Ada “DINA” di Stasiun MRT Lebak Bulus, Robot Pintar untuk Tugas Patroli

Seolah mengkuti jejak MRT Singapura, MRT Jakarta mulai memperkenalkan sosok robot pintar di Stasiun Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Robot yang berkeliling di area lantai 2 itu, dapat berpatroli secara otonom maupun menggunakan kendali petugas. Robot inovasi ini diharapkan membantu tingkat manajemen untuk mengetahui kondisi nyata (real time) di stasiun sehingga membantu dalam pengambilan keputusan atau kebijakan.
Dikutip dari Detik.com (28/12/2022), selain itu, robot ini juga melakukan interaksi dua arah dengan penumpang karena tersambung dengan petugas di stasiun. Robot pintar yang diberi nama DINA, dikembangkan oleh para akademisi Universitas Gunadharma dan digadang untuk melalukan patroli di dalam area stasiun.
Belum jelas mengenai spesifikasi DINA. Untuk saat ini, PT MRT Jakarta mengujicobakan satu unit Robot DINA dan ditempatkan di Stasiun Lebak Bulus Grab, sebagai salah satu stasiun besar dan tersibuk di jalur fase 1. Nantinya, akan dilakukan kajian dan evaluasi untuk penambahan di stasiun lain, termasuk untuk fase 2A.
Jauh sebelumnya, yakni pada tahun 2018, MRT Singapura juga telah menghadirkan robot dengan fungsi patroli di beberapa stasiun. Untuk melakukan tugas patroli, robot yang dikembangkan oleh leh ST Engineering, sudah terbilang canggih.
Fitur yang melekat pada robot patroli di stasiun MRT Singapura  mencakup 7 unit kamera pengintai yang dapat memanta situasi 360 derajat. Untuk akurasi lokasi, robot ini juga dilengkapi GPS (Global Positioning System), plus beragam sensor seperti LIDAR (Light Detection and Ranging) dan laser tracker. Dalam tahap lanjutan, LTA (Land Transport Authority) menyebut robot akan punya kemampuan analisa video dan audio.

Skadron Udara 17 TNI AU Operasikan Dassault Falcon 7X dan 8X, Jet Mewah dengan Kemampuan Terbang Jarak Jauh

Selain kondang dengan produk jet tempur Rafale, Dassault Aviation juga tersohor sebagai manufaktur pesawat jet bisnis, di mana Dassault Aviation telah mengibarkan nama Falcon sebagai lini pesawat jet mewah dengan kemampuan terbang jarak jauh. Dan pada 28 Desember 2022, Skadron Udara 17 VIP/VVIP TNI AU telah resmi bergabung sebagai operator jet mewah tersebut.

Baca juga: 2023 Pesawat Falcon 50 Berbahan Bakar Amonia Terbang Perdana, Tantang Pesawat Hidrogen Airbus

Serupa tapi tidak sama, ada dua unit Falcon Business Jet yang didatangkan untuk TNI AU, yakni Falcon 7X dan Falcon 8X. “Hari ini kita berbangga, ada kekuatan tambahan untuk TNI AU. Dua pesawat yang kita sebut pesawat Kodal (Komando Pengendalian) ini diperuntukkan bagi unsur pimpinan sehingga mereka dapat dengan cepat bergerak dalam melaksanakan fungsi kepemimpinannya,” ujar Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, yang menyerahkan kedua pesawat di Hanggar Skadron Udata 17, pada 28 Desember 2022, seperti dikutip dari Tim Media Prabowo Subianto.

Acara penyerahan pesawat tersebut diawali dengan penghormatan, berupa Water Salute untuk pesawat Falcon 7X, sebagai simbol ucapan selamat datang di Lanud Halim Perdanakusuma.

Falcon 7 X yang digunakan TNI AU bukan pesawat baru. Pesawat ini dibuat Dassault Aviation pada tahun 2015. Saat pertama keluar dari pabriknya di Perancis, pesawat ini langsung diboyong ke Meksiko untuk digunakan oleh Aerolineas Centrales. Pesawat yang awalnya memiliki registrasi uji F-WWZR itu kemudian mendapatkan registrasi XA-GOR.

Dituliskan bahwa sebelum registrasi pesawat dicabut, nama pemilik pesawat yang terdaftar di FAA adalah salah satu perusahaan perbankan raksasa dunia, yaitu Bank Of America.

Lalu pada 10 Juni 2022, Falcon 7 X sudah terdaftar dalam registrasi di penerbangan Perancis, dengan nama Dassault Aviation dengan registrasi pengenal F-HJCP. Kemudian pada September 2022, pesawat tiba di Bandara Lelystad, ketika itu pesawat masih menggunakan strip besar berwarna abu-abu di badannya dengan tulisan F-HJCP terpampang di badan mesin jet.

