Sebagian Besar Dipasok Rusia, Inil Alasan Titanium Sangat Dibutuhkan Industri Dirgantara

Lantaran dikenal punya kekuatan tinggi dengan bobot yang ringan, titanium sejak lama telah menjadi material yang diandalkan dalam konstruksi pesawat udara. Tak hanya itu, titanium juga menjelma sebagai ikon material yang dipomosikan pada beberapa produk elektronik, otomotif dan wearable devices. Nah, kembali pada penggunaan awal, titanium sejatinya telah digunakan sejak dekade 50-an untuk membangun kontruksi pesawat.

Baca juga: Rusia Dihujani Sanksi, Airbus dan Boeing Bakal Terdampak Pasokan Komponen Titanium

Selain disebut kuat dan ringan, tahukah Anda, alasan apa saja yang membuat industri penerbangan sangat menaruh minat pada titanium?

Titanium digunakan dalam pesawat sebagai komponen struktural karena memiliki sejumlah sifat dan karakteristik yang menjadikannya pilihan yang sangat baik untuk aplikasi penerbangan. Berikut adalah beberapa alasan mengapa titanium sering dianggap sebagai material ideal untuk pesawat:

1. Kekuatan dan Kekakuan
Titanium memiliki kekuatan yang tinggi, sehingga dapat menahan tekanan dan tarikan yang terjadi selama operasi pesawat. Kekakuan material ini juga membantu dalam menjaga bentuk dan integritas struktural pesawat.

2. Ringan
Meskipun memiliki kekuatan yang tinggi, titanium relatif ringan dibandingkan dengan beberapa logam lain yang sering digunakan dalam penerbangan, seperti baja. Ini membantu mengurangi berat pesawat secara keseluruhan, yang sangat penting untuk efisiensi bahan bakar dan kinerja pesawat.

3. Ketahanan Korosi
Titanium memiliki ketahanan yang sangat baik terhadap korosi, terutama korosi yang disebabkan oleh lingkungan penerbangan yang keras, seperti kelembaban, suhu ekstrem, dan eksposur terhadap elemen-elemen cuaca.

4. Toleransi Suhu Tinggi
Titanium dapat beroperasi pada suhu yang relatif tinggi tanpa mengalami perubahan signifikan dalam sifat-sifat mekaniknya. Ini menjadikannya pilihan yang baik untuk komponen pesawat yang terkena panas ekstrem, seperti mesin pesawat.

5. Toleransi Suhu Rendah
Selain toleran terhadap suhu tinggi, titanium juga dapat berkinerja dengan baik pada suhu rendah, yang merupakan karakteristik penting untuk pesawat yang mungkin terbang di ketinggian tinggi di mana suhu sangat dingin.

6. Kestabilan Dimensi
Titanium memiliki koefisien ekspansi termal yang rendah, yang berarti perubahan dimensinya akibat perubahan suhu sangat kecil. Ini menjadikannya cocok untuk aplikasi di mana stabilitas dimensi penting, seperti dalam komponen mesin pesawat.

7. Ketahanan terhadap Kerusakan Termal
Titanium mampu menahan perubahan suhu yang cepat tanpa mengalami keretakan atau retak. Ini membuatnya cocok untuk aplikasi di mana komponen pesawat mungkin mengalami perubahan suhu yang signifikan selama operasi.

8. Ketersediaan
Titanium adalah material yang relatif tersedia dan digunakan secara luas dalam industri penerbangan dan kedirgantaraan, sehingga mudah didapatkan untuk produksi pesawat. Sebagai catatan, pasokan titanium saat ini terhambat, khsususnya pasca perang Ukraina, lantaran Rusia adalah pemasok titanium yang tengah menghadapi sanksi dari internasional.

Baca juga: Airbus ‘Tunduk’ ke Rusia Gegara Titanium, Seberapa Penting Buat Pesawat?

Berdasarkan catatan, Rusia adalah produsen titanium terbesar di dunia dan memiliki cadangan mineral titanium yang melimpah. Rusia memiliki tambang-tambang titanium yang penting, terutama di wilayah Ural dan Siberia. Salah satu produsen utama titanium di Rusia adalah VSMPO-AVISMA, yang merupakan salah satu produsen terkemuka di dunia dalam industri titanium. Dengan langkanya pasokan titanium, secara langsung berdampak pada jalur produksi pesawat, termasuk berdampak pada kenaikan harga jual pesawat itu sendiri.

