‘Ganti Persneling’, Uber Coba Peruntungan Jajal Bisnis Taksi di Jepang

Demi untuk ‘menjajah’ kembali negara yang telah melarang pengoperasiannya, Uber Technologies meluncurkan fitur cab-hailing di Jepang pada Kamis (6/9/2018) kemarin. Dalam hal ini, perusahaan yang berbasis di Negeri Paman Sam ini berkolaborasi dengan Fuji Taxi Group yang berbasis di Nagoya. Sebelum memutuskan untuk bekerja sama, Uber telah terlebih dahulu menguji coba layanan ini di Pulau Awaji, Prefektur Hyogo, di mana opsi transportasi lokal di sana masih terbatas.

Baca Juga: Sering Gunakan Layanan Ride-Sharing? Baca Tips Ini Agar Tetap Aman!

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman asia.nikkei.com (7/9/2018), Uber sendiri terkenal dengan platform ride-sharingnya, dimana mereka mempekerjakan para pemilik mobil sebagai pengemudi yang akan mengantar jemput penumpang – namun layanan tersebut ditolak di Jepang karena berdampak pada kemacetan yang semakin memerah.

“Uber berusaha untuk mendorong inovasi pada industri taksi dengan menggunakan teknologi,” ujar General Manager Uber Jepang, Tom White. Ini merupakan langkah lanjutan yang ditempuh Uber pasca jatuhnya kedigdayaan perusahaan tersebut pada tahun 2017 silam. Oper persneling ke pasar taksi, tidak tanggung-tanggung, Uber langsung mengarah Jepang yang diketahui sebagai salah satu negara yang memiliki pasar taksi terbesar di dunia.

Selain itu, pertumbuhan sektor pariwisata di Jepang akan berdampak pada meningkatnya jumlah wisatawan – baik asing maupun mancanegara di Negeri Sakura. Maka besar harapan Uber untuk memperlebar sayap bisnisnya di kota-kota besar di Jepang, seperti Tokyo. “Semakin besar kemungkinan wisatawan datang dan menggunakan taksi yang kami sediakan,” tandas Tom.

Kerja sama yang dilakukan antara pihak Uber dengan Fuji Taxi Group ini ditandai dengan hadirnya 350 dari 550 taksi di aplikasi Uber itu sendiri. “Untuk merengkuh kata sepakat dengan pihak Fuji Taxi bukanlah perkara yang mudah, namun kami menawarkan biaya penggunaan sistem yang lebih tinggi daripada perusahaan taksi yang lain,” terang Tom.

Baca Juga: Ride Sharing Masa Depan Bakal Seperti Layanan dalam Penerbangan

Namun Uber bukanlah satu-satunya perusahaan yang menawarkan layanan ini. Sebelumnya, ada JapanTaxi yang juga menawarkan layanan ride-hailing berbasis mobile application. Dengan sokongan dana yang digelontorkan oleh Toyota Motor dan operator seluler NTT Docomo, JapanTaxi berhasil merebut perhatian publik dengan 5,5 juta penguduh aplikasi.

Belum lagi Sony yang bermitra dengan lima perusahaan taksi Jepang – termasuk Kokusai Motorcars, untuk menawarkan sistem antar jemput menggunakan taksi yang menggunakan kecerdasan buatan (Artificial Intelligent/AI), yang dijadwalkan untuk memulai operasi pada tahun fiskal 2018.

 

Sering Tertukar, Ini Dia Perbedaan Antara Ride-Sharing dan Ride-Hailing

Dalam beberapa tahun ke belakang, skema transportasi di dunia sudah berubah manakala layanan ride-sharing dan ride-hailing mulai mencuat ke permukaan. Di Indonesia sendiri, tak pelak alternatif transportasi semacam ini semakin digandrungi oleh masyarakat ketika mereka menawarkan kemudahan dan efisiensi waktu kepada para penggunanya. Cukup menekan layar ponsel beberapa kali, maka jemputan berupa mobil atau motor akan datang menghampiri Anda.

Baca Juga: Seberapa Perlu Layanan Ride-Sharing Merata di Berbagai Daerah?

Kendati sama-sama akan mengantarkan Anda menuju titik yang sebelumnya sudah ditentukan, tapi tahukah Anda perbedaan yang mendasar dari kedua layanan tersebut? Dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, layanan seperti GoJek dan Grab yang namanya tengah naik daun di Indonesia ini masuk ke dalam golongan ride-hailing, dimana para pengguna akan mengawali perjalanan dengan memesan kendaraan – lengkap dengan pengemudinya untuk mengantarkan Anda ke tujuan.

