Kilas Balik Kisah Drew: Bocah 12 Tahun asal Sydney yang ‘Bobol’ Kartu Kredit Ibu demi Liburan Mewah di Bali

Dunia sempat digemparkan oleh aksi nekat seorang bocah laki-laki berusia 12 tahun asal Sydney, Australia, yang hanya dikenal dengan nama samaran “Drew”. Bukan sekadar kabur dari rumah, pada bulan April 2018, Drew melakukan pelarian lintas negara yang terorganisir dengan sangat rapi—sebuah aksi yang lebih mirip adegan film Home Alone daripada kenyataan.

Segalanya bermula dari sebuah pertengkaran keluarga. Setelah permintaannya untuk berlibur ke Bali ditolak mentah-mentah oleh sang ibu, Emma, Drew tidak lantas menyerah. Bagi Drew, kata “tidak” hanyalah tantangan. Ia pun mulai menyusun rencana pelarian paling ambisius yang pernah dilakukan seorang anak seusianya.

Drew melakukan riset mendalam di internet untuk mencari celah dalam aturan penerbangan. Ia menemukan bahwa beberapa maskapai mengizinkan anak berusia 12 tahun ke atas untuk terbang tanpa pendamping orang tua, cukup dengan paspor dan kartu pelajar. Setelah mencuri kartu kredit ibunya dan mengelabui neneknya untuk menyerahkan paspornya, “Operasi Bali” resmi dimulai.

Pagi itu, Drew berpamitan seperti biasa untuk pergi ke sekolah. Namun, alih-alih menuju halte bus sekolah, ia justru memacu skuternya ke stasiun kereta menuju Bandara Sydney. Di sana, ia menggunakan mesin self-check-in untuk menghindari tatapan penuh tanya dari petugas manusia.

Drew berhasil terbang dari Sydney menuju Perth, lalu melanjutkan penerbangan internasional ke Denpasar. Hebatnya, sepanjang perjalanan, ia hampir tidak menemui hambatan. Petugas di Perth hanya menanyakan kartu pelajarnya untuk memastikan ia benar-benar duduk di bangku SMP. Sesampainya di Bali, ia dengan percaya diri melewati imigrasi dan mengklaim bahwa orang tuanya sudah menunggunya di luar bandara.

Selama empat hari di Pulau Dewata, Drew menjalani hidup layaknya turis elit. Ia melakukan check-in di All Seasons Hotel dengan memberi tahu staf bahwa kakak perempuannya akan menyusul nanti.

Selama di sana, ia menghabiskan uang sekitar 8.000 Dolar Australia (sekitar Rp84 juta) untuk menginap di hotel bintang empat, menyewa sepeda motor untuk berkeliling (meski ia belum cukup umur untuk memiliki SIM),mMakan di restoran-restoran enak. Bahkan, menurut laporan, ia sempat memesan bir hanya untuk sekadar mencicipi petualangan “orang dewasa”.

Sementara Drew menikmati kolam renang, di Sydney, sang ibu sedang mengalami mimpi buruk. Polisi dikerahkan dan laporan anak hilang disebar. Namun, keberadaan Drew justru terbongkar lewat kecerobohannya sendiri. Ia mengunggah video dirinya yang sedang bersantai di Bali dengan fitur geotag lokasi yang aktif.

Teman-temannya yang melihat video tersebut segera memberi tahu keluarga. Emma pun langsung terbang ke Bali untuk menjemput putranya. Saat akhirnya bertemu, Drew dengan santai mengatakan kepada media, “It was great because I wanted to go on an adventure.”

Meski berakhir dengan keselamatan, kasus ini menjadi tamparan keras bagi otoritas bandara dan maskapai di Australia dan Indonesia. Banyak yang mempertanyakan bagaimana bisa seorang anak berusia 12 tahun menembus pengamanan internasional tanpa pengawasan orang tua.

Sejak saat itu, banyak maskapai memperketat aturan mengenai Unaccompanied Minor (penumpang anak tanpa pendamping), memastikan bahwa petualangan nekat seperti yang dilakukan Drew tidak akan pernah semudah itu untuk terulang kembali.

