PT DI – Intercrus Kembangkan Taksi Udara, Perkuat Ekosistem Dirgantara di Sektor Advanced Air Mobility

PT Dirgantara Indonesia (PT DI) menegaskan perannya dalam membangun ekosistem kedirgantaraan nasional yang inovatif dan berdaya saing melalui kerja sama strategis dengan PT Intercrus Aero Indonesia (Intercrus), sebuah Perusahaan start-up dalam negeri yang bergerak di bidang riset dan pengembangan pesawat Vertical Take-Off & Landing (VTOL) elektrik untuk sektor Advanced Air Mobility (AAM).

Intercrus SOLA merupakan produk inovasi terbaru yang dikembangkan PT DI bersama Intercrus, termasuk sekelompok insinyur muda Indonesia di dalamnya yang memiliki visi besar untuk menciptakan solusi mobilitas udara masa depan yang lebih ramah lingkungan, efisien dan adaptif terhadap berbagai kebutuhan operasional – baik untuk sektor sipil maupun militer.

Dirancang sebagai kendaraan udara elektrik berkonsep VTOL, Intercrus SOLA hadir sebagai taksi udara masa depan yang mampu mengangkut tiga penumpang dan satu pilot. Tak hanya itu, platform ini juga dapat dikembangkan untuk misi militer seperti pengiriman kargo dan dukungan logistik dengan muatan presisi maupun konvensional.

Dengan kemampuan daya angkut hingga 360 kg dan jarak tempuh mencapai 200 km, serta sistem propulsi elektrik penuh yang rendah kebisingan, Intercrus SOLA dirancang cocok untuk berbagai lingkungan operasi, dari kawasan urban padat hingga daerah terpencil. Sebagai bagian dari inisiatif green aviation, Intercrus SOLA mencerminkan arah baru PT DI dalam menghadirkan produk berbasis energi bersih dan mendukung pengembangan ekosistem AAM di Indonesia.

Kolaborasi antara PT DI dan Intercrus mencakup pengembangan teknologi, proses sertifikasi, manufaktur, hingga komersialisasi Intercrus SOLA. Pada pembukaan Indo Defence 2024 Expo & Forum hari pertama (11/06), PT DI dan Intercrus menghadirkan demonstrasi prototipe sub-skala 1:7 dari Intercrus SOLA, bernama SOLITA. Demo ini memperlihatkan kemampuan dasar manuver dan hovering di hadapan Presiden RI, Prabowo Subianto.

Direktur Utama PT DI, Gita Amperiawan menyatakan, “Kemitraan ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang PTDI untuk memperkuat kapasitas inovasi industri dirgantara nasional. Kami percaya bahwa AAM dapat menjadi salah satu solusi nyata untuk menjawab tantangan konektivitas di wilayah urban maupun daerah dengan akses terbatas. Di saat yang sama, teknologi ini juga memiliki potensi adaptasi untuk mendukung kebutuhan operasi militer seperti pengiriman logistik ke medan sulit, misi pengintaian, hingga dukungan taktis di area operasi dengan tingkat risiko tinggi.”

Melalui kemitraan dengan Intercrus, PT DI mengambil perannya dalam membentuk arah baru ekosistem mobilitas udara nasional — tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan pertahanan dan transportasi sipil, tetapi juga dalam mendorong lahirnya solusi teknologi inovatif di sektor kedirgantaraan masa depan. Lebih dari sekedar produk, Intercrus SOLA yang ditargetkan siap terbang dan melayani Indonesia pada tahun 2028 ini juga menjadi simbol transformasi dan masa depan transportasi udara Indonesia.

Volocopter dan Grab Canangkan Uji Coba Taksi Udara di Asia Tenggara

Terminal Teluk Bintuni Hadir Untuk Tingkatkan Konektivitas Antar Wilayah

0

Terminal tipe B di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat baru saja diresmikan Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan. Pengoperasian terminal ini merupakan upaya peningkatan konektivitas antar wilayah.

Peresmian ini juga dihadiri oleh berbagai elemen pemerintah daerah dan masyarakat setempat,yang turut merasakan manfaat langsung dari adanya fasilitas transportasi yang lebih modern. Selain itu, kehadiran Terminal Teluk Bintuni juga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Selain itu masyarakat pun dimudahkan dalam pelayanan terhadap mobilitas masyarakat yang menggunakan transportasi darat. Diharapkan,fasilitas baru ini akan mempermudah pergerakan barang dan orang,serta memberikan dampak positif dalam peningkatan pelayanan publik di Bintuni.

Dominggus mengatakan, dengan dukungan infrastruktur terminl, pelaku usaha dan masyarakat pengguna transportasi darat akan semakin nyaman.