Cara yang digunakannya pun beragam, mulai dari menghentikannya di pinggir jalan atau memesan via telepon atau aplikasi.

Sementara itu, layanan ride-sharing lebih ditujukan kepada seorang yang berbagi tumpangan dengan penumpang lain. Disebutkan di laman thezebra.com, para puritan layanan ride-sharing ini mengatakan bahwa para pengemudi tidak dimotivasi oleh keuntungan, melainkan lebih kepada misi sosial, perlindungan terhadap lingkungan (karena numpang kepada pengguna kendaraan lain, si penumpang tidak perlu menggunakan kendaraan pribadi yang pada akhirnya akan menambah polusi), dan juga penghematan biaya.

Baca Juga: Ride-Sharing, Upaya Uber Untuk Lebih Mengerti “Perasaan” Pengguna

Mengutip dari laman sumber lain, salah satu perusahaan yang mengoperasikan layanan ride-sharing adalah BlancRide. Pengoperasian dari layanan ini sendiri cukup unik, dimana semakin banyak penumpang di dalamnya, maka akan semakin murah pula tarif yang dikenakan per penumpang.

Ambil contoh, jika Anda pergi sendiri dari titik A menuju titik B dengan menggunakan BlancRide, akan dikenakan tarif Rp100.000. Harga yang sama akan berlaku jika ada penumpang lain yang menuju tujuan yang sama – jadi Anda bisa patungan dengan penumpang tersebut. Lebih hemat bukan?

Selain lebih hemat, jumlah kendaraan juga ditaksir akan berkurang dan itu berpengaruh terhadap tingkat pencemaran udara yang bisa direduksi – dan tentu saja, jadi tidak macet!

Mulai sekarang, jangan terbaik lagi ya antara layanan ride-sharing dan ride-hailing!

 

Ada Nomor Identitas di Tiket dan Boarding Pass Kereta? Ini Penjelasan dari PT KAI

Nomor identitas baik KTP atau SIM biasanya harus dicantumkan saat pembelian tiket kereta api dan akan tertera pada boarding pass baik cetak maupun elektronik. Hal ini kemudian membuat seorang penumpang bertanya melalui Twitter PT KAI @KAI121.

Baca juga: Punya Boarding Pass Kereta Api? Jangan Buang dan Tukarkan Tiket Gratis dari PT KAI

“Hallo @KAI121 kenapa di tiket boarding pass harus ada id number? Padahal saat masuk juga harus scan barcode. Soalnya untuk orang awam tiket yang sudah digunakan langsung dibuang tanpa disobek terlebih dahulu, padahal id number bisa disalagunakan orang lain jika terbuang.”

Kemudian dengan adanya pertanyaan tersebut, @KAI121 menjawab, “Selamat siang. Nomor identitas pemesanan merupakan data wajib bagi setiap penumpang. Hal tersebut guna menghindari adanya tindak percaloan atau penumpang ilegal. Sehingga nomor identitas harus tertera pada tiket, untuk pencocokan data identitas yang dimiliki penumpang Trims.”

Alasan tersebut sebenarnya masuk akal tetapi sayangnya dengan pencantuman nomor identitas tersebut bisa mengganggu privasi penumpang. Padahal tiket pesawat dan transportasi lainnya tidak mencantumkan nomor identitas baik tiket maupun boarding pass.

Kemudian Kepala Humas PT KAI Agus Komarudin yang dikonfirmasi mengatakan, nomor identitas yang tertera sebenarnya digunakan untuk verifikasi dengan identitas asli penumpang saat boarding.

“Untuk menjaga agar tidak terjadi praktik percaloan dan untuk kepentingan asuransi,” kata Agus kepada KabarPenumpang.com, Kamis (13/9/20180.

Dia menjelaskan, saat ini sebenarnya PT KAI sendiri sudah berupaya menghadirkan sistem yang bisa mengurangi penggunaan tiket atau boarding pass dalam bentuk fisik (cetak). Agus mengatakan, ini juga dilakukan untuk menghindari tiket atau boarding pass yang dibuang sembarangaan oleh penumpang.

Saat ini PT KAI sudah menerapkan e-boarding bagi penumpang yang melakukan pemesanan tiket melalui KAI Access. Dua jam sebelum pemberangkatan KA, penumpang akan mendapatkan pemberitahuan dan dapat mengklik cetak e-boarding pass, sehingga tidak ada lagi fisik lembaran cetakan tiket.

