Dipelopori Lufthansa, Layanan In-Flight WiFi Kini Telah Berusia 20 Tahun

Tidak terasa, layanan internet di kabin pesawat udara atau kondang disebut in-flight WiFi sudah mencapai usia dua dekade. Maskapai penerbangan yang pertama kali menyediakan layanan in-flight WiFi di pesawat adalah Lufthansa, maskapai penerbangan asal Jerman.

Baca juga: Parade WiFi in The Sky, Inilah Profil Layanan WiFi Maskapai dengan Beragam Karakternya

Lufthansa memulai penerbangan komersial dengan layanan Wi-Fi pada bulan Desember 2003 untuk rute Frankfurt (Jerman) – Washington-Dulles (Amerika Serikat). Pada awalnya, layanan ini hanya tersedia di kelas bisnis, dan kemudian diperluas untuk mencakup kelas ekonomi.

Lufthansa menggunakan teknologi berbasis satelit untuk menyediakan layanan WiFi di pesawat mereka. Saat itu, Lufthansa menggunakan pesawat Boeing 747-400 untuk menyediakan layanan WiFi pertamanya di pesawat. Boeing 747-400 adalah pesawat jumbo jet dengan jangkauan yang panjang, dan pada masa itu, pesawat ini menjadi salah satu dari jenis pesawat utama dalam armada Lufthansa.

Keberhasilan implementasi ini mendorong maskapai penerbangan lain untuk mengadopsi dan memperluas layanan WiFi di pesawat mereka, dan ini menjadi tren industri yang semakin umum seiring waktu.

Pada tahun 2010-an, layanan in-flight WiFi semakin umum dan mulai diperluas ke kelas ekonomi. Pesawat-pesawat yang sering dilibatkan termasuk pesawat jarak jauh atau penerbangan lintas benua. Seiring dengan pesawat baru yang dirancang dengan teknologi terbaru, banyak maskapai meningkatkan kemampuan Wi-Fi di pesawat mereka. Beberapa maskapai bahkan menggantikan atau meningkatkan sistem WiFi mereka untuk menawarkan kecepatan yang lebih tinggi dan koneksi yang lebih stabil.

Baca juga: Pertama di Dunia, Cina Bakal Hadirkan Teknologi 5G di Penerbangan! Seperti Apa?

Layanan in-flight WiFi umumnya menggunakan teknologi seperti satelit atau gelombang radio untuk menyediakan koneksi internet ke pesawat. Perusahaan penerbangan terus mengembangkan dan meningkatkan layanan ini untuk memenuhi kebutuhan penumpang yang semakin bergantung pada konektivitas internet selama penerbangan.

Sambut Nataru 2024, Promo Tarif Baru LRT Jabodebek Jadi Rp3 – 10 Ribu, Headway 7-15 Menit

Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan menerapkan tarif promo LRT Jabodebek jelang masa libur Hari Raya Natal 2023 dan Tahun Baru 2024. Tarif terdekatnya menjadi Rp3 ribu dan terjauhnya Rp10 ribu pada Senin-Jumat di luar jam sibuk (peak hour) termasuk di weekend sampai libur nasional dan Rp20 ribu setiap hari Senin-Jumat di jam sibuk.

Baca juga: Berkurang Lagi, Kereta LRT Jabodebek yang Beroperasi Tinggal 8 Trainset

Tarif promo ini dikeluarkan melalui Keputusan Direktur Jenderal Perkeretaapian Nomor: KP-DJKA 266 Tahun 2023 tentang Perubahan Ketiga Atas Keputusan Direktur Jenderal Perkeretaapian Nomor KP-DJKA 147 Tahun 2023 tentang Tarif Promo Angkutan Orang dengan Kereta Api Ringan Terintegrasi di Wilayah Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi untuk Melaksanakan Kewajiban Pelayanan Publik yang ditandatangani pada Kamis (30/11).

Direktur Jenderal Perkeretaapian, Risal Wasal menjelaskan bahwa promo tarif ini diberikan untuk mendorong masyarakat agar dapat memanfaatkan LRT Jabodebek dalam bepergian selama masa libur akhir tahun ini. “Mobilitas masyarakat pada masa libur kali ini diprediksi cukup tinggi sehingga kami berharap LRT Jabodebek ini dapat dimanfaatkan dengan maksimal untuk mengurangi kemacetan di jalan,” jelasnya.

