Fitur Emergency SOS Satellite di iPhone 14 Gratis Dua Tahun Pertama, Bagaimana Setelahnya?

Fitur Emergency SOS Satellite keluaran Apple yang disematkan pada smartphone iPhone 14, telah melambung namanya, yakni ketika efektif digunakan dalam kondisi darurat saat penyelamatan seorang pria yang tersesat di pedalaman Alaska.

Baca juga: Tersesat di Alaska, Seorang Pria Berhasil Diselamatkan Berkat Fitur Emergency SOS Satellite di iPhone 14

Sebagai fitur bawaan (embedded), Emergency SOS Satellite ditawarkan gratis untuk diakses. Tapi perlu diketahui, ternyata fitur itu tidak selamanya akan gratis. Dikutip dari 9to5mac.com, disebutkan Apple dengan bangga menyebut bahwa layanan pada fitur Emergency SOS Satellite dapat digunakan gratis selama dua tahun pertama. Lantas, bagaimana setelah dua tahun?

Sejauh ini belum ada informasi dari pihak Apple terkait pengenaan biaya fitur setelah dua tahun. Namun, berbagai opsi sangat mungkin terjadi. Dan berikut beberapa opsi yang mungkin bakal dikenakan untuk pengguna iPhone 14.

Langganan Berbayar
Ini dapat dibandingkan dengan layanan serupa yang ditawarkan oleh perusahaan lain, yang populer seperti Garmin InReach. Garmin menawarkan enam pilihan langganan yang berbeda, tetapi tiga di antaranya ditujukan untuk perusahaan yang membeli layanan untuk banyak anggota staf atau karyawan.

Tidak Berlangganan, Tetapi ada Biaya Penggunaan
Opsi lain yang disarankan beberapa orang adalah Apple tidak membebankan biaya berlangganan, tetapi membebankan biaya penggunaan setelah layanan digunakan.

Termasuk dalam Apple One
Opsi lain adalah Apple menyertakan fitur ini di dalam Apple One. Perusahaan jelas melakukan yang terbaik untuk mendorong pelanggan mendaftar paket langganan Apple, dan ini akan menjadi insentif tambahan yang berbeda untuk melakukannya.

Gratis
Kemungkinan terakhir adalah Apple tidak akan mengenakan biaya kepada pengguna. Namun, ada aspek positif dari citra dan promosi. Seperti pada kasus yang terjadi di Alaska, merupakan bentuk bahasa promosi yang sangat baik bagi Apple.

Baca juga: Jadi Kata Sakral dalam Situasi Darurat, Inilah Arti Penting Kata “Mayday”

Intinya, Apple jelas bermaksud untuk membebankan biaya untuk layanan tersebut ketika menyusun rencananya, jika tidak, Apple tidak akan mengatakan bahwa itu hanya disertakan untuk dua tahun pertama, tetapi jika kita mendapatkan banyak cerita ‘menyenangkan’ seperti di Alaska, mungkin perusahaan akan berubah pikiran dan mempertahankan layanan gratis untuk fitur canggih ini.

Dinilai Cocok untuk Messi-Ronaldo Dkk, Ini Sederet Keunggulan Pesawat Khusus Atlet

Piala Dunia 2022 Qatar memberi pelajaran penting betapa pentingnya kenyamanan pemain sepak bola saat di pesawat. Bagaimana tidak, Argentina, yang diketahui sudah berada di Qatar lima hari sebelum laga pertama melawan Arab Saudi dihelat, dianggap masih mengalami jet lag dan pada akhirnya tidak maksimal saat laga pertama sehingga berakhir dengan kekalahan.

Baca juga: Inilah Airbus UK Broughton FC, Tim Sepak Bola Resmi Airbus Berjuluk “Sang Pembuat Sayap”

Maka dari itu, banyak yang menganggap bahwa tim olahraga, dalam hal ini tim sepak bola, baik nasional maupun klub, membutuhkan pesawat khusus agar selama di perjalanan lintas benua para pemain tetap merasakan kenyamanan dan pada akhirnya tidak mengalami jet lag.

Tak cukup sampai di situ, dengan berbagai teknologi, para pemain juga justru bisa recovery selama dalam perjalanan, bukan malah sebaliknya, kelelahan. Berbagai kebutuhan tersebut pun mendorong kolaborasi Nike dan Teague guna menghasilkan sebuah konsep pesawat khusus untuk para atlet. Seperti apa?

