Kenapa Penumpang Diminta Tutup Tirai Jendela pada Penerbangan Siang Hari? Dilarang Lihat Pemandangan?

Jelang mendarat, pramugari/pramugara biasanya akan meminta penumpang untuk menaikkan tirai jendela. Sebaliknya, dalam penerbangan siang hari, kru kabin di banyak maskapai justru meminta penumpang untuk menutup tirai jendela. Kenapa demikian? Apakah penumpang dilarang melihat pemandangan di luar jendela?

Baca juga: Inilah Tiga Fungsi Tirai di Kabin Pesawat, Apa Saja?

Penumpang sedikit banyaknya sudah mengetahui betul mengapa tirai jendela harus dibuka saat lepas landas maupun mendarat.

Di setiap penerbangan, pramugari manapun pasti akan mengingatkan agar tirai jendela harus dibuka saat menjelang take off dan landing.

Alasan mengapa tirai harus dalam keadaan terbuka saat kedua kondisi tersebut tentu sudah didengar masyarakat, yaitu untuk memudahkan kru mendapatkan visual kondisi di luar pesawat, dalam hal ini mesin, sayap, atau kondisi pesawat itu sendiri, apakah miring, tegak lurus, menukik ke bawah, dan lain sebagainya.

Andai terjadi keadaan darurat, seperti hard landing, tergelincir akibat hujan deras, atau bahkan belly landing, pastinya tak ada lagi waktu bagi penumpang untuk membuka tirai jendela agar tak menutupi pandangan penumpang dan kru, bukan?

Itulah alasan mengapa tirai jendela di emergency exit row terbalik alias ditutup dengan cara ditarik dari bawah ke atas, bukan sebaliknya. Ketika terjadi benturan keras, tirai jendela terbalik akan secara otomatis turun dan memberikan visual tak terbatas ke luar pesawat.

Sebaliknya, jika tirai jendela tidak terbalik, bukan tak mungkin tirai jendela akan terus menutup tanpa terbuka secara otomatis dalam keadaan darurat.

Akan tetapi, dalam keadaan normal, dimana sah-sah saja penumpang untuk melihat ke luar jendela, menikmati pemandangan, awak kabin di banyak penerbangan justru meminta penumpang yang duduk di pojok untuk menutup tirai jendela. Hal ini pun menimbulkan banyak pertanyaan di berbagai situs diskusi online; termasuk di program Ask the Captain gagasan usatoday.com.

Disebutkan, dalam sebuah perjalanan dari Amsterdam, Belanda, ke Detroit, Amerika Serikat (AS), pada siang hari, penumpang bernama Ikusubisya Kasebele mengaku diminta oleh kru kabin maskapai untuk menutup tirai jendela mulai dari awal sampai akhir penerbangan jelang mendarat. Ia pun bertanya-tanya terkait hal ini.

Baca juga: Bedah Jendela Pesawat, Inilah Bagian-bagian Beserta Fungsinya

Menurut konsultan penerbangan yang juga mantan kapten pilot maskapai US Airways, Jhon Cox, hal tersebut tak lepas dari masalah kenyamanan saja. Rute transatlantik dari Belanda ke Detroit sudah pasti akan melewati Samudra Atlantik dan itu berarti penumpang hanya melihat hamparan air. Tak lebih.

Itu kenapa maskapai, melalui kru kabin, meminta penumpang untuk lebih banyak fokus menikmati sistem hiburan yang telah disediakan dengan visibilitas yang lebi baik. Di samping itu, menutup tirai jendela berarti membatasi silau cahaya matahari di kabin dan memungkinkan penumpang tidur dengan lebih nyaman.

Kenapa Pesawat Terlihat Lebih Lambat dari Mobil?

Sebagian orang mungkin pernah ‘membalap’ pesawat yang searah saat mengendarai mobil di jalan bebas hambatan (tol). Atas dasar itu, tak sedikit yang berasumsi bahwa pesawat di udara berjalan lebih lambat dari mobil di darat.

Baca juga: Hampir Tak Pernah Dipakai, Kenapa Pesawat Dilengkapi Klakson?

Dengan bobot puluhan ton, pesawat tentu saja disokong mesin jet bertenaga besar dan ini biasanya sejalan dengan ukurannya yang juga besar.

