Demi Piala Dunia, Qatar Airways Buka Penerbangan Doha-Tel Aviv, “Terbuka” untuk Warga Palestina

0

Meski antara Qatar dan Israel tidak mempunyai hubungan diplomatik, namun, terkait dengan hajatan Piala Dunia, kedua negara di Timur Tengah itu sepakat untuk bekerja sama, salah satunya adalah pembukaan penerbangan untuk Qatar Airways yang melayani rute Israel – Qatar.

Baca juga: Lucu! Ada Keledai Nyasar ke Bandara Internasional Ben Gurion

Dikutip dari apnews.com, disebutkan penggemar sepak bola dari Israel dan wilayah Palestina dapat terbang langsung untuk melihat Piala Dunia FIFA di Qatar dari Tel Aviv untuk pertama kalinya. Perkembangan tersebut merupakan terobosan kesepakatan antara Israel dan Qatarr, dua negara tanpa hubungan diplomatik.

FIFA menyebut, penerbangan charter ke Doha dari Bandara Internasional Ben Gurion di Tel Aviv untuk turnamen mulai 20 November 2022, akan terbuka untuk semua warga Palestina. Hal tersebut juga berlaku untuk penduduk dan pekerja media terakreditasi dari Tepi Barat yang diduduki Israel dan Jalur Gaza yang dikuasai Hamas, yang berada di bawah blokade Israel-Mesir.

Selama ini, warga Palestina di Tepi Barat dan Gaza tidak memiliki bandara sendiri dan harus mengajukan permohonan izin akses ke bandara yang sulit diperoleh untuk mengunjungi Bandara Ben Gurion di Israel.

Kemungkinan besar, Israel masih akan menolak untuk memberikan izin keluar kepada penduduk Gaza yang ingin terbang keluar dari Tel Aviv untuk menghadiri Piala Dunia. Kalau pun ada, izin tersebut hanya diberikan dalam keadaan luar biasa.

Pejabat Israel tidak memiliki perincian langsung tentang berapa banyak penerbangan yang akan dilakukan atau berapa banyak warga Palestina yang diizinkan untuk bepergian. Ketika dimintai komentar tentang pengaturan tersebut. Ahmad Deek, Direktur Jenderal Kementerian Luar Negeri Palestina, mengatakan bahwa itu adalah sesuatu yang pertama kali ia dengar.

Warga negara Israel biasanya tidak dapat terbang langsung ke Doha atau memasuki Qatar dengan paspor Israel mereka. Hubungan kedua negara memburuk sejak Doha menutup kantor perdagangan Israel pada tahun 2008 karena perang di Gaza.

Washington memuji perkembangan itu dan mengatakan itu akan menguntungkan para penggemar sepak bola Israel dan Palestina sebagai langkah untuk memperluas kebebasan bepergian yang lebih besar untuk semua.

“Amerika Serikat mengucapkan selamat kepada FIFA, Israel, dan Qatar atas langkah bersejarah pembukaan penerbangan langsung antara Tel Aviv dan Doha selama Piala Dunia,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS Ned Price.

Pemerintah Qatar mengatakan, bahwa Doha terus memantau setiap eskalasi di Yerusalem, Gaza atau Tepi Barat, dan semua dinamika akan berisiko untuk pembatalan perjanjian, termasuk penerbangan langsung.

Kekerasan di Tepi Barat telah melonjak dalam beberapa bulan terakhir karena Israel telah meningkatkan serangan penangkapan malam, menjadikan 2022 sebagai tahun yang paling mematikan di wilayah pendudukan sejak tahun 2006.

Baca juga: Ben Gurion, Bandara Paling Aman dengan Standar Keamanan Tertinggi di Dunia

FIFA juga mengumumkan pada hari Kamis bahwa layanan konsuler sementara akan membantu warga Israel di Doha selama turnamen. Sekitar 3.800 warga Israel dan 8.000 warga Palestina telah mengajukan permohonan kartu Hayya, yang berlaku sebagai visa masuk ke Qatar untuk turnamen sepak bola.

Apresiasi Penumpang di Kursi Tengah, Virgin Australia Tawarkan Hadiah Spesial

Sebagai bagian dari kampanye Bring On Wonderful yang diluncurkan bulan lalu, Virgin Australia menawarkan hadiah middle-seat lottery atau hadiah spesial untuk para penumpang yang duduk di kursi tengah. Hadiah spesial berupa empat limited-edition bar cart atau troli legendaris yang pernah dipakai melayani penumpang.

Baca juga: Akhirnya Penumpang Pesawat di Kursi Tengah Tak Perlu Rebutan ‘Armrest’ Berkat Inovasi Kursi Joy

Kampanye Bring On Wonderful sendiri merupakan inisiatif maskapai untuk membawa penumpang untuk merasakan bukan sekedar pengelaman terbang yang menyenangkan, tetapi juga penerbangan yang luar biasa.

Pengalaman terbang yang luar biasa sulit dicapai seluruh penumpang karena perbedaan benefit yang didapat. Singkatnya, akan selalu ada penumpang yang tak sepenuhnya menikmati penerbangan. Itu adalah penumpang di kursi tengah.

