Inilah 20 Syarat ‘Tak Resmi’ untuk Jadi Pramugari, Nomor Dua Agak Aneh

Sekilas, kehidupan pramugari tampak sangat glamor dan menyenangkan ketika berkeliling dunia, mengunjungi tempat-tempat eksotis, dan menikmati pengalaman baru. Namun, dibalik semua itu, ada harga mahal yang harus ‘dibayar’ oleh para bidadari angkasa tersebut.

Baca juga: Brigita Jagelaviciute, Mantan Pramugari Emirates yang Mengaku Jenuh Pada Rutinitas

Selain kerja keras, pramugari sering kali terpaksa meninggalkan banyak agenda pribadi, seperti datang ke resepsi pernikahan sahabat, keluarga, bahkan menghadiri prosesi pemakaman orang tua, karena tidak mendapat cuti ataupun sedang bertugas di luar negeri.

Terlepas dari semua itu, nyatanya, memang selalu ada banyak kompetensi untuk posisi pramugari, dan banyak aturan ketat tentang siapa saja yang bisa melamar. Lebih dari itu, setelah berhasil melewati proses wawancara yang sulit, maskapai sering kali menambah aturan yang tak disepakati sebelumnya dan celakanya pramugari harus mematuhinya tanpa terkecuali.

Dikutip KabarPenumpang.com dari laman thethings.com¸ Senin, (17/2), berikut daftar 20 syarat menjadi pramugari. Syarat-syarat di bawah ini mungkin saja terdapat beberapa perbedaan, tergantung pada perusahaan atau maskapai yang bersangkutan.

20. Harus Belum Menikah
Sebagian besar maskapai penerbangan sekarang telah membatalkan aturan kuno mereka bahwa pramugari wanita harus tidak menikah. Bahkan, saat ini, awak kabin yang sudah menikah juga diizinkan untuk memakai cincin kawin mereka saat bekerja.

Namun, Gulf Air, maskapai yang berbasis di Timur Tengah, masih bersikeras bahwa awak kabin perempuan mereka tidak boleh menikah. Parahnya lagi, pramugari harus meminta izin perusahaan terlebih dahulu sebelum mereka menikah!

ilustrasi (express.co.uk)

19. Tidak Boleh Terlalu Pendek
Ketika bertugas, pramugari harus siap melayani apapun dan bagaimanapun kondisinya. Tak terkecuali terkait dengan ketinggian. Oleh karenanya, untuk menjadi seorang pramugari tidak boleh terlalu pendek karena bisa saja pramugari justru dibantu untuk menurunkan sesuatu dari tempat yang tinggi oleh penumpang.

18. Tidak Boleh Terlalu Tinggi
Sebaliknya, pramugari tidak boleh juga terlalu tinggi mengingat tidak semua pesawat memiliki ruang atau kabin yang cukup tinggi. Pada pesawat-pesawat narrow body, bisa saja, pramugari yang terlalu tinggi justru menyulitkan dirinya sendiri saat bekerja.

Terkait tinggi, aturannya masih sangat bervariasi antara satu dengan yang lainnya. Namun, pada umumnya di kisaran 1,85 meter.

17. Tidak Boleh Terlalu Gemuk
Selain membatasi tinggi dan pendek, pramugari juga dibatasi oleh berat badan. Pramugari pada umumnya tidak boleh terlalu gemuk, bukan karena masalah enak tidaknya dipandang mata, melainkan masalah keamanan.

Akan tetapi, jika di kemudian hari pramugari yang sudah bergabung dengan sebuah maskapai lambat laun bertambah berat, bukan berarti mereka akan langsung dipecat, melainkan akan menjalani program ekstra untuk menurunkan berat badan.

The Points Guy

16. Wajib Make-up
Dahulu, pramugari wajib make-up sampai orang-orang sulit membedakan boneka dengan manusia. Seiring berjalannya waktu, standar make-up mulai turun alias tidak selalu harus sperti boneka. Namun, pada umumnya maskapai tetap mengharuskan pramugari terlihat anggun namun juga tangguh. Namun, hal tersebut tak berarti bagi Virgin Airlines. Belum lama ini, mereka menjadi maskapai pertama yang membatalkan aturan wajib make-up bagi pramugari.

15. Make-up Tak Boleh Terlalu Tebal
Sekalipun diwajibkan make-up, namun, aturan lengkap make-up yang dianjurkan juga telah diatur. Pada umumnya, maskapai melarang pramugari untuk merias wajahnya dengan gaya yang cukup berani, seperti eyeliner tebal atau lipstik yang berbenturan dengan seragam mereka. Dalam kondisi tertentu, bahkan pramugari harus make-up seolah-olah mereka tak seperti make-up.

14. Hanya Boleh Pakai Satu Jenis Anting
Seperti halnya tato, maskapai penerbangan juga memiliki aturan ketat tentang anting yang boleh dikenakan pramugari. Saat bekerja, pramugari hanya diperbolehkan mengenakan satu pasang anting. Selain agar terlihat profesional, alasan kemanan juga menjadi faktor kunci terkait peraturan tersebut.

Sumber: istimewa

13. Harus Setidaknya 18 Tahun
Menjadi pramugari mungkin adalah pekerjaan impian bagi banyak wanita muda, yang menginginkan kesempatan untuk melakukan perjalanan keliling dunia dan dibayar. Namun, maskapai hanya akan merekrut pramugari yang berusia setidaknya 18 tahun. Beberapa maskapai bahkan lebih memilih menunggu sampai seseorang berusia genap 21 tahun.

12. Wajib Rapikan Jenggot
Selain pramugari, pramugara juga tak lepas dari aturan ketat. Pada umumnya, lelaki dewasa tak bisa menghindari tumbuhnya brewok ataupun janggut. Oleh karenanya, untuk menjadi seorang pramugara, seseorang harus merapikan bulu-bulu di wajah agar tak terlalu mengganggu saat bertugas.

11. Harus Bisa Berenang
Awak kabin juga harus bisa berenang, dan ini akan diuji pada masa pelatihan jika pesawat mendarat di atas air. Tentu saja, sebagai pelayan para tamu, pramugari harus bisa menyelamatkan dirinya dan juga para penumpang saat insiden mengharuskan mereka berkutat dengan air.

10. Tidak Boleh Terlihat Adanya Tato
Seiring perkembangan zaman, tato tidak selalu diidentikan dengan manusia-manusia kriminal. Bahkan, kaum urban sudah mulai terbiasa dengan tato karena lebih dianggap sebagai seni dibanding stigma orang-orang kriminal.