Dengan adanya pemberlakuan tarif promo baru ini, maka masyarakat dapat menggunakan LRT Jabodebek dengan skema tarif sebagai berikut.

No Skema Tarif Periode Waktu Besaran Tarif
Tarif Kilometer Maksimal
1. Hari Kerja Senin s.d. Jum’at

Pada Jam Sibuk

(Peak Hour)

06.00 s.d 08.59 WIB

16.00 s.d 18.59 WIB

Rp 3.000,-

(1 km pertama) + Rp 700,- (tiap km selanjutnya)

Rp 20.000,-
2. Hari Kerja Senin s.d. Jum’at

di luar Jam Sibuk

(Off Peak Hour)

Awal jam operasi s.d 05.59

09.00 s.d 15.59 WIB

19.00 s.d akhir jam operasi

Rp 10.000,-
3. Hari Sabtu, Minggu, dan Libur Nasional Rp 10.000,-

Skema tarif promo ini akan diberlakukan mulai Jum’at, 1 Desember 2023. Selain memberlakukan tarif promo baru, Risal menyebutkan bahwa DJKA juga akan menambah rangkaian kereta LRT Jabodebek yang beroperasi menjadi 16 rangkaian dan 200 perjalanan dari sebelumnya 12 rangkaian dan 160 perjanalan per 1 Desember 2023 dan secara bertahap akan dilakukan penambahan hingga keseluruhan rangkaian (27 rangkaian) dioperasikan secara penuh.

Baca juga: Catat, Begini Cara Temukan Barang Tertinggal-Hilang di Stasiun-Kereta LRT Jabodebek

“Penambahan rangkaian ini dimaksudkan agar waktu tunggu (headway) dapat dipersingkat menjadi 7-15 menit sekaligus untuk mengantisipasi lonjakan penumpang selama musim libur ini,” sambungnya.

Risal berharap dengan diberlakukan tarif baru dan penambahan jumlah rangkaian ini, LRT Jabodebek dapat dijadikan moda transportasi andalan masyarakat selama berlibur, maupun untuk melakukan kegiatan sehari-hari. “Kami pastikan LRT Jabodebek siap melayani masyarakat dengan prima sehingga masyarakat dapat beralih menggunakan moda transportasi ini,” tutupnya.

SOAR, Solusi Bagi Anda yang Punya Trauma Perjalanan Udara

Mengudara dengan menggunakan pesawat dari satu pabrikan yang baru saja diterpa berbagai isu pasca dua kecelakaan beruntun memang tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Rasa takut untuk kembali mengudara seolah seperti hadir kembali bak momen pertama kali Anda terbang dengan menggunakan pesawat – atau bahkan lebih parah. Imajinasi tentang kerusakan sistem di tengah perjalanan hingga kecelakaan yang mungkin saja bisa menimpa perjalanan Anda menjadi sekelibat pikiran buruk yang mampir ke pikiran seketika Anda masuk ke ruang kabin.

Baca Juga: Mobile Game Ini “Ajarkan” Penumpang Hadapi Situasi Darurat Selama Mengudara

Terlebih ketika Anda merupakan seorang yang memiliki trauma tersendiri terhadap dunia penerbangan, tentu sajahal ini menjadi semakin tidak mudah untuk diatasi. KabarPenumpang.com mengutip dari laman npr.org (17/4/2019), Ben Kaminow merupakan orang yang tepat untuk mencontohkan deskripsi di atas – dimana Ben merupakan seorang yang memiliki trauma terhadap perjalanan udara sejak tahun 1993. Trauma yang dialami Ben ini dikarenakan pesawat yang kala itu ditumpanginya mendapatkan turbulensi yang cukup kuat, dan sejak saat itu ia menjadi trauma.

Ben sendiri lebih memilih untuk menghabiskan waktu yang lebih lama via jalur darat ketimbang harus terbang dengan menggunakan maskapai yang paling nyaman sekalipun.

Sadar bahwa traumanya ini hanya akan menyusahkan dirinya di masa yang akan datang, Ben mencari referensi hingga ia mendapatkan buku karangan Tom Bunn, eks pilot di United Airlines yang sekarang beralih profesi menjadi seorang terapis berlisensi.

SOAR, buku karangan Tom Bunn ini sebenarnya merupakan salah satu dari bundle yang dapat mengobati trauma seseorang terhadap perjalanan udara. Tidak hanya buku saja, SOAR juga memiliki bentuk lain berupa DVD hingga bimbingan konseling yang dapat dipilih oleh si penderita – tergantung dari tingkatan trauma yang menderunya.