Kursi tengah cenderung dihindari penumpang. Padahal, sebagaimana kursi dekat jendela dan kursi di aisle, kursi tengah tetap memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan kursi tengah ialah minim guncangan atau turbulensi. Selain itu, secara etiket, kursi tengah juga berhak atas armrest kanan dan kiri.

Kekurangannya, tentu lebih terbatas, harus rela diganggu penumpang di dekat jendela, dan serba sulit, baik itu melihat pemandangan, beranjak dari kursi, terhimpit penumpang di sebelah kanan dan kiri, tidak nyaman, dan lainnya. Armrest kanan dan kiri terkadang juga harus berbagai karena kurangnya kesadaran etiket penumpang.

Oleh karenanya, diluncurkanlah kampanye Bring On Wonderful. Kampanye itu intinya ingin mengubah stigma kursi tengah yang menyeramkan, ditakuti, atau dihindari penumpang menjadi sebaliknya, diperebutkan oleh penumpang karena keuntungan yang ditawarkan. Keuntungan tersebut berupa hadiah super spesial yang tidak bisa dibeli dengan uang berupa empat limited-edition bar cart.

Empat limited-edition bar cart atau troli legendaris itu (Disco Fever bar cart, The Day Spa bar cart, At Home Cinema bar cart, dan The Sports Bar bar cart) dahulu sering melayani penumpang untuk kebutuhan minuman hangat, sandwich, dan makanan lainnya di lorong pesawat Boeing 737-800. Meski terlihat tidak bernilai, jika diungkap masing-masing US$6.700 atau sekitar Rp106 juta.

Baca juga: Keuntungan-Kerugian Duduk di Kursi Dekat Jendela-Tengah-Aisle Pesawat, Mana Lebih Favorit?

Setiap troli makanan dan minuman di pesawat itu memiliki karakteristik, fitur, dan keunikan tersendiri. Tetapi semuanya dipercaya bermanfaat untuk penumpang yang kelak mendapatkannya.

Disco Fever bar cart bisa didapat penumpang yang duduk di kursi tengah dengan cara diundi secara acak pada penerbangan antara tanggal 14 November dan 20 November. The Day Spa cart diperebutkan penumpang antara tanggal 5 Desember hingga 11 Desember, At Home Cinema cart mulai tanggal 20 Februari hingga 26 Februari 2023, dan The Sports Bar cart mulai tanggal 20 Maret hingga 26 Maret 2023.

Inilah Air Sinai, Maskapai ‘Hantu’ yang Hubungkan Israel dan Mesir!

Antara ada dan tiada. Kira-kira itulah frasa yang paling cocok untuk menggambarkan maskapai Air Sinai. Bak hantu, maskapai ini sejatinya ada, tetapi, membeli tiket penerbangannya sangat sulit atau bisa dibilang hampir mustahil, kecuali orang-orang tertentu saja. Orang-orang tertentu di sini bukan berarti pejabat melainkan siapapun yang mengetahui clue prosedur pembelian tiket penerbangan Air Sinai.

Baca juga: Hidupkan Lagi ‘Bandara’ Misterius di Xinjiang, Cina Dituding Tengah Jalani Misi Sangat Rahasia

Dilansir The Globe and Mail, Air Sinai didirikan pada tahun 1982, tak lama setelah perjanjian damai Israel dan Mesir berlaku. Sebagai bagian dari rekonsiliasi, kedua negara sepakat menerbangkan pesawat maskapai nasional mereka ke bandara internasional satu sama lain secara teratur.

Maskapai nasional Israel, El Al, dengan senang hati menyambut kesepakatan itu. Mereka terang-terangan menawarkan ke warga dan turis internasional penerbangan langsung Israel-Mesir dan Mesir-Israel. Sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ini pun disambut dengan berbondong-bondong pesanan tiket oleh warga dan turis.

Akan tetapi, tidak demikian untuk Egypt Air. Maskapai nasional itu memilih terbang secara diam-diam alias misterius. Ini diperkirakan sebagai bagian dari politik regional Mesir agar tetap bersahabat dengan negara-negara Arab, yang notabene ketika itu masih memusuhi Israel. Itulah alasan mengapa Air Sinai didirikan sebagai divisi semi-rahasia Egypt Air.

Agar tetap menjalani kesepakatan terbang ke Israel, pemerintah Mesir, melalui Egypt Air, menugaskan maskapai Air Sinai secara diam-diam. Meski begitu, mereka terdaftar resmi di Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) dengan kode 4D.

Setiap pekan, secara teratur, maskapai ini terbang dari Sharm el Sheikh, Mesir, ke Tel Aviv, Israel. Menariknya, sebagai maskapai legal yang terdaftar di IATA, Air Sinai tak memiliki nomor telepon, alamat kantor, maupun situs pemesanan tiket.

Induk maskapai, Egypt Air, juga tak mencantumkan penerbangan Air Sinai berikut pemesanan tiketnya. Jadi, tak ada sarana pemesanan tiket yang dipublikasi secara luas.

Anehnya, setiap pekan, pesawat berwarna putih, tanpa logo nan misterius aktif lepas landas dan mendarat di bandara. Bahkan, penumpang yang turun dan naik di penerbangan ini jumlahnya cukup banyak.

