Dear Penumpang, Naik Turkish Airlines Kini Bisa Nonton Bola Liga Champions UEFA Live di Pesawat

Turkish Airlines belakangan menyita perhatian akibat insiden penumpang WNI ngamuk di penerbangan rute Istanbul-Jakarta. Sebelumnya, maskapai nasional Turkiye (Turki) itu juga menyita perhatian publik usai menjadi maskapai pertama yang menjadi sponsor Liga Champions UEFA. Karenanya, tak heran bila kompetisi antar klub paling bergengsi di dunia itu bisa disaksikan live di pesawat Turkish Airlines.

Baca juga: WNI Serang Awak Kabin, Pesawat Turkish Airlines Istanbul-Jakarta Dialihkan ke Medan: Terancam Denda Rp100 Juta

“Kami senang dan bangga mengumumkan bahwa Turkish Airlines adalah sponsor resmi Liga Champions UEFA!,” kata maskapai dalam laman resminya.

“Sebagai Turkish Airlines, kami bersemangat untuk terbang ke kompetisi sepak bola paling bergengsi di dunia sebagai sponsor resmi Liga Champions UEFA. Membawa merek Turkish Airlines ke level baru, pertandingan Liga Champions UEFA akan disiarkan langsung di pesawat tertentu. Kami berharap dapat menawarkan penumpang penerbangan yang tak terlupakan!,” tambahnya.

Lebih lanjut, Turkish Airlines mengungkapkan bahwa siaran langsung pertandingan Liga Champions UEFA hanya bisa disaksikan di penerbangan tertentu. Ini tentu masuk akal mengingat siaran live tersebut hanya bisa disaksikan di layar In-flight entertainment (IFE) yang berada di seatback atau depan penumpang.

Teknisnya cukup mudah, penumpang hanya perlu menekan menu ‘Live TV’ di layar IFE dan akan terdapat pilihan beberapa siaran pertandingan Liga Champions Sport24 yang bisa disaksikan penumpang dari ketinggian 37 ribu kaki.

Ketua Dewan dan Komite Eksekutif Turkish Airlines, Prof. Ahmet Bolat, menyatakan, langkah ini diambil sebagai salah satu inovasi menatap perayaan 100 tahun berdirinya Republik Turkiye usai kekaisaran Turki Ottoman runtuh.

“Sebagai Flag Carrier Airline di negara kami, kami bangga dengan sponsor kami untuk Liga Champions UEFA, salah satu kompetisi olahraga terbesar di dunia. Dengan negara kami melebarkan sayapnya menuju peringatan 100 tahun Republik kami, kami membawa merek Turkish Airlines ke tingkat yang lebih tinggi,” jelasnya.

“Dengan sponsor ini, kami akan membawa merek Turkish Airlines ke seluruh dunia dan menyatukan seluruh dunia di Istanbul pada 10 Juni 2023. Kami percaya pada kekuatan pemersatu olahraga yang menyatukan budaya yang berbeda dan kami bertujuan untuk terus ambil bagian dalam turnamen terkemuka dunia,” ungkapnya.

Meski tak disebutkan, penyelenggaraan Final Liga Champions UEFA yang dijadwalkan pada 10 Juni 2023 di Stadion Olimpiade Istanbul Atatürk, Turkiye, juga menjadi dorongan utama Turkish Airlines menjadi sponsor Liga Champions.

Turkish Airlines bergabung dengan Heineken, PlayStation, PepsiCo, Mastercard, FedEx, Just Eat Takeaway.com, dan OPPO sebagai sponsor global resmi Liga Champions UEFA.

Baca juga: Intip Mewahnya Airbus A380 Emirates yang Digunakan Klub Bola Real Madrid

Sementara itu, lewat laman resminya, UEFA menyebut Turkish Airlines adalah maskapai pertama yang menjadi sponsor Liga Champions. Namun, bukan kerja sama pertama antara keduanya.

Turkish Airlines tercatat pernah bekerja sama dan menjadi maskapai pertama yang menjadi sponsor di kompetisi UEFA EURO 2016.

Apa Itu Pitot Tube dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Sebagai moda transportasi paling aman di dunia, pesawat dilengkapi banyak teknologi dan semuanya penting karena saling melengkapi kendati ukurannya kecil, seperti pitot tubes. Lantas, apa itu pitot tubes, apa fungsinya, dan bagaimana cara kerjanya?

Baca juga: Bagaimana Pilot Tahu Dimana Posisi Pesawat Padahal di Luar Gelap?

