Karpet di Kabin Pesawat Terbuat dari Bahan Khusus, Nomer Empat Paling Penting

Kelengkapan yang satu ini menjadi standar di kabin pesawat penumpang. Apa pun kelasnya, kabin pesawat dipastikan dilengkapi dengan karpet. Namun, apakah karpet di kabin pesawat sama dengan karpet yang digunakan di tempat lain?

Baca juga: Bandara Lapisi Lantai dengan Karpet, Ternyata Ini Alasannya!

Jawabannya, karpet yang digunakan di dalam kabin pesawat biasanya dibuat dari jenis material yang memiliki karakteristik khusus untuk memenuhi standar keamanan dan kenyamanan yang diperlukan dalam penerbangan komersial. Menurut dokumen dari penerbangan sipil seperti Federal Aviation Administration (FAA), ada beberapa material yang umumnya digunakan untu karpet di kabin pesawat, seperti:

1. Nylon
Nylon adalah material yang sering digunakan untuk karpet kabin pesawat. Nylon memiliki kekuatan, daya tahan, dan ketahanan terhadap noda yang baik. Ini juga dapat dicetak dengan desain yang beragam.

2. Wool (Wol)
Karpet wol mungkin digunakan dalam beberapa kelas kabin yang lebih mewah atau penerbangan dengan maskapai penerbangan mewah. Wol adalah bahan alami yang tahan lama dan memberikan tampilan yang elegan.

3. Olefin (Polypropylene)
Olefin adalah jenis bahan sintetis yang tahan terhadap noda dan kelembaban. Ini sering digunakan dalam penerbangan regional atau pesawat dengan kelas ekonomi.

4. Bahan Antiapi
Untuk memenuhi persyaratan ketahanan api, karpet pesawat sering kali dilapisi dengan lapisan pelindung yang tahan api atau menggunakan bahan yang memang tahan api.

5. Desain dan Pola
Karpet pesawat sering kali memiliki desain dan pola yang dirancang khusus untuk mencerminkan merek maskapai penerbangan atau estetika kabin pesawat tertentu.

Sifat-sifat ini menjadikan material tersebut ideal untuk digunakan di dalam kabin pesawat, karena mereka harus tahan terhadap banyak faktor, termasuk lalu lintas penumpang yang tinggi, noda, kelembaban rendah, dan tuntutan estetika.

Baca juga: Rawat Interior Kabin Pesawat, Lion Air Group Punya Batam Aero Technic

Selain itu, karpet tersebut harus memenuhi regulasi keamanan yang ketat yang berlaku di industri penerbangan. Jadi, pemilihan jenis karpet yang digunakan oleh maskapai penerbangan biasanya didasarkan pada berbagai faktor, termasuk kelas kabin, merek, dan persyaratan regulasi.

Air France-KLM dan Airbus Bentuk Joint Venture untuk Produksi Komponen A350

Air France-KLM dan Airbus mengumumkan bahwa Air France SA (“Air France”) dan Airbus SAS (“Airbus”) telah mengadakan negosiasi eksklusif untuk membentuk usaha patungan (joit venture) dalam penyediaan komponen dan layanan pemeliharaan pesawat Airbus A350, yang mencakup manajemen rantai pasokan, perbaikan, pembuatan kumpulan komponen pesawat A350 di seluruh dunia.

Baca juga: Sejarah Merger KLM-Air France pada 5 Mei 2004: Gegara Open Skies

Kerja sama yang direncanakan akan berbentuk usaha patungan 50-50 antara Air France dan Airbus dan melibatkan pengalihan aset komponen pesawat milik kedua mitra ke dalam kelompok usaha patungan tersebut.

Usaha patungan ini, menggabungkan keahlian rekayasa dan pemeliharaan KLM Air France Industries dan Airbus, akan menghasilkan penawaran komersial yang dioptimalkan, yang bertujuan untuk lebih memenuhi kebutuhan pemeliharaan jangka panjang yang terus meningkat dari armada Airbus A350 di seluruh dunia. Saat ini lebih dari 1.000 pesawat dipesan dan 550 A350 saat ini beroperasi di seluruh dunia.

