Kereta Semi Cepat Kerala, Reduksi Polusi Udara dan Ketergantungan Minyak Impor

Proyek kereta api semi tinggi atau Semi-High Speed Rail Project (SHSR) yang akan menyambungkan distrik paling selatan dan utara di negara bagain Kerala, India, baru saja disetujui oleh pihak pemerintah. SHSR ini akan diperkirakan mulai mengular 2024 mendatang dengan panjang jalur 532 km antara Kasaragod ke Thiruvananthapuram.

Baca juga: Indian Railways Canagkan Pembangunan Koridor Atas Kereta Api di Kerala

Dirangkum KabarPenumpang.com dari laman railway-technology.com (8/8/2019), kereta semi cepat adalah proyek hijau 100 persen dimana akan membantu mengurangi kemacetan dan polusi udara serta meningkatkan keamanan dan mengurangi ketergantungan pada minyak impor. Selain menjadi proyek hijau dalam mengurangi emisi karbon, kereta semi cepat ini juga akan mengurangi waktu tempuh dari Thiruvananthapuram-Kasaragod yang biasanya 12 jam menjadi hanya empat jam perjalanan.

Sedangkan dari Thiruvananthapuram-Kochi hanya memakan waktu 90 menit. Dalam pembangunan proyek ini, Kerala Rail Development Corporation Limited (KRDCL) harus mengakuisisi sekitar 1200 hektar lahan.

Kereta semi cepat ini akan melintas dengan kecepatan maksimum 200 km per jam. Awalnya akan ada sembilan gerbong dan akan ditingkatkan kemudian menjadi 12 gerbong. Direktur Pelaksana KRDCL V Ajith Kumar mengatakan biaya perjalanan diproyeksi menjadi Rs2,75 per km dan akan ada kenaikan tahunan sebesar 7,5 persen.

Jalur kereta ini nantinya akan melewati 11 dari 14 distrik negara bagian dengan berhenti di sepuluh stasiun. Adapaun kesepuluh stasiun tersebut yakni Kollam, Chengannur, Kottayam, Ernakulam, Thrissur, Tirur, Kozhikode, dan Kannur sebelum mencapai Kasaragod.

KRDCL mengharapkan dengan adanya jalur dan kereta semi cepat penumpang per hari sebanyak 67.740 orang dan membawa 1330 pelancong dalam satu perjalanan di jam sibuk. Jumlah rata-rata pengguna per hari adalah 82.266 pada tahun 2028, 116.681 pada tahun 2040 dan 147.120 pada tahun 2051.

Proyek ini akan menghasilkan 50 ribu pekerja dalam pembangunan koridor dan 11 ribu pekerja setelah selesai dan mulai di operasikan untuk masyarakat. Proyek SHSR sendiri membutuhkan biaya US$9,3 miliar atau Rs660,79 miliar.

Nantinya dalam pembangunan tersebut pemerintas pusat dan negara bagian masing-masing akan menumbang Rs77,2 miliar atau (US$1,08 miliar). Setengah biaya lainnya akan diperoleh melalui pinjaman yakni sebesar Rs334,54 miliar atau (US$4,8 miliar).

Baca juga: Halau Gajah dari Lintasan Rel, Indian Railways Gunakan Suara Dengungan Lebah

Pembebasan lahan dan hal-hal terkait lainnya akan membebani pemerintah negara bagian sekitar Rs86,56 miliar ($1,2milyar). Serikat pekerja dan pemerintah negara bagian akan memenuhi sisa pengeluaran melalui pinjaman yang berbeda.

Revolusi KAI Jaman Jonan, Ampuh ‘Sapu’ Penumpang yang Kerap Tidur di Lantai dan Bordes

Menghabiskan waktu ketika perjalanan dengan menggunakan kereta api jarak jauh memang dapat dilakukan dengan berbagai cara – mulai dari mendengarkan musik, menonton film, bermain game, hingga tidur. Seiring revolusi yang terus terjadi di tubuh Badan Usaha Milik Negara ini, perlahan demi perlahan kenyamanan penumpang semakin terjamin. Ketika kenyamanan sudah terjamin, maka saatnya ucapkan selamat tinggal pada kebiasaan lama yang kerap mengganggu kenyamanan penumpang lain!

