Buat Kekacauan Selama Penerbangan, Model Kulit Hitam ini Siap Huni Hotel Prodeo!

Seorang model kulit hitam yang tinggal di Melbourne, Australia harus menerima sanksi akibat keonaran yang sudah ia perbuat selama mengudara. Adalah Adau Mornyang (25 tahun), model kelahiran Sudan ini dituduh telah melontarkan kata-kata kasar dan kotor, serta melakukan sejumlah kontak fisik dengan awak kabin dari United Airlines. Kekacauan yang terjadi pada tanggal 21 Januari lalu ini disinyalir terjadi karena Adau terlalu banyak menenggak minuman beralkohol.

Baca Juga: Inilah Beberapa Tipe Penumpang Pesawat, Anda Masuk Kategori Yang Mana?

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman mirror.co.uk (28/6), dalam rekaman audio yang baru dirilis pihak terkait kepada publik, terdengar beberapa kali Adau melontarkan kata-kata yang tidak semestinya. Tidak hanya kepada awak kabin saja Adau melakukan hal tidak terpuji ini, pun kepada penumpang lain yang berada di sekelilingnya.

Di beberapa kesempatan, Adau terus mempertanyakan bahwa bagaimana caranya ia dapat mengganggu penumpang lain, sebelum akhirnya menuduh awak kabin melontarkan isu rasisme.

“Saat ini saya mengganggu orang lain karena Anda (sensor) saya, dasar Anda binatang jalang!” bentak Adau di dalam rekaman audio tersebut.

“Saya seorang wanita berkulit hitam yang sedang tdak stabil, dan perlu dikendalikan,” tambahnya di ujung makiannya.

Tak lama berselang setelah melontarkan kalimat tersebut, Adau langsung melemparkan kaus kaki kepada salah satu penumpang yang berada di dekatnya.

Di pengadilan, Adau dituduhkan berperilaku tidak menentu oleh salah seorang penumpang pada penerbangan yang sama. Selama perjalanan 8,5 jam menuju Los Angeles, Adau hampir sama sekali tidak bisa tenang – dimana hal ini juga dibarengi dengan cacian, umpatan kata kasar dan kotor, hingga kontak fisik.

Kontak fisik ini dilakukan Adau terhadap salah seorang awak kabin yang bernama Romeo Gutierrez ketika mencoba untuk menenangkannya.

Baca Juga: Gegara Tunggu Penumpang Belanja, Pesawat ini Harus Tertunda Penerbangannya

Sikapnya yang tidak bisa tenang memaksa petugas untuk memisahkan dirinya dari penumpang lain dan diborgol selama sisa perjalanan. Sekira dua jam menjelang pendaratan di Los Angeles, Adau sempat meminta izin untuk ke toilet, namun dirinya enggan keluar selama hampir 45 menit. Tindakan ini kembali memaksa petugas untuk menggendongnya keluar.

Pada bulan Maret silam, Adau mengatakan kepada publik bahwa dalam penerbangannya tersebut, ia berada dalam kondisi normal tanpa pengaruh alkohol, zat adiktif, atau obat tidur apapun. Setelah serangkaian proses pengadilan, Adau akan menerima putusan terhadap masa depannya pada bulan Juli ini.

Thailand Canangkan Kereta Peluru Trans-ASEAN, Hubungkan Cina, Laos, Malaysia dan Singapura

Kereta peluru Trans-ASEAN yang akan menghubungkan Cina, Laos hingga ke Singapura baru saja dicanangkan oleh Thailand. Negara Gajah Putih ini akan memulai jalur kereta peluru tersebut dari Stasiun Bang Sue di Bangkok menuju titik akhir di Stasiun Beijing, Cina.

Baca juga: Jelang Olimpiade Musim Panas, WiFi Gratis Siap Hadir di Kereta Peluru Shinkansen

KabarPenumpang.com melansir todayonline.com (8/7/2019), Bang Sue sendiri adalah distrik yang kurang terkenal dibandingkan dengan Chatuchak.

(TODAYonline)

“Orang Thailand akan dapat naik kereta api berkecepatan tinggi ke ibu kota Cina dan Singapura dari stasiun kereta api di Bang Sue di masa depan,” ujar Wakil Menteri Transportasi Pailin Chuchottaworn.

Kereta peluru ini  direncanakan karena Thailand akan dijadikan sebagai pusat logistik ASEAN. Sehingga para pejabat sepakat bahwa kereta api berkecepatan tinggi akan menjadi jantung dari sistem infrastruktur baru yang sangat dibutuhkan Thailand. Ditambah selama ini, Thailand punya hubungan bilateral dan indsustri yang kuat dengan Cina.