Baca juga: Inilah Alasan Airbus A350 dan Boeing 787 Dominan Menggunakan Material Komposit

Rencananya usaha patungan tersebut dapat beroperasi pada paruh pertama tahun 2024 sejalan dengan semua persyaratan kepatuhan dan harus mendapat persetujuan dari semua otoritas terkait.

Inilah Asal Mula Kata ‘Roger’ yang Kerap Diucapkan Pilot Sipil dan Militer

Dalam penerbangan sipil maupun militer, pilot masih sering mengucapkan kata ‘Roger’ sebagai tanda kalau informasi dari lawan bicara bisa dimengerti. Selain digunakan oleh pilot, ‘Roger’ juga kerap digunakan di berbagai waktu dan tempat lainnya, salah satunya tentara, baik itu angkatan laut, darat, maupun udara hingga saat ini.

Baca juga: Dulu Taksi Kondang dengan Cat Warna Kuning, Inilah Asal Muasalnya

Dilihat dari asal usulnya, sejarah kata roger sebetulnya tak lebih dari sekedar alfabet fonetik yang digunakan oleh personel militer selama Perang Dunia II. Ketika penggunaan radio komunikasi dua arah menjadi wadah komunikasi utama dan antar lawan bicara harus sama-sama menjelaskan sesuatu tanpa kemungkinan salah tafsir, inisiatif penggunaan alfabet fonetik kemudian menjadi populer.

Saat ini, alfabet fonetik versi NATO (Alpha, Bravo, Charlie) atau dikenal juga dengan ejaan internasional, yang pada umumnya dikenal luas di dunia, kata “R” adalah Romeo, bukan “Roger”. Tetapi, sebelum standar itu diadopsi pada tahun 1957, kata-katanya sedikit berbeda, dan kata untuk “R” adalah “Roger”. Dari sini, kesimpulan awal bisa ditarik, bahwa sejarah atau asal mula pengucapan “Roger” oleh pilot atau juga “Roger That”, juga oleh khalayak luas, merupakan alfabet fonetik yang mewakili “R”, “Roger”.

Akan tetapi, jauh sebelum radio komunikasi dua arah digunakan secara massif, penggunaan “Roger” sama sekali belum muncul. Seperti dikutip dari popularmechanics.com, pada zaman kode Morse, ketika mengirim pesan panjang bisa jadi sulit, cara singkat yang paling berguna dan mungkin adalah menanggapi dengan satu huruf yang bermakna.

Menanggapi atau membalas pesan dengan huruf “R”, misalnya, lebih dari cukup untuk mengabarkan kepada pengirim bahwa pesan mereka telah diterima. Tentu, sebagaimana syarat utama dari komunikasi ialah keduanya harus saling mengerti tanda ataupun kode satu sama lain, kode Morse mewakili huruf “R” tentu saja tak akan berhasil dimaknai apapun bila salah satu atau bahkan kedua pengguna kode Morse tak mengerti maksudnya.

Baca juga: Mengapa Kokpit Disebut Kokpit? Inilah Jawaban dari 3 Teori Termasyhur

Hanya saja, kata “R” di era kode Morse tersebut berhenti sampai di situ, belum berlanjut menjadi “Roger”. Ketika radio dua arah datang, barulah singkatan itu berlanjut, dari semula hanya kata “R” menjadi “Roger” dengan makna yang sama, “Dimengerti”.

Meskipun Roger telah diganti dengan Romeo (dan menjadi “Robert” sebelum berubah jadi Roger), penggunaan radio dua arah oleh masyarakat selama Perang Dunia II secara massif mempopulerkan kepanjangan dari alfabet fonetik atau ejaan internasional “R” menjadi “Roger”. Selain itu, “Roger” juga masih terus aktif digunakan hingga saat ini, dengan berbagai variasi, seperti “Roger That” dan di beberapa film Hollywood kerap muncul pengucapan “Roger Man”, tak sekedar “Roger” belaka.

Mengapa Pesawat Boeing Selalu Dimulai dan Berakhir dengan Angka 7? Ini Jawabannya

Bagi pecinta penerbangan atau traveller yang kerap bepergian menggunakan pesawat, pasti sering mendengar berbagai jenis pesawat keluaran Airbus atau Boeing, seperti A330, Boieng 737, Boeing 787, A380, A350, dan sebagainya.