Baca Juga: Tidak Lagi Gunakan Toilet “Bolong,” PT KAI Ganti Dengan Septic Tank

Mungkin Anda masih ingat dengan kondisi perkeretaapian Indonesia pada era 90-an hingga 2000-an, dimana peraturan di dalamnya masih tergolong sangat longgar – tidur di bordes atau di lorong gerbong merupakan suatu pemandangan yang lumrah adanya kala itu. Belum lagi penumpang yang tidur selonjoran di bangku bak tidur di kasur, sangat tidak elok dilihat dan mengganggu penumpang lain.

Sang Pencetus Revolusi PT KAI
Revolusi kereta api ini mulai terjadi ketika Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral yang dulu sempat menjabat sebagai Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (PT KAI), Ignasius Jonan merombak semua struktur sistem yang ada di tubuh PT KAI.

Penumpang yang tidur di bordes. Sumber: istimewa

Dilantik pada 25 Februari 2009, tiga bulan pertama Menteri Jonan memperhatikan dan mempelajari keseluruhan sistem yang ada di kereta api. Di bawah tangan dinginnya, Menteri Jonan berhasil menciptakan suasana kereta api yang menjadi sangat baik seperti yang dapat Anda rasakan saat ini. Tentu saja proses revolusi ini berjalan secara bertahap, tidak serta merta semuanya langsung berubah.

Revolusi ke Arah yang Lebih Baik
Tidak ada lagi penumpang yang tidur di bordes atau selonjoran di lorong gerbong. Munculnya gerbong-gerbong anyar yang dilengkapi dengan hand rest seolah menjadi pertanda bahwa penumpang sudah dilarang lagi untuk tidur selonjoran di bangku. Sekarang penumpang sudah bisa dengan tenang tidur di bangkunya masing-masing – yang juga jelas lebih empuk ketimbang generasi sebelum-sebelumnya.

Penumpang yang tidur di bangku. Sumber: istimewa

Tidak hanya itu, jika dulu Anda menemukan banyak keluhan tentang perjalanan dengan menggunakan kereta api seperti penumpang yang merokok di bordes, bangku yang keras, toilet yang kotor, hingga tiket tanpa nomor bangku, kini problematika tersebut sudah tidak akan Anda temui.

Baca Juga: Sembunyi dari Kondektur Tiket Kereta, Masih Bisakah?

Namun jika diperhatikan, gaya tidur penumpang di kereta jarak jauh ini terkadang mengundang gelak tawa. Ada yang mukanya ditutupi dengan jaket sampai yang tidurnya menganga karena kelelahan. Belum lagi mereka yang rela geletakan di lantai gerbong beralaskan kertas koran hanya untuk sekedar meluruskan kaki yang pegal.

Ganjar Pranowo yang tertidur pulas di lantai kereta.Sumber: istimewa

Tapi, ngomong-ngomong soal tidur selonjoran di gerbong, tahukah Anda bahwa Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo pernah tertangkap kamera tengah tidur selonjoran di lantai gerbong kereta? Ya, kejadian yang cukup unik ini terjadi pada saat Ganjar selesai menghadiri suatu acara di Jakarta pada Kamis (10/11/2016) silam. Ganjar yang terlalu capek akhirnya ia memutuskan untuk tidur di lantai gerbong setelah mendapatkan ijin dari kondektur yang kala itu bertugas. Wah, Bapak ini ada-ada saja ya!

 

Tetap dari Bandara Husein Sastranegara, Wings Air Justru Buka Rute Baru

Bila maskapai lain telah diminta regulator untuk meninggalkan Bandara Husein Sastranegara dan mengalihkan layanan ke Bandara Kertajati, maka beda dengan Wings Air, maskapai yang menjadi bagian dari Lion Group ini sejak awal kekeh di Bandung, bahkan dari Bandung maskapai yang banyak melayani rute perintis ini justru menambah rute barunya yang dimulai 9 Agustus 2019.

Baca juga: Tiga Rute Citilink Tutup Sementara, Ada Apalagi dengan Bandara Kertajati?

