Bagaimana Cara Penumpang Lawan Rasa Takut Naik Pesawat? Simak Tipsnya

Takut atau phobia naik pesawat terbang bukanlah masalah seseorang atau penumpang di salah satu negara, melainkan di seantero dunia. Penumpang takut naik pesawat istilahnya disebut aerophobia. Ini (aerophobia) disebabkan banyak faktor, salah satunya trauma di masa lalu. Lantas, bagaimana cara penumpang pengidap aerophobia melawan rasa takut naik pesawat?

Baca juga: Mulai dari Sibuk Sampai Penakut, Inilah Tipe Penumpang dalam Penerbangan

Dihimpun dari berbagai sumber, aerophobia terjadi karena adanya trauma di masa lalu. Hal ini tak diketahui pasti, ada kemugkinan orang tersebut mengalami langsung pengalaman terbang yang tidak menyenangkan. Cerita-cerita tentang kecelakaan pesawat juga bisa membuat Anda merasa merinding, takut, dan ngeri.

Tak hanya karena pengalaman, aerophobia juga bisa disebabkan karena belum pernah naik pesawat alias baru pertama kali naik pesawat, takut ketinggian, takut pada ruangan tertutup, takut gerakan ekstrem semisal saat pesawat take off dan landing, dan sebagainya.

Penderita aerophobia biasanya akan mengalami otot kejang dan tubuh gemetar, keringat dingin dan kepala pusing,perut mual dan rasa ingin muntah, mulut kering wajah pucat, pandangan menyempit serta tidak ada kemampuan untuk berpikir rasional.

Bagi penderita phobia ketinggian, naik pesawat menjadi salah satu tantangan yang cukup menakutkan. Apalagi kalau Anda harus pergi keluar negeri yang harus ditempuh dengan pesawat. Untuk Anda yang memiliki phobia ketinggian dan harus naik pesawat, termasuk aerophobia secara umum, tidak perlu khawatir terdapat beragam cara untuk melawan rasa takut naik pesawat.

Cara ini umumnya ampuh dalam melawan rasa takut naik pesawat. Tentu saja semua cara di bawah ini belum tentu cocok untuk Anda karena yang paling mengetahui diri Anda adalah Anda sendiri.

1. Alihkan perhatian

Hal ini sangat penting bagi Anda baik kegiatan kecil ataupun mengalihkan perhatian ke obyek apapun. Tujuannya untuk mengatur emosi Anda saat pesawat lepas landas.

2. Ingat kenangan manis

Ketakutan Anda bisa hilang karena mengingat kenangan manis bersama orang-orang terkasih.

3. Tidur

Cobalah untuk memejamkan mata pada saat lepas landa. Memang, Anda akan merasakan turbulensi, tapi coba bawa diri anda agar rileks agar bisa tertidur dengan pulas.

4. Kenali rasa panik

Saat Anda mulai merasa panik, kenali kepanikan Anda itu. Lebih cepat Anda merasa panic, lebih cepat pula untuk mengatasinya.

5. Memilih tempat duduk

Bila Anda tahu memiliki aerophobia, bookinglah tempat duduk di depan atau di tengah pesawat dan duduklah di bagian pinggir bukan di dekat jendela. Ini akan mengurangi ketakutan Anda apabila terjadi turbulensi saat lepas landas atau saat di udara.

6. Mengobrol dengan penumpang lain

Walaupun Anda tidak kenal dengan sebelah Anda, berbincanglah dengan mereka. Ini membuat Anda melupakan sejenak kalau sedang berada di dalam pesawat yang akan lepas landas.

7. Pilih maskapai tepat waktu

Jadwal yang tepat waktu akan mengurangi kepanikan Anda, apalagi ketakutan saat penerbangan.

Baca juga: Anda Takut Naik Pesawat Terbang? Mungkin Aerophobia Penyebabnya!

8. Konsultasi ke ahli

Bila phobia Anda saat naik pesawat sudah berlebihan, disarankan untuk menemui ahlinya. Hal ini bisa mengurangi ketakutan atau memang menghilangkan ketakutan Anda. Biasanya ke Psikiater, karena Anda akan diberi obat untuk mengurangi ketakutan Anda.

9. Biasakan dengan ketinggian

Mungkin cara ini terdengar ekstrem, tapi cara terbaik untuk bertahan adalah dengan melawan. Artinya, bila kita takut naik pesawat, justru dengan sering naik pesawat rasa takut itu akan hilang, seperti salah satu korban Miracle on the Hudson. Alih-alih menghindar, ia justru melawan rasa takut naik pesawat dengan berlatih menjadi pilot. Mau tak mau, ia akan sering terbang.

Airbus Dibuat Takjub, Desain Seri Pesawat Tertua A300B2/B4 Masih Beroperasi

Airbus, manufaktur dirgantara dari Eropa, belakangan dibuat takjub, pasalnya pesawat penumpang jet wide body dari generasi desain pertama, ternyata masih terbang sampai saat ini. Pengiriman pertama Airbus adalah jenis A300B2 pada 10 Mei 1974, ketika pesawat bernomor seri 005 itu diserahkan kepada maskapai nasional Perancis, Air France.