“Pembangunan terminal ini tidak hanya simbol kemajuan infrastruktur, tetapi wujud nyata dari komitmen pemerintah provinsi memperbaiki kualitas pelayanan bidang transportasi darat,” ujar Dominggus dikutip dari Antaranews.com.

Saat ini, pemerintah provinsi melalui instansi teknis akan melakukan kolaborasi dengan pemerintah kabupaten setempat. Adapun kolaborasi tersebut kedepannya akan memberikan dampak positif sesuai ekspektasi Bersama.

“Aksesibilitas dan konektivitas antar wilayah menjadi salah satu isu strategis pembangunan daerah,” ujar Dominggus.

Untuk diketahui, pembangunan infrastruktur terminal ini dimulai sejak akhir tahun 2019 lalu. Sayangnya, saat itu pembangunan tak berlangsung dengan baik dan terkendala anggaran karena refocusing.

Sehingga pemerintah provinsi kemudian mengalokasikan biaya penyelesaian pembangunan terminal dua lantai disertai dengan fasilitas bagi pelaku UMKM selama lima tahap atau lima tahun anggaran.

“Waktu itu COVID-19 jadi tidak bisa lanjut, makanya dibagi lima tahap. Ada fasilitas kios yang nanti dikelola pihak ketiga untuk menghasilkan PAD,” jelas Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Perhubungan Papua Barat Max L Sabarofek.

Selain itu, kata dia, pemerintah provinsi telah menandatangani kerja sama dengan Perum PT Damri untuk menyediakan pelayanan transportasi publik yang berkualitas dalam mendukung mobilitas masyarakat.

“Setelah terminal diresmikan, lima unit bus Damri digeser ke Kabupaten Teluk Bintuni,” ucap Max.

Bentuk Pembangunan Sosial Berkelanjutan, PT NHM Hadirkan Bus Sekolah Gratis

Pilihan Waktu Naik Kereta Api Antara Siang dan Malam. Ternyata Ini Perbedaannya

Naik kereta api semakin hari semakin menjadi andalan masyarakat khususnya wilayah Jawa dan Sumatera. Kereta api menjadi transportasi yang paling diandalkan mengingat dapat menempuh waktu singkat dan pelayanan selama perjalanan pun nyaman. Apalagi naik kereta api banyak sekali fasilitas yang disediakan untuk kebutuhan penumpang.

Perjalanan kereta api bagi masyarakat lebih dominan pada waktu siang hari khususnya saat libur panjang. Selain menyenangkan, penumpang bisa dimanjakan dengan pemandangan yang indah. Namun jika perjalanan pada malam hari, penunpang lebih cenderung memanfaatkan perjalanan kereta api dengan beristirahat atau sekadar mencicipi kuliner untuk mengisi waktu agar tidak mengantuk.

Ternyata dari perjalanan kereta api antara siang maupun malam ada lagi perbedaan yang mengharuskan masyarakat bisa memilih waktu keberangkatan untuk mencapai tujuan. Kalian bisa mempertimbangan keberangkatan antara siang maupun malam dengan penjelasan berikut ini:

Rangkaian KA melewati hamparan sawah dengan latar belakang pegunungan. (Foto: Dok. Istimewa)

1. Kebutuhan Diri Sendiri
Jika Anda memiliki anak kecil, pilihlah kereta api yang berangkat pada siang hari. Anak-anak akan lebih mudah untuk bermain dan beraktivitas selama perjalanan. Hal itu pun juga memberikan kesempatan untuk menikmati kuliner lokal di sepanjang perjalanan. Jika pada malam hari kalian bisa menghemat biaya akomodasi. Kalian juga bisa pilih waktu perjalanan sesuai dengan kondisi, apakah akan akan bepergian sendiri atau bersama keluarga. Namun, selain memilih waktu perjalanan, ada beberapa hal yang tak kalah penting untuk kalian persiapkan.

2. Beraktivitas Selama Perjalanan
Pilihan perjalanan pada siang hari, kalian bisa beraktivitas selama perjalanan. Tak hanya berkaitan dengan yang dilakukan secara pribadi, Namun kalian dapat melihat keindahan panorama alam, seperti sawah, perbukitan, dan pegunungan, yang akan membuat perjalanan lebih menarik dan menyenangkan. Namun untuk perjalanan malam hari, Kalian dapat beristirahat atau tidur selama perjalanan. Pada saat tiba di tujuan pastinya kondisi sudah kembali lebih segar. Perjalanan malam hari juga cocok untuk kalian yang ingin menghindari keramaian di stasiun keberangkatan dan stasiun saat tiba ditujuan.