Namun, maskapai penerbangan tidak mengikuti perkembangan zaman, dan masih bersikeras bahwa awak kabin mereka tidak boleh bertato di bagian-bagian yang terlihat, seperti pada wajah, leher, atau lengan dan kaki bagian bawah.

9. Tidak Boleh Menerima Tip
Pramugari memang identik dengan pelayanan yang ramah, hangat, dan juga penuh dengan kasih sayang. Dalam kondisi tersebut, tak jarang, banyak penumpang yang bersimpati akibat layanan mereka yang sangat memuaskan. Namun demikian, sebagus dan sehangat apapun layanan yang diberikan, pramugari hanya cukup dibalas dengan ungkapan terima kasih, tanpa ada embel-embel tip dalam bentuk apapun.

Seragam pramugari (pegipegi.com)

8. Gaya Rambut Harus Rapi
Rambut panjang mungkin adalah salah satu idaman seluruh wanita. Namun, maskapai tidak membutuhkan itu. Pada umumnya, mereka menginginkan gaya rambut yang rapi, dengan ikatan atau kunciran yang pas dan tak terlalu neko-neko.

7. Tidak Dapat Menggunakan Semua Perlengkapan dan Peralatan P3K
Sudah barang tentu bahwa di sebuah pesawat pasti tersedia lengkap seluruh perlengkapan dan peralatan P3K. Meski demikian, pramugari tidak selalu diizinkan untuk menggunakan peralatan atau perlengkapan tersebut dan harus menunggu dokter atau tenaga medis terlatih untuk menggunakan beberapa item P3K.

6. Tidak Boleh Merokok
Merokok telah dilarang di pesawat selama bertahun-tahun, tetapi beberapa maskapai penerbangan bahkan melarang pramugari mereka merokok ketika mereka berada di daratan. Beberapa maskapai lainnya hanya melarang pramugari merokok saat mengenakan seragam. Adapun Qatar Airlines melarang pramugari merokok, baik di dalam maupun di luar area pekerjaan, baik ketika bertugas maupun tidak. Bahkan, kedapatan memiliki rokok di rumah saja akan menjadi bahaya.

5. Harus Kuat Berdiri
Salah satu alasan mengapa maskapai memiliki batasan berat badan untuk pramugari disebabkan pramugari juga harus sehat secara fisik untuk berdiri selama berjam-jam. Selain itu, mereka juga harus memiliki kemampuan untuk bertahan hidup dalam keadaan apapun.

Sumber: pramugari.id

4. Harus Kuat Angkat Koper Berat
Beberapa penumpang berpikir bahwa pramugari bertugas untuk membantu koper atau barang bawaan mereka yang berat dan meletakkannya di kompartemen bagasi. Padahal tidak. Meski demikian, saat hal tersebut dihadapi pramugari, mereka harus membantu dengan penuh keramahan dan hangat terkait hal tersebut.

3. Tidak Boleh Jerawatan
Sekalipun jerawat atau luka pada wajah dapat ditutupi dengan make-up, namun, maskapai pada umumnya menginginkan pramugari yang memilliki wajah mulus. Jika tidak, silahkan kubur impian dalam-dalam untuk menjadi seorang pramugari.

Baca juga: Langka! Ibu dan Anak Bekerja Sebagai Pramugari di Penerbangan yang Sama

2. Dilarang Mengecat Rambut dengan Warna Tak Alami
Pada umumnya, pramugari masih diizinkan untuk mewarnai rambut. Namun, hanya untuk warna-warna yang alami. Selain itu, seperti merah muda, ungu, atau hijau adalah warna-warna yang dilarang keras oleh maskapai.

1. Tidak Boleh Minum Alkohol Saat Mengenakan Seragam
Maskapai memiliki aturan ketat tentang konsumsi alkohol untuk awak kabin dan penumpang. Wisatawan yang terlalu banyak minum berpotensi membuat kegaduhan dan akan dilarang untuk terbang dalam kondisi tersebut. Demikian pula dengan pramugari, mereka tidak diizinkan mengkonsumsi alkohol selama bekerja atau selama mengenakan seragam.

Inilah 11 Perbedaan Maskapai Penerbangan Era 70-an dengan Sekarang

Tren vintage kini terus dipertahankan oleh beberapa maskapai besar, dengan dalih nostalgia, para penumpang masa kini ‘diajak’ oleh maskapai untuk merasakan sensasi terbang di masa lalu. Yang harus diakui, hal tersebut dilakukan dalam koridor promosi guna memperlihatkan kejayaan dan nama besar maskapai di masa lalu.

Baca juga: Pan Am, Maskapai Pelopor Kelas Ekonomi Modern di Penerbangan Jarak Jauh

Pola vintage yang kini disuguhkan maskapai  umumnya dimulai dari kostum pramugari (awak kabin), ornamen dan interior kabin, sampai pilihan dalam in flight meals. Lebih dari itu, maskapai zaman now tentu agak kesulitan memberi kesan vintage, maklum ada beberapa elemen mendasar penerbangan masa lalu, khususnya di era 70-an yang tak bisa dihadirkan dalam penerbangan masa kini.

Terbatasnya ruang gerak maskapai untuk melakukan inovasi lebih tentu saja atas berbagai alasan, khususnya masalah efisiensi dan efektivitas biaya. Jikapun bisa (untuk berinovasi layaknya maskapai di masa dahulu), tentu ada harga mahal yang harus dikeluarkan maskapai dan pelanggan. Hal itu pulalah yang pada akhirnya membuat sebagian orang rindu dengan penerbangan di zaman dahulu, dalam hal ini penerbangan di tahun 60-an. Dikutip KabarPenumpang,com dari mentalfloss.com, Senin, (10/2), berikut daftar 11 hal yang tak pernah bisa lagi dilihat pelanggan maskapai penerbangan saat ini.

1. Tempat Tidur yang Cukup
Pada akhir 1940-an, Boeing Stratocruiser dideskripsikan oleh perusahaan sebagai “seperti karpet ajaib.” Selain lounge wanita yang ditata apik dan kursi-kursi multifungsi yang empuk, setiap kursi di kabin utama (bukan hanya kelas bisnis) bisa disesuaikan dan diatur sedemikian rupa untuk dijadikan tempat tidur yang cukup dalam mengakomodasi kebutuhan istirahat setiap penumpang.