Workout Room. Foto: Nike Teague

Dilansir onemileatatime.com, pesawat khusus atlet besutan dua perusahaan itu diklaim menjadi jawaban atas berbagai keluhan atlet, staf, pelatih, dan tim dokter saat mengarungi jadwal padat kompetisi.

Selama ini, mereka mengungkap bahwa perjalanan panjang atau singkat sekalipun yang tak didukung sarana prasarana memadai -dalam kaitannya dengan atlet- acap kali membuat performa tim menjadi kurang maksimal.

Setelah menjaring keluhan dan masukan dari mereka, Nike dan Teague berinovasi dengan konsep pesawat tersebut. Setidaknya, ada empat hal yang difokuskan di pesawat Boeing 787 Dreamliner khusus untuk para atlet atau tim olahraga ini, mulai dari pemulihan, sirkulasi, istirahat, dan berpikir.

Sleep Pod. Foto: Nike Teague

Pemulihan di sini maksudnya ialah meminimalisir efek negatif penerbangan pada pikiran dan tubuh; termasuk seolah memindahkan pusat pelatihan ke dalam pesawat melalui in-flight biometrics dan berbagai analisa untuk mempercepat diagnosis dan cedera.

Sirkulasi di sini lebih ke arah bagaimana menjaga stamina dan kebugaran para atlet selama di perjalanan, termasuk di dalamnya mendukung proses penyembuhan para atlet melalui berbagai sarana prasarana berteknologi canggih ataupun konvensional layaknya pusat kebugaran di darat.

Sedangkan istirahat ialah konsep untuk membantu seluruh atlet dan tim mendapatkan posisi atau strategi tidur yang ideal. Tujuannya, ketika bangun dan balik ke darat, seluruhnya bisa mendapatkan kembali kebugaran fisik seperti sediakala, untuk melanjutkan kompetisi.

Therapy Room. Foto: Nike Teague

Adapun berpikir, maksudnya ialah menciptakan ruang untuk pengelolaan mental dengan melihat kembali video pertandingan diselingi dengan analisis dari tim maupun pelatih, baik sebelum maupun sesudah pertandingan. Tujuannya, tentu agar tak mengulangi kesalahan yang sama dan membuat tim menelan kekalahan.

Baca juga: Rayakan Piala Dunia 2022 Qatar, Warga Serbu Pesawat ‘Nyangkut’ di Rofftop Mall di Brasil

Saat ini, pesawat Boeing 787 Dreamliner khusus atlet besutan Nike dan Teague masih sebatas prototipe dan tengah menunggu pesanan dari tim olahraga di dunia. Namum demikian, tim-tim olahraga di dunia dikabarkan antusias untuk bisa memiliki pesawat tersebut demi kesuksesan tim.

Diketahui, tim-tim olahraga di dunia umumnya lebih suka men-charter pesawat mengingat kebutuhan perjalanan udara mereka cukup rendah. Namun, tak sedikit tim-tim olahraga yang menganggarkan hingga jutaan dolar untuk mencharter pesawat; salah satunya tim football asal AS, New England Patriots, yang menganggarkan hingga US$4 juta per musim. Karenanya, mereka pun memutuskan untuk membeli pesawat Boeing 767 bekas pada 2017 lalu.

Dari Citra Satelit, Jalur Kereta Api Korea Utara – Rusia Mulai Hidup

Sejak merebaknya pandemi Covid-19 tiga tahun lalu, Korea Utara yang menggantungnya jalur ekspor impor lewat wilayah Rusia dan Cina, telah menutup jalur kereta ke kedua negara tersebut. Namun, belakangan jalur kereta dari Korea Utara, khususnya ke Rusia telah mulai terbuka kembali, apakah langkah pembukaan jalur kereta ini karena menurunnya pandemi? atau karena alasan lain?

Baca juga: Bikin Merinding! Korea Utara Luncurkan Rudal Balistik dari Kereta Api

Sebelumnya merebak kabar bahwa Korea Utara diduga ikut memasok amunisi ke Rusia dalam mendukung operasi khusus Rusia di Ukraina. Dikutip dari 38north.org (12/12/2022), citra satelit komersial PlanetLabs, baru-baru ini menunjukkan barang-barang telah dikirim dari Rusia ke stasiun kereta api Korea Utara yang dijaga ketat di Tumangang.

Pada akhir November dan awal Desember 2022, kargo yang dibongkar terlihat berada di samping kereta setidaknya dua kali. Kegiatan ini terjadi sekitar sebulan setelah kereta api pertama terpantau melintasi Jembatan Tumangang, yang menghubungkan kedua negara dalam beberapa tahun.