Menurut kesaksian salah seorang penumpang, tiket Air Sinai bisa didapatkan melalui agen terselubung atau istilahnya calo di hotel-hotel di Israel dan Mesir. Teknisnya pun aneh, calon penumpang meletakkan amplop berisi uang ke kantor misterius yang tak ada tanda pengenal sama sekali.

Sebagai gantinya, petugas di kantor itu memberikan buklet kuning aneh menyerupai tiket pesawat. Benar saja, itu adalah tiket penerbangan 4D-55 ke Kairo. Adapun di tiket tersebut tercantum agen tiket misterius yang beralamat di Yerussalem, Palestina.

Saat di Bandara Internasional Ben Gurion Tel Aviv, penerbangan 4D-55 ke Kairo juga sangat aneh. Tak ada informasi apapun. Di tengah kebingungan, petugas biasanya menyadari dan menghampiri penumpang Air Sinai untuk diarahkan ke terminal yang biasa digunakan El Al.

Begitu sampai di terminal tersebut, tidak ada informasi terkait penerbangan ke Mesir. Di check-in counter Egypt Air juga demikian, hanya ada infomasi penerbangan ke Amsterdam dan Roma.

Baca juga: 11 Kasus Misterius Dalam Dunia Penerbangan

Namun, pada akhirnya secara misterius, penumpang Air Sinai diberikan boarding pass dan klaim bagasi Egypt Air. Penumpang disarankan langsung boarding dan langsung menunggu di gate. Tak ada kepastian pukul berapa penerbangan dilangsungkan. Dari sini, penumpang Air Sinai pun diarahkan ke garbarata dan masuk ke dalam pesawat.

Berbeda dari sebelumnya yang sangat tersembunyi, di bagian dalam pesawat penuh dengan identitas Egypt Air. Seragam pramugari, serbet, majalah, dan lainnya terdapat logo Egypt Air. Pengumuman di pesawat juga diperkenalkan sebagai penerbangan Egypt Air.























Bagaimana Sayap Pesawat Dipasang Sampai Bisa Menopang Mesin Berbobot Sangat Berat? Ini Rahasianya

Sebelum mengetahui lebih jauh, semua mungkin sepakat bahwa sayap pesawat ditopang badan pesawat sekaligus menopang mesin. Kenyataannya justru sebaliknya, sayap pesawat menopang badan pesawat. Lantas bagaimana sayap pesawat dipasang sampai bisa menopang badan pesawat dan menopang mesin berbobot berat?

Baca juga: Bagaimana Cara Mesin Pesawat Dipasang? Berikut Ulasannya

Sebuah pesawat dibangun melewati tahapan cukup panjang. Itu mengapa, dalam sebulan, pabrikan pesawat hanya mampu memproduksi pesawat sipil sebanyak puluhan unit, tak seperti mobil yang bisa sampai ribuan bahkan puluhan ribu unit dalam sebulan.

Pada tahun 2021 lalu, misalnya, kapasitas produksi pesawat Airbus A320neo hanya mencapai angka 63 unit per bulan. Boeing, sebagai raksasa manufaktur pesawat dunia, juga hanya sanggup memproduksi pesawat sekelas A320neo dikisaran angka tersebut.

Setidaknya ada lima tahapan dalam membangun atau memproduksi sebuah pesawat; mulai dari desain, simulasi menggunakan model skala, konstruksi, perakitan, dan pengujian. Dua tahap awal sudah pasti wujud nyata pesawat dalam ukuran yang sebenarnya belum ada. Tetapi, di tiga tahap akhir, wujud pesawat sudah ada dan umumnya berwarna hijau atau kuning.

Baca juga: Apakah Kita Berjalan di Sayap, dan Apakah Mungkin Sayap Pesawat Patah saat di Udara?

Fokus pada tahap konstruksi, sebgian besar publik awam mungkin  mengira bahwa itu dimulai dari pemasangan badan pesawat terlebih dahulu. Nyatanya tidak, justru sayap pesawat terlebih dahulu yang dipasang.

Menurut Chief Aerospace Engineer, Peter To, dalam tahap konstruksi, dua sayap pesawat diletakkan di bagian kanan dan kiri. Ketinggian sayap tentu sudah diatur sesuai dengan tipe dan jenisnya. Sayap kemudian dipersatukan menjadi satu kesatuan utuh sebelum badan pesawat dipasang di atasnya.

Bila diperhatikan, bagian badan pesawat terdapat celah yang dinamakan center wing box, memungkinkannya disatukan dengan sayap oleh beberapa engsel dan baut membuatnya lebih kokoh dalam menopang badan pesawat.

Baca juga: Mana yang Lebih Berbahaya Bagi Pesawat, Sayap Patah atau Kerusakan Mesin?

Saat sayap kanan dan kiri disatukan dan menjadi satu kesatuan dan kembali disatukan dengan badan pesawat dibagian yang dinamakan center wing box, ini seperti ‘balok’ dengan sayap membentang ujung ke ujung. Ini yang menjadi rahasia kekuatan sayap pesawat sampai kuat menahan tekanan di udara dan tidak patah.