Awas Ditinggal, KCIC Imbau Penumpang Kereta Cepat Whoosh Datang 30 Menit Sebelum Jadwal Keberangkatan

Penumpang Kereta Cepat Whoosh diimbau untuk datang ke stasiun selambat-lambatnya 30 menit sebelum jadwal keberangkatan. Hal tersebut dikarenakan, secara sistem, boarding kereta pada gate akan ditutup saat sudah memasuki lima menit sebelum jadwal keberangkatan kereta.

Baca juga: Sensor Deteksi ODGJ Mau Bunuh Diri, Kereta Cepat Whoosh Tertahan 4 Menit

Penerapan kebijakan ini bertujuan untuk memastikan keselamatan dan keamanan penumpang selama menggunakan perjalanan Whoosh baik saat berada di Stasiun dan di Atas Kereta.

Dengan mempertimbangkan luas stasiun dan jarak yang perlu ditempuh dari gate dilantai 2 menuju peron stasiun yang terletak di lantai 3 maka akan sangat beresiko jika penumpang terburu-buru atau berlari menuju peron karena dikhawatirkan penumpang dapat terjatuh dan terluka.

KCIC juga berkomitmen untuk memastikan perjalanan Kereta Cepat Whoosh sesuai dengan jadwal yang ditentukan dengan target tingkat ketepatan waktu mencapai 100%.

Melalui kebijakan tersebut, penumpang Kereta Cepat Whoosh diimbau untuk tiba di stasiun 30 menit sebelum jadwal keberangkatan untuk menghindari tertinggal kereta.

Adapun ketika tiba di stasiun terdapat sejumlah proses yang harus dijalani penumpang sebelum masuk dalam kereta mulai dari pemeriksaan barang bawaan hingga proses boarding.

Penumpang yang sudah membeli tiket Kereta Cepat Whoosh secara online melalui aplikasi Whoosh, web ticket.kcic.co.id, dan saluran pemesanan resmi lainnya tidak perlu lagi mencetak tiket karena dapat langsung melakukan boarding dengan menggunakan QR Code yang didapatkan usai melakukan pembelian tiket. Hal ini tentu saja dapat mempersingkat proses boarding.

Bagi penumpang yang datang terlambat, maka tiket yang telah dibeli tidak dapat dikembalikan dan tidak dapat digunakan untuk perjalanan kereta selanjutnya. Jika tetap akan menggunakan perjalanan kereta cepat maka harus membeli tiket baru.

Baca juga: Klarifikasi KCIC Usai 31 Penumpang Ketinggalan Kereta Cepat Whoosh: KA Feeder Dioperasikan Daop 2 KAI

KCIC berkomitmen untuk terus memberikan kemudahan dan pelayanan terbaik pada masyarakat agar layanan kereta cepat Whoosh ini bisa dinikmati secara optimal. Untuk kenyamanan bersama penumpang dihimbau untuk dapat mengatur waktu kedatangannya ke Stasiun.

Seluruh stasiun kereta cepat Whoosh sudah dilengkapi dengan ruang tunggu yang nyaman dan luas. Penumpang juga dapat menunggu di area bazaar kuliner yang tersedia. Adapun sejumlah gerai retail yang sudah bekerjasama juga akan dibuka dalam waktu dekat.

Cegah Roda Tak Cepat Aus, Kereta LRT Jabodebek “Lelet” di 5 Petak Ini

Roda kereta LRT Jabodebek buatan INKA cepat mengalami keausan. Karenanya, kecepatan kereta dibatasi di petak tertentu sampai 50 persen atau sekitar 40 km per jam dari seharusnya 80 km per jam.

Baca juga: Ironi LRT Jabodebek: Gercep Pesan 1.000 Roda Gegara Tingkat Aus Tinggi, tapi INKA “Santuy”

Dari 18 stasiun, petak yang kecepatan LRT Jabodebek dibatasi antara lain di rel Stasiun Kampung Rambutan-TMII, Stasiun TMII-Cawang, Stasiun Dukuh Atas-Setiabudi, Stasiun Kuningan-Pancoran, dan Stasiun Halim-Cawang.

