Bagaimana Penumpang Tahu Pesawat yang Dinaiki adalah Airbus atau Boeing?

Traveler yang sering berpergian naik pesawat pada umumnya hanya mengetahui berapa nomor penerbangan pesawat yang ditumpanginya. Sebab, itu tertera di tiket atau boarding pass. Tetapi, tidak demikian dengan pesawatnya. Lantas, bagaimana cara agar penumpang mengetahui pesawat yang ditumpangi adalah Airbus atau Boeing atau mungkin ATR, Embraer, Sukhoi, dan Bombardier?

Baca juga: Bagaimana Cara Ketahui Pesawat yang Ditumpangi Sudah Tua Hanya dengan Melihatnya?

Saat ini, ada sekitar 25 ribu pesawat komersial aktif di dunia. Selain itu, ada sekitar 7.000-8.000 lebih pesawat yang terbang di waktu tertentu setiap hari. Dari jumlah tersebut, sedikitnya ada enam manufaktur yang pesawatnya lumrah digunakan sebagai pesawat komersial; Airbus, ATR, Boeing, Bombardier, Embraer, dan Sukhoi.

Dari enam pabrikan pesawat tersebut, masyhur diketahui bahwa hanya ada dua yang paling sering digunakan maskapai dan paling banyak terjual di dunia. Dua itu adalah Boeing dan Airbus.

Karenanya, sesering apapun traveler keliling bepergian naik pesawat sesering itu pula mereka besar kemungkinan akan menumpangi pesawat dari dua pabrikan; Boeing dan Airbus. Kecuali, di rute-rute perintis, kemungkinan pesawat yang dioperasikan maskapai adalah pesawat baling-baling buatan ATR.

Terlepas dari apakah itu pesawat Airbus, ATR, Boeing, Bombardier, Embraer, dan Sukhoi, bagaimana cara penumpang mengetahui bahwa pesawat yang ditumpanginya adalah salah satu dari buatan produsen pesawat itu?

Beberapa pengguna Quora coba membagikan tipsnya. Salah satu yang paling mudah tentu memperhatikan pesawat itu sendiri sesaat sebelum masuk ke kabin.

Saat ini, ada dua cara masuk ke kabin pesawat sebelum penerbangan; lewat garbarata atau turun ke apron dan naik tangga ke pesawat. Cara pertama (menggunakan garbarata, tentu membuat penumpang tak leluasa melihat badan pesawat yang di sana tertera tipe dan seri pesawat. Biasanya ada di bagian depan di bawah jendela kokpit atau sebelah kiri pintu pesawat.

Masih dari segi eksterior, cara lainnya agar penumpang bisa mengetahui pesawat buatan mana yang ditumpanginya ialah dengan mengamati moncong pesawat.

Dalam konteks Boeing dan Airbus, sebagian besar model pesawat komersial yang diproduksi adalah Boeing 737 dan Airbus A320. Moncong Boeing 737 tajam, runcing, dan panjang. Sedangkan Airbus A320 bermoncong bulat.

Boeing dan Airbus juga memiliki perbedaan mencolok dari segi kaca kokpit pesawat. Diketahui pesawat Airbus memiliki jendela kokpit bagian belakang dengan bagian atas terpotong seperti sim card. Sedangkan Boeing tidak.

Bergeser ke interior atau bagian dalam kabin, penumpang dapat mengetahui itu pesawat Boeing ataupun Airbus dengan cara melihat pelat pesawat di bagian dalam di atas pintu utama pesawat. Di sana, tertera pesawat apa, tipe, serial number pabrik, sertifikat, sampai nomor sertifikat dikeluarkan. Setali tiga uang, penumpang juga bisa melihat nomor registrasi pesawat di bagian luar.

Baca juga: Bisakah Penumpang Berada di Sebuah Penerbangan Tanpa Diketahui Maskapai? Ini Jawabannya

Cara yang paling mudah tentu melihat safety card atau kartu petunjuk keselamatan di kantung seatback di depan penumpang saat duduk di kursi. Di sana pasti tertera pesawat yang akan ditumpangi, entah itu Boeing ataupun Airbus.

Cara terakhir yang paling mudah tentu saja dengan mengeceknya di aplikasi sejenis FlightRadar24. Cukup dengan memasukkan nomor penerbangan, maka situs tersebut akan memunculkan informasi pesawat yang ditumpangi.

Apakah Harga Bahan Bakar Pesawat Bervariasi Seperti Bahan Bakar Motor-Mobil?