Baca juga: Mengapa Pesawat Buatan Airbus Selalu Dimulai dengan Huruf ‘A’? Berikut Penjelasannya

Meski berbeda, keduanya sama-sama mencirikan pesawat masing-masing, Airbus dengan ciri huruf A dan diikuti oleh tiga nomor, sedangkan Boeing mencirikan pesawat-pesawat mereka dengan tiga angka berawalan 7 dan berakhiran 7 atau biasa dibilang formula penamaan 7×7. Tentu ada alasan filosofis dibalik formula tersebut dan untuk menjawabnya tidak bisa lepas dari sejarah.

Dilansir Simple Flying, sejarah formula penamaan 7×7 Boeing dimulai saat pesawat Boeing 707 lahir sekitar akhir dekade 50an. Sampai di sini, sebetulnya Boeing masih belum memutuskan pakem 7×7. Sebab, pesawat penumpang modern pertama Boeing adalah 367-80 atau Dash 80, jauh berbeda dengan pakem tersebut.

Setelah kemunculan Boeing 707, departemen pemasaran Boeing untuk pesawat komersial pun mulai berpikir diperlukannya sebuah formula yang membuat pesawat jadi lebih menarik dan mudah diingat serta dapat memudahkan identifikasi pesawat-pesawat mereka, baik dari pesawat-pesawat komersial itu sendiri maupun dari pesawat-pesawat non komersial Boeing. Secara umum, formula penamaan produk-produk Boeing untuk kemudahan identifikasi detailnya seperti di bawah ini.

100 untuk model sebelumnya. Boeing tidak lagi menggunakan penunjukan ini, tetapi melakukan retrospektif untuk biplan pertama yang dibuatnya.
200 untuk desain sayap tunggal awal yang menyimpang dari tren biplan kontemporer.
300 dan 400 untuk pesawat yang digerakkan baling-baling komersial.
500 untuk pesawat bermesin turbo.
600 untuk rudal dan perangkat bertenaga roket.
700 untuk pesawat komersial bertenaga jet.
800 saat ini belum digunakan di divisi manapun.
900 untuk perahu. Seperti umum diketahui, Boeing juga memproduksi hidrofoil turbojet yang ditetapkan sebagai 929.

Selain formula penamaan di atas, secara teknis ada seri lain, yang dikenal sebagai Boeing 2707, sebuah pesawat supersonik Amerika Serikat yang rencananya dibangun untuk menandingi pesawat supersonik Concorde mahakarya Eropa atau mungkin juga untuk menandingi mahakarya Uni Soviet Tupolev Tu-144. Namun, sampai akhirnya kedua pesawat supersonik tersebut stop produksi, Boeing tidak pernah memproduksi pesawat tersebut.

Akan tetapi, di masa mendatang, Boeing bukan tidak mungkin akan melanjutkan itu. Bukan proyeknya, melainkan formula penamaannya (formula penamaan empat angka seperti Boeing 2707 pada tahun 1970an silam).

Baca juga: Inilah Alasan Kenapa Boeing Tak Buat Seri 777-100

Saat ini, Boeing nyaris menghabiskan seluruh slot formula 7×7 yang tersisa, mulai dari 707, 717, 727, 737, 747, 757, 767, 777, 787, dan hanya menyisakan 797. Varian 737 juga demikian, sudah menghabiskan penomoran sub variannya, mulai dari -100 sampai -900. Itulah mengapa seri terbaru Boeing 737 disebut sebagai MAX atau Boeing 737 MAX.

Selain itu, Boeing juga dimungkinkan untuk penggunaan formula awalan 7 dan akhiran setelah 7, seperti 748, 738, 708, 788, dan seterusnya. Di antara ketiga kemungkinan formula penamaan pesawat-pesawat Boeing, manakah yang akan benar-benar terealisasi di masa mendatang? Menarik dinanti.