2. Pong
Pada awal 1980-an, Continental Airlines melengkapi beberapa McDonnell Douglas DC-10 mereka dengan apa yang mereka sebut konfigurasi “Pub”. Selain bar mewah dan meja bundar yang dikelilingi oleh kursi putar, area Pub juga mencakup permainan dua pemain Pong yang mungkin merupakan teknologi permainan canggih pada saat itu. Pong sendiri adalah permainan video generasi pertama yang dirilis sebagai permainan arcade (permainan singkat) yang dioperasikan dengan menggunakan koin yang dikembangkan oleh Atari Inc. asal AS pada tanggal 29 November, 1972.

Tong bir dalam penerbangan Lufthansa (Business Traveller)

3. Sampanye di Udara
Pada 1970-an, Southern Airways menyebut dirinya sebagai “Rute Aristokrat” karena kebijakannya menawarkan sentuhan “Kelas Satu” untuk setiap penumpang. Maskapai mungkin membutuhkan bantal-bantal yang nyaman dan sampanye yang tersedia dalam jumlah yang banyak serta dapat diambil kapanpun dalam menemani rute multi-stopnya. Southern juga menyediakan sajian mewah di setiap rute ke negara bagian tenggara (labama, Florida, Georgia, Kentucky, Mississippi, dan lainnya).

4. Sajian Daging Istimewa
707 Pan Clipper Pan Am biasa menawarkan makanan berkualitas restoran yang disajikan langsung oleh koki di pesawat dalam penerbangan Trans-Atlantik mereka. Tampilannya pun juga tak semabrangan. Daging diukir sedemikian rupa hingga memuaskan mata pelanggan sebelum mereka mulai mencicipinya.

5. Piano
Dari 1970 hingga sekitar 1974, American Airlines menampilkan lounge piano di bagian belakang pesawat 747-nya. Instrumen yang dimaksud adalah piano elektrik Wurlitzer yang perlu sering-sering diperbaiki karena pecinta musik yang terlalu antusias menumpahkan koktail mereka di atasnya. Selama di udara, pemusik harus terus bermain sampai pelanggan yang tengah mabuk benar-benar tak kuat berbuat apapun sambil ditemani lagu “Shine On Harvest Moon”.

6. Pramugari dengan Hot Pants
Pada bagian ini, mungkin pramugari saat ini bisa menyamai penampilan pramugari di penerbangan-penerbangan masa lalu. Bahkan, dari beberapa sisi, bisa saja melewatinya, sekalipun tidak menggunakan hot pants.

7. Bunga Segar di Setiap Penerbangan
Boeing 707 Pan Am Pan Clipper diiklankan sebagai pesawat “bebas getaran,” sehingga mereka dapat memiliki rangkaian bunga segar di setiap meja pelanggan dan tidak khawatir apapun di atasnya tumpah ke pangkuan penumpang selama turbulensi. Pan Am terus memberikan bunga-bunga vas selama layanan makan malam di Kelas Satu hingga akhir 1970-an.

8. Pramugari Gonta-ganti Pakaian
Bagian ini mungkin salah satu hal yang sulit dilakukan bila melihat efisiensi dan efektivitas keuangan. Pasalnya, kebijakan gonta-ganti pakaian bagi pramugari cukup lumayan memakan budget maskapai, mulai dari promosi, desainer untuk merancang pakaian, hingga stok pakaian yang tak sedikit. Dalam sekali penerbangan, pramugari bisa bergonta-ganti pakaian hingga empat kali. Semua dilakukan untuk semata-mata menghibur pelanggan, khususnya setiap penerbangan jarak jauh. Konsep ini dahulu pernah dilakukan oleh Braniff International pada tahun 1965. Ketika itu, mereka merekrut perancang busana kenamaan, Emilio Pucci, untuk memuluskan idenya tersebut.

Travelleisure.com

9. Seni Peru
Berbicara tentang Braniff International, maskapai fashion forward oriented ini juga mempekerjakan arsitek New Mexico, Alexander Girard, untuk mencerahkan tampilan armada mereka. Girard pun memasukkan skema warna monokromatik di mana setiap pesawat dicat satu warna dengan pilihan warna seperti Metallic Purple dan Lemon Yellow. Ketika perusahaan memperluas rute mereka ke Amerika Latin, karya seni otentik dari Brasil, Meksiko, dan Peru pun ditambahkan sebagai sentuhan akhir di dalam pesawat.

Baca juga: “Trump Shuttle,” Maskapai Milik Donald Trump yang Hanya Berusia 18 Bulan!

10. Satu Baris Kursi Satu Jendela
Di masa sekarang, maskapai pada umumnya menempatkan kursi per 78 sentimeter, cukup rapat dibandingkan di masa lalu hingga 86 sentimeter. Hal tersebut membuat pada umumnya maskapai menawarkan pemandangan tidak persis di samping tempat duduk mereka. Jendela berada pada posisi setengah bahu atau tidak berada persis di samping pelanggan. Di samping itu, ukurannya juga tidak sebesar dahulu, meskipun dinilai ukuran jendelan yang lebih kecil saat ini berkaitan dengan faktor safety.

11. Permasalahan Pada Sistem Komputer
Komputerisasi pada zaman dahulu mungkin belum terlalu canggih seperti sekarang. Tak heran, bila pada zaman tersebut, usaha maskapai untuk memberikan sentuhan inovasi di pesawat justru berbuah pahit akibat serangkaian kesalahan sistem yang membuat pelanggan bingung.

COMAC C919 Akhirnya Meraih Sertifikasi Kelaikan Udara, Bersiap Lawan Keluarga A320neo dan 737 Max

Setelah terbang perdana pada 5 Mei 2017, pesawat narrow body C919 produksi Commercial Aircraft Corporation of China, Ltd. (COMAC) akhirnya resmi mendapatkan sertifikasi kelaikan udara dari Aviation Administration of China. Lewat sebuah upacara yang dihelat pada Kamis, 29 September 2022, menyiratkan tonggak besar bagi Cina untuk menantang Airbus dan Boeing dalam pasar kedirgantaraan komersial.

Baca juga: COMAC C919 Segera Beroperasi Komersial, Boeing-Airbus Ketar-ketir

COMAC C919 mendapatkan sertifikasi pada akhir September setelah dua pesawat terbang ke Beijing pada 13 September lalu. Sebuah tanda di salah satu foto mengatakan “C919 Upacara Penerbitan Sertifikat Jenis Pesawat “dalam bahasa Cina. Dikutip dari reuters.com, sejauh ini belum ada komentar dari pihak COMAC atas pemberian sertifikasi tersebut.

