Bagaimana Cara Ketahui Pesawat yang Ditumpangi Sudah Tua Hanya dengan Melihatnya?

Belum lama ini viral pesawat Qantas penuh dengan tambalan di bagian atas sayapnya. Banyak yang menduga itu karena pesawat sudah terlalu tua dan memiliki konsekuensi terhadap keselamatan. Terlepas dari itu, sebetulnya bagaimana cara penumpang mengetahui bahwa pesawat yang ditumpangi sudah tua hanya dengan mata?

Baca juga: Hawker Siddeley 748 Air North Pensiun Setelah 51 Tahun Mengudara! Masih Ragukan Pesawat Tua?

Langkah awal yang paling mudah tentunya melihat tipe pesawat. Ambil contoh pesawat dari keluarga Boeing 737. Andai pesawat itu adalah Boeing 737-100 atau generasi pertama, pastinya itu sudah sangat tua lantaran sudah lama beroperasi.

Di samping itu keluarga pesawat tersebut juga terus kedatangan anggota baru (tipe baru), Boeing 737 MAX. Dari segi desain dan karakteristik, tentu saja banyak perbedaan antara pesawat Boeing 737 generasi pertama dengan MAX. Bagi penumpang yang mengikuti perkembangan pesawat tersebut, tentu ini bukan perkara mudah. Sebaliknya, ini akan sulit dilakukan oleh penumpang awam.

Karena itu, dalam konteks mengetahui sebuah pesawat sudah tua hanya dengan melihatnya, penumpang bisa melihat pelat pesawat di bagian dalam di atas pintu utama pesawat. Di sana, tertera pesawat apa, tipe, serial number pabrik, sertifikat, sampai nomor sertifikat dikeluarkan. Setali tiga uang, penumpang juga bisa melihat nomor registrasi pesawat di bagian luar.

Baik informasi di pelat pesawat di bagian dalam kabin maupun nomor registrasi di bagian luar, itu bisa ditindaklanjuti di internet melalui berbagai platform untuk mengetahui kapan pesawat tersebut dibuat.

Cara lainnya, menurut salah satu pengguna Quora, itu bisa dilakukan dengan memperhatikan beberapa detail, seperti karpet di lorong pesawat sudah sangat tipis dan ini bisa terlihat oleh mata perbedaannya dengan karpet yang masih tebal. Hal yang sama juga bisa dilihat dari kursi pesawat yang biasanya cenderung terpampang jelas bekas lekukan.

Ada juga cara mengetahui pesawat sudah tua atau belum dengan cara melihat tampilan eksterior secara keseluruhan. Kendati pesawat setiap dua sampai enam bulan sekali dicuci steam layaknya motor-mobil, namun cat pesawat yang sudah memudar tak bisa dibohongi. Itupun juga biasanya bisa saja maskapai mengecat ulang pesawat.

Akan tetapi, besarnya biaya membuat maskapai lebih memilih melakukan pemeliharaan di bagian interior dan komponen yang berhubungan dengan keselamatan dan keamanan penerbangan.

Baca juga: Nyaris 54 Tahun, Ini Pesawat Komersial Aktif Tertua di Dunia

Sebetulnya, usia tidak berbanding lurus dengan performa pesawat. Pada pesawat, yang paling menentukan adalah jam terbang. Bisa saja sebuah pesawat sudah tua tetapi secara jam terbang masih rendah lantaran tidak terlalu aktif digunakan. Dengan begitu, pesawat masih aman untuk digunakan sekalipun sudah tua.

Pengamat penerbangan Gerry Soejatman, dalam sebuah wawancara di program berita CNN Indonesia, pernah menyebut bahwa pesawat sejatinya adalah benda mati. Begitu komponen yang ada sudah tak lagi berfungsi secara optimal, ia tinggal diganti saja dengan yang baru dan pesawat pun sehat kembali. Berbeda dengan manusia sebagai benda hidup yang meski digonta-ganti komponen atau organ tubuhnya, tetap saja, akan ada masalah. Sebab, faktor usia amat menentukan.

Arti Kode ‘SSSS’ di Boarding Pass Penerbangan Internasional, Penumpang Wajib Waspada

Pada penerbangan internasional, penumpang diidentifikasi dengan lebih detail dibanding penerbangan domestik. Karenanya, beberapa penumpang pesawat ‘ditandai’ oleh otoritas bandara tujuan akhir dengan kode ‘SSSS’. Kode ‘SSSS’ pada boarding pass tidak selalu identik dengan negatif, tetapi penumpang harus waspada saat mendapatkannya.

Baca juga: Di Bandara AS, Boarding Pass dan KTP ‘Haram’ Saat Lewati Boarding Gate

Dikutip dari Quora, kode ‘SSSS’ pada boarding pass merupakan kepanjangan dari Secondary Security Screening Selection yang artinya adalah Seleksi Pemeriksaan Keamanan Sekunder. Kode ini dibuat oleh sistem keamanan bandara Amerika Serikat (AS), Transportasion Savety Administration (TSA) untuk penerbangan ke wilayahnya.