Pitot tube ditemukan oleh insinyur berkebangsaan Perancis, Henri Pitot pada awal abad ke 18, dan dimodifikasi oleh ilmuwan berkebangsaan Perancis, Henry Darcy di pertengahan abad ke 19. Itulah kenapa teknologi ini dinamakan pitot.

Pitot tubes atau pitot static system sebetulnya bukan teknologi langka yang hanya ada di pesawat. Ini diketahui juga digunakan di berbagai kendaraan dan industri, seperti mobil Formula 1, kapal laut, mesin industri untuk mengukur kecepatan udara dan gas, dan banyak lainnya. Itu karena fungsi pitot tubes memang mencakup banyak sektor, tak terbatas pada penerbangan saja.

Dihimpun dari berbagai sumber, pitot tube adalah peralatan yang digunakan untuk melakukan pengukuran tekanan pada aliran udara atau aliran cairan.

Pada pesawat terbang, pitot tube merupakan komponen yang digunakan untuk pengukuran aliran udara yang dimana nantinya akan dimanfaatkan untuk hasil pengukuran airspeed indicator, vertical speed, altitude, dan sebagainya.

Pitot tube tidak bekerja sendirian. Usai merekam tekanan pada sayap dan permukaan bagian depan pesawat, data kemudian dibandingkan dengan data tekanan yang didapat dari static-port pada bagian lain pesawat.

Cara pitot tube atau tabung pitot sangat sederhana. Tabung pitot sederhana terdiri dari tabung yang mengarah secara langsung ke aliran fluida. Tabung ini berisi fluida, sehingga tekanan bisa diukur dengan perubahan tinggi dari fluida tersebut. Tekanan stagnasi dari fluida, juga disebut dengan tekanan total atau tekanan pitot.

Mengingat fungsi dan cara kerjanya, pitot tube ini disebar atau ditempatkan di banyak titik di pesawat untuk memaksimalkan proses pembacaan data.

Meski begitu, jangan sampai terkecoh karena tidak semua komponen yang ada di bagian depan badan pesawat adalah pitot tube. Pitot tube pada umumnya terletak pada bagian depan untuk mengukur tekanan stagnasi, sedangkan static-port (port statis).

Sekalipun kecil, pitot tube merupakan salah satu instrumen penting dan termasuk dalam enam instrumen dasar pada pesawat atau biasa disebut ‘six pack’.

Baca juga: Buntut Insiden Maut AF447, Air France dan Airbus Diseret ke Meja Hijau

Di setiap penerbangan, mengekur kecepatan adalah bagian tak terpisahkan dari keselamatan dan keamanan penerbangan dan selalu menjadi penting bagi pilot untuk selalu memeriksananya.

Perlu dicatat, pitot tube pada dasarnya digunakan untuk mengukur kecepatan pesawat di udara. Dalam kaitannya kecepatan pesawat saat di darat (lepas landas) atau groundspeed, ini hal lain yang berbeda dengan pitot tube.

WNI Serang Awak Kabin, Pesawat Turkish Airlines Istanbul-Jakarta Dialihkan ke Medan: Terancam Denda Rp100 Juta

Pesawat Boeing 777 Turkish Airlines dengan nomor penerbangan TK56 terpaksa dialihkan ke Bandara Internasional Kualanamu, Medan, Selasa kemarin. Hal itu lantaran seorang penumpang asal Indonesia menyerang kru sehingga mengganggu keamanan dan keselamatan penerbangan serta ketertiban dan ketenteraman penumpang lain. Pelaku terancam kurungan penjara 1 tahun atau denda Rp100 juta.

Baca juga: Berusaha Serang Kokpit, Penumpang ini Akibatkan Pramugari dan Polisi Luka-luka

Dilansir FlightRadar24, pesawat dijadwalkan tiba di Jakarta pada hari Selasa pukul lima sore WIB. Setelah WNI penumpang yang membuat onar tersebut diturunkan, pesawat kembali berangkat menuju Bandara Soekarno-Hatta pada 17.37 WIB. Pesawat sudah landing dengan selamat pukul 20.01 WIB.

Dalam video viral di media sosial, salah seorang penumpang yang duduk di kursi kelas ekonomi tampak bersitegang dengan kru kabin. Penumpang, yang diduga seorang WNI itu, bahkan melayangkan pukulan telak ke kru sebelum akhirnya ditangkap, dihakimi oleh penumpang lain, dan diikat.

Belum diketahui pasti latar belakang penumpang tersebut menyerang kru. Namun, menurut unggahan akun Twitter @incrediblyamaze, penumpang WNI yang berbuat onar itu melempar botol minum dan air panas.