Terkait bahan bakar, pesawat dan kendaraan di darat seperti mobil dan motor memiliki kesamaan. Bukan sama-sama menggunakan bahan bakar yang sama melainkan bahan bakarnya berasal dari sumber yang sama, minyak mentah. Meski berasal dari sumber yang sama, pada akhirnya apakah harga bahan bakar pesawat sama bervariasi dengan harga bahan bakar motor-mobil?

Baca juga: Mengenal Dua Jenis Bahan Bakar Pesawat: Avgas Vs Avtur, Apa Bedanya?

Layaknya kendaraan di darat, pesawat juga mempunyai beberapa varian bahan bakar. Bahan bakar tersebut dibedakan dari nilai oktannya, untuk menyesuaikan kinerja pesawat itu sendiri, entah diajak menempuh kecepatan supersonik atau kecepatan jelajah (standar kecepatan pesawat pada umumnya). Oktan yang lebih tinggi umumnya dipakai pesawat supersonik.

Sejauh ini, tercatat ada dua bahan bakar pesawat yang digunakan oleh pesawat komersial maupun militer pada umumnya, yakni Avgas atau aviation gas dan Jet A1 atau yang dikenal juga dengan aviation turbine fuel (Avtur).

Sebetulnya ada jenis lainnya, melengkapi total tiga jenis bahan bakar pesawat, Avtag, Avcat, jet propellant thermally stable (JPTS). Hanya saja, bahan bakar tersebut umum di beberapa negara tertentu saja, dalam hal ini negara maju, tidak di seluruh negara di dunia.

Avgas atau biasa juga dikenal dengan sebutan bensol memiliki kadar oktan beragam, seperti bensol biru 102 (Avgas UL91) dan bensol hijau 104 (Avgas 100LL). Jenis bahan bakar yang juga digunakan oleh motor balap ini pada umumnya digunakan oleh pesawat propeller atau mesin piston, seperti pesawat latih dan pesawat aerobatik.

Di antara Avgas dan Avtur, juga terdapat bahan bakar pesawat jenis aviation kerosine yang biasanya dipakai oleh pesawat bermesin turbin. Mesin turbin tentu berbeda dengan mesin jet. Mesin jet, pada umumnya menggunakan turbin sehingga disebut mesin jet turbin atau turbojet atau dikenal juga sebagai turbofan dan turboshaft.

Sedangkan mesin turbin adalah perangkat putar yang digerakkan oleh fluida. Singkatnya, mesin jet biasanya mesin turbin, tetapi mesin turbin umumnya bukan mesin jet. Jadi ada perbedaan mencolok di antara keduanya. Hal ini penting dicatat mengingat seringkali dilabeli sama, padahal keduanya berbeda.

Kedua bahan bakar tersebut (Avgas dan aviation kerosine) mempunyai sifat titik didih yang berbeda. Avgas merupakan oplosan minyak tanah dengan hidrokarbon cair yang kisarannya antara 32 hingga 220 derajat celsius. Sementara itu, aviation kerosine berada pada derajat yang lebih tinggi, yakni antara 144 hingga 252 derajat celsius.

Di atas keduanya (Avgas dan aviation kerosine) ada Avtur sebagai bahan bakar yang paling banyak dikenal oleh masyarakat pada umumnya. Avtur adalah bahan bakar dari fraksi minyak tanah yang dirancang khusus untuk bahan bakar pesawat terbang yang menggunakan mesin turbin atau mesin yang memiliki ruang pembakaran eksternal (External Combustion Engine).

Kinerja Avtur yang paling utama ditentukan oleh karakteristik kebersihannya, pembakaran, dan performanya pada temperatur rendah. Hal itu pulalah keunggulan Avtur atau Jet A1 dibanding Avgas. Menurut penelitian terdahulu, akhirnya ditetapkan bahwa titik beku maksimum pada suhu -47°C dan titik nyala minimum pada duhu 38°C.

Selain Avgas, aviation kerosine, dan Avtur, ada juga bahan bakar JET F-34 yang biasa dipakai oleh pesawat jet militer dan helikopter.

Baca juga: Berapa Minimum Bahan Bakar yang Dibawa Pesawat dalam Sekali Terbang?

Dilansir Simple Flying, seluruh jenis bahan bakar pesawat tersebut (Avgas, aviation kerosine, Avtur, dan JET F-34) harganya cenderung minim fluktuatif ketimbang bahan bakar kendaraan darat. Itu karena harga bahan bakar pesawat terpengaruh oleh musim sedangkan harga bahan bakar motor-mobil dipengaruhi oleh demand.