Korea Utara (Korut) mengumumkan pada bulan September bahwa mereka akan melanjutkan lalu lintas kereta api dengan Rusia, yang telah ditangguhkan selama hampir tiga tahun karena pandemi. Berdasarkan aktivitas baru-baru ini, perdagangan antara kedua negara telah dilanjutkan. Area penanganan kargo yang diperluas di Tumangang juga menunjukkan bahwa Korut mengantisipasi peningkatan volume barang dibandingkan tahun-tahun sebelum pandemi.

Pada tanggal 29 November, kereta delapan gerbong yang terpasang pada lokomotif muncul di Stasiun Khasan, yang merupakan stasiun Rusia terakhir sebelum melintasi perbatasan Korea Utara.

Sebagai negara sosialis komunis, Korea Utara memberlakukan prosedur keamanan yang ketat, termasuk pada komoditas yang melewati perbatasan. Sebuah fasilitas keamanan berada sekitar satu kilometer dari Jembatan Persahabatan Tumangang yang melintasi ke arah Rusia.

Korea Utara juga telah melanjutkan perdagangan dengan Cina melalui kereta api dari Dandong ke Sinuiju di sisi lain negara itu. Sebuah pusat karantina besar-besaran telah didirikan di sana di mana barang-barang menunggu beberapa bulan sebelum dikirim ke seluruh negeri.

Baca juga: Jembatan Sungai Yalu – Jembatan Kereta Penghubung Cina dan Korea Utara

Area karantina yang begitu luas belum didirikan di Tumangang, yang menunjukkan bahwa penyeberangan perbatasan Rusia tidak mungkin menerima kargo sebanyak yang dibawa oleh kereta dari dan ke Cina, tetapi ini adalah tanda lain dari lambatnya Korea Utara membuka diri ke dunia seperti tren pandemi Covid-19 yang berkurang.

Ingkar Janji, Elon Musk Suspend Akun Twitter yang Lacak Jet Pribadinya

Akun Twitter @ElonJet yang kondang dikenal dengan konten melacak penerbangan jet pribadi Elon Musk, Gulfstream G650ER dengan nomor registrasi N628TS, akhirnya di-suspend Twitter. Akun yang dikelola mahasiswa University of Central Florida bernama Jack Sweeney itu dianggap Twitter telah mengganggu privasi Elon Musk dan mengancam keselamatannya.

Baca juga: Pasca Beli Twitter, Elon Musk Janji Tak Akan Blokir Akun @ElonJet yang Ganggu Privasinya 

Sebelum resmi di-suspend atau ditangguhkan, sejak Elon Musk resmi membeli Twitter pada 27 Oktober lalu, akun @ElonJet terus dipantau oleh Twitter. Sepekan sebelum di-suspend, akun tersebut sempat shadow-banned atau penangguhan parsial dimana akun tersebut tidak ditemukan saat dicari di fitur pencarian (searching), baik oleh akun yang sudah mem-follow ataupun belum.

Saat shadow-banned ini berlangsung, tak sedikit followers-nya yang memposting sekaligus mengetag akun sang pemilik, @JxckSweeney, untuk meminta kejelasan terkait apa yang terjadi.

Sweeney pun merespon dengan memposting bahwa automated jet-tracking dibatasi dalam tingkat yang cukup serius. Dalam postingan tersebut, terselip juga informasi bahwa head of trust and safety Twitter, Ella Irwin, telah meminta ke timnya pemfilteran visibilitas yang ketat pada akun ElonJet. Itu kenapa akun tersebut sulit ditemukan. Namun, hari Selasa lalu, akun tersebut kembali berfungsi normal.

Sehari berselang atau pada hari Rabu, akun tersebut di-suspend sepenuhnya dan tetap tidak bisa diakses sampai berita ini ditulis.

Menaggapi itu, Sweeney membagikan sebuah gambar yang berisi email dari Twitter terkait alasan lebih rinci kenapa akun @ElonJet di-suspend. Disebutkan, itu karena akun tersebut melanggar aturan platform manipulation and spam dan itu tidak bisa ditolelir. Ini tentu membuat kaget avgeeks yang mengikuti perkembangan akun @ElonJet, termasuk tentu saja Jack Sweeney selaku pemilik.

“Saya cukup terkejut (akun @ElonJet di-suspend) setelah fakta bahwa dia mengatakan dia (Elon Musk) secara terbuka tidak akan melakukannya (men-suspend),” kata Sweeney dalam sebuah cuitan.

Diketahui Elon Musk sempat berjanji tidak akan menangguhkan akun @ElonJet yang telah membuatnya jengkel. Janji itu terlontar tak lama setelah ia membeli Twitter.