Emirates Hadirkan Lounge Khusus Anak, Manjakan Si Kecil dalam Penerbangan Tanpa Pendamping

Hari Ini, 49 Tahun Lalu, DNA Pesawat Andalan Putin Ilyushin ‘Aerobus’ Il-86 Terbang Perdana

Pada hari ini, 49 tahun yang lalu, bertepatan dengan 22 Desember 1976 pesawat Ilyushin Il-86 terbang perdana. Sebagaimana pesawat buatan Rusia lainnya, itu tidak laku di pasaran dan hanya dipakai operator dalam negeri saja. Meski begitu, pesawat widebody pertama Rusia (Uni Soviet) itu menjadi cikal bakal dari pesawat andalan Presiden Putin, Ilyushin Il-96.

Baca juga: Hari Ini, 34 Tahun Lalu, Pesawat Ilyushin Il-96 Andalan Putin Terbang Perdana

Dihimpung dari airliners.net dan key.aero, ide awal pengembangan Ilyushin Il-86 muncul dari maskapai penerbangan nasional Uni Soviet, Aeroflot. Luasnya wilayah Uni Soviet dan gencarnya ekspansi maskapai di pasar domestik pada dekade 60-an, membuat armada Aeroflot tak lagi efektif untuk mendukung operasi.

Maskapai itu akhirnya meminta ke pemerintah dan diteruskan ke Ilyushin, Sukhoi, dan Tupolev, untuk mendukung rencana Aeroflot.

Ketika itu, Aeroflot meminta agar dibuatkan pesawat baru dengan kapasitas 250-300 penumpang, jangkauan terbang 3.600 km, berat maksimum lepas landas (MTOW) 40 ton, dan dapat beroperasi di landasan pacu (runway) tidak lebih dari 2.600 meter atau dengan kata lain bisa beroperasi di seluruh bandara yang ada di Uni Soviet.

Bak gayung bersambut, Ilyushin dengan cepat menangkap kebutuhan Eroflot dengan menawarkan program pengembangan pesawat widebody jarak jauh, Ilyushin Il-62. Aeroflot tentu saja menolak tetapi Ilyushin meyakinkan bahwa pesawat itu bisa sesuai dengan yang mereka inginkan.

Awalnya desain Il-62 hanya 250 penumpang tetapi Biro Desain Ilyushin menyebut bahwa pesawat akan diubah menjadi konsep double-deck atau konsep dual fuselage. Dua konsep itu diveto pemerintah dan memerintahkan langsung Ilyushin agar merancang desain pesawat baru berkapasitas 350 penumpang.

Pada 1971, Ilyushin mengusulkan program Il-86. Sebagian kecil rancangannya masih terinspirasi dari Il-62 dengan banyak pengembangan di dimensi, sayap, tailfin, dan lainnya.

Proyek Il-86 secara resmi diumumkan Dewan Menteri Uni Soviet pada tahun 1972. Saat itu, Il-86 disebut sebagai aerobus atau bus udara yang diklaim dapat beroperasi di bandara manapun di negara itu.

Sebagaimana namanya, aerobus Ilyushin Il-86 terinspirasi dari moda transportasi bus. Penumpang Il-86 nantinya tidak menggunakan garbarata untuk masuk ke kabin, melainkan melalui tangga internal pesawat, masuk ke kompartemen kargo dan meletakkan bagasi, lanjut naik melalui tangga internal pesawat ke kabin penumpang.

Setelah beberapa tahun, prototipe pertama Ilyushin Il-86, dengan registrasi CCCP-86000, sukses terbang perdana pada 22 Desember 1976 di lapangan udara Khodynka, Moskow, dengan dipimpin kepala pilot uji Eduard Kuznetsov. Tempat itu dahulu merupakan kantor pusat Ilyushin dan menjadi pabrik pembuatan pesawat eksperimental. Pesawat itu terus mengudara selama 40 menit sebelum mendarat di Zhukovsky, selatan Moskow.

Prototipe kedua, CCCP-86001 terbang pada 24 Oktober 1977. Pesawat itu akhirnya sukses dikirim ke Aeroflot pada 24 September 1979 dan melakukan penerbangan komersial perdana pada 26 Desember 1980 dari Moskow ke Tashkent.