Saat ini, jajaran Polresta Deli Serdang masih mendalami insiden tersebut dengan pihak terkait. “Kami sedang dalami, (masih) berkoordinasi dengan pihak otoritas bandara,” kata Kapolres Kombes Pol Irsan Sinuhaji saat dikonfirmasi Kumparan.

Begitu juga dengan Executive General Manager (EGM) Angkasa Pura (AP) II Bandara Kualanamu, Heriyanto Wibow. Ia membenarkan telah terjadi divert landing oleh pesawat Triple Seven Turkish Airlines.

Hanya saja, ia tak bisa merinci penyebab kejadian tersebut dan masih menunggu keterangan resmi dari pihak maskapai.

Atas insiden ini, KabarPenumpang.com sudah menghubungi pihak Turkish Airlines. Namun, sampai berita ini ditulis, belum ada jabawan apapun.

Baca juga: Penumpang Pukul Petugas Avsec Bandara Sam Ratulangi, Video Viral Kemana-mana

Dari foto yang beredar, penumpang tersebut telah diamankan pihak berwajib. Meski berada di pesawat Turkish Airlines, pelaku akan mengikuti hukum yang berlaku di tempat kejadian, dalam hal ini hukum di Indonesia.

Dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan, pasal 412 ayat 4 menyebutkan, “Setiap orang di dalam pesawat udara selama penerbangan mengganggu ketenteraman, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 huruf e dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah)”.
























Kenapa Maskapai Larang Penumpang Bawa Makanan ke Pesawat?

Bagi kebanyakan penumpang, terlebih food lovers, sulit untuk melewatkan penerbangan tanpa makanan. Sayangnya, tidak semua makanan diperbolehkan masuk ke dalam pesawat. Sebetulnya, kenapa maskapai melarang penumpang membawa makanan ke pesawat?

Baca juga: Dear Traveler, AS Izinkan Botol Parfum 100 Ml Lebih Masuk Kabin 

Jawabannya sederhana sekali, karena maskapai ingin agar makanan yang dijual di kabin laris diburu penumpang. Ini tentu akan menambah pundi-pundi pemasukan maskapai. Sama seperti Anda dilarang membawa makanan dan minuman ke bioskop, sebagai gantinya mau tak mau Anda akan membeli popcorn dan minuman bersoda sebagai teman nonton. Intinya ada unsur bisnis dibalik itu.

Hanya saja, seiring waktu, larangan penumpang membawa makanan dan minuman tak lagi relevan dengan kondisi yang ada.

Menurut traveler asal Inggris yang sudah melanglang buana, David Lascelles, sebagian besar maskapai penerbangan saat ini telah berhenti menyediakan makanan dalam penerbangan. Bukan karena aturan Covid-19 di hampir seluruh negara melarang makanan dan minuman di kabin pesawat dalam rangka menekan penyebaran virus, melainkan karena berbagai faktor.

Dewasa ini, lanjutnya, sajian maskapai penerbangan memiliki reputasi buruk. Rasa seadanya, harga terlalu mahal, dan sebagainya. Tak sedikit maskapai yang berinovasi dengan memasukkan harga makanan ke dalam tiket. Namun, tetap saja harganya terlalu mahal untuk sebuah snack maupun makanan berat. Tidak sebanding dengan rasa dan porsi yang didapat.

Hal ini pada akhirnya membuat tak sedikit penumpang lebih memilih mampir ke restoran di bandara, sebelum maupun sesudah penerbangan. Karenanya, saat ini, maskapai cenderung lebih suka penumpang membawa makanan sendiri ketimbang mereka menyediakannya namun sepi peminat.

Meski begitu, maskapai pada umumnya tetap menyediakan makanan dan minuman, khususnya penerbangan di atas dua jam. Ini penting bagi beberapa kriteria penumpang, salah satunya yang tak sempat makanan dan minum apapun saat di bandara ataupun saat berangkat dari rumah.

Saat ini, penumpang diperbolehkan membawa makanan dan minuman. Tentu ada kriteria makanan dan minuman yang diperbolehkan dibawa ke pesawat, mulai dari buah dan sayuran, kerupuk, daging dan ikan segar beku, es krim beku, pizza, makanan kalengan, telur mentah, makanan ringan, makanan berat, dan sebagainya selama kurang dari 96,39 gram.

Baca juga: Tips Lolos dari Aturan Batas Cairan Maksimal 100 Ml ke Kabin Pesawat, Cukup Pakai Kertas!