Baca Juga: Terpecahkan! Beginilah Proses Pengambilan Gambar Ketika Pesawat Tengah Mengudara

Benar saja, setelah berpuluh tahun mengidap trauma perjalanan udara, Ben yang mencoba ‘terapi’dari SOAR ini berhasil mengalahkan trauma pada dirinya. Bagaimana tidak, Tom Bunn yang merupakan founder dari SOAR ini berani memberikan jaminan apabila trauma yang diidap oleh seseorang tidak kunjung pulih.

Wah, sepertinya ini merupakan ‘terapi’ yang tepat bagi Anda yang hingga kini masih takut untuk mengudara, ya!

 

Turbulesnsi Tak Hanya Terjadi di Pesawat, Tetapi Juga di Alam Semesta

Tidur saat berada di pesawat dan sembari mendengarkan lagu dari headphone menjadi salah satu yang bisa membuat sedikit nyaman. Namun saat menikmati hal tersebut tiba-tiba tanda gunakan sabuk pengaman menyala dan ketika itu ada goncangan yang cukup keras dan tiba-tiba hilang seketika.

Baca juga: Prediksi Potensi Turbulensi Secara Real-Time, IATA Luncurkan “Turbulence Aware”

Saat itu semua kembali tenang dan tanda menggunakan sabuk pengaman sudah dimatikan. Awak kabin kembali melayani penumpang. Ya, ini yang disebut dengan turbulensi. KabarPenumpang.com merangkum dari laman forbes.com (23/1/2019), turbulensi sendiri merupakan aspek kehidupan manusia sehari-hari.

Turbulensi sendiri muncul dari berbagai sumber dan akhirnya semua sama, jika inersia fluida atau jumlah kekuatan yang mengalir terlalu tinggi atau vikositasnya menjadi terlalu rendah, maka akan ada turbulensi. Bahkan bila gerakan fluida terlalu banyak dan tidak bisa mempertahankan aliran yang stabil, maka turbulensi juga akan terjadi.

Adanya turbulensi sendiri membuat fluida terpencar dan beberapa tambalan akan memiliki kepadatan yang lebih tinggi dan yang lain rendah. Sedangkan beberapa akan memiliki banyak tekanan dengan yang lainnya sedikit, bahkan akan bergerak cepat ataupun lambat.

Hal inilah yang menyebabkan pesawat bergetar di udara dan bergejolak. Sebab pesawat menembus kantong kecepatan angin, tekanan dan suhu yang sangat berbeda. Turbulensi sendiri bisa menjadi semakin besar. Gugusan galaksi adalah binatang yang sangat besar.

Mereka adalah rumah bagi seribu galaksi atau lebih yang semuanya padat, merentang jutaan tahun cahaya dari ujung ke ujung, dan mencatat dalam skala seribu kali lipat lebih besar daripada matahari. Meskipun cluster adalah rumah bagi seribu atau lebih galaksi, galaksi itu sendiri hanya merupakan persentase kecil dari massa gugusan.

Jauh melebihi galaksi adalah plasma tipis dan panas yang mengisi seluruh volume cluster. Plasma ini, yang disebut media intracluster, sangat tipis sehingga akan terdaftar sebagai ruang hampa udara di laboratorium Earthly, tetapi sangat panas sehingga bercahaya dengan sinar-X yang persisten.

Plasma ini juga bergetar seperti halnya cairan lain dalam kondisi seperti itu. Galaksi terus mengalir melewatinya. Mesin bertenaga yang disebut quasar meletuskan gelembung raksasa ke dalamnya. Kadang-kadang cluster bergabung, dan Anda bisa membayangkan apa yang terjadi setelah itu.

Turbulensi memainkan peran penting lainnya di dalam kluster galaksi. Semua benda besar di alam semesta adalah potret keseimbangan. Gravitasi selalu ingin menarik sesuatu, sementara kekuatan lain biasanya ingin mendorong sesuatu keluar. Ketika semua kekuatan ini seimbang, objek dapat bertahan selama jutaan atau bahkan milyaran tahun.

Baca juga: Peneliti Buktikan Bahwa Guncangan Akibat Turbulensi Bisa Diredam!