Setelah sempat menghilang selama beberapa pekan, ternyata ketika muncul lagi, wajah Falcon 7 X sudah berubah. Warna dasarnya berubah dari putih menjadi abu-abu khas militer, dan strip abu-abu besar di badan telah berganti merah putih, Selain itu pada ekor pesawat ada roundel TNI AU.

Yang tadinya Falcon 7X menggunakan kode F-HJCP, maka saat resmi dioperasikan TNI AU mendapatkan nomor registrasi A-0707. Bicara spesifikasinya, Falcon 7X diawaki tiga kru (pilot, kopilot, dan pramugari) dan dapat menampung hingga 12 penumpang.

Pesawat ini memiliki panjang 23,19 meter, lebar bentang sayap 26,21 meter, dan tinggi 7,86 meter. Berat lepas landas maksimumnya (MTOW) mencapai 31.299 kg. Falcon 7X ditenagai berupa tiga mesin turbofan buatan Pratt & Whitney Canada (PWC) PW307A, yang masing-masing berdaya 28,46 kN.

Pesawat ini memiliki performa kecepatan jelajah maksimal 900 km per jam dan ketinggian terbang hingga 15.545 meter. Dassault Aviaton merancang Falcom series sebagai pesawat bisnis jet dengan kemampuan terbang jarak jauh. Dengan bahan bakar penuh, Falcon 7X dapat terbang non-stop sejauh 11.000 km.

Baca juga: Dassault Aviation Luncurkan Falcon 10X, Jet Bisnis Ultra Jarak Jauh dengan Sentuhan Jet Tempur Rafale

Falcon 8X
Falcon 8X adalan varian yang lebih maju dari Falcon 7X. Dassault Falcon 8X yang digunakan TNI AU adalah produksi tahun 2017. Operator pertamanya adalah Plenty Shine Investment Ltd, yang kala itu mendaftarkan Falcon 8X dengan nomer registrasi VP-CHY.

Kemudian sejak 18 Juli 2022, pesawat tersebut kembali dimiliki oleh Dassault Aviation dengan nomer registrasi F-HSRI. Ketika resmi digunakan TNI AU, pesawat mendapatkan registrasi A-0808.

Falcon 8X lebih panjang satu meter dari Falcon 7X dan dapat membawa 16 penumpang. Falcon 8X ditenagai tiga mesin jet Pratt & Whitney Canada PW307D. Falcon 8X memiliki jangkauan terbang lebih jauh dari Falcon 7X, yakni 11.950 km. Hal tersebut dapat dicapai berkat tangki tambahan dan mesinnya yang lebih efisien.

10 Bandara Ini Punya Landasan Paling Ekstrim

Waktu lepas landas dan mendarat adalah babakan paling ‘genting’ dalam sebuah penerbangan. Biasanya di kedua waktu tersebut menjadi hal yang menakutkan bagi Anda yang sering naik pesawat. Namun untuk mendarat biasanya akan lebih mengerikan dibanding saat lepas landas dari landasan pacu sebuah bandara. Sebab kecelakaan paling banyak terjadi saat pendaratan dilakukan. Dilansir dari wonderslist.com, berikut ini sepuluh bandara dengan landasan pacu yang dipandang paling ekstrim di dunia.

Baca juga: Kenapa Pesawat Sering Berhenti di Ujung Landasan Sebelum Lepas Landas?

1. Bandara Funchal, Madeira
Bandara ini, dulunya bernama Saint Chatarina, pertama dibuka tahun 1964 dengan dua landasan pacu sepanjang 1600 m dan menjadi salah satu Bandar udara yang memiliki landasan pacu berbahaya karena letaknya sangat dekat dengan tebing curam.

Barra Airport-TravelLeisure
Barra Airport-TravelLeisure

2. Bandara Barra, Skotlandia
Bandar udara ini unik sekaligus ekstrim, karena memiliki landasan pacu yang pendek dan menggunakan pantai sebagai tempat pendaratan dan lepas landas. Barra memiliki tiga landasan pacu yang ditandai hanya tiang-tiang kayu. Landasan bandara ini hanya digunakan untuk penerbangan terjadwal dan tidak untuk malam hari, disebabkan pada malam hari landasan tertutup air laut yang pasang.

3. Sea Ice Runway, Antartika
Landasan pacu bandara ini terbuat dari ukiran es laut setiap tahunnya dengan panjang 2,5 mil. Biasanya operasional bandara ini lebih banyak pada musim panas di Antartika. Untuk melakukan pendaratan di landasan ini pilot harus menghindari mendarat terlalu berat atau bisa tenggelam kedalam es.