Di petak-petak itu, gesekan antar roda dan rel cukup tinggi sehingga kecepatan diturunkan. Selain itu, sebagai upaya pengurangan gesekan, sarana kereta LRT Jabodebek juga dilengkapi dengan alat khusus yang dapat menembakkan oli. Harapannya agar roda tak cepat aus.

“Selain mengurangi kecepatan, kami juga membuat semacam alat spray yang bisa menembakkan oli secara otomatis. Hal ini diharapkan bisa mengurangi gesekan supaya roda tak cepat aus,” jelas Manager Public Relations LRT Jabodebek Kuswardoyo kepada wartawan, (25/10/2023).

Penurunan kecepatan kereta LRT Jabodebek tentu saja berdampak pada headway atau jarak kedatangan antar kereta. Saat operasional dalam keadaan normal, headway bisa mencapai 20 menit dengan total 16 trainset yang beroperasi dan 234 perjalanan.

Saat ini, dengan sembilan trainset yang beroperasi dan 131 perjalanan, ditambah kecepatan terbatas maksimal 40 km per jam di lima petak tersebut di atas, headway-nya bisa mencapai 30-40 menit. Bahkan beberapa keluhan pelanggan di sosial media, di beberapa momen, headway-nya ada yang sampai 60 menit.

Diketahui, ambang batas tingkat keuasan roda kereta adalah 8 milimeter. Saat ini, 18 kereta yang dibubut tingkat keausannya mencapai 5-6 milimeter sehingga Divisi LRT Jabodebek tak ingin ambil risiko dan segera melakukan perawatan sarana.

Baca juga: Duaarrr! LRT Jabodebek Cuma Punya 1 Mesin Bubut Roda, yang Mau Dibubut 18 Rangkaian Kereta

Proses pembubutan roda memakan waktu 5-7 hari per rangkaian kereta. Setelahnya, kereta akan di-setting sensor-sensor terkait, seperti pengereman, pemberhentian, dan lainnya.

Celakanya, mesin bubut roda kereta hanya ada satu sehingga proses pembubutan berjalan lambat dan operasional masih belum akan normal dalam beberapa pekan mendatang.

Ironi LRT Jabodebek: Gercep Pesan 1.000 Roda Gegara Tingkat Aus Tinggi, tapi INKA “Santuy”

PT KAI Divisi LRT Jabodebek gerak cepat memesan 1.000 roda kereta setelah mengetahui tingkat keausan roda kereta tinggi. Dengan begitu, roda yang sudah tidak layak bisa cepat diganti, sementara yang lain menjalani perawatan bubut roda.

Baca juga: Duaarrr! LRT Jabodebek Cuma Punya 1 Mesin Bubut Roda, yang Mau Dibubut 18 Rangkaian Kereta

Sayangnya, PT Industri Kereta Api atau PT INKA (Persero), selaku produsen, tak mengimbangi gerak cepat tersebut. Alih-alih memberikan timeline pengerjaan dan pengiriman, BUMN produsen manufaktur kereta api itu justru tak memberikan kepastian kapan pengiriman pertama segera dilakukan.

Diketahui, ambang batas tingkat keuasan roda kereta adalah 8 milimeter. Saat ini, 18 kereta yang dibubut tingkat keausannya mencapai 5-6 milimeter sehingga Divisi LRT Jabodebek tak ingin ambil risiko dan segera melakukan perawatan sarana.

“Jadi saat ini kita di LRT sendiri memang sudah memesan sebanyak 1.000 keping roda dari INKA. Sudah dari 2 bulan yang lalu lah kita order berapa ke PT INKA. Jadi, begitu kita mengetahui pertama kali kondisi tingkat keausannya makanya kita langsung order itu tadi,” kata Manager Humas LRT Jabodebek Kuswardoyo kepada wartawan, Rabu (25/10/2023).

Meski begitu, lanjut Kus, pihaknya berharap paling lambat bulan Januari tahun depan INKA sudah bisa mengirim roda-roda tersebut, mengingat operasional LRT Jabodebek sangat terganggu dengan tingginya tingkat keausan roda kereta.

“Kita sih berharap paling telat Januari lah sudah datang ke kita, paling telat. Tapi nggak tau ya, karena kan kita pesannya ke INKA, itu nanti nggak tau INKA mau berani menyediakan sampai kapan, saya juga belum tau,” jelasnya.