Nantinya kereta peluru ini akan menjadi yang pertama di Thailand dan merupakan jaringan transportasi modern yang mengular sepanjang 3.193 km dengan biaya pembangunan sekitar 2,07 triliun Bath atau sekitar $91,4 miliar dollar Singapura.

“Rute kereta api akan menghubungkan Bang Sue dengan Chiang Mai di Utara, Laos di Timur Laut, Kamboja di Timur dan Malaysia di Selatan. Tetapi rencana ini tidak hanya di atas kertas. Pemerintah telah memulai pembangunan beberapa rute dan akan “terus memanggil tawaran” untuk proyek tersebut,” kata Pailin.

Dia menambahkan, rute-rute ini akan membuat transportasi menjadi lebih nyaman dan diharapkan bisa mendorong perekonomian nasional dalam jangka panjang. Rute pertama yang akan dibangun adalah dari Thailand-Sino dimana menghubungkan Bangkok dan Nong Khai di ujung Timur Laut Cina dan dijadwalkan selesai pada 2023.

Jalur ini akan sepanjang 608 km dan berfungsi sebagai transportasi utama ke Laos yang ada di sebelah Nong Khai. Dari garis perbatasan, rute kereta api lain akan membawa penumpang ke ibu kota Laos, Vientiane, dan babak terakhir akan membawa para pelancong ke Mohan, sebuah kota perbatasan di provinsi selatan Cina.

Jalur sepanjang 414 km antara Vientiane dan Mohan kini telah selesai 55 persen, menurut seorang pejabat Laos yang meminta untuk tidak disebutkan namanya. Pemerintah Laos juga sedang dalam proses membangun bagian rel lain yang menghubungkan ibu kotanya dengan Nong Khai.

“Ini adalah proyek untuk mengubah kami dari negara yang terhubung dengan daratan (Laos tidak mempunyai garis pantai-red). Saat ini, orang harus menghabiskan dua hari perjalanan dari Vientiane ke Mohan, tetapi dengan kereta api berkecepatan tinggi, para pelancong akan hanya membutuhkan tiga jam,” kata pejabat tersebut.

Seperti Thailand, Laos bermaksud menggunakan rute internasional ini untuk membantu meningkatkan ekonominya. Pejabat itu berharap garis ini akan menarik antara 10 dan 20 juta turis Tiongkok ke negara itu setiap tahun. Jalur ini juga akan menguntungkan Thailand secara ekonomi karena pihak berwenang Thailand berencana untuk menghubungkan Nong Khai dengan Koridor Ekonomi Timur (EEC), proyek negara yang banyak disebut-sebut untuk menjadikan Timur sebagai pusat industri untuk produksi modern dan cerdas.

Bang Sue nantinya akan menjadi pintu gerbang dalam pembangunan proyek kereta cepat ini. Stasiun Bang Sue akan dibangun menjadi sebuah “stasiun besar”, yang diharapkan menjadi yang terbesar di seluruh negara ASEAN.

Baca juga: Mulai Mengular 2021, Kereta Cepat Jakarta-Bandung Gunakan Kereta Generasi Baru CR400AF

Stasiun empat lantai akan mencakup area seluas 300 ribu meter persegi dan direncanakan akan dikelilingi oleh area komersial. Stasiun ini juga akan terhubung dengan Jalur Biru kota, Jalur Kereta Api Bandara, dan rute kereta api ke provinsi di pedalaman Thailand.

 

Ditemukan Keretakan Pada Sayap, Airbus A380 Harus ‘Keliling Dunia’ untuk Reparasi

Manufaktur pesawat kenamaan asal Eropa, Airbus dikabarkan akan melakukan pengecekan secara menyeluruh terhadap varian A380 dari sejumlah maskapai. Pengecekan ini merupakan tindak lanjut dari laporan pihak maskapai yang menyebutkan bahwa terdapat sejumlah titik yang mengalami keretakan pada bagian sayap. Dikhawatirkan, bagian yang retak ini akan mengganggu pengoperasian pesawat.

Baca Juga: Sukhoi KR-860, ‘Kembaran’ Airbus A380 yang Tak Pernah Mengudara

Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa mengatakan bahwa titik yang mengalami retak tersebut dapat mengurangi integritas struktural sayap jika tidak lekas diperbaiki. Kendati terdengar menyeramkan, namun Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa mengatakan bahwa unit pesawat yang mengalami keretakan tidak perlu melakukan grounded massal (seperti Boeing 737 MAX), melainkan harus segera diperbaiki yang dibarengi dengan pemeriksaan terjadwal.