Demikian juga dengan mesin pesawat yang dipasang di sayap. Itu juga didukung oleh beberapa engsel dan baut yang sangat kuat sehingga mampu menopang mesin berbobot besar. Dengan catatan dalam keadaan normal. Dalam keadaan darurat, mesin pesawat bisa saja dengan mudah lepas dari sayap. Tetapi, lebih baik kehilangan mesin pesawat dibanding sayap patah.

Sejarah Pendaratan Otomatis (Autoland) Pesawat: Dipelopori Inggris Gegara Banyak Asap

Teknologi pesawat sipil saat ini sudah sangat canggih. Tentu saja semua tidak diraih secara instan. Proses panjang dilalui ilmuan dan insinyur dunia secara estafet sampai tekonologi canggih dinikmati oleh insan dirgantara saat ini, salah satunya ialah autoland atau pendaratan otomatis yang dipelopori Inggris usai Perang Dunia II. Itu diakibatkan banyaknya asap yang menyulitkan pesawat mendarat.

Baca juga: Ternyata Kebanyakan Pesawat Saat Ini Mendarat Otomatis (Autoland)

Perang Dunia II adalah perang terbesar di dunia yang melibatkan banyak pihak, salah satunya Inggris. Inggris turut terseret dalam konflik dan berperang langsung dengan Jerman. Nazi Jerman bahkan sempat membombardir habis Inggris.

Demikian juga sebaliknya. Asap yang dihasilkan dari bom tersebut pada akhirnya menyulitkan Angkatan Udara Kerajaan (RAF) mendaratkan pesawat karena terhalang asap tebal. Kondisi itu lebih parah saat malam hari. Pada tahun 1945, RAF pun meluncurkan Blind Landing Experimental Unit (BLEU) atau unit eksperimental untuk pendaratan buta. Dari sini sejarah autoland pada pesawat dimulai.

BLEU bertanggung jawab untuk membangun karya Telecommunications Flying Unit (TFU) pada awal 1945, menggunakan sistem panduan radio SCS 51 Amerika untuk membawa Boeing 247D di DZ203 mendarat dalam kondisi gelap gulita.

SCS 51 menggunakan transmisi radio pada frekuensi yang berbeda untuk membantu pesawat, tidak hanya untuk melakukan pelacakan posisinya, tetapi juga untuk tetap berada di jalur yang stabil dan aman menuju runway (landasan pacu).

Sampai di sini, sistem masih berfungsi sebagai alat bantu navigasi pilot mendarat sampai 200 kaki dari runway dan kemudian memutuskan apakah terus mendarat atau divert.

Foto: Wikimedia Commons

BLEU kemudian mengembangkan sistem baru yang lebih canggih menggunakan sinyal panduan radio dari landasan pacu bersama panduan azimuth dari kabel yang digantung di sepanjang landasan pacu yang mengirimkan sinyal.

BLEU juga akan mengubah panduan vertikal menjadi altimeter radio FM untuk panduan yang lebih akurat, meminimalisir kesalahan dan mengurangi risiko kecelakaan serta akurasi pendaratan otomatis (autoland).

Sistem ini mensyaratkan pesawat untuk dilengkapi teknologi autopilot untuk memandu kontrol pesawat dan autothrottle untuk memastikan pesawat memiliki daya dorong yang tepat pada waktu yang tepat untuk tetap berada di jalurnya.

Pada tahun 1950, seperti dikutip dari Simple Flying, uji coba sistem atau teknologi baru pun dilakukan. Awalnya menggunakan pesawat de Havilland Devon. Dirasa cukup kecil, uji coba beralih ke pesawat Vickers Varsity yang lebih besar.

Baca juga: Apakah Pendaratan Autopilot Lebih Sulit atau Lebih Mulus Dibanding Pendaratan Secara Manual?

Pada tahun 1961, uji coba dilakukan di pesawat Douglas DC-7 di fasilitas pengujian di Bedford, Inggris Raya, dan Atlantic City, Amerika Serikat. Hasil dari pengujian ini melahirkan rekomendasi Administrasi Penerbangan Federal (FAA) agar teknologi temuan BLEU ini digunakan pesawat untuk pendaratan segala kondisi. Saat itulah teknologi autoland diterima secara luas di penerbangan sipil maupun militer.

Saat ini, seluruh pesawat modern, seperti Boeing 737 NG dan MAX, Airbus A321, serta Embraer 190, sudah dilengkapi dengan fitur autoland dan turunannya (autopilot dan autothrottle). Saat ini, Airbus juga tengah mengembangkan teknologi pesawat lepas landas otomatis untuk melengkapi teknologi pendaratan otomatis, autopilot, dan autothrottle.

Kereta Semi Cepat Cina-Laos Siap Rayakan Ulang Tahun Pertama

Kereta semi berkecepatan tinggi yang menghubungkan Cina dengan Laos akan segera merayakan hari jadinya yang pertama. Diresmikan pada 3 Desember 2021, rute sepanjang 1.035 kilometer tersebut melintasi pegunungan dengan menghubungkan kota Kunming di Cina tenggara dengan Vientiane, ibu kota Laos.