Ada beberapa hal yang mendasari TSA mengeluarkan kode SSSS pada borading pass seorang penumpang. Pada prinsipnya ini didasari kecurigaan dari beberapa gelagat atau hal yang tak biasa, seperti membayar cash (tunai) untuk penerbangan, membeli tiket kurang dari dua pekan atau bahkan hitungan jam, membeli tiket penerbangan sekali jalan, termasuk catatan penerbangan penumpang.

TSA juga melihat indikator lainnya sebagai dasar untuk memasukkan seorang penumpang dalam kode ‘SSSS’, seperti terbang dari, ke, atau melalui negara-negara yang dianggap “berisiko tinggi” oleh Departemen Luar Negeri, memiliki kemiripan dengan seseorang di daftar pengawasan Departemen Keamanan Dalam Negeri dan DPO interpol.

Beberapa latar belakang di atas untuk menandai boarding pass penumpang dengan kode ‘SSSS’ sebetulnya sangat wajar karena beberapa hal. Di era digital, semua rekam jejak kehidupan, mulai dari catatan keuangan, belanja, identitas, perbankan, transaki, dan lain sebagainya, itu semua tercatat di big data.

Maka dari itu, cara yang paling mudah untuk menghindari rekam jejak data transaksi adalah dengan melakukannya secara tunai. Dengan begitu, tidak ada catatan perbankan dan turunannya.

Membeli tiket penerbangan internasional sekali jalan tanpa membeli tiket kembali dan membelinya mendekati hari H, itu jelas tidak lazim; kecuali penumpang yang bersangkutan adalah warga pribumi yang kembali dari luar negeri.

Lebih mencurigakan lagi apabila penumpang melakukan itu (terbang sekali jalan, membelinya dengan uang tunai, dan mendekati hari H) dengan keberangkatan awal dari bandara di negara konflik atau yang dicap berisiko tinggi. Sudah pasti penumpang tersebut akan mendapati kode ‘SSSS’ di boarding pass-nya.

Baca juga: Penumpang Pesawat Mesti Jeli, Ini Kelemahan e-Boarding Pass yang Merepotkan

Selain penerbangan internasional, kode ‘SSSS’ juga bisa didapat oleh penumpang tujuan domestik, dalam hal ini AS yang mempelopori pengguna kode tersebut. Menurut salah satu pengguna Quora, dari ratusan penerbangan yang dijalaninya secara rutin, ia hanya sekali mendapati boarding pass-nya tertera kode ‘SSSS’.

Dari segi pemeriksaan di gate pemeriksaan, ia memang diperlakukan lebih ketat dibanding penumpang lain. Detail dan gelagatnya diteliti dengan jeli oleh petugas.

Tahukah Anda, Pesawat Take-off dengan Kecepatan Rendah Bisa Berujung Petaka

Tak sedikit penumpang yang merasakan takut sesaat menjelang pesawat lepas landas (take-off), pasalnya dalam kondisi itu mesin pesawat dipacu kencang dengan suara yang lumayan keras menembus kabin. Lantaran menjadi situasi yang kurang nyaman, ada saja penumpang yang bertanya, apakah saat take-off kecepatan pesawat dapat diturunkan? Umumnya mereka berharap agar efek hentakan saat take-off dapat dikurangi.

Baca juga: Empat Faktor Eksternal Penyebab Kecelakaan Pesawat Saat Take Off dan Landing

Berangkat dari pertanyaan klasik di atas, sejumah penerbang dan mantan penerbang di forum quora.com memberikan beberapa pendapatnya untuk mencerahkan wawasan netizen. Sebut saja Ross Whittle, mantan pilot Emirates Airlines (2006 – 2016) menyebutkan, bahwa harus ada kecepatan minimum di mana sebuah pesawat dapat menghasilkan daya angkat yang cukup untuk menopang beratnya.

Di bawah kecepatan tersebut, maka sebuah pesawat tidak akan mampu lepas landas. Ada kasus pilot yang mencoba membuat pesawat lepas landas di bawah kecepatan ini, yang dalam kasus ekstrim menyeret ekor pesawat di sepanjang landasan (tail strike).

Lain dari itu, jika seorang pilot memutuskan berada pada kecepatan minimum ini, yang didapatkan bukan kecepatan efisien, karena menghasilkan jumlah drag yang tinggi. Ross Whittle yang kini menjadi instruktur penerbang di New South Wales, Australia menegaskan, kecepatan lepas landas harus diperhitungkan untuk memungkinkan pesawat mengudara dengan margin yang nyaman di atas kecepatan minimum dan dalam lower drag regime.

Pada intinya, perlu kecepatan tertentu untuk bisa mengudara, di bawah itu, pesawat hanya akan membuat semacam lompatan, dan pesawat akan angsung turun lagi, tentu menjadi masalah besar jika jarak landasan yang tersisa tidak memadai.

