Bagaimana Cara Kerja Mesin Turboprop? Berikut Penjelasannya

Bagi traveler yang sering bepergian naik pesawat, umumnya akan melihat dua jenis mesin pesawat, yang satu pesawat dengan mesin jet dan satu lainnya menggunakan mesin baling-baling. Ini disebut juga dengan mesin turboprop. Lantas, bagaimana cara kerja mesin turboprop? Apakah sama dengan mesin turbofan?

Baca juga: Serupa tapi Tak Sama, Kenapa Mesin Turbofan Berbeda dengan Mesin Turboprop?

Dilansir dari berbagai sumber, cara kerja dan kompenen utama mesin turboprop bisa dibilang serupa tapi tak sama dengan mesin turbofan atau turbojet. Itu dilengkapi intake, kompresor, ruang bakar, turbin, and nozzle. Cara kerja mesin ini pada awalnya udara masuk dari atmosfer ke dalam intake.

Tekanan udara tersebut dinaikkan dengan menggunakan kompresor. Tujuan peningkatan tekanan adalah untuk meningkatkan efisiensi pembakaran sebab pada saat pesawat udara beroperasi yaitu terbang di ketinggian maka temperatur udaranya sangat rendah sehingga sangat sulit untuk dilakukan pembakaran.

Selanjutnya udara bertekanan tinggi diumpankan ke ruang bakar dan dicampur dengan bahan bakar kemudian dilakukan pembakaran.

Gas panas hasil pembakaran diumpankan ke turbin. Turbin berfungsi merubah energi panas (thermal) menjadi energi mekanik. Selain memutar kompresor, turbin juga memutar baling-baling melalui roda gigi reduksi hingga akhirnya gas sisa pembakaran dibuang ke atmosfer melalui nozzle.

Pesawat turboprop sangat efisien dengan kecepatan subsonik (di bawah 450 mph) karena kecepatan pesawat jet dari baling-baling (dan buang) relatif rendah.

Mesin Turboprop merupakan mesin turbojet dengan turbin tambahan yang dirancang sedemikian rupa untuk menyerap semburan sisa bahan bakar yang sebelumnya menggerakkan kompresor. Pada prakteknya selalu ada sisa semburan gas dan sisa inilah yang dipakai untuk mengerakkan turbin yang dihubungkan ke reduction gear, biasanya terletak di bidang mesin, memutar baling-baling.

Baca juga: Satu sampai Enam, Inilah Daftar Pesawat Twin Turboprop Tercepat Saat ini

Jenis mesin ini irit bahan bakar untuk pesawat berkecepatan rendah/sedang dan terbang rendah (400 mil per jam/30.000 kaki). Melewati teknologi maju, selain irit juga menghasilkan tingkat kebisingan yang rendah dan mampu meluncurkan pesawat degnan kecepatan 400 mil per jam.

Dengan berbagai keunggulan dibanding mesin turbojet atau turbofan, seperti lebih tidak bising, lebih irit, dan efisien untuk kecepatan dan terbang rendah, mesin turboprop atau propeller banyak digunakan di rute-rute dengan medan terjal, seperti pegunungan, perbukitan, dan pedalaman dengan landasan pendek dan curam. Di wilayah-wilayah itu, mesin turboprop terbukti tangguh dan efektif dalam melakukan perjalanan udara.

Konfigurasi Kursi Tak Lazim di Peron Stasiun Komuter Jepang, Ini Alasannya

Meski tidak semua, ada yang terlihat tak lazim di stasiun kereta bawah tanah di beberapa kota di Jepang. Seperti di Osaka, Kansai, Kanto dan Tokyo, desain kursi di peron stasiun ditata dengan unik. Yakni jarak kursi yang agak jauh dari tepi peron, tidak itu saja, kursi disusun tidak menghadap peron, sebaliknya posisi kursi ditempatkan dengan arah sejajar peron. Tentu ada alasan dari desain kursi yang tak lazim ini.

Baca juga: Stasiun Tokyo Metro Dilengkapi Fitur Display Kepadatan Gerbong, Layak Ditiru PT KCI 

Dikutip dari Soranews24.com, disebutkan bahwa pihak operator kereta, dalam hal ini JR West punya alasan tersendiri. Menurut JR West, ada tiga alasan yang mendasari penempatan kursi tak lazim di beberapa stasiun kereta komuter.