Dalam kasus kluster galaksi, turbulensi juga berperan: turbulensi membantu mencegah kluster galaksi agar tidak runtuh lebih jauh, mempertahankan volumenya.
Turbulensi adalah salah satu aspek fisika yang indah yang dapat Anda temukan pada skala kecil dan besar, mulai dari kopi hingga naik pesawat hingga hal-hal terbesar di alam semesta.

Crosswind, Terjangan Angin dari Samping, Juga Jadi Ancaman di Moda Darat

Angin yang bertiup kencang dengan kondisi lurus sejajar cenderung memudahkan pengendalian pesawat saat proses pendaratan. Namun lain halnya dengan angin yang berhembus kencang dan datang dari arah samping, inilah crosswind yang masih menjadi momok dalam dunia aviasi.

Baca juga: Melawan Lupa, Ini Dia 4 Pesawat Terkecil di Seantero Jagad

Crosswind merupakan hal yang paling dikhawatirkan setiap penerbang, baik saat akan lepas landas maupun mendarat. Sebab, arah datangnya angin yang tegak lurus sehigga menyebabkan objek bisa berpindah kearah angin tersebut bergerak. Angin yang bergerak lurus dari arah samping dan bisa mempengaruhi aerodinamika berbagai bentuk transportasi. Biasanya untuk menentukan komponen crosswind dalam sebuh penerbangan, para pilot sering merujuk pada nomograph dimana kecepatan sudut angin pilot dan komponen crosswind dibaca dari garis referensi.

Arah perjalanannya pun relatif terhadap angin bisa dari kanan atau kiri, atas atau bawah bahkan miring. Dalam penerbangan crosswind sendiri bisa membuat pendaratan dan lepas landas lebih sulit dibandingkan jika angin bertiup lurus ke arah landasan pacu. Permasalahan terbesarnya, jika crosswind cukup kuat, bisa merusak undercarriage pesawat saat mendarat.

Beberapa literatur menyebut bahwa crosswind adalah hal yang biasa terjadi dalam dunia penerbangan. Di Eropa atau Amerika angin yang berhembus disekitar bandara bukanlah angin sepoi-sepoi, melainkan angin yang berkecepatan tinggi dan berbahaya bagi pesawat. Angin bukan hanya berbahaya bagi pesawat kecil, sekelas pesawat jet berbadan lebar pun juga dapat terkena dampak crosswind.

Kelihaian pilot dalam mengendalikan pesawat menjadi taruhan, dalam tempo yang singkat, pilot harus mampu memtuskan, apakah terus melakukan upaya pendaratan, ataukan justru tancap ‘gas’ kembali menerbangkan pesawat untuk mencoba melakukan pendaratan ulang.

Meski dengungnya tak sepopuler di udara, fenomena crosswind juga terjadi di darat dan dialami oleh kendaraan roda empat dan roda dua. Contoh yang paling sederhana adalah crosswind yang kerap terjadi di tol Cipularang, dimana lokasinya banyak menyeberangi lembah dan membuat jalan tol ini cenderung lebih berangin. Terkadang angin di lokasi ini cukup kencang dan membuat mobil berpindah jalur karena stir oleng.

Banyak yang mengatakan bahwa Km 70 di tol Cipularang  sering terjadi kecelakaan karena hal mistis, padahal bukan karena itu, ini disebabkan posisi jalan dengan permukaan tanah cukup tinggi. Selain itu ditambah pengaruh turbulensi dari angin bawah tol menuju ke atas mirip dengan pesawat terbang. Tak hanya itu, sebenarnya saat Anda melewati Cipularang pada Km tersebut Anda tidak akan merasa sedang berjalan di atas jembatan setinggi 50-60 meter dari tanah. Sehingga ada kewajaran saat berada di ketinggian tersebut mobil yang dikendari diterjang angin.

Baca juga: Hadapi Petir, Es dan Angin Kencang, Pesawat Sejatinya Telah Dirancang Untuk Kondisi Ekstrim

Sebagai catatan,  ada beberapa kecelakaan yang terjadi pada penerbangan akibat crosswind, yakni Adam Air DHI 574 pada 1 Januari 2007 yang berangkat dari Bandara Juanda, Surabaya. Sesuai jadwal, pesawat seharusnya mendarat di di Bandara Hasanuddin, Makassar, pukul 14.25 WIB, sebelum melanjutkan ke penerbangan ke Manado. Pada pukul 14.06 WIB, pilot Adam Air menghubungi ATC Bandara Hasanuddin, Makassar. Ia mengabarkan pesawat terkena crosswind. Namun, pada pukul 14.07 WIB, Adam Air hilang dari pantauan radar sekitar 157,4 kilometer arah barat laut Makassar. Waktu itu pesawat berada dalam ketinggian 10,668 meter. Sampai batas akhir bahan bakar pesawat Adam Air pukul 17.00, keberadaan pesawat belum juga diketahui.