Baca juga: Ilyushin Il-18 Coot. Pesawat Pertama Aeroflot yang Melayani Penerbangan Moskow – Jakarta

Seperti pesawat buatan Rusia lainnya, Il-86 tak laku di pasaran kecuali pasar domestik saja karena mesin boros dan bising serta sederet kekurangan lainnya. Sejak dekade 70an sampai 90an, hanya 106 unit yang diproduksi. 103 unit di antaranya digunakan di Uni Soviet dan tiga lainnya diekspor. Sampai tahun 2012 silam, masih ada empat Il-86 yang beroperasi bersama Angkatan Udara Rusia.

Meski gagal, Il-86 dijadikan dasar dari pengembangan pesawat Il-96 yang saat ini merupakan pesawat kepresidenan Rusia dan sering dipakai Presiden Putin.

Spesifikasi Il-86

Rentang sayap 157 kaki 7 inci (48,06 m)

Panjang 196 kaki 8 inci (59,94 m)

Tinggi 51 kaki 10 inci (15,81 m)

Diameter badan pesawat 19 kaki 11 inci (6,08 m)

Bobot kerja, kosong 258.970lb (117.500kg)

Pengambilan berat maksimum 473.860lb (215.000kg)

Kecepatan jelajah 486kt (900km/jam)

Jangkauan dengan muatan maksimal 1.944 nm (3.600 km)

Kapasitas penumpang maksimal 350 orang

Mesin turbojet Kuznetsov NK-86.

 

2x Seminggu, Scoot Buka Penerbangan Langsung Singapura – Labuan Bajo

Rute penerbangan langsung yang menghubungkan Singapura dan Labuan Bajo (LBJ) di Nusa Tenggara Timur (NTT) resmi dibuka dan mulai beroperasi melalui penerbangan perdana maskapai penerbangan Scoot pada Minggu, 21 Desember 2025.

Pembukaan rute internasional ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat konektivitas Labuan Bajo sebagai Destinasi Pariwisata Prioritas Nasional di kancah global.

Selanjutnya, penerbangan rute Singapura–Labuan Bajo ini akan beroperasi dengan frekuensi dua kali seminggu menggunakan pesawat Embraer E190-E2. Sebagai satuan kerja di bawah Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) memandang pembukaan rute ini sebagai momentum penting untuk mendorong peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara, khususnya dari Singapura dan pasar global lainnya yang terhubung melalui hub Singapura.

Bandara Changi Singapura sendiri dikenal luas sebagai salah satu hub penerbangan global utama dan gerbang penting kawasan Asia-Pasifik. Dengan konektivitas yang luas, Bandara Changi menjadi titik transit strategis bagi jutaan wisatawan internasional yang menuju berbagai destinasi dunia.

Hadirnya penerbangan langsung Singapura–Labuan Bajo membuka akses ke pasar yang lebih luas sekaligus meningkatkan potensi Labuan Bajo untuk menjangkau wisatawan global secara lebih efisien.

Pelabuhan Labuan Bajo Masuk Proyek Kawasan Strategis Pariwisata Nasional

Siap-siap Jalur Cikarang Bakal Dilintasi KRL Baru, Begini Penjelasannya

Beroperasinya Kereta Rel Listrik (KRL) yang dibuat oleh anak bangsa yakni PT Industri Kereta Api (INKA) Madiun menambah daftar perjalanan di lintas Jabodetabek. Ya, KRL CLI 225 saat ini sudah beroperasi di lintas Jakarta – Bogor pp. Sebanyak 2 trainset yang masing-masing 12 kereta ini melintasi rute tersebut pagi hingga malam.

Meski sudah mulai melayani penumpang limtas Bogor – Jakarta pp., namun KRL dari INKA ini masih terus diuji coba untuk trainset yang selanjutnya. Mengingat banyaknya masyarakat yang menggunakan KRL sebagai sarana transportasi yang terjangkau dan murah meriah. Apalagi menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 antusiasme masyarakat menggunakan KRL semakin meningkat.

Nah, beredar kabar dan informasi mengenai KRL dari INKA nantinya akan beroperasi di jalur Cikarang. Setelah dilakukan uji coba dan mendapatkan sertifikasi dari Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) tentu KRL INKA ini akan beroperasi di jalur Cikarang tersebut. Sejauh ini KRL baru dari negeri tirai bambu ini sudah wara wiri ke jalur KRL khususnya Bogor dan Cikarang.