Dari wawancara yang dilakukan reporter Soranews24.com, disebut alasan utamanya ditekankan untuk mencegah calon penumpang jatuh dari peron. Yang dimaksud disini banyak kasus penumpang mabuk dan jatuh ke peron. JR West menyebut konfigurasi kursi-kursi sejajar peron ini telah ada sekitar lima sampai enam tahun lalu.

Baca juga: Lex, Kursi Portable Futuristik yang Bisa Dibawa Kemana Saja!

Untuk mencegah penumpang jatuh ke peron, JR West memang tidak bisa memasang platform screen door di semua stasiun, alasannya karena instalasi platform screen door di semua stasiun membutuhkan biaya besar. Umumnya platform screen door ada di stasiun-stasiun besar di pusat perkotaan. Sementara jalur kereta seperti di Kansai punya rute yang kompleks.

Sering Dicap Negatif, Ini Pentingnya Senioritas di Dunia Pilot

Senioritas di dunia kerja sering dianggap negatif. Hal itu wajar mengingat banyak kasus karyawan senior yang semena-mena terhadap karyawan junior. Tetapi di dunia pilot, senioritas justru penting dan dibutuhkan. Kenapa demikian?

Baca juga: Salahkan Kopilot, Pilot Senior Tidur Saat Menerbangkan Boeing 747 

Pilot diketahui diberi label senior sejak pertama kali bergabung dengan sebuah maskapai. Jadi, semua pilot di maskapai penerbangan adalah senior. Tergantung maskapai, label pilot senior ini bisa didapat dari tanggal perekrutan, hari pertama ground school, atau hari pertama masa orientasi pilot maskapai. Dari sini, tentu saja pilot yang sudah bekerja paling lama menjadi pilot dengan seniority number atau nomor senioritas tertinggi berdasarkan kelasnya.

Berdasarkan urutan pilot senior itu, nantinya maskapai akan pilot senior berbagai hal, mulai dari menerbangkan pesawat pertama maskapai, terbang berdasarkan domisili untuk memudahkannya tetap dekat dengan keluarga, dan berbagai penawaran lainnya. Singkatnya, senioritas di sini legal, terbuka, dan justru banyak membantu dalam berbagai hal.

Pilot-pilot senior, tergantung maskapainya, akan dimasukkan lagi ke dalam kategori senioritas master. Ada kata ‘master’ yang membedakan dengan pilot senior yang baru bergabung dengan maskapai. Pilot yang masuk di kategori senioritas master ini memiliki lebih banyak previllage atau kekhususan atau keistimewaan.

Umumnya, pilot yang masuk kategori pilot seniorotas master adalah kapten pesawat. Sebab, mereka diberikan peluang untuk naik tingkat dari kopilot menjadi kapten pilot. Banyak dari mereka yang tak ingin menyianyiakan kesempatan itu. Namun, tak sedikit dari mereka yang tetap ingin menjadi kopilot.

Alasannya, mereka ingin mempertahankan senioritas di kelas kopilot sehingga bisa memanfaatkan salah satu atau banyak keistimewaan, salah satunya terbang berdasarkan domisili sehingga tetap bisa dekat dengan keluarga.

Sebagai contoh, pilot A tercatat sebagai paling senior dalam senioritas pilot sebagai kopilot atau di kelas kopilot. Dengan begitu ia berhak untuk memilih terbang dari hub atau base maskapai, katakanlah di Jakarta.

Saat ia pindah ke kapten pilot, bisa saja nomor senioritasnya turun menjadi paling bawah, sehingga ia tidak bisa memilih domisili bekerja dan terpaksa dipindah ke hub atau base maskapai di Bali dan tetap tinggal di sana dalam jangka panjang serta jauh dari keluarga yang berada di Jakarta.

Selain bisa memilih terbang dari kota domisili, diberikan kehormatan menerbangkan pesawat terbaru maskapai, senioritas pilot juga menentukan dalam pemilihan rute, jenis pesawat, dan jadwal dari departemen yang mengatur schedule pilot dan biasanya juga mengatur schedule pramugari.

Baca juga: Ini Perbedaan Penerbangan Jarak Jauh dan Jarak Pendek dari Perspektif Pilot

Pilot paling senior biasanya akan menghabiskan kesempatan yang paling terbaik, seperti memilih terbang dengan pesawat paling canggih dan terbaru, terbang ke rute-rute internasional dengan kesempatan layover di banyak negara, terbang dengan frekuensi sesering mungkin untuk membawa pulang lebh banyak uang, terbang keliling dunia, menghindari terbang di malam hari, dan sebisa mungkin menghindari weekend dan peak season.

