Inilah Tips untuk Melarikan Diri Jika Mobil Anda Tenggelam!

Memang, tidak ada diantara kita semua di sini yang mengharapkan suatu bencana alam menimpa Ibu Pertiwi. Namun apabila itu terjadi, maka agaknya Anda akan dilanda kebingungan karena campur aduknya perasaan ketika tengah dihadapkan pada situasi tersebut. Sejumlah orang mengatakan untuk tetap tenang ketika tertimpa bencana, namun agaknya itu terlalu klise karena pada dasarnya setiap orang akan panik dan tidak bisa berpikir jernih.

Baca Juga: Tips Ini Bisa Bantu Hilangkan Udara Panas Dalam Kabin Mobil

Nah, di sini KabarPenumpang.com akan berbagi sedikit tips tentang apa saja yang harus Anda lakukan jikalau mobil yang Anda kendarai tersapu gelombang tsunami atau nyemplung ke dalam sungai atau danau. Kiranya tips ini bisa Anda amalkan ketika dalam situasi terdesak.

Lepas Sabuk Pengaman
Langkah pertama yang harus Anda lakukan adalah melepaskan sabuk pengaman yang mengikat. Jika tombol pembuka sabuk pengaman macet, gunakanlah kunci atau benda tajam lainnya guna memotong sabuk pengaman. Ketika sabuk pengaman sudah terbuka, maka kemungkinan Anda untuk keluar dari dalam mobil menjadi bertambah.

Buka Kaca
Ketika mobil Anda tenggelam, jangan pernah berusaha untuk membuka pintu – karena sejatinya tekanan yang ada di luar jauh lebih besar ketimbang yang ada di dalam. Maka dari itu, satu-satunya akses bagi Anda untuk keluar dari mobil yang sedang tenggelam adalah melalui kaca.

Jika kaca macet, tetap jangan buka pintu. Cobalah untuk mendobrak kaca dengan menggunakan alat yang ada di dalam mobil, seperti kunci stang dan lain-lain.

Selamatkan Anak Terlebih Dahulu
Berbanding terbalik dengan instruksi keselamatan di dalam pesawat, yang harus Anda keluarkan terlebih dahulu dari mobil adalah anak Anda. Jika sudah keluar, barulah Anda boleh menyusulnya keluar.

Baca Juga: Tips Sopan Buang Angin Selama Perjalanan, Intinya Harus Tetap “Dicicil”

Ikuti Gelembung Udara
Dalam keadaan panik, kadang Anda tidak bisa menentukan arah kemana harus berenang. Nah, sebenarnya tips ini juga bisa Anda aplikasikan jika tersesat di bawah laut. Sebelum keluar dari mobil, tariklah napas dalam-dalam dan ikutilah kemana arah gelembung udara. Karena gelembung udara akan mengantarkan Anda menuju permukaan air.

Disebut Lebih Aman, Mengapa Kursi Pesawat Tidak Menghadap ke Belakang?

Bagi pengguna kereta, di beberapa kelas penumpang akan disuguhi kursi menghadap ke belakang. Namun, di pesawat, kursi kelas apapun pada umumnya menghadap ke depan. Ini kemudian menimbulkan banyak pertanyaan kenapa maskapai tidak mengatur agar kursi pesawat menghadap ke belakang, sebagaimana di kereta? Dalam kaitannya dengan safety, kursi menghadap ke belakang juga diklaim lebih aman saat terjadi keadaan darurat.

Baca juga: Kenapa Kursi Kelas Bisnis Miliki 3 Tali Sabuk Pengaman?

Dalam keadaan darurat, kursi menghadap ke depan memang memungkinkan penumpang mengalami cedera pada kepala, leher, dan punggung.

Menurut sebuah studi tahun 2020 oleh dua profesor Polandia dari Universitas Maritim Szczecin yang diterbitkan di ResearchGate, posisi kursi tegak pada pesawat menghadap ke depan memungkinkan penumpang celaka saat terjadi keadaan darurat.

Disebutkan, ada 18 persen kemungkinan penumpang cedera kepala parah, kemungkinan 55 persen cedera serius, dan kemungkinan 90 persen cedera kepala ringan bagi orang dewasa saat terjadi keadaan darurat. Celakanya, persentase ini bahkan terjadi dalam kondisi penumpang mengenakan sabuk pengaman (seat belt) sekalipun.