Maskapai biasanya melakukan lindung nilai agar tak terlalu rugi dengan kenaikan harga bahan bakar. Lindung nilai sendiri yaitu maskapai membeli harga bahan bakar dengan harga saat itu sebanyak kebutuhan di masa mendatang ketika harga bahan bakar melonjak naik.

Rayakan Piala Dunia 2022 Qatar, Warga Serbu Pesawat ‘Nyangkut’ di Rofftop Mall di Brasil

Musim pesta bola telah tiba usai laga perdana Piala Dunia 2022 di Qatar digelar semalam. Sebagai negera yang banyak melahirkan pemain sepak bola andal, atmosfer Piala Dunia di Brasil sangat kental.

Baca juga: 4 Menu Bersejarah Hadir dalam Penerbangan ‘Imajinasi’ Fokker 100 ‘PanAm Brasil’

Tahun ini, para penggemar sepak bola di Negeri Samba itu bisa mengisi agenda selama gelaran Piala Dunia 2022 dengan menempelkan stiker koleksi atau edisi Piala Dunia tahun ini dan tahun-tahun sebelumnya ke sebuah pesawat yang bertengger di rooftop sebuah pusat perbelanjaan (mall).

Pesawat tersebut memang sengaja dihadirkan sang pemilik mall untuk menjadi salah satu spot warga dalam menyalurkan riuh-riak semarak Piala Dunia dengan cara menempelkan stiker ke badan pesawat dan membagikannya di media sosial. Selain itu, tentu saja itu dilakukan untuk menarik minat warga berkunjung ke mall tersebut.

Dilansir Simple Flying, pesawat Boeing 737-200 tersebut sebelumnya beroperasi untuk salah satu maskapai tua di Brasil, VASP Viação Aérea São Paulo. Setelah dinyatakan pailit dan bangkrut, pesawat tersebut kemudian diangkut ke salah satu mall di Contagem, negara bagian Minas Gerais, Brasil.

Meski melalui proses perizinan yang rumit dan prosedur pemindahan pesawat dari hanggar ke rooftop, ini dilakoni sang pemilik mall, Mário Valadares, demi menyalurkan hobinya terhadap penerbangan.

Seorang gadis cilik tengah menempelkan stiker piala dunia di badan pesawat. Foto: Getty Images

Tak lupa, sebagai pebisnis, ia tetap memaksimalkan pesawat tersebut sebagai media promosi mall-nya yang mulai ditinggal pengunjung lantaran kehadiran mall atau pusat perbelanjaan lain yang lebih baru dan megah.

Boeing 737-200 pernah menjadi salah satu pesawat yang paling banyak diproduksi. Saat tiba di Brasil pada tahun 1969, bersama tiga pesawat lain yang tergabung dalam barisan armada VASP, pesawat, dalam hal ini Boeing 737-200, diserbu warga lantaran itu adalah kali pertama pesawat tersebut mampir di Amerika Selatan.

Selama bersama VASP, Boeing 737-200 itu memiliki callsign ‘Sucatinha’ dan menjadi salah satu ikon maskapai. Bagaimana tidak, semasa beroperasi, pesawat itu pernah mengangkut berbagai mantan presiden Brasil, mulai dari Ernesto Geisel, João Figueiredo, José Sarney, Fernando Collor, Itamar Franco, Fernando Henrique Cardoso, dan Luiz Inácio Lula da Silva.

Tak hanya itu, Paus Yohanes Paulus II yang pernah mengunjungi Brasil pada tahun 1980, juga pernah menumpangi pesawat ini.

VASP memang bukan maskapai baru kemarin. Diketahui, maskapai ini sudah berdiri sejak November 1933 oleh sekitar 70 investor. Dalam perjalanannya, maskapai ini banyak didera masalah keuangan sehingga pemerintah turun tangan dan membeli 91 persen saham maskapai.

Baca juga: Jadi Pesawat Tersukses dalam Sejarah, Dekade 90-an Jadi Periode Tersulit Boeing 737! 2.700 Pesawat Digrounded

Hingga tahun 1980-an, maskapai milik pemerintah itu menjadi salah satu operator maskapai terbesar di Brasil, sebelum akhirnya diprivatisasi kembali oleh pengusaha Wágner Canhedo pada tahun 1990-an.

Sejak saat itu, maskapai mulai berekspansi ke lebih banyak rute domestik dan internasional sampai ke Asia dan Eropa. Namun, seiring waktu, maskapai kembali mengalami masalah keuangan dan puncaknya saat pandemi Covid-19 maskapai mulai melelang pesawatnya sampai akhirnya dinyatakan bangkrut.