Keberadaan pesawat Adam Air baru menemukan titik terang setelah seminggu lebih dilakukan pencarian. Nelayan di pesisir Desa Bojo, Kabupaten Barru, pada 9 Januari 2007 menemukan puing-puin pesawat. Kotak hitam Adam Air baru ditemukan 28 Agustus 2007 di kedalaman 2000 meter di perairan Majene, Sulawesi Barat.

Dalam catatan KabarPenunpang.com, Fokker F-27 M400 Troopship TNI AU A-2703 yang jatuh menghantam hanggar PT Dirgantara Indonesia di Bandung pada 6 April 2009, juga diakibatkan oleh crosswind yang diduga datang dari arah utara, sementara pesawat datang dari arah timur. Akibatnya, pesawat terbawa ke arah kiri dan melebar dari jalur pendaratan dan kemudian menghantam hanggar Air Craft Service (AFC) milik PT DI di Bandara Husein Sastranegara.

Lampu di Kabin Pesawat ‘Mati’ Saat Turbulensi, Jangan Keburu Panik, Ini Tujuannya

Meski tak ada yang menginginkan, mengalami turbulensi menjadi sebuah risiko yang harus dihadapi oleh pengguna jasa penerbangan. Dalam kasus turbulensi yang hebat, lampu di kabin bisa saja mati, yang sepintas akan menciptakan ketakutan bagi para penumpang. Namun, perlu diketahui bahwa lamput dalam kondisi turbulensi memang kadang sengaja dimatikan. Dan rupanya itu ada alasa tersendiri.

Baca juga: Terjadi Turbulensi? Tetap Tenang dan Jangan Panik

Pemadam lampu kabin saat terjadi turbulensi di pesawat biasanya dilakukan untuk beberapa alasan, dan kebijakan ini dapat bervariasi antara maskapai penerbangan. Beberapa alasan umum untuk memadamkan lampu kabin selama turbulensi melibatkan pertimbangan keamanan, kenyamanan, dan komunikasi di dalam pesawat. Berikut beberapa alasan potensial:

1. Keamanan
Selama turbulensi, penumpang dan awak kabin diharapkan untuk tetap di kursi mereka dan menggunakan sabuk pengaman. Memadamkan lampu kabin dapat membantu penumpang melihat dengan lebih baik penerangan jalur evakuasi dan petunjuk keselamatan yang terletak di lantai pesawat.

2. Pencegahan Cedera
Dengan memadamkan lampu kabin, penumpang mungkin lebih memilih untuk duduk dengan tenang dan tidak mencoba bergerak bebas di sekitar kabin selama kondisi turbulensi, yang dapat membantu mencegah cedera akibat terjatuh atau benturan dengan objek lainnya.

3. Kenyamanan
Memadamkan lampu kabin dapat menciptakan atmosfer yang lebih tenang dan membantu penumpang tetap tenang selama turbulensi. Cahaya yang lebih lembut atau lampu darurat mungkin tetap menyala untuk memberikan penerangan minimal.

4. Kemampuan Awak Kabin
Selama turbulensi, awak kabin dapat lebih mudah melihat kondisi di kabin dan merespons dengan cepat terhadap kebutuhan penumpang atau situasi darurat tanpa hambatan cahaya yang terang.

5. Navigasi dan Pengawasan
Pemadam lampu kabin dapat membantu pilot melihat dengan lebih baik instrumen dan kontrol di kokpit, memudahkan navigasi dan pengawasan kondisi pesawat selama turbulensi.

Baca juga: Mau Naik Pesawat dengan Turbulensi Minimal, Sebaiknya Pilih Penerbangan di Malam Hari

Penting untuk dicatat bahwa kebijakan mengenai pemadam lampu kabin selama turbulensi dapat berbeda antara maskapai penerbangan dan mungkin berubah tergantung pada situasi dan kebijakan internal maskapai.

Awak kabin biasanya akan memberikan instruksi kepada penumpang selama kondisi turbulensi untuk menjaga keamanan dan kenyamanan selama penerbangan.