Tak heran bila mesin pesawat terbesar dan terkuat di dunia bahkan lebih besar dari badan pesawat Boeing 737 yang notabene lebih besar dari mobil. Jadi, bagaimana mungkin pesawat berjalan lebih lambat dari mobil sedang mesinnya saja lebih besar dari mobil itu sendiri.

Pesawat, dalam hal ini pesawat narrowbody, untuk lepas landas umumnya harus mencapai kecepatan sekitar 120-140 knot atau sekitar 256 km per jam. Sampai di sini, mungkin saja mobil, seperti mobil supercar, bisa melampaui kecepatan pesawat saat di darat, mengingat supercar tercepat di dunia saat ini bisa mencapai kecepatan 431 km per jam.

Namun, dalam konteks kecepatan di udara, pesawat sekali lagi tidak mungkin berjalan lebih lambat dari mobil.

Pesawat Boeing 787 Dreamliner, misalnya, di kecepatan jelajah (cruise speed) bisa melesat sampai Mach 0.85 atau 903 km per jam pada ketinggian 10.700 meter. Sedangkan kecepatan maksimum pesawat (maximum speed) mencapai Mach 0.90 atau 954 km per jam di ketinggian yang sama.

Dengan kecepatan rata-rata pesawat, widebody maupun narrowbody, di kisaran itu (900 km per jam atau sedikit di bawah atau di atasnya), mengapa pesawat bisa terlihat lebih lambat dari mobil yang berjalan di darat?

Dilansir physics.stackexchange.com, lambatnya pesawat di udara jika dilihat dari darat, baik sambil bergerak maupun diam, tak lepas dari teori perspektif. Menurut sebagian orang juga itu ada hubungannya dengan paralaks.

Disebutkan, dalam teori perspektif, semakin jauh jaraknya, semakin kecil objek yang terlihat, dan semakin lambat gerakannya. Sampai di sini, sebetulnya sudah cukup menjawab, pesawat, yang notabene lebih besar dan cepat dari mobil, justru terlebih lebih lambat karena keduanya terpaut jarak cukup jauh.

Di luar konteks mobil dan pesawat, pada kereta cepat, misalnya, penumpang pasti melihat benda yang berada di sekitar rel terlihat dari jendela seolah berkedip. Saking cepatnya kereta melaju. Namun jauh di ufuk atau di cakrawala, mereka tampak diam dan seolah berputar di tepi cakrawala meski kereta melaju sangat cepat.

Baca juga: Kenapa Pintu Kokpit Terbuka Sebelum Pesawat Lepas Landas? Ini Jawabannya

Jawaban lainnya kenapa pesawat yang terbang searah dengan mobil yang melaju di darat tampak lebih lambat adalah ilusi atau efek paralaks.

Paralaks sering didefinisikan sebagai “pergerakan yang tampak” dari sebuah objek terhadap latar belakang yang jauh akibat pergeseran perspektif.

Kereta Api Mau Jalan Harus Ada Isyarat Ini Dulu, Apa Hayo?

Naik kereta api tak sekadar hanya berjalan begitu saja. Memang perjalanan kereta api perlu peningkatan keselamatan, kenyamanan dan ketepatan waktu. Salah satu hal terpenting bagi perjalanan kereta api adalah pemberangkatannya. Pemberangkatan kereta api saat di stasiun juga perlu bantuan isyarat ini agar perjalanan tepat waktu dan kondisi jalur sudah aman. Namun isyarat ini hanya digunakan untuk perjalanan kereta api jarak menengah, lokal, bahkan jarak jauh. Tidak berlaku untuk perjalanan KRL yang hanya memerlukan indikasi lampu saja.

Baca juga: Mengenal Marka Batas Kecepatan Kereta Api

Isyarat pada untuk perjalanan kereta api ini adalah semboyan keberangkatan, seperti semboyan 40, 41, dan 35. Masih bertanya – tanya arti atau makna tentang isyarat semboyan tersebut. Kabarpenumpamg.com akan menjelaskan fungsi dan arti semboyan tersebut:

1. Semboyan 40
Dimulai dari semboyan ini keberangkatan kereta api dimulai. Semboyan 40 ini biasanya dilakukan oleh Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA) yang berada di stasiun. Terkadang Kepala Stasiun (KS) juga merangkap sebagai petugas pemberi isyarat semboyan 40, biasanya di stasiun kecil (kelas 3).