3. Harga Tiket
Ini yang paling penting untuk penumpang dalam mempertimbangkan perjalanan siang atau malam. Secara umum, biaya tiket perjalanan kereta api siang memiliki perbedaan dengan kereta api perjalanan malam hari. Hal ini karena karena ada beberapa faktor.

Tiket kereta api untuk keberangkatan siang hari umumnya lebih mahal daripada tiket untuk keberangkatan malam hari. Hal ini karena kereta api siang hari biasanya lebih ramai dan menawarkan fasilitas yang lebih lengkap. Sedangkan untuk malam hari umumnya lebih murah. Hal ini karena kereta api malam hari biasanya tidak seramai kereta api siang hari dan menawarkan fasilitas yang lebih sederhana.

Nah, itulah beberapa perbedaan perjalanan kereta api pada siang atau malam hari. Memilih waktu keberangkatan kereta api yang tepat dapat membantu kalian untuk menikmati perjalanan yang nyaman, menyenangkan, dan sesuai dengan budget. Kira-kira kalian lebih senang perjalanan siang atau malam, ya?

Ini 3 Karoseri Pembuat Sleeper Bus Mewah di Indonesia

Sleeper bus kini menjadi tren baru dalam perjalanan darat. Bahkan berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir dan menjadi pilihan favorit penumpang bus jarak jauh.

Perkembangan ini karena para pengusaha bus ingin menawarkan kenyamanan bagi para pengguna layanan mereka. Bahkan perusahaan otobus (PO) bukan hanya menghadirkan kursi untuk tidur saja, tetapi kemewahan yang setara dengan kabin kelas bisnis pesawat.

Sleeper bus milik para perusahaan otobus, kini tidak lagi hanya melayani Pulau Jawa, tetapi kini sudah menyeberang ke Pulau Sumatera dan Bali. Namun, di balik kenyamanan dan kemewahan yang ditawarkan sleeper bus, karoseri lokal memiliki peran penting dan menjadi pelopor dalam menghadirkan inovasi ini.

Penasaran karoseri apa saja yang punya andil dalam mempelopori lahirnya sleeper bus di Indonesia? Tenang, KabarPenumpang.com sudah merangkum ada tiga karoseri yang menjadi terdepan dalam lahirnya sleeper bus di Indonesia.

1. Adiputro
Siapa yang tak kenal dengan karoseri asal Malang Raya, Jawa Timur ini? Pastinya sudah tak asing lagi berseliweran namanya di berbagai bus milik para perusahaan otobus. Adiputro sendiri juga dikenal kaya akan inovasi. Salah satu sleeper bus yang dibuat mereka menggunakan sasis Mercedes Benzh OH 1626 Sleeper.

Dilengkapi dengan 22 sleeper seat yang disusun bertingkat. Uniknya dan kemewahan yang dihadirkan adalah setiap seat dilengkapi dengan fitur pijat dibagian sandarannya.

2. Laksana
Nama ini sudah wara wiri bukan hanya di bus-bus AKAP (antarkota antarprovinsi), tetapi juga di bus angkutan dalam kota. Laksana merupakan karoseri asal Semarang, Jawa Tengah ini dikenal sangat detail bila menyangkut faktor kenyamanan dan keselamatan penumpang.

Mereka juga mementingkan estetika pada bus-bus yang dibuat. Produk ungggulan dalam sleeper bus Laksana adalah Legacy SR3-Suite Class dengan 22 seat. Memiliki konfigurasi kursi 2-1, Legacy SR3-SUite Class menjadi sleeper bus mewah besutan Laksana.

3. Tentrem
Sama dengan dua karoseri lainnya, Tentrem juga memiliki produk unggulan sleeper bus mereka yakni Avante D2 dengan sasis Scania K40 IB. Bus besutan karoseri asal Malang, Jawa Timur ini menawarkan berbagai fasilitas seperti layar audio visual pribadi atau video ond deman (AVOD), selimut, bantal, lampu baca, AC, serta toilet.

Bus ‘Dream Coach’ Adiputro, Hadirkan Sensasi Rebahan Sambil Pijat Sepanjang Jalan.

Rahasia LRT Jabodebek Halau Water Spots Setelah Dicuci Otomatis

Kereta LRT Jabodebek dicuci menggunakan mesin otomatis setiap hendak memasuki depo. Menariknya, walau tanpa dikeringkan, baik menggunakan kain ataupun angin berkecepatan tinggi, tidak ada water spots atau bercak air di kereta. Apa sebabnya?