Sea-ice-Runway-pinterest
Sea-ice-Runway-pinterest

4. Gustav Airport III
Terletak di salah satu pulau Karibia, bandara ini memiliki landasan pacu yang sempit, pendek dan berpapasan dengan lereng jalan utama kota serta berhadapan langsung dengan laut. Untuk mendarat pesawat harus menukik tajam karena melewati bukit di ujung landasan pacu.

5. Bandara Paro, Bhutan
Satu-satunya bandara yang ada di Bhutan ini, mempunyai landasan pacu yang sangat menantang. Terbukti hanya ada delapan pilot yag memiliki setifikat terbang di bandara ini. Bandara yang dikelilingi oleh puncak Himalaya ini menjulang tinggi dan terletak di lembah yang dalam. Pilot-pilot harus memiliki insting yang kuat sebelum melakukan pendaratan dan harus turun ke landasan dengan cepat kemudian berbelok dengan curam ke kiri sebelum mendarat.

6. Bandara Matakene, Lesotho
Pilot yang menerbangkan pesawat di bandara ini harus memiliki keahlian luar biasa, sebab untuk lepas landas dan mendarat di pegunungan yang memiliki ketinggian 2000 kaki. Tak hanya itu, angina juga menjadi penentu dalam lepas landas maupun mendarat. Adapun yang harus dilakukan pilot sebelum parkir tidak disarankan untuk terbang sebelum mencapai akhir landasan pacu di ketinggian 1312 kaki.

gustav-airport-III-key.aero
gustav-airport-III-key.aero

7. Bandara Courchevel, Perancis, Pegunungan Alpen
Di bandara yang terletak di pegunungan Alpen ini, hanya pilot-pilot bersertifikatlah yang boleh mendarat dan melepas landaskan pesawat. Bentuk landasan Courchevel sendiri pendek, curam dan memiliki kemiringan sekitar 18,5 persen.

8. Saba Airport, Saba, Karibia
Landasan pacu sepanjang 1300 meter di bandara ini dijuluki landasan pacu terpendek. Letaknya yang dikelilingi jurang dengan angin laut yang kencang bisa membuat pilot hilang kendali dan membuat kesalahan dengan resiko kecelakaan.

9. Gibraltar Airport, Gibraltar
Landasan pacu di bandara ini bisa dikatakan berbahaya karena berada di antara jalan utama kota yang dilintasi kendaraan lain. Untuk kendaraan lain yang akan melewati bandara ini, harus bersiap dan sabar untuk menunggu pesawat yang akan mendarat atau lepas landas.

Baca juga: Beken dengan ‘Atraksi’ Jet Blast, Bandara Princess Juliana Ternyata Pernah Makan Korban Jiwa

10. Princess Juliana Airport, Saint Maarten, Belanda
Bandara ini terletak didekat laut tepatnya di pantai Maho dan pilot harus bisa mengatur ketinggian yang sesuai. Sebab jarak antara laut dan badan pesawat sangat dekat. Bila salah-salah, pesawat bisa mengenai para pengunjung pantai tersebut.

Mengapa Pesawat Masih ‘Mantul’ Meski Spoiler Sudah ‘On’?

Komponen di pesawat sangat banyak. Salah satu yang terpenting adalah spoiler. Ini sangat berguna untuk membantu pengereman pesawat dengan cara merusak aliran udara di sayap pesawat. Dengan begitu daya angkat dan kecepatan pesawat pun berkurang. Tetapi, ada kasus dimana meski spoiler sudah on tetapi pesawat masih meluncur kencang dan pada akhirnya menyebabkan bouncing. Kenapa demikian?

Baca juga: Kenapa Beberapa Airbus A320 Air India Miliki Roda Pesawat Ekstra?

Berbagai hal di luar normal bisa terjadi saat pesawat mendarat. Salah satunya adalah terjadinya bouncing atau pesawat memantul seperti bola yang menyentuh lantai. Dalam banyak kasus, ini sebetulnya aman. Tetapi tidak sedikit yang berakhir nahas lantaran landing gear patah saat pantulan pertama atau kedua.

Karenanya, bouncing atau pesawat memantul di landasan pacu saat mendarat sekuat mungkin dihindari pilot-kopilot. Salah satu tekniknya adalah dengan memaksimalkan spoiler. Tetapi, andai itu sudah dimaksimalkan dan tetap terjadi bouncing, apa yang salah?

Dilansir Quora, pilot Airbus A320/A321, Anas Maaz, mengungkapkan, fungsi spoiler dalam mendukung pendaratan pesawat sebetulnya tidak perlu diragukan. Artinya, saat spoiler sudah bekerja, pesawat pasti tidak akan bouncing atau mantul.

Di banyak kasus, boucing terjadi lantaran spoiler belum bekerja. Terdapat beberapa alasan kenapa spoiler tidak ‘on’ saat pertama kali touchdown atau roda pendaratan menyentuh landasan.