Prototope C919 diluncurkan pada tahun 2008 dan pesawat ini dirancang untuk membawa hingga 168 penumpang, yang notabene akan bersaing dengan Airbus A320neo dan Boeing 737 Max yang populer di pasar penerbangan. Ambisi Cina dari proyek C919 adalah untuk meningaktkan kemandirian teknologi di tengah ketegangan perdagangan dengan Amerika Serikat dan Barat.

Meski C919 adalah rancangan dan produksi Cina, namun sampai saat ini C919 sangat bergantung pada komponen Barat, termasuk mesin dan avionik, yang dipasok oleh perusahaan ternama General Electric, Safran dan Honeywell International.

Aturan lisensi ekspor AS yang ketat telah menyebabkan keterlambatan dalam sumber suku cadang dan menjadi risiko utama bagi COMAC untuk meningkatkan produksi sampai Cina menggantikan mesin dan komponen buatan asing dengan teknologi buatan dalam negeri.

Dengan dikeluarkannya sertifikasi kelaikan udara, maka C919 dapat dikirimkan kepada pelanggan pertamanya, yaitu China Eastern Airlines, meskipun media lokal melaporkan bahwa pesawat tersebut tidak mungkin memasuki layanan komersial dengan penumpang hingga tahun 2023. Uniknya, C919 tidak pernah muncul di acara (pameran) penerbangan utama di Cina, sebut saja C919 tidak pernah diperlihatkan pada China Airshow.

Meski sudah mendapat sertifikasi kelaikan udara, faktanya COMAC juga akan membutuhkan sertifikasi produksi yang terpisah sebelum dapat meningkatkan produksi massal pesawat, yang berarti dampaknya pada pasar pesawat global dapat tetap terbatas mengingat Airbus dan Boeing menghasilkan puluhan unit pesawat narrow body setiap bulannya.

C919 secara bertahap akan mulai menggantikan pesawat narrow body yang dibuat oleh Boeing dan Airbus. Dalam 20 tahun ke depan, permintaan pesawat narrow body di Cina seperti C919 akan mencapai rata-rata 300 pesawat per tahun.

Pendahulu jet regional C919, yaitu ARJ21, menghadapi jeda 2,5 tahun antara mendapatkan sertifikasi kelaikan udara dan sertifikat produksi, yang artinya itu memperlambat produksi. Seperti ARJ21, C919 tidak memiliki validasi sertifikasi oleh regulator AS dan Eropa, membatasi penerbangan ke pasar domestik dan mungkin ke negara-negara yang memiliki hubungan dekat dengan Cina.

European Union Aviation Safety Agency (EASA) – Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa telah bekerja selama bertahun -tahun pada proses validasi sertifikasi pada C919, yang secara paralel bekerja sama dengan Civil Aviation Administration (CAA) – Administrasi Penerbangan Sipil Cina. Namun juru bicara CAA mengakatan tidak dapat mengomentari tanggal kapan validasi ini akan selesai. Begitu pu dengan US Federal Aviation Administration (FAA) – Administrasi Penerbangan Federal AS tidak menanggapi permintaan komentar tentang validasi sertifikasi C919.

Menurut situs COMAC, sejauh ini ada 815 pesanan untuk C919 dari 28 pelanggan, tetapi China Eastern adalah satu -satunya pelanggan yang telah mengumumkan jadwal pengiriman pesawat.

Uniknya tiga bulan lalu, salah satu maskapai besar Cina memesan hampir 300 pesawat keluarga Airbus A320neo, yang menunjukkan bahwa Negara Panda tersebut berencana untuk melanjutkan impor untuk beberapa waktu mendatang.

Baca juga: Head to Head COMAC C919 ‘Made in China’ Vs Airbus A320neo, Siapa Unggul?

Analis dirgantara global berpendapat, bila Cina memutuskan untuk menghentikan impor pesawat dari Barat dan Amerika Serikat, maka itu otomatis sama saja membunuh program C919, karena pasti akan ada langkah balasan dari mereka untuk melarang ekspor komponen pesawat ke Cina.

3 Poin Kerja Sama Transjakarta-Kodam Jaya, Salah Satunya Kedisiplinan

PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) menjalin kesepakatan kerja sama dengan Komando Daerah Militer Jayakarta (Kodam Jaya). Ada tiga poin yang sepakati mulai dari pengamanan, pendidikan dan pelatihan, hingga pemanfaatan aset-aset Kodam Jaya untuk kebutuhan Transjakarta.

Baca juga: Mulai September 2022, Mikrotrans Listrik DFSK Mengaspal di Jalur Transjakarta

“Ada tiga hal yang kita tandatangani. Pertama, mengenai sumber daya manusia, khususnya dalam hal bantuan personel untuk pengamanan dari Kodam kepada TransJakarta. Kedua, masalah pendidikan dan pelatihan di mana nanti TransJakarta dengan Kodam Jaya akan bersinergi dan berkolaborasi dalam rangka memberikan pendidikan buat PT TransJakarta,” jelas Direktur Utama Transjakarta, Yana Aditya di kantornya, Jumat (30/9/2022).

“Ketiga adalah terkait pemanfaatan aset, khusus aset antara Kodam Jaya dan PT TansJakarta yang masing-masing bisa dikolaborasikan terutama di sektor transportasi,” tambahnya.

Pangdam Jaya Majyen TNI Untung Budiharto, yang turut dalam penandatanganan perjanjian kerja sama itu, menuturkan, poin kerja sama pengamanan yang dimaksud adalah pengamanan aset-aset TransJakarta dalam situasi tertentu semisal adanya demonstrasi.

“Pengamanan yang disampaikan pada situasi-situasi kritis yang perlu perbantuan personel Kodam kita akan bantu. Karena kita lihat sekarang seperti ada demo dan sebagainya, tentu saja dari TransJakarta bisa minta bantuan kepada kita,” tuturnya.

“Apabila ada tempat tempat yang menurut analisa perkembangan dari TransJakarta membutuhkan tenaga kami, kami siap,” tambahnya.

Sedangkan poin lain, Yana menjabarkan, nantinya karyawan Transjakarta akan mendapatkan pelatihan di bidang kedisiplinan dan keselamatan kerja di Rindam Jaya. Demikian juga di bidang pemanfaatan aset-aset Kodam Jaya, bila diperlukan, ini bisa dimanfaatkan untuk didirikan berbagai keperluan Transjakarta.