Baca juga: Jumlah Perlintasan Sebidang Liar di Indonesia, Tembus Angka 4.000!

“Penumpang tinggal tunjukkan barcode yang ada di handphone atau gadgetnya saat boarding. Jadi harus check in online terlebih dahulu,” ujar Agus.

E-boarding ini dapat dilakukan untuk semua jenis kereta api jarak jauh. Agus menghimbau masyarakat yang menggunakan jasa layanan kereta api untuk tidak membuang tiket perjalanannya. Meski demikian, Agus menyatakan bahwa pertanyaan dan usulan mengenai nomor identitas itu diterima sebagai masukan yang berharga. PT KAI akan melakukan evaluasi agar tidak ada kebijakan yang merugikan penumpang.

Belanja Kebutuhan Rumah di Stasiun Kini Cukup Scan Kode QR

Commuter line atau kereta listrik (KRL) saat ini menjadi moda transportasi yang paling banyak digunakan masyarakat. Bahkan berdasarkan data dari PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) di laman resminya, hingga Juni 2018 rata-rata pengguna KRL setiap harinya mencapai satu juta orang.

Baca juga: Tak Hanya Hadirkan KMT Khusus, Inilah Rute KRL dan TransJakarta Untuk Pengunjung Asian Games 2018

Hal ini kemudian membuat e-commers JD.ID menghadirkan layanan baru bagi penggunanya berupa toko ritel JDVirtual yang bisa ditemui di stasiun-stasiun KRL. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, ada sembilan stasiun yang menghadirkan JDVirtual tersebut yakni Jakarta Kota, Sudirman, Sudimara, Juanda, Gondangdia, Cikini, Tebet, Pasar Minggu dan Depok Baru.

Penumpang yang tengah menunggu kereta di stasiun-stasiun tersebut bisa membeli produk yang dijual oleh JDVirtual dan men-scan kode QR (QR code) sehingga barang yang dibeli akan masuk ke troli di aplikasi. Kemudian pembayarnya pun seperti biasa yakni non tunai seperti belanja dari aplikasi JD.ID.

“Intinya untuk pembelian barang di stasiun, penumpang menscan barcode yang tertera di banner kita. Nanti itu masuk sendiri ke troli aplikasi,” ujar Head of Corporate Comm and Public Affair Teddy Arifianto yang dihubungi KabarPenumpang.com, Kamis (13//9/2018).

Dari informasi yang didapatkan, barang-barang yang dijual melalui JDVirtual sendiri yakni kebutuhan rumah tangga, makanan, minuman dan beberpa lainnya seperti yang ditemui di toko ritel. Nantinya setelah dilakukan pembayaran, barang akan diproses dan diantar ke alamat yang diinginkan layaknya belanja online biasa.

President Director JD.ID Zhang Li mengatakan, JD.ID senantiasa berinovasi untuk memberikan terobosan yang memudahkan para pelanggan kami dalam mengakses dan memenuhi kebutuhan keseharian mereka meski dalam perjalanan.

“Secara teknologi, kami bangga dapat mempelopori cara dan pilihan berbelanja yang berbeda sesuai dengan dinamika masyarakat urban,” kata Zhang.

Dia menyebut, pelanggan adalah inspirasi perusahaan dalam menjalankan bisnis di Indonesia. Menurut dia dengan JD.ID Virtual, konsep berbelanja yang tak mengenal batas/borderless sesuai dengan semangat dan nilai-nilai perusahaan.

“Kami harap ini dapat memberikan solusi nyata bagi industri ritel modern sekaligus menjalankan amanah kami untuk memajukan Indonesia (Advancing Indonesia),” tambah dia.

Baca juga: Benarkah Hadirnya E-Money Dorong Anda Jadi Pribadi Konsumtif?

Target JD.ID dengan JDVirtual ini adalah memberikan pengalaman baru dalam berbelanja bagi para pelanggan setianya. Tidak menutup kemungkinan layanan JDVirtual akan ditambah di beberapa titik strategis layanan transportasi masyarakat seperti di terminal bus dan bandara.