Pilot biasanya bergabung dengan maskapai di usi 21 tahun dan pensiun di usia sekitar 65 tahun. Jadi, pilot paling senior bekerja di maskapai hampir 44 tahun. Selain lamanya bekerja di maskapai, pilot bisa masuk ke kategori senioritas master dengan sederet keistimewaan juga ditunjang dengan skill, kinerja, dan tentu saja keberuntungan.

Rusia Bersiap Rakit Sukhoi Superjet 100 Generasi Terbaru, Akhir Tahun Depan Siap Dikirim

Meski industri penerbangan dan maskapai Rusia mendapat tekanan berat sebagai imbas Perang Ukraina, namun, ada kabar bahwa Negeri Beruang Merah tersebut justru sedang bersiap untuk merakit pesawat regional jet Sukhoi Superjet – SSJ-100 New. Bahkan, disebut SSJ-100 New akan mulai dikirimkan ke maskapai domestik pada akhir tahun depan.

Baca juga: Hari Ini dalam Sejarah, Sukhoi Superjet 100 Terbang Perdana: Jadi Pesawat Komersial Pertama Rusia Pasca Uni Soviet

Dikutip dari Simpleflying.com (22/12/2022), disebutkan SibNIIA Institute, pusat penelitian ilmu penerbangan terbesar di Rusia Timur, sedang mengerjakan uji statis sertifikasi struktur badan pesawat Irkut Superjet 100 generasi terbaru. Varian baru dari keluarga narrowbody ini akan diproduksi dengan peralatan dan komponen lokal, serta sistem teknologi dalam negeri karena adanya sanksi Barat setelah invasi Rusia ke Ukraina.

Awal bulan ini, SibNIIA mengumumkan sedang mempersiapkan peralatan dan sistem teknologi untuk uji statis badan pesawat Superjet 100 generasi terbaru. Menurut Vladimir Barsuk, direktur institut tersebut, prototipe SSJ-100 New akan diuji pada Januari 2023. Pengiriman dapat dimulai paling cepat pada akhir 2023. Ini adalah salah satu dari banyak proyek yang saat ini dimiliki pemerintah Rusia untuk mempromosikan produksi dalam negeri.

“Uji statik sertifikasi dari karakteristik kekuatan badan pesawat akan mengkonfirmasi keandalan struktural dan menentukan kondisi pengoperasian SSJ-100 New yang aman sesuai dengan persyaratan Peraturan Penerbangan,” kata lembaga SibNIIA dalam sebuah pernyataan.

Pengujian aerodinamis pesawat selesai pada 24 November di Central Aerohydrodynamic Institute, menurut laporan dvnovosti.ru. Saat ini, Regional Aircraft Company dan SibNIIA sedang berkoordinasi untuk mengirimkan badan pesawat SSJ-100 New ke Novosibirsk dan mempersiapkan perakitan pesawat di institut tersebut.

SAP, serikat manufaktur pesawat Rusia, mengharapkan untuk memproduksi 20 unit Irkut SSJ-100 New per tahun pada tahun 2024, rencananya pesawat itu dilengkapi dengan mesin PD-8. Pada saat yang sama, enam Irkut MC-21-310 pertama akan diselesaikan. Menurut data ch.aviation, ada 327 pesawat Superjet 100 yang diproduksi, sekitar 135 di antaranya saat ini aktif. Maskapai Rusia Rossiya adalah operator terbesar SSJ-100 dengan 74 pesawat.

SSJ-100 New, versi terbaru dari Sukhoi Superjet 100, akan memiliki kapasitas 87 hingga 98 penumpang.

Baca juga: Kena Embargo Mesin dari Perancis, Sukhoi Superjet 100 Rusia Terancam Di-Grounded 

Superjet 100 (atau SSJ-100) adalah jet regional yang melakukan penerbangan perdananya pada tahun 2008 dan layanan komersial pertamanya tiga tahun kemudian. Sepanjang sejarahnya, SSJ-100 telah mengalami masalah, termasuk empat kecelakaan. Kecelakaan terakhir terjadi pada Mei 2019, ketika Aeroflot Penerbangan 1492 sedang mendaki setelah lepas landas dari Bandara Internasional Moscow Sheremetyevo, dan sambaran petir menyambar di dekat pesawat.

Berapa Lama Pre-Flight Check Dilakukan di Penerbangan Komersial dan Apa Saja yang Diperiksa?