Tahukah Anda, Kelenturan Sayap adalah Kunci dalam Menghadapi Turbulensi di Udara

Pada dasarnya, sayap pesawat dirancang dengan rasio fleksibel untuk menjaga tekanan yang tidak semestinya pada komponen titik keras (titik pemasangan badan pesawat). Tanpa hal ini, sayap akan patah pada titik penempelannya dan/atau badan pesawat akan retak pada titik tekanan (sayap, ekor) dan rusak.

Baca juga: Kurangi Efek Turbulensi, Sebaiknya Pilih Kursi di Dekat Sayap

Kelenturan sayap adalah kunci untuk terbang dalam turbulensi dan juga menangani beban pesawat dalam kondisi terbang normal. Kelenturan sayap pesawat memang memiliki peran penting dalam menghadapi turbulensi. Sayap yang fleksibel atau memiliki tingkat kelenturan yang sesuai dapat membantu pesawat menanggapi perubahan kecepatan angin atau turbulensi dengan lebih baik.

Turbulensi sendiri dapat terjadi karena berbagai faktor, seperti perubahan kecepatan dan arah angin di atmosfer. Ketika pesawat melalui daerah turbulensi, sayap akan mengalami perubahan tekanan udara yang dapat mempengaruhi stabilitas dan keseimbangan pesawat.

Sayap yang memiliki tingkat kelenturan yang sesuai dapat menyerap sebagian getaran dan perubahan tekanan yang diakibatkan oleh turbulensi. Kelenturan ini membantu mencegah sayap dari gerakan yang mendadak atau ekstrem yang dapat memengaruhi stabilitas pesawat.

Sayap yang fleksibel juga dapat meminimalkan efek yang disebut “buffeting,” yaitu getaran yang terjadi pada sayap pesawat selama kondisi turbulensi. Hal ini dapat meningkatkan kenyamanan penumpang dan membantu menjaga integritas struktural pesawat.

Desain sayap yang baik juga dapat memperhitungkan karakteristik aerodinamika untuk mengoptimalkan penanganan turbulensi. Beberapa pesawat modern memiliki sayap yang dirancang khusus untuk meningkatkan efisiensi dan stabilitas selama kondisi turbulensi.

Baca juga: Peneliti Buktikan Bahwa Guncangan Akibat Turbulensi Bisa Diredam!

Selain kelenturan sayap, ada banyak faktor lain yang berkontribusi pada kemampuan pesawat menghadapi turbulensi, termasuk sistem avionik, perangkat pengaturan otomatis, dan pengalaman pilot.

Penerbangan Perdana Terus Tertunda, Inilah Airbus Racer, Helikopter Berkecepatan Tinggi

Sosoknya pertama kali diperkenalkan saat Paris Air Show 2017, Airbus Racer dijuluki sebagai helikopter gabungan berkecepatan tinggi eksperimental yang akan merevolusi industri. Daya dorong pada Racer disediakan oleh satu atau dua rotor utama yang dipasang tegak lurus terhadap arah gerak maju.

Baca juga: Airbus Uji Terbang Helikopter dengan Kendali Otomatis Lewat Tablet

Airbus Helicopters meracang Racer melalui pengenalan rotor lateral baru yang menghadap ke depan ke dalam sistem. Meski terdengar seperti sejenis mobil balap, Airbus Racer sebenarnya sama seperti helikopter pada umumnya – tetapi dirancang dengan mempertimbangkan peningkatan kecepatan.

Meski kecepatannya bukan tipe supersonik, Airbus Racer telah mengoptimalkan kecepatan jelajah 400 kilometer per jam, yang menjadikan burung baru ini jauh lebih cepat dibandingkan helikopter pada umumnya, yang punya kecepatan jelajah rata-rata 260 kilometer per jam.

Meskipun memiliki fitur kecepatan tinggi, Airbus Racer menjanjikan keselamatan optimal sekaligus sederhana dan mudah dioperasikan. Menurut Airbus, helikopter baru ini efisien dan mudah dioperasikan tanpa tombol khusus untuk mengaktifkan peningkatan kecepatan karena desain dan konstruksi rotor depan telah memungkinkan hal ini. Baik untuk penggunaan pribadi, swasta, atau militer, Airbus Racer dianggap sebagai perpaduan ideal antara kecepatan tinggi, efisiensi biaya, dan kinerja terdepan.