Dalam penelitian lain berjudul “Kecelakaan Pendaratan Pesawat: Seberapa Aman Penggunaan Passenger Lap Seat Belts di Pesawat?” yang dipublikasikan di MEDLINE®/PubMed®, sabuk pengaman pesawat yang ada sekarang sanggup untuk menghindari penumpang dari cedera saat terjadi turbulensi.

Namun, saat terjadi kondisi darurat lainnya, seperti pesawat mengalami deselerasi mendadak (seperti ngerem mendadak), sabuk pengaman pesawat yang ada sekarang tidak kuasa menahan kepala penumpang untuk tidak terbentur dengan benda di depannya dan membuat penumpang cedera.

Dengan dua penelitian tersebut dan berbagai penelitian lainnya, tercetus ide dari beberapa pakar agar kursi penumpang pesawat menghadap ke belakang.

Meskipun ini dianggap sulit dan melawan norma atau standar yang sudah terbentuk (dari kursi menghadap ke depan), tetapi dalam kaitannya dengan keselamatan penumpang, itu bukan tidak mungkin diubah dan regulator mengatur agar kursi pesawat menghadap ke belakang.

Hanya saja, selain melawan norma tak baku serta psikologis penumpang yang sudah sangat terbiasa sejak awal penerbangan modern dengan kursi menghadap ke depan, gagasan kursi penumpang pesawat menghadap ke belakang juga akan ditentang maskapai.

Menurut editor FlightGlobal.com kepada The Telegraph, kursi penumpang menghadap ke belakang sama dengan memaksa maskapai merogoh kocek besar. Saat terjadi tabrakan, pusat gravitas penumpang akan lebih tinggi dan kursi mengalami lebih banyak tekanan. Itu berarti, kursi dan lantai harus lebih diperkuat agar tidak hancur menghadapi tekanan besar dari penumpang.

Penguatan lantai dan kursi pada akhirnya membuat bobot pesawat bertambah, lalu konsumsi bahan bakar meningkat, dan cost membengkak.

Di masa lalu, kursi di kabin pesawat menghadap ke belakang bukanlah hal aneh. Menurut pengakuan salah seorang pengguna Quora, di tahun 1964, ia pernah bepergian dengan salah satu maskapai yang mengoperasikan pesawat Trident. Dalam ingatannya, dimana ia baru pertama kali menumpangi pesawat itu, terlihat beberapa kursi di bagian belakang pesawat menghadap ke belakang.

Saat ini pun, kursi menghadap ke belakang masih tersedia di beberapa maskapai penerbangan. Di private jet atau pesawat lain di luar pesawat komersial, kursi menghadap ke belakang bahkan lumrah ditemui.

Baca juga: Boeing Akan Lengkapi Pesawat 777X dengan Airbag, Mirip Airbag di Mobil? 

Tak sedikit kelompok atau perseorangan yang menilai bahwa kursi pesawat menghadap ke belakang akan membuat penumpang pusing dan mual.

Akan tetapi, itu dibantah oleh Brian Dunlap, seorang pilot komersial. Menurutnya, potensi penumpang pesawat pusing dan mual karena kursi menghadap ke belakang kecil. Itu karena hanya ada sedikit waktu dari keselurahan penerbangan dimana penumpang merasakan gerak maju pada pesawat, yaitu saat taxiing, lepas landas, dan mendarat. Di luar itu, terlebih saat cruising di ketinggian, penumpang sama sekali tidak merasakan gerak maju pesawat.

Merasakan Perjalanan Kereta Api Antara Kelas Eksekutif dengan Kelas Bisnis

Kalian tentu sudah merasakan naik kereta api dengan berbagai kelas yang dimiliki Kereta Api Indonesia. Bahkan ada yang menjadikan kelas tersebut menjadi kelas favorit karena dari segi kenyamanan, praktis bahkan harga yang ekonomis. Namun bagaimana pengalaman kalian jika naik kereta api menggunakan kelas eksekutif atau bisnis? Seperti diketahui bahwa kelas bisnis dalam perjalanan kereta api kini sudah semakin sedikit rangkaiannya. Kelas bisnis hanya kereta api tertentu saja yang masih bertahan perjalanannya.

Baca juga: Yuk Intip Kelas Apa Saja yang Telah Dimiliki Kereta Api Indonesia, Sudah Lengkap?