British Airways Mulai Uji Coba Boarding Biometrik ke Penumpang Penerbangan Internasional

British Airways jadi maskapai pertama di Inggris Raya yang mulai menerapkan teknologi boarding biometrik (bimoetric boarding) ke penumpang penerbangan internasional tertentu. Lewat teknologi ini, penumpang tak perlu lagi menunjukkan paspor saat boarding dan mempercepat prosesnya serta memudahkan penumpang.

Baca juga: Survei IATA: 75 Persen Penumpang Ingin Biometrik Bukan Paspor

Dalam uji coba boarding biometrik British Airways ini, penumpang yang ingin berpartisipasi diminta untuk memindai boarding pass, wajah, dan paspor di bandara keberangkatan sebelum memulai perjalanan. Flag carrier Inggris itu menjamin data disimpan dengan aman dan dipergunakan sesuai peruntukannya.

Proses scanning atau memindai boarding pass, wajah, dan paspor bisa dilakukan dimanapun karena menggunakan aplikasi yang bisa diunduh penumpang. Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah maskapai dimana penumpang dapat mendaftarkan informasi biometrik dimanapun tanpa harus ke konter check-in atau bandara.

Setelah di scan, dalam uji coba ini penumpang bisa boarding biometric di Terminal 5 Bandara London Heathrow. Kamera Smart Bio-Pod yang sudah disiapkan maskapai kemudian akan memverifikasi identitas penumpang dalam waktu kurang dari tiga detik. Setelahnya penumpang tinggal melenggang tanpa perlu mengeluarkan identitas/paspor.

“Ini adalah alat yang aman dan efisien yang memberikan pengalaman bandara yang lebih cerdas dan lancar, yang akan mengurangi waktu yang kami perlukan untuk naik ke pesawat,” kata David Breeze, Manajer Transformasi Operasi British Airways, seperti dikutip dari Simple Flying.

Baca juga: Di Inggris, Bagasi Penumpang Bisa Dijemput H-1: Datang ke Bandara Tinggal Boarding

“Keindahan teknologi ini juga membebaskan karyawan kami untuk menangani permintaan pelanggan yang lebih kompleks dan memberikan layanan pelanggan sebaik mungkin,” lanjutnya.

Disebutkan, uji coba akan berlangsung selama enam bulan ke depan. Tak disemua rute penerbangan internasional, melainkan hanya penerbangan ke Malaga, Spanyol saja.

Penumpang yang akan berpartisipasi dalam uji coba teknologi biometrik boarding besutan Amadeus Biometric Solutions ini dipilih secara acak dan yang terpilih akan mendapat email dari maskapai tiga hari sebelum penerbangan.

Penumpang yang terpilih tidak diwajibkan melakukan pra-registrasi di rumah. Mereka bisa melakukan registrasi atau scan boarding pass, wajah, dan paspor di beberapa titik di Zona Check-In B di Terminal 5 Bandara London Heathrow.  Penumpang yang berpartisipasi tak perlu ikut antre karena mendapat jalur keamanan Fast-Track dan boarding prioritas gratis.

Baca juga: Bandara Heathrow Siap Adopsi Teknologi Biometrik Pada Musim Panas 2019

British Airways diketahui sudah sejak tahun 2016 lalu memulai uji coba boarding biometik. Setelah sukses, di tahun berikutinya teknologi self-boarding melalui teknologi biometrik mulai berlaku massal pada bulan Juni khusus untuk penumpang domestik.

Di gate pemeriksaan keamanan, wajah, boarding, dan identitas penumpang dipindai dan sistem teknologi biometrik akan mencocokkan data yang sudah diambil di gate pemeriksaan.