Baca juga: Kereta Cepat Cina Resmi Terhubung dengan Laos, Selanjutnya Singapura

Pembangunan infrastruktur senilai US$6 miliar tersebut dibiayai oleh Cina di bawah prakarsa “New Silk Road” dan akan meningkatkan perekonomian negara kecil di Asia Tenggara itu. Masih ada beberapa tantangan dalam pelayanan kereta semi cepat itu, di antaranya tiket hanya dapat dibeli secara tunai dalam waktu tiga hari perjalanan (sistem online diharapkan akan segera beroperasi). Tiket dapat dibeli di stasiun Kereta Api Laos-Cina atau beberapa kantor tiket non-kereta api.

Rute kereta yang menghubungkan kota Kunming dengan Vientiane, rencananya akan dikembangkan melalui Thailand dan Malaysia ke Singapura. Laos sebelumnya hanya memiliki rel sepanjang 4 km. Untuk saat ini kereta api bercat merah, biru dan putih melaju dengan kecepatan hingga 160 km per jam, melewati 75 terowongan dan 167 jembatan dengan 10 stasiun penumpang.

Cina berharap untuk memperpanjang rute melalui Thailand dan Malaysia ke Singapura, dan telah mendanai jalur tersebut sebagai bagian dari kebijakan “New Silk Road”. Inisiatif ini mendanai proyek infrastruktur di seluruh dunia untuk meningkatkan pengaruh Beijing.

Menurut pihak berwenang di Cina, jalan sepanjang 414 km melalui Laos akan meningkatkan perekonomian negara yang rapuh itu dengan menghubungkannya ke pasar Cina. “Jalur ini akan berubah dari negara yang terkurung daratan menjadi pusat regional,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina Wang Wenbin.

Baca juga: Thailand Siapkan Stasiun Nong Khai untuk Jaringan Kereta Menuju Laos-Cina

Laos adalah negara tertutup yang dikuasai komunis dengan 7,2 juta orang, adalah salah satu yang termiskin di Asia. Sementara analis menyadari potensi ekonomi dari jalur kereta api, mereka menunjukkan kepedulian terhadap negara, yang menanggung 30 persen dari keseluruhan biaya infrastruktur dan harus meminjam US$1,06 miliar untuk membiayainya.

Negara Mana yang Punya Batas Kecepatan Tertinggi Berkendara? Ini Jawaranya, Bebas Ngebut

Setiap negara mempunya kebijakan tersendiri terkait urusan dalam negerinya masing-masing, termasuk batas kecepatan tertinggi saat berkendara, khususnya di jalan tol. Lantas, negara mana yang memiliki batas kecepatan tertinggi saat berkendara?

Baca juga: Frankfurt Autobahn A5, Jalan Tol Pertama dengan Kabel Listrik Aliran Atas

Ketika sedang berkendara di jalan tol, tentunya harus sesuai dengan aturan berkendara yang telah ditentukan. Tujuan aturan kecepatan batas berkendara di jalan tol agar terus menjaga kendaraan tetap fokus dan mengetahui batas kecepatan maksimal saat mengendarai mobil untuk menjaga agar tidak terjadi kecelakaan, terutama di beberapa titik yang rawan kecelakaan.

Hampir semua negara di dunia mempunyai batas kecepatan tertinggi saat berkendara di jalan tol, baik tol dalam kota maupun tol luar kota.

Di Indonesia misalnya, batas kecepatan berkendara di jalan tol diatur dalam Peraturan Pemerintah no 79 tahun 2013 tentang jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) pasal 23 ayat 4.

Diperkuat Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 111 tahun 2015 tentang Tata Cara Penetapan Batas Kendaraan pasal 3 ayat 4 pada pasal 23 ayat 4, disebutkan bahwa batas kecepatan di jalan tol yaitu 60 hingga 100 kilometer per jam, sesuai dengan rambu lalu lintas yang terpasang.

Dalam aturan tersebut tertulis bahwa batas kecepatan di jalan bebas hambatan atau tol paling rendah 60 km per jam sampai tertinggi 100 km per jam.

Untuk berkendara di tol dalam kota sendiri kecepatan minimal berkendara 60 km per jam dan maksimal berkendara yaitu 80 km per jam. Kemudian untuk berkendara di tol luar kota yakni minimal 60 km per jam dan maksimal 100 km per jam.

Tak hanya di dalam tol, di jalan antarkota pun juga diatur dalam Permenhub tersebut. Disebutkan, untuk jalan antarkota paling tinggi di kecepatan 80 km per jam. Di kawasan perkotaan, batas kecepatan tertinggi maksimal 50 km per jam dan terakhir di kawasan permukiman batas kecepatan tertinggi berkendara mencapai 30 km per jam.

Mengingat pentingnya batas kecepatan tertinggi berkendara, baik di jalan tol maupun non-tol, mayoritas pemerintah di seluruh dunia mengaturnya. Namun, percaya atau tidak, ada dua negara di dunia ini yang dipastikan tidak mempunyai batas kecepatan berkendara; dua itu adalah Jerman dan Isle of Man.