Kelas bisnis yang sudah ada sejak jaman PJKA ini merupakan kelas yang cukup ramai bagi pengguna kereta api karena nyaman dan harga yang cukup ekonomis pada jamannya. Namun kini kelas bisnis sudah tembus harga diatas rata – rata, bahkan bisa mencapai diatas Rp 200.000. Memiliki kapasitas 64 tempat duduk, kereta api kelas bisnis terbagi atas 2+2 dengan kursi yang memiliki sandaran agak miring dan dapat diubah dengan cara menarik sandaran kedepan atau kebelakang. Bahan kursi yang empuk dan ruang kaki yang cukup luas memungkinkan kelas bisnis menjadi terlihat cukup besar untuk interiornya. Kereta api yang menggunakan rangkaian kelas bisnis adalah KA Gumarang, KA Logawa, KA Ranggajati, KA Malabar, dan KA Sribilah Utama.

Beda dengan kelas bisnis, beda lagi dengan kelas eksekutif yang sedikit lebih mewah. Fasilitas yang mumpuni, menggunakan kereta api kelas eksekutif dari segi kenyamanan memang lebih baik untuk kelas ini. Dengan kapasitas 50 tempat duduk kelas eksekutif memiliki fasilitas lebih lengkap. Kursi di eksekutif lebih empuk dan bisa direbahkan (reclining seat) dan juga diputar (rotary seat). Penumpang diikelas ini juga dapat menikmati anek fasilitas, antara lain televisi saat diperjalanan, bantal, selimut, dan juga meja makan. Harga yang dikeluarkan pun untuk kelas eksekutif memang terbilang menengah keatas, bisa mencapai lebih dari Rp300.000.

Baca juga: “Kelas Ekonomi Rasa Eksekutif,” PT KAI Siap Luncurkan 66 Gerbong Ekonomi Premium

Bagi penumpang yang menggunakan eksekutif biasanya yang ingin menempuh perjalanan lebih cepat dari keberangkatan hingga tujuan. Waktu yang menjanjikan saat ditujuan dan juga saat ini telah menambah kecepatan untuk rangkaian kereta api kelas eksekutif. Kira – kira kalian lebih suka kelas eksekutif atau kelas bisnis? (PRAS – Cinta Kereta Api)

Berapa Kerugian Maskapai Penerbangan Atas Kecelakaan Pesawat?

Bisnis penerbangan oleh maskapai sangat berisiko tinggi. Kendati pesawat adalah moda transportasi paling aman di dunia, namun, saat terjadi kecelakaan bisnis maskapai sangat terancam sampai membuat kerugian besar. Lantas, berapa kerugian maskapai penerbangan ketika kecelakaan terjadi?

Baca juga: Mengapa Perusahaan Leasing ‘Diburu’ Maskapai dan Mengapa Maskapai Menyewa Pesawat? Ini Jawabannya

Maskapai penerbangan tentu tidak sendiri dalam mengoperasikan pesawat dan melayani penumpang. Ini melibatkan banyak pihak.

Dari segi pesawat, maskapai bekerjasama dengan produsen dan lessor atau leasing pesawat dalam hal sewa-menyewa. Hampir seluruh maskapai di dunia diketahui menyewa pesawat untuk menjalankan layanan penerbangan, baik itu maskapai besar dengan kapital super besar seperti Qatar Airways, Emirates, dan lainnya, maupun maskapai kecil.

Banyak hal yang mendasari ini, termasuk mahalnya biaya membeli pesawat. Merujuk pada daftar harga, pada pesawat Boeing, misalnya, satu unit Boeing 787-8 baru dibanderol sekitar US$240 juta atau Rp3,7 triliun (kurs Rp 15,808). Demi kelancaran operasi, maskapai tentu saja membutuhkan lebih banyak armada dan itu akan menguras ketersediaan uang tunai maskapai.

Karena itu, maskapai mayoritas lebih memilih menyewa pesawat ke lessor dan umumnya dari tiga model bisnis yang dilakukan, mulai dari sewa basah atau wet lease, sewa kering atau dry lease, dan sewa lembab atau damp lease, sewa kering lebih banyak dipilih. Kendati lebih cenderung menyewa pesawat, maskapai tetap berinvestasi dengan membeli sebagian kecil pesawat dari total armada.