Berapa kecepatan minimum pesawat yang diperlukan untuk take-off, itu pun bergantung pada beberapa faktor, yang paling mudah dipahami bahwa kecepatan yang diperlukan bergantung pada bobot pesawat itu sendiri, kecepatan angin dan suhu. Sebagai ilustrasi, pada kondisi suhu tinggi seperti di wilayah gurun, maka pesawat membutuhkan tenaga dan kecepatan ekstra saat take-off, yaitu untuk meningkatkan daya angkat.

Baca juga: Pesawat Lepas Landas dalam Kondisi Suhu Tinggi, Ternyata Bikin Maskapai Merugi

Secara teori, meningkatnya suhu atau temperatur berarti akan mengurangi kemampuan daya angkat pesawat. Suhu yang lebih tinggi menyebabkan udara yang kurang padat, yang mengurangi gaya angkat pada sayap pesawat. Dengan kondisi lebih sedikit daya angkat, berarti jarak lepas landas akan meningkat. Jika jarak lepas landas tidak dapat ditingkatkan, maka mau tak mau pesawat perlu beroperasi di bawah batasan berat yang berbeda, atau pesawat harus mengurangi kapasitas muatannya.

Tragedi Aeroflot Flight 3932, Kecelakaan Paling Mematikan Kedua Tupolev Tu-104

Aeroflot mempunyai sejarah kelam bersama pesawat yang dilabeli sebagai pesawat paling mematikan di dunia, Tuploev Tu-104. Ketika itu, pesawat tengah beroperasi di rute Sverdlovsk (sekarang dikenal sebagai Yekaterinburg) ke Vladivostok via Omsk, Novosibirsk, Chita, dan Khabarovsk. Namun nahas, beberapa saat setelah lepas landas, pesawat jatuh dan menewaskan 100 penumpang serta 8 kru. Peristiwa ini pun dikenang sebagai kecelakaan paling mematikan kedua yang melibatkan pesawat itu.

Baca juga: Kisah Tupolev Tu-114, Pesawat Turboprop Tercepat, Terbesar, dan Jangkauan Terjauh di Dunia

Tupolev Tu-104 memang menjadi salah satu kebanggan Uni Soviet 9Rusia) saat itu di sektor pesawat sipil sebagai pelopor penerbangan jet komersial Soviet dan salah satu pesawat jet pertama di dunia. Namun, fakta berbicara lain.

Pesawat yang didesain oleh Biro Desain Tupolev itu dianggap sangat tidak bisa diandalkan dan tidak terkontrol. Pesawat itu kerap mengalami Dutch roll, yaitu berguling ke satu arah dan berayun ke sisi lain. Tu-104 juga sangat rentan mati mesin pada kecepatan rendah. Selain itu, kualitas elektronik di dalam pesawat itu sangat buruk.

Banyak pilot yang mengeluhkan karakteristik pesawat tersebut. Namun, para perancang Tu-104 di biro Tupolev menolak menerima kenyataan bahwa ada sesuatu yang salah dengan pesawat itu dan malah menuduh para pilot tidak profesional.

Meski begitu, pada akhirnya, Tupolev Tu-104 pun dinobatkan oleh banyak pihak menjadi pesawat penumpang Soviet paling berbahaya dalam sejarah. Dari 201 unit yang diproduksi, 37 atau hampir seperlimanya hilang dalam kecelakaan udara menewaskan 1.137 orang; termasuk di dalamnya kecelakaan Tupolev Tu-104 Aeroflot Flight 3932 pada 30 September 1973.

Dihimpun dari berbagai sumber, pesawat dengan nomor registrasi CCCP-42506 diketahui sudah terbang selama 20 ribu jam terbang. Cuaca juga dilaporkan normal dengan jarak pandang 6 km dan suhu 3 derajat Celcius. Pesawat diawaki oleh pilot berpengalaman Kapten Boris Stepanovich Putintsev, kopilot Vladimir Andreevich Shirokov, Navigator Pyotr Gavrilirich Kanin, dan Flight Engineer Ivan Yakovlevich Raponov.

Setelah pre-flight check tuntas, pesawat lepas landas pukul 18:34 waktu Moskow atau 20:34 waktu setempat. Pilot diberi bantalan (bearing) 256 derajat menuju Omsk dan naik ke ketinggian 4.900 kaki. Pilot merespon dan menyebut akan menginformasikan bila sudah mencapai ketinggian tersebut.

Pukul 20:35, pesawat mengikuti prosedur dengan berbelok ke kiri 35 derajat. Sambil menambah ketinggian, pesawat terus miring 75 derajat dan berhasil mencapai ketinggian 3.900 kaki.

Pukul 20:37 waktu setempat, kru kokpit melaporkan kehilangan kendali pada pesawat. Tak lama kemudian pesawat dilaporkan jatuh di hutan Sverdlovsk, sekitar 10 km barat daya bandara, dengan kecepatan 150 knot, dan terbakar.

Dari hasil penyelidikan pihak berwenang, penyebab kecelakaan diidenfikasi karena kegagalan mekanis pesawat Tupolev Tu-104.