Dalam hal ini Kereta Commuter Indonesia (KCI) bakal menargetkan dua trainset yang masih dalam proses sertifikasi akan beroperasi sebelum akhir 2025. Dengan begitu pengoperasian rangkaian baru ini dapat turut membantu pelayanan selama periode libur Natal dan Tahun Baru 2025/2026.

Sementara itu terkait pengadaan 30 rangkaian kereta baru untuk memperkuat layanan KRL Commuter Line Jabodetabek yang dapat suntikan dana Rp5 triliun dari Presiden Prabowo Subianto, Karina masih belum bisa memberikan informasi apapun. Sebab saat ini rencana pengadaan sarana KRL baru itu masih dalam tahap kajian oleh PT KAI (Persero) selaku induk usaha.

Presiden Prabowo sebelumnya telah menyetujui permintaan PT KAI untuk menambah 30 rangkaian kereta baru dengan anggaran Rp5 triliun. Prabowo menargetkan pengadaan KRL baru ini dapat terealisasi maksimal dalam waktu 1 tahun.

Diketahui, PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) telah memesan 12 trainset dari INKA dan telah datang sebanyak empat trainset. Dua trainset di antaranya telah beroperasi, dan dua trainset sisanya masih dalam proses sertifikasi. Dalam waktu dekat rencananya KCI akan menambah operasional dua trainset baru lagi untuk melayani penumpang KRL.

Usianya Lebih dari Satu Abad, Stasiun Karawang Masih Terlihat Megah dan Makin Eksis

Yuk Jelajahi Stasiun di Kabupaten Kediri, Ada yang Hanya Persilangan Saja

Jalur kereta api di wilayah Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun memang menawarkan beragam bangunan stasiun yang unik. Banyak diantaranya merupakan stasiun peninggalan jaman era kolonial. Tak heran, stasiun ini dinobatkan sebagai cagar budaya PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI).

Ya, jalur di kawasan Kediri raya ini tak sekadar bangunan kecil yang kokoh berdiri hingga saat ini. Beberapa stasiun kecil yang berada di Kediri raya juga disinggahi kereta api lokal yakni Kereta Commuter Line Dhoho/Penataran dengan rute Surabaya – Kertosono maupun sebaliknya.

Namun dari beberapa stasiun tersebut tak semuanya disinggahi kereta lokal. Bahkan ada yang cuma berhenti menunggu persilangan kereta api dari arah berlawanan. Nah, kabatpenumpang akan merangkum stasiun mana saja yang masih di kawasan Kabupaten Kediri.

• Stasiun Kras
Stasiun kereta api kecil yang terletak di Desa Purwodadi, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri. Berada di ketinggian +75 meter di atas permukaan laut, Stasiun Kras termasuk dalam wilayah Daop 7 Madiun dan menjadi stasiun paling selatan di Kabupaten Kediri.

Stasiun Kras terletak sekitar 200 meter dari Jalan Raya Kras, jalur utama yang menghubungkan Kediri dan Tulungagung. Lokasi strategis ini memudahkan akses warga sekitar yang ingin bepergian ke berbagai kota di Jawa Timur menggunakan layanan kereta api lokal.

• Stasiun Ngadiluwih
Stasiun kereta api kelas III yang terletak di Desa Ngadiluwih, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri. Berada di ketinggian +78 meter di atas permukaan laut, Stasiun Ngadiluwih menjadi bagian penting dalam jalur kereta api lintas selatan Jawa Timur dan berada di bawah pengelolaan Daop 7 Madiun.

Stasiun ini berjarak sekitar 230 meter dari Jalan Raya Kediri–Tulungagung, memudahkan akses kendaraan pribadi maupun angkutan umum. Lokasinya sangat strategis bagi masyarakat di wilayah selatan Kediri yang ingin bepergian ke berbagai kota besar di Jawa Timur.

• Stasiun Kediri
Stasiun kereta api kelas I yang terletak di Jalan Stasiun No. 1, Kelurahan Kampungdalem, Kecamatan Kota, Kota Kediri. Stasiun ini merupakan salah satu pusat transportasi penting di Jawa Timur, melayani berbagai rute kereta jarak jauh dan lokal.