Baca juga: Hari Ini, 49 Tahun Lalu, Airbus A300 Pesawat Jet Widebody Twin Engine Pertama di Dunia Terbang Perdana 

Penyerahan A300B2 kepada Air France terjadi sekitar satu setengah tahun setelah penerbangan perdana pesawat itu pada 28 Oktober 1972. Kemudian pada 23 Mei 1974, Air France meluncurkan rute Paris ke London-Heathrow dua kali seminggu dengan A300B2.

Pada 12 Juli 2007, pesawat terakhir dari seri A300/A310 dikirimkan ketika FedEx mengambil A300-600F terakhir, dengan nomer MSN 878, Menjadikan A300 ke-561 dan terakhir yang dibuat datang dalam versi paket kargo yang diluncurkan oleh FedEx. Maju cepat ke hari ini, Pascal Vialleton, Kepala Program Airbus A300/A310, memiliki beberapa keterangan menarik tentang seri A300.

“A300 masih menjadi kunci operasi penerbangan kargo untuk perusahaan seperti FedEx, UPS dan DHL, pada tahun 2021, A300 adalah jenis pesawat kargo ketiga yang paling banyak diterbangkan secara global, di belakang Boeing 757 dan 767,” kata Vialleton, seperti dikutip dari Airlineratings. com

Jumlah A300/A310 yang masih aktif ternyata sangat tinggi, Airbus mencatat bahwa saat ini ada 229 unit A300 yang beroperasi, dan dari jumlah tersebut, 39 disimpan dan sekitar 180 unit masih beroperasi dalam penerbangan reguler. Yang sangat menarik, ada 26 pesawat seri B2/B4 pertama dari tahun 1970-an masih ada, di antaranya dua B2 yang merupakan jet Airbus tertua yang saat ini masih aktif digunakan.

Salah satu A300 tertua diketahui berada di Teheran, Iran, sejak akhir 2020. Airbus mencatat A300B2 bernomor MSN 80 dengan kode EP-IBS sebagai yang tertua “dalam pelayanan”, yang awalnya dikirim pada April 1980 untuk Iran Air dan masih dianggap sebagai bagian dari armadanya.

Iran, yang menderita sebagian besar dekade terakhir di bawah embargo Barat, seringkali tidak memiliki pilihan lain selain tetap berpegang pada apa yang dimilikinya, “karena Airbus sepenuhnya mematuhi embargo, kami hanya memiliki informasi yang sangat sedikit dan terbatas tentang pesawat ini,” kata Vialleton.

Baca juga: Ada Kisah Antara Wiweko Soepono dan Airbus A300B4 Garuda Indonesia

Pesawat tertua yang secara resmi dipantau oleh Airbus saat masih terbang adalah A300B4, MSN 141, awalnya dikirim ke Thai Airways pada Mei 1981, diubah menjadi pesawat kargo yang terbang untuk DHL pada 1999 dan saat ini dioperasikan oleh Aerostan dari Kirgistan, terdaftar dengan registrasi EX-30002.

Sebelum Era GPS, Inilah Teknik Terbang Aman Saat Pesawat Melintasi Samudera

Terbang di atas lautan nan luas seperti melintasi Samudera Atlantik dan Pasifik, tentu menjadi tantangan tersendiri bagi para awak pesawat. Untuk itu, peran navigasi berbasis satelit seperti GPS (Global Positioning System) sangat berperan untuk memandu arah penerbangan.

Baca juga: Dear All, Stop Ketergantungan pada Google Maps (GPS)! Hasil Penelitian Ungkap Dampak Buruknya

Seperti diketahui, kehilangan arah dalam penerbangan di atas lautan menjadi momok menakutkan. Ketika kehilangan arah berlanjut dan arah gagal dikoreksi, maka bisa berujung pendaratan darurat, lantaran pesawat akan kehabisan bahan bakar.

Namun, bagaimana sebelum ada atau dikenalnya teknologi navigasi berbasis GPS? Salah satu jawabannya adalah LORAN, yakni sistem radio berbasis darat yang menyiarkan sinyal yang sangat sederhana pada frekuensi tertentu. Frekuensi ketukan yang diterima sebagai hasil interferensi antara radio-radio ini dapat digunakan untuk menentukan posisi.

Akurasi dalam praktik terbukti sekitar 2 persen dari jangkauan; yaitu, jika Anda berada 100 mil dari radio pemancar, Anda dapat menentukan lokasi Anda dalam jarak 2 mil. Sebelum LORAN, ada navigasi langit. Penggunaan sextant memungkinkan seorang navigator untuk menentukan garis lintang dengan membandingkan ketinggian matahari atau bintang di atas cakrawala; penggunaan sextant dikombinasikan dengan jam akurat yang mewakili waktu di lokasi tetap, memungkinkan navigator untuk menentukan garis bujur.

Jam yang cukup akurat untuk menentukan garis bujur dikembangkan pada tahun 1700-an. Sebelum itu, navigasi langit mengandalkan perhitungan mati untuk menentukan garis bujur.

Terbang melintasi lautan adalah tugas yang jauh lebih menantang karena ada sedikit atau tidak ada peralatan navigasi berbasis darat dalam jangkauan. Di era Perang Dunia Kedua, pesawat memiliki navigator (perwira ketiga) di kokpit yang akan terus-menerus menghitung posisi pesawat. Navigasi langit merupakan salah satu metode yang digunakan dimana posisi bintang di langit diukur dengan sextant untuk mengetahui posisi pesawat.