Pembukaan rute baru dari Bandung terdiri ke kota tujuan:

1. Pangkalpinang – Bandar Udara Depati Amir, Bangka Belitung (PGK)
2. Tanjung Pandan – Bandar Udara Internasional H.A.S. Hanandjoeddin, Bangka Belitung (TJQ)
3. Bengkulu – Bandar Udara Fatmawati Soekarno, Bengkulu (BKS)
4. Jambi – Bandar Udara Sultan Thaha, Jambi (DJB)
Untuk penambahan frekuensi satu kali terbang dari Bandung menuju Semarang – Bandar Udara Internasional Jenderal Ahmad Yani, Jawa Tengah (SRG)

Untuk rute Bandung menuju Tanjung Pandan, Bengkulu dan Jambi tahap awal dilayani empat kali dalam seminggu. Wings Air optimis, seiring operasional dan tren permintaan pasar tumbuh positif, kedepan frekuensi akan ditingkatkan.

Danang Mandala Prihantoro, Corporate Communications Strategic Lion Group dalam pesan tertulis menyebutkan bahwa kehadiran Wings Air dalam layanan penerbangan dari dan menuju Bandung menjadi bagian kesungguhan dalam menjembatani antarwilayah “Sumatera dan Jawa.” Dengan tetap mengutamakan faktor keselamatan, keamanan dan kenyamanan penerbangan. Wings Air akan memberikan nilai lebih kepada travelers, karena waktu tempuh antar destinasi relatif singkat, efektif dan efisien.

Baca juga: ATR-72 600 Wings Air Sukses Lakukan Proving Flight di Bandara Taufik Kiemas

Keseluruhan penerbangan di atas dilayani menggunakan pesawat turboprop tipe ATR 72-500 atau ATR 72-600. Pesawat ini berkapasitas 72 kursi kelas ekonomi, paling nyaman dan canggih di kelasnya yang mampu menerbangi rute jarak pendek secara point to point.

Inilah 6 Ritual Para Pengguna Komuter Bersama Ponselnya, Kamu yang Mana?

Apabila Anda merupakan seorang Roker (Rombongan Kereta), apa yang Anda lakukan ketika tengah berada di dalam rangkaian? Wah, jawabannya pasti akan bervariatif ya! Mungkin beberapa dari Anda akan memilih untuk memperhatikan sekitar (tapi bukan untuk nyopet lho!), atau mungkin ada yang tidur? Tapi pasti tidak sedikit juga diantara Anda yang akan lebih memilih untuk bermain ponsel. Terlepas dari apapun yang Anda lakukan dengan gadget Anda, bermain ponsel di kereta merupakan salah satu jurus ampuh untuk mengusir kebosanan!

Baca Juga: Jadi Ajang Kampanye Produk, Pegangan Tangan di Angkutan Umum Dibuat Unik

Tentu Anda semua kepo tentang apa saja yang dilakukan penumpang dengan ponselnya ketika tengah ada di dalam rangkaian kereta. Berikut KabarPenumpang.com himpun aktivitas-aktivitas yang sering dilakukan oleh penumpang dengan ponselnya ketika berada di dalam kereta, dihimpun dari sejumlah laman sumber.

Chattingan
Bercengkrama dengan seseorang melalui platform chatting muncul sebagai aktivitas yang paling sering dilakukan penumpang di kereta. Keluarga, pacar, teman, rekan bisnis, atau status lainnya menjadi objek penderita tempat Anda melampiaskan kebosanan di kereta. Kendati tidak ada topik yang benar-benar penting untuk dibicarakan – atau mungkin sesuatu yang urgent, aktivitas ini menjadi yang paling banyak dilakukan oleh penumpang di kereta.

Mendengarkan Musik
Aktivitas ini memang ampuh untuk mengusir kebosanan ketika berada di kereta. Bahkan, tidak sedikit dari para komuter yang sampai mencari lirik dari lagu yang tengah diputarnya tersebut, lho!

Buka Media Sosial
Sebagai kelompok yang tidak boleh melewatkan update terbaru dari teman-temannya atau artis favoritnya, mantengin timeline media sosial memang kerap dilakukan oleh banyak penumpang di dalam kereta komuter.