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman bloomberg.com (10/7/2019), pengecekan awal ini dimulai dengan memeriksa 25 unit pesawat yang dioperasikan oleh Emirates, Qantas, dan Singapore Airlines. Jika menilik kejadian yang terjadi tujuh tahun lalu, Airbus menghabiskan jutaan dollar untuk proses perbaikan dan perawatan satu unit pesawat penumpang terbesar di dunia yang mengalami permasalahan yang serupa – retak pada bagian sayap.

Menurut salah seorang juru bicara Airbus, retakan ditemukan pada bagian spar sayap belakang, namun pihaknya menyebutkan bahwa retakan tersebut tidak akan mengganggu pengoperasian pesawat secara menyeluruh.

“Keamanan armada terkait tidak terpengaruh (akibat adanya retak),” tuturnya.

Qantas Airways yang memiliki 12 unit varian A380 mengatakan bahwa retak pada bagian sayap ini ditemukan di enam unit armadanya, dan dua diantaranya telah selesai diperbaiki. Sementara untuk Singapore Airlines, maskapai asal Singapura ini menyatakan bahwa empat dari 19 unit A380 yang dimilikinya harus diperiksa lebih mendalam oleh pihak Airbus.

Baca Juga: Dinilai Kurang Efisien, Akankah Airbus A380 Berjaya 20 Tahun Mendatang?

Untuk memeriksa keretakan ini, pihak maskapai harus menggunakan metode pengujian ultrasonik, dan semisal pihak maskapai menemukan ada bagian yang retak, maka Airbus menghimbau agar pihak maskapai terlebih dahulu melakukan perbaikan sebelum melanjutkan pengoperasian dari pesawat terkait.

Selain tiga nama maskapai di atas, A380 yang dioperasikan oleh Lufthansa, Air France, dan maskapai charter Hi Fly juga masuk ke dalam daftar pesawat yang perlu diperiksa secara mendalam.

Boeing 747SP, Varian “Queen of the Skies” yang Hanya Bertahan Seumur Jagung

Terkenal sebagai Queen of the Skies, Boeing 747 menjadi salah satu pesawat yang paling mudah untuk dikenali dari bagian depannya yang lebih menonjol ketimbang bagian belakangnya. Saking besarnya pesawat ini, pilot bahkan sampai-sampai tidak bisa melihat tanah di bawah dari kokpit. Namun stigma raksasa dari pesawat ini tidak akan Anda temui dari varian Boeing 747SP. Mungkin beberapa dari Anda belum mengetahui salah satu dari varian 747 ini, berikut penjelasannya!

Baca Juga: Inilah Fakta di Balik Berhentinya Produksi Boeing 747-8 Intercontinental

Boeing 747SP (yang merupakan singkatan dari Special Performance) merupakan pesawat yang ditujukan untuk melakoni penerbangan jarak jauh, dimana secara keseluruhan, pesawat jenis ini hampir sama persis dengan saudara kandungnya, Boeing 747-100 – hanya saja panjang pesawat yang lebih pendek, ukuran tailplane yang lebih besar, dan flap tepi yang terlihat lebih sederhana.

Jujur saja, pesawat ini terlihat lucu karena bentuknya yang terlihat sangat ‘gempal’, tapi jangan sepelekan performanya. Kendati bentuk fuselage dari Boeing 747SP ini lebih pendek dari varian lainnya (secara otomatis daya angkutnya juga akan lebih sedikit), namun ini merupakan keuntungan bagi si pesawat itu sendiri karena jarak tempuhnya akan jadi lebih jauh dan kecepatan yang relatif dapat ditingkatkan.

Sebagaimana yang dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Boeing 747SP ini sendiri memiliki kapasitas hingga 276 penumpang dengan jarak tempuh maksimal hingga 10.800 km. Penerbangan perdana dari pesawat ini dilakukan pada 4 Juli 1975, dan pertama kali diperkenalkan ke publik pada tahun 1976 dengan menggunakan livery maskapai asal Amerika, Pan Am.

Hadirnya Boeing 747SP ini di jagad aviasi global tidak lepas dari peran Pan Am dan Iran Air yang pada tahun 1973 meminta Boeing untuk bisa menghadirkan moda yang mampu mengoperasikan rute penerbangan jarak jauh dengan daya angkut yang cukup banyak kala itu. Pan Am rencananya akan mengoeprasikan penerbangan dengan rute New York – Timur Tengah, sedangkan Iran Air kala itu berencana untuk mengoperasikan rute Teheran – New York.