Saat memberikan semboyan 40, petugas mendekati kereta dengan membawa eblek warna hijau (pada siang hari) atau lampu hansin (pada malam hari). Semboyan 40 ini merupakan tanda pemberi izin ke kondektur bahwa kereta siap di berangkatkan.

2. Semboyan 41
Setelah petugas PPKA memberi isyarat berupa semboyan 40, maka petugas berikutnya yang membalas isyarat tersebut adalah seorang kondektur yang bertugas didalam perjalanan kereta api dengan memberikan semboyan 41. Kondektur akan memberi semboyan 41 kepada masinis dengan membunyikan pluit panjang. Dengan membunyikan pluit dari kondektur, tandanya kereta diizinkan untuk berangkat.

3. Semboyan 35
Terakhir adalah semboyan 35 yang diberikan dari seorang masinis. Semboyan yang dibunyikan dari terompet lokomotif ini dilakukan dengan suara panjang yang berarti kereta api siap berangkat. Semboyan 35 ini tak hanya masinis yang membunyikan klakson lokomotif, asisten masinis juga bisa bertugas membunyikan klakson lokomotif. Tergantung pada posisi pemberi isyarat dari PPKA ataupun kondektur kereta api di stasiun tertentu.

Baca juga: Kondektur Ketinggalan Kereta, Insiden Kocak di Stasiun Shizu

Nah, sudah tahukan tata cara bagaimana kereta api diberangkatkan dari stasiun. Tak sembarang kereta api berangkat begitu saja. Kecuali kalau kalian naik KRL, biasanya petugas announcer stasiun yang memberikan arahan agar KRL diberangkatkan, jadi tidak perlu adanya petugas yang memberi ketiga semboyan tersebut. (PRAS – Cinta Kereta Api)

Tidak Begitu Ramai Dilintasi KA, PT KAI Daop 9 Tetap Antisipasi Jalur Rawan Bencana

Jalur kereta api wilayah Daop 9, Jember dilintas Bangil, Probolinggo sampai dengan Banyuwangi memang tidak begitu ramai dilintasi kereta api layaknya jalur utara dan selatan. Jika dilihat topografinya jalur KA yang mendekati ujung timur Pulau Jawa ini memang sudah memasuki kawasan perbukitan, sungai, hamparan sawah dan beberapa wilayah yang subur lainnya. Bahkan curah hujan di beberapa wilayah kerap kali terjadi, khususnya wilayah yang curah hujannya tinggi.

Baca juga: Lebih Enak Mana, Naik Kereta Api Jalur Selatan atau Jalur Utara?

Seperti pada jalur kereta api yang melewati wilayah Banyuwangi – Jember. Jalur kereta api ini melewati beberapa tebing, membuat kereta api yang melintas harus dibatasi kecepatannya. Dengan melintasi tebing dan bukit yang menjulang, tak heran jalur kereta ini tembus melewati 2 terowongan. Terowongan yang terkenal di wilayah Daop 9 adalah Terowongan Garahan dan Mrawan. Meski sudah dilakukan perbaikan dan pengecekan secara rutin, namun petugas selalu waspada dengan membangun pos kecil yang dekat dengan titik rawan bencana.

Bencana yang pernah ditemui adalah longsor yang brtada di wilayah Garahan, Jember, Kalibaru, Mrawan dan Banyuwangi. Tak hanya terjadi bencana longsor, ada beberapa wilayah yang kerap kali dilanda banjir saat curah hujan yang tinggi yang mengakibatkan jalur kereta api terendam air.

Baca juga: Waspadai Titik Rawan Longsor Jalur Kereta Api Lintas Bogor – Sukabumi

Wilayah tersebut biasa dijumpai di Kalibaru dan Banyuwangi. Namun begitu, para petugas dibidangnya selalu pengecekan secara rutin terutama bagian pada rel dan batu ballast. Khusus mengantisipasi longsor, pihaknya menyiagakan peralatan dan kereta khusus untuk melakukan evakuasi. Jika terjadi longsor, penanganan dibuat ekstra cepat. (PRAS – Cinta Kereta Api)

Operator Kereta di Inggris Pasang Sensor LiDAR di Lokomotif, Hemat Biaya Inspeksi Rel

Operator kereta asal Inggris, Northern Trains, membuat terobosan baru dalam pemanfaatan teknologi sensor pada lokomotif. Dengan tujuan untuk memudahkan pengawasan pada jalur rel, lokomotif listrik Northern dipasangi sensor LiDAR (Light Detection and Ranging) yang dikembangkan NASA. LiDAR sendiri jamak dikenal sebagai teknologi peraba optik yang menggunakan pulsa (denyut) cahaya, untuk mengukur jarak benda/obyek di sekitarnya.