Untuk minuman atau cairan, kriteria yang diizinkan masuk ke kabin pesawat maksimal 100 ml untuk setiap barang dan kurang dari 1 liter untuk setiap penumpang. Jadi, boleh saja membawa botol minuman ke pesawat selama kurang dari 100 ml atau memindahkannya ke dalam plastik transparan maksimal 1 liter.

Intinya, selain membawa barang-barang yang dilarang dibawa ke pesawat, seperti detonator (tutup peledak), dinamit, suar, granat, kembang api, replika bahan peledak, aerosol, bahan bakar apa pun, bensin, obor gas, korek api, pengencer cat, pemutih, klorin, dan cat semprot, semua diperbolehkan selama tidak di atas berat yang diizinkan, 96,39 gram dan 100 ml atau 1 liter per penumpang.

Sambut Rencana Operasional, KAI Tampilkan Logo LRT Jabodebek

Menyambut rencana operasional LRT Jabodebek, PT Kereta Api Indonesia (Persero) melakukan peluncuran logo layanan LRT Jabodebek. Peluncuran logo baru ini bertujuan untuk mengenalkan layanan LRT Jabodebek kepada masyarakat yang ditargetkan akan beroperasi pada Juli 2023.

Baca juga: Diundur Terkait Faktor Keamanan Penumpang, LRT Jabodebek Beroperasi Juni 2023

Direktur Utama KAI Didiek Hartantyo mengatakan, peluncuran logo LRT Jabodebek ini menjadi semangat baru dalam menyelesaikan proyek LRT Jabodebek. Logo LRT Jabodebek ini KAI perkenalkan agar masyarakat mulai merasakan kehadiran layanan LRT Jabodebek yang tidak lama lagi akan beroperasi.

“Pada pertengahan tahun 2023, LRT Jabodebek akan mulai beroperasi untuk melayani masyarakat. Sebagai moda transportasi perkotaan yang paling modern, KAI terus bersiap dalam berbagai aspek sehingga nantinya dapat melayani pelanggan sebaik mungkin,” ujar Didiek.

Logo LRT Jabodebek menampilkan simbol infinity yang dinamis dan menyerupai lintasan serta sarana LRT. Simbol infinity menunjukkan bahwa layanan LRT Jabodebek akan memberikan pelayanan terbaik yang tidak terbatas kepada para pelanggannya. Bentuknya yang dinamis juga menunjukkan bahwa layanan LRT Jabodebek menggunakan teknologi terbaik dalam pengoperasiannya.

Warna merah mencerminkan keberanian dalam menghadapi berbagai macam tantangan, baik di masa kini maupun di masa yang akan datang. Warna Hitam merepresentasikan keseriusan insan LRT Jabodebek dalam memberikan layanan transportasi massal yang dapat diandalkan.

Logo ini merupakan karya dari Yudha Pratama Putra yang merupakan pemenang lomba Logo Design Competition with LRT Jabobebek yang diselenggarakan selama periode 13 Juni sampai dengan 17 Agustus 2022. Terdapat total 2.469 karya yang diikutsertakan oleh masyarakat dalam lomba tersebut. Logo karya Yudha Pratama Putra terpilih sebagai pemenang setelah sebelumnya dilakukan penjurian oleh dewan juri yang berasal dari desainer profesional, konsultan kreatif, akademisi, dan tim internal KAI.

Baca juga: Uji Coba Akhir Tahun, Inilah Kesiapan Depo LRT Jabodebek Jelang Peresmian

Logo ini merepresentasikan layanan LRT Jabodebek yang merupakan moda transportasi massal yang paling modern. LRT Jabodebek akan beroperasi tanpa masinis secara otomatis dengan pengawasan dari pusat kendali. Stasiun dan Sarana LRT Jabodebek juga siap mengakomodir seluruh elemen pelanggan termasuk pelanggan disabilitas. Layanannya juga akan terintegrasi dengan berbagai moda lainnya seperti Bus, Commuterline, dan Kereta Cepat Jakarta Bandung.

Bagaimana Pilot Tahu Dimana Posisi Pesawat Padahal di Luar Gelap?

Berbeda dengan pramugari yang tidak tahu posisi pesawat berada saat dalam penerbangan, pilot sangat mengetahui dimana posisi pesawat berada, sekalipun di luar gelar. Entah di tengah cuaca buruk ataupun penerbangan malam hari. Lantas, bagaimana caranya?

Baca juga: Apa yang Terjadi Bila Pilot Tidak Berkomunikasi dengan ATC? Ini Jawabannya

Di kokpit ada begitu banyak panel yang memiliki fungsinya masing-masing. Dari sekian banyak panel di kokpit, itu dibagi menjadi dua instrumen; flight instrument (instrumen penerbangan) dan flight control (kontrol penerbangan).