Kendati tidak ada batas kecepatan tertinggi atau maksimum berkendara di jalan tol, menurut pengalaman Simon Comins, editor majalah otomotif, mayoritas warga tetap tertib.

Jalan tol di Nurburging Autobahn, misalnya, ia menyaksikan sendiri mayoritas warga berkendara di kecepatan 100 km per jam. Ini karena standar kedisiplinan berkendara warga sangat tinggi sehingga pemerintah tak lagi perlu mengaturnya.

Begitu juga dengan di Isle of Man. Ini tentu berbeda dengan di negara-negara yang mengatur batas kecepatan berkendara. Sudah diatur saja banyak yang melanggar dan terjadi kecelakaan, apalagi tidak diatur.

Baca juga: Harapan untuk Transportasi Jakarta, Ada Bus Listrik dengan Teknologi Pantograf

Akan tetapi, mengacu pada pertanyaan di awal, Jerman dan Isle of Man tentu tidak termasuk ke dalam daftar. Sebab, keduanya tidak mempunyai batas kecepatan berkendara.

Negara yang mempunyai batas kecepatan tertinggi berkendara adalah Uni Emirat Arab (UEA). Di jalan tol Abu Dhabi-Al Ain dan Sheikh Khalifa, misalnya, batas kecepatan tertinggi berkendara mencapai 160 km per jam.

Dikenal Sebagai “Ibu Kota” Airbus, Inilah Toulouse di Barat Daya Perancis

Sebagai sebuah konsorsium yang berasal dari beberapa perusahaan dirgantara Eropa, maka Airbus memiliki beberapa fasilitas produksi. Motor produksi utama Airbus di Eropa berada di Perancis, Jerman dan Spanyol, selain masih ada di beberapa negara lain di luar Eropa yang mengikat kerja sama produksi atas pembelian pesawat atau helikopter Airbus. Nah, dari sekian banyak fasilitas produksi Airbus, maka Toulouse, sebuah kota di barat daya Perancis, dikenal sebagai “ibu kota” Airbus.

Baca juga: Airbus A380 Dikonversi Jadi Hotel di Dekat Bandara Toulouse Blagnac

Faktanya, Airbus memiliki fasilitas produksi di banyak lokasi, dari Toulouse hingga Tianjin, memproduksi berbagai jenis pesawat. Tidak seperti Boeing yang membuat semua pesawatnya di AS, Airbus merakit pesawat di banyak negara. Namun, perakitan pesawat hanyalah langkah terakhir dari proses tersebut. Sebelum itu, fasilitas produksi di seluruh dunia membuat segalanya mulai dari ekor hingga sayap.

Sebagian besar pusat produksi utama Airbus berlokasi di negara-negara seperti Perancis, Jerman, Spanyol, Italia, dan Inggris. Sebagai contoh, sayap A320 berasal dari Broughton, Inggris, badan pesawat dari Hamburg, Jerman, dan penstabil horizontal dari Getafe, Spanyol. Demikian pula, bagian yang lebih kecil dari pesawat dapat bersumber dari mana saja. Misalnya, kemudi A320 dibuat di Harbin, Cina, dan dikirim ke berbagai fasilitas di seluruh dunia.

Hotel akan berlokasi di dekat rumah Airbus di Bandara Toulouse Blagnac. Foto: Proyek Envergure

Setiap pesawat memiliki rantai pasokan khusus untuk suku cadang. Salah satu rute yang paling terkenal adalah perjalanan darat yang ditempuh badan pesawat A380 dari Langon ke Toulouse.

Setelah semua suku cadang siap, mereka mengirimkan ke Airbus Final Line (FALs). Airbus saat ini mengoperasikan sembilan di antaranya di lokasi berikut, masing-masing melayani pesawat yang berbeda:

– Toulouse, Prancis: FAL untuk A320, A330, A350, dan A380 (masing-masing satu)
– Hamburg, Jerman: FAL untuk A320
– Mobile, Alabama, AS: FAL untuk A220 dan A320
– Tianjin, Tiongkok: FAL untuk A320
– Mirabel, Kanada: FAL untuk A220

Jelas bahwa fasilitas produksi terbesar Airbus ada di Toulouse. Fasilitas ini sendiri memproduksi semua pesawat berbadan lebar Airbus, dari A330 hingga A380, yang berarti akan memproduksi ribuan pesawat lagi di tahun-tahun mendatang. Selain itu, juga memproduksi pesawat keluarga A320, khususnya A321.

Namun, jika menyangkut A320, dan bahkan A220, Airbus telah mendiversifikasi jalur perakitannya karena sejumlah alasan. Alasan utamanya adalah untuk melayani pasar lokal di setiap negara dan menciptakan kehadiran yang lebih global. Sementara dua jalur perakitan Eropa menyediakan pesawat untuk maskapai penerbangan di seluruh dunia, fasilitas di Tianjin dan Mobile masing-masing menargetkan pasar Cina dan AS.