Baca juga: Rail Bicycle, Mudahkan Petugas Kereta Api Lakukan Inspeksi Pada Jalur Rel

Mengutip sumber dari railway-news.com, disebutkan mulai bulan ini, operator kereta Northern akan mulai memasang kamera pemindai cakrawala ke 345 unit keretanya untuk mendeteksi ancaman lingkungan, kerusakan infrastruktur, dan mendukung pemeliharaan. Ditempatkan pada sisi depan lokomotif, sensor LiDAR dapat mendeteksi adanya ‘benjolan di jalur’ rel saat kereta melewatinya dan secara otomatis mengirim koordinat GPS ke tim pemeliharaan yang bertanggung jawab untuk melakukan perbaikan.

Selain itu, pengunaan sensor LiDAR memberikan peluang penghematan energi dan biaya, sebut saja peran petugas inspeksi rel yang dapat dikurangi. Sensor LiDAR kabarnya juga akan digunakan untuk maksud penghematan energi, seperti penerangan stasiun yang dibiarkan menyala secara tidak perlu di siang hari.

Sistem pencitraan termal juga akan diluncurkan untuk memantau beban penumpang dan memberikan informasi yang akurat yang diperlukan jika terjadi insiden. Northern juga memberi Polisi Transportasi Inggris akses ke sistem CCTV on-board sehingga dapat melihat apa yang terjadi di kereta secara real time.

Juru bicara Northern menyebut, “Ini adalah awal dari apa yang kami sebut ‘Kereta Cerdas’. Dengan modifikasi ini, armada kami tidak hanya melakukan perjalanan melalui jaringan, tetapi juga secara aktif memantau dan melaporkan kembali masalah yang dapat berdampak pada operasi kami.

Baca juga: IRiS, Robot Ini Punya Tugas Inspeksi Kondisi Jaringan Rel

“Hasilnya adalah efisiensi yang lebih besar dalam hal alokasi sumber daya, respons yang lebih cepat dalam hal program pemeliharaan, dan cara kerja yang lebih cerdas – dan lebih aman – secara keseluruhan.”

Sering Disamakan, Ini Perbedaan Arti Aircraft dan Airplane pada Pesawat Beserta Sejarah Penggunannya

Tak sedikit dari masyarakat yang menganggap bahwa airplane dan aircraft memiliki arti yang sama dan merujuk pada berbagai pesawat, seperti Boeing dan Airbus. Hanya namanya saja yang berbeda, kendati diketahui itu keliru.

Baca juga: Inilah Perbedaan Airlines dan Airways di Dunia Penerbangan

Pada 17 Desember 1903, Wilbur Wright dan Orville Wright atau lebih dikenal dengan Wright Bersaudara berhasil terbang dengan mesin secara terkendali untuk pertama kalinya di dunia sejauh 36,5 meter setinggi 3 meter selama 12 detik di kaki bukit pasir Big Kill Devil Hills, dekat Kitty Hawk, North Carolina, AS. Dari situlah cikal bakal penerbangan modern berasal.

Meski cikal bakal penerbangan modern dan melahirkan pesawat-pesawat yang diasosiasikan ‘aircraft’ dan ‘airplane’ oleh penutur asing terjadi di tahun tersebut, namun istilah aircraft dan airplane atau aeroplane sudah jauh ada sebelum itu.

Dilansir askanydifference.com, istilah aircraft pertama kali muncul pada tahun 1480-an usai dicetuskan oleh Leonardo da Vinci.

Meski pamornya di dirgantara kalah telak dibanding Wright bersaudara, dan lebih dikenal sebagai seorang pelukis, pemahat/pematung, arsitek, penemu, ilmuwan, penulis, dan filsuf, sepak terjang tokoh dunia asal Italia ini di dirgantara sebetulnya cukup banyak, dan menginspirasi Wright bersaudara untuk membuat penerbangan glider.