Selain itu, di era di mana keberlanjutan adalah kuncinya, Airbus ingat untuk mencapai tujuan ini dengan merancang Racer yang hemat bahan bakar dan senyap mungkin. Dengan sistem baru, efisiensi aerodinamis, dan konfigurasi dinamis, helikopter baru ini diharapkan dapat membakar setidaknya 15% lebih sedikit bahan bakar per mil laut pada kecepatan 180 knot dibandingkan dengan helikopter tradisional pada kecepatan 130 knot.

Meskipun gagasan penggunaan pribadi dan pribadi untuk Airbus Racer mungkin tampak agak berlebihan tetapi bukan tidak mungkin, pabrikan Eropa merancang helikopter baru ini terutama untuk penggunaan misi yang kritis terhadap waktu. Situasi ini mencakup layanan medis darurat dan misi pencarian dan penyelamatan, dimana berkurangnya waktu antar target berpotensi berarti lebih banyak nyawa terselamatkan dalam jangka waktu yang krusial.

Dikutip dari Simple Flying, meski terdengar menarik, rencana penerbangan Racer terus mengalami penundaan. Awalnya direncanakan untuk mengudara untuk pertama kalinya pada kuartal keempat tahun 2021, kemudian Racer ditunda debutnya hingga tahun 2022. Namun karena gangguan rantai pasokan terus berlanjut di seluruh dunia, debutnya kemudian ditunda hingga paruh kedua tahun ini.

Baca juga: Airbus Buka Studio TwoTwenty di Toulouse, Tawarkan Kustomisasi Desain Interior Pesawat dan Helikopter Mewah

Dan itu pun sudah lewat, dan kini di 2023 tinggal tersisa bulan Desember. Sejauh ini belum ada pengumuman penundaan lebih lanjutUntuk penerbangan perdananya, uji ketahanan kritis diharapkan dapat menguji batas kemampuan helikoprer baru ini.

KA “Simandra,” Kereta Api Ekonomi Lokal Tanpa Sensasi Mandra

Ketika mengingat nama Mandra, ingatan sebagian besar dari kita akan terbayang pada sosok pelawak yang bermain dalam serial Si Doel Anak Sekolahan dan pernah tayang di salah satu stasiun televisi swasta di era tahun 1990-an. Namun, lain dari itu ternyata Simandra juga merupakan nama sebuah kereta api

Baca juga: Stasiun Lebak Jero, Suguhkan Pemandangan Cantik Hingga Jalur Elok Berbentuk “S”

Ya, Simandra ini adalah nama lain dari kereta api lokal Cibatu yang melayani relasi stasiun Purwakarta menuju Cibatu dan sebaliknya. Entah mengapa kereta tersebut dinamakan Simandra, apa karena pelawak Betawi tersebut saat itu sedang naik daun, atau bisa jadi penumpangnya banyak yang mirip Mandra, entah. Padahal, Mandra sendiri asli Betawi sedangkan kereta api Simandara ini asal dari Tanah Pasundan.

Kereta kelas ekonomi lokal ini tidak cocok bila digunakan oleh penumpang yang dikejar waktu. Pasalnya Simandra yang berangkat dari Purwakarta ini harus menempuh jarak sekitar 117 km untuk sampai stasiun Cibatu. Tak hanya itu waktu yang ditempuh pun cukup lama sekitar enam jam.

Kereta Simandara alias KA Lokal Cibatu

Tapi, kereta ini sangat cocok bagi para petualang atau penikmat alam serta bagi penumpang yang ingin melakukan pengiritan. Dalam perjalanannya sendiri kereta api Cibatu ini melewati 24 stasiun dan hampir berhenti di setiap stasiun yang dilewatinya kecuali Cisomang dan Lebak Jero.

Penumpang ataupun pelancong yang menggunakan kereta ini akan disiguhi pemandangan alam yang indah dan eksotis khas Bumi Parahyangan. Perjalanan Simandra ini melewati jembatan kereta tertinggi di Asia tenggara yakni Cisomang dan melalui salah satu terowongan terpanjang di Indonesia yaitu Sasaksaat.

Uniknya setelah melalui stasiun Rancaekek, pemandangan yang dilalui kereta api berubah menjadi hamparan sawah dan salah satu stasiun, yakni Haurpugur posisinya seperti ditengah sawah. Pemandangan kembali berubah setelah Simandra melalui Cicalengka dengan lintasan ekstrem.