Baca juga: Tupolev Tu-334, Pesaing Fokker F28 Fellowship yang Tidak Pernah Beroperasi Komersial

Main artificial horizon dan compass system indicated menunjukkan informasi yang salah dan mengakibatkan disorientasi pilot. Itu kenapa pesawat terus miring 75 derajat dan terus miring sambil menambah ketinggian sampai akhirnya jatuh menghantam daratan.

Penyebab kecelakaan tersebut bukan kali pertama terjadi. Kecelakaan paling mematikan Tupolev Tu-104, yang terjadi sebulan setelah kecelakaan ini, juga terjadi karena mirip-mirip dengan itu, dimana terjadi electrical supply dan menyebabkan kegagalan multiple navigation instruments hingga mengakibatkan 114 penumpang dan 8 awak tewas.

Daftar Maskapai yang Operasikan Satu Tipe Pesawat Boeing dan Airbus, Ada Maskapai Indonesia

Boeing dan Airbus masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Meski begitu, bukan berarti keduanya harus ada dalam barisan armada maskapai untuk saling melengkapi. Justru sebaliknya, beberapa maskapai hanya mengoperasikan satu tipe pesawat saja, baik itu satu tipe pesawat Airbus maupun Boeing. Maskapai mana sajakah itu?

Baca juga: The New Garuda Indonesia Mau Pakai Satu Tipe Pesawat? Ini Untung-Ruginya

Dari berbagai sumber yang dihimpun, daftar maskapai yang mengoperasikan satu pesawat saja, yaitu pesawat Airbus adalah Frontier Airlines, Spirit Airlines, Allegiant Air, easyJet, AirAsia, dan Super Air Jet. Semua dari maskapai tersebut adalah maskapai LCC.

Sedangkan maskapai yang masuk dalam dalam daftar operator penganut prinsip satu tipe pesawat, dalam hal ini satu tipe pesawat Boeing, adalah Southwest Airlines, Ryanair, Xiamen Airlines (namun tahun depan akan mulai menggunakan Airbus A320neo), Akasa Airlines, dan Go2Sky (maskapai charter).

Banyak alasan kenapa maskapai memutuskan untuk menggunakan satu tipe pesawat saja, baik itu satu tipe pesawat Airbus maupun Boeing.

Keuntungannya, tentu efisiensi. Efisiensi bisa didapat dari berbagai lini, seperti biaya spare part, biaya training-sertifikasi pilot dan tim mekanik, fasilitas simulator dan mockup untuk pramugari, sampai diskon seiring tingginya kuantitas pembelian pesawat.

Meski begitu, menurut pengamat, efisiensi bisa maksimal bila menggunakan pesawat-pesawat Airbus ketimbang Boeing. Itu karena pesawat Airbus cenderung lebih universal atau komonalitas.

Satu keluarga pesawat, misalnya A320, meski ada peningkatan satu sama lain namun tidak jauh berbeda, membuat biaya training serta turunannya lebih murah dan cepat ketimbang Boeing, yang meski pesawatnya berasal dari tipe yang sama, misalnya keluarga B737, namun cenderung banyak perbedaan atau bahkan sangat berbeda.

Keuntungan lainnya ialah diskon besar. Sebagai contoh, Ryanair, sebagai maskapai yang mengoperasikan all-Boeing aircraft, memesan 200 pesawat Boeing 737 MAX. Dengan pesanan sebanyak ini, tentu diskon yang didapatkan maskapai berbeda dengan yang lain.

Ada keuntungan ada kekurangan atau kerugian. Kerugian menggunakan satu tipe pesawat saja oleh maskapai pastinya jangkauan terbatas, terutama jika dihadapkan pada pelayanan rute regional. Namun, dalam konteks maskapai LCC, dimana jangkauannya terbatas pada regional, masalah jangkauan terbatas akibat menggunakan satu tipe pesawat tentu tak ada masalah mengingat range-nya masih terjangkau.

Baca juga: 9 Maskapai Baru yang Lahir Selama Pandemi Covid-19, Dari Negara Mana Saja?

Kerugian lain maskapai hanya menggunakan satu tipe pesawat ialah masalah manajemen. Dalam kasus Boeing 737 MAX, tak ada yang pernah menyangka bahwa jenis pesawat itu di-grounded sampai setahun lebih. Bayangkan bila ketika itu ada maskapai yang hanya mengoperasikan MAX, sudah pasti bisnisnya akan ikut berantakan.

Sudah begitu, ketergantungan terhadap satu produsen pesawat juga tak baik untuk bisnis maskapai itu sendiri.

Inilah Nautilus, Desain Superyacht Hybrid, Bisa Jadi Kapal Permukaan dan Kapal Selam

0

Meski terdengar bak khayalan, namun tak sedikit inovasi canggih yang hadir saat ini berasal dari konsep atas rancangan yang telah dipikirkan pada empat dekade lalu. Terkait hal tersebut, U-Boat Worx, perusahaan perkapalan yang berbasis di Belanda, belum lama ini merilis desain kapal hybrid futuristik, berupa superyacht-submarine yang bisa berubah moda, dari kapal permukaan menjadi kapal selam.