Baca juga: LRT Jabodebek Terapkan Sistem Cuci Kereta Otomatis dengan Teknologi Canggih dan Ramah Lingkungan

Manager Public Relations LRT Jabodebek, Mahendro Trang Bawono, mengungkapkan, hal tersebut dikarenakan kereta dibilas menggunakan air demineralisasi di tahap akhir pencucian kereta otomatis (ATWP).

Air demineralisasi ini digunakan karena mengandung sedikit atau tidak ada mineral, sehingga tidak akan meninggalkan noda atau sisa pada permukaan kereta setelah proses pencucian.

 

“Jadi di tahap akhir itu menggunakan air yang telah dibersihkan dari mineral-mineral seperti kalsium, magnesium, dan besi. Proses demineralisasi menghilangkan ion-ion mineral ini dari air, sehingga air menjadi lebih bersih dan tidak mudah meninggalkan noda atau sisa,” ujarnya kepada KabarPenumpang.com.

Selain mencegah water spots atau noda air, air demineralisasi tersebut juga mencegah tidak ada sisa sabun atau detergen yang menempel serta kotoran lainnya yang menempel di permukaan kereta. Dengan begitu, kereta tidak bergaris noda setelah dicuci.

Baca juga: Optimalkan Kebersihan Kereta, KAI Services Datangkan Mesin Cuci Kereta High Pressure dari Italia

Lebih jauh lagi, air demineralisasi juga mencegah korosi pada kereta. Diketahui, mineral-mineral pada air dapat menyebabkan korosi pada kereta. Dengan digunakannya air demineralisasi di tahap akhir pencucian kereta otomatis, memastikan tidak adanya korosi akibat pencucian.

Sistem pencucian kereta yang menggunakan air demineralisasi juga dapat mengurangi pemborosan air karena air bekas dapat diolah dan digunakan kembali.

Muncul “Kode Huruf” Saat Pesan Tiket Kereta Api via Aplikasi. Ternyata Ini Jawabannya

Sebelum melakukan perjalanan menggunakan kereta api biasanya kalian melihat aplikasi pemesanan tiket di Access by KAI ataupun melalui laman KAI. Terdapat nama-nama kereta api dengan rute yang diinginkan serta jadwal perjalanan, kelas, maupun harga tiket yang disediakan. Pemesanan tiket juga sudah bisa dibeli 45 hari sebelum keberangkatan. Tapi tahukah kalian saat memesan tiket kereta api pada beberapa kelas khususnya ekonomi terdapat kode huruf yang berada di samping tulisan “ekonomi” dalam memilih kursi.

PT KAI membagi kereta ekonomi menjadi beberapa kelas dengan harga yang berbeda. Namun dikutip dari media sosial PT KAI di X @KAI121, harga tiap kelas tidak lantas membedakan layanan yang diterima penumpang. Dalam sistem kereta api Indonesia, ada kode tertentu yang menandakan subclass tiket, di antaranya CA, CB, dan CC. Kode ini berfungsi membedakan harga tiket dalam satu kelas layanan, termasuk kereta ekonomi. Perbedaan utama pada subclass adalah harga tiket, bukan fasilitas yang diperoleh penumpang.

Karena adanya sistem subclass, penumpang sebaiknya membeli tiket lebih awal jika ingin mendapatkan harga yang lebih murah. Semakin mendekati hari keberangkatan, kemungkinan besar subclass tiket dengan harga lebih rendah sudah habis. Ini berarti penumpang harus membeli tiket dengan harga lebih mahal. Secara umum, gambaran harga tiket kereta ekonomi kelas C, CA, CB, CC, CD adalah sebagai berikut.

Kode CA adalah subclass dengan harga tiket paling mahal dalam suatu kelas layanan kereta. Kode ini juga berarti harga tiket dengan batas paling atas yang diterapkan untuk rute dan jadwal kereta tertentu. Kode CB pada tiket kereta menandakan bahwa harga tiket tersebut lebih murah daripada tiket dengan kode CA. Perbedaan kode kereta CC dengan yang lain adalah harganya yang jauh lebih rendah dan merupakan tiket dengan harga paling terjangkau. Selain kode CA, CB, dan CC, ada pula beberapa kode lain yang tertera pada tiket kereta, misalnya P, Q, dan S. Kode-kode tersebut memiliki arti yang sama dengan kode berawalan C. Intinya, perbedaan kode ini hanya terletak pada harga tiket, bukan pada fasilitas atau layanan yang didapatkan.