Diketahui, sebelum mulai membuat pesawat, Wright bersaudara banyak belajar pada makalah-makalah karya Leonardo da Vinci. Setelah dirasa cukup menimba ilmu dari Leonardo da Vinci, Wright bersaudara pun memutuskan mulai melakukan penerbangan glider, di sebuah pantai di Kitty Hawk, North Carolina.

Leonardo da Vinci juga, dalam makalah lainnya, pernah merumuskan konsep pesawat atau benda terbang yang sekarang lebih dikenal sebagai helikopter.

Pada tahun 1891, istilah pesawat lainnya pun muncul usai dicetuskan Samuel Langley. Berbeda dengan pesawat atau ‘aircraft’ yang dicetuskan Leonardo da Vinci, Langley mencetuskan konsep yang disebut ‘airplane’.

Meski dalam bahasa Indonesia keduanya berarti pesawat, namun secara spesifik keduanya berbeda. Di samping istilahnya berbeda, tahun dicetuskannya istilah tersebut pun juga berbeda. Aircraft memiliki definisi yang lebih luas mencakup seluruh benda terbang seperti pesawat komersial, pesawat tempur, pesawat jet, pesawat propeller, balon udara, helikopter, dan lainnya.

Sedangkan airplane jauh lebih spesifik, mencakup pesawat dengan fixed wing (sayap tetap) yang dapat terbang dalam waktu lama dan lebih berat dari udara. Airplane juga diartikan sebagai pesawat yang bergerak maju ke depan dengan bantuan daya dorong (thrust) yang dihasilkan dengan bantuan mesin jet atau propeller.

Itu berarti, Wright Flyer, pesawat berbobot lebih berat dibanding udara pertama di dunia yang bisa terbang, lebih tepat disebut sebagai airplane. Begitupun juga dengan pesawat modern lainnya yang sering dijumpai masyarakat di bandara, seperti pesawat narrowbody-widebody Airbus, Boeing, dan lainnya.

Baca juga: Widebody vs Narrowbody: Bagaimana Perbedaan dan Persamaan Pekerjaan Pramugari di Kedua Jenis Pesawat?

Sebagaimana airways dan airlines yang penggunannya terbagi antara bahasa Inggris-AS dan bahasa Inggris-British, aircraft dan airplane pun juga demikian, dalam hal ini antara airplane dan padanannya aeroplane.

Airplane adalah bahasa Inggris-AS dan umum digunakan di dunia sedangkan aeroplane digunakan adalah bahasa Inggris-British dan umum digunakan di negara-negara commonwealth.

Jumlah Penumpang Meroket, Bandara Heathrow Batasi Penumpang 100.000 Per Hari, Maskapai Diminta Stop Jual Tiket

Bandara tersibuk di Eropa yang berada di Inggris, Heathrow International Airport, rupanya dilanda kepanikan akibat derasnya jumlah pengguna jasa penerbangan. Bila di musim pandemi lalu Heathrow sempat kelimpungan akibat anjloknya jumlah penumpang. Maka menyambut liburan musim panas ini, pengelola bandara justru telah mengumumkan hal sebaliknya. Persisnya bandara yang berlokasi di London itu akan membatasi penumpang 100.000 per hari sampai 11 September mendatang.

Baca juga: Dampak Pandemi, Bandara Heathrow Alami Kerugian Terburuk dalam 50 Tahun

Dikutip dari CNN.com (13/7/2022), keputusan tersebut terpaksa diambil untuk mengatasi permintaan penerbagan yang tinggi dan kuranya sumber daya. CEO Heathrow International Airport John Holland-Kaye mengumumkan “keputusan sulit” dalam sebuah surat terbuka kepada penumpang, mengatakan, “selama beberapa minggu terakhir, karena jumlah penumpang yang berangkat secara teratur melebihi 100.000 sehari, Rekan-rekan kami (maskapai penerbangan) memang berusaha keras untuk mendapatkan penumpang sebanyak mungkin, tetapi kami tidak dapat menempatkan mereka dalam risiko keselamatan mereka sendiri.”

Buntut dari keputusan pengelola bandara, banyak maskapai telah mengurangi jumlah penumpang yang masuk dan keluar Heathrow. Namun, Holland-Kaye mengatakan perkiraan terbaru Heathrow menunjukkan kelebihan jumlah kursi telah terjual dan oleh karena itu maskapai penerbangan harus berhenti menjual tiket sekarang.