“Pelanggan adalah inspirasi kami dalam menjalankan bisnis di Indonesia. Kami percaya dengan JD.ID Virtual konsep berbelanja yang tak mengenal batas dapat memberikan solusi nyata bagi industri ritel modern sekaligus menjalankan amanah kami untuk memajukan Indonesia,” kata Zang

Pertegas Positioning, Garuda Indonesia Alihkan Pesawat ATR ke Citilink

Garuda Indonesia berencana untuk melakukan pengalihan operasional pesawat ringan turbo propeller ATR 72-600 kepada Citilink Indonesia yang merupakan anak usahanya. Adanya pengalihan operasional tersebut dinilai bagus apalagi bila saling berkaitan untuk meningkatkan produktivitas grup maskapai.

Baca juga: Pertengahan 2019 Penumpang Kelas Bisnis Garuda Indonesia Bisa Lanjutkan Perjalanan via Helikopter

Langkah Garuda Indonesia tersebut kemudian mendapat komentar dari pengamat penerbangan Alvin Lie, yang menilai perlunya perbedaan secara jelas antara pasar penerbangan Garuda Indonesia sebagai maskapai layanan penuh dengan Citilink yang merupakan maskapai berbiaya hemat atau LCC. Sebab dengan adanya perbedaan pasar yang dibidik kedua maskapai itu bisa menjadi lebih jelas.

“Pengalihan operasional tidak bole setengah hati. Garuda perlu menegaskan jati diri yang ingin dibangun pada benak pengguna jasanya,” ujar Alvin yang dikutip dari laman bisnisindonesia.com oleh KabarPenumpang.com, Minggu (9/9//2018).

Menurut Alvin, tidak hanya operasional saja, melainkan armada ATR tersebut sepenuhnya digunakan penuh dengan identitas Citilink. Sedangkan untuk harga dan standar pelayanannya sendiri akan mengikuti dari Citilink.

Dengan hal ini, Alvin kemudian mencontohkan bahwa United Airlines juga memiliki  menggunakan pesawat kecil dengan nama United Express. Pesawat kecil ini hanya memiliki rute pendek dimana United Airlines tidak terbang. Tak hanya itu, standar pelayanan dan harga yang diberikan United Express tidak sama dengan United Airlines.

Saat ini diketahui rute domestik Garuda Indonesia dan Citilink tidak jelas perbedaannya. Bahkan Alvin menyebutkan baik Garuda maupun Citilink cenderung saling berebut rute penerbangan. Dia menambahkan, dengan adanya pengalihan operasional armada tersebut, diharapkan kedepannya bisa diikuti dengan penataan kembali rute keduanya.

Baca juga: Meski Penerbangan Langsung Jakarta-London Tutup, Garuda Indonesia Masih Layani via Codeshare

“Rute mana yang dilayani Garuda dan Citilink harus ditentukan secara tegas. Agar bisa bersaing melawan maskapai lain,” ujar Alvin.

Diketahui, baru-baru ini Garuda dan Citilink telah melakukan codeshare atau berbagi kode pada penerbangan tertentu. Ini dilakukan guna memperkuat posisi Garuda Indonesia Group di industri penerbangan nasional. Selain itu juga untuk mendongkrak pertumbuhan penumpang dan memperluas network baik Citilink maupun Garuda Indonesia.

Tips Darurat Atasi Sakit Akibat Terjepit

Pernah merasakan sakit akibat terjepit pintu dari angkutan umum yang Anda naiki seperti kereta, TransJakarta atau kendaraan umum lainnya? Ini pastinya sering sekali terjadi, apalagi jari tangan Anda, sering sekali menjadi korban terjepit kendaraan umum. Mungkin saat awal pertama terjepit Anda akan kaget, tetapi lama-lama sakit itu rasanya akan lebih perih. Bahkan tak hanya perih, tangan atau bagian tubuh lainnya yang terjepit bisa saja berdarah hingga memar dan membengkak.

Berikut ini ada beberapa tips yang sudah KabarPenumpang.com rangkum untuk mengatasi rasa sakit akibat terjepit pintu angkutan umum.

1. Tetap Tenang
Pikiran yang tenang saat terjepit bisa membantu Anda melupakan sejenak masalah terjepit yang sedang Anda rasakan. Semakin tenang, kondisi aliran darah akan semakin baik, namun sebaliknya bila Anda panik dan heboh sendiri, justru akan membuat aliran darah cepat naik dan orang-orang sekitar akan merasa Anda terlalu heboh.