Sebelum navigasi langit, ada perhitungan mati — memperkirakan posisi Anda berdasarkan arah, waktu, dan kecepatan perjalanan Anda dari perkiraan sebelumnya, dan cara satu ini tidak bekerja dengan baik untuk pesawat.

Sementara itu, teknologi lain yang digunakan adalah radar, terutama radar pasif, yang menafsirkan transmisi dan pantulan dari sumber radio lain.

Baca juga: Otoritas Penerbangan Sipil Perancis Tuduh Rusia Ganggu Sistem Navigasi Berbasis Satelit

Tepat sebelum Perang Dunia II, pesawat menggunakan Radio Direction Finding (RDF) untuk terbang melintasi AS dan luar negeri. Mereka menyetel stasiun radio yang telah direncanakan sebelumnya dan mengikuti “sinar” dan memeriksa silang dengan stasiun lain untuk menentukan lokasi persisnya. Kemudian navigator menyetel stasiun berikutnya lalu stasiun berikutnya hingga pilot dapat melihat kota, titik arah, atau bandara.

Masalah Keamanan, Qantas Tiba-tiba Batalkan Penerbangan Perth-Jakarta, Gegara Wanita Terobos Istana?

Qantas mendadak membatalkan rencana penerbangan rute Perth-Jakarta PP, sehari setelah insiden wanita terobos Istana Negara terjadi. Rute tersebut sebelumnya direncanakan beroperasi mulai tanggal 30 November. Sebagai gantinya, maskapai nasional Australia itu meningkatkan penerbangan rute Perth-Singapura dari tujuh menjadi 10 flight per pekan.

Baca juga: Qantas Terbang Lagi ke Jakarta Sepekan Tiga Kali Mulai November, Catat Tanggalnya

Banyak spekulasi mengenai keputusan tersebut. Salah satunya okupansi rendah alias sepi penumpang sejak pertama kali diumumkan pada Juni lalu.

Kecurigaan tersebut bukan tanpa dasar. Qantas diketahui tetap menjalankan rencana penerbangan perdana pasca Covid-19 rute Perth-Johannesburg (Afrika Selatan) pada 1 November mendatang. Bila kendala teknis menjadi halangan untuk Qantas di rute Perth-Jakarta, banyak pihak berpikir bahwa rute Perth-Johannesburg juga seharusnya turut dibatalkan.

Rute Perth-Jakarta sebelumnya sangat dipuji setinggi langit, salah satunya oleh Perdana Menteri Australia Barat Mark McGowan.

“Indonesia adalah ekonomi yang berkembang pesat yang menampung lebih dari 270 juta orang, dan penerbangan baru ini akan mendukung pertumbuhan perdagangan dan hubungan pariwisata antara Australia dan Indonesia. Rute baru ini juga akan menyediakan pintu gerbang baru bagi para pelancong yang ingin menjelajahi Indonesia saat mereka terhubung ke kota-kota seperti Surabaya dan Medan,” katanya saat mengumumkan dimulainya rute tersebut pada Juni lalu.

Laporan Simple Flying, Qantas mengungkapkan alasan teknis keamanan di Bandara Perth menjadi penyebab utama batalnya penerbangan ke Jakarta. Rute Perth-Johannesburg juga sebetulnya terkena dampak, hanya saja tetap dijalankan dengan skenario dan jangka waktu tertentu.

Disebutkan, masalah teknis keamanan yang dimaksud adalah Qantas harus membagi kedatangan penumpang antara T1 dan T3 Bandara Perth sekalipun T3 adalah tempat maskapai itu mengoperasikan seluruh penerbangan domestik dan internasional.

“Keterbatasan infrastruktur di Terminal 3 menyulitkan berbagai agensi untuk melakukan pemeriksaan imigrasi dan biosecurity screening dengan maksimal untuk memproses penumpang dari beberapa tujuan, termasuk Afrika Selatan dan Indonesia,” jelas Qantas dalam sebuah pernyataan.

Dengan masalah tersebut, Qantas coba melobi berbagai instansi terkait seperti Australian Border Force Agency dan lainnya agar tetap diperbolehkan.

Sayangnya, berbagai instansi tersebut hanya memperbolehkan dua satu atau dua rute internasional populer, meskipun sampai batas waktu tertentu. Itu kenapa rute Johannesburg tetap dilanjutkan sampai waktu tertentu dan rute Jakarta sementara ditangguhkan. Itu juga berarti rute ke Johannesburg lebih populer di mata Pemerintah Australia dibanding rute Jakarta.

Dipilihnya rute ke Johannesburg ketimbang ke Jakarta juga secara tak langsung mengindikasikan bahwa rute tersebut lebih aman. Menariknya, pengumuman ini terjadi sehari setelah insiden wanita coba terobos masuk Istana Negara.

Penerbangan Qantas rute Perth-Johannesburg diketahui akan berangkat dari T3 bandara sampai 15 Januari 2023. Begitu juga dengan kedatangan dari Johannesburg-Perth itu akan mendarat di T3 bandara.