Baca juga: TransJakarta Hadirkan 8 Bus Wisata, Satu Diantaranya Punya Atap Terbuka

“Misalnya, ada aset kodam yang mungkin barang kali bisa buat depo. Kami akan membangun depo di sana atau seperti program Kadishub terkait program bus listrik dan SPKLU. Barangkali ada tanah-tanah Kodam yang bisa bangun SPKLU nya di sana. Ini yang kita jajaki bersama,” tutupnya.

Selain dihadiri langsung oleh pimpinan Transjakarta dan Kodam Jaya, turut hadir dan menyaksikan penandatanganan kerja sama tersebut Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo.

Mengapa Pesawat Tidak Terlihat di Google Maps Satelit? Ini Jawabannya

Tak diragukan lagi, pengguna aplikasi Google Maps Satelit sangat terbantu sekali dalam berbagai keperluan. Namun, tidak bagi pecinta penerbangan (avgeeks). Sebab, Google Maps Satelit disebut tidak bisa menangkap gambar pesawat. Lantas, mengapa pesawat tidak terlihat di Google Maps Satelit?

Baca juga: Satelit AS Temukan Pesawat MH370 di Hutan Kamboja! Cina dan Rusia Turun Tangan

Sebelum sampai pada jawaban, sebetulnya pertanyaan tersebut perlu diluruskan. Apakah yang dimaksud terlihat di Google Maps Satelit itu adalah pesawat yang sedang terbang dan terlihat berlalu lalang layaknya di aplikasi FlightRadar24. Hanya bedanya FlightRadar24 berupa flight path atau jalur penerbangan sedangkan yang diharapkan avgeeks adalah tampilan fisiknya.

Atau yang dimaksud dengan pesawat tidak terlihat Google Maps Satelit adalah tidak ada gambar pesawat yang tertangkap satelit Google seperti halnya mereka menangkap gambar kendaraan di jalan raya dan rumah serta gedung.

Menurut pengguna Quora, fitur Google Maps Satelit memang tidak bisa menangkap gambar pesawat yang berlalu lalang di langit. Sebab, itu tidak didesain demikian. Sebaliknya, Google Maps Satelit sangat bisa dan banyak menangkap gambar pesawat, baik yang sedang terbang maupun yang masih di bandara, entah itu sedang di hanggar, apron, maupun di runway.

Kuncinya, avgeeks harus mencarinya (penampakan pesawat) di tempat-tempat yang memungkinkan pesawat berada, seperti bandara maupun kuburan pesawat seperti di Gurun Mojave. Andai itu dilakukan, pasti akan ditemukan banyak pesawat di tampilan satelit Google Maps.

Di beberapa bandara besar yang super sibuk, seperti Bandara London Heathrow, Bandara Hartsfield-Jackson Atlanta, AS, dan lainnya, Goole Maps Satelit bahkan menampilkan pesawat yang sedang lepas landas atau terbang rendah saat landing approach ataupun climb up usai take off. Penampakan ini diketahui terangkap satelit Google Maps pada 14 Maret 2018.

Dari penelusuran KabarPenumpang.com di Google Maps Satelit, tampak satu pesawat Boeing 737 sedang cilmbing out dan satu lainnya sedang menunggu giliran lepas landas dari Bandara Hartsfield-Jackson Atlanta.

Baca juga: Google Maps Perjelas Detail Tingkat Jalan dan Citra Lebih Berwarna di Seluruh Dunia

Ada juga penampakan pesawat yang juga tertangkap satelit Google Maps di Inggris, tepatnya di atas Fontwell. Pengguna bisa mencarinya dengan kata kunci Travelodge Arundel Fontwell dan terlihat pesawat Virgin Atlantic sedang terbang rendah.

Di beberapa tempat lain juga banyak penampakan pesawat yang tertangkap satelit Google Maps saat terbang rendah.

Kenapa Pesawat Tidak Terbang Lurus dari Bandara Asal ke Bandara Tujuan? Ternyata Gegara Ini

Bagi avgeek atau siapapun yang memperhatikan flight path atau rute yang dilalui pesawat, rata-rata akan membentuk lengkungan dari bandara asal ke bandara tujuan. Padahal bila dilihat di peta, pesawat lebih cepat mengambil jalan lurus. Lantas, kenapa pesawat tidak terbang lurus dari bandara asal ke bandara tujuan?

Baca juga: Mengapa Pesawat Dilarang Terbang Melintasi Kutub Utara? Ini Jawabannya

Pernyataan tersebut sebetulnya tidak terlalu sulit sampai tidak bisa dijawab, namun tidak pula terlalu mudah.

Pesawat tidak terbang lurus dari bandara awal ke bandara akhir berkenaan erat dengan lengkung bumi atau bumi bulat.

Menurut pengguna Quora, selama ini pihak-pihak yang mempertanyakan hal tersebut (kenapa pesawat tidak terbang lurus) kerangka berpikirnya didasari peta dua dimensi (datar), bukan peta tiga demensi yang menyerupai bumi bulat. Karenanya, tidak heran mereka mempertanyakan hal tersebut seolah-olah ada konspirasi di balik itu.

Padahal, lanjutnya, bila mereka menggunakan seutas tali kemudian mematuk dari titik A ke titik B di peta datar dan kemudian memindahkannya ke titik yang sama di peta bumi bulat (globe), hasilnya akan identik atau sama persis. Sebab, dalam membuat peta, skalanya sudah disesuaikan dan tidak mengada-ada. Semua ada perhitungannya.

Dengan begitu, letak permasalahannya ada di perspektif. Di peta datar, penerbangan dari Ontario, Kanada, ke Tomsk, Rusia, misalnya, pasti akan ditarik garis lurus horizontal karena keduanya berada di posisi sejajar. Nyatanya, di penerbangan sungguhan, dengan basis bumi bulat, rutenya bisa berbeda karena akan melalui lingkar kutub dan akan membentuk lengkungan di peta datar.

Selain karena bumi bulat, mengapa pesawat tidak terbang lurus juga dilandasi berbagai hal lainnya seperti faktor safety dan efisiensi. Sedikitnya ada empat hal. Berikut selengkapnya.

1. Cuaca

Dikutip dari Simple Flying, jarak terdekat bukan berarti selalu merupakan yang tercepat. Angin yang berhembus terlalu kencang juga dapat memperpanjang waktu tempuh. Angin paling ekstrem adalah di wilayah Atlantik. Oleh karena itu, sering kali pilot memilih untuk terbang 100 km lebih utara atau lebih Selatan dari Atlantik. Selain angin, awan cumulonimbus yang biasanya memicu badai juga harus dihindari.