Disney Cruise Line Beli “Global Dream” – Kapal Pesiar Ketujuh Terbesar di Dunia

Selain dikenal sebagai salah satu konglomerat di bidang hiburan dan media terbesar di dunia, Walt Disney Company atau Disney, juga punya bisnis di sektor kapal pesiar mewah, yakni di bawah bendera Disney Cruise Line. Persisnya, Disney mengumumkan awal pekan ini bahwa mereka telah membeli Global Dream, kembaran dari apa yang disebut sebagai kapal pesiar terbesar di dunia (Global Dream II) sebelum proyeknya dibatalkan karena pandemi Covid-19.
Dikutip dari robbreport.com (18/11/2022),  Disney disebut akan menyelesaikan pembangunan sistem ship yang terkenal itu, dengan tujuan menyelesaikan konstruksi pada tahun 2025. Global Dream telah dibangun di bekas galangan kapal MV Werften di Jerman sejak pembuat kapal mengajukan kebangkrutan awal tahun ini karena pandemi.
Disney berencana untuk bekerja dengan pembuat kapal lain di negara itu, Meyer Werft, untuk menyelesaikan pembangunan kapal pesiar. Setelah selesai, kapal akan diganti namanya dan didekorasi dengan warna yang terinspirasi Mickey Mouse yang ditemukan di kapal Disney Cruise Line.
Belum ada fasilitas yang diumumkan pada kapal pesiar itu nantinya, tetapi perusahaan mengatakan kapal itu akan menampilkan pengalaman Disney yang inovatif bersama dengan hiburan yang mempesona, santapan kelas dunia, dan layanan tamu legendaris yang membedakan dengan kapal Disney Cruise Line lainnya.
Kapal yang sudah selesai nantinya memiliki ruang untuk 6.000 penumpang dan sekitar 2.300 awak. Itu akan membuatnya lebih kecil dari yang diperkirakan saudaranya, Global Dream II, yang seharusnya memiliki ruang untuk 9.000 penumpang. Tetapi kapal berbobot 208.000 ton itu masih akan menjadi yang terbesar ketujuh di dunia dan terbesar di armada Disney.
Disney tidak mengungkapkan berapa banyak kocek yang dibayarkan untuk mengakuisisi Global Dream.
“Kapal pesiar kami memberi kami kesempatan unik untuk menghadirkan keajaiban Disney kepada penggemar di mana pun mereka berada, dan penambahan kapal ini akan membuat liburan Disney Cruise Line dapat diakses lebih banyak keluarga daripada sebelumnya,” ujar Josh D’Amaro, Kepala Disney Parks, Experiences and Products.
Awal tahun ini, proyek Global Dream dibatalkan seluruhnya, meskipun telah menelan biaya US$1,4 miliar. Hampir seperempat miliar dolar diperlukan untuk menyelesaikan konstruksi, yang mungkin menjelaskan mengapa tidak ada yang berusaha menyelamatkan proyek tersebut.

Amankan Jalur Penerbangan, Pesawat Timnas Polandia Dikawal Jet Tempur F-16

Lolos dari penyisihan, Polandia akhirnya berlaga di Piala Dunia 2022 di Qatar. Namun, karena ruang udara Polandia berbatasan dengan wilayah konflik, yakni perang antara Ukraina versus Rusia, maka Polandia harus ekstra waspada mengamankan jalur penerbangan yang akan dilintasi oleh pesawat yang membawa tim nasional sepak bola. Terlebih belum lama ada insiden rudal nyasar dari wilayah Ukraina yang mendarat wilayah Polandia, dan mengakibatkan korban jiwa.
 
 
Juga sebagai bukti dukungan atas tim nasional yang akan berlaga di Qatar, maka pesawat Boeing 737 pembawa tim sepakbola nasional Polandia secara khusus terbang dengan mendapatkan pengawalan dari sepasang jet tempur F-16 Fighting Falcon dari Angkatan Udara Polandia
 
“Kami dikawal ke perbatasan selatan Polandia dengan pesawat F16!” akun Twitter untuk tim nasional diposting kemarin. Terima kasih dan salam untuk para pilot!’
 
 
Polandia lolos ke Piala Dunia dari grup yang sama dengan Inggris, finis enam poin di belakang mereka di tempat kedua. Penampilan pertama tim nasional Polandia di Piala Dunia 2022, pertama akan menghadapi Meksiko, yang diagendakan berlangsung pada Selasa, 22 November 2022, mulai pukul 23.00 WIB. Jalannya pertandingan di Stadion 974, Doha, Qatar. 

8 Rahasia Rekrutmen Pramugari/Pramugara, Nomor 5 Aneh tapi Nyata

Pramugari/pramugara sering dianggap memiliki kelas sosial tinggi di masyarakat dengan gaji besar dan kehidupan glamournya jalan-jalan keliling dunia. Tak ayal banyak muda-mudi yang bercita-cita sebagai pramugari/pramugara.

Baca juga: Inilah 20 Syarat ‘Tak Resmi’ untuk Jadi Pramugari, Nomor Dua Agak Aneh

Hanya saja, dalam prosesnya tak mudah untuk bisa mewujudkan itu. Butuh perjuangan ekstra keras untuk bisa mewujudkan mimpi menjadi awak kabin, termasuk mempelajari pola rekrutmen. Sedikitnya ada tujuh rahasia rekrutmen pramugari/pramugara maskapai. Dilansir Simple Flying, berikut selengkapnya.