Baca juga: Setelah Sempat Ditutup, Garuda Indonesia Kembali Buka Rute Jakarta – Melbourne

Barulah pada 16 Januari hingga 25 Maret, keberangkatan dan kedatangan di rute tersebut akan dilakukan di T1 bandara. Untuk penumpang transit dari rute tersebut akan diarahkan ke T3.

Setelah 25 Maret, rute Perth-Johannesburg akan ditangguhkan sampai pengumuman lebih lanjut, sama halnya dengan rute Perth-Jakarta.

HondaJet Elite II Jadi Pesawat Bisnis Paling Canggih di Dunia, Ini Sederet Keunggulannya

Tak puas dengan All-New HondaJet Elite S, Honda Aircraft Company kembali meluncurkan generasi terbaru HondaJet Elite, yaitu HondaJet Elite II, dalam acara National Business Aviation Convention and Exhibition 2022 (NBAA-BACE) di Orlando, Amerika Serikat. Pesawat tersebut diklaim sebagai pesawat tercanggih di kelasnya dengan sederet keunggulan.

Baca juga: Ada Sentuhan Mobil Mewah Honda, Ini Sederet Fitur Baru All-New HondaJet Elite S

Dilansir luxurylaunches.com, HondaJet Elite II diketahui menghadirkan berbagai fitur atau teknologi yang membuatnya jadi pesawat tercepat, tertinggi, dan terjauh di kelasnya.

Dengan jangkauan 1.547 mil laut (eng: Nautical Mile) yang diperluas, Elite II kini memperluas jangkauan HondaJet ke lebih banyak tujuan, sambil mempertahankan posisinya sebagai pesawat paling hemat bahan bakar di kelasnya. Penambahan ground spoiler melengkapi peningkatan performa, mengoptimalkan performa lepas landas dan mendarat di lapangan.

Pesawat memili berat lepas landas maksimum 11.100 pon, naik dari generasi sebelumnya versi “S”, untuk mengakomodir penambahan kapasitas bahan bakar yang diangkut untuk memperpanjang jarak tempuh.

Jarak tempuhnya sendiri meningkat seiring penambahan kapasitas bahan bakar menjadi 1.547 nautical miles atau sekitar 2.865 km. Penggunaan Over-The-Wing Engine Mount (OTWEM) diklaim membuat pesawat memiliki bobot lepas landas yang lebih baik, didukung mesin GE Honda Aero Engines HF120.

HondaJet Elite II juga memiliki rangkaian avionik Garmin G3000 yang disesuaikan, termasuk FAA DataComm dan Aircraft Communications serta Addressing and Reporting System (ACARS), yang menggantikan komunikasi suara dengan pesan teks pendek melalui tautan data digital untuk kejelasan yang lebih baik.

Pesan-pesan ini termasuk perintah lalu lintas udara, informasi terminal, cuaca terminal, dan izin keberangkatan, unggahan rencana penerbangan, messaging, cuaca secara umum, transmisi otomatis saat position reporting, dan Out/Off/On/In status. Jika diinginkan, sistem COM3 dapat menonaktifkan Mode Datalink dan mengalihkan ACARS ke radio suara VHF ketiga. Sangat memudahkan pilot.

Selain itu, fitur Advanced Steering Augmentation System (ASAS) juga akan membatu pilot saat penerbangan jarak jauh. Sistem tersebut mengotomatiskan pengoperasian pesawat, seperti AutoPilot di pesawat konvensional, untuk membantu pilot beristirahat.

Berbagai fitur tersebut sebetulnya bukanlah hal baru mengingat di generasi sebelumnya tipe “S” sudah dibekalinya. Namun tetap spesial karena kecanggihannya.

Terkait kecanggihan teknologi yang dimiliki HondaJet Elite II, Honda Aircraft Company juga berencana untuk memperkenalkan Autothrottle dan Emergency Autoland pada akhir 2023. Arahan ini merangkum upaya berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas HondaJet, melalui teknologi otomatisasi, augmentasi, dan kesadaran situasional, untuk meningkatkan keselamatan operasional

Laman Honda Aircraft Company menyebut, fitur autothrottle ini dapat mengurangi beban kerja pilot melalui manajemen otomatisasi daya, berdasarkan karakteristik penerbangan yang diinginkan melalui semua fase penerbangan. Fitur ini juga memungkinkan kinerja pesawat yang lebih presisi dan juga efisien.

Fitur lainnya, yakni Emergency Autoland, adalah fitur yang terkoneksi dengan Garmin® Autoland. Akan aktif dalam situasi darurat, untuk mengontrol dan mendaratkan pesawat secara mandiri tanpa campur tangan manusia.

Dari segi kenyamanan, HondaJet Elite II memiliki kabin dengan desain interior baru yaitu Onyx and Steel. Desain ulang kabin menampilkan kemewahan modern, dalam pengalaman penerbangan dengan pendekatan holistik terhadap kenyamanan, yang mencakup perawatan akustik dari end-to-end.

Baca juga: Honda Kembangkan eVTOL dan Robot Telepresence untuk Transportasi Masa Depan

Kabin HondaJet Elite II menggabungkan perpaduan warna abu-abu dengan aksen kayu mid-tone. Selain itu kabin juga dibuat lebih kedap, menciptakan ruang yang tenang bagi penumpang dan pilot. Untuk lantai lorongnya menggunakan pola herringbone.