Baca Juga : Penumpang Ini Sama-Sama Terjepit Pintu Kereta, Namun Beda “Penderitaan”

2. Alihkan perhatian
Ini sangat baik untuk benar-benar tidak merasakan bahwa Anda baru saja terjepit. Bila tangan yang terjepit, alihkan perhatian dengan memikirkan hal-hal yang menyenangkan atau dengarkan lagu kesukaan Anda. Berbicara dengan orang di sebelah Anda juga akan menghilangkan pikiran pada bagian yang terjepit. Sebab dengan menjalankan lima indera yang Anda punya, sakit yang dirasa bisa lebih tertahan daripada diam saja.

3. Letakkan es batu
Bila sampai di tujuan, baiknya segera mencari es batu. Es batu bisa membuat rasa sakit pada luka akibat terjepit menjadi baal atau tidak terasa sama sekali. Suhu dingin bisa memperlambat aliran darah pada luka terjepit dan mengurangi pembengkakan atau peradangan yang dapat memperparah cedera.

Baca Juga: Agar Tidak Terjatuh Saat Turun dari Bus, Ini Dia Tipsnya!

4. Angkat tangan ke atas
Ketika tangan Anda yang terjepit, baiknya angkat tinggi-tinggi tangan. Ini bertujuan agar aliran darah menuju ke area yang sakit berkurang.

5. Minum obat pereda sakit
Sekarang ini bayak obat pereda sakit atau nyeri yang di jual bebas. Sebenarnya cedera ini harus menemui dokter agar luka cepat di obati, tetapi bila tidak memungkinkan saat itu juga Anda bisa memakan obat pereda sakit sebelum menemui dokter.

Baca Juga: Cara Aman Hindari Cidera Saat Mengangkat Barang Bawaan

6. Periksa bagian terluka
Jika sakit akibat terjepit berpusat pada telapak tangan dan persendian juga terluka, Anda secepatnya harus mencari perawatan medis. Namun, bila yang terkena hanya jari tepatnya di ujung jari, dokter hanya akan menyuruh Anda mengistirahatkan tangan dan menunggu pulih dengan sendirinya.

7. Pastikan bantalan kuku tidak cedera
Bila saat terjepit terkena bantalan kuku, biasanya kuku akan berubah warna menjadi agak gelap, ini karena darah yang membeku di bawah bantalan kuku. Pergilah ke dokter untuk mendapatkan saran terbaik untuk masalah ini. Bila hanya sedikit, luka akan sembuh sendiri, tetapi bila darah yang terhambat cukup banyak jumlahnya dan Anda merasa sakit, dokter akan membantu Anda untuk mengeluarkan darah yang tersumbat tersebut. Untuk mengeluarkan darah ini, jari akan di tusuk dan darah tersebut akan keluar dari bekas tusukan sehingga mengurangi rasa sakit Anda.

Kolaborasi dengan Pemprov, PT KAI Akan Reaktivasi Empat Jalur Kereta di Jawa Barat

Baru-baru ini, PT KAI berencana untuk memfokuskan kembali rencana aktivasi empat jalur kereta yang berada di Jawa Barat. Tidak bergerak sendiri, PT KAI akan berkolaborasi dengan pemerintah setempat – dalam hal ini adalah Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil. Adapun empat jalur yang rencananya akan ‘dihidupkan’ kembali tersebar di daerah Pangandaran, Garut, Kabupaten Bandung, dan Sumedang.

Baca Juga: Gelontorkan Rp2 Triliun, PT KAI Pesan 438 Kereta dari PT INKA

Dilansir KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, Edi Sukmoro selaku Direktur Utama PT KAI merinci keempat jalur tersebut. “Kami rencanakan reaktivasi empat jalur di Rancaekek – Tanjung Sari, Garut, Pangandaran, dan Ciwidey,” ujar Edi, dikutip dari laman bisnis.com (12/9/2018). “Dari empat ini, kami evaluasi mana yang paling mungkin dilakukan secepatnya. Dari empat itu jalur mana yang lebih akomodatif membantu masyarakat, hasil bumi,” tandasnya.

Dalam kesempatan terpisah, Kepala Dinas Perhubungan Jawa Barat Dedi Taufik mengatakan, “reaktivasi jalur ini akan mencakup rute Banjar-Cijulang-Pangandaran-Parigi, Garut-Cikajang, Cikudapateuh Bandung-Banjaran-Ciwidey, dan Rancaekek-Tanjungsari,”

Sebagai salah satu gambaran tugas yang akan dilakukan oleh PT KAI dalam reaktivasi empat jalur ini adalah penertiban lahan dan persiapan operasional. Dari segi kemudahan penertiban lahan, lanjut Edi, jalur Pangandaran dan Garut adalah yang paling cepat dieksekusi. Sedangkan dua sisanya tergolong susah karena kebanyakan jalur di daerah tersebut sudah beralih fungsi. “Saya pikir semuanya harus cepat, karena keempat jalur ini dibutuhkan,” terang Edi.