Baca Juga: Sepi Pesanan, Boeing 747 Beralih dari “Queen of the Skies” Jadi “Flying Truck”

Namun selayaknya pesawat lain yang mulai tergerus perkembangan teknologi, Boeing 747SP pun mau tidak mau harus merelakan tergusur oleh varian lain karena masalah bahan bakar. Ya, ukuran pesawat yang pada masanya tergolong cukup besar membuat pihak maskapai harus merogoh kocek yang lebih dalam untuk mengoperasikan Boeing 747SP. Hadirnya pesawat lain dengan efisiensi bahan bakar yang lebih baik pada akhirnya membuat maskapai pengguna varian ini perlahan meninggalkan ‘si kekar’.

Pihak Boeing pun pada akhirnya tidak memenuhi ekspektasi produk yang kala itu berada di angka 200 unit, dan hanya mampu menjual 45 unit saja.

 

Dongkrak Kunjungan Wisata, Perajut di Walhalla Buat ‘Kostum’ untuk Lokomotif Tua

Demi menghidupkan sebuah lokomotif tua, sekelompok perajut asal Gippsland bersatu untuk membuat rajutan yang diharapkan bisa mengumpulkan Aus$230 ribu atau Rp3,2 miliar. Rajutan ini nantinya akan dipasangkan sebagai ‘kostum’ pada lokomotif tua tersebut seperti memakaikan baju.

Baca juga: “1940s Weekend Railway at War,” Cara Edukasi dan Nostalgia Sejarah Kereta ala Britania Raya

Rajutan ini sendiri diperkirakan sepanjang dua kilometer untuk menutupi satu lokomotif vintage di Walhalla di Timur Victoria, Australia. Dilansir KabarPenumpang.com dari abc.net.au (2/7/2019), Lokomotif yang sudah dipasangkan kain rajutan itu diresmikan pada hari Sabtu (6/7/2019) kemarin.

(Railpage)

Kehadiran rajutan diatas lokomotif vintage ini akan berlangsung di kota bersejarah penambangan emas tersebut selama bulan Juli ini. Para perajut berharap agar pelancong yang mengunjungi kota mereka dan berfoto di depan lokomotif membagikan foto mereka ke media sosial untuk meningkatkan kesadaran dan agar terkumpul dana yang diharapkan sehingga lokomotif tua itu bisa kembali beroperasi.

Walhalla sendiri berada di ngarai pegunungan terpencil di Gippsland tengah dan dulunya sangat sibuk dengan pertambangan emas. Tetapi para penambang sudah menghilang dan pariwisata menjadi jalur kehidupan baru Walhalla, sehingga penduduk berbondong-bondong meningkatkan jumlah pengunjung dengan menghadirkan lokomotif tambahan ke Walhalla Goldfields Railway.

Kereta Api Queensland, Lokomotif DH 37

“Kami pada akhirnya berharap untuk memperluas jalur kereta api ke Erica (kota tetangga). Untuk melakukan itu kita membutuhkan lebih banyak lokomotif dan lebih banyak kereta api. Saat ini lokomotif terbesar kami yang beroperasi hanya dapat menarik empat gerbong,” ujar Graeme Skinner seorang masinis.

Untuk saat ini kereta api Walhalla Goldfields mengangkut sekitar 30 ribu penumpang per tahun dengan adanya peningkatan jumlah wisatawan. “Orang-orang hanya menyukai kenyataan bahwa kita begitu terisolasi dan ini adalah perjalanan yang indah ke ngarai,” kata Skinner.

Sembilan tahun yang lalu, Goldfields Railway membeli lokomotif hidrolik diesel 1969 yang lebih kuat dan andal dari Queensland. Tetapi untuk menghidupkan mesin dari lokomotif dengan ukuran 3,6 kaki ini perlu di konversi menjadi 2,6 kaki ukuran Victoria dan bisa menghabiskan dana sekitar $230 ribu.

Karena hal ini, maka para perajut di seluruh kota tersebut bersatu untuk membuat sesuatu yang bisa menarik pelancong untuk mampir atau singgah di kota mereka. Tim tersebut menyerukan media sosial untuk kelompok-kelompok rajutan di seluruh Australia untuk menyumbangkan rajutan berbentu kotak dengan ukuran 12 x 12 inchi yang dapat dijahit kembali untuk disatukan membuat selimut raksasa menutupi lokomotif.

“Idenya adalah untuk membuat orang terlibat … untuk menjahit kotak bersama agar sesuai dengan lokomotif. Ini seperti menempatkan pelompat pada Little Johnny, mengukurnya sehingga semuanya masuk akal,” kata juru bicara Walhalla Goldfields Railway, Lynda George.