Selain itu, sistem pencahayaan pada seluruh ruang kabin kini menggunakan lampu LED, yang dapat disesuaikan dengan kondisi langit luar. Ruang untuk jarak kaki bertambah 3 inci serta kursi kru dibuat lebih panjang.

(1) 10 Maskapai Paling Aman di Dunia: Tidak Pernah Alami Kecelakaan Fatal

Saat ini, ada sekitar 5.000 maskapai di dunia. Namun, dari jumlah tersebut tak semuanya memiliki catatan keselamatan yang bersih alias tidak pernah kecelakaan fatal sekalipun. Tercatat, hanya ada 10 maskapai yang tidak pernah mengalami kecelakaan fatal dan sampai eksis sampai saat ini. Dilansir travelagentcentral.com, berikut selengkapnya.

Baca juga: Sejarah Qantas, Maskapai Terbesar Australia dan Paling Aman di Dunia

1. Qantas – Terbang sejak 1921

Maskapai tertua ketiga di dunia, Qantas, diklaim sebagai maskapai paling aman di dunia karena tidak pernah mengalami kecelakaan fatal. Namun, klaim tersebut tak sepenuhnya benar mengingat sebelum era jet datang, tepatnya sebelum tahun 1951, Qantas mengalami delapan kecelakaan fatal, dimana satu di antaranya ditembak jatuh saat Perang Dunia II.

Itu kenapa, dalam daftar 42 maskapai sejak dahulu sampai sekarang yang tidak pernah mengalami kecelakaan fatal versi Plane Crash Info, maskapai nasional Australia itu tidak masuk di dalamnya.

2. Hawaiian Airlines – Terbang sejak 1929

Hawaiian Airlines, secara statistik, justru lebih mentereng dan benar-benar bersih dari kecelakaan. Sejak terbang pada akhir dekade 20-an, maskapai tersebut sama sekali tidak pernah kehilangan penumpang atau tidak pernah sekalipun kecelakaan dan menewaskan penumpang, berbeda dengan Qantas.

Bedanya, maskapai yang berbasis di Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat, itu pernah mengalami kebangkrutan pada tahun 1993 dan 2003. Namun, itu tidak menurunkan standar keselamatannya dan terus eksis sampai saat ini dengan status tidak pernah sekalipun terlibat kecelakaan fatal.

3. Southwest Airlines – Terbang sejak 1971

Sudah terbang 50 tahun tanpa kecelakaan fatal cukup mengesankan bagi maskapai LCC terbesar di dunia, Southwest Airlines, yang menjadi blue print sempurna maskapai LCC lainnya, Ryanair.

Maskapai asal itu, yang melayani sekitar 100 tujuan dengan armada lebih dari 700 pesawat, tidak pernah mengalami kecelakaan fatal. Namun, pada tahun 2005, sebuah 737 mengalami overrun saat mendarat di Chicago Midway International dalam kondisi salju tebal dan meluncur ke jalan, menabrak mobil dan menewaskan seorang anak laki-laki berusia enam tahun.

4. EasyJet – Terbang sejak 1995

EasyJet tidak pernah mengalami satupun kecelakaan. Faktanya, catatan keselamatannya sangat jauh dari insiden. Sulit untuk menemukan masalah serius di salah satu penerbangan maskapai asal Inggris tersebut.

Baca juga: Produsen Pesawat Mana yang Paling Aman di Dunia? Ternyata Bukan Boeing-Airbus!

5. Ryanair – Terbang sejak 1985

Selama 33 tahun terbang, yang paling dekat dengan kecelakaan serius adalah pada tahun 2008 ketika sebuah pesawat terpaksa melakukan pendaratan darurat di Roma setelah mengalami beberapa bird strike ke hidung, sayap, dan mesin.

Diyakini pesawat itu menabrak sekitar 90 burung jalak. Saat mendarat, roda pendarat sebelah kiri lepas dan badan pesawat menyentuh landasan. Pesawat rusak berat dan mengalami total loss. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.

Varian Pesawat Sipil Mana yang Paling Aman di Dunia? Ini Jawabannya

Saat ini, ada sekitar 25 ribu pesawat komersial aktif di dunia. Selain itu, ada sekitar 7.000-8.000 lebih pesawat yang terbang di waktu tertentu setiap hari. Meski frekuensi terbang tinggi, hanya sedikit dari mereka yang berakhir nahas. Itu kenapa pesawat dinobatkan sebagai moda transportasi paling aman di dunia. Berbicara soal aman, sebetulnya, pesawat sipil mana yang paling aman di dunia?

Baca juga: Produsen Pesawat Mana yang Paling Aman di Dunia? Ternyata Bukan Boeing-Airbus!

Saat ini, ada enam manufaktur yang pesawatnya lumrah digunakan sebagai pesawat komersial; Airbus, ATR, Boeing, Bombardier, Embraer, dan Sukhoi.

Airbus diketahui merupakan produsen pesawat komersial terbesar kedua di dunia. Pemiliknya adalah European Aeronautic Defense and Space Company (EADS), dari Jerman, Perancis, dan Spanyol, dengan 80 persen saham, dan BAE Systems, dari Inggris, dengan 20 persen saham. Produk atau pesawat pertamanya, A300, mulai digunakan pada tahun 1974.