Baca Berita
Kemudahan akses untuk menjangkau berita-berita di luar sana membuat sebagian penumpang yang haus akan informasi terkini rela membaca berita di ponsel mereka sambil naik kereta. Ya lumayan lah, hitung-hitung sambil membunuh waktu!

Main Game
Ini memang opsi yang digandrungi oleh kawula muda. Mau itu game online maupun game offline, ini merupakan salah satu aktivitas favorit para komuter ketika tengah berkendara!

Baca Juga: Mengintip Jenis Commuter Line di Luar Jakarta

Nonton Film!
Hayo ngaku siapa diantara Anda yang gemar nonton film atau video ketika tengah ‘mengular’? Niscaya, menghabiskan waktu dengan menonton merupakan cara paling ampuh untuk mengusir kebosanan di dalam kereta. Tapi hati-hati, jangan sampai stasiun Anda kelewat, ya!

 

Lokomotif Legendaris “Mao Zedong” Tuntaskan Perjalanan 11 Juta Kilometer

Siapa yang tak kenal Mao Zedong, ialah tokoh pendiri sekaligus Presiden Pertama Republik Rakyat Cina (RRC). Meski telah wafat pada 9 September 1976, nama mantan Pemimpin Partai Komunis Cina ini masih begitu lekat dalam benak warga. Sebagai bentuk penghormatan, serial lokomotif yang diberi label “Mao Zedong” sudah dihadirkan cukup lama dan kabar terbaru lokomotif tersebut telah menyelesaikan tonggak sejarah dengan melampaui sebelas juta kilometer atau setara dengan mengelilingi bumi sebanyak 275 kali.

Baca juga: NIS 171 – Konsep Lokomotif Futuristik Hindia Belanda untuk Rute Semarang-Yogyakarta

Lokomotif ini menyelesaikan sebelas juta kilometernya setelah menarik kereta Z2 yang tiba di Stasiun Barat Beijing pukul 08.16 waktu setempat pada 6 Agustus 2019 kemarin. Ini juga menetapkan rekor baru perjalanan dari kelompok kerera jarak jauh.

Lokomotif Mao Zedong pertama kali beroperasi 30 Oktober 1946 silam yang mana kala itu Cina tengah dikepung perang. Dalam 73 tahun terakhir kereta api Cina mengalami ekspansi besar-besaran dimana modernisasi mencakup pada lokomotif Mao Zedong. Generasi awal lokomotif Mao Zedong adalah lokomotif jenis uap, yang kemudian seiring perkembangan zaman diganti dengan lokomotif mesin diesel dan yang terbaru mengadopsi lokomotif bertenaga listrik.

Dirangkum KabarPenumpang.com dari china.org.cn (6/8/2019), lokomotif listrik HXD3D-1893 saat ini adalah lokomotif keenam yang bernama Mao Zedong dan nomor seri 1893 cocok dengan tahun kelahiran Mao. Awalnya lokomotif ini diperuntukan untuk menarik kereta barang. Lokomotif Mao Zedong dipindahkan ke layanan kereta penumpang pada Juli 2014. Kemudian pada Mei 2016, lokomotif mulai menarik kereta Z1/2 yang bergerak antara Beijing dan Changsha yang berjarak 1.500 kilometer.

Ketika telah melampaui sebelas juta kilometer dan tiba di stasiun, seluruh kru memberikan penghormatan pada lokomotif Mao Zedong tersebut. Bahkan ada pemberian pita dari pemimpin otoritas kereta Beijing kepada anggota kru lokomotif Mao Zedong di Stasiun Barat Beijing.

Selain itu, para anggota kereta juga ddiberikan spanduk bertuliskan “Selamat atas Lokomotif Mao Zedong menyelesaikan jarak tempuh keselamatan yang memecahkan rekor sejauh 11 juta kilometer”. Lokomotif Mao Zedong memulai pelayanan penumpang pertamanya dari Beijing ke Fungang di Provinsi Anhui.