Redaksi KabarPenumpang.com sudah menghubungi humas PT INKA untuk meminta konfirmasi terkait pengiriman 1.000 roda kereta yang sudah dipesan PT KAI Divisi LRT Jabodebek; termasuk pengiriman sisa dua trainset dari 31 trainset yang seharusnya dikirim. Hingga berita ini ditulis, pesan singkat kami belum ditanggapi.

Baca juga: Transjakarta Operasikan Dua Rute Pengumpan Mikrotrans Terintegrasi LRT Jabodebek, Lengkapi 11 Halte Terintegrasi LRT Jabodebek

Dari 29 trainset tersebut, 20 di antaranya sedang dalam perawatan. Rinciannya, 18 perawatan bubut roda dan dua lainnya sinkronisasi sistem sarana dan persinyalan.

Dengan begitu, saat ini, Divisi LRT Jabodebek telah mengoperasikan seluruh sarana atau sembilan trainset tanpa ada backup sarana dan 131 perjalanan. Sebelum terjadi gangguan operasional, LRT Jabodebek terakhir beroperasi dengan 16 trainset dan 234 perjalanan.

Bagaimana Sayap Pesawat Dapat Menopang Berat Mesin, Ini Jawabannya!

Sepintas pandang, sayap pesawat terlihat ‘tipis’ dan fleksibel saat berada di udara. Lantaran terlihat tipis, maka kerap mengundang pertanyaan, bagaimana cara sayap dapat menahan bobot mesin yang besar. Pada dasarnya, sayap paBagaimana Sayap Pesawat Dapat Menopang Berat Mesin, Ini Jawabannya!da pesawat dirancang untuk menahan mesin serta berbagai beban lainnya.

Hari Ini, 65 Tahun Lalu, Pesawat Avro 618 Ten Australian National Airways Ditemukan Usai 27 Tahun Hilang

Pada hari ini, 65 tahun lalu, bertepatan dengan Minggu, 26 Oktober 1958, pesawat Avro 618 Ten ‘Southern Cloud’ Australian National Airways (ANA) ditemukan. Pesawat dengan nomor registrasi VH-UMF itu berhasil ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang pekerja Proyek Snowy Mountains, Tom Sonter, usai menghilang secara misterius pada 21 Maret 1931, sekaligus menandakan kecelakaan penerbangan atau kecelakaan pesawat pertama di Australia.

Baca juga: Hari ini, 223 Tahun Lalu, Perancis Jadi Saksi Penggunaan Parasut Pertama di Dunia

Dilansir airscapemag.com, hilangnya pesawat Boeing 777-200ER Malaysia Airlines dengan nomor penerbangan MH 370 secara misterius pada 8 Maret 2014 lalu mungkin begitu menarik perhatian. Padahal, menghilangnya pesawat Avro 618 Ten Australian National Airways secara misterius, yang menjadi kecelakaan pesawat pertama di Austalia ini, dalam penerbangan di tengah cuaca buruk di Snowy Mountains, New South Wales, bersama delapan orang di dalamnya tak kalah menarik.

Peristiwa tersebut dimulai saat Southern Cloud memutuskan berangkat sekalipun lokasi tujuan dilaporkan terdapat awan mendung, angin kencang, dan hujan lebat. Kala itu, pesawat versi Inggris dari Fokker F.VIIB ini diawaki oleh pilot Kapten Travis “Shorty” Shortbridge -pilot kebanggaan ANA dengan 4.000 jam terbang dan sederet penghargaan- serta co-pilot Charles Dunnell, lepas landas dari Bandara Sydney pada 8.30 waktu setempat, menuju Melbourne, 450 mil selatan barat daya Australia.

Pesawat Avro 618 Ten ‘Southern Cloud’ Australian National Airways (ANA), kecelakaan pesawat pertama di Australia, ditemukan di Snowy Mountains, New South Wales, Australia. Foto: Daily Telegraph

Disebutkan, pilot memutuskan untuk tetap menjajaki rute tersebut karena pesawat dipercaya sangat kuat. Sebab, pesawat tersebut adalah pesawat yang sama dengan yang digunakan oleh Charles KIngsford-Smith dan Charles Ulm untuk terbang melintasi Samudera Pasifik, tiga tahun sebelum Southern Cloud berangkat.