Lessor tentu tak ingin mengambil risiko dan mengasuransikan pesawat yang dibelinya selama disewa maskapai. Sudah jadi rahasia umum bahwa seluruh pesawat yang beroperasi di dunia dilindungi atau dijamin asuransi.

Baca juga: Pilihan Pengadaan Pesawat, Mengapa Maskapai Pilih Airbus dan Boeing? 

Itu kenapa, saat terjadi peperangan atau konflik bersenjata di sebuah wilayah, maskapai ramai-ramai menghindari terbang di atas wilayah tersebut karena pihak asuransi tidak akan menanggung andai terjadi sesuatu atau tidak termasuk dalam insiden yang bisa ditanggung asuransi. Dengan begitu, terbentuk pola saling ketergantungan satu sama lain dalam bisnis maskapai.

Sampai di sini, saat terjadi kecelakaan pesawat maskapai, bisa dibilang maskapai tidak mengalami kerugian materil sedikitpun dari rusaknya pesawat. Lalu, bagaimana dengan penumpang?

Dihimpun dari berbagai sumber, selain mengasuransikan pesawat, pihak manufaktur juga diketahui telah mengasuransikan penumpang selama pesawat dioperasikan. Saat terjadi kecelakaan, penumpang otomatis telah ter-cover asuransi dari produsen maskapai yang bersangkutan. Sampai di sini, maskapai juga tidak mengalami kerugian atas sebuah kecelakaan.

Namun, dalam aturan perundang-undangan di Indonesia, saat terjadi kecelakaan pesawat, maskapai diwajibkan membayar kompensasi sebesar Rp 1,25 miliar per penumpang yang dibayarkan ke ahli waris. Dalam beberapa kasus, maskapai selalu memenuhi kewajiban ini, meski prosesnya ada yang mencicil dan cash.

Namun, di balik layar, tidak pernah diketahui apakah pembayaran kompensasi tersebut berasal dari keuangan murni maskapai atau dari pihak asuransi yang telah digandeng maskapai.

Baca juga: Empat Alasan Mengapa Maskapai Selalu ‘Rugi’, Nomor 1 Dilematis

Secara umum, dalam sebuah kecelakaan, sebagaimana dalam sebuah pendapat di Quora, kerugian tidak dialami maskapai dari insiden tersebut, melainkan dari hilangnya kepercayaan penumpang terhadap maskapai.

Dalam sebuah kasus, pesawat yang dioperasikan maskapai mengalami kecelakaan. Setelahnya, maskapai melakukan perubahan besar. Namun, penumpang sudah kehilangan kepercayaan dan itu mengakibatkan mereka kehilangan US$60.000 setiap hari selama 18 bulan. Itulah yang pada akhirnya membuat maskapai gulung tikar alias bangkrut.

Air Canada dan SAS Airlines Borong Pesawat Listrik Berkapasitas 30 Penumpang, 2028 Beroperasi

Semakin banyak maskapai yang tertarik mengoperasikan pesawat listrik. Terbaru, Air Canada dan SAS Airlines mengumumkan telah memesan puluhan unit pesawat listrik ES-30 berkapasitas 30 penumpang buatan start-up asal Swedia, Heart Aerospace. Bila segalanya sesuai rencana, pesawat listrik ES-30 mulai beroperasi secara komersial pada tahun 2028.

Baca juga: Pesawat Listrik Rolls-Royce dan Tecnam Meluncur 2026, Norwegia Jadi Pasar Terbesar

Dalam keterangan resminya, Air Canada menyatakan minat untuk membeli 30 pesawat listrik ES-30. Selain itu, maskapai nasional Kanada itu juga menyuntikkan modal sebesar US$ 5 juta ke Heart Aerospace untuk melanjutkan penelitian dan pengembangan pesawat tersebut.

“Pengenalan armada pesawat listrik regional ES-30 kami dari Heart Aerospace akan menjadi langkah maju menuju tujuan kami untuk mencapai nol emisi bersih pada tahun 2050,” kata Presiden sekaligus Chief Executive Officer Air Canada, Michael Rousseau.

“Sudah, Air Canada mendukung pengembangan teknologi baru, seperti bahan bakar penerbangan berkelanjutan dan penangkapan karbon, untuk mengatasi perubahan iklim. Kami sekarang memperkuat komitmen kami dengan berinvestasi dalam teknologi pesawat listrik revolusioner, baik sebagai pelanggan ES-30 maupun sebagai mitra ekuitas di Heart Aerospace,” tambahnya.