Program ini disebut bergantung pada anggaran di Direktorat Jenderal (Ditjen) Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Jika para pihak terkait serius menggarap proyek ini, Dedi optimistis pada 2019 anggaran bisa disiapkan oleh pemerintah pusat. “Sekarang tinggal pelaksanaan ada di Kemenhub dan PT KAI,” ucap Dedi.

Untuk jalur Cikudapateuh Bandung-Banjaran-Ciwidey, dan Rancaekek-Tanjungsari, Kang Emil – sapaan Ridwan Kamil akan mencari solusi bagi warga yang akan direlokasi dari lahan PT KAI. “Salah satu opsinya adalah membangun rumah susun,” ujar Kang Emil.

Baca Juga: Siap-Siap! PT KAI Akan Jual Tiket Sleepers Train 10 Juni Mendatang

Sementara itu, Pemprov Jabar disebut telah mengusulkan kepada Kemenhub agar nantinya jumlah stasiun pemberhentian di jalur reaktivasi disesuaikan dengan kondisi wilayah. Misalnya, jika jalur tersebut melewati titik wisata, maka dimungkinkan untuk dibuat stasiun tambahan.

“Saya ingin mengembalikan budaya naik kereta. Saya ingin Jawa Barat seperti Eropa, masyarakat kemana-mana bisa naik kereta karena nyaman dan terintegrasi.” Ujar Kang Emil dalam sebuah pernyataan tertulis.

Mercedes-Benz Urbanetic, Solusi Berkendara Multifungsi dari Masa Depan

Raksasa otomotif asal Negeri Bavaria, Mercedes-Benz baru saja merilis sebuah kendaraan masa depan yang memiliki beragam fungsi – dimana mereka mengandalkan chassis sebagai inti dari keseluruhan pengoperasian kendaraan otonom ini. Dapat mengangkut orang dan barang dengan menggunakan dua body yang berbeda, pihak Mercedes-Benz berani menjamin bahwa hadirnya moda bernama Urbanetic ini mampu mengubah skema transportasi di masa yang akan datang.

Baca Juga: Canggih, Mercedes Benz Marco Polo Campervan Dilengkapi Voice Recognition!

Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman cnet.com (10/9/2018), moda listrik bertenaga baterai ini memiliki pusat operasi pada bagian chassisnya. Dapat dilihat di sini bahwa Mercedes-Benz berusaha membuat satu terobosan dimana mereka menciptakan satu inovasi yang membuat kendaraan roda empat ini lebih beragam dalam sisi penggunaannya.

“Lebih efisien, nyaman, berkelanjutan, dan tentu saja lebih luas,” ujar pihak Mercedes-Benz dalam sebuah keterangan tertulis. Ketika menggunakan versi kargo, Urbanetic mampu menyediakan load space hingga 12 kaki dan mampu mengangkut total volume hingga 353 kaki kubik. Dengan kapasitas angkut yang sangat besar, bukan tidak mungkin jika Urbanetic ini menjadi pilihan para perusahaan yang bergerak di bidang delivery service, dimana mereka bisa menyusutkan jumlah armada namun tetap bisa mengangkut jumlah kargo yang sama.

Sumber: istimewa

Itu dari segi kargo, sedangkan dari segi kendaraan penumpang, Urbanetic mampu mengangkut penumpang hingga 12 orang sekaligus dalam sekali perjalanannya – jauh melebihi kapasitas mobil konvensional yang kebanyakan mampu mengangkut 8 penumpang dalam sekali perjalanannya. Jika ditimbang-timbang, Mercedes-Benz Urbanetic versi kendaraan penumpang ini nampaknya cocok untuk digunakan sebagai moda pengumpan (feeder) di bandara atau di kampus-kampus yang memiliki luas lahan berlebih.

Ditinjau dari segi penggunaan sumber tenaganya, maka sudah dapat dipastikan bahwa Mercedes-Benz Urbanetic termasuk ke dalam golongan kendaraan yang ramah lingkungan. Belum lagi teknologi lain yang disematkan membuat moda ini bisa berjalan tanpa kemudi (otonom), dimana hal ini semakin meningkatkan value dari Mercedes-Benz Urbanetic.