Baca juga: Day Limo, Perahu Amfibi Keluaran Iguana Yacht, Oke di Darat dan Lautan

Dikutip dari robbreport.com, konsep superyacht hybrid ini diperkenalkan dalam ajang Monaco Yacht Show 2022. Idenya berupa kapal yang punya panjang lambung 37,4 meter dan berat 1.250 ton. Untuk namanya, wahana ini diberi label Nautilus.

Nautilus dalam desainnya ditenagai sistem propulsi diesel-listrik yang memungkinkannya untuk berlayar melintasi lautan dengan kecepatan hingga 9 knots atau melakukan perjalanan di bawah air dengan kecepatan 4 knots. U-Boat Worx menyebut, Nautilus dapat menyelam sampai kedalaman 200 meter.

“Orang-orang yang telah memutuskan untuk membeli kapal pesiar sekarang harus mempertimbangkan apakah kapal pilihan mereka juga dapat menyelam hingga kedalaman 200 meter,” kata ketua dan pendiri U-Boat Worx Bert Houtman dalam sebuah pernyataan.

Kapal selam superyacht Nautilis diklaim dapat bertahan di bawah air hingga empat hari, tetapi hanya dapat berlayar di bawah air selama enam jam setiap kali berlayar. Sebagai bonus tambahan, Nautilus dapat melarikan diri dengan cepat saat menghadapi air yang bergelombang tinggi. “Jika laut menjadi terlalu ganas, Anda cukup menyelam dan melanjutkan perjalanan dengan nyaman,” tambah Houtman.

Baca juga: FB277 – Superyacht Serba Komplit yang Siap Disewakan Per Juni 2019

Interior mewah Nautilus menawarkan semua kenyamanan superyacht dan dapat disesuaikan sepenuhnya oleh klien. Sebagai standar, tata ruangnya terdiri dari gabungan lounge dan ruang makan seluas 538 kaki persegi, bersama dengan dapur lengkap, satu suite pemilik, empat kabin dan tempat tidur hingga enam awak. Anda juga akan melihat pemandangan bawah laut yang luar biasa, berkat jendela melingkar yang besar di sekelilingnya.

U-Boat Worx mengatakan Nautilus dapat dibuat dan dikirimkan ke pelanggan dalam waktu 30 bulan. Untuk harga, Nautilis ditawarkan mulai dari US$24,5 juta.

Bagaimana Cara Pilot Masuk ke Kokpit Pesawat Saat Terkunci dari Luar?

Insiden terkait pesawat tak melulu soal kecelakaan melainkan ada hal lain lebih sederhana, seperti pilot terkunci dari luar pintu kokpit. Meskipun secara prosedur ini tidak mungkin terjadi dalam sebuah penerbangan karena kokpit tidak boleh kosong, namun andaipun terjadi, bagaiamana cara pilot masuk ke dalam kokpit?

Baca juga: Bagaimana Cara Kerja Pintu Kokpit Cegah Pembajakan? Berikut Ulasannya

Salah satu pengguna Quora menyebut, pintu kokpit pesawat modern setidaknya memiliki lima komponen utama, mulai dari pintu anti peluru dengan tambahan electronic triple bolt, lubang intip (peephole), kamera di kabin untuk memantau aktivitas penumpang dan kru, panel kontrol pintu kokpit dengan tiga mode (normal, lock, dan unlock), serta panel keyboard di area kabin dan telepon untuk komunikasi kru dengan pilot.

Sebagai bagian dari standar keamanan terbang, setiap pramugari yang hendak masuk ke kokpit, diharuskan membunyikan bel terlebih dahulu. Kru kokpit kemudian dapat mengecek secara visual dengan fitur lubang intip atau kamera. Bila benar pramugari, tentu akan dibukakan, bila tidak, jangan harap pilot akan membukanya.

Lagi pula, bila kedapatan bukan pramugari yang mengetuk atau menggedor pintu, bisa dipastikan, pilot akan mengaktifkan pengamanan tambahan pintu kokpit dengan mode ‘lock’ dalam keadaan on. Otomatis, tiga baut tambahan akan memperkuat ketahanan pintu kokpit terhadap segala macam bentuk pembobolan.

Hanya saja, terkadang, situasi dan kondisi tetap mengharuskan pintu kokpit harus dibuka dari luar. Misalnya, pilot pingsan akibat turbulensi, terbang melebihi batas ketinggian maksimum pesawat, pingsan karena gangguan kesehatan, atau bahkan terkunci dari luar setelah ditinggal pergi ke toilet. Dalam kondisi tersebut, mau tak mau pintu kokpit harus bisa dibuka dari luar.

Mengantisipasi hal itu, regulator penerbangan sipil dunia memberi akses masuk dari luar pintu kokpit bagi awak kabin, termasuk pilot, dengan menggunakan kode khusus di keypad yang tersedia dekat pintu kokpit. Setelah kode khusus tersebut diakses, pintu tak serta merta terbuka. Harus menunggu 30 detik. Pendapat lain menyebut 5-10 detik.