Hal itu dikarenakan kontak atau tumbukan antara roda pendaratan dengan aspal landasan pacu terlalu kecil untuk sensor roda pendaratan (landing gear), yang disebut sakelar Weight on Wheel (WOW), untuk mencatat dengan benar bahwa pesawat berada di darat.

Dalam beberapa kasus, sensor tidak membaca saat touchdown pertama  lantaran pesawat mendarat hanya dengan sebelah main landing gear. Itu sebab pesawat pun bouncing. Karena spoiler belum extend.

Pada momen touchdown kedua setelah bouncing pertama, saat dua main landing gear touchdown bersamaan, sensor pun membaca bahwa roda pendaratan sudah berada di darat dan spoiler pun aktif sehingga mencegah terjadinya bouncing atau pantulan kedua.

Meski begitu, bisa saja spoiler sudah extend tetapi pesawat tetap memantul di landasan pacu saat mendarat. Prinsipnya kembali ke fisika pantulan.

Baca juga: Ada Panel yang Mengangkat di Sayap Saat Pesawat Mendarat, Apa Itu dan Apa Saja Fungsinya?

Pantulan disebabkan oleh kontak energi tinggi antara roda pendaratan dengan landasan pacu. Jika energinya lebih dari cukup, maka pesawat akan tetap memantul atau kembali ke udara beberapa detik sebelum touchdown kedua tanpa bouncing.

Pilot sebetulnya punya cara dalam meminimalisir pantulan akibat kelebihan energi karena pesawat mendarat dengan kecepatan tinggi. Pada typical landing, pilot bica mencegah terjadinya boucing dengan mempertahankan pesawat di kecepatan  saat landing approach. Ketika pesawat mencapai flare height, kontrol ditarik dan tuas thrust levers ditarik ke belakang untuk membuat mesin dalam posisi idle. Di luar itu, terdapat beberapa teknik lainnya.

Bandara dengan Satu Runway Tersibuk di Asia, Eropa, dan Amerika Utara

Seiring meningkatnya traffic penumpang diikuti banyaknya kedatangan dan keberangkatan pesawat, wajar bagi sebuah bandara memiliki banyak landasan pacu. Bandara Internasional Chicago O’Hare, misalnya, memiliki delapan runway atau landasan pacu. Kendati begitu, di dunia, ada bandara aktif yang tetap bertahan dengan satu runway. Berikut daftar bandara dengan satu runway tersibuk di Asia, Eropa, dan Amerika Utara.

Baca juga: Bandara Internasional Miami Gelar Lomba Maraton di Runway, Bakal Jadi Tren di AS

Mumbai, Asia

Saat ini, pasar penerbangan domestik terbesar ada di Cina, diikuti oleh Amerika Serikat, dan India. Namun, di masa mendatang, saat Cina mulai mengalami laju pertumbuhan penduduk yang melambat dan usia produktif yang sedikit, India justru sebaliknya. Karenanya, di masa mendatang, India dipercaya akan bersaing dengan Cina untuk menjadi negara dengan perekonomian terkuat kedua di dunia.

Menuju ke sana, perekonomian di India terus tumbuh dan mendorong banyaknya perpindahan orang dan barang dengan cepat menggunakan pesawat. Mayoritas menuju kota-kota besar seperti New Delhi, Mumbai, dan lainnya.

Terkait Mumbai, ada satu bandara yang karena keterbatasan lahan tetap bertahan dengan satu runway aktif untuk menunjang penerbangan. Itu adalah Bandara Internasional Chhatrapati Shivaji Maharaj. Bandara ini sejatinya memiliki dua runway, tetapi bersilangan. Karenanya, setiap hari hanya satu runway aktif yang bisa digunakan.

Disebutkan, pada tahun 2018 bandara mencatatkan rekor mencapai 980 penerbangan dalam 24 jam. Sebelum pandemi, ada sekitar 50 juta penumpang yang dilayani bandara.

London Gatwick, Eropa

Traveler di dunia umumnya hanya mengetahui Bandara London Heathrow di ibu kota Inggris. Padahal, London punya bandara lain yang juga super sibuk walaupun dengan satu runway aktif, yaitu Bandara London Gatwick.

Sebagaimana di Mumbai, London Gatwick juga memiliki dua runway. Hanya saja, letaknya terlalu berdekatan sehingga hanya mengoperasikan satu runway sepanjang 3.316 meter. Adapun runway lain sepanjang 2.565 meter yang tidak aktif biasanya digunakan sebagai taxiway.

Baca juga: Kenapa Pesawat Sering Berhenti di Ujung Landasan Sebelum Lepas Landas?

Pada tahun 2021, bandara itu melayani lebih dari enam juta penumpang, jauh dari angka pra pandemi mencapai 46 juta penumpang per tahun.