Baca juga: Butuh 200 Tahun, Evolusi dari Lokomotif Uap Hingga Ke Diesel Listrik!

Lokomotif pertama Mao Zedong yang bertenaga uap dibangun oleh Dalian Lokomotif dan Rolling Stock Co LTD pada tahun 1946, Lokomotif Mao Zedong ini telah menyelasaikan tugasnya dan beralih ke layanan penumpang dengan menempuh jarak sekitar 855 kilometer dan berhenti di 12 stasiun. Pada tonggak sejarah sebelas juta kilometer tersebut lokomotif dilengkapi dengan lambang wajah Presiden Tiongkon Mao Zedong.

Terkendala Masalah Komputer, Ratusan Penerbangan British Airways Dibatalkan

Maskapai asal Inggris, British Airways dikabarkan telah membatalkan lebih dari 100 penerbangannya pada hari Rabu (7/8) setelah sistem komputer maskapai mengalami kerusakan. Pembatalan ini menghantam ribuan pelancong yang ada di bandara Heathrow dan Gatwick London – sementara itu 300 penerbangan lainnya mengalami keterlambatan hingga satu jam lamanya. Sudah barang tentu kesalahan sedikit saja yang terjadi di bandara akan berimbas tidak hanya pada maskapai terkait saja, melainkan maskapai lainnya juga.

Baca Juga: Peringati Ultah ke-100, British Airways ‘Dandani’ Boeing 747-400 dengan Livery BOAC

British Airways, yang dimiliki oleh International Airlines Group (ICAGY), mengatakan bahwa check-in and flight start system mengalami kerusakan sebagian, dan untuk menanganinya, terpaksa pihak maskapai mengerahkan sistem manual cadangan untuk menjaga agar pengoperasian jalur udara mereka tetap beroperasi.

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman cnn.com (7/8), juru bicara maskapai mengatakan bahwa penumpang yang penerbangannya dibatalkan kiranya untuk melakukan pemesanan ulang tiket pada tanggal 8 dan 13 Agustus. British Airways hingga kini masih belum mengungkapkan apa yang menyebabkan komputer-komputer tersebut mati.

“Kami meminta maaf kepada para penumpang atas kekacauan yang terjadi dan ketidaknyamanan Anda. Kami telah menyelesaikan masalah tersebut,” ujar pihak maskapai meminta maaf.

Diantara semua penundaan yang terdampak dari kasus British Airways ini, Bandara Heathrow lah yang paling merasakan imbasnya. Bagaimana tidak, hampir semua penerbangan yang ada di bandara tersibuk di Eropa ini mengalami penundaan – mulai dari Los Angeles, New York, Philadelphia, Pittsburgh, Charlotte, Nashville, hingga Miami. Semuanya mengalami keterlambatan pemberangkatan.

Baca Juga: Akhirnya! British Airways Hadirkan Boeing 747 Berlivery Vintage BOAC

Namun, ini bukanlah kali pertama gangguan komputer menyerang sektor aviasi Tanah Britania. Pada tahun 2017 silam, British Airways bahkan pernah membatalkan semua penerbangannya dari Bandara Heathrow dan Gatwick karena kegagalan sistem IT utama. Walhasil, gangguan ini menyebabkan kekacauan yang masif di dunia penerbangan. Sekira 75.000 penumpang terdampak masalah.

Diperlukannya perawatan rutin dari setiap elemen dari sebuah maskapai penerbangan – baik dari segi modanya atau fasilitas penunjang di setiap bandara merupakan salah satu hal penting untuk dilakukan. Pengecekkan rutin pun mejadi satu aktivitas yang tidak boleh terlewatkan setiap harinya. Hal semacam ini ditujukan untuk menghindari masalah semacam ini terulang kembali di masa yang akan datang.

 

 

“Dining Experiences” dari Citilink Bantu Penumpang Kreasikan Set Hidangan dalam Penerbangan

Menikmati penerbangan dengan maskapai berbiaya hemat (LCC) tidaklah selalu membosankan. Pasalnya masakapai Citilnk yang merupakan anak perusahaan Garuda Indonesia selalu memberikan hal-hal baru dalam penerbangannya seperti menghadirkan WiFi onboard.