Nantinya, pesawat listrik ES-30 berkapastias 30 Air Canada akan dioperasikan oleh anak usahanya yang fokus pada penerbangan regional, Air Canada Express, yang operasinya dijalani oleh Jazz Air. Sebelumnya, maskapai mengoperasikan pesawat CRJ200 dengan kapasitas 50 penumpang di rute-rute regional.

Setali tiga uang, maskapai SAS Airlines juga demikian. Maskapai nasional yang dimiliki tiga negara ini diketahui sudah sejak tahun 2019 silam mendukung dan menyatakan minatnya membeli pesawat listrik buatan Heart Aerospace.

Meski tak ada keterangan pasti, minat tersebut datang tak lepas dari kepemilikan saham SAS oleh Swedia. Ada semangat nasionalisme yang melatarbelakanginya. Sayangnya, SAS Airlines tak merinci berapa pesawat listrik yang bakal dipesan.

“Bersama dengan seluruh industri, kami memiliki tanggung jawab untuk membuat perjalanan udara lebih berkelanjutan. SAS didedikasikan untuk mengubah penerbangan sehingga generasi mendatang dapat terus menghubungkan dunia dan menikmati manfaat perjalanan – tetapi dengan jejak yang lebih berkelanjutan. Surat dukungan dengan Heart Aerospace merupakan langkah penting ke arah itu,” jelas CEO SAS, Anko van der Werff.

Baca juga: Mungkinkah Seluruh Penerbangan di Masa Mendatang Gunakan Pesawat Listrik?

Selain SAS Airlines, ada juga maskapai negara-negara Nordik yang tergabung dalam program Nordic Network for Electric Aviation (NEA), yang turut mendukung pengembangan pesawat listrik Heart Aerospace asal Swedia, seperti Air Greenland, Avinor, Braathens Regional Airlines, El-fly AS, Finnair, Icelandair, NISA (Nordic Innovation Sustainable Aviation), RISE, SAS dan Swedavia.

Pengembangan pesawat listrik Heart Aerospace juga banyak didukung oleh perusahaan besar Swedia lainnya. SAAB, perusahaan dirgantara yang berbasis di Stockholm, Swedia, diketahui menyuntik modal US$ 5 juta. Lessor asal Swedia, Rockton diketahui telah menandatangani perjanjian pesanan hingga 40 pesawat.

Deutsche Bahn dan Talgo Luncurkan New ICE L, Kereta Jarak Jauh Eropa Beroperasi di 2024

Pada pertengahan tahun 2024, rencana di Eropa akan beropersi kereta jarak jauh generasi terbaru. Kereta yang dimaksud adalah New ICE L, yang belum lama ini diluncurkan oleh perusahaan kereta api nasional Jerman Deutsche Bahn (DB) dan Talgo, manufaktur kereta asal Spanyol. New ICE L nantinya akan beroperasi pada rute domestik di Jerman, selain menghubungkan Jerman dengan perbatasan Belanda, Austria, dan Swiss.

Baca juga: Dibangun dalam Waktu 12 Bulan, ICE 3neo Kereta Berkecepatan Tinggi dari Siemens

Dikutip dari railway-technology.com (15/9/2022), New ICE L diharapkan menjadi referensi Eropa untuk kereta api masa depan, ICE L disebut dapat beroperasi pada kecepatan komersial tertinggi 230 km per jam. DB berencana dapat mengoperasikan New ICE L pada paruh kedua tahun 2024. Untuk mempersingkat waktu tempuh, untuk tahap awal, KA baru ini akan beroperasi di jalur internasional antara Berlin dan Amsterdam.

Tentang New ICE L, kereta ini akan dilengkapi dengan gerbong yang ditarik dengan lokomotif. CEO DB Michael Peterson mengatakan, “Kami membuat perjalanan kereta api menjadi lebih inklusif dan nyaman. Selain akses level, pelanggan kami juga akan merasakan desain interior terbaru. Suasana living room di atas rel hanya dimungkinkan saat bepergian dengan layanan Deutsche Bahn.”

New ICE L kompatibel dengan lokomotif lain termasuk listrik dan diesel, rangkaian ICE L akan terdiri dari lokomotif multi-sistem dengan 17 gerbong penumpang. Kereta ini akan memiliki 562 kursi, terdiri dari 85 kursi kelas satu dan 477 kursi kelas dua.