Pada tahun 2018, jumlah harian penumpang yang melalui Heathrow hampir 220.000, dibagi antara kedatangan dan keberangkatan. Namun, saat itu Heathrow memiliki sumber daya yang memadai untuk menanganani pergerakan jumlah penumpang.

Lufthansa sejauh ini telah membatalkan ribuan keberangkatan dari Frankfurt dan Munich untuk musim panas ke Inggris, mereka mengatakan akan membuat penyesuaian lebih lanjut pada jadwalnya.

“Maskapai penerbangan telah memprediksi lalu lintas yang lebih kuat daripada yang diprediksi Heathrow, mereka jelas salah paham,” kata Willie Walsh, direktur jenderal IATA. Ia menambahkan bahwa memberitahu maskapai untuk berhenti menjual, sungguh hal yang konyol untuk dikatakan bandara kepada sebuah maskapai penerbangan.
Walsh, yang juga mantan CEO pemilik British Airways IAG, berpendapat “Heathrow berusaha memaksimalkan keuntungan yang mereka dapatkan dari bandara dengan mengorbankan maskapai.”

Baca juga: Kurangi Emisi Suara di Tengah Malam, Bandara Heathrow Patok Biaya Ekstra untuk Maskapai

Seorang juru bicara Heathrow menolak komentar Willie Walsh, Ia mengatakan kepada Reuters, “Penerbangan berada di bawah tekanan besar karena permintaan meningkat, di Heathrow kami menghadapi pertumbuhan 40 tahun hanya dalam empat bulan dan yang kami butuhkan adalah kerja kolaboratif dan investasi dalam layanan untuk melindungi penumpang, dan bukan komentar yang salah informasi dari pensiunan bos maskapai.”

Kadang Terasa Sangat Dingin Kadang Tidak, Berapa Suhu Rata-rata di Dalam Pesawat?

Traveler yang sering sering bepergian naik pesawat pasti ada satu-dua momen merasakan suhu di kabin pesawat sangat dingin, kadang pula tidak meski di jam yang relatif sama. Kenapa demikian? Lantas, berapa sebetulnya suhu rata-rata di dalam pesawat?

Baca juga: Bagaimana Bisa Oksigen Tersedia di Kabin Pesawat Saat di Ketinggian 30 Ribu Kaki Lebih?

Meski suhu di dalam pesawat dinginnya bisa berbeda-beda, namun satu hal yang pasti adalah tidak pernah hangat apalagi panas. Sebab, bila itu terjadi, mungkin ada banyak penumpang yang pingsan.

Dari hasil penelitian ASTM International tentang korelasi antara orang yang pingsan saat berada di ruang udara bertekanan dengan suhu di kabin, mereka cenderung lebih mudah pingsan saat terbang karena mengalami hipoksia.

Pontesi penumpang mengalami hipoksia meningkat saat berada di kabin pesawat (ruang bertekanan) dan suhu hangat. Itulah jawaban mengapa kabin pesawat selalu dingin, tidak semata-mata untuk kenyamanan penumpang melainkan keselamatan dan kesehatan.

Hipoksia sendiri adalah sebuah kondisi yang disebabkan oleh kurangnya oksigen dalam sel dan jaringan tubuh, sehingga fungsi normalnya mengalami gangguan. Ini adalah kondisi berbahaya karena dapat mengganggu fungsi otak, hati, dan organ lainnya.

Baca juga: Ini Jawaban Mengapa Ada Asap Putih di Kabin Pesawat Sebelum Take-Off

Mengingat kondisi dan suhu tubuh penumpang yang berbeda-beda, di samping ketinggian dan rute yang dilalui berbeda-beda pula, maskapai memiliki kebijakan tersendiri terkait suhu di pesawat.

Dilansir Aerotime Aero, suhu di dalam pesawat berbeda-beda di tiap maskapai karena tidak ada aturan yang mengatur terkait hal itu. Adminstrasi Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA), yang notabene menjadi rujukan regulator penerbangan sipil di seluruh dunia, pun belum mengaturnya meski didesak banyak pihak.

Rata-rata suhu di dalam pesawat berkisar antara 22 derajat sampai 24 derajat celcius. Namun, tak sedikit penumpang yang mengira bahwa suhu di penerbangan mereka berada di level di bawah itu. Sebab, itu terasa sangat dingin.