Di Ketinggian 1.000 Kaki, Subway Buka ‘Restoran’ di Atas Balon Udara

Subway dikenal sebagai jaringan restoran cepat saji terbesar kedua di dunia berdasarkan jumlah gerai, yang mana Subway juga hadir di beberapa bandara. Dan terkait aviasi, terdapat tempat baru di mana Anda dapat membeli sandwich, dan lokasi ini tersedia dalam penerbangan. Persisnya, Subway menerbangkan mereknya sendiri ke tiga kota di AS pada bulan September, memungkinkan hingga 40 tamu setiap hari untuk menikmati Subway di ketinggian 1.000 kaki (304 meter).

Baca juga: Hari Ini, 238 Tahun Lalu, Paris Jadi Saksi Manusia Pertama yang Berhasil Terbang dengan Balon Udara

Dengan balon udara berukuran panjang 180 kaki (54,8 meter), ini mungkin merupakan upaya terbesar Subway, tentu saja mengukurnya dalam sandwich. Kansas City akan menjadi yang pertama melihat balon udara livery khusus pada tanggal 5, 6, dan 7 September 2023. Menurut CNBC, maksimal tujuh penumpang dapat menempuh perjalanan selama 30 menit dari pukul 08:00 hingga 14:00 setiap hari, setara dengan sekitar 40 menit setiap hari.

Beberapa orang yang beruntung ini akan menyantap makanan mereka di ketinggian 1.000 kaki di udara saat melintasi kota mereka. Dari Kansas, balon udara ini akan langsung menuju Florida, sebanyak dua kali rotasi. Yang pertama akan diadakan di Orlando pada tanggal 19 dan 20 September, diikuti oleh Miami pada tanggal 24 dan 26 September.

Bahkan jika Anda tidak mendaftar secara online atau tidak berhasil, perkirakan Anda akan melihat sandwich besar ini di wilayah udara sepanjang bulan.

Balon udaranya sendiri mempunyai corak yang unik. Bagian depan menampilkan Sub yang berisi daging, sayuran, dan keju yang disebut ‘The Beast’, salah satu Subs Deli Hero bulan Juli. Bagian belakang balon udara terdapat logo dan warna Subway yang telah diganti mereknya.

Baca juga: Lebih Murah, Wisata ke Luar Angkasa Naik Balon Udara World View Cuma Rp712 Juta! 

Meskipun ini merupakan pemandangan yang mengejutkan di angkasa, pemandangan ini jelas memenuhi tujuan Subway untuk memamerkan merek barunya, dan menggambarkan, “Kami ingin merayakan seberapa jauh kemajuan kami sejak tahun 2021 dan ke mana arah Subway di masa depan.”

Transjakarta Operasikan Tiga Rute Baru Mikrotrans, Jangkau Tanjung Priok-Depok

PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) mengoperasikan tiga layanan Mikrotrans baru dengan rute Terminal Tanjung Priok – Terminal Rawamangun (JAK87), Terminal Kampung Rambutan – Munjul (JAK98), dan Industri Raya – ASMI (JAK76) pada September 2023.

Baca juga: Transjakarta Operasikan Dua Rute Pengumpan Mikrotrans Terintegrasi LRT Jabodebek, Lengkapi 11 Halte Terintegrasi LRT Jabodebek

“Layanan Mikrotrans rute Terminal Tanjung Priok – Terminal Rawamangun (JAK87) mulai Jumat, 1 September 2023, layanan Mikrotrans rute Terminal Kampung Rambutan – Munjul (JAK98) pada Senin, 4 September 2023, dan Industri Raya – ASMI (JAK76) pada Kamis, 7 September 2023,” jelas Wibowo, Kepala Departemen Humas dan CSR Transjakarta pada Jumat (1/9).

Untuk layanan Mikrotrans rute Terminal Tanjung Priok – Terminal Rawamangun (JAK87) dan Industri Raya – ASMI (JAK76) dilayani dengan Mikrotrans yang memiliki fasilitas pendingin ruangan (AC). Sedangkan layanan Mikrotrans rute Terminal Kampung Rambutan – Munjul (JAK98) Mikrotrans non AC.

Ketiga layanan ini beroperasi pada pukul 05.00 WIB – 22.00 WIB dengan tarif Rp 0,- atau gratis dengan menggunakan Kartu Uang Eletronik (KUE).