1. Applicant tracking system

Sistem pelacakan pelamar, atau ATS, adalah tahap pertama dari proses seleksi. Sistem ini akan menyortir CV atau surat lamaran kerja pelamar secara otomatis berdasarkan keyword atau persyaratan minimum yang dibutuhkan. Misalnya, tinggi minimum 160cm dan jobseeker memiliki tinggi 158cm. Sudah pasti sistem akan mengabaikannya.

2. 30-second scan

Setelah disortir oleh sistem, petugas akan menyortirnya kembali melalui apa yang disebut 30-second scan. Petugas tentu tidak mempunyai cukup banyak waktu sehingga pelamar harus menonjolkan keyword atau kata kunci yang dibutuhkan di surat lamaran kerja dan CV.

3. Postur, kedisiplinan, dan sosialisasi

Rekruter yang biasanya adalah mantan pramugari/pramgugara atau ahli di bidang perekrutan sumber daya manusia (SDM) sangat lihai melihat detail yang sering terlewat oleh para pelamar, seperti kepatan waktu, penampilan, postur tubuh, dan cara mereka berinteraksi satu sama lain.

4. Monitoring

Selama proses rekrutmen, mungkin calon kandidat ada kalanya menganggap ada hari atau waktu bebas dimana mereka terlepas dari penilaian. Padahal tidak demikian. Mereka akan selalu dimonitor tentang bagaimana pelamar membangun koneksi satu sama lain, tersenyum, bahasa tubuh yang baik, bersikap positif, dan lainnya.

5. Aturan tak tertulis

Terlepas dari aturan yang tertulis, dalam proses rekrutmen pramugari/pramugara terdapat aturan-aturan tak tertulis dan kadang kala justru ini yang menentukan. Misalnya, dalam suatu rekrutmen pramugari/pramugara, bisa saja rekruter hanya mencari wanita, mungkin maksimal 26 tahun, penutup bahasa tertentu, dari negara tertentu, dan lain sebagainya.

6. Focus group discussion (FGD)

Setiap tahapan rekrutmen pramugari/pramugara penting dilalui dengan baik, termasuk FGD. Dalam FGD pelamar akan dilihat kualitasnya, kerja tim, komunikasi, dan kepemimpinan. Kuncinya adalah jangan mengambil alih, jangan merendahkan orang lain, jangan terlalu pendiam, dorong orang lain dan, tentu saja, selesaikan tugas.

Baca juga: Virgin Atlantic Diserbu Pelamar Kerja, Gegara Seragam Non-Gender Awak Kabin?

7. Final interview

Proses interview terakhir adalah saatnya untuk ‘menjual diri’ pelamar. Bisa dimulai dari pengalaman, kemampuan, dan semangat serta antusiasme terhadap profesi yang kelak akan dijalani.

8. Jangan pilih maskapai

Flight attendant wannabe tentu mempunyai maskapai impian dan ingin sekali bisa segera bergabung dengannya. Sayangnya, maskapai belum tentu mau pelamar segera bergabung dengannya. Karena itu, pelamar seharusnya memulai dari maskapai kecil terlebih dahulu sebelum melamar ke maskapai besar impian.

Dalam Penerbangan Komersial, Kenapa Kedua Pilot Memegang Throttle Saat Lepas Landas? Ini Jawabannya

Meski sama-sama berstatus sebagai pilot, kopilot dan kapten pilot memiliki porsi pekerjaan masing-masing saat dalam penerbangan. Namun, pada pelaksaannya, pilot dan kopilot terkadang menangani sesuatu yang sama, salah satunya throttle (yoke atau sidestick) saat lepas landas. Kenapa demikian?

Baca juga: Teknologi Baru Sidestick Bikin Boeing Kepincut dan Tinggalkan Yoke Sebagai Sistem Kemudi?

Dilansir Quora, saat lepas landas, awak kokpit terbagi menjadi dua dengan masing-masing tugasnya; pilot flying dan pilot monitoring.

Kapten pilot, dengan segudang pengalaman dan kemampuannya, biasa diplot menjadi pilot flying. Itu berarti, segala hal terkait prosedur lepas landas dijalankan dengan baik atau tidak ditangan kapten pilot. Sebagai pilot flying, kapten pilot juga berhak memutuskan apakah pesawat tetap melanjutkan lepas landas atau membatalkan lepas landas (rejected takeoff).

Rejected takeoff sendiri ialah kondisi dimana pilot membatalkan lepas landas saat pesawat belum mencapai kecepatan yang dibutuhkan untuk mengudara atau V1. Itu berarti, ketika rejected takeoff diambil, secara teori, pesawat harusnya sudah diprediksi masih cukup waktu untuk berhenti sebelum ujung runway.