Namun, siapa nyana, takdir berkata lain. Pesawat trimotor yang digadang-gadang cukup mampu untuk mengalahkan cuaca buruk tersebut nyatanya hilang dalam perjalanan menuju Melbourne. Kuat diduga, pesawat dari maskapai yang didirikan oleh Kingsford-Smith dan Ulm pada 1929 tersebut jatuh di Port Phillip Bay, Selatan Melbourne. Tetapi, banyak ahli menduga pesawat jatuh 50 mil dari bandara tujuan, di lokasi yang sangat curam di utara Melbourne.

Charles Kingsford-Smith dan Charles Ulm serta Royal Australian Air Force (RAAF) atau Angkatan Udara Australia pun melakukan pencarian intensif selama 18 hari. Namun tak ada tanda-tanda Avro 618 Ten ANA. Pencarian pun akhirnya dihentikan dengan menyisakan misteri. Beberapa bulan pasca hilangnya pesawat, ANA pun bangkrut karena kehilangan kepercayaan publik. Avro 618 Ten Southern Cloud ANA pun akhirnya seperti ‘terlupakan’ oleh publik bersamaan dengan bangkrutnya maskapai.

Pada tahun 1949, pasca Perang Dunia II, Australia mulai mentap masa depan. Salah satunya dengan proyek yang dinamakan skema Snowy Mountains Hydro-Electric. Pada Oktober 1958, proyek di jajaran pegunungan tertinggi di Australia dengan ketinggian 2.228 meter itu pun mulai membuat sodetan untuk mengalirkan Sungai Tooma ke Kota Tumut.

Baca juga: Hari Ini, 37 Tahun Lalu, Pertama Kali Dalam Sejarah Dua Maskapai Barter Pesawat

Pada tanggal 26 Oktober di tahun yang sama, seorang tukang kayu bernama Tom Sonter bermaksud untuk mengabadikan ngarai Sungai Tooma sebelum berubah akibat proyek tersebut. Lepas itu, ia pun mendaki 1.000 kaki ke perbuktian Snowy Mountains dari dasar ngarai dan menemukan pipa logam berkarat. Awalnya ia mengira itu adalah harta karun. Namun, setelah dilaporkan, ternyata temuannya itu adalah logam dari pesawat Southern Cloud.

Temuan puing-puing Southern Cloud, kecelakaan pesawat pertama di Australia tersebut, tentu mengejutkan banyak pihak. Selain pesawat berhasil ditemukan, pencarian yang selama ini dilakukan ternyata sia-sia mengingat dugaan jatuhnya pesawat jauh dari lokasi temuan, yang berada di timur laut Melbourne di sebuah hutan yang cukup lebat, terisolir, dan tertutup, jauh dari rute yang telah ditetapkan.

Duaarrr! LRT Jabodebek Cuma Punya 1 Mesin Bubut Roda, yang Mau Dibubut 18 Rangkaian Kereta

Operasional LRT Jabodebek mengalami serangkaian masalah, salah satunya karena tingkat keausan roda kereta tinggi. Sebanyak 18 kereta masuk antrian perawatan bubut roda. Diharapkan, proses pembubutan bisa segera selesai agar operasional kembali normal. Sayangnya, jauh panggang dari api, mesin bubut roda kereta hanya ada satu.

Baca juga: 15 Kereta LRT Jabodebek “Rusak”, 28 Perjalanan Hari Ini Dibatalkan! Ini Penyebab dan Nomor KA yang Dibatalkan

Proses pembubutan roda memakan waktu 5-7 hari per rangkaian kereta. Setelahnya, kereta akan di-setting sensor-sensor terkait, seperti pengereman, pemberhentian, dan lainnya.

Diketahui, ambang batas tingkat keuasan roda kereta adalah 8 milimeter. Saat ini, 18 kereta yang dibubut tingkat keausannya mencapai 5-6 milimeter sehingga Divisi LRT Jabodebek tak ingin ambil risiko dan segera melakukan perawatan sarana.