Rangkaian KA Airlangga rute Pasarsenen-Surabaya Pasarturi. (Foto: Dok. Istimewa)

Berikut contoh perbandingan harga tiket kereta ekonomi C, CA, CB, CC, CD jurusan Pasar Senen-Cirebon Prujakan:
– Kereta ekonomi C: Rp 49 ribu
– Kereta ekonomi CA: Rp 250 ribu
– Kereta ekonomi CB: Rp 255 ribu
– Kereta ekonomi CC: Rp 265 ribu
– Kereta ekonomi CD: Rp 280 ribu.

Kemudian contoh harga tiket ekonomi C, Q, dan S rute Kiaracondong – Leles:
– Kereta ekonomi C: Rp 63 ribu
– Kereta ekonomi Q: Rp 105 ribu
– Kereta ekonomi S: Rp 105 ribu.

Lalu contohnya untuk KA Papandayan jurusan Bandung (BD)-Leles (LL):
– Kereta ekonomi Q dan S: Rp 50 ribu
– Kereta ekonomi CA dan CD: Rp 35 ribu.

Bentuk Pembangunan Sosial Berkelanjutan, PT NHM Hadirkan Bus Sekolah Gratis

Di berbagai daerah Indonesia, bus sekolah mulai digalakkan pemerintah daerah masing-masing melalui dinas perhubungan (Dishub). Tetapi untuk pengadaan bus, Dishub juga terkadang meminta bantuan dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

Namun, PT Nusa Halmahera Minerals (NHM) melalui Departemen NHM Peduli menjadi salah satu perusahaan swasta yang meluncurkan layanan transportasi bagi para pelajar. Bus-bus ini digunakan bagi pelajar tingkat menengah pertama hingga atas (SMP dan SMA).

Kehadiran bus tersebut juga sebagai bentuk komitmen terhadap pembangunan sosial berkelanjutan di wilayah lingkar tambang. Bus ini mulai beroperasi pada 2 Juni 2025 kemarin.

Satu unit bus dengan nomor B028 tersebut beroperasi untuk melayani rute antar-jemput para pelajar dari Desa Pediwang, Kecamatan Kao Utara hingga ke wilayah Kecamatan Kao, Halmahera, Maluku Utara. Layanan bus sekolah gratis ini akan beroperasi setiap hari dengan keberangkatan pukul 06.20 WIT.

Untuk pengantaran dari sekolah Kembali ke desa asal akan dioperasikan pada siang hari. Langkah ini merupakan bagian dari inisiatif Departemen NHM Peduli dalam menjawab kebutuhan masyarakat sekitar tambang terhadap akses transportasi yang aman dan layak, khususnya bagi para pelajar yang selama ini menempuh perjalanan jauh dengan berjalan kaki untuk mengenyam pendidikan.

Kepala Divisi Pengembangan Berkelanjutan, Departemen NHM Peduli, Muhammad Irwan Malaka, menjelaskan bahwa program ini selaras dengan komitmen perusahaan untuk mendorong terciptanya kesempatan belajar yang lebih inklusif dan berkelanjutan bagi generasi muda di lingkar tambang.

“Inisiatif ini merupakan wujud nyata kepedulian NHM terhadap masa depan anak-anak di sekitar wilayah operasi kami. Dengan tersedianya transportasi sekolah yang aman dan nyaman, kami berharap dapat mengurangi beban harian siswa sekaligus mendorong semangat belajar mereka,” ujar Irwan.

Program transportasi sekolah ini menjadi bagian dari pilar Pengembangan Sosial dalam strategi keberlanjutan NHM. Melalui Departemen NHM Peduli, perusahaan terus memperkuat kontribusinya terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat, dengan menghadirkan solusi nyata atas tantangan yang dihadapi komunitas lingkar tambang.

Bantul Kembangkan Bus Sekolah, Minta Dua Unit Armada dari Kementerian Perhubungan

Wajib Tahu! Ada 4 Stasiun yang Berganti Nama di Wilayah Daop 2 Bandung

Menggunakan kereta api lewat jalur selatan Jawa Barat sudah pasti merasakan sensasi yang berbeda. Mulai dari melihat pemandangan yang indah sampai melewati bangunan cagar budaya kereta api yang masih aktif digunakan. Nah, bicara soal stasiun kereta api di wilayah Daerah Operasi (Daop) 2 Bandung ternyata ada beberapa stasiun yang berdiri sejak era kolonial Belanda pernah mengganti namanya. Tak hanya manusia yang bisa mengganti nama, alasan stasiun mengganti nama tersebut salah satunya sebagai tolak bala. Berikut nama-nama stasiun yang kabarpenumpang rangkum.