Mulanya, Jack Sweeney membuat voting online dengan narasi apakah Elon Musk akan memblokir akun Twitter @ElonJet atau tidak. 58 persen lebih dari 25 ribu voters menjawab ‘Ya’ atas pertanyaan tersebut.

Tak ingin itu menjadi bola liar, Elon Musk menulis cuitan di akun Twitter resminya yang mengungkapkan komitmennya terhadap kebebasan berekspresi sekalipun itu menimbulkan risiko keamanan.

Baca juga: Elon Musk – Sosok Dibalik Transportasi Ultra Modern

“Komitmen saya untuk kebebasan berbicara meluas bahkan untuk tidak melarang akun mengikuti pesawat saya, meskipun itu adalah risiko keselamatan pribadi langsung,” cuitnya. Kendati begitu, netizen pro Elon Musk tetap menyerang Jack Sweeney dan menuntutnya menutup akun @ElonJet. Jack pun menegaskan ia tidak akan menuruti permintaan itu. Ia memiliki landasan hukum yang jelas atas itu.

“Akun ini berhak memposting keberadaan jet, data ADS-B bersifat publik, setiap pesawat di dunia wajib memiliki transponder, Bahkan kebijakan Twitter AF1 (@AirForceTrack) menyatakan data yang ditemukan di situs lain diizinkan untuk dibagikan di sini sebagai dengan baik,” jelasnya melalui akun @ElonJet.

Muncul Teori Baru, Ini Sederet Teori Terpopuler Jatuhnya Boeing 777-200 Malaysia Airlines MH370

Teori demi teori jatuhnya pesawat Malaysia Airlines MH370 seolah tiada hentianya. Terbaru, pakar penerbangan asal Perancis, Gilles Diharce, mengungkapkan bahwa lokasi jatuhnya pesawat MH370 memang di Samudera Hindia, tetapi lokasi persisnya di Arc Ketujuh (7th Arc). Tak hanya itu, ia mengklaim dengan segala bukti yang dikantongi bahwa pilot sengaja menjatuhkannya di sana.

Baca juga: Satelit AS Temukan Pesawat MH370 di Hutan Kamboja! Cina dan Rusia Turun Tangan

Sebelum pakar yang juga mantan pengawas lalu lintas udara Angkatan Udara Perancis itu, sudah lebih dahulu ada banyak teori yang coba mengungkapkan dimana lokasi jatuhnya MH370, kenapa pesawat Malaysia Airlines MH370 menghilang tak terdeteksi, dan kenapa pesawat nahas itu juga tak kunjung ditemukan.

Sedikitnya, ada lima teori populer yang menyertai hilangnya pesawat 777-200ER Malaysia Airlines dengan nomor penerbangan MH370 rute Kuala Lumpur-Beijing. Berikut selengkapnya.

1. MH370 jatuh dan ditemukan di hutan Kamboja

Teka-teki jatuhnya pesawat Boeing 777-200ER Malaysia Airlines MH370 yang hilang kontak sejak 8 Maret 2014 silam memasuki babak baru. Setelah sebelumnya kuat diduga jatuh di Samudra Hindia, muncul temuan objek di hutan pedalaman Kamboja melalui citra satelit yang diduga jadi lokasi jatuhnya MH370.

Andre Milne dan timnya dari startup asal Amerika Serikat (AS), Unicorn Aerospace, saat ini sudah bertukar informasi dan gambar atas temuannya itu dengan data yang dimiliki Pentagon. Rencananya, awal tahun 2022, keduanya akan mengirim tim untuk mensurvei lokasi menggunakan drone yang dirancang khusus dalam misi MH370 mengingat sulitnya medan.

2. Lokasi jatuhnya diklaim berada di 1.993 km sebelah barat daya Perth

Insinyur penerbangan asal Inggris, Richard Godfrey, mengklaim telah menemukan lokasi jatuhnya pesawat Boeing 777-200ER Malaysia Airlines MH370 yang hilang kontak sejak 8 Maret 2014 silam. Pesawat nahas itu berada di 1.993 km sebelah barat Perth, 28 km dari lokasi pencarian terakhir oleh kapal AS pada tahun 2018 dan terletak 4.000 meter  di dasar laut.