2. Teritorial

Teritorial atau zona terbang di masing-masing ruang udara memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Pada umumnya, ada yang membolehkan pesawat sipil melintas dan ada pula yang tidak. Selain itu, jikapun boleh melintas, saat ruang udara di sebuah wilayah tengah konflik atau tengah diperebutkan oleh dua negara atau lebih, hal itu mungkin bisa menjadi alasan sangat kuat untuk pesawat tidak melintas daerah tersebut. Pada beberapa kasus, pesawat pun akhirnya terbang tidak pada garis lurus untuk menghidari teritorial rawan tersebut.

3. Air Navigation Charge

Air navigation charge atau tarif yang harus dibayar maskapai untuk terbang melalui kawasan udara di suatu negara juga menjadi salah satu alasan mengapa pesawat tidak terbang lurus. Sebab, bila terbang lurus, terlepas dari tiga faktor yang disebutkan sebelumnya, pesawat mau tak mau harus melewati beberapa ruang udara suatu negara yang mungkin saja tarifnya lebih mahal dibanding negara lainnya.

Baca juga: Kenapa Rute London-Sydney Qantas ‘Harus’ Transit di Singapura? Ini Jawabannya

Hal ini berlaku untuk beberapa negara di Eropa dan beberapa jenis pesawat. Contohnya, harga terbang melewati Jerman dua kali lebih mahal daripada melewati Polandia. Maka pesawat dari Stockholm, Swedia yang hendak menuju Pisa, Italia biasanya lebih memilih melewati kawasan udara Polandia dengan rute yang lebih panjang.

4. Air Traffic

Traffic mungkin juga jadi salah satu faktor mengapa pesawat tidak terbang lurus. Pasalnya, bila pesawat melewati satu rute yang sama, kepadatan lalu lintas udara mungkin tak terhindarkan. Maka dari itu, jika terlalu banyak jumlah penerbangan melalui rute yang sama, maka beberapa pesawat harus menunda take off atau memilih rute alternatif. Tentu saja hal tersebut sangat dihindari maskapai dan otoritas bandara karena dapat mengurangi efektivitas ruang udara.

Terapkan Face Recognition, Boarding KA Jarak Jauh Kini Cukup Pindai Wajah

Ada kabar menarik dari dunia perkeretaapian di Tanah Air, pasalnya sejak 28 September lalu, PT Kereta Api Indonesia mulai mengujicobakan fasilitas Face Recognition Boarding Gate di Stasiun Bandung. Hadirnya Face Recognition Boarding Gate tersebut bertujuan untuk mempermudah pelanggan KA Jarak Jauh yang ingin naik kereta api, tanpa perlu repot-repot menunjukan berbagai dokumen seperti boarding pass fisik, e-boarding pass, KTP, ataupun dokumen vaksinasi.

Baca juga: Ada Nomor Identitas di Tiket dan Boarding Pass Kereta? Ini Penjelasan dari PT KAI

VP Public Relations KAI Joni Martinus dalam siaran pers mengatakan, KAI mengujicobakan fasilitas Face Recognition Boarding Gate di Stasiun Bandung dalam rangka memastikan dan menyempurnakan layanan inovatif terbaru dari KAI ini. Ditargetkan pada awal tahun 2023, layanan ini sudah bisa diterapkan di seluruh stasiun KA Jarak Jauh di berbagai daerah.

Face Recognition Boarding Gate merupakan fasilitas layanan boarding yang dilengkapi dengan kamera yang berfungsi untuk mengidentifikasi dan memvalidasi indentitas seseorang melalui wajah yang datanya sudah diintegrasikan dengan data tiket kereta yang dimiliki hingga status vaksinasi pelanggan.

Untuk menikmati fasilitas terebut, pelanggan harus melakukan satu kali registrasi di awal yang berlaku untuk selamanya. Registrasi dilakukan dengan menempelkan e-KTP pada alat e-KTP Reader kemudian menempelkan jari telunjuk kanan atau kiri pada pemindai yang ada di e-KTP reader.

Jika sudah melakukan registrasi, pelanggan tidak perlu lagi melakukan cetak boarding pass. Pelanggan dapat langsung menuju ke Face Recognition Boarding Gate jika waktunya sudah mendekati jam keberangkatan. Arahkan wajah ke mesin pemindai dan jika data tiket, identitas, dan syarat vaksinasi sudah sesuai, maka gate akan otomatis terbuka.

“Cukup 1 detik waktu yang dibutuhkan untuk memastikan wajah pelanggan dan proses verifikasi seluruh data yang tersimpan di sistem KAI. Hal tersebut akan sangat mempermudah pelanggan dan memperlancar antrean proses boarding,” tegas Joni.

Saat ini layanan registrasi telah tersedia di Hall Utara Stasiun Bandung. Registrasi dapat dilakukan di Customer Service, Vending Machine, ataupun Check in Counter yang telah dilengkapi e-KTP reader. Ke depan akan dikembangkan registrasi online melalui aplikasi KAI Access. Bagi pelanggan yang tidak dapat melakukan registrasi karena tidak memiliki e-KTP atau e-KTP nya dalam keadaan rusak, tidak perlu khawatir karena KAI masih menyediakan layanan boarding manual di Stasiun Bandung.

Baca juga: Ini yang Harus Dipertimbangkan Sebelum Melakukan Perjalanan dengan Kereta Api Manca Negara

Joni menegaskan, masyarakat juga tidak perlu khawatir terkait keamanan datanya karena KAI telah memiliki manajemen keamanan informasi yang baik dan secara rutin terus meningkatkan keamanan data yang dikelola oleh perusahaan.

Bagaimana Cara Kerja Radar di Bandara dan Apa Saja Kegunaannya?

Radar merupakan singkatan dari Radio Detection and Ranging. Radar sudah digunakan sejak Perang Dunia II dimana Amerika Serikat (AS) menjadi pelopornya. Saat ini penggunaan radar di bandara merupakan bagian integral dari penerbangan sipil di seluruh dunia.

Baca juga: Pernah Dengar Cara Kerja Radar Cuaca di Pesawat? Simak Di Sini Jika Belum

Meski keberadaan radar di bandara saat ini sudah sedikit terbantu dengan adanya teknologi Automatic Dependent Surveillance Broadcast (ADS-B) sebagai pemancar sinyal dan ADS-B Ground Station sebagai penerima sinyal, namun, keberadaan radar di bandara tetap tak tergantikan.

Radar adalah suatu sistem gelombang elektromagnetik yang berguna untuk mendeteksi, mengukur jarak dan membuat map benda-benda seperti pesawat terbang, berbagai kendaraan bermotor dan informasi cuaca (hujan). Secara umum, ada empat komponen pendukung kinerja radar; transmitter, transmit atau receive switch, antenna, dan receiver.