Persilangan dua kereta api di Stasiun Cirahayu. (Foto: Dok. Istimewa)

1. Halte Gandamirah (Karangsari)
Stasiun ini awalnya merupakan perhentian kecil bernama Kiarabaok, terletak di kilometer 207+650 atau sekitar 180 meter di selatan letak stasiun saat ini. Dilansir dari iklan yang dimuat di surat kabar de Preangerbode pada 17 Mei 1899, Perhentian Kiarabaok dibuka pada 5 Juni 1899.

Pembukaan ini didasarkan pada keinginan warga Desa Kiarabaok (sekarang Karangsari) dan Dungusitu yang menginginkan dibukanya stasiun antara Stasiun Leles dan Leuwigoong. Setidaknya pada tahun 1935, telah tercatat sebuah perhentian bernama Gandamirah yang dibuka di antara Leles dan Leuwigoong. Perhentian tersebut naik status menjadi stasiun dan berganti nama pada tahun 1980-an.

Kini Stasiun Karangsari merupakan stasiun kereta api kelas III yang terletak di Karangsari, Leuwigoong, Garut. Kelebihan dari stasiun ini memiliki keindahan panorama hamparan sawah yang sangat luas.

2. Stasiun Bendul (Sukatani)
Stasiun Sukatani merupakan stasiun kereta api kelas III yang terletak di Sukatani, Sukatani, Purwakarta. tepatnya tak jauh dari Jalan Raya Plered-Purwakarta. Stasiun yang terletak pada ketinggian +226 meter ini termasuk dalam Daerah Operasi II Bandung. Perubahan nama Stasiun Sukatani sebelumnya adalah Halte Bendul. Diubahnya nama tersebut ternyata tetjadi insiden saat masih berstatus halte.

Melansir dari laman Roda Sayap, insiden terjadi pada Kamis malam tepatnya tanggal 11 April 1968 pukul 22.15 WIB, sebuah lokomotif seri CC5002 yang sedang berhenti di jalur 2 Halte Bendul tiba-tiba meledak. Kejadian tak diduga tersebut mengakibatkan jatuhnya korban jiwa termasuk masinis dan kru lainnya yang berada dilokasi tersebut. Ledakan kuat yang terdengar hingga radius 50 kilometer dari lokasi tersebut mengakibatkan hancurnya bangunan stasiun dan terlemparnya boiler hingga ke udara. Kejadian saat sebelum ledakan terjadi akibat kegagalan sistem savety valve atau akibat adanya sumbatan pada sistem perpipaan boiler.

Pasca insiden terjadi dan bangunan yang hancur tersebut kemudian dibangun kembali. Sisa bangunan yang tersisa akhirnya dirobohkan dan bangunan yang baru didirikan. Nama “Bendul” kemudian diganti menjadi “Sukatani” yang sampai saat ini menjadi nama stasiun aktif hingga kini dilewati kereta dari Jakarta ke Bandung maupun sebaliknya.

3. Stasiun Malangbong (Bumiwaluya)
Stasiun Bumiwaluya terletak di Desa Citeras, Malangbong ini merupakan stasiun kereta api kecil atau stasiun kelas III ini berada di ketinggai +641 meter diatas permukaan laut. Dahulu, stasiun ini dikenal dengan sebutan Stasiun Malangbong karena berada di Kecamatan Malangbong.

Awalnya dijalankan 3 KA yang menggunakan 60 gerbong angkutan pasir galunggung yang termasuk salah satu KA barang yang memiliki volume yang besar yakni gerbong berkapasitas 9 meter kubik. Rangkaian KA Pasir Galunggung ini biasanya ditarik oleh 2 unit lokomotif CC 201 dalam posisi double traksi. Namun, ada hal berbeda saat itu, karena posisi lokomotif bagian depan menarik dan ada di bagian belakang untuk mendorong.

Formasi ini digunakan antara Stasiun Pirusa hingga Kiaracondong/Padalarang, kemudian rangkaian dipecah menjadi 2 rangkaian. Memasuki tahun 1987, insiden pun terjadi yakni satu rangkaian isian pasir Galunggung yang ditarik lokomotif seri CC 201 17 terguling di Stasiun Malangbong. Lokomotif dan rangkaian terguling yang mengakibatkan ringsek dan rusak parah. Akibat insiden tersebut, nama Malangbong diganti menjadi Bumiwaluya.

4. Stasiun Trowek (Cirahayu)
Stasiun ini berlokasi 500 meter di sebelah barat laut Jembatan Trowek yang menjadi lokasi anjlokan kereta api gabungan Galuh dan Kahuripan pada 24 Oktober 1995. Panorama stasiun ini dikelilingi gunung. Akses stasiun ini cukup sukar karena berjarak 3 km dari Jalan Raya Tasikmalaya, serta harus mendaki bukit-bukit curam.

