bandara. Ini pada akhirnya menyebabkan terjadinya peningkatan aktivitas burung di sekitar bandara dan menyebabkan bird strike lebih sering dari biasanya.

Baca juga: Setahun Beroperasi, Bandara Berlin Brandenburg Laporkan 50 Bird Strike Gegara Bangunan Kaca

DGCA menyatakan ada lebih dari 1.400 serangan burung atau bird strike dan 29 insiden serangan hewan pada tahun 2021 di seluruh bandara di India. Dalam surat edaran tertahun 2018, regulator penerbangan sipil India itu mencatat keberadaan satwa liar di dan di sekitar bandara membuat keselamatan dan keamanan operasional pesawat terancam.

Selain India, Otoritas Penerbangan Sipil Pakistan (PCAA) juga telah mengeluarkan edaran adanya bahaya bird strike ke semua pilot lantaran musim penghujan. Risiko bird strike, dilansir Simple Flying, meningkat di Pakistan saat musim hujan, terutama di dua kota besar negara itu, Lahore dan Karachi.

Inilah Alasan Airbus Pasrahkan Jalur Produksi NC-212 series ke PT Dirgantara Indonesia

NC-212i bisa disebut sebagai pesawat sayap tetap yang lumayan laris diproduksi oleh PT Dirgantara Indonesia. Meski bukan rancangan baru, pesawat yang awalnya berlabel CASA C-212 Aviocar ini terbilang laku di pasar regional. Dari fasilitas produksinya di Bandung, PT Dirgantara Indonesia (DI) telah memproduksi NC-212i untuk Vietnam dan Filipina, sementara dari dalam negeri NC-212i diakuisisi oleh TNI AU. Dengan pasarnya yang masih terbuka, menjadi pertanyaan, mengapa jalur produksi C-212 series kini sepenuhnya dipasrahkan ke Indonesia?

Baca juga: Bandara Nusawiru, Penunjang Wisata Pangandaran dan Olahraga Dirgantara

Dikutip dari simpleflying.com, disebutkan bahwa mundurnya pabrikan CASA dari produksi C-212 (saat itu sudah berada dalam naungan Airbus Defence and Space) dikarenakan fasilitas produksinya di Seville, Spanyol melambat menjadi hanya dua unit pesawat per tahun. Sebagai pesawat medium STOL (Short Take-off and Landing), C-212 dirancang dengan kabin tidak bertekanan, dan pesawat turboprop ini dibatasi untuk terbang di bawah 10.000 kaki (3.048 meter). Dengan kapasitas angkut penumpanh 28 orang, jenis pesawat ini memang ideal sebagai komuter regional, termasuk melayani penerbangan perintis. Sebaliknya segmen pesawat jenis itu mulai ditinggalkan oleh pasar Eropa.

Melihat ceruk pasar masih terbuka di wilayah Asia Pasifik, ditambah serangkaian order dan maintenance terus berjalan di Indonesia, menjadikan alasan bagi Airbus untuk mengalihkan jalur produksi C-212 berpindah ke tangan PT DI.

NC-212 200 Puspenerbad di Bandara Pondok Cabe. (Foto: Kompas.com)

Sebelumnya, pada tahun 1976 telah ada perjanjian lisensi untuk produksi C-212, dimana PT DI (d/h PT IPTN) mendapatkan hak untuk merakit pesawat di bawah lisensi. Program utama PT DI pada tahun 1976 adalah untuk memproduksi NC-212-200 di bawah lisensi dari CASA, Spanyol. Sebanyak 103 NC-212-200 versi sipil dan militer telah diproduksi oleh PT DI.

Antara tahun 2004 – 2008, semua jigs dan fixture yang diperlukan untuk produksi C-212 telah dipindahkan ke Bandung dari San Pablo, Spanyol. PT DI menjadi sumber produsen tunggal C-212 Family. Dan sejak 2014, PT DI tidak lagi memproduksi NC-212-200 dan NC-212-400, dan telah meningkatkan pada produksi versi NC-212i yang lebih modern.

Baca juga: ATR 42-600S – Jawara Terbang di Atas Pegunungan dengan Kemampuan STOL

Apabila Airbus Defence and Space mendapatkan pesanan NC-212i, maka pembuatan pesawat tersebut sepenuhnya akan tetap dikerjakan di Bandung. Airbus Defence and Space telah memberikan kepercayaan kepada PT DI karena mereka akan lebih fokus mengembangkan pesawat besar, oleh karenanya Final Assembly Line khusus NC-212i telah disiapkan di fasilitas PT DI sejak bulan Oktober tahun 2011.