Menurut Skybrary, rejected takeoff bisa dikategorikan pesawat sedang dalam posisi kecepatan rendah maupun kecepatan tinggi. Produsen pesawat umumnya mengartikan transisi pada dua kategori ini (kecepatan rendah maupun tinggi) antara kecepatan 80 dan 100 knot.

Dalam panduannya Boeing, dijelaskan alasan pilot menolak lepas landas didorong oleh setidaknya lima hal. Kelimanya tak dapat ditolelir dan sangat berisiko membahayakan penerbangan.

“Lepas landas dapat ditolak karena berbagai alasan, termasuk kerusakan mesin, indikator atau alarm peringatan lepas landas, arahan dari kontrol lalu lintas udara (ATC), ban pecah, atau peringatan sistem.”

Umum diketahui, pesawat rawan mengalami kecelakaan, terutama saat take off dan landing; tiga menit pertama (take off) dan delapan menit terakhir penerbangan (landing) atau biasa juga disebut Plus Three Minus Eight (critical eleven).

Sudah banyak insiden kecelakaan pesawat terjadi selama periode critical eleven atau selama proses take off dan landing. Keduanya sama banyaknya. Namun, bila ditelisik lebih dalam, insiden kecelakaan selama proses take off lebih banyak terjadi.

Gentingnya proses lepas landas, dimana salah dan respon telat sedikit saja bisa jadi fatal, pun disiasati dengan ketatnya SOP kru kokpit. Salah satu SOP-nya adalah kopilot tetap memegang throttle sekalipun kapasitasnya saat lepas landas hanya sebagai pilot monitoring.

Baca juga: Mengenal Throttle, Kontrol Pesawat yang Diduga Jadi Penyebab Kecelakaan Sriwijaya SJ-182

Dengan begitu, andai pilot incapacitated (pilot incapacitation) atau kondis darurati dimana pilot tak bisa menangani pesawat, maka kopilot bisa segera mengambil alih pesawat dan mengambil keputusan, entah rejected atau lanjut untuk kemudian return to base (RTB).

Insiden pilot incapacitation memang jarang terjadi, tetapi pernah. Tahun ini, sampai artikel ini ditulis, setidaknya telah terjadi tiga insiden pilot incapacitation; pilot easyJet, pilot Austrian Airlines, dan satu lagi terjadi pada pesawat non-komersial. Beruntung, semuanya berakhir selamat.

Bisakah Pramugari Banting Setir Jadi Petugas ATC?

Pramugari/pramugara sering dianggap memiliki kelas sosial tinggi di masyarakat dengan gaji besar dan kehidupan glamournya jalan-jalan keliling dunia. Namun, seiring waktu, seseorang bisa saja bosan dengan berbagai kehidupan sebagai pramugari. Sebagai gantinya, industri dirgantara memiliki beberapa profesi yang bisa menjadi pelarian, salah satunya petugas ATC. Pertanyaannya, bisakah?

Baca juga: Lika-liku Pramugari Terdampak Covid-19, Banting Setir Jadi Perawat dan Pilot

Petugas Air Traffic Controller (ATC) setidaknya terbagi menjadi tiga, Aerodrome Control Service (biasanya berpartner dengan petugas darat untuk memberikan isyarat kepada pesawat untuk take-off atau landing), Approach Control Service (mengatur ketinggian pesawat), dan Area Control Sevice (memberikan clearance kepada pesawat yang sedang menjelajah).

Bagi bandara kecil yang lalu lintas udaranya tidak terlalu padat, tentu menjadi seorang petugas ATC akan terasa sangat membosankan – berbanding terbalik dengan bandara yang memiliki tingkat lalu lintas udara yang padat, pekerjaan ini akan terasa sangat melelahkan.

Selain itu, satu poin yang membuat pekerjaan ini terasa semakin berat adalah prinsip zero mistake – dimana salah informasi sedikit saja, maka kekacauan hingga kecelakaan pesawat bisa saja menanti dalam jangka waktu beberapa menit ke depan.

Sebetulnya alur kerja ATC bisa dibilang tergolong mudah. Bagi pesawat yang hendak mendarat, ia cukup diatur, diberi space, diberi segala informasi yang dibutuhkan, dipandu, serta diberi clearance.

Pun demikian bagi pesawat-pesawat yang hendak lepas landas. Polanya sama. Setelah meninggalkan bandara, pesawat akan terhubung dengan ATC berikutnya sampai ke terhubung ke ATC bandara tujuan untuk diatur, diberi space, diberi segala informasi yang dibutuhkan, serta diberi clearance.