Sebagai moda transportasi paling aman di dunia, pesawat terbang melalui banyak pemeriksaan ketat dan intensif, bahkan detik-detik jelang penerbangan. Ini dikenal sebagai pre-flight check. Pesawat penerbangan sipil yang terbang pasti melalui proses pre-flight check atau pemeriksaan sebelum penerbangan. Lantas berapa lama pre-flight check dilakukan, siapa yang melakukan pre-flight check, dan apa saja yang diperiksa?

Baca juga: Begini Prosedur Pemeriksaan Pesawat untuk Capai Tingkat Keselamatan Tertinggi

Sebelum memulai penerbangan, pilot dan kopilot biasanya akan bertemu untuk membahas berbagai hal, seperti rute yang dilalui, bahan bakar minimum (bergantung pada jumlah awak, penumpang, kargo, cuaca, dan kemungkinan rintangan selama penerbangan), informasi cuaca, dan informasi bandara tujuan serta bandara yang dilalui sepanjang perjalanan.

Semua ini menjadi kewajiban pilot sebelum memulai penerbangan dan memegang peran vital terhadap keselamatan dan keamanan penerbangan.

Tergantung sudut pandangnya, hal-hal tersebut di atas (mengecek rute, kargo, dan sebagainya) termasuk dalam pre-flight check. Bila dihitung dari pemeriksaan rute, informasi bandara, cuaca, sampai walk around di sekitar pesawat sampai kembali ke kokpit, pre-fight check bisa sampai 60 menit lebih.

Akan tetapi, bila hanya pemeriksaan kokpit dan walk around di sekitar pesawat, pre-flight check uimumnya sekitar 10-20 menit, tergantung tingkat kesulitan, seperti rute, kondisi cuaca, muatan, dan lain sebagainya.

Dilansir The Point Guy, pintu kokpit biasanya dibiarkan terbuka saat sebelum terbang. Hal itu untuk memudahkan kopilot dan pilot berkomunikasi dengan kru kabin terkait manifes penumpang dan teknisi, staf pengisian bahan bakar dan sebagainya. Ini merupakan bagian dari pre-flight check.

Secara umum, pilot-kopilot biasanya akan memulai pre-flight check dengan memeriksa yang paling dekat terlebih dahulu, yaitu instrumen di kokpit, seperti mengecek bit listrik, lampu, stall warning, flaps, oli, bahan bakar, dan lain sebagainya.

Setelah preflight check di kokpit tuntas, pilot atau kopilot biasanya akan mulai melakukan walk around. Itu biasanya dimulai dengan memeriksa mesin sebelah kanan dan berputar berlawanan arah jarum jam. Hal-hal yang diperiksa dari mesin berupa palka, probe, sensor, bilah kipas, dan spinner. Jadi, tidak harus membongkar keseluruhan mesin.

Dari mesin sebelah kanan, karena walk around berlawanan dengan arah jarum jam, pilot bergerak ke arah depan dan memeriksa nose atau hidung pesawat serta nose wheel atau landing gear depan. Pada hidung pesawat (radome), pilot biasanya memeriksa radar cuaca. Pada nose wheel pilot akan mengecek penutup nose wheel apakah berfungsi atau tidak.

Beralih ke depan sebelah kiri, pilot akan memeriksa beberapa hal, seperti probe, sensor, port, pitot tube and static port, dan ventilasi. Kemudian pilot memeriksa katup aliran udara, lights and pack inlets, wing root, sayap dan mesin kiri, main landing gear, bagian ekor pesawat seperti knalpot, APU, tailtfin, horizontal stabilizer, sayap kanan, dan main landing gear kanan.

Baca juga: Pertama di Eropa, Drone DJI Sukses Inspeksi Pesawat Airbus A330 di Luar Hanggar

Tergantung situasi dan kondisi di masing-masing penerbangan, termasuk tergantung pengalaman dan kejelian pilot, proses preflight check atau walk around paling cepat sekitar 10 menit. Ada yang 15, 20 menit dan seterusnya. Sekali lagi tergantung situasi dan kondisi.

Usai melakukan walk around, kapten pilot akan menyatakan pesawat laik terbang dan melanjutkan penerbangan mengangkut penumpang dan kargo sampai ke bandara tujuan.