Wibowo menambahkan layanan Mikrotrans rute Terminal Tanjung Priok – Terminal Rawamangun (JAK87) beroperasi 33 unit dengan 111 titik pemberhentian. Kemudian layanan Mikrotrans rute Terminal Kampung Rambutan – Munjul (JAK98) beroperasi 35 unit dengan 68 titik pemberhentian. “Untuk layanan Mikrotrans rute Industri Raya – ASMI (JAK76) dengan 36 unit Mikrotrans yang memiliki 68 titik pemberhentian,” katanya.

Baca juga: TransJakarta Sosialisasikan Mikrotrans di Wilayah Jakarta Timur

Layanan Mikrotrans juga terintegrasi dengan layanan koridor dan non koridor Transjakarta. “Pelanggan rute Terminal Tanjung Priok – Terminal Rawamangun (JAK87) terkoneksi dengan halte Walikota Jakarta, halte Plumpang Pertamina, dan halte ASMI, yang terhubung dengan koridor 2 (Pulogadung-Monas), koridor 12 (Tanjung Priok-Pluit), hingga 2B (Harapan IndahASMI),” ujarnya.

“Lalu pelanggan Mikrotrans rute Industri Raya – ASMI (JAK76) terkoneksi dengan Halte Kemayoran Landas Pacu Timur, halte ASMI, dan titik pemberhentian (bus stop) Kampung Irlan yang terintegrasi juga dengan koridor 2, 12, 2B (Harapan Indah-ASMI), dan 10K (Tanjung PriokSenen via Taman BMW),” tutupnya.

Serba-serbi Penyebab Penerbangan Terpaksa Dialihkan (Divert) ke Bandara Lain

Pengalihan penerbangan atau divert adalah salah satu yang lazim dalam dunia dirgantara. Meski bukan sesuatu yang diinginkan terjadi, namun pengalihan penerbangan dapat terjadi suatu waktu. Alasan yang mengemuka dari pengalihan penerbangan umumnya terkait cuaca dan teknis pada pesawat. Nah, sejatinya ada beberapa penyebab yang menjadi latar keputusan untuk mengalihan suatu pemerbangan.

Baca juga: Saat Pesawat ‘Terpaksa’ Return to Base dan Divert Landing, Pilot Harus Penuhi Empat Syarat Ini

Penerbangan dapat dialihkan atau didivert ke bandara lain karena berbagai alasan, seperti:

1. Kondisi Cuaca Buruk
Salah satu alasan paling umum untuk dialihkannya penerbangan adalah kondisi cuaca yang tidak memungkinkan pendaratan yang aman di bandara tujuan. Cuaca buruk seperti kabut tebal, hujan deras, angin kencang, atau badai dapat mengganggu visibilitas dan kemampuan pesawat untuk mendarat dengan aman.

2. Kepadatan Lalu Lintas Udara
Jika lalu lintas udara sangat padat di bandara tujuan, penerbangan dapat dialihkan ke bandara lain untuk menghindari kemacetan udara dan memastikan keamanan operasi.

3. Masalah Teknis Pesawat
Masalah teknis yang tak terduga pada pesawat, seperti kerusakan mesin, sistem avionik, atau komponen lainnya, dapat membuat penerbangan dialihkan ke bandara terdekat untuk perbaikan atau pemeriksaan lebih lanjut.

4. Krisis Medis
Jika ada kejadian medis darurat di pesawat, penerbangan dapat dialihkan untuk memberikan perawatan medis kepada penumpang atau awak kabin yang membutuhkan perhatian segera.

5. Keamanan
Ancaman keamanan atau situasi darurat di bandara tujuan, seperti ancaman bom atau situasi lainnya, dapat menyebabkan penerbangan dialihkan ke bandara lain yang lebih aman.

6. Masalah Logistik
Ketika ada masalah operasional seperti kehabisan bahan bakar, atau keterbatasan fasilitas di bandara tujuan, penerbangan dapat dialihkan ke bandara yang lebih memungkinkan untuk mengatasi masalah tersebut.

7. Pengalihan Operasional
Kadang-kadang, maskapai penerbangan dapat mengalihkan rute penerbangan karena pertimbangan operasional, seperti perbaikan landasan pacu atau perbaikan fasilitas di bandara tujuan.