San Diego, Amerika Utara

Berbeda dengan dua di atas yang sebetulnya memiliki dua runway, Bandara Internasional San Diego sungguh hanya memiliki satu runway sepanjang 2.865 meter. Bandara itu melayani lebih dari 15 juta penumpang pada tahun 2021, jauh dari angka pra pandemi yang mencapai 25 juta penumpang per tahun. Meski begitu, Bandara Internasional San Diego menjadi bandara dengan satu runway tersibuk di Amerika Utara.

Tinggal di Boeing 727 Eks Raja Kapal Onassis, Pria Paruh Baya Rogoh Kocek US$370 Per Bulan

Seorang pria paruh baya harus membayar US$370 per bulan untuk tinggal di pesawat yang dibelinya seharga US$100.000. Alkisah, di awal tahun 70-an, Bruce Campbell membayar US$25.800 untuk 10 hektar tanah di Hillsboro, pinggiran kota Portland, Oregon.

Baca juga: Boeing 727 Bekas Japan Airlines Ingin Disulap Jadi Kantor ‘Terbang’

Insinyur kelistrikan, yang kini berusia 73 tahun itu mengatakan, mimpi besarnya dimulai ketika dia melihat boneyard (kuburan pesawat) di TV ketika Ia berusia 15 tahun. Dan saat itu Ia punya cita-cita ingin tinggal di salah satu pesawat tersebut.

Pada tahun 1999, Campbell memutuskan untuk mewujudkan mimpinya, tetapi Ia tidak tahu bagaimana melakukannya, jadi dirinya menyewa perusahaan penyelamat (salvage company) untuk mencarikannya sebuah pesawat.

Setelah berbulan-bulan mencari, perusahaan itu merekomendasikan Campbell, sebuah pesawat jet Boeing 727 berkapasitas 200 penumpang yang berukuran 1.066 kaki persegi dan beratnya sekitar 70.000 pon. Pesawat itu ditemukan di Yunani dan merupakan bagian dari sejarah Amerika di masa lalu.

Pesawat itu digunakan untuk mengangkut jenazah pemilik maskapai, Aristoteles Onassis, pada tahun 1975. Mendiang raja pelayaran Yunani-Argentina yang menikah dengan mantan Ibu Negara AS, Jacqueline Kennedy Onassis pada saat kematiannya.

Campbell membayar US$100.000 untuk pesawat itu, dan pesawat itu diterbangkan dari Yunani ke Oregon untuk mempersiapkannya agar Ia dapat mengambil kepemilikan. Setelah pesawat siap, kemudian pesawat ditarik ke tanah Campbell melalui jalan-jalan di pusat kota Hillsboro. Proses itu termasuk melepas mesin dan elemen lain yang membuat pesawat tidak bisa terbang lagi.

“Saat Anda tinggal dalam struktur seperti ini, Anda merasa sedikit lebih puas dengan hidup Anda,” katanya. “Dan jika Anda seorang insinyur, ilmuwan, atau siapa pun yang menghargai keanggunan dan keindahan teknologi kedirgantaraan, ini adalah tempat yang lebih bahagia untuk ditinggali.”

Dikutip dari cnbc.com, disebutkan Bruce Campbell menghabiskan sekitar US$15.000 dan waktu 2 tahun membuat pesawat menjadi rumah. Campbell menambahkan shower darurat, wastafel sementara, mesin cuci portabel, lemari es, dan gerobak layanan makanan dari pesawat lain yang berfungsi sebagai dapurnya.

Sebagai pengganti kompor, Campbell memiliki microwave dan oven pemanggang roti, yang jarang dia gunakan. Di sebelah area dapur, Campbell memiliki sofa futonnya, yang berfungsi ganda sebagai area tidurnya, dan meja kerja.

Pengeluaran bulanan untuk tinggal di pesawat itu adalah US$370, itu termasuk US$220 per bulan untuk pajak properti dan antara US$100 hingga US$250 per bulan untuk biaya pemakaian listrik.

Baca juga: Boeing 727 ini Berubah Jadi Penginapan Mewah di Tepi Pantai

Campbell menghabiskan sebagian besar waktunya bekerja untuk memulihkan sistem komputer lama dan mengajak orang-orang berkeliling ke rumah pesawatnya. Sekarang, Campbell menghabiskan waktunya memulihkan sistem komputer lama, memperbaiki sistem kelistrikan yang berbeda di pesawat, dan membiarkan orang datang dan berkeliling di pesawatnya.

Mungkinkah Mematikan dan Menghidupkan Kembali Mesin Pesawat di Tengah Penerbangan?

Sejarah mencatat beberapa penerbangan di dunia pernah mengalami insiden mesin pesawat mati di tengah penerbangan. Sebagian besar berakhir selamat dengan mendarat darurat. Sebagian kecil berakhir nahas. Namun, dalam kondisi normal, sebetulnya mungkinkah pilot mematikan dan menghidupkan kembali (me-restart) mesin di tengah penerbangan?