Dilihat dari jenisnya, sistem radar terbagi menjadi dua; radar primer atau primary surveillance radar (PSR) dan radar sekunder atau secondary surveillance radar (SSR).

Dikutip dari laman Direktorat Navigasi Penerbangan Ditjen Hubud Kemenhub, PSR merupakan peralatan untuk mendeteksi dan mengetahui posisi target atau pesawat yang ada di sekelilingnya, dimana pesawat tidak ikut aktif jika terkena pancara sinyal RF radar primer, pancaran tersebut dipantulkan oleh badan pesawat dan dapat diterima di sistem radar.

Sedangkan SSR merupakan peralatan untuk mendeteksi dan mengetahui posisi dan data target yang ada di sekelilingnya secara aktif, dimana pesawat ikut aktif jika menerima pancaran sinyal RF radar sekunder, pancaran radar ini berupa pulsa-pulsa mode. Pesawat yang dipasangi transponder akan menerima pulsa-pulsa tersebut dan akan menjawab berupa pulsa-pulsa code ke sistem penerima radar

Cara kerja radar sendiri sebetulnya cukup sederhana, memancarkan gelombang melalui transmitter dan menerima kembali pancaran yang dipantulkan objek melalui receiver; mirip seseorang yang berteriak di dalam gua. Suara keluar dari mulut, lalu gelombang dipantulkan dinding gua dan diterima kembali oleh telinga. Dalam kata lain, konsep dasar dari radar adalah gema atau echo.

Selain echo atau gema, ada lagi poin yang menjadi konsep dasar cara kerja radar, yaitu efek doppler. Efek doppler ini seringkali kita temukan di sekitar kita khususnya di jalan raya. Efek doppler terjadi saat suara terpantul oleh objek yang bergerak.

Sebagai contoh, saat kita mendengar suara sirine ambulan mendekati kita yang sedang diam ditepi jalan suara sirine makin keras, namun setelah melewati kita maka suara sirine semakin mengecil seiring makin jauhnya jarak kita dengan mobil sirine. Fenomena keras lemahnya suara karena pebedaan jarak anatar sumber suara dan pendengar disebut dengan efek doppler.

Dalam sistem kerja radar memanfaatkan kedua fenomena fisika tersebut. Misalkan kita mengirimkan suara ke arah mobil yang bergerak ke arah kita. Beberapa gelombang suara akan terpantul dari mobil tersebut. Karena mobil bergerak ke arah kita, suara akan semakin menjadi keras. Apabila kita mengukur waktu pantulan suara maka kita akan mendapatkan kecepatan mobil tersebut.

Panjang gelombang yang dipancarkan radar bervariasi mulai dari milimeter hingga meter. Gelombang radio/sinyal yang dipancarkan dan dipantulkan dari suatu benda tertentu akan ditangkap oleh radar.

Dengan menganalisis sinyal yang dipantulkan tersebut, pemantul sinyal dapat ditentukan lokasinya dan melalui analisis lebih lanjut dari sinyal yang dipantulkan dapat juga ditentukan jenisnya. Meskipun sinyal yang diterima relatif lemah atau kecil, namun radio sinyal tersebut dapat dideteksi dan diperkuat oleh penerima radar.

Berdasarkan bentuk gelombangnya, radar menjadi dua, yaitu continuous wave (CW) dan pulsed radar (PR). CW sendiri merupakan radar yang menggunakan transmitter dan antena penerima (receive antenna) secara terpisah, di mana radar ini memancarkan gelombang elektromagnetik secara terus menerus/kontinyu.

Radar CW ini tidak termodulasi sehingga dapat mengukur kecepatan radial target serta posisi sudut target secara akurat. Radar CW tipe ini biasanya digunakan untuk mengetahui kecepatan target dan menjadi missile guidance.

Baca juga: Leo C. Young, Insinyur Radio AS yang Berjasa Mengembangkan Sistem Radar Pertama di Dunia

Adapun PR merupakan radar yang gelombang elektromagnetiknya dikirim secara periodik. Frekuensi pengiriman sinyal radar disebut dengan Pulse Repetition Frequency (PRF).

Dari berbagai penjelasan di atas, sekaligus menjawab pertanyaan di awal, fungsi radar sedikitnya terbagi menjadi tiga, yaitu mendeteksi keberadaan dan jarak dari suatu objek benda, mengukur kecepatan suatu objek benda, dan pemetaan sekelompok objek dalam suatu tempat, dalam hal ini di bandara.

Hari ini Boeing 747SP SOFIA Resmi Akhiri Masa Tugasnya, Pesawat yang Berjasa dalam Pengamatan Antariksa

Kilas balik pada artikel yang telah kami rilis pada pertengahan Juli lalu, maka pada hari ini, 30 September 2022, Boeing 747SP (Special Performance) dengan teleskop Stratospheric Observatory for Infrared Astronomy (SOFIA) yang dioperasikan NASA telah resmi mengakhiri masa pengabdiannya.

Baca juga: Per 30 September 2022, NASA Akhiri Pengabdian Boeing 747SP SOFIA

Sebelumnya, pada hari Rabu, 28 September 2022, sekitar pukul 20:45 waktu setempat (Kamis 03:18 UTC), Boeing 747SP SOFIA registrasi N747NA, milik NASA melakukan penerbangan terakhirnya. Penerbangan berlangsung selama tujuh jam 58 menit, berangkat dari Bandara Palmdale (PMD), dan terbang mengelilingi Samudra Pasifik Utara.

Delapan tahun lalu, NASA dan mitranya di Badan Antariksa Jerman, Deutsches Zentrum für Luft- und Raumfahrt (DLR) meluncurkan misi SOFIA, yang merupakan teleskop 2,7 meter yang dipasang pada Boeing 747SP yang dimodifikasi. Teleskop ini digunakan untuk mengamati alam semesta melalui inframerah dan memantau peristiwa seperti pembentukan bintang baru dan tata surya.

Misi SOFIA mulai dikembangkan pada tahun 1996. Penerbangan pertamanya pada tahun 2010 tetapi mencapai kemampuan operasional penuh pesawat ini baru dicapai pada tahun 2014. Antara tahun 2014 dan 2019, SOFIA menyelesaikan misi utama lima tahun dan kemudian diberikan perpanjangan tiga tahun. Selama waktu ini, SOFIA mengadakan pengamatan Bulan, planet, bintang, dan banyak lagi dan membantu dalam penemuan air di permukaan Bulan yang diterangi matahari pada tahun 2020.