Disebutkan, klaim tersebut bisa saja betul. Sebab, itu tadi, kondisi dan suhu tubuh penumpang serta ketinggian dan rute yang dilalui berbeda-beda tiap penerbangan. Karena penumpang yang merasa hangat bisa mengalami hipoksia, maskapai tentu memilih untuk lebih menurunkan suhu di dalam kabin dan ini berdampak pada suhu tubuh penumpang yang memang sudah rendah.

Baca juga: Hindari Penumpang Pingsan, Suhu Kabin Pesawat Harus Selalu Dingin 

Ketinggian, dimana semakin tinggi pesaat terbang semakin dingin udara yang dialirkan masuk ke kabin,  serta rute yang dilalui, dimana rute ke kutub utara dan selatan pasti lebih dingin dibanding rute lainnya, juga membuat suatu penerbangan lebih terasa dingin dibanding penerbangan lainnya.

Terlepas dari adanya kemungkinan maskapai mengatur suhu di dalam kabin lebih rendah dari biasanya (di bawah 22 derajat), bukan tak mungkin rasa dingin yang menusuk tulang saat dalam penerbangan dihasilkan dari efek diam. Maksudnya, selama di pesawat, penumpang tak memiliki aktivitas lain yang bisa membuat mereka berkeringan kecuali bolak-balik ke toilet.

Desas – desus Akan Dikembalikan, Djoko Kendil Lakukan Uji Coba Lintas di Kota Solo Sebelum Pengiriman

Djoko Kendil yang merupakan rangkaian kereta berbadan unik yang dijalankan sejak jaman perusahaan kereta api Staats Spoorwegen pada tahun 1938 hari ini (12/7) uji coba lintasan di kawasan Solo, Jawa Tengah. Uji coba ini bukan untuk kembali mengangkut penumpang, namun akan kembali dikirimkan ke wilayah Daop 1 Jakarta.

Baca juga: KA Djoko Kendil, Antara Tempo Doeloe dan Saat Ini

Isu berkembang ke jagad media sosial bahwa kereta Djoko Kendil ini rencananya akan di museumkan atau tidak digunakan lagi sebagai sarana kereta api wisata. Padahal dahulu sempat rencana akan dijadikan kereta api wisata. Rencana tersebut akan melintas dari Stasiun Purwosari sampai dengan Solo Kota pp. dengan lokomotif uap bernomor D14 10 yang sempat diresmikan pada 16 Februari 2020 lalu.

Saat ini uji coba lintas kereta Djoko Kendil menggunakan lokomotif CC 204 03 05 diberangkatkan dari Stasiun Solo Balapan pada pukul 14.00 melewati stasiun Kadipiro, Kalioso dan berakhir di Stasiun Salem pada pukul 14.30. Kemudian rangkaian diberangkatkan kembali dari Stasiun Salem pukul 14.50 dan berakhir di Stasiun Solo Balapan pada pukul 15.20. Belum diketahui kapan rangkaian tersebut akan dikirimkan ke wilayah Jakarta dan pukul berapa diberangkatkan dari Kota Solo. Yang pasti rangkaian KA Djoko Kendil ini akan kembali bertemu dengan “sang induk” yaitu lokomotif listrik dengan julukan Bon Bon yang saat ini masih belum ada pergerakan di Balai Yasa Manggarai.

Diketahui rangkaian kereta Djoko Kendil merupakan aset kereta api yang sangat langka mengingat kereta ini merupakan seri SS9000 pabrikan Beynes (Belanda) yang dulunya sebagai kereta api wisata rute Surabaya – Yogyakarta – Purwokerto – Jakarta dalam waktu 11 jam 27 menit. Dan memiliki interior mewah serta dilengkapi fasilitas tempat tidur dan pendingin udara pertama pada jamannya.

Baca juga: “Bon Bon,” Mengenal Legenda Lokomotif Listrik Pertama di Indonesia

Namun diusianya yang sangat tua, kereta – kereta seri SS9000 mulai terpinggirkan dan turun kelas menjadi kereta api penumpang kelas ekonomi dan kereta penolong. Saat ini kereta Djoko Kendil masih bertahan tetap memiliki 2 set, bernomor IW 38212 dan IW 38221 yang merupakan bbekas kereta penumpang bernomor K3 38201 untuk IW 38212 sedangkan kereta bernomor NRU 38201 untuk IW 38221. (PRAS – Cinta Kereta Api)

Apakah Pesawat Terbang Dicuci Steam Layaknya Motor-Mobil?