Segera setelah peluncuran proyek Winter Woollies, ratusan kotak rajutan dan rajutan baru dan daur ulang datang membanjiri. Perajut dari Melbourne, Warrnambool, Ballarat, Jembatan Murray di New South Wales dan bahkan San Diego di AS menyumbangkan 12 kotak rajutan mereka ke tim Walhalla.

Baca juga: NIS 107, Jejak Lokomotif Tertua di Indonesia Yang Terlupakan

“Saya terlibat sebagai perajut benang karena delapan tahun yang lalu, saya adalah orang yang aktif sebagai guru sekolah dan saya mengalami kecelakaan. Saya menderita cedera otak yang sedang berlangsung akibat hal ini dan saya menarik diri dari dunia. Aku membutuhkan sesuatu yang lebih daripada semua hal soliter yang kulakukan di rumah,” kata koordinator proyek Winter Woollies, Rowena Milbourne. Perajut relawan Mel Beasley melakukan perjalanan dari Tyers untuk menghadiri sesi merajut hari Rabu dan suka merajut topi dan syal untuk para tunawisma.

 

Survei NEC: Mayoritas Calon Penumpang Menyukai Adanya Sistem Pengenalan Wajah di Bandara

Bandara masa kini semakin maju dengan mempermudah dalam proses check in penumpang. Pasalnya sekarang berbagai teknologi yang masuk ke bandara seperti sistem pengenalan wajah (face recognition) untuk mengurangi antrean di jalur keamanan sudah digunakan oleh banyak bandara besar di dunia.

Baca juga: Senyum Anda Tak Dibutuhkan Saat Pemindaian Wajah di Bandara

Sebuah survei yang dilakukan oleh Xenophon Strategies mengungkapkan bahwa sebagian besar atau mayoritas penumpang menggunakan teknologi pengenalan wajah untuk meningkatkan keamanan dan mengurangi waktu terpakai saat mengantri. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman airport-technology.com (2/7/2019), Xenophon melakukan survei atas nama NEC Corporation of America (NEC) yang menyediakan solusi biometrik dan kecerdasan buatan.

Hasil yang didapat setelah men-survei 1955 penumpang, maka didapatkan 75 persen diantaranya akan merangkul atau mengajak penumpang lain menggunakan teknologi pengenalan wajah untuk mengidentifikasi pelancong internasional dan domestik. Sedangkan 87 persen responden mengaku akan menyetujui penggunaan sistem pengenalan wajah untuk mengidentifikasi penjahat dan teroris.

Sebab menurut para responden hal ini juga bisa untuk melindungi sistem perjalanan udara. Apalagi gerbang kemanan dan jalur masuk ke bandara bisa dikatakan sebagai masalah paling parah oleh penumpang.

Selain itu lebih dari 71 persen memilih membayar biaya $10 atau Rp141 ribu demi memotong jalur antrean. Sedangkan sebanyak 22 persen mengatakan, mereka mau mempermalukan diri sendiri seperti bernyanyi di depan petugas demi bisa melalui jalur keamanan lebih cepat dari yang lainnya.

Survei ini juga mengidentifikasi kesadaran dan afinitas yang luas untuk penggunaan pengenalan wajah dalam perjalanan udara. Hasil yang didapatkan adalah sebanyak 84 persen memilih bandara di masa depan yang menggunakan teknologi pengenalan wajah tanpa meminta penumpang untuk berhenti dan menunjukkan dokumen seperti paspor, pengecekan tas dan lainnya.

Hampir 78 persen responden survei menunjukkan bahwa mereka mengetahui teknologi pengenal wajah yang digunakan di bandara untuk pelancong internasional yang masuk dan keluar negeri. Sementara 48 persen mengetahui program biometrik yang dilakukan biasanya oleh maskapai penerbangan.

Baca juga: Menjadi yang Pertama di Australia, Bandara Melbourne Hadirkan eGate dan Smart Security

“Maskapai penerbangan melaporkan bahwa mereka dapat naik jet jumbo dalam waktu kurang lebih sepertiga dengan menggunakan pengenalan wajah di pintu gerbang. Sementara itu, US Customs and Border Protection melaporkan mereka mampu menghentikan lebih dari 100 penipu yang mencoba memasuki negara itu dengan dokumen palsu. Keberhasilan ini tidak akan terjadi, dan tidak akan terus terjadi, tanpa pengenalan wajah,” ujar Presiden Xenophon Strategies David Fuscus.