Kasihan, Boeing 747-8 VIP Bekas Kerajaan Arab Saudi ‘Dimutilasi’: Baru Mencatat 50 Jam Terbang

Boeing 747-8 VIP yang sejatinya diperuntukkan mendukung mobilitas keluarga kerajaan Arab Saudi melalui operator Saudi Arabian Royal Flight Group harus dibongkar. Pembongkaran terjadi di kuburan pesawat di padang pasir Pinal Airpark, Marana, Arizona. Sebetulnya, pembongkaran atau dipotong-potongnya pesawat bukan hal aneh, tetapi pada kasus Boeing 747-8 VIP ini menjadi aneh lantaran pesawat baru genap mencatat 50 jam terbang.

Baca juga: Inilah Fakta di Balik Berhentinya Produksi Boeing 747-8 Intercontinental

Sejak pertama kali muncul ke publik saat terbang perdana pada 9 Februari 1969, Boeing 747 selalu menjadi pusat perhatian. Penumpang di seluruh dunia menantikan untuk bisa naik pesawat berjuluk Queen of the Skies itu.

Begitupun juga sebaliknya, maskapai di seluruh dunia berlomba memilikinya. Ketika itu, muncul stigma bahwa dengan menerbangkan Boeing 747 maskapai itu akan menjadi naik kelas ke jajaran maskapai elite.

Ini tentu saja sesuai harapan Boeing, yang notabene mempertaruhkan reputasi dan masa depan perusahaan melalui Boeing 747. Andai gagal, Boeing terancam bangkrut saking besarnya investasi pada proyek 747.

Beruntung, proyek Boeing 747 sukses. Tak kurang dari 1.500 unit pesawat dalam konfigurasi penumpang, kargo, dan khusus, sejak tahun 1969, terus diproduksi di pabrik Everett dan menjadi pesawat superjumbo atau paling sukses di dunia, mengalahkan Airbus A380 yang proyeknya bisa dibilang gagal total dan tak berumur panjang.

Sayangnya, kesuksesan di pasar komersial tak diikuti kesuksesan di pasar jet bisnis. Sejak terbang perdana pada tahun 2012, Boeing 747-8BBJ atau pesawat Boeing 747-8 VIP tak laku di pasaran. Bahkan, salah satu pesawat Boeing 747-8 VIP yang dibeli untuk keluarga kerajaan Arab Saudi dan baru mencatat 50 jam terbang terpaksa harus di-scrapped atau dipotong-potong sesudah ditetapkan pensiun dini.

Dilansir Simple Flying, sejak tahun 2012 silam, pesawat yang dikirim ke operator Saudi Arabian Royal Flight Group itu tak kunjung digunakan. Pesawat dengan nomor registrasi N458BJ itu justru hanya diparkir di bandara hampir 10 tahun lamanya di Basel, Swiss.

Sebelum dipensiunkan dini, pesawat Boeing 747-8 VIP itu sempat dijual namun sepi peminat. Dengan 42 jam terbang, pesawat akhirnya diterbangkan ke kuburan pesawat di Pinal Airpark dan diparkir jangka panjang di sana sebelum akhirnya di-scrapped dan dipotong-potong serta diambil bagian-bagian pentingnya.

Baca juga: Boeing 747-9I BBJ Presiden Erdogan Mendarat di Bali, Meski Mewah Ternyata Hasil Hibah dari Qatar

Diketahui, pesawat dibuat dari 60 persen alumunium, 15 persen baja, 10 persen logam berharga mahal seperti titanium. Biasanya pesawat yang sudah pensiun dihancurkan, dibersihkan dari komponen radioaktif sesuai panduan hijau Eropa, diklasifikasikan, dan diteliti bagian mana saja yang masih bisa dipertahankan, seperti suku cadang berharga, roda pendaratan, mesin, dan peralatan avionik.

Selain itu, badan pesawat biasanya dipotong-potong menjadi bagian kecil untuk gantungan kunci dan dijual ke avgeeks di seluruh dunia. Mengingat Boeing 747-8 VIP adalah pesawat spesial dan unitnya bisa dihitung, besar kemungkinan penjualan gantungan kunci yang terbuat dari bekas pesawat itu akan laku keras di pasaran.

Kenapa Ada Pintu Depan di Kabin Masinis KRL Jepang? Ini Jawabannya

Kecelakaan kereta teknis di proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) membuat tak sedikit warganet yang membanding-bandingkan dengan kereta buatan Jepang. Jepang memang dikenal sebagai negara dengan industri perkeretaapiannya yang sangat maju, baik penggunaan dalam negeri maupun ekspor. Berbicara kereta, dalam hal ini kereta listrik (KRL) Jepang, terdapat satu ciri yang umum ditemukan yaitu adanya pintu depan di kabin masinis. Pertanyaannya, kenapa dan apa tujuannya?