8. Isu Penerbangan Internasional
Dalam beberapa kasus, penerbangan internasional dapat dialihkan ke bandara alternatif jika ada perubahan dalam persyaratan masuk atau izin pendaratan di negara tujuan.

Baca juga: Landing atau Divert? Inilah Delapan Cara Pilot Terbang dengan Aman

Penerbangan dialihkan setelah pertimbangan yang matang oleh maskapai penerbangan, awak pesawat, dan otoritas penerbangan terkait. Keamanan dan keselamatan penumpang serta awak pesawat adalah prioritas utama dalam keputusan untuk mengalihkan penerbangan.

Asian Highway 1, Jalan Interkoneksi Hubungkan Jepang dan Turki Sepanjang 20.000 Km!

Pernahkah terlintas di benak Anda mengenai sebuah jalan tol yang memiliki panjang lebih dari 20.000 km? Jika belum, mari tengok jalur darat bebas hambatan yang menghubungkan Tokyo, Jepang dengan Istanbul, Turki, ya Asian Highway 1 (AH 1). Jalan interkoneksi yang menghubungkan 14 negara, yaitu Jepang, Korea Utara, Korea Selatan, Cina, Vietnam, Kamboja, Thailand, Myanmar, India, Banglades, Pakistan, Afganistan, Iran, dan terakhir di Turki. Tidak berhenti sampai di situ, jalur tersebut juga masih tersambung dengan jalur interkoneksi lainnya, yaitu Jalur Eropa E80.

Baca Juga: Bangkitnya Jalur Sutra Modern Dari Cina ke Daratan Eropa

Jalur AH 1 mengambil 20.557 km dari keseluruhan Asian Highway yang memiliki total jarak kurang lebih 141.000 km yang menghubungkan 32 negara di Asia. Asian Highway, atau juga yang dikenal sebagai Great Asian Highway, merupakan proyek kerjasama antar negara di Asia dan Eropa dan Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (ESCAP), untuk memperbaiki sistem jalan raya di Asia. Ini adalah salah satu dari tiga pilar proyek Asian Land Transport Infrastructure Development (ALTID), yang disahkan oleh komisi ESCAP pada tahun 1992, yang terdiri dari Asian Highway, Trans-Asian Railway (TAR) dan fasilitasi proyek transportasi darat.

Baca Juga: Ingin Lintasi Tol Brebes – Gringsing? Sebaiknya Baca Dulu Rekomendasi KNKT

Dilihat dari sudut pandang lain, keberadaan jalur interkoneksi ini tentu menunjang kelangsungan dari bisnis ekspor impor antar negara. Dengan tidak mengesampingkan keefektifan dari moda laut dan udara, namun melalui jalur darat ini tentunya akan lebih efisien untuk sebuah  negara mengirimkan pasokan ke negara lain, walaupun “para pejuang” di jalur ini harus bersinggungan dengan pengamanan di perbatasan negara.

Sebagaimana yang telah dijabarkan di awal mengenai negara-negara yang dilintasi oleh jalur AH 1, tentunya sebagian dari Anda akan bertanya-tanya bagaimana bisa kendaraan bisa menyebrang dari Jepang menuju Korea, padahal kedua negara tersebut dipisahkan oleh laut? Hingga saat ini, para pengguna jalan AH 1 masih menggunakan jasa ferry untuk menyebrang dari Jepang menuju Korea. Namun wacana mengenai pembangunan jalan bawah laut sudah mulai hangat diperbincangkan oleh kedua belah negara, dengan mengesampingkan egosentris yang terjadi diantaranya.

Baca Juga: Yang Sebaiknya Diketahui dari Tol Cipali dan Brexit

Kembali membahas mengenai jarak yang terbentang sepanjang AH 1, merupakan sebuah jarak yang amat sangat jauh untuk ditempuh dengan menggunakan moda darat seperti mobil pribadi dari titik awal (Jepang) menuju titik akhir (Turki). Jika dibayangkan , sebuah mobil menempuh jarak 20.557 km dengan kecepatan rata-rata 100 km per jam, maka membutuhkan waktu sekitar 205,57 jam atau setara dengan delapan hingga sembilan hari perjalanan non-stop, tidak dihitung dengan lamanya waktu istirahat. Belum lagi kesiapan fisik dari pengemudi yang bisa dibilang mustahil untuk menempuh waktu perjalanan sekian lama tanpa beritirahat, ditambah dengan kesiapan moda yang harus melakukan cooling down jika mesin sudah mulai panas.