Selama bertahun-tahun, SOFIA telah menjadi pesawat yang unik, terbang ke seluruh dunia dan mengumpulkan data ilmiah untuk memahami alam semesta. Selama ini, pesawat telah dirawat dan dioperasikan oleh NASA Armstrong Flight Research Centerdi Palmdale, California. Sayangnya, NASA mengumumkan akhir masa tugas SOFIA awal tahun ini.

Pada bulan Juni lalu, SOFIA terbang ke Selandia Baru. Pesawat itu seharusnya tetap di sana selama lebih dari sebulan, menyelesaikan beberapa penerbangan sains. Namun, 747SP mengalami kerusakan akibat badai pada 18 Juli. Saat badai, angin kencang menyebabkan tangga di luar pesawat bergeser dan merusak bagian depan pesawat.

Baca juga: Pertama Kali, Boeing 747SP NASA dengan Teleskop SOFIA Beroperasi di Amerika Selatan

Setelah kejadian tersebut, SOFIA kembali ke ke Palmdale dan tetap berada di California, dan mengoperasikan beberapa penerbangan. NASA telah mengucapkan terima kasih kepada ratusan individu di Amerika Serikat dan Jerman yang telah berkontribusi pada misi SOFIA selama masa operasionalnya.

Berapa Minimum Bahan Bakar yang Dibawa Pesawat dalam Sekali Terbang?

Berapa banyak bahan bakar yang dibawa pesawat di setiap penerbangan sangat diatur ketat. Umumnya, setiap pesawat harus menulis dalam manual operasi seberapa banyak bahan bakar yang dibawa, data konsumsi bahan bakar berdasarkan usia pesawat, performa, dan lainnya sebagai program pemantauan konsumsi bahan bakar, bobot pesawat pasca dimuatnya bahan bakar, sampai prakiraan cuaca di rute yang dilalui.

Baca juga: Berapa Banyak Bahan Bakar yang Dibutuhkan Pesawat untuk Sekali Terbang?

Secara umum, pesawat komersial harus menghitung tujuh hal berupa taxi fuel, trip fuel, contingency fuel, alternate fuel, final reserve fuel, additional fuel, dan extra fuel, dalam menentukan seberapa banyak bahan bakar yang akan dibawa pesawat di setiap penerbangan. Ini pula yang akan menjadi acuan minumum bahan bakar yang dibawa pesawat dalam sekali terbang, seperti dikutip dari Simple Flying.

1. Taxi fuel

Taxi fuel atau bahan bakar taxi adalah jumlah bahan bakar yang dibutuhkan untuk menggerakkan pesawat dari apron ke runway, termasuk pengoperasian Auxiliary Power Unit (APU) sebagai sumber penghasil electrical power dan pneumatic serta starting engine.

2. Trip fuel

Sebagaimana namanya, trip fuel adalah konsumsi bahan bakar yang dibutuhkan pesawat mulai dari lepas landas di bandara asal sampai mendarati di bandara tujuan. Jika dirinci, detail perhitungannya termasuk bahan bakar minimum untuk lepas landas, bahan bakar dari Top of Climb (TOC) ke Top of Descent (TOD), bahan bakar dari TOD ke initial approach fix, bahan bakar untuk shoot the approach dan bahan bakar untuk mendarat.

3. Contingency fuel

Contingency fuel atau bahan bakar darurat adalah perhitungan bahan bakar yang dimuat pesawat di setiap penerbangan berdasarkan kondisi darurat yang mungkin dihadapi, seperti cuaca buruk, re-route, dan lainnya.

Umumnya, bahan bakar darurat di setiap penerbangan mencapai 5 persen dari total bahan bakar yang dibutuhkan, tergantung aturan dari regulator masing-masing. Yang pasti tidak kurang dari 3 persen.

4. Alternate fuel

Alternate fuel atau bahan bakar alternatif merupakan kelanjutan dari bahan bakar darurat. Bahan bakar alternatif adalah bahan bakar yang diperlukan untuk mengantarkan pesawat ke bandara lain andai pilot tak bisa mendaratkan pesawat di bandara tujuan awal. Kurang lebih detailnya sama dengan trip fuel, hanya tidak ada perhitungan bahan bakar untuk lepas landas.

5. Final reserve fuel

Final reserve fuel atau bahan bakar cadangan terakhir adalah bahan bakar yang sebetulnya tidak boleh dipakai. Andai ini terpakai, pilot harus mengumumkan Mayday ke ATC. Umumnya, perhitungan bahan bakar cadangan terakhir sebanyak 30 menit penerbangan untuk mesin jet. Untuk mesin piston bahan bakar yang harus dimuat setara penerbangan 45 menit.

6. Additional fuel

Additional fuel atau bahan bakar tambahan terdengar mirip-mirip dengan final reserve fuel. Namun ini berbeda. Additional fuel tidak selalu ada di setiap penerbangan, melainkan rute-rute tertentu saja, seperti rute ETOPS yang berpotensi terjadinya kegagalan mesin dan atau kehilangan tekanan.

7. Extra fuel

Extra fuel atau bahan bakar ekstra adalah bahan bakar yang perhitungannya menjadi wewenang pilot. Itu artinya, pilot berhak membawa bahan bakar lebih dari flight plan fuel dengan adanya extra fuel ini. Tentu saja ini tak dilakukan serta merta melainkan melalui berbagai pertimbangan.

Baca juga: Ini Nih Yang Perlu Diketahui Seputar Tangki Bahan Bakar Pesawat!

Setelah semua perhitungan bahan bakar keluar, itulah yang menjadi jawaban berapa banyak bahan bakar yang dibutuhkan pesawat di setiap penerbangan. Tentu, tujuh poin di atas didasari dengan poin sebelumnya, yaitu data konsumsi bahan bakar berdasarkan usia pesawat, performa, dan lainnya sebagai program pemantauan konsumsi bahan bakar, bobot pesawat pasca dimuatnya bahan bakar.

Boeing 747 diketahui menghabiskan sekitar empat liter per detik, atau 240 liter per menit, dan 14.400 liter per jam, maka, pada penerbangan 5 jam akan menjadi 14.400 + 5 persen atau 15.120 liter per jam. Ini kemudian ditambah dengan taxi fuel, trip fuel, contingency fuel, alternate fuel, final reserve fuel, additional fuel, dan extra fuel. Hasil akhirnya adalah bahan bakar yang dibututuhkan pesawat di setiap penerbangan.