Di antara banyak instrumen, dalam hal ini instrumen penerbangan, setidaknya, ada enam instrumen penerbangan dasar atau biasa disebut ‘six pack’ yang harus dikuasai pilot, mulai dari altimeter, indikator kecepatan udara (pitot static system), indikator kecepatan vertikal (sistem statis pitot), attitude indicator, heading indicator (gyroscopic system), dan turn indicator (gyroscopic system).

Dari keenam instrumen tersebut, salah satu instrumen yang sangat membantu pilot dalam mengetahui dimana posisi pesawat berada sekaligus bagaimana cara pilot mengetahui lintasan ke bandara tujuan adalah heading indicator (gyroscopic system).

Heading Indicator atau Giro Direksi merupakan instrumen yang menunjukkan heading dari pesawat relatif terhadap arah utara berdasarkan letak geografis dari bumi. Instrumen ini dikalibrasi berdasarkan arah utara kutub magnet bumi (dari Magnetic Compass) untuk meningkatkan kepresisian penunjukan arah.

Pada pesawat-pesawat jet saat ini, Heading Indicator digantikan oleh HSI (Horizontal Situation Indicator) yang selain menampilkan informasi heading juga menampilkan informasi navigasi berupa VOR.

Very High Frequency Omni-Directional Range (VOR), sebagaimana dikutip dari thepointsguy.co.uk, merupakan ground-based electronic system yang menghubungkan VOR station di ground dengan receiver yang ada di pesawat. Mengingat terbatasnya jangkauan VOR station, maka jumlahnya harus diperbanyak agar bisa menuntun pesawat ke VOR lainnya sampai ke bandara tujuan.

Akan tetapi, VOR ini memiliki kelemahan karena tidak bisa dipasang di perairan. Maka dari itu, VOR umumnya hanya berguna saat penerbangan di atas daratan saja, baik saat gelap akibat penerbangan malam atau cuaca buruk maupun penerbangan siang hari.

Di penerbangan lintas benua yang pastinya melewati perairan, seperti penerbangan trans atlantik dan trans pasifik, saat ini instrumennya sudah digantikan dengan GPS yang berbasis satelit.

Dalam kaitannya mengetahui posisi pesawat berada walau kondisi di luar gelap ataupun cara pilot mengetahui bandara tujuan, alat pemancar dan penerima GPS yang ada di bagian kanan dan kiri pesawat, diterima oleh IRU (indefeasible right of use) dan AHRU (attitude heading reference unit) yang juga ada di sisi kanan dan kiri pesawat.

Baca juga: Inilah AeroMACS, Sistem Komunikasi Digital Bandara Karya NASA yang Bikin Pilot ‘Bisu’

Ini kemudian terhubung dengan flight management computer untuk memberikan informasi posisi yang akurat. Dat tersebut ditampilkan di flight deck yang tampilannya saat ini sudah sangat canggih di pesawat-pesawat modern berupa animasi bergerak mirip dengan kondisi real di sekitar pesawat.

Dalam kasus penerbangan lintas benua, yang tidak terjangkau ATC, biasanya pilot akan membuat Organised Track System (OTS) atau sejenis membuat jalur penerbangan berbasis GPS. Dengan begitu, pilot hanya perlu mengikuti rute animasi yang ditampilkan di floight deck di kokpit untuk bisa sampai di bandara tujuan.

Anti Mainstream, Rumah John Travolta Punya Runway, Apron, dan Lounge Bak Bandara Mini

Garasi rumah pada umumnya diisi oleh mobil dan motor mewah serta kendaraan lainnya. Namun tidak dengan John Travolta. Garasi aktor kawakan Hollywood tersebut bukan lagi diisi oleh kendaraan mewah melainkan lima pesawat yang satu di antaranya pesawa widebody Boeing 707 bekas Qantas.

Baca juga: Spruce Creek, Hunian yang Bikin Pesawat Mondar-mandir di Jalan Raya Bak Mobil

Melengkapi garasi yang lebih mirip sebagai apron bandara mini John Travolta itu, juga dilengkapi dengan runway sepanjang 2,2 km untuk mobilitas lepas landas dan mendarat pesawat. Menariknya, rumah bergaya seperti rumah-rumah di abad pertengahan ini juga dilengkapi dengan lounge di bagian sayap depan rumah untuk menjamu kolega, teman, dan beberapa kenalan, termasuk rekan-rekannya sesama penghuni kompleks.