Beberapa fitur teknis dari kereta baru termasuk akses bebas langkah ke semua pintu dari platform standar dengan ketinggian 760 mm, monitor informasi di pintu masuk, dan area tempat duduk yang menampilkan data real-time.

New ICE L juga akan dilengkapi WiFi dan hiburan seperti halnya di pesawat, gerbong penumpang restoran di dalam pesawat dengan bar dan kursi berkelompok, serta area terpisah untuk anak kecil dan keluarga dengan area bermain untuk anak-anak dan ruang penyimpanan untuk kereta bayi.

Baca juga: Hadirkan Kereta Bertenaga Surya, Jerman Selidiki Potensi Fotovoltaik di Jaringan Rel

Pada tahun 2019, Talgo menerima kontrak senilai €550 juta dari Deutsche Bahn untuk pebuataan 23 kereta komposisi, termasuk satu lokomotif dan 17 gerbong penumpang.

PT KAI akan Merubah Nama Stasiun di Wilayah Jabodetabek

Banyaknya stasiun kereta api yang tersebar di wilayah Jabodetabek membuat penumpang sebagai pelangga setia kereta api sudah mengingat betul stasiun mana yang mereka akan naik dan tiba ditujuan. Stasiun di Jabodetabek lebih dominan cukup dekat dengan daerah atau nama lokasi tersebut, agar memudahkan penumpang untuk naik dan turun kereta api. Bahkan sangat mudah dengan adanya peta petunjuk di tiap stasiun maupun di dalam interior kereta api/KRL. Namun kabarpenumpang.com mendapat informasi dari berbagai sumber bahwa beberapa stasiun di Jabodetabek akan berubah namanya.

Baca juga: Soal Penamaan Stasiun, Di India Ternyata Operator Kereta Tak Ikut Ambil Bagian 

Dilansir dari laman KAI, hal tersebut merupakan bentuk inovasi KAI dalam mengoptimalkan aset perusahaan. Beberapa penamaan stasiun yang terpilih bukan berarti sepenuhnya akan diganti namanya, hanya saja menambahkan nama merk/brand yang menjadi ikonik stasiun tersebut. Seperti yang kita ketahui stasiun BNI City yang kini menjadi Sudirman Baru. Berawal dari sebuah Bank BNI yang berlokasi dekan dengan Stasiun Sudirman Baru yang juga merupakan stasiun kedatangan dan keberangkatan stasiun bandara. Kini beberapa stasin yang akan dijadikan penambahan nama merk/brand rencananya adalah Stasiun Pasar Senen, Jatinegara, Tanah Abang, Tebet, Cikini, Sudirman, Juanda, Manggarai, Gondangdia, dan Palmerah.

Baca juga: Keunikan Papan Nama Stasiun Kereta dari Masa ke Masa

Rencananya, stasiun yang menggunakan nama brand sebagai contoh bekerjasama dengan brand Telkomsel, maka namanya menjadi Tanah Abang Telkomsel dan begitu seterusnya. Dengan dilakukan program ini, KAI dengan calon mitra berharap dapat menjalin kerjasama yang produktif dan berkelanjutan sehingga dapat menarik baik dari sisi reputasi maupun berkelanjutan bisnis antar perusahaan. (PRAS – Cinta Kereta Api)

Kenapa Pesawat Selalu Belok Kiri Setelah Lepas Landas? Berikut Penjelasannya

Bagi traveler yang sering bepergian dan memperhatikannya, pasti merasakan bahwa pesawat cenderung lebih sering belok kiri setelah lepas landas. Mengapa demikian?

Baca juga: Mengapa SAS Airlines Jadi Maskapai Nasional Tiga Negara? Ini Jawabannya

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, penting untuk jauh menengok ke belakang. Dahulu, pesawat masih sangat sederhana. Tidak ada radar cuaca, cockpit glass, dan lain sebagainya. Sudah begitu, dalam pengoperasiannya, pesawat juga tidak dibantu dengan menara kontrol atau menara ATC sehingga berpotensi terjadi tabrakan satu sama lain.