Baca juga: Mana yang Lebih Berbahaya Bagi Pesawat, Sayap Patah atau Kerusakan Mesin? 

Menurut Aircraft Engineer sekaligus Aircraft Systems Educator di Indian Institute of Technology, Kharagpur (IIT KGP), Krishna Kumar Subramanian, seperti dikutip dari Quora, pilot-kopilot sangat mungkin mematikan mesin pesawat di tengah penerbangan dan menghidupkannya kembali sebelum celaka.

Hanya saja, lanjutnya, perlu dicatat bahwa yang sesungguhnya terjadi bukanlah mematikan dalam artian men-stop mesin pesawat, tetapi mematikan mesinnya saja. Adapun rotor atau kipas dalam mesin tetap berputar. Ini mirip seperti kincir angin yang berputar dihempas angin. Istilah atas itu dikenal sebagai windmilling.

Dalam penerbangan sungguhan, pilot mustahil mematikan mesin pesawat dan menghidupkannya kembali tanpa alasan yang jelas. Sebab, andai itu dilakukan, pilot-kopilot yang melakukannya mungkin harus mencari tempat pekerjaan baru.

Akan tetapi, dalam keadaan darurat, pilot-kopilot masih ditoleransi untuk mematikan mesin dan menghidupkannya kembali sebagai bagian dari penanganan darurat.

Disebutkan, ada beberapa kondisi yang memungkinkan pilot-kopilot men-shutting down dan me-restart-nya kembali, mulai dari getaran pada mesin yang tidak mau hilang dan sangat bising sampai tekanan oli rendah.

Saat dua perumpamaan itu terjadi, prosedur standarnya ialah pilot tidak boleh me-restart mesin begitu saja. Panduan Penerbangan Pesawat (AFM) menjelaskan pilot harus melakukan “inflight start envelop” dan masih dalam penanganan itu pilot mencoba me-restart-nya dan beberapa berhasil dan lainnya tidak.

Penanganan tersebut dan berbagai kondisi darurat beserta solusinya akan dijalani pilot-kopilot saat sertifikasi pesawat baru atau sertifikasi tipe mesin baru. Dalam kaitannya dengan me-restart mesin, itu akan didemokan dan diedukasi kepada masing-masing regulator dengan ketinggian tertentu. Singkatnya, ada batasan ketinggian me-restart pesawat agar berhasil.

Meskipun terdengar mudah, layaknya menyalakan mesin kendaraan di darat yang hanya dengan menekan tombol start, pada pesawat kondisinya berbeda.

Baca juga: Bisakah Mesin Pesawat Jet Dihidupkan Tanpa Peran Awak Kokpit?

Terdapat beberapa langkah yang harus dilakukan. Sudah begitu, seperti disebutkan di atas, me-restart pesawat harus dilakukan di ketinggian tertentu agar berhasil.

Karenanya, selama mesin pesawat mati dan pesawat belum mencapai ketinggian wajar untuk me-restart pesawat, pilot-kopilot harus bisa mengontrol diri dan emosi agar timing me-restart pesawat tepat. Bila tidak, mesin tidak akan kembali hidup dan di saat yang bersamaan pilot sudah kehilangan momentum untuk melakukan pendaratan darurat.

Sebelum Resmi Angkut Penumpang, China Eastern Lakukan Penerbangan Verifikasi COMAC C919 Selama 100 Jam

Sebelum melayani penerbangan komersial berjadwal, pesawat jet regional pertama Cina COMAC C919 yang telah diterima maskapai China Eastern Airlines (CEA), melakukam penerbangan verifikasi selama 100 jam untuk mengonfirmasi aspek keselamatan opersional pesawat. Jika tidak aral melintang, CEA akan menggunakan C919 untuk layanan komersial pada musim semi tahun depan (2023).

Baca juga: Berkah Zhuhai AirShow Cina, COMAC Terima Pesanan 330 Pesawat Made in China C919 & ARJ21

Meskipun C919 telah mendapatkan persetujuan awal dari Administrasi Penerbangan Sipil China – Civil Aviation Administration of China (CAAC), CEA masih akan melakukan penerbangan verifikasi tanpa penumpang untuk memastikan keselamatan operasional, keandalan pemeliharaan, dan berbagai kemampuan dukungan operasional dari pesawat model baru ini.

Pesawat C919 pertama untuk uji penerbangan 100 jam lepas landas, adalah pesawat dengan nomor penerbangan MU7801 pada pukul 13:25 Waktu Beijing (0525 GMT) dari Bandara Internasional Shanghai Hongqiao. Pesawat jet harus mendarat di Beijing, Chengdu, Xi’an, Haikou, Qingdao, Wuhan, Nanchang dan Jinan sebelum kembali ke tempat lepas landas.