Nama stasiun ini dahulunya adalah Trowek (TWK) dan berstatus sebagai halte (stasiun kecil) sejak awal dibukanya. Halte tersebut dibuka pada 15 Oktober 1907 dan awalnya digunakan untuk melayani penumpang dan barang komoditas.

Insiden yang harus mengganti nama dari Trowek menjadi Cirahayu ini adalah tanggal 30 April 1964, pukul 20.00, KA 40 tiba-tiba meluncur ke belakang tanpa kendali saat hendak menanjak dari Stasiun Cipeundeuy menuju Stasiun Ciawi. Saat itu, kereta api berhenti di muka sinyal masuk Trowek, tetapi kereta akhirnya meluncur ke belakang dari km 241+4/5 hingga terguling di km 238+9/0 pada lereng penentu 20‰ sehingga menyebabkan 24 tewas (termasuk 8 pegawai PNKA) dan 75 luka parah.

Kejadian terakhir yang tak jauh dari Stasiun Cirahayu adalah pada 4 April 2014, kereta api Malabar jurusan Bandung–Malang dengan lokomotif penariknya saat itu adalah CC206 13 55 asuhan depo lokomotif Bandung mengalami kecelakaan pada lintasan antara Stasiun Cirahayu dan Stasiun Ciawi.

Kecelakaan terjadi karena tanah penyangga rel mengalami longsor. Karena beratnya medan, evakuasi lokomotif dan dua kereta eksekutif sempat terhambat. Akibat dari kejadian tersebut, Stasiun Cirahayu dijadikan sebagai tempat pengafkiran kereta penumpang yang rusak.

Dalam Waktu Dekat, ASDP Mulai Operasikan Jatra II Gunungsitoli-Sibolga

Perjalanan dari Gunungsitoli di Pulau Nias menuju ke Sibolga, biasanya menggunakan kapal cepat atau kapal motor untuk mengangkut penumpang. Namun, dalam waktu dekat akan bertambah dengan kapal motor penumpang (KMP) dari PT ASDP Indonesia Ferry.

Pelayaran tersebut akan menggunakan KMP Jatra II dan akan mulai berlangsung perjalanan perdananya pada Jumat (13/6/2025) pukul 19.30 WIB. Perjalanan perdana tersebut akan dimulai dari Pelabuhan Gunungsitoli, Kota Gunungsitoli, Pulau Nias.

Kehadiran KMP Jatra II yang menghubungkan Pelabuhan di Gunungsitoli dan Sibolga merupakan kepedulian ASDP. Selain itu juga merespon aspirasi masyarakat di Pulau Nias.

Baca juga: Libur Nasional dan Cuti Bersama, ASDP Imbau Masyarakat Beli Tiket Lebih Awal

Tak hanya itu, perjalanan Gunungsitoli-Sibolga dan sebaliknya juga untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat di Kepulauan Nias. Kehadiran KMP Jatra II juga guna meningkatkan konektivitas serta kemajuan ekonomi dan pariwisata di Kepulauan Nias serta Provinsi Sumatera Utara.

Untuk perjalanan perdananya, ASDP akan menggunakan satu unit. Yang mana nantinya akan bertambah setelah dilakukan evaluasi oleh PT ASDP.

Perjalanan menggunakan kapal milik ASDP ini akan memakan waktu hingga delapan jam perjalanan. Alternatif ini cocok bagi mereka yang membawa kendaraan atau ingin perjalanan lebih ekonomis, tetapi memakan waktu lebih lama.

Sebagai informasi, selain KMP Jatra II, Gunungsitoli-Sibolga juga dilayanai kapal cepat milik Wira Fast 9 (Wira Jaya Logitama Lines). Kapal cepat ini menyediakan layanan dengan kapasitas 115 penumpang dan waktu tempuh sekitar 3,5 jam dengan tarif tiket sekitar Rp312 ribu.

Jadwal keberangkatan kapal cepat dari Sibolga pukul 09.00 WIB dan dari Gunungsitoli pukul 14.00 WIB. Bahkan ada beberapa travel agent juga menyediakan layanan transportasi rute Sibolga-Gunungsitoli, termasuk antar jemput dari dan ke Pelabuhan.

Sedangkan dengan tarif Rp50 ribu per orang, termasuk asuransi, perjalanan Gunugsitoli-Sibolga juga bisa menggunakan KM (kapal motor) Sabuk Nusantara 37 menawarkan transportasi yang ekonomis bagi penumpang. Kapal ini mampu menampung hingga 300 penumpang, dan tiket dapat dibeli langsung melalui operator kapal yang ditunjuk oleh KSOP Gunungsitoli.