Kompleks Perumahan Penerbangan Jumbolair atau Jumbolair Aviation Estates, memang terletak tak jauh dari Greystone Airport di Florida, Amerika Serikat (AS). Itu merupakan resident di kawasan bandara yang menfasilitasi para pembeli atau penerbang untuk mendaratkan pesawat pribadinya di lahan yang telah disiapkan.

Menariknya, John menjadi orang pertama yang tinggal di kawasan tersebut dan membuat landasan pacu seluas 550 hektare untuk koleksi pesawat pribadinya.

Dalam sebuah wawancara ia mengatakan bahwa rumah tersebut ia desain khusus untuk jet dan pesawat pribadi miliknya agar dirinya memiliki akses yang mudah dengan dunia, sesuai dengan tujuan awal dibuatnya kompleks Jumbolair Aviation Estates.

Kemudahan mobilitas yang membawanya lebih dekat dengan dunia, berpadu dengan kecintaannya dengan dunia penerbangan, membuat rumah tersebut seolah bersatu membentuk rumah yang lebih pantas disebut sebagai mini bandara John Travolta.

Beberapa ruangan di rumah ini memiliki view menghadap ke landasan pacu serta tempat terparkirnya pesawat-pesawat. Di ruangan tersebut John sering menerima serta menjamu para kolega, teman, dan beberapa kenalan yang sama-sama memiliki minat di dunia penerbangan. Salah satunya adalah sebuah ruangan yang didesain seperti lounge di bagian sayap depan rumah.

Selain kehadiran bandara yang lengkap dengan landasan pacu serta tempat kontrol untuk pesawat-pesawat pribadinya, rumah tersebut juga memiliki fasilitas mewah lainnya. Dua di antarnya adalah paviliun-paviliun khusus sebagai tempar berteduhnya pesawat serta kolam renang besar bergaya tropis yang sangat cocok dengan wilayah California.

Baca juga: Gegara Covid-19, Boeing 707 Jhon Travolta Batal Disumbangkan ke Museum

Selain California, AS juga mempunyai kompleks lainnya di sisi Timur yang juga tak kalah menarik dengan kompleks Jumbolair Aviation Estates yang di dalamnya terdapat rumah atau bandara mini John Travolta. Salah satunya adalah Spruce Creek.

Spruce Creek sendiri baru dibangun sejak tahun 2000 lalu. Meskipun demikian, perumahan yang terletak di Volusia County, Florida, Amerika Serikat, tersebut saat ini menjadi komunitas fly-in terbesar. Di kompleks ini, pesawat mondar-mandir bak kendaraan di jalan raya, lebih terasa aura dirgantaranya dibanding kompeks tempat John Travolta tinggal.

Situs Layanan Bandara di AS Dilumpuhkan Hacker Pro Rusia

Meski Amerika Serikat dan Rusia tidak berperang secara langsung, namun buntut dari konflik yang terjadi di Ukraina, telah menciptakan proxy war yang melibatkan entitas sipil, yang menyerang ke berbagai situs dan fasilitas non militer. Sebut saja yang terbaru adalah kabar peretasan yang menimpa situs (website) bandara di AS yang mendapatkan DDoS attack yang diduga dilakukan hacker pro Rusia.

Baca juga: Pengakuan Seorang Hacker: Bisa Jatuhkan Pesawat Penumpang dari Kamar Tidur

Dikutip dari bleepingcomputer.com (10/10/2022), disebutkan bahwa kelompok peretas pro-Rusia ‘KillNet’ mengklaim serangan DDoS skala besar terhadap situs web beberapa bandara besar di AS, membuat situs mereka tidak dapat diakses.

DDoS attack atau Distributed Denial of Service merupakan serangan cyber dengan cara mengirimkan fake traffic atau lalu lintas palsu ke suatu sistem atau server secara terus menerus. Dampaknya, server tersebut tidak dapat mengatur seluruh traffic sehingga menyebabkan down.

Serangan DDoS telah membanjiri server yang menampung situs-situs ini dengan permintaan sampah, sehingga tidak memungkinkan bagi pelancong atau pengguna jasa penerbangan untuk terhubung dan mendapatkan pembaruan (update) tentang penerbangan terjadwal mereka atau memesan layanan bandara.

Contoh penting dari situs web bandara yang saat ini tidak tersedia termasuk Bandara Internasional Hartsfield-Jackson Atlanta (ATL), salah satu pusat lalu lintas udara yang lebih besar di negara itu, dan Bandara Internasional Los Angeles (LAX), yang terkadang offline atau sangat lambat untuk merespons.