Boeing merupakan perusahaan kedirgantaraan terbesar di dunia. Boeing didirikan oleh William E. Boeing (1881–1956) dan sudah dimulai pada tahun 1916 sebagai Aero Products Company dan kemudian, pada akhir 1920-an, menjadi bagian dari United Aircraft and Transportation Corporation. Itu membuat Boeing 707, pesawat jet Amerika pertama.

Bombardier adalah perusahaan Kanada yang membuat pesawat, peralatan transportasi kereta api, dan produk konsumen bermotor. Selama tahun 1980-an, perusahaan memasuki bisnis kedirgantaraan.

Embraer ialah sebuah perusahaan multinasional yang berbasis di Brasil membuat pesawat untuk penggunaan komersial, eksekutif, pertahanan, dan pertanian. Perusahaan ini telah membuat lebih dari 8.000 pesawat sejak 1969.

ATR atau Avionics de Transport Regional atau Aerei da Transporto Regionale adalah perusahaan patungan antara Perancis dan Italia yang dimulai pada tahun 1981. Produk utamanya adalah pesawat ATR 42 dan ATR 72.

Sukhoi merupakan holding Rusia, memproduksi pesawat sipil dan militer sejak thun 1939. Perusahaan ini merupakan pengekspor pesawat Rusia terbesar di dunia.

Sejak awal berdiri, produsen di atas telah banyak mengeluarkan tipe atau varian pesawat, baik dari jenis narrowbody maupun widebody.

Sejauh ini, pesawat narrowbody terjual lebih banyak dibanding pesawat widebody di setiap tahunnya. Adapun narrowbody dengan penjualan tertinggi datang dari dua keluarga pesawat Boeing dan Airbus; Boeing 737 dan Airbus A320.

Karenanya, untuk bisa menilai dengan objektif terkait varian atau tipe pesawat sipil mana yang paling aman di dunia, sebagaimana dikutip dari expatriateconsultancy.com, digunakan rasio perhitungan berdasarkan tingkat kecelakaan fatal per seribu tahun waktu layanan.

Baca juga: Jadi Pesawat Tersukses dalam Sejarah, Dekade 90-an Jadi Periode Tersulit Boeing 737! 2.700 Pesawat Digrounded

Melalui model perhitungan tersebut, beberapa pesawat seperti Airbus A380 belum pernah mengalami kecelakaan fatal sejak pertama kali diperkenalkan. Namun, bukan berarti itu langsung membuatnya dinobatkan sebagai pesawat paling aman di dunia.

Gelar pesawat paling aman di dunia justru disandang oleh keluarga Embraer ERJ, baik 130, 140, maupun 145. Sejak diperkenalkan pada tahun 1997, keluarga pesawat itu baru sekali mengalami kecelakaan. Namun, itu bukan kecelakaan fatal yang menimbulkan korban jiwa. Sehingga, dengan begitu, tanpa diragukan lagi, keluarga Embraer ERJ-lah tipe pesawat teraman di dunia.

Produsen Pesawat Mana yang Paling Aman di Dunia? Ternyata Bukan Boeing-Airbus!

Pesawat sipil atau komersial yang paling umum digunakan maskapai di dunia adalah Boeing dan Airbus. Keduanya seolah memonopoli pasar penerbangan sipil melalui berbagai tipe pesawat buatannya dan diyakini aman. Kendati begitu, Boeing dan Airbus bukanlah pabrikan pembuat pesawat paling aman di dunia berdasarkan catatan kecelakaan. Lantas, produsen mana yang paling aman di dunia?

Baca juga: 4 Poin Head to Head Boeing vs Airbus, Mana Lebih Unggul?

Menurut data yang dihimpun dari Aviation Safety Network (ANS), sebuah organisasi swasta yang berdiri pada tahun 1996 khusus mencatat perihal kecelakaan pesawat, dan data dari laman Turbli.com, sedikitnya ada enam produsen pesawat yang diteliti untuk kemudian dinobatkan sebagai produsen pesawat paling aman di dunia. Enam itu adalah Airbus, ATR, Boeing, Bombardier, Embraer, dan Sukhoi.

Airbus sendiri adalah produsen pesawat komersial terbesar kedua di dunia. Pemiliknya adalah European Aeronautic Defense and Space Company (EADS), dari Jerman, Perancis, dan Spanyol, dengan 80 persen saham, dan BAE Systems, dari Inggris, dengan 20 persen saham. Produk atau pesawat pertamanya, A300, mulai digunakan pada tahun 1974.

Boeing merupakan perusahaan kedirgantaraan terbesar di dunia. Boeing didirikan oleh William E. Boeing (1881–1956) dan sudah dimulai pada tahun 1916 sebagai Aero Products Company dan kemudian, pada akhir 1920-an, menjadi bagian dari United Aircraft and Transportation Corporation. Itu membuat Boeing 707, pesawat jet Amerika pertama.

Bombardier adalah perusahaan Kanada yang membuat pesawat, peralatan transportasi kereta api, dan produk konsumen bermotor. Selama tahun 1980-an, perusahaan memasuki bisnis kedirgantaraan.

Embraer ialah sebuah perusahaan multinasional yang berbasis di Brasil membuat pesawat untuk penggunaan komersial, eksekutif, pertahanan, dan pertanian. Perusahaan ini telah membuat lebih dari 8.000 pesawat sejak 1969.