Baca juga: KRD Bumi Geulis – Kenangan Rute Bogor-Sukabumi yang Kini Jadi Rail Clinic

Dikutip dari Early History of Japan’s Railway, industri kereta di Jepang mulai mengalami kemajuan luar biasa pasca Restorasi Meiji.

Ketika itu, sekitar tahun Meiji ke-3 atau tahun 1870, Edmond – Morel datang dari Britania Raya sebagai pimpinan arsitektur dan pembangunan skala besar dimulai.

Di sisi Jepang pada tahun 1871, Masaru Inoue (Bapak Perkeretaapian Jepang) mengambil alih pimpinan penggalian (mining head) dan jalur kereta api serta terlibat dalam pembangunan. Setelah pembukaan jalur kereta Stasiun Shimbasi, Edo-Yokohama pada tahun 1878, reputasi kereta api menjadi sangat baik dan menguntungkan.

Setelah perang berakhir, kunci perkeretaapian Jepang dipegang oleh JNR. Japanese National Railways (JNR) beroperasi pasca perang berakhir. Dibentuk sebagai perusahaan swasta pada tahun 1949, JNR mengambil alih sistem kereta api yang sebelumnya dikelola oleh pemerintah.

JNR menjadi salah satu perusahaan yang memperbaiki ekonomi Jepang pasca perang dan berkembang pesat dalam periode pertumbuhan ekonomi negara itu. Perusahaan ini yang mengadakan riset dalam teknologi kereta api tingkat tinggi pertama di dunia, misalnya dengan penciptaan Shinkansen atau Kereta Peluru berkecepatan tinggi di tahun 1964. Selain itu, tentu juga kereta lokal di jalur konvensional (KRL) juga tak luput dari perkembangan.

Tak jauh berbeda dengan Shinkansen, pada dekade 60-an Jepang juga memproduksi KRL komuter lokal. KRL keluaran tahun ini sampai sekitar tahun 90-an sering disebut sebagai Toei. Pada KRL jenis ini dan jenis beberapa jenis lainnya, memiliki salah satu ciri yang bisa dibilang menjadi pertanyaan, yaitu memiliki pintu depan di kabin masinis? Apa tujuannya?

Menurut Kanji Users Service Operation, Earl Kinmonth, seperti dilansir Quora, sebetulnya tidak semua jenis KRL komuter lokal di Jepang atau jenis kereta di Jepang memiliki pintu depan di kabin masinis.

Kita tahu, di Jepang ada kereta EMU, kereta diesel, Shinkansen, lokomotif, monorel, Automatic Guide Transit (AGT), trem, lokomotif uap, railbus, rel linear, dan Maglev. Dari semua itu, tidak semua memiliki pintu depan di kabin masinis. Hanya kereta EMU, kereta monorel, dan KRL saja yang memilikinya.

Turunan dari tiga jenis kereta itu, juga tak seluruhnya memiliki pintu depan di kabin masinis. Hanya tipe atau seri tertentu saja.

Pada KRL, hampir semua tipe memiliki pintu depan di kabin masinis. Menurut Kinmonth, fungsinya hampir sama dengan adanya pintu di ujung kereta, yaitu untuk menghubungkan kereta.

Baca juga: Lama Tak Beroperasi, KRL TM 5000 Jadi Bahan Sorotan Penggemar Kereta Api

Meski berada di ujung depan atau ujung belakang, kabin masinis tetap memiliki pintu depan lantaran adanya 2 set kereta yang dijadikan satu. Itu kenapa kabin masinisnya didesain memiliki pintu depan, semata untuk tetap memungkinkan antar kereta terhubung saat 2 set kereta dijadikan satu rangkaian.

Dalam kondisi darurat, pintu depan di kabin masinis juga menjadi akses pintu darurat baik bagi masinis maupun penumpang, terutama saat berada di dalam terowongan, dimana dinding terowongan nyaris menempel dengan KRL. Saat ini terjadi, pintu depan di kabin masinis otomatis menjadi juru selamat.

Hitachi Rail “Blues” Kereta Bertenaga Hibrida Tiga Moda Resmi Beroperasi di Sisilia Italia

Setelah diluncurkan pada 21 September lalu, kini kereta bertenaga hibrida, yakni bisa menggunakan listrik pantograf, baterai dan diesel, Hitachi “Blues” yang dioperasikan Trenitalia telah beroperasi untuk melayani penumpang di wilayah Sisilia, Italia, pada 20 Desember 2022.