Sebagaimana motor-mobil dan kendaraan lainnya, bagian luar pesawat juga dipenuhi debu dan kotoran lainnya dan itu harus dibersihkan; termasuk juga air asin yang menempel di bodi pesawat saat penerbangan di atas laut.

Baca juga: Tak Semua Kabin Pesawat Dilengkapi Filter HEPA, Apakah Aman dari Covid-19?

Bila motor-mobil serta kendaraan lainnya dicuci karena debu dan kotoran lainnya, lantas bagaimana dengan pesawat, apakah pesawat juga dicuci? Jika iya, bagaimana cara pesawat dicuci dan berapa kali pesawat dicuci?

Pada awal tahun 2021 lalu, Boeing merilis gambar P-8A Poseidon atau dikenal juga sebagai pesawat mata-mata Amerika Serikat (AS) tengah dicuci steam di fasilitas pencucian di RAF Lossiemouth, AS. Berbeda dengan fasilitas pencucian otomatis pada mobil ataupun kereta yang dilengkapi bulu sikat, di sana pesawat dicuci tanpa bulu sikat. Tetapi outputnya sama, pesawat bersih dan kinclong.

Di samping untuk menjaga pesawat agar tetap bersih dan kinclong demi citra baik dihadapan penumpang dan lainnya, mencuci pesawat juga diperlukan untuk meningkatkan performa pesawat dan mencegahnya dari kerusakan.

Kotoran dan debu yang menempel dapat membuat pesawat lebih berat sehingga membuat boros bahan bakar serta kurang aerodinamis.

Dihimpun dari berbagai sumber, sebelum pesawat dicuci menggunakan air, petugas terlebih dahulu menutup bagian-bagian vital terlebih dahulu, seperti mesin, sensor, katup, dan lain sebagainya.

Pada bagian-bagian yang terjangkau dan lebih banyak kotoran salah satunya seperti badan pesawat, biasanya itu didahului dengan menyiramkan sabun. Dilanjut dengan menggosok bagian-bagian yang kotor dan barulah disiram air bertekanan tinggi. Semuanya dikerjakan menggunakan secara manual, kecuali membilas air asin yang dilakukan oleh mesin.

Mengingat setiap pesawat memiliki kadar kotor yang berbeda-beda, disamping teknik pembersihannya yang juga berbeda-beda, masing-masing maskapai membutuhkan waktu yang berbeda-beda pula untuk mencuci pesawat. Lufthansa, misalnya, membutuhkan waktu 8-24 jam untuk membersihkan pesawat.

United Airlines, membutuhkan waktu sekitar lima jam dengan personel lima orang untuk membersihkan bagian luar pesawat widebody.

Kendati terdengar enteng, pekerjaan mencuci pesawat cukup banyak menguras kocek maskapai. Karenanya, mencuci pesawat tidak dilakukan setiap hari melainkan setiap dua hingga enam bulan sekali. Ini biasanya masuk ke dalam rangkaian jadwal maintenance pesawat. Ada juga maskapai yang melakukannya setiap pekan, salah satunya seperti Southwest Airlines.

Selain menggunakan teknik cuci basah atau menggunakan air bertekanan tinggi, maskapai biasanya mencuci bagian luar pesawat menggunakan dua teknik lainnya; cuci kering (dry wash) dan semi cuci kering (semi dry wash).

Baca juga: Kenapa Pesawat Terbang Tidak Bisa Mundur atau Self-Pushback Saat di Bandara? Ini Jawabannya

Emirates adalah salah satu maskapai yang mencuci armada pesawatnya menggunakan teknik dry wash. Sebagai maskapai besar yang berpartisipasi dalam berbagai inovasi teknologi ramah lingkungan di penerbangan, Emirates tentu tak ingin kehilangan reputasinya akibat mencuci pesawat dengan air karena berdampak pada isu lingkungan.

Dengan menggunakan teknik pencucian dry wash pada pesawat, maskapai nasional Uni Emirat Arab itu mengklaim 11,7 juta liter air per tahun, lebih besar dari KLM yang mengklaim telah menghemat 8 juta liter air per taun dengan teknik pencucian semi dry wash.