Stasiun ini berada di pusat kota, sangat dekat dengan Alun-Alun Kota Kediri, pusat perbelanjaan, hotel, serta fasilitas umum lainnya. Lokasinya yang strategis menjadikan Stasiun Kediri sebagai pilihan utama bagi wisatawan dan warga lokal yang bepergian dengan kereta api.

• Stasiun Susuhan
Susuhan adalah stasiun kereta api kecil (kelas III) terletak pada ketinggian +60 meter di atas permukaan laut ini berada di Desa Gampengrejo, Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri.

Meskipun kini sudah tidak lagi melayani naik-turun penumpang, Stasiun Susuhan tetap memainkan peran penting dalam kelancaran perjalanan kereta api lintas selatan Jawa Timur.

Lokasi Stasiun Susuhan sangat strategis, hanya beberapa ratus meter dari Jalan Raya Kediri–Kertosono, serta dekat dengan fasilitas umum seperti Polsek Gampengrejo dan Kantor Pos Gampengrejo. Hal ini membuat stasiun ini tetap vital, meskipun sudah tidak lagi menjadi titik naik-turun penumpang.

• Stasiun Minggiran
Berada pada ketinggian +56 meter di atas permukaan laut, stasiun ini termasuk dalam wilayah Daerah Operasi VII Madiun. Meskipun saat ini tidak melayani naik-turun penumpang, Stasiun Minggiran memiliki peran penting dalam operasional kereta api di lintas selatan Jawa Timur. Lokasinya berada sekitar 75 meter ke arah tenggara dari Jalan Raya Kertosono–Kediri, menjadikannya mudah diakses dari jalan utama.

Stasiun Tulungagung, Dahulu Pernah Dilengkapi Turn Table Lokomotif

Selain Jalurnya yang Tertua, Dua Stasiun di Jalur Sukabumi – Cianjur Ini Juga Saksi Sejarah Terkenal di Era Kolonial

Bagi yang gemar healing naik kereta api dengan rute yang relatif terjangkau, rasanya memang patut dicoba jalur kereta api yang satu ini. Ya, digadang-gadang sebagai jalur tertua dengan rute Jakarta – Bandung banyak sekali bangunan di sekitarnya yang mampu menarik perhatian penumpang kereta api saat melihatnya.

Misalnya bangunan stasiun yang saat ini dinobatkan sebagai cagar budaya dari PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) yang harus dilestarikan. Mengingat bangunan stasiun ini merupakan saksi bisu sejak era Kolonial Belanda.

Proyek pembangunan jalur kereta api ini dilakukan oleh perusahaan kereta api milik negara, Staatsspoorwegen (SS), yang memulai pembangunan jalur ini secara bertahap. Pembangunan ini terbagi menjadi tiga tahap:

1. Buitenzorg – Cicurug (27 kilometer): Jalur ini dibuka pada 5 Oktober 1881.

2. Cicurug – Sukabumi (31 kilometer): Tahap kedua dibuka pada 21 Maret 1882.

3. Sukabumi – Cianjur (39 kilometer): Jalur ini resmi dibuka pada 10 Mei 1883.

Pembukaan jalur Sukabumi – Cianjur bersamaan dengan diresmikannya Stasiun Cianjur yang mulai dibangun setahun sebelumnya. Jalur ini dikenal dengan medan yang menantang, karena harus melalui perbukitan dengan jalur yang berkelok-kelok.

Salah satu infrastruktur yang paling terkenal dari pembangunan jalur ini adalah Terowongan Lampegan. Terowongan ini memiliki panjang 686 meter dan selesai dibangun pada tahun 1882. Terowongan ini menjadi ikon tersendiri di wilayah tersebut karena merupakan salah satu terowongan kereta api tertua di Indonesia.

Nah, selain Terowongan Lampegan yang menjadi ikonik pembangunan infrastruktur sejak era Kolonial, tentunya ada stasiun yang menjadi paling terkenal di jamannya. Stasiun-stasiun ini adalah Cianjur dan Lampegan. Ternyata kedua stasiun ini dibangun pada tahun 1882 dan resmi dibuka untun umum bersamaan dengan dibukanya jalur kereta api Sukabumi – Cianjur pada tanggal 10 Mei 1883.