Saat kode akses masuk pintu kokpit berhasil dimasukkan dengan benar akan ada alarm yang berbunyi dan indikator yang menyala di kokpit.

Dalam keadaan normal, pilot dan kopilot memiliki dua pilihan, unlock atau lock. Bila ‘unlock’ yang dipilih, maka seketika pintu kokpit bisa dibuka. Sebaliknya, bila ‘lock’ yang dipilih, maka pintu kokpit akan tetap terkunci dan keypad akses di luar tidak berfungsi selama beberapa waktu.

Baca juga: Kenapa Pintu Kokpit Harus dalam Keadaan Terkunci dan Anti Peluru? Berikut Ulasannya

Selain dua pilihan itu, sesuai dengan konteks pertanyaan di awal dimana pilot terkunci dari luar pintu kokpit, menyisakan satu pilihan lain yaitu tidak merespon unlock ataupun lock. Di kondisi ini, pintu kokpit akan tetap terkunci selama beberapa waktu sambil mengeluarkan alarm cukup kencang di kokpit. Ini dimaksudkan agar pilot-kopilot sadar dari tidur atau pingsan agar bisa merespon permintaan masuk dari luar pintu kokpit.

Setelah itu, kode akses berfungsi kembali dan pilot yang terkunci dari luar bisa memasukkan kembali kode akses, menunggu beberapa saat dan pintu kokpit dapat dibuka sebelum menutup dan terkunci lagi secara otomatis.

Dalam Penerbangan Jarak Jauh, Inilah yang Dilakukan Pilot untuk Mengatasi Jenuh

Dalam penerbangan jarak jauh yang memakan waktu lama, tersebit dipikiran penumpang, apa saja yang dilakukan pilot di dalam kokpit? Mengendalikan dan memantau tools navigasi penerbangan itu sudah jelas, tapi apakah di penerbangan yang panjang hingga belasan jam, pilot tidak bisa melakukan hal yang lebih santai? Toh, pilot didampingi oleh kopilot, sehingga beban pekerjaan dapat dibagi.

Baca juga: Sterile Cockpit Rule, Inilah Aturan yang Melarang Pilot dan Kopilot ‘Ngobrol’ Selama Penerbangan

Untuk menjawab pertanyaan di atas, diskusi di quora.com menjadi menarik untuk disimak, lantaran beberapa komentar diutarakan oleh pilot atau mantan pilot. Pendapat umum mengungkapkan bahwa pilot ‘tetap’ cukup sibuk di kokpit, berbicara dengan petugas ATC (Air Traffic Control), memantau pembakaran bahan bakar, update kondisi cuaca di wilayah tujuan.

Namun, ‘selama masa tenang’, salah satu yang dapat dilakukan untuk mengatasi kejenuhan adalah dengan bermain “bagaimana jika”. Semisal awak kokpit menyajikan skenario darurat atau mendesak, dan rekan lain bekerja mencari solusi. Hal ini akan melibatkan pengetahuan tentang sistem pesawat, peraturan udara, dan kesadaran situasional pada kondisi maksimal. Seringkali skenario akan mencakup cara terbaik untuk berinteraksi dengan awak kabin dan penumpang.

Lain dari itu, membahas rencana singgah (layover) selalu menjadi topik diskusi pada penerbangan yang panjang, serta hampir semua topik lain yang kemungkinan tidak terlalu menarik untuk mengalihkan perhatian kru dari tugas mereka.

Ada yang Kerap Dilanggar Pilot
Pendapat lain diungkapkan Randy Duncan, pilot komersial ini menyebut bahwa perusahaanya melarang membaca materi yang tidak relevan selama penerbangan. “Ini mungkin peraturan yang paling sering dilanggar,” ujar Duncan.

Sejauh ini, hal paling populer untuk dilakukan selama penerbangan panjang adalah membaca buku, koran, majalah, dan Kindles. “Saya telah melihat sangat, sangat sedikit di kokpit, di mana kapten melarangnya. Lelucon yang ada adalah seperti komentar, saya tidak membaca … saya hanya melihat gambar-gambarnya,” kata Duncan.

Duncan menambahkan, “saya tahu ini tampaknya sangat tidak profesional. Tetapi pesawat modern tidak membutuhkan pengawasan terus-menerus seperti yang mereka lakukan di masa lalu. Pilot terbang memeriksa pembakaran bahan bakar di setiap ketinggian penerbangan dan melacak navigasi serta komunikasi. Itu berarti bahwa kami selalu mendengarkan apa yang terjadi pada frekuensi dan pesawat. Dan tidak ada yang membaca untuk rekreasi di wilayah udara yang padat atau cuaca buruk.”

Namun, hal semacam di atas bisa ‘lepas kendali,’ sehingga awak kokpit perlu menjaga kesadaran yang baik tentang apa yang terjadi.