“Masalah terbesar kami saat ini adalah pembubutan roda. Kami hanya punya satu mesin bubut, tetapi mesin bubut itu harus melayani banyak trainset atau rangkaian kereta yang rodanya sudah aus. Akibatnya ada penumpukan,” jelas Manager Public Relations LRT Jabodebek Kuswardoyo kepada wartawan, (25/10/2023).

“LRT Jabodebek ini kan semuanya by system. Makanya kami tak mau ambil risiko. Ketika sudah ada roda yang tingkat ausnya mencapai 5-6 milimeter, harus dibubut langsung,” tambahnya.

Saat ini, dari 31 yang dijanjikan INKA, baru 29 trainset atau rangkaian kereta yang dikirim ke LRT Jabodebek, dengan masing-masing rangkaian terdiri dari enam kereta.

Dari 29 trainset tersebut, 20 di antaranya sedang dalam perawatan. Rinciannya, 18 perawatan bubut roda dan dua lainnya sinkronisasi sistem sarana dan persinyalan.

Dengan begitu, saat ini, Divisi LRT Jabodebek telah mengoperasikan seluruh sarana atau sembilan trainset tanpa ada backup sarana dan 131 perjalanan. Sebelum terjadi gangguan operasional, LRT Jabodebek terakhir beroperasi dengan 16 trainset dan 234 perjalanan.

Baca juga: Daftar 18 Stasiun LRT Jabodebek Terintegrasi Transjakarta-Mikrotrans, KRL, MRT Jakarta, KCJB, KA Bandara, Bus AKAP, Sampai Angkot

Sejak diresmikan di 28 Agustus 2023, LRT Jabodebek sudah mengangkut lebih dari 2,4 juta pelanggan.

LRT Jabodebek bersama seluruh stakeholder yang ada terus berupaya melakukan perawatan sebaik mungkin agar proses bubut roda bisa segera terselesaikan, sehingga operasional bisa segera normal kembali.

Airbus Perbarui Armada Kapal ‘Sewaan’ Pengangkut Komponen Pesawat dengan Teknologi Rendah Emisi

Airbus akan memperbarui seluruh armada kapal sewaannya yang mengangkut sub-rakitan pesawat antara fasilitas produksi di Eropa dan Amerika Serikat dengan tiga kapal roll-on/roll-off modern dengan emisi rendah yang didukung oleh tenaga penggerak yang dibantu angin.

Baca juga: Airbus Final Assembly Line di Tianjin Cina Kirimkan A321neo Pertamanya

Airbus telah menunjuk Louis Dreyfus Armateurs untuk membangun dan mengoperasikan kapal baru yang sangat efisien yang akan mulai beroperasi pada tahun 2026. Armada baru ini diharapkan dapat mengurangi rata-rata emisi CO2 transatlantik tahunan dari 68.000 menjadi 33.000 ton pada tahun 2030.

Hal tersebut akan berkontribusi terhadap komitmen Airbus untuk mengurangi emisi industri secara keseluruhan hingga 63% pada akhir dekade ini – dibandingkan dengan tahun 2015 sebagai data dasar. tahun – sejalan dengan jalur 1,5°C dalam Perjanjian Paris.

“Pembaruan armada laut kami merupakan langkah maju yang besar dalam mengurangi dampak lingkungan,” kata Nicolas Chrétien, Kepala Keberlanjutan & Lingkungan di Airbus. “Kapal generasi terbaru yang diusulkan oleh Louis Dreyfus Armateurs lebih hemat bahan bakar dibandingkan pendahulunya, menggunakan teknologi mutakhir seperti penggerak yang dibantu angin. Hal ini menunjukkan tekad kami untuk menjadi yang terdepan dalam dekarbonisasi sektor kami dengan berinovasi tidak hanya di bidang penerbangan, namun juga di seluruh operasi industri kami.”

“Kami sangat senang telah dipilih oleh Airbus untuk mengembangkan armada canggih dan rendah emisi ini serta melanjutkan kemitraan jangka panjang kami,” kata Edouard Louis-Dreyfus, Presiden Louis Dreyfus Armateurs. “Proyek baru ini, yang menetapkan target tinggi, mencerminkan ambisi kami terkait dekarbonisasi industri pelayaran. Kami bangga mendukung pelanggan kami dalam transisi energi, bahkan melampaui ekspektasi mereka dengan menawarkan solusi inovatif dan mendorong perubahan secara berkelanjutan.”