Nexa Journey Team.

Sehubungan dengan jarak dan waktu tempuh yang bisa dibilang fantastis untuk ukuran moda darat, sebuah perusahaan entertainment kelas dunia, Worldwide Media bekerja sama dengan manufaktur otomotif asal Jepang, Suzuki mencoba untuk menaklukan salah satu jalur interkoneksi terpanjang di dunia ini.

Adapun tujuan dari diadakannya perjalanan ini adalah untuk menghibur para penonton, Suzuki lalu memfasilitasi sebuah kendaraan yang siap menaklukkan AH 1, walaupun tidak seluruhnya. 10 peserta turut dalam perjalanan yang menempuh jarak 4.325km yang melintasi jalur India menuju Bangkok via Myanmar dalam acara yang bertajuk “NEXA Journeys on Asian Highway 1”. Tentu saja, perjalanan multinegara ini bukan hanya soal menaklukan jarak, melainkan lebih kepada pengalaman tak terlupakan selama menempuh one long road trip.

Vantage, Sistem BRT Asal Tanah Britania yang Adopsi Double Decker

Pernahkah Anda memperhatikan mengapa sistem Bus Rapid Transit (BRT) Ibukota, TransJakarta memiliki halte yang lebih tinggi dari trotoar jalan dan menggunakan armada high deck? Mungkin beberapa dari Anda masih ingat dengan pernyataan yang dilontarkan oleh Direktur Utama Damri, Setia N. Milatia Moemin, dimana ia mengatakan, “Ini merupakan langkah yang ditempuh supaya orang-orang bisa lebih tertib. Tidak hanya penumpangnya saja, melainkan pengemudinya pun tidak bisa menaik-turunkan penumpang seenaknya,”

Baca Juga: Trans Jogja, Bus Rapid Transit Tanpa Separator Asli Kota Gudeg

Berbeda dengan yang ada di Indonesia, salah satu sistem BRT yang ada di Tanah Britania diketahui menggunakan armada low deck untuk melayani setiap penumpangnya. Dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Leigh-Salford-Manchester BRT atau yang lebih dikenal dengan nama Vantage merupakan skema transportasi di Greater Manchester yang mengkoneksikan Leigh, Atherton, Tyldesley, Ellenbrook dan pusat kota Manchester via Salford.

Leigh–Salford–Manchester BRT ini sendiri pertama kali dibuka pada 3 April 2016 dan ditunggangi oleh Transport for Greater Manchester sebagai pemiliknya. Keunikan lain dapat Anda temui pada moda yang digunakan adalah jenis busnya, yaitu bus tingkat (double-decker). Tentu, sangat jarang kita jumpai sistem BRT yang menggunakan bus double-decker sebagai armada yang melayani para penumpangnya.

Sebanyak 25 unit bus double-decker Wright Eclipse Gemini 3 berwarna ungu yang selama ini lalu lalang di jalur khusus menggunakan bodi Volvo B5LH yang dilengkapi dengan sejumlah instrumen yang akan meningkatkan pengalaman berkendara para penumpang. Sebut saja kamera CCTV, audio pengumum pemberhentian selanjutnya, hingga pengumuman visual pengoperasian layanan semuanya berada di dalam bus ini.

Tercatat, rataan penumpang tahunan dari sistem yang terbentang sejauh 22km ini adalah 2,6 juta penumpang. Ternyata, terselip satu fakta unik yang melatarbelakangi pembangunan sistem BRT ini. Leigh yang terkenal sebagai salah satu kota terbesar di Inggris ini tidak memiliki jaringan perkeretaapian setelah penutupan Tyldesley Loopline pada tahun 1969 silam. Alhasil, mereka dilanda krisis sarana transportasi berbasis publik yang berguna untuk menghubungkan Leigh dengan kota-kota tetangganya.