Para peretas menggunakan perangkat lunak khusus untuk menghasilkan permintaan palsu dan lalu lintas sampah yang diarahkan ke target dengan tujuan menghabiskan sumber daya server dan membuatnya tidak bisa diakses oleh pengguna jasa bandara.

Dalam hal ini, serangan DDoS tidak berdampak pada penerbangan, tetapi masih memiliki efek buruk pada fungsi sektor ekonomi penting, mengancam untuk mengganggu atau menunda layanan terkait.

KillNet sebelumnya menargetkan negara-negara yang berpihak pada Ukraina, seperti Rumania dan Italia, sementara”sub-group” Legiun menyerang entitas kunci Norwegia dan Lithuania karena alasan yang sama.

Ketika perang di Ukraina telah memasuki fase baru, para pelaku ancaman dan peretas pro Rusia mencoba untuk meningkatkan serangan siber pembalasan mereka terhadap organisasi saraf di dunia barat.

Baca juga: Perusahaan Kereta Api Italia Hentikan Sementara Penjualan Tiket Karena Jadi Sasaran Peretas, Diduga Berasal dari Rusia

AS, sebagai pemimpin de-facto NATO, yang merupakan saingan militer utama Rusia, telah memasok Ukraina dengan intelijen dan peralatan sejak awal perang, tetapi serangan DDoS sejauh ini tampaknya difokuskan pada target Uni Eropa, terutama setelah pengumuman sejumlah sanksi.

Berapa Lama Maskapai Menunggu Penumpang yang Telat Saat Transit?

Transit atau connecting flight di sektor kedirgantaraan global memang sudah tidak asing lagi terdengar. Bagi Anda yang belum mengetahuinya, connecting flight merupakan suatu kondisi dimana Anda akan berganti pesawat di titik transit untuk tiba di satu destinasi. Karena pesawat yang akan Anda tumpangi berbeda, maka nomor penerbangannya pun akan berbeda pula.

Baca juga: Apa yang Penumpang Harus Lakukan Saat Ketinggalan Pesawat Saat Transit?

Selain menjadi moda transportasi paling aman, pesawat juga menjadi moda transportasi paling tepat waktu. Namun bukan berarti tidak pernah terlambat.

Saat itu terjadi, terutama pada penerbangan transit, penerbangan berikutnya ada yang menunggu penumpang datang untuk transit dan ada pula yang sebaliknya, tetap berpegang pada waktu yang sudah ditetapkan dan tidak menunggu penumpang yang terlambat datang. Andai pun menunggu, berapa lama maskapai akan menunggu?

Menurut salah satu pengguna Quora, itu tidak ada ukuran rata-ratanya alias tidak ada kejelasan berapa lama maskapai akan menunggu penumpang yang telat transit (connecting flight). Ini semua tergantung situasi dan kondisi. Celakanya, situasi dan kondisi setiap harinya di setiap bandara berbeda-beda. Terlebih di bandara besar.

Dalam pelaksanaannya, maskapai memutuskan berapa lama waktu menunggu penumpang didasari pada beberapa hal, seperti ketersediaan gate di bandara tujuan, ketersediaan slot bandara (slot lepas landas dan mendarat), jam berapa bandara yang dituju bisa melayani mereka, dan lain sebagainya.

Demikian juga sebaliknya, maskapai yang memutuskan meninggalkan penumpang, itu berarti maskapai siap dengan berbagai konsekuensinya, seperti membayar biaya penginapan penumpang, makanan dan minuman, serta penerbangan pengganti.

Sebelum antara dua keputusan itu diambil, maskapai secara garis besar tentunya sudah menetapkan di tataran petinggi, lebih mengutamakan penumpang atau catatan on-time performance (OTP). Ini pada akhirnya menjadi dasar bagi maskapai untuk mengambil keputusan selanjutnya, menunggu penumpang yang telah transit atau melanjutkan penerbangan sesuai jadwal.

Seiring waktu, maskapai tak ingin 100 persen menunggu penumpang transit setiap kali terjadi keterlambatan dan sebaliknya tidak jadi 100 persen mengejar OTP. Mereka berada di tengah antara kedua itu. Caranya dengan memakai aplikasi khusus. Salah satunya United Airlines lewat aplikasi Connection Saver.

Baca juga: 10 Bandara Internasional Ini, Pilihan Transit Ternyaman di Dunia

Teknologi ini menjalankan fungsi penghitungan algoritma beberapa kemungkinan dimana hasilnya akan memberikan opsi kepada pihak maskapai, apakah akan tetap meninggalkan penumpang yang terlambat ini atau menunggunya. Dengan begitu, keputusan menunggu atau tidaknya jadi lebih efektif karena didasari data bukan intuisi belaka.