3. Jalur palsu MH370

Pulau Jawa, Sabang, Pantai Sumatra, Banda Aceh, dan Lhokseumawe tercatut dalam sebuah penelitian terbaru terkait misteri hilangnya pesawat Boeing 777-200ER Malaysia Airlines MH370 pada 8 Maret 2014. Kelimanya diduga dilibatkan secara tidak langsung oleh pilot Zaharie Ahmad Shah untuk membuat jalur palsu, sebelum mengarah ke Selatan setelah dirasa aman.

Baca juga: Lokasi Jatuhnya Pesawat MH370 Ditemukan! Hanya 28 Km dari Lokasi Pencarian Terakhir

4. Kehabisan bahan bakar dan jatuh di Samudera Hindia

Pada Maret tahun lalu, pesawat diduga kehabisan bahan bakar setelah terbang tanpa arah selama tujuh jam akibat pilot kehilangan arah atau pilot pingsan/meninggal, sebelum akhirnya jatuh ke Samudera Hindia dengan kecepatan tinggi tanpa bisa dikendalikan pilot.

5. Jatuh di Laut China Selatan (LCS) akibat ditembak senjata laser

Jurnalis investigas asal Perancis, Florence de Changy dalam bukunya, The Disappearing Act: The Impossible Case Of MH370, seperti dikutip dari Republic World, menyebut “Pesawat jatuh akibat ditembak jet tempur, rudal atau sistem senjata laser baru yang sedang diuji di wilayah tersebut (Laut China Selatan, di Teluk Thailand, dekat Vietnam) pada saat itu.”

Kereta Penumpang Bertenaga Jet Bukan Fiksi, Ternyata ada di St Petersburg Rusia

Era Perang Dingin tak melulu pada persaingan dalam aspek persenjataan, di sektor transportasi misalnya, Uni Soviet tak mau kalah ketika ‘Barat” mengoperasikan pesawat penumpang supersonik Condorde, maka munculah kemudian Tupolev Tu-144. Nah, rupanya ada kompetisi lain di sektor teknologi transportasi yang terlupakan, yakni di segmen kereta cepat.

Baca juga: Mendapat Tentangan dari Oposan, Beginilah Sejarah Singkat Kereta Cepat Shinkansen

Di dekade 60 – 70-an, dunia tengah gandrung dengan munculnya kereta berkecepatan tinggi Shinkansen di Jepang, yang beroperasi perdana pada tahun 1964. Meski bukan digawangi oleh Amerika Serikat, Shinkansen dan Jepang adalah representasi dari teknologi barat. Belum lagi, kemunculan kereta cepat di Jepang, diikuti oleh pengembangan kereta cepat di Eropa Barat yang dipelopori oleh TGV di Perancis.

Dalam perspektif Perang Dingin yang kental akan propaganda antar kedua kubu, maka pencapaian teknologi kereta api menjadi parameter yang ikut diperhitungkan kala itu, terlepas dari kebutuhan dan permintaan pasar.

Dan tahukah Anda, bahwa Uni Soviet pernah meluncurkan kereta cepat bertenaga mesin jet. Ini bukan isapan jempol atau sekedar rekaan dalam film fiksi. Persisnya saat ini dapat dilihat sebuah kereta berdesain futuristik di halaman salah satu pabrik di di Kalininsky, St Petersburg, Rusia.

Meski terlihat rusak dan tidak terawat, di dekade 70-an, kereta cepat bertenaga jet ini pernah membetot perhatian dunia. Dengan berat 50 ton, kereta dengan mesin pesawat jet penumpang Yak-40 itu dalam pengujian mampu melesat hampir 300 km per jam.

Dikutip dari thesun.co.uk, kereta cepat bermesin jet itu secara resmi diberi label High Speed Laboratory Car dan diresmikan pada Oktober 1970. Panjang kereta itu mencapai 28 meter dan secara teori dapat mencapai kecepatan 350 km per jam.

Baca juga: Hari ini 40 Tahun Lalu, Kereta Cepat TGV Kebanggaan Perancis Meluncur Perdana

Namun, pengembangan kereta cepat bermesin jet tak dilanjutkan oleh Uni Soviet, alasannya ada kendala pada stabilitas kereta saat melesat di rel. Persoalan lain yang tak kalah pelik, polusi suara. Kebisingan khas mesin jet menjadi masalah serius saat kereta melintasi daerah padat penduduk.























Air India Borong 500 Pesawat Boeing dan Airbus, Terbesar dalam Sejarah

Air India selangkah lagi menyepakati kontrak pesanan sebanyak 500 pesawat Boeing dan Airbus senilai sekitar 100 miliar dolar AS. Ini akan menjadi pesanan dan nilai transaksi pembelian pesawat terbesar dalam sejarah dirgantara dunia.