Airbus secara bertahap akan memperbarui armada kapal sewaan yang mengangkut sub-rakitan pesawatnya melintasi Atlantik antara Saint-Nazaire, Prancis, dan jalur perakitan akhir pesawat lorong tunggal (narrow body) di Mobile, Alabama.

Kapal-kapal baru ini akan ditenagai oleh kombinasi enam rotor Flettner – silinder besar berputar yang menghasilkan daya angkat berkat angin, mendorong kapal maju – dan dua mesin bahan bakar ganda yang menggunakan minyak diesel maritim dan e-metanol. Selain itu, perangkat lunak perutean akan mengoptimalkan perjalanan kapal melintasi Atlantik, memaksimalkan tenaga angin dan menghindari hambatan yang disebabkan oleh kondisi laut yang buruk.

Pembaruan armada ini juga mendukung ambisi Airbus untuk meningkatkan tingkat produksi keluarga A320 menjadi 75 pesawat per bulan pada tahun 2026. Setiap kapal transatlantik baru akan memiliki kapasitas untuk mengangkut sekitar tujuh puluh kontainer berukuran 40 kaki dan enam set sub-perakitan pesawat lorong tunggal – sayap, badan pesawat. , tiang mesin, bidang ekor horizontal dan vertikal – dibandingkan dengan tiga hingga empat set dengan kapal kargo saat ini.

Baca juga: Serba Canggih dan Ramah Lingkungan, Airbus Buka Fasilitas Produksi di Hamburg

Tentang Louis Dreyfus Armateurs, selama lebih dari 170 tahun, memiliki spesialisasi dalam menyediakan solusi maritim industri khusus dengan aktivitas bernilai tambah tinggi dan layanan terintegrasi kepada kliennya, mulai dari desain kapal dan manajemen kapal hingga operasi maritim, di bidang transportasi , logistik, kabel bawah laut dan energi terbarukan.

Rolls-Royce Rilis Intelligent Awareness, Bantu Pelaut Tingkatkan Kesadaran Situasional

Rolls-Royce belum lama ini meluncurkan sistem kesadaran situasional baru yang canggih dengan menggabungkan banyak sensor dengan perangkat lunak cerdas untuk membantu pelaut mengelola risiko keselamatan. Khususnya saat mengoperasikan kapal di malam hari, cuaca buruk atau perairan yang sedang padat.

Baca juga: BC Ferries Operasikan Kapal Ferry Pertama dengan Bahan Bakar Ganda

Dari laman maritime-executive.com, sistem ini disebut Intelligent Awareness (IA) dan menjadi yang pertama dari jenisnya di pasaran. Sistem IA ini juga menggunakan pengumpulan data untuk meningkatkan keselamatan dan efisiensi operasionalnya.

“Sistem IA merupakan bagian dari pengembangan kapal otonom yang sedang berjalan, namun kami memutuskan untuk membuat teknologinya tersedia saat ini karena menawarkan manfaat nyata bagi lingkungan pelayaran yang ada. IA tidak diragukan lagi merupakan salah satu kemajuan paling signifikan yang dibuat saat ini dalam hal keselamatan navigasi kapal. Ini menyediakan personil dengan pemahaman yang jauh lebih besar tentang lingkungan kapal,” ujar General Manager, Operasi Remote & Otonomi rolls-Royce Liro Lindborg.

Sistem IA sendiri dibuat oleh Rolls-Royce dengan Stena, MOL (Mitsui O.S.K. Lines) dan proyek Aplikasi Tenaga Kerja Otonom Tingkat tinggi serta bergantung pada LIDAR (Light Detection and Ranging) untuk mengukur jarak.

LIDAR sendiri merupakan teknologi dasar yang biasa digunakan dalam prototipe mobil otonom. Dengan menggunakan data dari LIDAR dan GPS, maka sistem IA bisa membuat representasi 3D dari areal kapal.

“Ini memberikan solusi penasehat untuk melengkapi informasi dasar yang tersedia dari ECDIS dan radar, dengan peta 3D LIDAR menciptakan bird eye yang akurat tentang daerah sekitarnya,” kata Lindborg.