Ikuti Jepang, Mulai 2020 Perancis Kenakan “Pajak Keberangkatan” untuk Semua Penerbangan

Setelah pada 7 Januari yang lalu Jepang memberlakukan pajak keberangkatan (departure tax) bagi para wisatawan asing yang hendak meninggalkan negara berjuluk Negeri Sakura ini, kini ada Perancis yang berencana untuk menerapkan pajak baru bagi penumpang pesawat yang rencananya mulai efektif diberlakukan pada tahun 2020 mendatang. Pemerintah Perancis mengklaim pemberlakuan pajak ini akan membuat dunia penerbangan mampu berkontribusi dalam menghadapi perubahan iklim.

Baca Juga: Mulai 7 Januari, Jepang Kenakan “Pajak Keberangkatan” untuk Seluruh Penumpang Internasional

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman climatechangenews.com (9//7/2019), berdasarkan rencana tersebut, maka nantinya tiket pesawat akan dikenakan pajak untuk semua penerbangan yang berangkat dari Perancis – kecuali penerbangan menuju Corsica dan menuju wilayah koloni Perancis. Penerbangan transit akan masuk ke dalam daftar pengecualian.

Adapun total bea yang akan dikenakan kepada para penumpang berada di angka €1,50 (US$1,68) atau yang setara dengan Rp23.800 untuk tiket penerbangan kelas ekonomi di Uni Eropa dan €3 atau yang setara dengan Rp47.500 untuk tiket penerbangan kelas ekonomi di luar Uni Eropa. Untuk penerbangan kelas bisnis, masing-masing retribusi yang dikenakan berada di angka €9 (Rp143.000) dan €18 (Rp285.000).

Menanggapi rencana ini, Menteri Transportasi untuk transisi ekologi, Elisabeth Bone mengatakan bahwa pemungutan pajak kepada penumpang pesawat bukanlah hal baru di sektor aviasi global. Pun halnya dengan Swedia dan Belanda yang tengah mempertimbangkan penerapan pajak lingkungan pada tiket penerbangan.

Lebih lanjut, Pemerintah berharap dapat meningkatkan pemasukan negara dari pajak senilai €182 juta (Rp2,9 triliun) yang kelak akan dialokasikan untuk mewujudkan infrastruktur transportasi yang ramah lingkungan – tidak terkecuali jaringan perkeretaapian di Perancis.

Pemerintah memutuskan untuk menerapkan pajak pada tiket penerbangan sebagai tanggapan atas protes yang dilayangkan oleh Yellow Vest (Gilets jaunes) atas naiknya biaya hidup. Yellow Vest Movement atau Gerakan Rompi Kuning sendiri merupakan sebuah gerakan protes yang dimulai dengan unjuk rasa di Perancis pada hari Sabtu, 17 November 2018 dan kemudian menyebar ke negara-negara terdekat (seperti Belgia dan Belanda).

Baca Juga: FlixTrain Mulai Masuki Pasar Kereta Api Perancis

Gerakan ini sendiri dipicu oleh kenaikan harga bahan bakar, tingginya biaya hidup, dan klaim bahwa beban yang tidak proporsional dari reformasi pajak pemerintah akan menimpa para kelas pekerja dan menengah. The Yellow Vest Movement menginginkan perubahan dan pengunduran diri Peresiden Perancis, Emmanuel Macron.

Meski niat pengenaan pajak adalah hal yang positif, namun sedikit banyak akan berdampak pada wisatawan, mengingat akan ada beban biaya tambahan pada elemen tiket penerbangan.

 

 

Gogoro Smartscooter, Skuter Listrik Canggih Berbasis Aplikasi Online

Moda bertenaga listrik yang terkenal ramah lingkungan kini tengah gencar menggempur pasar kendaraan konvensional yang masih menggunakan bahan bakar fosil. Ya, di luar sana sudah banyak perusahaan maupun startup yang mengembangkan moda bertenaga listrik, salah satunya adalah Gogoro, startup yang mulai menggaungkan skuter listrik di Taiwan. Kira-kira, fitur apa saja yang dihadirkan Gogoro pada moda bertenaga listrik yang dilabeli skuter pintar ini, ya? Sebagai informasi, Taiwan merupakan negara yang dikenal sebagai pelopor skuter matic (skutic) di dunia.

Baca Juga: Strator Ride, Otoped Listrik Beroda Besar Siap Masuki Moda Alternatif Perkotaan

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (8/7/2019), skuter listrik ini mengandalkan baterai swappable yang dapat dituker di setiap pos yang akan tersedia di setiap penjuru kota – dimana ini akan memungkinkan para pengguna untuk tetap bisa berkeliling kota dengan menggunakan Gogoro Skuter.