Baca Juga: Inilah Citaro, Primadona Bus Listrik Besotan Mercedes Benz

Adapun tujuan utama dari pembuatan moda otonom bertenaga listrik ini adalah Mercedes-Benz yang berusaha menghadirkan opsi berkendara selama 24 jam/7 hari tanpa harus menambah kemacetan dijalanan – dan juga ramah ingkungan. Selain itu, hadirnya Mercedes-Benz Urbanetic juga akan memangkas waktu tunggu para calon konsumen yang dihabiskan untuk menunggu para pengemudi.

Pada artikel terpisah, pihak Mercedes-Benz mengatakan hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja untuk mengganti fungsi kargo menjadi angkutan penumpang. Sangat inovatif ya!

Terkendala Soal Kampung Bandan, Akankah Proyek Fase II MRT Jakarta Terhambat?

Fase I Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta kini sudah mulai memasuki tahap uji cobanya dan akan mulai mengular di Ibukota Maret 2019 mendatang. Tapi apa kabar dengan fase II yang akan dibangun dari Bundaran HI menuju ke Kampung Bandan?

Baca juga: Mulai 5 September 2018, PT MRT Jakarta Kembali Lanjutkan Pekerjaan di Koridor Jalan Sudirman

Target ground breaking fase II ditargetkan akan mulai pada akhir tahun 2018 ini dengan penyelesaian loan agreement atau pinjaman luar negeri pada Juli 2018 kemarin. Perjanjian kerja sama ini termasuk penggunaan lahan Kampung Bandan antara PT MRT Jakarta dan PT KAI selaku pemilik lahan di Kampung Bandan.

Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, bahwa perjanjian kerja sama PT MRT dan PT KAI sebagai pemilik lahan Kampung Bandan yang akan digunakan sebagai Depo MRT hingga saat ini masih dalam pembahasan. Loan agreement senilai Rp25 triliun yang didapat dari Japan International Coorporation Agency juga sama.

“Kami harap perjanjian kerja sama penggunaan lahan atau pencairan segera selesai agar pembangunan bisa dilaksanakan sesuai target akhir tahun ini,” ujar Wakil Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Sigit Widjiatmoko.

Bahkan dengan belum adanya kepastian penggunaan lahan Kampung Bandan tersebut untuk dijadikan Depo membuat berbagai pihak terkejut. Menurut Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Muhammad Taufik, sebelum adanya perjanjian kerja sama penggunaan lahan itu belum pasti.

Padahal proses pengajuan dana untuk pembangunan fase II yang dilakukan sejak tahun lalu sudah disetujui DPRD DKI. “Dalam usulan pengajuan dana fase II tahun lalukan sudah dicantumkan rencana pembangunan berikut dengan tahapan nya. Kok, sampai sekarang belum ada kepastian lahan. Saya berharap pinjaman tidak dicairkan sebelum adanya rencana pembangunan yang matang.”

Taufik menambahkan, fase II harus bisa berlanjut sebelum fase I beroperasi di Maret 2019 mendatang. Dia mengatakan, hal ini agar membuat masyarakat antusias saaat menggunakan transportasi umum dan tidak terkendala pembangunannya dari target.

Sebelumnya atau pada Maret 2018 lalu, Sekretaris Perusahaan PT MRT Hikmatullah menuturkan, penggunaan lahan PT KAI di Kampung Bandan akan dibahas soal substansi dalam perjanjian kerjasama. Menurutnya, kesepakatan PT MRT dengan PT KAI baru hanya kesepakatan akan ada memorandum of understanding (MoU).

“Dalam waktu dekat akan dibahas substansi dari MoU itu. Kerja samanya menggunakan businees to businees ,” kata Hikmat.

Terkait tahapan pengerjaan, Hikmat menjelaskan, tahapan pengerjaan MRT fase II masih menunggu konsultan. Output dari konsultan berupa dokumen basis engineering design itu yang nanti digunakan untuk pengadaan kontraktor pengerjaan konstruksi fase II.

“Jadi, tahapan pengerjaan baru akan diketahui dari output yang dikerjakan konsultan,” ungkapnya.

Baca juga: MRT Jakarta Fokus Testing and Commissioning, Ini Bedanya dengan Trial Run!