Baca juga: Kenapa Beberapa Airbus A320 Air India Miliki Roda Pesawat Ekstra?

Menurut sumber Reuters, 500 pesanan pesawat itu termasuk 400 jet narrowbody dan 100 jet widebody. Lebih spesifik lagi, 100 pesanan pesawat widebody berupa puluhan Airbus A350, Boeing 787, dan Boeing 777.

Sementara itu, 400 pesanan pesawat narrowbody berupa Airbus A320neo, Airbus A321neo, dan Boeing 737 MAX. Sayangnya, slot pemesanan Airbus A321neo telah penuh sampai tahun 2028. Begitu juga dengan A320neo untuk pesanan dalam jumlah banyak. Karenanya, dalam waktu dekat, Air India mungkin akan kedatangan Boeing 737 MAX terlebih dahulu andai pesanan 500 pesanan tersebut terealisasi.

Sejak bergabung dan berada di bawah konglomerat Tata Group, Air India memang gencar melakukan berbagai manuver yang tujuannya membawa maskapai berjaya di pasar domestik maupun internasional.

Awal tahun ini, sederet perbaikan di internal telah dijalankan, mulai dari manajemen sampai penampilan pramugari yang notabene menjadi garda terdepan maskapai dalam melayani penumpang.

Dari segi aksi korporasi, Air India gencar melakukan berbagai kerja sama dan puncaknya belum lama ini, maskapai menyepakati merger dengan Vistara Airlines milik Singapore Airlines dan Tata Group. Usai merger, Vistara Airlines akan beroperasi menggunakan bendera Air India dan membuatnya menjadi semakin besar, sesuai rencana jangka panjang perusahaan dalam mendominasi pasar domestik dan internasional.

Saat ini, pasar penerbangan domestik di India masih dikuasai oleh IndiGo. Kendati begitu, Air India menjadi maskapai internasional terbesar di India. Tidak mudah menggeser IndiGo sebagai penguasa pasar domestik India.

Sebelum Air India investasi besar-besaran di bawah kepemimpinan Tata Group, IndiGo jauh lebih dahulu melakukannya dengan memesan pesawat narrowbody dalam jumlah besar. Catatan Simple Flying, pesanan 300 Airbus A320neo IndiGo pada tahun 2019 bahkan masuk dalam daftar pesanan pesawat terbesar dalam sejarah dirgantara internasional.

Di pasar penerbangan internasional, sejumlah pengamat meragukan sepak terjang Air India. Saat ini, maskapai-maskapai mapan dengan reputasi tinggi dan modal berlimpah seperti Emirates, Etihad Airways, Qatar Airways, Singapore Airlines, British Airways, dan Lufthansa Group, telah menguasai market pasar penerbangan internasional.

Butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun jaringan ke seluruh penjuru dunia dan mengalahkah deretan maskapai tersebut.

Baca juga: Singapore Airlines-Air India Bahas Meger Vistara, Mau Kuasai Pasar Penerbangan India?

Meski begitu, India, dengan market penerbangan domestik terbesar di dunia di tahun-tahun mendatang dan mengalahkan Cina, serta banyaknya ekspatriat India di luar negeri yang terpanggil dengan konsep besar ekonomi di bawah PM Modi, amat menjanjikan bagi Air India.

Setidaknya, maskapai itu (Air India) akan dipilih oleh kalangan ekspatriat dan kolega dalam melakukan perjalanan bisnis dari dan ke India, alih-alih memilih Emirates, yang saat ini menguasai pasar penerbangan internasional India.

McLaren dan Skunk Works Berkolaborasi, Adopsi Teknologi Penerbangan ke Otomotif

Apa yang terjadi bila pabrikan balap otomotif berkolaborasi dengan biro desain pesawat tempur siluman? Maka bisa diterka, keduanya akan melalirkan produk yang benar-benar spektakuler dengan spesifikasi yang boleh jadi di luar kelaziman. Persisnya, McLaren telah mengumumkan kemitraan pada hari Senin lalu dengan tim Skunk Works Lockheed Martin.

Baca juga: London North Eastern Railway Nantikan Sistem Sensor Bangku Karya McLaren

Bila nama McLaren sudah kental dalam dunia balap otomotif, terutama dengan mobil balap F1, maka Skunk Works Lockheed Martin, namanya juga sangat tersohor dalam jagad dunia militer. Skunk Works Lockheed Martin adalah unit desain yang merancang hadirnya pesawat intai (mata-mata) legendaris SR-71 Blackbird dan U2.