Sebelumnya, Gogoro telah sukses mengembangkan skuter ini di Taiwan hingga booming dan mengekspansi pasar Eropa. Gogoro 1 Smartscooter merupakan moda pertama yang dikembangkan pada tahun 2015yang ditujukan untuk transportasi publik. Sementara moda kembangan yang kedua adalah Gogoro 2 Smartscooter yang dirilis pada tahun 2017 yang lalu, dimana moda ini bisa menembus kecepatan hingga 95 km per jam dan jangkauan maksimal hingga 100 km (apabila dikemudikan dengan kecepatan 40 km per jam konstan).

Sumber: newatlas.com

Namun kini Gogoro kembali menuju root awalnya dan menambahkan pembaruan terhadap moda kembangannya ini. Adapun pembaruan yang dilakukan oleh pihak pengembang adalah dari segi pemesanan moda, dimana pengguna Gogoro Smartscooter ini bisa memesannya via aplikasi online. Melalui aplikasi ini juga, para pengguna pun dapat memantau lokasi dari skuter, lengkap dengan kapasitas baterai yang tersisa di dalamnya.

“GoShare merupakan integrasi dari Gogoro Network, Gogoro Smartscooter, dan GoGo App dalam upayanya untuk menghadirkan layanan first end-to-end mobility sharing platform,” ujar Horace Luke selaku CEO dari Gogoro.

Baca Juga: OjO, Skuter Listrik Hasil Kolaborasi Austin Commuter Scooter

Namun pada akhirnya, layanan ini akan sama seperti platform berbagi mobilitas lainnya – seperti Bird and Lime, dimana para pengguna akan dapat menjumpai setiap pos pengisian listrik dan peminjaman moda ini di berbagai titik di suatu kota.

Adapun tujuan dari hadirnya Gogoro Smartscooter ini tidak hanya sebagai platform penyedia jasa berbagi mobilitas saja, melainkan sebagai solusi yang berkelanjutan untuk problematika mobilitas di perkotaan.

 

 

Mulai 1 Agustus, KCI Terapkan Penggunaan KMT dan Hapus THB di Lima Stasiun

Penumpang CommuterLine atau kereta listrik (KRL) per 1 Agustus 2019 mendatang hanya akan bisa menggunakan Kartu Multi Trip (KMT) atau kartu uang elektronik yang dikeluarkan oleh bank yang sudah bekerja sama dengan PT Kereta Commuter Indonesia (KCI). Tapi tenang dulu, untuk penggunakan KMT atau kartu uang elektronik keluaran bank ini hanya akan ada di lima stasiun.

Baca juga: Pantau Pergerakan Penumpang KRL Jabodetabek, PT KCI Andalkan E-Ticketing Monitoring Center

Dilansir KabarPenumpang.com dari krl.co.id, lima stasiun ini tidak akan melayani pembelian kartu Tiket Harian Berjaminan (THB) sekali jalan. Tetapi meski begitu THB untuk pergi pulang (PP) bisa di gunakan baik untuk tap in atau tap out dan untuk THB biasa hanya untuk tap out di stasiun akhir sesuai relasi yang dipilih.

Lima stasiun kereta tersebut yakni Stasiun Sudirman, Palmerah, Cikini, Universitas Indonesia dan Taman Kota. Pastinya akan banyak pertanyaan kenapa lima stasiun ini saja yang hanya menggunakan KMT? Pasalnya kelima stasiun ini pengguna KMT dan kartu uang elektronik bank rata-rata mencapai 60-90 persen.

Rincian pengguna KMT itu sendiri di Stasiun Sudirman mencapai 90 persen, Stasiun UI, Palmerah dan Cikini mendekati angka 80 persen serta Stasiun Taman Kota mencapai 60 persen. Sehingga PT KCI memberikan dukungan terhadap program pemerintah dan Bank Indonesia untuk mendorong terciptanya cashless society atau masyarakat yang bertransaksi tanpa uang tunai.

Selain itu, program ini sendiri untuk mengoptimalkan layanan di lima stasiun tersebut, agar sesuai dengan karakter penggunanya yang semakin banyak menggunakan KMT. Tak hanya itu KMT saat ini juga bisa didapatkan dengan harga lebih murah yaitu Rp30 ribu dan sudah termasuk saldo Rp10 ribu.

Para pengguna KRL yang memiliki KMT maupun kartu uang elektronik bank (Mandiri E-Money, BNI Tap Cash, BRI Brizzi, dan Flazz BCA) tetap dapat menggunakan kartunya seperti biasa di lima stasiun tersebut tanpa ada perubahan ketentuan apapun.