Maka dari itu, dahulu, pesawat diatur agar berbelok ke kiri tak lama setelah lepas landas, untuk kemudian climbing dan terbang ke arah yang dituju. Usai adanya ATC, yang mempunyai otoritas dalam memandu pesawat di sekitar bandara, pesawat, dalam regulasi FAA CFR 91.126, diatur untuk berbelok kiri. Ini tak lain menyadur peraturan di masa lalu saat menara ATC belum tersedia. Pesawat sebetulnya bisa saja belok ke kanan tak lama setelah lepas landas dengan catatan diizinkan ATC.

Menurut pendapat lain di laman Quora, ini (pesawat belok ke kiri setelah lepas landas) tak lepas dari visibilitas. Pilot, yang umumnya duduk di sebelah kiri, akan memiliki visibilitas yang lebih baik ketimbang pesawat belok ke kanan.

Selain itu, kebanyakan pesawat belok ke kiri setelah lepas landas karena memang arah bandara yang dituju berada di sana sehingga pesawat tidak terlalu banyak melakukan manuver dan fokus climbing untuk mencapai ketinggian ideal.

Meski begitu, banyak pendapat yang menyebut bahwa pesawat belok ke kiri setelah lepas landas lebih ke pola lalu lintas yang ada di bandara, dimana default circuit pattern atau pola kebiasaannya adalah belok ke kiri.

Umumnya, setelah lepas landas, pesawat akan climbing 500 meter above ground level (AGL), kemudian belok kiri 90 derajat, climbing lagi sampai di ketinggian 1.000 meter AGL, belok ke kiri lagi, untuk kemudian terbang ke arah yang dituju. Ini berguna untuk mengatur agar tak terjadi tabrakan antara pesawat yang ingin mendarat dengan pesawat yang baru lepas landas.

Baca juga: Mengapa Pesawat ‘Dicat’ Warna Hijau atau Kuning Saat Diproduksi?

Di bandara tertentu, setelah lepas landas, pesawat justru default-nya mengharuskan belok ke kanan karena satu dan lain hal.

Entah itu karena pattern atau pola lalu lintas lepas landas pesawat seperti itu, berlawanan dengan arah jarum jam, ataupun karena terdapat gunung atau perbukitan di sebelah kiri, sehingga mau tak mau pesawat harus belok ke kanan, climbing, baru kemudian belok ke kiri jika memang itu arah yang dituju.

Hukuman Ekstrim Pencuri Ponsel ala India, Digantung di Jendela Luar Kereta yang Melaju Kencang

Aksi pencuri di kereta jelas membuat geram siapa pun, dan di India ada kasus unik. Seorang pria nahas setelah dirinya tertangkap tangan sedang berusaha mencuri ponsel dari sisi luar jendela kereta, yang saat itu sedang akan berjalan dari Stasiun Sahebpur Kamal di Begusarai.

Baca juga: Marak Pencurian Komponen Rel Kereta, Ternyata Sudah Jadi Momok Sejak Puluhan Tahun

Dikutip dari timesnownews.com (15/9/2022), saat si pencuri berusaha merampas ponsel dari balik jendela berterali, tangan si pencuri berhasil ditangkap oleh salah seorang penumpang. Saat tangan pencuri tertangkap, penumpang lain berusaha membantu untuk terus memegang tangan pencuri. Bahkan satu tangan lain dari pencuri berhasil ditangkap penumpang lain. Tak bisa melepaskan diri, apesnya kereta kala itu mulai berjalan meninggalkan peron. Dan seperti sudah diduga, pencuri apes ini ikut terbawa di sisi luar kereta.

Dan wajah panik pencuri tersebut berhasl direkam dalam video pendek di bawah ini. Nampak Ia berteriak minta ampun dan mohon pertolongan. Si pencuri berteriak bahwa tangannya patah, namun, Ia meminta agar penumpang di dalam kereta tidak melepaskan tangannya, maklum bila tangan pencuri dilepas, maka si pencuri dipastikan akan jatuh di tengah kereta yang sedang melaju kencang.

Baca juga: Tekan Pencurian Barang di KRL, KAI Commuter Pasang Kamera Canggih di 10 Stasiun Sibuk

Masih dari sumber yang sama, diketahui pencuri dengan nama Pankaj Kumar merupakan penduduk wilayah Sahebpur Kamal. Setidaknya, Kumar telah melakoni perjalanan ekstrim sejauh 15 km, sampai kereta berhenti di Stasiun Katihar. Sesampai di stasiun Katihar, Pankaj Kumar pun langsung digelandang oleh aparat keamanan.