Baca juga: Hitachi Rail Luncurkan “Blues” di Italia – Kereta Bertenaga Hybrid, Bisa Pakai Listrik Pantograf, Baterai dan Diesel

Dikutip dari Railway-Technology.com, kereta Blues menawarkan tingkat kenyamanan yang tinggi bagi penumpang, seperti kereta ini dilengkapi dengan sistem pendingin udara inovatif yang memungkinkan optimalisasi konsumsi energi berdasarkan jumlah penumpang sebenarnya di dalam kereta, soket daya USB dan 220v untuk konektivitas yang lebih baik.

Kereta ini juga memiliki jendela besar, area sepeda dan kapasitas transportasi bagasi yang tinggi. Kereta dapat mencapai kecepatan maksimum 160 km per jam dengan percepatan 1,10 m/detik dan dapat menampung hingga 300 orang duduk dalam komposisi empat gerbong.

Aksesibilitas dioptimalkan sesuai dengan Spesifikasi Teknis Interoperabilitas terbaru yang ditetapkan Uni Eropa untuk Orang dengan Mobilitas Rendah melalui ketinggian akses ke kereta di tingkat peron, untuk kepentingan semua penumpang, serta minimalisasi langkah-langkah internal, yang memungkinkan kegunaan maksimal kereta oleh penumpang.

Kereta Blues telah dirancang dengan solusi ramah lingkungan termasuk, yang di dalamnya tingkat daur ulang tinggi (95%) pada material; penggunaan bahan baku yang berasal dari daur ulang; teknologi on-board yang meminimalkan konsumsi energi, seperti sistem pencahayaan LED internal dan eksternal; sistem pendingin udara pintar; dan penggunaan Smart Parking.

Baca juga: Desiro ML Cityjet Eco, Kereta Bertenaga Baterai Elektro-Hybrid dari Siemens Mobility

Hitachi dan Trenitalia telah menetapkan kontrak untuk penyediaan 135 kereta Blues senilai 1,2 miliar euro. Khusus untuk melayani wilayah Sisilia, ada 22 kereta yang akan dioperasikan. Selain itu, Blues rencananya juga akan mengular di wilayah Italia lainnya.

Pertama di Asia Tenggara, Bandara Changi Hadirkan Aplikasi Seluler Pelacakan Bagasi Penumpang

Meski pada umumnya manajemen dan penanganan bagasi di bandara semakin baik, namun, tetap saja masalah kehilangan tas/koper bagasi pada kargo, menjadi momok tersendiri yang acap kali membuat pusing penumpang. Nah, belum lama ini ada terobosan dari Otoritas Bandara Changi Singapura, yang menghadirkan aplikasi untuk membantu penumpang melacak keberadaan tas bagasi.

Baca juga: Susul Lufthansa, Air New Zealand Larang Penumpang Gunakan Pelacak Bagasi Apple AirTag, Kenapa?

Dikutip dari Simpleflying.com, disebutkan Bandara Internasional Changi Singapura akan dilengkapi aplikasi untuk membantu meringankan kekhawatiran penumpang berupa aplikasi pelacakan bagasi. Fungsi pelacakan bagasi yang dipersonalisasi di bandara Changi berasal dari dalam aplikasi seluler bandara, yakni Ichangi.

Fungsi pelacakan bagasi dalam aplikasi seluler terdengar menarik, dan kemungkinan ini adalah yang pertama dari jenisnya yang diluncurkan oleh bandara di Asia Tenggara. Analis mengungkapkan bahwa hadirnya aplikasi ini merupakan bagian dari perjalanan transformasi bagasi Bandara Changi, yang dimulai akhir tahun lalu.

Idenya adalah untuk meningkatkan pengalaman perjalanan secara keseluruhan penumpang, dan bandara bekerja dengan banyak mitra untuk memahami dan menggunakan teknologi untuk meningkatkan cara bagasi ditangani dan dilacak.

Fungsi ini secara resmi diperkenalkan ke aplikasi Ichangi bulan ini dan sejak itu telah diuji dalam versi beta. Karena masih dalam tahap uji coba, fungsinya hanya tersedia untuk penumpang dari maskapai yang berpartisipasi dengan berangkat, atau transit di Bandara Changi.

Menggunakan fungsi tersebut, penumpang yang bepergian dari atau ke Bandara Changi harus dapat melacak status bagasi mereka dan menerima pembaruan tepat waktu jika bagasi kedatangan mereka di bandara tertunda karena sesuatu yang tidak terduga.