Nah, jalur dari Leigh–Salford–Manchester BRT ini sendiri menggunakan material beton kerbed yang menutupi bekas jalur kereta api dari Leigh menuju Ellenbrook. Hal tersebut dipercaya beberapa pihak akan memudahkan akses menuju pusat kota Manchester. Sistem BRT ini sendiri dibangun oleh perusahaan multinasional asal Inggris yang memfokuskan diri pada pembangunan insfrastruktur, Balfour Beatty.

Baca Juga: Perum DAMRI Hadirkan Bus High Deck dengan Pengalaman Pesawat Terbang

Sebelumnya, proposal pembangunan sistem BRT yang menelan dana total £122 juta (Rp2,3 triliun kurs sekarang) ini sempat menghadapi banyak pertentangan dan penyelidikan publik pada tahun 2002 silam. Lalu pada tahun 2013, pembangunan jaringan transportasi ini pun mulai berjalan dan terus dikembangkan hingga saat ini.

Jadi, dapat kita simpulkan, dimana Indonesia yang masih menggunakan bus high deck sebagai armada BRTnya dinilai belum terlalu tertib semisal modanya diganti dengan bus low deck. Betul, bukan?

 

Tak ada di Indonesia, Railbiking Jadi Kegiatan Wisata Rel yang Menyehatkan

Railbiking, atau sepeda rel, adalah jenis kegiatan wisata di mana peserta mengendarai sepeda khusus yang dirancang untuk meluncur di atas rel kereta api yang tidak digunakan atau tidak aktif. Ini adalah cara yang unik dan menyenangkan untuk menjelajahi pemandangan alam, pedesaan, dan kadang-kadang daerah terpencil melalui jalur kereta yang tidak lagi digunakan oleh kereta api.

Baca juga: Gangchon Rail Park – Sensasi Berkeliling dengan Sepeda Rel dan Virtual Reality

Biasanya, rel kereta yang digunakan untuk railbiking telah diubah sedemikian rupa sehingga aman dan cocok untuk pengendara sepeda. Ada berbagai tipe railbike yang tersedia, dari yang cocok untuk satu atau dua orang hingga yang mampu menampung kelompok yang lebih besar.

Destinasi wisata railbiking biasanya terletak di daerah pedesaan yang indah, di sepanjang pegunungan, lembah, dan danau. Ini memberikan peserta pengalaman yang unik dalam menjelajahi lingkungan alami sambil tetap aktif secara fisik.

Namun, perlu diingat bahwa ketersediaan wisata railbike dapat bervariasi tergantung pada lokasi dan negara Anda. Dan berikut ini beberapa destinasi terkenal untuk railbiking di berbagai negara:

1. Korea Selatan (Gangwon-do)
Destinasi railbiking yang populer di Korea Selatan adalah Jalur Kereta Api Gangchon Rail Park. Pengunjung dapat menikmati pemandangan alam yang indah saat meluncur di atas rel kereta yang menghubungkan stasiun-stasiun yang tidak lagi aktif.

2. Belgia (Ardennes)
Di Belgia, ada Jalur Kereta Api RAVeL de la Molignée yang menawarkan pengalaman railbiking di tengah-tengah keindahan pedesaan Ardennes. Ini adalah cara yang unik untuk menjelajahi daerah pedesaan Eropa.

3. Amerika Serikat (Adirondacks, New York)
Railbiking juga populer di AS, dengan Adirondack Scenic Railroad di New York yang menawarkan pengalaman railbiking di sepanjang rel kereta yang menghubungkan Lake Placid dan Saranac Lake.

4. Taiwan (Changhua)
Jalur Kereta Api Pingxi di Taiwan adalah tempat lain di mana Anda dapat menikmati railbiking. Pengunjung dapat mengelilingi danau dan hutan sambil menikmati pemandangan indah.

Baca juga: Rail Bicycle, Mudahkan Petugas Kereta Api Lakukan Inspeksi Pada Jalur Rel

5. Norwegia (Finse)
Di Norwegia, ada opsi railbiking di dekat stasiun kereta Finse, yang terletak di dataran tinggi Hardangervidda. Ini adalah cara yang unik untuk mengeksplorasi pemandangan gunung dan danau Norwegia.