Di Toulouse, saat ini ada sekitar 48.000 karyawan Airbus, dan lebih dari 63.000 orang di anak perusahaan dan kepemilikan saham Airbus. Kantor Airbus berlokasi di wilayah barat daya Occitanie, dekat Bandara Toulouse-Blagnac. Di Occitanie, lebih dari 28.000 orang adalah karyawan Airbus dan sekitar 4.500 orang bekerja di fungsi sentral seperti keuangan, pemasaran, teknik, program dukungan pelanggan, dan pengadaan.

Baca juga: Bandara Toulouse-Blagnac Uji Coba Truk Otonom Pengangkut Bagasi Penumpang

Di sekitar kantor Airbus terdapat Leadership University perusahaan, dirancang untuk memberikan solusi pengembangan dan pembelajaran yang disesuaikan untuk para pemimpin Grup saat ini dan masa depan – mencakup semua fungsi dan tingkatan dari manajemen puncak hingga produksi, dengan aspirasi global untuk menjangkau setiap karyawan.

Bisakah Pesawat Boeing 737 Mendarat di Kapal Induk?

Tak diragukan lagi, keluarga Boeing 737 menjadi pesawat tersukses sepanjang masa di pasar penerbangan sipil. Di militer, keluarga pesawat tersebut juga pernah diproyeksi sebagai pesawat logistik ke kapal induk. Itu artinya, Boeing 737 harus mampu mendarat dan lepas landas di kapal induk. Pertanyaannya, bisakah itu dilakukan?

Baca juga: Boeing C-40, Varian Unik 737 yang Jarang Diketahui Publik

Meski berasal dari keluarga pesawat yang sama, Boeing 737 versi militer memiliki beberapa varian, di antaranya Boeing C-40 sendiri adalah versi militer dari Boeing 737-700C (Convertible) dan Boeing T-43 Gator yang berbasis Boeing 737-200.

Di tahun 1960-70an, Boeing ditantang untuk menyediakan pesawat kargo atau angkut untuk kebutuhan suplai bahan-bahan yang paling dibutuhkan kapal induk secara langsung. Ini dikenal dengan istilah skema Carrier Onboard Delivery (COD). Istilah lain disebut pesawat “Super Carrier Onboard Delivery” (Super COD).

Pada masa-masa awal konsep COD lahir, itu dijalankan menggunakan pesawat Grumman C-1 Trader, pesawat bermesin piston ganda dengan kapasitas muatan terbatas dan jangkauan 300 mil. Seiring waktu, ini dianggap minim. Kepala Operasi Angkatan Laut ingin pesawat lain yang lebih besar sampai akhirnya nama Boeing 737 muncul. Nantinya, pesawat itu akan beroperasi di atas kapal induk USS Forrestal (CVA-59) yang berbasis di Norfolk.

Menurut mantan aerodynamics engineer Boeing, Robert Buchholz, menaggapi hal itu pihaknya cukup tertantang dan mengusulkan adanya tail hook atau semacam pengait ekor untuk membantu pesawat berhenti sebelum melewati ujung landasan.

Sayangnya, tak ada informasi bagaimana saran tersebut disampaikan dan didiskusikan oleh pihak Angkatan Laut.

Singkatnya, Boeing 737 versi militer tak pernah dipakaikan kait pengail dan sampai saat ini belum pernah ada Boeing 737 versi militer yang mendarat di atas kapal induk. Andai pun dipaksa, apakah bisa itu dilakukan?

Buchholz mengatakan itu bisa saja dilakukan. Buktinya, pesawat C-130 Hercules yang sangat mirip dengan Boeing 737 mampu melakukan itu.

Angkatan Laut diketahui mengandalkan C-130 Hercules sebagai pengganti Grumman C-1 Trader sebagai pesawat Super COD. Sebagaimana Boeing 737, Lockheed C-130 Hercules adalah versi militer dari Lockheed L-100 Hercules.

Dari versi sipil ke militer tak terlalu banyak perubahan. Begitu juga dari versi militer ke Super COD, tak banyak perubahan. Tercatat, hanya ada sedikit modifikasi yang dilakukan Lockheed dalam memuluskan tugas pendaratan dan lepas landas di kapal induk.

Baca juga: Boeing T-43 Gator – Seri Boeing 737-200 yang Menjadi Pesawat Latih Navigasi Udara

Dilansir The Aviationist, modifikasi pada Hercules C-130 ada pada lubang roda pendaratan hidung yang lebih kecil, sistem pengereman anti-selip yang lebih baik, dan pelepasan pod pengisian bahan bakar di bawah sayap.

Modifikasi itu terbukti sukses dan Hercules C-130 berhasil membawa kargo dengan berat total 25 ribu pon. Dengan dasar itu, menjawab pertanyaan di awal, Boeing 737 seharusnya bisa mendarat di kapal induk sekalipun belum pernah dilakukan.

Mengenal Lebih Dalam Mesin Perawatan Rel Kereta, Si Kuning Yang Gemar “Patroli” di Malam Hari

Apa yang terlintas di benak Anda ketika mendengar kata kereta api? Mungkin beberapa dari Anda langsung terbesit gambaran rangkaian gerbong kereta yang ditarik oleh lokomotif, berjalan di atas rel, dan berhenti di stasiun.