Bagaimana cara kerja fungsi pelacakan?
Penumpang yang berangkat hanya perlu memindai label bagasi mereka melalui aplikasi Ichangi, dan mereka akan memiliki visibilitas lengkap perjalanan bagasi mereka dari diperiksa ke sistem penanganan bagasi ketika dimuat ke dalam kargo di atas pesawat.

Baca juga: Tak 100 Persen Aman, Aplikasi Pelacakan Bagasi Dipertanyakan Keakuratannya!

Di sisi lain, penumpang yang tiba di Changi, memiliki visibilitas bagasi mereka yang diperiksa di bandara luar negeri dan akan tahu kapan harus mengharapkan pengiriman tas mereka di klaim bagasi Bandara Changi. Pengalamannya hampir serupa untuk mentransisikan penumpang, yang akan diberi tahu dan melihat bahwa bagasi mereka telah tiba di Changi dan ketika dimuat ke pesawat untuk penerbangan selanjutnya.

Meskipun aplikasi Ichangi dan fungsinya memerlukan koneksi internet, Bandara Changi menawarkan layanan WiFi gratis, sehingga kenyamanan bagi penumpang benar -benar ada di sana.

Drone Quadcopter Mini DJI Mavic 3 Mampu Prediksi Terjadinya Letusan Gunung

Tak ada yang bisa memastikan kapan bakal terjadinya letusan gunung berapi, namun, lewat teknologi berbasis sensor gerakan dan visual, kapan terjadinya letusan pada gunung berapi dapat diprediksi sejak awal. Nah, terkait dengan prediksi waktu letusan, akan banyak dipengaruhi oleh kemampuan deteksi pada aktivitas sang gunung itu sendiri. Dan sejak beberapa tahun teknologi drone telah difungsikan untuk mendukung pengamatan gunung berapi.

Baca juga: Drone Kargo Karya Anak Bangsa Beraksi di Lokasi Gempa Bumi Cianjur 

Dikutip dari uni-mainz.de (20/12/2022), diwartakan drone mini yang biasa digunakan secara komersial rupanya dapat diadaptasi untuk membantu memprediksi letusan gunung berapi. Digagas oleh Prof. Thorsten Hoffmann dari Johannes Gutenberg University Mainz di Jerman, sebuah drone quadcopter DJI Mavic 3 Raven telah diuji di Pulau Vulcano, Italia.

Drone quadcopter itu kemudian ditambahkan komponen modul mikrokontroler/Wi-Fi ESP32, sensor sulfur dioksida dan karbon dioksida mini, pompa pengambilan sampel udara kecil, modul GPS, dan drive memori flash.

Semua perangkat tersebut ditenagai oleh baterai lithium-polymer 1.300 mAh (terpisah dari baterai drone itu sendiri), dan terkandung dalam kotak cetakan 3D yang dipasang pada undercarriage Mavic 3. Nantinya, data ditransmisikan dari drone ke komputer yang berbasis di permukaan secara real time, dan plus direkam di memori onboard drone.

Dari analisis gas vulkanik yang diambil drone, memungkinkan para ilmuwan untuk menentukan proses apa yang terjadi jauh di dalam gunung berapi, termasuk kemungkinan letusan yang akan datang. Sementara penggunaan drone besar cenderung mahal dalam pengoperasian.

Sebelum era drone, satu-satunya metode untuk mengumpulkan gas vulkanik dilakukan dengan memanjat ke tepi kawah gunung berapi aktif. Ini tidak hanya proses yang sangat sulit dan memakan waktu, tetapi juga dapat membahayakan ahli vulkanologi, jika terjadi letusan saat mereka berada di sana.

DJI Mavic 3 Raven berarnya hanya 1,23 kg, dengan penambahan paket sensor dan aksesoris pendukung, berat done menjadi 3 kg.

Baca juga: DJI Kembangkan Teknologi Geofencing Lanjutan untuk Keamanan Navigasi Drone

Dalam penerbangan uji yang dilakukan pada bulan April ini di pulau Vulcano Italia, drone Raven berhasil memperoleh dan menyampaikan pembacaan gas vulkanik dari kawah La Fossa. Lebih khusus lagi, secara akurat melaporkan rasio sulfur dioksida/karbon dioksida dari semburan gas yang dipancarkan oleh kawah – rasio tersebut dapat digunakan untuk menentukan kemungkinan letusan yang terjadi dalam waktu dekat.