Rutinitas ini akan berulang setiap hari selama uji terbang, bersamaan dengan seluruh proses pemeliharaan dan boarding. CEA mengatakan telah memilih 24 pilot dengan pengalaman yang tinggi dan keterampilan luar biasa sebagai pilot C919 gelombang pertama.

C919 China Eastern Airlines bernomor B-919A melakukan pelatihan penerbangan di Bandara Internasional Yangzhou Taizhou, Provinsi Jiangsu, Cina timur, 23 Desember 2022. /CFP

Setelah pengujian, perusahaan penerbangan akan mengajukan permohonan kepada CAAC untuk Spesifikasi Operasi guna mendapatkan persetujuan akhir untuk pengoperasian komersial pesawat C919.

CEA mengatakan C919 diharapkan beroperasi pada rute ke banyak kota di Cina, termasuk Shanghai, Beijing, Xi’an, Kunming, Guangzhou, Chengdu dan Shenzhen.

CEA menandatangani kontrak untuk membeli lima C919 pada Maret 2021 dalam kesepakatan komersial pertama untuk pesawat tersebut. Maskapai ini secara resmi menerima jet C919 pertama bernomor B-919A pada 9 Desember 2022. Empat pesawat yang tersisa akan dikirimkan secara berurutan dalam dua tahun ke depan berdasarkan rencana produksi dan pengiriman pemasok, menurut Wang Jian, sekretaris dewan CEA .

Baca juga: COMAC C919 Akhirnya Meraih Sertifikasi Kelaikan Udara, Bersiap Lawan Keluarga A320neo dan 737 Max

C919 adalah pesawat penumpang besar pertama buatan China yang dikembangkan oleh Commercial Aircraft Corporation of China (COMAC). Pesawat ini mendapat sertifikat kelaikan udara oleh CAAC pada akhir September 2022.

Volkner LaFerrari Carrier, Jadi Motorhome Termahal dengan Harga US$5 Juta

Volkner tahun lalu telah merilis desain Motorhome yang bisa ‘mengangkut’ sebuah supercar Sporty Bugatti Chiron di antara dua sumbu roda. Dan di penghujung tahun 2022, Volkner kembali merilis desain Motorhome terbaru, yang juga dapat mengangkut sebuah supercar mewah Ferrari di antara dua sumbu roda, bedanya Motorhome yang diberi label LaFerrari Carrier ini dibandrol dengan harga paling mahal di kelasnya.
Bila Volkner Performance S yang membawa Bugatti Chiron ditawarkan seharga US$2,4 juta, maka Volkner LaFerrari ditawarkan dengan harga super mahal, yaitu US$5 juta per unit. Yang sekaligus menobatkannya sebagai Motorhome termahal di tahun 2022.
Setiap tahun, kategori Motorhome mengadakan kompetis, dan biasanya terjadi pertempuran antara dua merek asal Jerman – Volkner dan Variomobil.
Harga LaFerrari kira-kira sama €3 juta dengan Bugatti Chiron tahun lalu, jadi perbedaan harga US$2 juta pada akhirnya turun ke spesifikasi motorhome dan nilai tukar saat ini yang jauh lebih ramah terhadap dolar AS.
Dibandingkan Performance S yang ditawarkan sebelumnya, maka LaFerrari carrier hadir dengan dek atap seluas 135 kaki persegi, yang diakui agak canggung untuk dicapai melalui tangga di kamar mandi shower. Dek dirancang untuk menampung enam hingga delapan orang untuk melihat bintang, menonton, dan relaksasi udara segar secara umum.
Sisa atap didedikasikan untuk peralatan praktis, termasuk rangkaian panel surya 2.000 W, parabola, antena 4G, dan sistem pendingin udara ganda. Pendingin udara khusus besar dan kecil dipasang masing-masing untuk mendinginkan ruang tamu depan dan kamar tidur belakang.
Yang juga unik adalah penggunaan sofa daybed sebagai pengganti sofa dasar di ruang tamu depan. Tempat tidur ini memanfaatkan dinding geser sisi pengemudi untuk jarak yang tepat.
Tempat tidur utama berukuran 71 x 79 inci (180 x 200 cm) terletak di kamar tidur belakang. Tampaknya pembeli di belakang bangunan khusus ini menghabiskan banyak waktu untuk duduk sambil membaca, bekerja, atau menjelajahi web karena tempat tidurnya memiliki sandaran kepala empuk yang tinggi, yang menggantikan jendela yang seharusnya terlihat di sana.
Alih-alih sistem audio Burmester Volkner yang biasa, pelanggan menentukan sistem suara mereka sendiri dengan speaker di seluruh, termasuk suara surround 5.1 di ruang tamu. TV pintar LED di ruang tamu dan kamar tidur menyediakan gambar yang sesuai dengan audio. Bank baterai lithium 20-kWh yang diisi daya dengan bantuan susunan cell surya yang disebutkan di atas memberi daya pada peralatan elektronik dan peralatan listrik interior lainnya.
LaFerrari Carrier dibangun dari sasis bus Volvo dengan mesin belakang 503-hp dan sistem suspensi udara. Dengan harga sekitar US$5 juta, menjadikannya sebagai rumah motor termahal di Caravan Salon 2022, yang berlangsung Düsseldorf, Jerman.