Baca juga: Tiga Rute Citilink Tutup Sementara, Ada Apalagi dengan Bandara Kertajati?

Bahkan kini penumpang akan bisa mengkreasikan set hidangan favorit yang bisa dinikmati diatas ketinggian 35 ribu kaki. Dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers yang diterima, Kamis (8/8/2019), set hidangan favorit ini diluncurkan dengan nama Dining Experiences.

(Citilink Indonesia)

Dining Experiences merupakan salah satu bentuk komitmen Citilink Indonesia untuk terus melakukan pengembangan layannnya demi kenyamanan penumpang,” ujar Direktur Niaga Citilink Indonesia Benny Rustanto.

Dia mengatakan, adanya layanan tersebut menjadi salah satu program ancillary revenue Citilink dimana penumpang akan mendapat pengalaman terbang mengesankan dengan layanan khusus di seluruh fase mulai dari pre-, in- hingga post- flight.

Dalam hal ini, Benny menjelaskan bahwa Dining Experiences memiliki konsep Create Your Own Tray, yang mana sebelum penerbangan penumpang bisa mengkreasikan sendiri hidangan yang akan mereka nikmat. Pilihannya terdiri atas hidangan pembuka, makanan utama, penutup, miniman pelengkap seperti tehh, kopi atau jus.

Selain itu juga akan ada coklat praline yang hadir sebagai hidangan pemanis serta kartu ucapan yang diberikan oleh manajemen. Layanan Dining Experiences ini akan bisa dipesan mulai 8 Agustus 2019 melalui website Citilink dan sekarang baru tersedia untuk lima penumpang per peerbangan yang berangkat dari Jakarta (Cengkareng), Surabaya dan Denpasar.

Kehadiran layanan baru tersebut khusus untuk penerbangan dengan durasi diatas 100 menit dan bisa dipesan paling lambat 48 jam sebelum keberangkatan baik dari website maupun aplikasi. Benny menambahkan, tak hanya satu set hidangan sesuai pilihan, penumpang juga akan merasakan fasilitas tambahan lainnya seperti lounge gratis, prioritas dalam boarding, millage, kursi favorit dan asuransi Super Shield serta Flight Plus.

Bahkan, penumpang akan mendapatkan fasilitas airport assistance dimana penumpang akan didampingi secara personal oleh petugas dari mulai tiba di bandara asal hingga tiba di bandara tujuan.

Baca juga: Mulai 15 Agustus, Ada Revitalisasi di Bandara Soekarno-Hatta, Citilink Rute Domestik Pindah Ke Terminal 2

“Dengan fasilitas yang ditawarkan, layanan ini sangat cocok bagi penumpang dengan waktu bepergian yang padat seperti perjalanan bisnis ataupun penumpang yang menginginkan layanan khusus pada penerbangan LCC,” tutup Benny.

Unik, Ada Limosin Volvo Enam Pintu di Inggris

Mungkin agak jarang dari kita melihat mobil limosin di jalanan-jalanan Ibukota – tidak seperti rentetan mobil sport berharga miliaran yang sering mencuri perhatian pengguna jalan. Namun di luar sana, mobil limosin kerap dan masih menjadi simbol kekayaan seseorang. Agaknya, limosin tetap dilengkapi dengan empat pintu seperti mobil sedan kebanyakan, namun apa jadinya jika limosin yang Anda jumpai memiliki enam pintu? Wah, seperti apa ya bentuknya?

Baca Juga: Volvo B8RLE, Bus Low-Deck yang Tawarkan Optimalisasi Biaya Operasional

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman motor1.com (31/7), salah satu channel Youtube, walkoARTvideos mengunggah video limosin keluaran produsen otomotif asal Swedia, Volvo yang memiliki enam pintu. Mobil tersebut tampak tengah jalan di salah satu jalanan di Inggris. Kendati durasi videonya sangat pendek – sekitar 14 detik saja, namun tampak begitu jelas bahwa mobil panjang tersebut memiliki enam pintu.