CEO dari United Airlines, Oscar Munoz mengatakan bahwa sejak aplikasi ini diluncurkan pada bulan Januari silam, aplikasi ini terbukti sudah ‘menyelamatkan’ lebih dari 50.000 penumpang yang mengalami keterlambatan di penerbangan pertama mereka.

Apa yang Terjadi Jika Pistol Ditembakkan ke Jendela dari dalam Pesawat?

Pesawat adalah moda transportasi paling aman di dunia, dengan catatan bila segala hal berjalan normal. Di luar itu, tak sedikit pihak yang meragukan. Seperti misalnya ada pistol yang ditembakkan penumpang dan mengenai tepat di bagian tengah jendela. Andai ini terjadi, apa yang akan dialami pesawat?

Baca juga: Bedah Jendela Pesawat, Inilah Bagian-bagian Beserta Fungsinya

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, diketahui jendela pesawat memiliki tiga lapisan; bagian luar, tengah, dan dalam. Lubang kecil yang kita lihat terdapat di lapisan kaca tengah dan dikenal sebagai breather atau lubang napas.

Breather tersebut bekerja untuk menyeimbangkan tekanan antara kabin dan udara yang terkurung di antara kaca jendela. Selain itu, lapisan kaca tengah merupakan cadangan apabila kaca di bagian luar retak karena tekanan.

Tak hanya mengatur tekanan, lubang kecil itu juga berfungsi untuk melepaskan kelembaban untuk mencegah jendela pesawat membeku atau berkabut.

Dilihat dari bahannya, lapis pertama, jendela pesawat terbuat dari campuran kaca dan akrilik. Keduanya disatukan dengan teknik glass frit bonding, juga disebut sebagai solder kaca atau seal glass bonding. Jadi, pada intinya, teknik ini memadukan lapisan luar kaca dengan akrilik yang direnggangkan.

Lapis kedua, kaca jendela pesawat terbuat dari urethane, termasuk jenis dari polimer yang lumrah dijadikan sebagai bahan dasar pembuatan plastik. Sedangkan dilapisan ketiga atau di bagian dalam, kaca jendela pesawat terbuat dari akrilik. Masing-masing lapisan memiliki ketebalan kaca 1-3 inci atau empat kali lipat ketebalan kaca mobil.

Meski tidak terlalu tebal, namun, jenis kaca yang digunakan tergolong sangat kuat untuk menahan tekanan, termasuk tembakan dari senjata api (pistol). Tetapi, andai pun jendela pesawat berhasil tembus sampai ke luar dan membuat adanya lubang kecil seukurang peluru tajam, apa yang akan terjadi?

Dikutip dari Quora, di ketinggian 6.000-8.000 kaki, tekanan pada pesawat berkisar 11,78 pon per inci persegi hingga 10,91 pon per inci persegi. Pada ketinggian 35 ribu kaki, tekanan di kabin pesawat berkisar 3,47 pon per inci persegi.

Ketika sebuah peluru tajam yang ditembakkan dari pistol di kabin penumpang menembus jendela atau bahkan badan pesawat sekalipun, itu bukan sebuah masalah besar.

Hal-hal yang ditampilkan di film-film Hollywood, seperti pesawat akan meledak, terbakar, kehilangan ketinggian, lubang semakin membesar karena tekanan, mengalami dekompresi eksplosif, menarik penumpang yang tak menggunakan seat belt keluar pesawat, sampai berujung kecelakaan fatal, itu tidak terjadi.

Baca juga: Bagaimana Pilot Tangani Depresurisasi Saat Pesawat di Udara? Ini Jawabannya

Sebaliknya, pesawat mungkin akan kehilangan keseimbangan tekanan di dalam kabin. Tetapi, lubang sekecil itu (baik di jendela ataupun di badan pesawat) mudah diatasi oleh kompresi besar pada mesin untuk menyeimbangkan pasokan udara. Linear dengan itu, pesawat hanya perlu menurunkan ketinggian untuk menyesuaikan tekanan agar lubang yang ada tak semakin membesar dan terjadi dekompresi eksplosif.

Pilot pastinya akan mengontak ATC untuk izin mendarat darurat di bandara terdekat tak lama setelah terjadi tembakan dan membuat jendela berlubang. Dengan begitu, pesawat dapat mendarat dengan selamat tanpa terjadi insiden fatal.