Pihak McLaren menyebut kolaborasi keduanya akan mengeksplorasi aplikasi potensial dari perangkat lunak Skunk Works yang ada. McLaren mengatakan kemitraan ini akan memungkinkan mereka untuk fokus pada penerapan sistem desain Skunk Works yang dikembangkan untuk dunia penerbangan, ke dalam desain otomotif, khususnya supercar mutakhir dengan performa tinggi.

Mengingat sifat dari kerja sama tersebut, kemungkinan kemitraan antara McLaren dan Skunk Works akan lebih banyak mengoptimalkan proses pengembangan dan pemeliharaan mobil daripada apa pun yang akan dilihat oleh pelanggan McLaren pada kendaraan mereka.

Kolaborasi seperti ini terdengar bombastis, tetapi jangan berharap penerus McLaren P1 terlihat seperti pesawat hipersonik “Darkstar” yang muncul dalam film blockbuster “Top Gun: Maverick”. Kemungkinan manfaat penerapan teknologi baru ini – jika ada – tidak akan terlihat pada produk jadi yang dalam hal ini adalah supercar McLaren generasi berikutnya.

Untuk merayakan dimulainya kolaborasi dengan Skunk Works, McLaren membawa Artura bercat hitam ke markas Skunk Works di California High Desert, untuk berpose di samping prototipe Darkstar.

Baca juga: Tingkatkan Kualitas Layanan, MRT Singapura Gandeng McLaren Gunakan Teknologi Formula 1

Departemen proyek khusus Skunk Works Lockheed Martin bertanggung jawab atas beberapa jenis pesawat paling ikonik termasuk SR-71 Blackbird (1966), F-117 Nighthawk (1983), dan F-35 Lightning II (2006).

Hari Ini, 36 Tahun Lalu, The Rutan Model 76 Voyager jadi Pesawat Pertama Terbang Keliling Dunia Non-Stop

Pada hari ini, 36 tahun lalu, bertepatan dengan 14 Desember 1986, The Rutan Model 76 Voyager memulai penerbangan keliling dunia non-stop tanpa mengisi bahan bakar. Setelah melahap penerbangan 9 hari, 3 menit, dan 44 detik, sejauh 42.212 km, pesawat akhirnya mendarat dengan selamat pada 23 Desember 1986 dan menjadi pesawat pertama di dunia yang terbang keliling dunia tanpa mengisi bahan bakar.

Baca juga: Inilah Rutan Model 76 Voyager, Pesawat Pertama yang Keliling Dunia Tanpa Mengisi Bahan Bakar

Dilansir airandspace.si.edu, sebelum lepas landas, The Rutan Model 76 Voyager telah melalui proses pengembangan cukup panjang sekitar tahun 1978. Hal itu tak lepas dari tujuan dari penerbangan pesawat itu sendiri yaitu keliling dunia tanpa mengisi bahan bakar.

Karenanya, mulai tahap desain, konstruksi, sampai proses pengembangannya, dilakukan secara ketat agar semuanya berjalan lancar dan pada akhirnya The Rutan Model 76 Voyager menjadi pesawat pertama di dunia yang terbang keliling dunia non-stop tanpa mengisi bahan bakar.

Guna mendukung penerbangan keliling dunia tanpa mengisi bahan bakar, Voyager dibangun hampir seluruhnya terbuat dari bahan komposit sandwich sarang lebah dan serat grafit. Hal itu dimaksudkan agar pesawat menjadi lebih ringan dan pada akhirnya hemat bahan bakar.

Selama enam tahun, Voyager didesain, dibangun (konstruksinya), dan dikembangkan sedemikian rupa agar benar-benar siap melakukan penerbangan tersebut.

Pesawat ini dirancang oleh Burt Rutan, avgeek asal AS yang sudah berpengalaman membuat pesawat home made serta pendiri perusahaan Rutan Aircraft Factory (berubah menjadi Scaled Composites dan diakuisisi oleh Northrop Grumman), dibantu oleh ahli pesawat home made lainnya seperti, VariViggen dan VariEze, serta produsen pesawat Beech Starship.

Saat dirasa desain, konstruksi, dan proses pengembangannya sukses, tiga orang lainnya, Dick Rutan, Jeana Yeager, dan Bruce Evans menjadikan itu nyata dalam tempo 18 bulan. Ketiganya membuat pesawat itu di Pusat Uji Penerbangan Sipil, Bandara Mojave, California pada 22 Juni 1984, dan secara marathon dilakukan penerbangan perdana (first flight) di hari yang sama.