Susunan dari pintu ini juga selayaknya mobil pada umumnya – membuka ke arah depan. Dengan kaca film yang tidak terlalu pekat, tampak susunan bangku yang ada di dalamnya juga seperti mobil pada umumnya – ada tiga baris bangku yang semuanya menghadap ke arah depan. Tidak seperti limosin-limosin yang ada di layar kaca, dimana hanya terdiri dari empat pintu dan bangku bagian tengah menghadap ke arah belakang.

Sumber: motor1.com

Namun ini bukanlah yang pertama kalinya mobil limosin enam pintu tertangkap lensa kamera. Kembali ke tahun 2015 kemarin, dimana penampakan mobil yang hampir serupa dengan yang ada di Inggris ini tampak sedang ‘nangkring’ di atas truk derek.

Baca Juga: Volvo Rilis Dua Model Bus Terbaru Untuk Wisata dan Perjalanan Jarak Jauh

Setelah ditelusuri, ternyata limosin semacam ini merupakan keluaran tahun 2015 dari pabrik Nilsson Special Vehicle – perusahaan yang terkenal mengubah produk Volvo menjadi berbagai kendaraan khusus seperti ambulans, limosin, hingga model lainnya.

 

 

Mengenal Sistem Penopang Roda, Tanpa ini Pesawat Tak Bisa Mendarat

Bagi sebagian orang, pendaratan pesawat merupakan satu momen yang bisa meningkatkan detak jantung secara signifikan. Hantaman yang keras antara roda pesawat dan landas pacu bakal membuat penumpang tersentak dan ini merupakan awal dari pikiran buruk yang biasanya menghantui pikiran setiap penumpang – mulai dari pesawat tergelincir, penopang roda yang patah, dan kejadian menyeramkan lainnya. Namun di sini kami tidak akan membahas mengenai hal menakutkan tersebut, melainkan tentang penopang roda yang ada di pesawat.

Baca Juga: Selain Mesin, Yuk Kenali Arti Suara-Suara di Dalam Kabin Pesawat

Ketika telah meninggalkan landasan, roda pesawat akan ditekuk masuk ke dalam badan pesawat – pun ketika pesawat hendak mendarat, maka roda akan kembali dikeluarkan. Nah khusus untuk proses landing, peranan suspensi pada penopang roda ini menjadi sangat penting karena proses landing memberikan gaya dorong ke bawah yang sangat besar (karena beban dari pesawat ditambah penumpang dan kargo).

Itu baru dari pesawat komesial, lalu apa jadinya dengan jenis pesawat lain? Berikut KabarPenumpang.com sarikan empat jenis sistem penopang (landing gear) yang terkenal di sektor aviasi global, dikutip dari laman boldmethod.com.

Rigid Struts

Rigid struts. Sumber: boldmethod.com

Bisa dibilang, rigid struts merupakan penopang paling mendasar yang ada di sektor aviasi global, karena umumnya, penopang roda semacam ini terpasang pada jenis-jenis pesawat kuno. Sistem penopang ini belum menggunakan suspensi, atau dengan kata lain, pendaratan yang kasar dan keras akan selalu mewarnai akhir penerbangan.

Touchdown (roda pesawat pertama kali menyentuh daratan) yang keras akan menghasilkan daya kejut yang keras pula. Absennya sistem suspensi pada penopang jenis ini akan mengakibatkan penumpang dan pilot merasakan hentakan yang keras juga.

Spring Steel Struts

Spring steel struts. Sumber: boldmethod.com

Penopang roda semacam ini biasanya ditemui di pesawat-pesawat berukuran kecil, seperti Cessna. Penopang pegas baja tergolong sederhana secara mekanis, tidak membutuhkan banyak perawatan, dan biasanya ringan. Ketika sistem pegas atau suspensi sudah tersematkan, maka pendaratan pun tidak akan sekeras rigid struts.

Bungee Cords

Bungee cord. Sumber: boldmethod.com


Tidak seperti dua penopang di atas, bungee cords agak jarang ditemui di pesawat. Salah satu pesawat yang menggunakan sistem penopang ini adalah Piper Cub. Sistem penopang ini hanyalah berupa kabel elastis yang terlilit di antara roda pesawat dan badan pesawat – dimana penggunaan sistem penopang ini ditujukan untuk mencegah beban pantul yang dihasilkan oleh pesawat ketika landing tidaklah terlalu besar.