Anggota Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Bidang Perkeretaapian, Aditya Dwi laksana menilai, rencana pembangunan MRT fase II, khususnya depo Kampung Bandan di atas lahan milik PT Kereta Api Indonesia (KAI) belum matang. Apalagi sebelumnya DKI memiliki rencana membangun depo di kawasan Ancol. Meskipun PT KAI mempersilahkan lahannya digunakan untuk depo kerjasama businees to businees antara PT KAI dengan MRT belum ada perjanjian yang pasti.

“MRT harus kerja sama dengan perjanjian matang, baik dengan PT KAI ataupun pihak lainnya agar estimasi yang disetujui sudah sesuai dengan rencana yang matang. Jangan sampai PT KAI atau pihak lainnya minta tambahan di dalam perjalanannya,” katanya.

Pertengahan 2019 Penumpang Kelas Bisnis Garuda Indonesia Bisa Lanjutkan Perjalanan via Helikopter

Kabar baik bagi Anda para konsumen setia Garuda Indonesia! Pasalnya, maskapai plat merah ini baru saja menandatangani kerja sama dengan Whitesky Aviation yang diketahui sebagai penyedia jasa helikopter. Melalui perjanjian kerja sama yang ditandatangan Senin (10/9/2018) kemarin, nantinya para penumpang Garuda Indonesia bisa menikmati layanan helikopter sebagai transportasi penghubung dari atau ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta ke semua destinasi – baik di dalam maupun luar kota Jakarta.

Baca Juga: Sekilas Mirip Layanan LCC, Garuda Indonesia Rilis Subclass Eco-Basic

Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, Direktur Utama Garuda Indonesia Pahala N. Mansury mengatakan kerja sama ini merupakan upaya yang ditempuh sang Flag Carrier guna meningkatkan pelayanan kepada para penumpangnya.

“Kolaborasi ini merupakan salah satu upaya kami untuk memberikan kemudahan dan kenyamanan, sekaligus menambah alternatif transportasi udara bagi penumpang Garuda Indonesia yang mempunyai tujuan ke berbagai destinasi di sekitar kota Jakarta menggunakan jasa helikopter,” tutur Pahala, dikutip dari laman republika.co.id (11/9/2018).

Selain Whitesky Aviation, Garuda juga menggaet Helicity guna kepentingan yang sama. “Keduanya tengah mempersiapkan diri untuk memberikan pelayanan jasa helikopter, sehingga penumpang Garuda, dikhususkan untuk kelas bisnis bisa langsung terbang dengan helikoper Whitesky dari Bandara Soekarno-Hatta ke titik lain di Jakarta,” tandasnya.

Di sisi lain, Direktur Utama Whitesky Aviation, Denon Prawiraatmaja menambahkan bahwa kerja sama yang dijalinnya dengan pihak Garuda ini akan menambah ‘jam terbang’ dari helikopter itu sendiri. “Semula 40 penerbangan per-bulan akan meningkat jadi 100 penerbangan per-bulan,” ujar Denon. “Jumlah penumpang kelas bisnis Garuda ada 6.000 orang per minggu dikali sebulan 24 ribu,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Denon mengatakan bahwa hingga saat ini , destinasi favorit para pengguna helikopter masih di seputaran Jakarta, Bogor, dan Bandung. Dengan menggunakan helikopter, para penumpang dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit untuk sampai di Jakarta, 15 menit untuk sampai di Bogor, dan 45-50 menit untuk sampai di Bandung.

“Rata-rata untuk keperluan bisnis. Sekarang business trip helipad kita punya di De Plaza, Shangrila, Fairmont dan Senayan. Ada 23 titik yang kerja sama tapi titik yang bisa dimungkinkan untuk take off-landing ada 170 Jakarta dan sekitarnya,” terang Denon.

Baca Juga: Pengamat: Pilot TNI AU Butuh Waktu Transisi Untuk Menerbangkan Pesawat Garuda Indonesia

Untuk masalah biaya, Denon mengatakan Whitesky akan menerapkan sistem charter dengan range harga enam hingga delapan juta. “Jadi semisal muatannya penuh (empat penumpang) atau sepi sekalipun, tarifnya akan tetap enam hingga delapan juta,” jelasnya. Pun dengan masalah pembayaran, hingga saat ini, jalur pembayarannya masih terpisah antara Garuda Indonesia dan Whitesky.

Namun, Anda harus sedikit bersabar karena layanan ini baru akan dibuka pada pertengahan tahun depan. “Estimasinya helipad Cengkareng akan rampung pada Juni 2019.” Tutup Denon.