Kedua bangunan stasiun ini menampilkan nuansa Eropa yang kental. Untuk Stasiun Cianjur terlihat lebih besar karena berada di pusat Kota Cianjur yang berjarak 500 meter dari pendopo atau pusat pemerintahan. Mengusung bangunan gaya Eropa terlihat dari tiang besi, pintu yang besar, dan berbagai bentuk arsitektur lainnya.

Selain Stasiun Cianjur, ada pula Stasiun Lampegan. Stasiun ini terletak di Desa Cibokor, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur. Stasiun ini memiliki peranan penting sebagai pusat pengiriman rempah-rempah. Selain berdekatan dengan terowongan, stasiun ini terkenal dengan wisata Situs Megalitikum Gunung Padang yang berjarak 8 kilometer dari Stasiun Lampegan.

Stasiun Lampegan tahun 1800-an. (Foto: Dok. IRPS)

Stasiun Lampegan sempat menjadi tempat pemberhentian terakhir kereta api lokal Cianjur dari arah Bandung. Kereta api tidak bisa diteruskan perjalanannya karena sempat adanya insiden longsor dibagian dalam terowongan. Sehingga Terowongan Lampegan ditutup sejak tahun 2001 hingga dilakukan renovasi besar-besaran dan bisa digunakan kembali sampai tahun 2010.

Stasiun tersebut juga berperan sebagai sarana utama pengiriman rempah-rempah. Bahkan hingga tahun 70-an, terdapat jalur khusus yang menuju pabrik pengolahan rempah tersebut dari kawasan Kecamatan Cibeber dan Ciampea. Uniknya Stasiun Lampegan juga sempat memiliki turntable (pemutar lokomotif) berukuran kecil saat era lokomotif uap.

Meskipun masa kejayaan stasiun ini hanya menjadi kenangan masa lalu, peran mereka sebagai bagian dari transportasi massal kereta api tetap berjalan. Tiang besi dan bagian bangunan stasiun yang telah tua namun tetap terawat akan tetap menjadi saksi bisu peran penting mereka dalam sejarah Cianjur.

Menikmati Perjalanan Kereta Api Tertua di Jawa Barat, Cuma Goceng

Sejarah Stasiun Cianjur: Berjaya dengan 6 Jalur di Era Kolonial Belanda

Siapa yang tak kenal dengan Stasiun Cianjur. Ya, stasiun yang digadang-gadang sebentar lagi akan menjadi stasiun perhentian terakhir kereta api wisata Jaka Lalana ini ternyata menyimpan sejarah yang melegenda. Selain berada di jalur tertua yang menghubungkan Jakarta – Bandung, Stasiun Cianjur juga merupakan bangunan cagar budaya yang dipertahankan keasliannya hingga saat ini.

Pembangunan jalur kereta api di wilayah ini dimulai pada era kolonial, menghubungkan Bogor, Sukabumi, Cianjur, dan Bandung pada akhir abad ke-19. Jalur kereta api pertama di Cianjur dibangun oleh pemerintah kolonial sekitar tahun 1879.

Jalur ini dirancang untuk memperkuat konektivitas antara kota-kota besar di Jawa Barat, seperti Bogor dan Bandung. Meskipun jalur kereta api mulai dibangun pada 1879, stasiun Cianjur baru resmi beroperasi pada 10 Mei 1882.

Jalur kereta pertama yang dioperasikan menghubungkan Bogor dengan Jakarta, kemudian dilanjutkan ke Sukabumi, Cianjur, dan akhirnya Bandung. Jalur kereta api ini dibangun untuk menghubungkan kota-kota penting seperti Batavia (sekarang Jakarta) dan Bandung, yang memainkan peran strategis di masa kolonial. Nah, Stasiun Cianjur sendiri juga menjadi pusat distribusi barang kebutuhan pokok yang diambil dari kota-kota besar, seperti garam dan komoditas lainnya.

Stasiun Cianjur yang dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda di tahun 1882 ini diresmikan pada 10 Mei 1883 bersamaan dengan pembukaan jalur kereta Sukabumi-Cianjur. Stasiun Cianjur awalnya memiliki enam jalur, termasuk jalur menuju gudang di seberang stasiun. Karena sebagian besar kereta api lintas Jakarta–Bandung beroperasi melalui jalur Cikampek – Padalarang, maka jumlah jalur di stasiun ini berkurang menjadi tiga karena lalu lintas yang lengang.