Baca Juga: Antisipasi Kecelakaan di Jalur Kereta, Kemenhub Datangkan Kereta Derek

Memang tidak ada yang salah dengan sudut pandang tersebut, namun kali ini KabarPenumpang.com ingin mengajak Anda untuk mengenal lebih dekat dengan salah satu komponen pelengkap yang menunjang pengoperasian dari kereta api, yaitu Mesin Perawatan Jalan Rel atau biasa disingkat MPJR.

Jika diperhatikan secara seksama, mungkin beberapa dari Anda pernah melihat penampakan dari MPJR itu sendiri di stasiun-stasiun besar yang memiliki banyak langsiran, seperti di Stasiun Jatinegara atau Stasiun Manggarai. Bentuknya yang rumit dan memiliki warna kuning mentereng, itulah ciri fisik yang memudahkan MPJR untuk dibedakan dengan kereta-kereta lain yang bertengger di setiap rel.

Lalu, kenapa warnanya harus kuning? Karena warna kuning dinilai sebagai warna kedua yang mudah ditangkap oleh mata manusia setelah warna merah. Sehubungan dengan warna merah yang identik dengan segala sesuatu yang bersifat bahaya, maka dari itu akhirnya warna kuning dipilih untuk mendominasi body dari alat-alat berat seperti MPJR ini.

Sesuai dengan namanya, MPJR sendiri merupakan salah satu alat berat di dunia perkeretaapian yang fungsinya untuk melakukan perawatan rel dari segi apapun. Jadi, kemana pun Anda pergi ke kota atau negara yang memiliki layanan kereta api, dapat dipastikan kota atau negara tersebut memiliki MPJR, mungkin hanya nama atau penyebutannya saja yang berbeda. Walaupun bentuknya yang terlihat kokoh, namun rel juga mesti mendapatkan perawatan khusus, mengingat beban yang ditanggungnya setiap hari tidaklah ringan.

Ditinjau dari segi perngoperasiannya, kebanyakan MPJR beroperasi pada malam hari, dengan tujuan agar tidak mengganggu jadwal perjalanan kereta lain. Alasan ini pula yang mendukung pernyataan tentang pewarnaan dari MPJR di atas. Fungsi dari MPJR ini sendiri adalah beragam, tergantung dari jenisnya sendiri. Ada yang berfungsi untuk memadatkan batuan di bawah bantalan rel, merapikan susunan batu di sekitaran rel, mengelas rel, hingga memasang rel.

Baca Juga: Ingin Menikmati Sensasi Kereta Cepat, Bentang Lebar Rel Harus Diganti

Secara umum, MPJR sendiri terbagi ke dalam beberapa jenis, tergantung fungsinya masing-masing. Berikut adalah penjabarannya.

Multi Tie Tamper

Multi Tie Tamper. Sumber: wikipedia

Alat ini berfungsi untuk memadatkan batuan yang berada di bawah bantalan rel. Kembali ke poin yang sudah disebutkan di atas, setiap harinya rel menanggung beban yang tidaklah ringan dan hal ini dapat memicu amblasnya struktur tanah jika tidak dilakukan pemadatan. Selain berfungsi untuk memadatkan bebatuan di bawah bantalan rel, Multi Tie Tamper juga memiliki tugas untuk meluruskan rel yang bengkok akibat gesekan dengan roda kereta.

Profile Ballast Regulator

Profile Ballast Regulator. Sumber: plasseramerican.com

Jika Multi Tie Tamper berfungsi untuk memadatkan bebatuan yang ada di bawah bantalan rel, maka Profile Ballast Regulator berguna untuk merapikan batu yang ada di sekitaran rel. Laju kereta yang cepat menghasilkan getaran yang memungkinkan bebatuan tersebut berpindah posisi menjauh dari rel.

Flash Butt Welding

Flash Butt Welding. Sumber: plasser.co.za

Kalau dua mesin berat di atas memiliki peran untuk ‘mengurus’ bebatuan di sekitaran rel dan batalannya, maka berbeda dengan Flash Butt Welding yang berfungsi untuk mengelas rel jikalau ada bagian rel yang retak atau disinyalir dapat menimbulkan masalah.

Ballast Bed Cleaning Machine

Ballast Bed Cleaning Machine. Sumber: plassertheurer.com

Jika Anda mengira bebatuan yang ada di sekitaran rel ditebar begitu saja tanpa ada perhitungan sebelumnya, maka Anda salah besar. Bebatuan tersebut disusun sedemikian rupa sehingga bisa mengalirkan air yang jatuh di atasnya, dan fungsi dari alat berat ini adalah untuk membersihkan semua partikel yang menghambat laju air, seperti pasir atau pecahan batu. Jika struktur bebatuan tersebut tidak bisa meloloskan air, maka rel akan tergenang dan dikhawatirkan dapat mengancam keselamatan kereta api yang lewat karena struktur bebatuannya sudah berubah.

Jadi, bagi Anda yang tinggal di sekitaran rel dan melihat ada anak-anak yang suka bermain-main dengan bebatuan tersebut, Anda bisa memberitahu anak-anak tersebut untuk tidak mengulanginya lagi karena akan berbahaya bagi keselamatan orang  banyak (yang ada di dalam kereta).