Pastikan Prosesi Pemakaman Ratu Elizabeth II Tidak Bising, British Airways Batalkan 16 Penerbangan

Operasional Bandara Heathrow pada hari Rabu lalu sempat terganggu selama dua jam saat jenazah Ratu Elizabeth II dipindahkan dari Buckingham Palace ke Westminster Hall. Tujuannya adalah untuk memastikan keheningan selama prosesi pemindahan jenazah mendiang Ratu. Hal yang sama juga akan dilakukan pada 19 September mendatang saat jenazah Ratu dimakamkan.

Baca juga: Boeing C-17 Globemaster, Jadi Pesawat ‘Terakhir’ Ratu Elizabeth II Menuju Pemakaman

Sebagai bandara tersibuk di Inggris dan Eropa, lalu lintas Bandara Heathrow memang sangat padat. Ribuan pesawat setiap hari lepas landas dari bandara tersebut dan menimbulkan kebisingan.

Celakanya, Bandara Heathrow terletak cukup dekat dengan pusat kota London, yang di sana terdapat Westminster Hall tempat sang Ratu disemayamkan, dan Westminster Abbey tempat Ratu dimakamkan. Hal ini dikhawatirkan menggangu prosesi pemakaman Ratu Elizabeth II.

Saat lepas landas, mesin akan mengeluarkan tenaga cukup besar untuk membawa pesawat mencapai kecepatan yang dibutuhkan untuk terbang.

Proses ini pastinya akan menimbulkan kebisingan di bandara dan sekitarnya karena tak ada banyak ruang untuk menyerap kekuatan angin dan suara. Kebisingan juga terus belanjut sampai setidaknya 30 detik setelah lepas landas. Ketinggiannya juga masih cukup rendah sehingga sangat berpotensi mengganggu prosesi pemakaman Ratu.

Bandara Heathrow diketahui berada di sisi barat Istana Buckingham atau Westminster Hall. Dengan begitu, penerbangan yang menuju Benua Amerika, Irlandia, dan negara lainnya di sisi barat London masih tergolong aman.

Sebaliknya, penerbangan ke Eropa, yang notabene bakal melewati pusat kota, besar kemungkinan akan terganggu atau bahkan dibatalkan.

Sampai saat ini, 16 penerbangan British Airways dari Bandara Heathrow ke Amsterdam, Basel, Dusseldorf, Faro, Hamburg, Roma, Stockholm, dan Warsawa, yang akan berangkat antara pukul 13:55 dan 15:40, sudah dibatalkan. Demikian laporan The Independent.

Mengingat pesawat lepas landas dan mendarat tergantung dengan arah angin, tidak menutup kemungkinan akan ada lebih banyak penerbangan yang dibatalkan atau delay, terutama bagi penerbangan keberangkatan. Andai arah angin menuntut pesawat lepas landas ke arah timur menuju pusat kota sudah pasti akan dibatalkan.

“Untuk menghormati masa berkabung setelah meninggalnya Yang Mulia Ratu Elizabeth II, Heathrow akan membuat perubahan yang sesuai untuk operasi kami,” kata juru bicara Bandara Heathrow.

“Beberapa penerbangan antara pukul 13:50 dan 15:40 waktu setempat pada Rabu 14 September akan terganggu untuk memastikan keheningan di pusat kota London saat prosesi upacara berpindah dari Istana Buckingham ke Westminster Hall,” tambahnya.

“Kami mengantisipasi perubahan lebih lanjut pada operasi Heathrow pada Senin 19 September, ketika pemakaman Yang Mulia akan berlangsung, dan akan mengomunikasikannya secara lebih rinci dalam beberapa hari mendatang,” lanjutnya.

Baca juga: In Memoriam Ratu Elizabeth II: Kerap Terbang Pakai Pesawat Maskapai Komersial-Jatuh Cinta dengan Concorde

“Kami mohon maaf atas gangguan yang disebabkan oleh perubahan ini, karena kami berupaya membatasi dampak pada acara mendatang,” tutupnya.

Jenazah Ratu Elizabeth II rencananya akan dimakamkan pada tanggal 19 September siang waktu setempat. Jenazah Ratu Elizabeth II yang meninggal pada 8 September lalu akan dipindahkan dari Westminster Hall ke Westminster Abbey, dekat Big Ben. Proses pemakaman rencananya dimulai pada pukul 11 siang.