Masing-masing petugas ATC dari yang tiga itu (Aerodrome Control Service, Approach Control Service, dan Area Control Sevice) akan bekerja membantu proses pendaratan dan keberangkatan sesuai dengan porsinya. Tetapi memang, pada praktiknya tak semudah gambaran alur kerja ATC secara umum. Terlebih saat terjadi kabut dan cuaca buruk.

Semasa menjalani tugas, pramugari memang tak terlalu aktif berkomunikasi dengan ATC, tetapi sedikit banyaknya mengetahui pola pendaratan dan lepas landas. Karenanya, menjawab pertanyaan di awal, jawabannya adalah bisa. Pramugari banting setir menjadi petugas ATC sangat bisa dan itu tidak awam melainkan pernah terjadi di dunia.

Dilansir Simple Flying, agar bisa beralih profesi menjadi petugas ATC, pramugari/pramugara tentu harus memiliki syarat dan kemampuan tertentu, seperti harus di atas 18 tahun, punya lima General Certificate of Secondary Education (GSCE) termasuk matematika dan bahasa Inggris, dan sehat jasmani serta rohani (tes medis).

Setelah lolos adminstrasi, calon petugas ATC akan dites secara online. Soal-solanya sendiri seputar penerbangan. Tahap selanjutnya ialah tes kepribadian dan keterampilan penilaian situasional. Andai lolos, peserta berkah mengikuti pelatihan untuk menjadi petugas ATC.

Selama pelatihan, banyak hal yang dipelajari, mulai dari hukum penerbangan, meteorologi, human factors, manajemen lalu lintas udara, peralatan navigasi, fraseologi, dan karakteristik pesawat. Tak hanya teori, calon petugas ATC juga dilatih dalam kondisi nyata lewat simulator. Ini adalah tahap praktik setelah mempelajari teori.

Baca juga: Mantan Pramugari Kini Jadi Jurnalis Penerbangan

Ketika praktik, calon petugas ATC juga diuji untuk menangani pesawat bukan hanya dalam situasi normal, melainkan juga abnormal. Pelatihan bisa sangat lama mencapai satu tahun sampai 18 bulan.

Seandainya lolos pelatihan, calon petugas ATC harus melewati ujian ICAO English level 4 dan class 3 medical sebelum mengambil lisensi ATC dan menjadi petugas ATC .

Nonton Piala Dunia 2022 di Ketinggian 10.000 Meter, Inilah Deretan Maskapai yang Menyajikan Siaran Live di Udara

0

Piala Dunia 2022 sebentar lagi akan dihelat, pada 20 November mendatang, perhatian warga dunia akan terfokus ke Qatar. Bagi kebanyakan orang, mudah saja untuk menikmati tayangan Piala Dunia dari layar televisi di rumah atau di pusat belanja. Namun, bagaimana dengan penumpang pesawat yang tengah mengudara di ketinggian ribuan meter?

Baca juga: Demi Piala Dunia, Qatar Airways Buka Penerbangan Doha-Tel Aviv, “Terbuka” untuk Warga Palestina

Akses internet memang sudah tersedia di kabin pesawat, namun, bukan perkara mudah untuk menyajikan siaran broadcast sepak bola live berkualitas di kabin. Untuk menikmati ive streaming, sudah pasti dibutuhkan jalur koneksi khusus ke pesawat. Layanan itu sudah ada, tapi tentu tak sembarang maskapai mampu menyajikan tontonan akbar tersebut secara optimal, tanpa akses khusus, maka akan ada latensi pada tayangan streaming seperti pertandingan sepak bola.

Untuk memastikan para penggemar tidak melewatkan momen aksi dari pertandingan Piala Dunia, sejumlah maskapai penerbangan global menawarkan tayangan olahraga langsung di pesawat.

Dikutip thenationalnews.com (18/11/2022), maskapai seperti Emirates, Etihad Airways, dan Qatar Airways semuanya akan menawarkan Sport 24 dan Sport 24 Extra, yaitu saluran televisi olahraga langsung yang akan menayangkan semua pertandingan dari Qatar. Selain maskapai regional, saluran tersebut juga tersedia di maskapai Aeromexico, American Airlines, JetBlue, Singapore Airlines, Turkish Airlines, dan Vistara.

Baca juga: Qatar Airways Tutup Rute ke Negara Selain Peserta Piala Dunia 2022

Selain 200 armada pesawatnya yang dilengkapi dengan siaran TV langsung, Emirates mengatakan bahwa Sport 24 juga akan tersedia di ruang tunggu pesawat A380, serta ruang tunggu beberapa bandara besar global.