Sebuah sistem IA ini akan dipasang di kapal ferry penumpang Sunflower yang beroperassi antara Kobe dan Oita di Jepang dengan melaui Akashi Kaikyo, Bisan Seto dan Selat Kurushima.

“Ferry Sunflower beroperasi di beberapa perairan paling padat di dunia dan akan memberi kesempatan untuk menguji sistem kesadaran cerdas Rolls-Royce yang ketat. Ini bisa memberi awak kita alat pendukung keputusan yang disempurnakan, meningkatkan keselamatan dan keselamatan kapal kita,” ujar Direktur MOL Kenta Arai.

Baca juga: Kenapa Kapal Pesiar Bisa Tahan Terjangan Badai? Ternyata Jawabannya Sangat Sederhana!

Proyek ini memungkinkan bagaimana IA dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pelanggan. IA adalah penyatuan dari berbagai sumber daya untuk memberikan gambaran menyeluruh tentang situasi eksternal kapal dalam empat mode antarmuka pengguna, seperti Virtual Reality (2D dan 3D), Augmented Reality and Precision mode.

Rolls-Royce dan Finferries Hadirkan Falco, Kapal Ferry dengan Kendali Otonom

Kendaraan otonom atau tanpa pengemudi biasanya digunakan bus, mobil atau kereta. Namun bagaimana jika ini sebuah kapal ferry yang melaju di atas air untuk menyeberangkan penumpang dan barang dari satu tempat ke tempat lain tanpa pengemudi?

Baca juga: Rolls-Royce Rilis Intelligent Awareness, Bantu Pelaut Tingkatkan Kesadaran Situasional

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman theengineer.co.uk, kapal ferry otonom tersebut adalah Falco, yang merupakan kapal milik Finferries, operator kapal ferry milik Pemerintah Finlandia, yang dalam proyek ini bekerjasama dengan Roll-Royce. Dengan teknologi Intelijen Rolls-Royce Ship, kapal ferry tersebut dapat mendeteksi objek dengan menggunakan sensor fusi dan kecerdasan buatan serta menghindai tabrakan.

Dengan teknologi ini juga memungkinkan kapal untuk mengubah jalur secara otomatis dan mengurangi kecepatan saat mendekati dermaga. Menurut Rolls-Royce, kapal milik Falco dilengkapi dengan sensor canggih yang memungkinnya untuk membuat gambaran rinci lingkungan sekitarnya secara real time. Gambaran itu merupakan kesadaran situasional yang dibuat dengan menggunakan data sensor, kemudian disampaikan ke pusat operasi jarak jauh Finferries di darat yang berjarak 50 km di pusat kota Turku.

Pusat operasi tersebut membuat seorang kapten kapal bisa memonitor operasi otonom dan mengendalikan kapal jika diperlukan.

Awal tahun ini Rolls-Royce dan Finferries juga mulai berkolaborasi dalam SVAN (Safer Vessel dengan Autonomous Navigation), untuk terus menerapkan temuan dari proyek penelitian Advanced Autonomous Waterborne Applications (AAWA) sebelumnya, yang didanai oleh Business Finland. Mikael Makinen, Rolls-Royce, presiden Commercial Marine, mengatakan hari ini menandai langkah besar ke depan dalam perjalanan menuju pengiriman otonom dan menegaskan kembali apa yang telah dikatakan selama beberapa tahun, bahwa pengiriman otonom akan terjadi.

“Demonstrasi hari ini membuktikan bahwa kapal otonom bukan hanya sebuah konsep, tetapi sesuatu yang akan mengubah pengiriman seperti yang kita ketahui,” kata Makinen.

Baca juga: Singapura Hadirkan “Kota Mini” dengan Kendaraan Otonom

Mats Rosin, CEO Finferries, menambahkan: “Sebagai pemilik kapal modern, tujuan utama kami dalam kerja sama ini adalah meningkatkan keselamatan lalu lintas laut karena ini bermanfaat baik bagi lingkungan dan penumpang kami. Tetapi kami juga sama bersemangatnya dengan bagaimana demonstrasi ini membuka pintu bagi kemungkinan baru pengiriman dan keamanan otonom. ”

Sebelum dilengkapi teknologi kendali otonom, Falco sudah dioperasikan Finferries pada tahun 1993 dan dilengkapi dengan pendorong azimut kembar dari Rolls-Royce.