ATR atau Avionics de Transport Regional atau Aerei da Transporto Regionale adalah perusahaan patungan antara Perancis dan Italia yang dimulai pada tahun 1981. Produk utamanya adalah pesawat ATR 42 dan ATR 72.

Sukhoi merupakan holding Rusia, memproduksi pesawat sipil dan militer. Perusahaan ini merupakan pengekspor pesawat Rusia terbesar di dunia.

Dari keenam produsen pesawat tersebut, terungkap bahwa produsen pesawat komersial paling aman di dunia adalah Embraer, bukan Boeing ataupun Airbus sekalipun banyak pertanyaan justru mengerucut ke kedua pabrikan tersebut dengan pertanyaan, “Mana Lebih Aman: Pesawat Boeing atau Airbus?”.

Rata-rata insiden fatal per seribu tahun durasi layanan Embraer menjadi yang terendah dengan hanya 0,1 persen, diikuti oleh Airbus, Boeing, Bombardier, ATR, dan Sukhoi. Mungkin ini mengejutkan banyak pihak, tetapi begitulah faktanya, bahwa Embraer menjadi produsen pesawat paling aman di dunia.

Dari data di atas juga terjawab pertanyaan lainnya terkait Boeing dan Airbus, bahwa Airbus adalah produsen yang lebih aman dibandingkan Boeing dari segi rata-rata insiden fatal per seribu tahun durasi layanan dengan selesih sangat tipis.

Baca juga: Rute Penerbangan Mana yang Paling Berbahaya dan Sering Terjadi Turbulensi Hebat?

Embraer diketahui memang memproduksi pesawat-pesawat jet yang lebih kecil dibandingkan pesawat-pesawat buatan Airbus dan Boeing. Namun, hal itu tidak jadi masalah. Bagaimanapun juga, baik itu pesawat kecil maupun besar, tetap harus aman, bukan?

Catatan ini tentu menjadi kebanggaan tersendiri dan tidak bisa lepas dari peran para insinyur dari ITA (Instituto Tecnológico de Aeronáutica, lembaga militer yang “menyediakan” banyak teknisi perusahaan).

Sambut Hari Vegan Sedunia 1 November, Emirates Hadirkan Lebih Banyak Menu Makanan Nabati (Vegan)

Menjelang perayaan Hari Vegan Sedunia pada 1 November mendatang, maskapai Emirates terus mengakomodir berbagai permintaan veganisme atau kaum vegan. Terbaru, maskapai raksasa Timur Tengah itu memperkenalkan menu vegan baru (plant based atau nabati) seperti gourmet vegan di first class dan kelas bisnis. Demikian juga di kelas ekonomi, terdapat terobosan inovasi vegan food lainnya.

Baca juga: Susul Singapore Airlines, Qatar Airways Luncurkan Menu Vegetarian

Sebelum lebih lanjut, banyak orang yang menganggap pola makan nabati atau plant based sama dengan diet vegan. Itu karena pola makan nabati dan vegan sama-sama memasukkan sayuran dalam menu mereka.

Pola makan vegan pada intinya lebih kaku dengan menghilangkan semua produk hewani. Sedangkan pola makan plant based atau nabati tidak selalu menghilangkan produk hewani, tetapi fokus pada makanan seperti buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian. Singkatnya, vegan sudah berarti nabati dan nabati belum tentu vegan.

Begitu juga dengan vegetarian. Vegan sebenarnya merupakan salah satu tipe vegetarian, tetapi batasan jenis makanan yang dikonsumsi pada pola makan ini lebih ketat. Sebagian orang menganggap pola makan vegan sebagai versi ekstrem dari gaya hidup vegetarian

Dalam konteks Emirates menyambut Hari Vegan Sedunia tahun ini, menu-menu baru yang dihadirkan berupa menu makanan nabati.

Dilansir breakingtravelnews.com, Emirates, melalui anak usahanya Emirates Flight Catering, yang notabene mempunyai fasilitas katering penerbangan terbesar di dunia dengan total 11 ribu karyawan dan 225 ribu sajian makanan setiap hari, sejatinya bukan baru-baru ini saja mengembangkan menu makanan nabati ataupun vegan.

Disebutkan, sejak tahun 1990 silam, maskapai nasional Dubai Uni Emirat Arab itu mengembangkan dan menyajikan menu makanan nabati dan vegan di rute-rute tertentu semisal Addis Ababa. Ketika itu, motivasinya berupa kepercayaan agama Ortodoks Etiopia. Begitu juga di India yang menganut kepercayaan tidak memakan daging, khususnya daging sapi.

Seiring pesatnya teknologi informasi, banyak masyarakat dunia yang sadar akan pentingnya makan makanan vegan. Dari situ, permintaan menu makanan vegan di pesawat mulai tinggi dari Amerika Serikat (AS), Australia, beberapa rute Eropa, dan Inggris. Kemudian, permintaan serupa juga berkembang di Timur Tengah dan Asia.

Saat ini, ada sekitar lebih 180 menu makanan nabati yang berhasil dikembangkan oleh para koki maskapai dari 69 negara. Tak hanya saat on board, menu makanan nabati juga disediakan maskapai di lounge bandara.