Seberapa Panas Kulit Pesawat Supersonik Selama Penerbangan?

Pesawat supersonik terbang paling rendah di kecepatan lebih dari Mach 1 atau 1.234 km per jam. Dalam kecepatan tersebut, ditambah dengan ketinggian, tekanan, dan udara, keseluruhan struktur pesawat pasti mengalami perubahan, tertuama temperatur pada kulit pesawat supersonik. Lantas, seberapa panas kulit pesawat supersonik selama penerbangan?

Baca juga: Kadang Terasa Sangat Dingin Kadang Tidak, Berapa Suhu Rata-rata di Dalam Pesawat?

Kulit pesawat atau permukaan pesawat subsonik (terbang di bawah kecepatan Mach 1 atau di bawah kecepatan supersonik) umumnya berada di suhu normal atau mengikuti suhu di darat sesaat sebelum lepas landas. Saat lepas landas dan mulai naik ke ketinggian jelajah, permukaan atau lapisan luar pesawat mengalami penurunan suhu sekitar -25 derajat celcius.

Sejatinya, suhu udara luar di ketinggian 35 ribu kaki mencapai sekitar -55 derajat celcius. Namun, kulit luar jet subsonik, seperti Boeing 777, yang notabene terbang di kecepatan Mach 0,84, suhunya berkisar -35 derajat C). Perbedaan ini disebabkan karena perpindahan panas dari ambient ke pesawat yang menjalankan panas.

Berbeda dari pesawat subsonik yang terbang di bawah Mach 1, lapisan kulit luar atau permukaan pesawat supersonik jauh lebih panas. Perbedaannya bak langit dan bumi. Pada pesawat subsonik suhu kulit luar pesawat mencapai -35 derajat, pada pesawat supersonik justru berada di atas nol bahkam sangat panas melebihi panas di gurun pasir.

Baca juga: Video: Dahsyatnya Mesin Concorde Saat Lepas Landas, Alarm Mobil Sampai Bunyi!

Dilansir Simple Flying, perbedaan tersebut terjadi bukan karena struktur antar kedua pesawat melainkan mayoritas karena perbedaan kecepatan. Jadi, andai pesawat supersonik Concorde, misalnya, terbang di bawah Mach 1, maka permukaan kulit pesawat nyaris menyerupai pesawat subsonik.

Disebutkan, pada kecepatan Mach 1.5, kulit pesawat supersonik mengalami peningkatan suhu mencapai 30 derajat celcius. Saat ini, start up yang sedang mengembangkan pesawat supernonik, Aerion, memilih untuk menurunkan kecepatan menjadi Mach 1,4 semata meminimalisir efek peningkatan suhu pesawat, jauh di bawah kecepatan dan suhu Concorde.

Dahulu, pesawat supersonik Concorde terbang dengan kecepatan Mach 2.0 dan permukaan kulit pesawat suhunya mencapai 100 derajat celcius. Sangat panas. Pada radome atau bagian hidung pesawat, suhunya lebih panas lagi mencapai 130 derajat celcius. Pada kecepatan maksimum sekitar Mach 2.2, kulit pesawat Concorde bahkan diproyeksi mencapai suhu 150 derajat celcius.

Demikian juga dengan pesawat supersonik Boeing 2707 yang dirancang dengan kecepatan Mach 2.7, suhu permukaan kulitnya mencapai 200 derajat celcius.

Baca juga: Pesawat Lepas Landas dalam Kondisi Suhu Tinggi, Ternyata Bikin Maskapai Merugi

Suhu tinggi pada permukaan kulit pesawat tentu memberikan tantangan tersendiri dari segi desain, struktur, dan komponen pesawat. Bila desain, struktur, dan kompoenen pesawat kurang maksimal, ini akan menyebabkan pesawat lebih cepat mengalami apa yang disebut thermal fatigue. Pada pesawat supersonik Concorde, lapisan kulit luarnya menggunakan paduan Aluminium.

Saat ini, seiring kecanggihan teknologi, pesawat supersonik yang tengah dikembangkan berbagai perusahaan, salah satunya Boom Supersonic, memilih bahan komposit tahan suhu tinggi di kulit pesawat untuk mengatasi kelelahan termal (thermal fatigue) pada kulit pesawat.