ASDP Siap Kembangkan Waterfront Tourism Kelas Dunia

Stasiun Barat Menjadi Magetan – Hilangnya Bangunan Ikonik Bersejarah, Kini Berubah Modern nan Megah

Magetan. Ya, inilah stasiun kereta api yang berada di wilayah Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun. Stasiun ini memiliki fasilitas dasar yang memadai, seperti ruang tunggu, loket tiket, dan area parkir. Selain itu, beberapa layanan kereta api yang berhenti di stasiun ini menghubungkan Magetan dengan kota-kota lain di Pulau Jawa, seperti Madiun, Yogyakarta, dan Surabaya.

Meski stasiun ini masih menjadi sorotan akibat insiden kecelakaan kereta api dengan pengendara bermotor di perlintasan Magetan, namun ternyata stasiun ini punya riwayat sejarah yang panjang. Stasiun ini juga telah diubah namanya yang semula bernama Stasiun Barat. Kita ulas disini, yuk.

Stasiun Magetan dibangun pada masa kolonial Belanda dengan nama Stasiun Barat. Pada awalnya, stasiun ini didirikan untuk mendukung pengangkutan hasil pertanian dan perdagangan di wilayah Magetan dan sekitarnya. Seiring berkembangnya zaman, stasiun ini semakin ramai digunakan sebagai pusat mobilitas masyarakat.

Pembangunan jalur rel kereta api yang menghubungkan Madiun-Paron (sekarang Stasiun Ngawi)-Sragen-Solo Balapan sejauh sekitar 97 km yang dibangun pada 1883-1884 dan direnovasi pada era 1930-an. Semakin padatnya aktifitas operasional pengangkutan bahan baku tebu dan hasil produksi gula dari PG Poerwodadie, pabrik gula yang dibangun tahun 1832 berjarak sekitar 5 km dari Stasiun Barat milik Nederlandsche Handel Maatschapij (NHM).

Diketahui, setiap infrastruktur yang dibangun pemerintahan Hindia Belanda, umumnya untuk dua kepentingan, yaitu untuk kepentingan militer atau ekonomi, khususnya jalur distribusi hasil dari alam yang dikeruknya, baik dari pertambangan, perkebunan, pertanian dan lain-lainnya.

Begitu juga dengan pendirian stasiun Barat yang sudah pasti dirancang jauh-jauh hari juga, setidaknya untuk mendukung operasional dua aset penting pemerintahan penjajah Hindia Belanda di sekitarnya, yaitu Pabrik Gula Poerwodadie, PG Rejosari dan Lanud Iswahyudi.

Posisi dan peran Stasiun Barat cukup strategis dalam perang Asia Pasifik, khususnya bagi pasukan dan alutsista perang milik sekutu yang bermarkas di Lanud Iswahyudi, karena satu-satunya jalur suplai bahan bakar menuju ke pangkalan militer ini hanya bisa melalui persimpangan jalur kereta di stasiun Barat dan sudah pasti kontrol operasionalnya juga ada di dalam Stasiun Barat.

Peron Stasiun Barat. (FOTO: Dok. Istimewa)

Perkembangan jalur kereta api yang semakin maju, membuat Stasiun Barat berubah total di tahun 2015. Bangunan lama stasiun, termasuk bangunan utama yang ikonik, gudang dan bangunan-bangunan pendukung lainnya dirobohkan tanpa sisa, karena terkena proyek penambahan jalur rel kereta.

Sedangkan bangunan baru yang menggantikan fungsi bangunan lama dibangun dengan gaya artistik modern, jauh lebih besar dan megah. Sayangnya, sama sekali tidak meninggalkan jejak arsitektur bangunan lama yang tentu saja memberi kenangan mendalam pada masyarakat sekitar, termasuk saya dan juga teman-teman masa kecil.

Penggantian nama tersebut merupakan usulan Pemerintah Daerah setempat dengan maksud mengenalkan wilayah Magetan bagi penumpang kereta api jarak jauh yang melintas. Perlu diketahui, Stasiun Magetan ini tidak serta merta lokasinya dekat dengan Pusat Kota Magetan.

Begitu turun kereta tidak langsung sampai Kota Magetan. Melainkan masih ada jarak 20 km lagi yang harus ditempuh untuk bisa menuju pusat kota. Secara jarak, Stasiun Magetan beda dengan Gubeng, Jombang, Mojokerto, Madiun, Yogyakarta, Gambir yang terletak di pusat kota. Stasiun Barat digantikan dengan Stasiun Magetan.

Stasiun Barat Jadi Stasiun Magetan, Ternyata Pernah Punya Percabangan ke Lanud Iswahjudi