Dimana dari Cicalengka sampai ke Nagrek jalur menanjak dikarenakan perbedaaan tinggi antara dua stasiun dari 689 mdpl menuju 818 mdpl. Sebelum sampai di Nagreg, kereta Simandra harus melewati jembatan Citiis yang dibawahnya jurang dan jalan raya lingkar Nagreg sehingga membuat kereta seperti melayang.

Baca juga: Mengenal Walahar Express, Kereta “Odong-Odong” dari Purwakarta

Menuju stasiun Lebak Jero akan bertemu dengan jalur berbentuk S dan melalui perbukitan hingga tiba di stasiun tujuan Cibatu. Pemandangan sudah, melalui jembatan dan stasiun sudah, tapi bagaimana tarif tiket kereta ini?

Bisa dibilang tarif kereta ini cukup murah hanya Rp8 ribu rupiah saja untuk sampai ke stasiun Cibatu ataupun Purwakarta. KA lokal ini mulai meluncur di jalur kereta Cibatu-Purwakarta atau sebaliknya mulai 1 April 2015 lalu.

IRiS, Robot Ini Punya Tugas Inspeksi Kondisi Jaringan Rel

Banyak hal yang harus dilakukan untuk menjamin keselamatan dalam sistem layanan kereta api, salah satu yang terpenting adalah kondisi rel. Untuk yang satu ini jelas diperlukan inspeksi langsung secara berkala, dan bukan perkara mudah mengingat panjang rel yang mencapai ratusan kilometer. Nah, untuk memudahkan tugas inspeksi yang biasanya dilakukan secara manual, Laboratorium Fisika Terapan atau Applied Physics Laboratory dari Universitas Johns Hopkins baru-baru ini merilis robot pemantau kondisi rel.

Baca juga: Antisipasi Gangguan Kabut Saat Musim Dingin, Ini Yang Disiapkan Perkeretaapian India!

KabarPenumpang.com melansir dari laman smartrailworld.com, Jim Resio Direktur Teknologi Protran Harsco Rail selaku pelaksana proyek ini mengatakan, keselamatan di rel bergantung pada akses pemantauan kondisi di lapangan dan pihaknya selalu melakukakan evaluasi dan perlindungan reguler sepanjang jalur kereta api.

“Dengan sistem yang disebut Instrumented Rail inspection System (IRiS), inspeksi keamanan dan tanggap kerja dapat dilakukan secara responsif dapat dilakukan secara robotik. Dengan solusi ini hampir tidak ada risiko cedera atau kematian manusia,” kata Jim.

IRiS dilengkapi dengan inframerah dan kemampuan video, IRiS dapat dioperasikan secara jarak jauh dari stasiun induk portabel yang menyediakan antarmuka tunggal untuk mengendalikan kendaraan dan meninjau telemetri. Unit ini sendiri sebenarnya dirancang untuk mengakomodasikan berbagai sensor opsional yang dapat memperluas kemampuannya dalam memasukkan deteksi kimia, radiasi atau optik.

Tak hanya itu, IRiS juga mampu menjadi solusi ideal untuk masuk dalam aktivitas yang sifatnya darurat seperti penanggulangan ancaman bom, kebakaran hingga bencana alam. Selain itu, tidak seperti inspeksi berskala konvensionl, IRiS juga dapat dipasang atau diturunkan di jalur tujuan dalam hitungan menit, dan dapat mengurangi dampak pada layanan kereta api terjadwal.

IRiS adalah hasil dari upaya pengembangan teknologi yang ekstensif, yang didanai oleh Administrasi Keamanan Transportasi, dan dibentuk oleh umpan balik dari pemangku kepentingan transit. Pengembangan dua tahun tersebut mencakup beberapa uji coba langsung dalam sistem metro transit untuk menunjukkan kemampuan IRIS beroperasi secara efektif baik di atas tanah maupun di bawah tanah.

Baca juga: Antisipasi Bencana Alam, Tiga Operator Shinkansen Gunakan Sistem Keselamatan Baru!

Di bawah kesepakatannya dengan Laboratorium Fisika Terapan, pihak Protran akan membuat platform IRiS tersedia secara komersial di seluruh jaringan kereta api dan pengguna transit kota Harsco, serta pasar berdekatan yang potensial seperti transportasi dan industri pertambangan, di mana akses yang serupa juga dibutuhkan untuk pengamatan dan respon pada insiden.