Bukan hanya tak bisa membeli THB sekali jalan, pengisian ulang relasi, refund jaminan kartu dan tap in tidak akan bisa dilakukan di lima stasiun tersebut. Sehingga penumpang yang akan naik KRL dengan THB bisa melalui stasiun-stasiun terdekat yang letaknya sebelum atau sesudah lima stasiun itu.

“Nantinya pengguna hanya bisa menggunakan KMT, untuk pengguna pengguna THB hanya untuk tap out saja kecuali yang PP,” ujar salah seorang staf PT KCI kepada KabarPenumpang.com, Rabu (10/7/2019).

Selama bulan pertama penerapan kebijakan ini, bila ada pengguna yang kesulitan dapat menghubungi petugas layanan di lima stasiun tersebut untuk kemudian dapat dibantu petugas. Sampai 1 Agustus 2019 nanti, PT KCI terus melakukan sosialisasi baik melalui media sosial resmi Twitter @commuterline, Instagram @commuterline, Facebook Commuter Line, dan juga Call Center (021)121.

Baca juga: Tak Lagi Gunakan Kartu Multi Trip, Penumpang KRL Bisa Reedem dan Dapatkan Uang Sisa Saldo

Selain melalui media digital tersebut, sosialisasi juga dilakukan melalui pemasangan banner dan poster yang dipasang di lima stasiun khusus KMT, informasi yang disampaikan oleh Petugas Pelayanan KRL (PPK) di dalam KRL, petugas announcer di stasiun, serta melalui Passanger Information Display (PID) yang ada di dalam KRL. Sosialisasi dan edukasi terus dilakukan sehingga seluruh pengguna jasa KRL Commuter Line dapat memahami dan mengerti tentang ketentuan yang berlaku.

Solusi Ramah Lingkungan, Mulai 1 Agutus Kargo Garuda Indonesia Gunakan Kemasaan dari Bahan Daur Ulang

Mengedepankan solusi ramah lingkungan adalah harapan setiap maskapai, seperti Garuda Indonesia yang resmi memperkenalkan GIA Box, yaitu produk packaging untuk pengiriman kargo yang ramah lingkungan. GIA Box rencananya akan mulai diluncurkan pada bulan Agustus mendatang dan akan menjadi pengganti styrofoam yang selama ini digunakan sebagai kemasan pengiriman kargo khususnya produk hasil laut.

Baca juga: Numpuk di Gudang, AirAsia Daur Ulang Jaket Keselamatan dan Seragam Awak Kabin

Direktur Kargo & Pengembangan Usaha Garuda Indonesia, Mohammad Iqbal dalam keterangan tertulis (10/7) mengatakan bahwa GIA Box ini tidak hanya sebagai media packaging yang kuat dan terjangkau untuk pengiriman barang, namun juga ramah lingkungan mengingat produk kemasan tersebut sudah memiliki sertifikat FSC (Forest Stewardship Council) yang bahannya berasal dari bahan daur ulang. “Melalui kesempatan ini kami mengajak para pengguna jasa untuk menggunakam GIA Box mulai sekarang dan jadilah bagian dari proses penyelamatan lingkungan.” lanjut Iqbal.

“Selain unggul dari sisi ekonomis, GIA Box ini juga lebih kuat sehingga aman dari kebocoran yang biasanya terjadi pada styrofoam”, papar Iqbal. Iqbal melanjutkan bahwa kedepannya, GIA Box ini akan menggantikan penggunaan styrofoam secara keseluruhan. “Pada tahun 2019 ini kami menargetkan penjualan GIA Box sebanyak 20.000 box dan diharapkan pada tahun 2020 dapat terimplementasi untuk menggantikan seluruh styrofoam sebanyak 250.000 box per tahun, ” tambah Iqbal.

Baca juga: British Airways Canangkan Daur Ulang Limbah Rumah Tangga Untuk Bahan Bakar Pesawat

Sebelumnya, sebagai upaya berkelanjutan Garuda Indonesia dalam mengembangkan komitmen layanan operasional berwawasan lingkungan, Garuda Indonesia juga telah melaksanakan uji coba kendaraan listrik produksi anak bangsa PT Mobil Anak Bangsa dalam mendukung mobilitas operasional karyawan. Bus listrik merupakan smart solution untuk mengurangi polusi yang saat ini kondisinya memprihatinkan khususnya di daerah Jabodatabek karena hanya dengan pengisian batere selama 3 jam, bus listrik tersebut mampu menempuh jarak sejauh lebih kurang 300 kilometer. Serta diharapkan mampu menekan biaya bahan bakar yang dikeluarkan untuk mobil operasional Perusahaan.