Kilas balik pada insiden yang terjadi di Oktober 2009, pilot maskapai penerbangan Northwest 188, larut dalam percakapan tentang program penjadwalan kru baru dan membuka laptop. Akibatnya, tidak ada yang mendengarkan radio atau memantau navigasi. Pesawat pun terbang melewati tujuan sejauh 100 mil. Seorang pramugari memperhatikan bahwa mereka seharusnya sudah mendarat saat itu dan memberi tahu pilot.

Baca juga: Waduh, Pilot Ryanair Operasikan Pesawat Sambil Mainin “Ayam-ayaman”

Dari hasil investigasi, diketahui bahwa pesawat tersebut telah kehilangan kontak dengan ATC selama hampir dua jam. Selain menjadi insiden yang memalukan, akibat yang ditimbulkan dari pilot yang ‘keasyikan’ ngobrol bisa membahayakan keselamatan penerbangan.

Militer Meksiko Dirikan Maskapai Penerbangan Komersial, Terinspirasi Kostrad TNI AD yang Dirikan Mandala Air?

Guacamaya Leaks membocorkan ribuan dokumen dari tentara Meksiko pekan lalu. Di antara dokumen tersebut, terdapat informasi yang menyebut Angkatan Darat Tentara Nasional Meksiko akan mendirikan maskapai penerbangan komersial. Isu ini pun menjadi bola liar selama beberapa hari belakangan, sebelum akhirnya dikonfirmasi Presiden Meksiko, Andrés Manuel López Obrador.

Baca juga: Mandala Airlines Akhirnya Bangkrut Walau Didukung Sandiaga Uno, Buntut Kecelakaan Flight 091?

Pada Selasa lalu, López Obrador mengungkapkan Angkatan Darat akan mendirikan maskapai penerbangan komersial. Rencananya, maskapai tersebut mulai aktif beroperasi pada tahun 2023 mendatang.

Tujuannya adalah untuk menggantikan beberapa maskapai penerbangan komersial yang bangkrut atau menutup rute-rute domestik dalam jumlah besar.

“Banyak tempat yang tidak bisa dijangkau dengan pesawat karena tidak dilayani oleh maskapai saat ini. Ada juga pengurangan penerbangan karena hilangnya Mexicana dan Interjet dan pemotongan (kapasitas) oleh Aeromar,” jelasnya.

Kami memiliki kota-kota yang dulunya memiliki penerbangan tetapi telah kehilangan konektivitas ini. Negara ini tumbuh dan akan tumbuh lebih banyak, tetapi kami membutuhkan lebih banyak maskapai penerbangan,” tambahnya, seperti dikutip dari media lokal El Universal.

Lebih lanjut, sang presiden mengungkapkan maskapai bentukan Angkatan Darat Tentara Nasional Meksiko itu harus menggunakan nama maskapai yang dahulu pernah eksis, Mexicana de Aviación. Nama maskapai tersebut sudah melekat dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sejarah Mesiko karena sudah berdiri sejak tahun 1920 dan harus menerima kenyataan pahit bangkrut pada tahun 2010 silam.

Meski tujuannya baik, namun, konstitusi Meksiko melarang pengelola bandara memiliki maskapai begitu juga sebaliknya.

Saat ini, Angkatan Darat Tentara Nasional Meksiko diketahui mengoperasikan tiga bandara, Bandara Felipe Ángeles, Bandara Palenque, dan Bandara Chetumal serta Bandara Internasional Tulum (yang sedang dibangun menjadi bandara masa depan Meksiko) di bawah perusahaan bernama Grupo Aeroportaurio Ferroviario de Servicios Auxiliares Olmeca Maya Mexica.

Karenanya, pihak Angkatan Darat bersama DPR Meksiko dan pemerintah berencana untuk mengubah konstitusi agar rencana tersebut legal dan bisa berjalan sesuai rencana.

Belum ada keterangan pasti maskapai baru bentukan Tentara Nasional Meksiko ini akan terbang ke rute mana saja. Namun, menurut Cirium, hanya ada enam rute penting yang hilang di Mexico City; Toluca-Acapulco, Mexico City-Tamuin, Mexico-Saltillo, Mexico-Palenque, Mexico-Poza Rica, dan Mexico City-Lazaro Cárdenas.

Rencananya, maskapai tersebut akan diperkuat 10 pesawat sewaan dan pesawat kepresidenan Boeing 787 Dreamliner yang sudah sejak tahun 2018 silam ingin dijual sang presiden.

Baca juga: Hari Ini, 17 Tahun Lalu, Bouraq dan Mandala Airlines Jadi ‘Korban’ Arogansi Militer AS dalam Insiden Bawean

Ini bukan kali pertama sebuah instansi militer sebuah negara mendirikan maskapai. Dahulu, salah satu kesatuan di TNI AD, Kostrad, pernah mendirikan dan mengoperasikan maskapai dalam waktu cukup lama. Maskapai itu adalah Mandala Air.