Masing-masing kelas kursi penerbangan maskapai Emirates memiliki menu nabati favorit tersendiri. Di kelas ekonomi, menu vegan atau menu makanan nabati yang favorit termasuk olahan creamy spinach and avocado mousseline dengan marinated tofu, blanched snow peas, radish, asparagus, pomegranate seeds, courgette ribbon and sriracha oil.

Baca juga: 65 Persen Makanan untuk Emirates Dibuat di Dubai

Termasuk juga quinoa warna-warni dengan pir karamel yang lezat dan pure seledri, kembang kol, wortel berlapis, tumis kangkung dan pesto lovage, dan rasa musim gugur yang hangat dari barley risotto dengan jamur, disajikan dengan tomat sundried, chestnut mentega, brokolini pucat dan biji labu panggang.

Sedangkan di kursi first class dan kelas bisnis, menu makanan nabati favorit penumpang ialah unique koftas dengan produk nabati dari perusahaan daging Beyond yang terkenal di dunia. Untuk Vegan dessert-nya, disediakan olahan cokelat hitam organik dengan 60 persen bahan kakao mentah, yang bersumber dari Republik Dominika.

“A380-1000,” Mimpi Airbus Bawa Seribu Penumpang dalam Sekali Terbang

Airbus A380 adalah pesawat penumpang komersial terbesar yang ada di dunia, rata-rata mampu menampung 555 penumpang dalam konfigurasi tiga kelas yang berbeda, dan hingga 800 dalam konfigurasi satu kelas (all economy) yang mengerikan. Tapi, Airbus tidak lantas puas begitu saja dengan kapasitas ini, dan perusahaan sempat menyusun rencana untuk menambah daya angkut dari A380, yang mampu membawa lebih dari 1.000 penumpang. Tapi, bagaimana mungkin Airbus mengembangkan pesawat dari seri yang sebelumnya sudah terbukti gagal di pasar?

Baca Juga: Kendati Produksi Dihentikan, Airbus A380 Tetaplah Fenomenal

Setelah kabar rencana program pengadaan A380 mulai mencuat ke pasar di sekitar tahun 2000-an, Airbus pa akhirnya merilis prototipe dari pesawat ini pada 18 Januari 2005 di Toulouse, Perancis. Tidak puas dengan A380, pihak Airbus lalu mulai mengembangkan versi yang lebih besar lagi dari pesawat ini, yaitu A380-200. A380-200 sendiri dicanangkan untuk mampu mengangkut hingga 656 penumpang dalam sekali perjalanannya.

Mimpi gila Airbus dalam mengembangkan A380 tidak berhenti sampai di varian A380-200 saja, melainkan ingin terus mengembangkan pesawat ini hingga memiliki daya tampung yang cukup untuk menangkut satu desa berukuran kecil. Pada November 2007, melalui Top Sales Executive sekaligus Chief Operating Officer Airbus, John Leahy mengkonfirmasi bahwa perusahaan siap untuk mengangkut lebih banyak penumpang melalui varian A380-900.

Varian A380-900 ini mampu menampung 650 penumpang yang terbagi ke dalam tiga konfigurasi tempat duduk, dan 900 penumpang untuk konfigurasi satu kelas (all economy). Namun karena satu dan lain hal, pengembangan A380-900 ini terpaksa ditunda oleh Airbus hingga tenggat waktu yang tidak ditentukan.

Jika Anda beranggapan bahwa Airbus tidak akan mendapatkan pelanggan yang akan membeli pesawat dengan daya tampung super banyak tersebut, maka Anda salah besar. Pasalnya, KabarPenumpang.com mengutip dari laman simpleflying.com, ada beberapa nama maskapai yang tertarik dengan kembangan dari A380 ini – mulai dari Emirates, Virgin Atlantic, Cathay Pacific, Air France, KLM, Lufthansa, Kingfisher Airlines, hingga sejumlah perusahaan penyewa pesawat.

Banyaknya maskapai yang ternyata tertarik untuk mengoperasikan A380-900 ini dan ditundanya pengembangan dari varian tersebut membuat masyarakat berspekulasi liar di luar sana. Hingga muncul rumor yang menyebutkan bahwa Airbus tengah mengembangkan varian A380-1000 yang mampu menampung hingga 1000 penumpang. Tentu saja rumor gila ini dengan sangat cepat mewabah hingga sampailah ke telinga pengamat aviasi.

Mereka mengatakan bahwa pihak Airbus harusnya menawarkan varian A380-900 terlebih dahulu ketimbang varian A380-800 (versi yang lebih kecil dari A380-900), agar varian yang lebih kecil ini mampu bersaing di kelas pasar Boeing 777X dan 747-8.

Baca Juga: Kendati Ditimpa Sejumlah Masalah, Mengapa Boeing dan Airbus Tak Kunjung Lengser?

Namun sayang, insiden salah mengamati pasar seperti yang sudah dibahas pada artikel sebelumnya membuat Airbus harus mengurungkan niat untuk mengembangkan varian A380lebih lanjut lagi. Ya, dari target 1.200 unit yang dijual Airbus kepada pelanggan, ternyata hanya kurang dari seperempatnya saja yang mampu dijual Airbus. Tidak lain dan tidak bukan, hal ini dilatarbelakangi oleh permintaan pihak maskapai terhadap pesawat narrow-body yang mampu melakukan perjalanan langsung jarak jauh.