Keunikan stasiun ini juga ada pada suara bel kedatangan kereta api. Yaitu berupa diputarnya 3 lagu daerah yakni “Manuk Dadali”, “Karatagan Pahlawan” dan “Ayun Ayun Ambing”. Selain itu stasiun ini menjadi saksi bisu melayani beberapa kereta api yang melintas dari dulu hingga kini.

Stasiun Cianjur dahulu melayani Kereta Api Cianjuran dengan rute Padalarang–Cianjur. Namun, pengoperasian kereta api tersebut dihentikan pada 2013 karena kereta api lokal tersebut tidak ada kontrak PSO antara PT KAI dan Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan Republik Indonesia.

Kemudian ada juga Kereta Api Siliwangi yang beroperasi mulai 8 Februari 2014 lintas Sukabumi – Cianjur. Kala itu Kereta Api Siliwangi terus melayani penumpang hingga Stasiun Cianjur. Namun pada 21 September 2020, Kereta Api Siliwangi akhirnya melayani jurusan baru yaitu jurusan Sukabumi – Cianjur dan Cipatat Kabupaten Bandung Barat. Stasiun Cipatat menjadi stasiun terakhir perjalanan Kereta Api Siliwangi yang hanya memiliki 2 jalur.

Warga Cianjur Antusias dengan Kehadiran Kereta Api yang Terhubung Langsung ke Jakarta

Menembus Gelap Arktik: Kereta Malam Panoramik Aurora Pertama di Dunia Resmi Meluncur

Norwegia kembali mengukuhkan diri sebagai pionir dalam pariwisata berkelanjutan dengan meluncurkan layanan kereta malam panoramik pertama di dunia yang dirancang khusus untuk memburu Northern Lights atau Aurora Borealis.

Diluncurkan secara resmi pada 9 Desember 2025, kereta yang dikenal dengan nama Northern Lights Train ini menawarkan pengalaman “observatorium berjalan” yang mengubah cara wisatawan menikmati langit Arktik tanpa harus kedinginan di luar ruangan.

Keunggulan utama kereta ini terletak pada gerbongnya yang revolusioner. Berbeda dengan kereta konvensional, gerbong panoramik ini memiliki dinding hingga atap yang hampir sepenuhnya terbuat dari kaca khusus berkualitas tinggi. Desain ini memberikan pandangan 180 derajat ke langit terbuka, memungkinkan penumpang untuk tetap berbaring di kursi ergonomis yang dapat direbahkan menghadap ke atas sambil menunggu tarian cahaya hijau di langit.

Detail teknis yang paling menarik adalah penggunaan sistem pencahayaan internal yang sangat minim dan menggunakan spektrum cahaya rendah. Hal ini dirancang sengaja untuk menghilangkan pantulan pada kaca dan menjaga penglihatan malam (night vision) penumpang tetap optimal, sehingga pendaran Aurora yang paling redup sekalipun dapat terlihat jelas dari dalam kabin.

Kereta Panoramic, Era Baru KAI Melihat Pemandangan Lebih Luas Selama Perjalanan

Kereta ini beroperasi di jalur bersejarah Ofoten Line, berangkat dari kota pelabuhan Narvik, yang merupakan salah satu titik paling utara di dunia yang terhubung dengan jaringan kereta api. Narvik terletak tepat di bawah “oval aurora”, area dengan aktivitas geomagnetik paling aktif di bumi.

Perjalanan ini dilakukan pada malam hari, menjauh dari polusi cahaya kota menuju wilayah pegunungan yang terisolasi di perbatasan Norwegia dan Swedia. Salah satu pemberhentian paling ikonik adalah di Stasiun Katterat, sebuah lokasi terpencil yang tidak memiliki akses jalan raya, menjadikannya salah satu tempat tergelap dan terbaik di dunia untuk melihat fenomena Aurora secara maksimal.

Selain kenyamanan, kereta ini juga dilengkapi dengan teknologi pemantauan aktivitas matahari secara real-time. Selama perjalanan, para ahli dan pemandu akan memberikan informasi mengenai kapan kemungkinan besar Aurora akan muncul berdasarkan data sensor terbaru. Tidak hanya itu, kereta ini sepenuhnya bertenaga listrik yang bersumber dari energi terbarukan, menjadikannya alternatif perjalanan yang jauh lebih hijau dibandingkan melakukan perburuan Aurora menggunakan bus atau mobil.