Dikutip Tirto, Mandala Air berdiri pada 17 April 1969 di bawah naungan PT Dharma Kencana Sakti milik Yayasan Dharma Putra (Kostrad). Meski berstatus sebagai pendiri, PT Dharma Kencana Sakti hanya memiliki 40 persen saham, lebih kecil sedikit dibanding PT Nusantara Ampera Bakti milik Bob Hasan sebesar 45 persen.
























Pesawat Ryanair Mendarat Selamat Meski ‘Dihantam’ Crosswind di Bandara Cristiano Ronaldo

Terlepas dari keindahan Pulau Madeira, Portugal, tanah kelahiran bintang sepak bola kenamaan dunia, Cristiano Ronaldo, tersebut pasti membuat siapapun yang berkunjung ke sana (menggunakan pesawat) takut sejadi-jadinya.

Baca juga: (Video) Pendaratan Mulus di Bandara Cristiano Ronaldo, Bandara Paling Berbahaya di Dunia

Betapa tidak, alih-alih mendarat di bandara besar nan aman, Pulau Madeira justru menawarkan bandara dengan runway pendek dan curam. Sedikit kesalahan sudah pasti akan fatal.

Bandara yang sempat berganti-ganti nama ini, mulai dari Bandara Saint Chatarina, Bandara Funchal, dan terakhir Bandara Internasional Cristiano Ronaldo, pertama dibuka tahun 1964 dengan dua landasan pacu sepanjang 1600 meter. Runway di sini juga diketahui beberapa kali direnovasi dan diperpanjang.

Kendati demikian, tetap saja, mendarat di sini bukan suatu hal yang menyenangkan, apalagi bila cuaca sedang tidak bersahabat. Seperti pendaratan oleh pesawat Ryanair belum lama ini.

Dilihat KabarPenumpang.com dari unggahan video dari Twitter @mundoaeroclub, tampak pesawat Boeing 737 Ryanair tengah melakukan landing approach. Usai mencapai posisi vertikal dengan runway, pesawat berbelok ke kanan 90 derajat dan menuju runway.

Semakin mendekati runway, pesawat semakin oleng dan membuat posisi pesawat tidak mengarah ke runway akibat dihantam crosswind atau angin dari arah samping. Dalam video tersebut tampak cuaca normal dan tidak sedang dilanda hujan deras.

Kendati begitu, pilot-kopilot tetap berupaya untuk menurunkan ketinggian pesawat sambil mengembalikan arahnya ke runway.

Namun tidak berhasil. Saat touchdown, main landing gear pesawat menyentuh landasan pacu, moncong pesawat masih mengarah ke 30 derajat ke kiri. Beruntung, kru kokpit berhasil menyeimbangkannya dan nose landing gear pun menyentuh runway bersamaan dengan arah laju pesawat yang lurus menuju ujung runway.

Di Madeira atau Bandara Cristiano Ronaldo, pendaratan seperti itu bukan kali pertama terjadi, melainkan sudah sangat sering. Pilot senior bahkan sangat menyukai sensai pendaratan pesawat di bandara yang masuk ke dalam daftar 10 bandara terekstrem di dunia itu.

Meski begitu, bandara paling ekstrem di dunia ini bukan berarti tidak pernah terlibat kecelakaan. Bahkan bisa dibilang cukup banyak terjadi kecelakaan sejak bandara pertama kali dibuka.

Salah satu yang paling fenomenal adalah kecelakaan pada 1980, dimana pesawat Boeing 727 yang terbang dari Brussel jatuh di ujung landasan saat akan mendarat dan menewaskan 131 penumpang. Sejak adanya kejadian itu, landasan pacu ini diperpanjang dengan sanggahan 150 tiang beton penopang.

Di luar itu, kecelakaan sering terjadi dengan jumlah korban tewas cukup beragam. Pada 5 Maret 1973, tidak lama setelah bandara ini di buka, sebuah Aviao Sud Caravelle 10R (Registrasi EC-BID) masuk ke laut dan menewakan tiga orang kru.

Empat tahun kemudian, tepatnya 19 November 1977, TAP Portugal perbangan 425, Boeing 727-200 terbang Brussels ke Madeira via Lisbon.

Baca juga: Banyak Kecelakaan Tapi Bandara Ini Mendapat Award Bergengsi

Setelah berputar, pesawat mencoba mendarat dalam keadaan cuaca yang buruk, pesawat mendarat panjang pada landasan pacu 24 dan terjun melewati tepian yang curam. Kemudian menabrak sebuah jembatan batu dan sayap kanannya rusak, lalu menabrak keras ke sebuah pantai. Api membakar pesawat dan menewaskan 131 penumpang dari 164 penumpang di dalamnya.

Ditahun yang sama tepatnya sebulan kemudian pada 18 Desember 1977, SA de Transport Aérien Penerbangan 730 di perbolehkan oleh pihak bandara untuk mendekati landasan pacu, sayangnya ketinggian pesawat tersebut dibawah 720 kaki dan menyebabkan pesawat menghantam laut, serta menewaskan 36 penumpang.