Pada 14 Desember 1986, pukul 8.01, The Rutan Model 76 Voyager memulai penerbangan keliling dunia usai lepas landas dari Edwards Air Force Base (Edwards AFB) atau Pangkalan Angkatan Udara Edwards, California, AS, diawaki oleh Dick Rutan dan Jeana Yeager dan kembali ke Edwards AFB pada 23 Desember pukul 8.05 waktu setempat.

Baca juga: Begini Kisah Pilot dalam Penerbangan 9 Hari Keliling Dunia Non Stop! Sempat Mau Mati Gegara Dehidrasi

Selama penerbangan pertama keliling dunia tanpa mengisi bahan bakar, Voyager menempuh jarak 42.212 km selama 216 jam, 3 menit, dan 44 detik, dengan kecepatan rata-rata 186 km per jam serta ketinggian jelajah rata-rata 2.438 meter guna menghemat bahan bakar. Terkait ketinggian, kadang kala pesawat harus terbang lebih tinggi mencapai 6.248 meter untuk menghindari badai.

Dalam perjalanan keliling dunia, pesawat menghadapi berbagai masalah. Namun, yang paling menantang tentu mengatur 17 tangki bahan bakar seberat 3 ton lebih agar tetap seimbang saat satu per satu tangki perlahan kosong.

Lufthansa Cargo Gunakan “Pallet Net Zero” – Jaring Kargo yang Bisa Menghemat 140 Ton Bahan Bakar

Dengan program keberlanjutan, pengurangan emisi, dan efisiensi bahan bakar yang menjadi perhatian utama maskapai penerbangan, maka mengatur bobot pesawat dan apa yang dibawanya telah menjadi topik yang semakin penting. Sebagai contoh, kursi yang lebih ringan adalah investasi yang intensif di segmen pesawat penumpang, seperti halnya meminta orang untuk membawa barang bawaan dengan berat lebih ringan. Namun, bagaimana untuk pasar pesawat kargo?

Baca juga: Terjadi Lagi, Pesawat Penumpang Dikonversi Jadi Pesawat Kargo Gegara Penerbangan Loyo 

Tentu saja, payload adalah alasan utama dari bisnis pengangkutan kargo, dan dengan demikian, sulit untuk meminta operator angkutan udara untuk membawa lebih sedikit. Tapi ada cara lain untuk mengurangi bobot pesawat kargo.

Lufthansa Cargo mengumumkan pada hari Senin lalu bahwa mereka memperkenalkan lighter transport net yang lebih ringan untuk mengamankan palet kargo. Dorothea von Boxberg, Ketua Dewan Eksekutif dan CEO Lufthansa Cargo AG, menyatakan bahwa penggunaan jaring kargo yang lebih ringan merupakan langkah lain bagi operator untuk mengurangi emisi CO2.

Cabang angkutan udara dari maskapai penerbangan Jerman ini telah menetapkan tujuan untuk mengurangi separuh emisi CO2 per kilogram saat terbang pada tahun 2030, dan setiap tindakan diperhitungkan, seperti mengurangi bobot peralatan pemuatan.

“Kami mengangkut barang ke seluruh dunia, itulah mengapa tanggung jawab global dan berkelanjutan, tindakan berwawasan ke depan adalah bagian dari DNA kami. Tujuan kami untuk tahun 2050 adalah menjadi 100 persen bebas CO2 di udara; di darat, kami ingin mencapai tujuan ini paling cepat tahun 2030.”

Jaring inovatif baru yang digunakan Lufthansa Cargo terbuat dari serat khusus dari bahan baku terbarukan. Karena kekuatan tariknya yang tinggi, beratnya antara sembilan dan sebelas kilogram, kurang dari setengah jaring konvensional yang terbuat dari poliester. Mereka akan menghemat Lufthansa Cargo sekitar 140 ton bahan bakar dan sekitar 440 ton CO2 setiap tahunnya.

Karena bobotnya yang lebih ringan, jaring ini juga akan lebih mudah dikelola tanpa mengorbankan persyaratan keselamatan teknis apa pun. Jaring tersebut diberi nama “Pallet Net Zero”, dan dibuat oleh perusahaan bernama AmSafe Bridport.

Baca juga: Pesawat Dilapisi Kulit Ikan Hiu, Lufthansa dan Swiss Airlines Ngaku Hemat Ribuan Ton Avtur Per Tahun

Lufthansa Cargo akan menggunakannya melalui anak perusahaannya Jettainer. Lufthansa Cargo mengatakan ini adalah maskapai pertama yang menggunakan jaring ringan untuk seluruh jenis palet.