Baca Juga: Lima Poin Ini Jadi Kunci Keselamatan Saat Pesawat Alami Crash Landing

Shock Struts

Shock struts. Sumber: Boldmethod

Yang terakhir merupakan penopang roda yang paling banyak ditemukan di pesawat terbang komersial. Dengan menggunakan nitrogen dan cairan hidrolik, sistem pegas yang ‘tersaji’ pada shock struts akan mampu meminimalisir daya kejut ketika pesawat mendarat secara signifikan – setidaknya jauh lebih halus dari tiga varian di atas.

Daya kejut yang dihasilkan ketika pesawat touchdown akan senantiasa tereduksi dengan hadirnya dua silinder yang akan meminimalisir daya kejut.

Jadi, sekarang sudah paham kan jenis-jenis penopang roda yang ada di pesawat?

e-Oshima, Kapal Ferry Bertenaga Listrik dengan Baterai Sejenis di Boeing 787 Dreamliner

Oshima Shipbuilding merupakan sebuah perusahaan yang bermarkas di Nagasaki yang terkenal karena jajaran kapal ferry pengangkut curahnya. Perusahaan ini dikabarkan telah mengirim kapal pertama di Jepang yang hanya menggunakan daya baterai. Kapal yang diberi nama e-Oshima ini tidak hanya menggunakan baterai sebagai pembangkit listik untuk menggerakkan kapal tersebut, melainkan juga untuk keperluan komunikasi, navigasi, dan perangkat nirkabel lainnya.

Baca Juga: HYBRIDShip Bangun Kapal Ferry Tanpa Emisi

Tidak hanya itu, baterai yang ada di e-Oshima ini juga digunakan untuk peralatan penerangan, sistem pendingin ruangan, dan perangkat lain yang digunakan ketika berlayar. Sistem propulsi yang ada di e-Oshima ini menggunakan baterai Lithium ion (Li-on) berkapasitas besar dari GS Yuasa. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman splash247.com (7/8), baterai kapal ferry ini sendiri dapat terisi penuh hanya dalam waktu dua setengah jam saja.

Adapun kapal ferry yang memiliki panjang 35 meter ini mampu menampung hingga 50 orang, empat mobil penumpang, dan satu unit bus berukuran besar dalam sekali ‘tarikan’.

Jika Anda mengira teknologi otonom hanya tersemat pada moda darat dan udara saja, maka Anda salah besar – karena pasalnya, e-Oshima juga sudah menggunakan teknologi otonom yang memungkinkannya untuk melakukan operasi sendiri.

Baterai lithium-ion GS Yuasa telah dipasang di berbagai proyek profil tinggi termasuk Stasiun Luar Angkasa Internasional dan Boeing 787 Dreamliner.

Penggunaan baterai ini juga telah membuktikan bahwa Oshima Shipbuilding berperan serta dalam pelestarian lingkungan yang belakangan ini tengah digalakkan. Kondisi polusi yang semakin parah dewasa ini memang memaksa sejumlah pihak – terutama mereka yang ‘bermain’ di sektor transportasi untuk memutar otak memerangi polusi tanpa harus merugikan perusahaan.

Baca Juga: “The Ampere,” Kapal Ferry Bertenaga Listrik Pertama di Dunia!

Namun e-Oshima ini bukanlah kapal ferry pertama yang menggunakan tenaga listrik. Mungkin beberapa dari Anda masih ingat dengan the Ampere, kapal ferry bertenaga listrik perdana di dunia hasil rakitan Norwegian Shipyard Fjellstrand, yang juga bekerja sama dengan Siemens dan Norled.

Menurut Norled, sang operator, kapal ferry ini benar-benar bisa memangkas emisi hingga sebesar 95 persen! Keren, bukan?

Jika semua moda sudah ‘diinjeksi’ oleh tenaga listrik, mungkinkah di masa yang akan datang kita semua akan meninggalkan bahan bakar tenaga fosil dan beralih menggunakan listrik?