Layanan ini dijadwalkan beroperasi secara intensif mulai Oktober hingga Maret, bertepatan dengan musim dingin Arktik di mana malam berlangsung sangat panjang. Menariknya, peluncuran tahun 2025 ini dilakukan saat matahari sedang mendekati siklus puncak aktivitasnya (Solar Maximum), yang diprediksi akan menghasilkan tampilan Northern Lights paling spektakuler dalam satu dekade terakhir.

Bagi mereka yang ingin merasakan sensasi lebih dekat dengan alam, kereta ini juga menyediakan sesi berhenti di tengah pegunungan di mana penumpang bisa turun sejenak untuk berfoto di samping api unggun yang telah disiapkan di atas salju, sebelum melanjutkan perjalanan dalam kehangatan kabin kaca yang mewah.

Islandia (1): Menjejakkan Kaki di Negeri Surga Aurora

KAI Target Penumpang LRT Jabodebek Naik Segini Sepanjang Libur Nataru 2026

PT KAI menargetkan penumpang LRT Jabodebek meningkat 10-15 persen dibanding tahun lalu sepanjang masa libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru), mulai 18 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026.

Baca juga: KAI Optimis 100 Persen Operasional LRT Jabodebek Lancar Selama Libur Nataru

“Pertumbuhan penumpang pasti iya (ada kenaikan) karena jumlah trainset yang beroperasi untuk Nataru ini per 1 Desember kemarin kan bertambah dibanding tahun kemarin sekitar 20 trainset sedangkan untuk per 1 Desember ini kan 26 trainset,” ujar Manager Public Relations LRT Jabodebek, Radhitya Mardika Putra, Kamis (18/12/2025).

“Persentasenya (kenaikannya) berkisar 10-15 persen (dibanding tahun lalu),” tambahnya.

Untuk diketahui, sepanjang periode Angkutan Natal 2024 dan Tahun Baru 2025 (19 Desember 2024 – 5 Januari 2025), LRT Jabodebek melayani sebanyak 1.142.377 pengguna, meningkat signifikan sebesar 84,25 persen atau 522.364 pengguna dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 620.013 pengguna.

Sepanjang Libur Nataru 2025-2026, KAI mengoperasikan 26 trainset dengan 430 perjalanan per hari pada hari kerja (weekday) dari sebelumnya 24 trainset LRT Jabodebek dengan 396 perjalanan per hari. Headway-nya sendiri berkisar 10 menit.

Sementara itu pada akhir pekan dan libur nasional, KAI mengoperasikan 270 perjalanan LRT Jabodebek per hari dengan headway sekitar 15 menit.

Baca juga: Wajib Tahu! Ini Dia Tarif LRT Jabodebek Jika Tanpa Subsidi

“Selama masa Angkutan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, KAI melakukan koordinasi intensif dengan berbagai pemangku kepentingan melalui Posko Angkutan. Posko ini berfungsi sebagai pusat pemantauan operasional, koordinasi lintas fungsi, serta pengambilan keputusan secara cepat dan terukur untuk menjaga kelancaran layanan LRT Jabodebek,” pungkas Radit.

Selama periode Libur Nataru 2025-2026, KAI menyiagakan 1.419 petugas LRT Jabodebek yang terdiri dari Train Attendant, Station Officer, Ticketing Officer, Passenger Officer, petugas kebersihan, paramedis, serta petugas keamanan. Para petugas tersebut akan bersiaga di stasiun, rangkaian kereta, dan titik-titik strategis untuk memastikan layanan berjalan sesuai prosedur.

 

 

China Airlines Pesan (Lagi) Lima Unit Airbus A350-1000

China Airlines dari Taiwan telah memesan lima pesawat Airbus A350-1000 tambahan, sehingga total pesanannya untuk tipe pesawat tersebut menjadi 15 unit. Pesawat-pesawat ini akan bergabung dengan armada 15 pesawat A350-900 yang sudah ada dan beroperasi di jaringan rute jarak jauh maskapai tersebut.

“Perluasan armada A350-1000 kami menandai langkah penting lainnya dalam strategi pertumbuhan jangka panjang kami. Efisiensi dan kenyamanan penumpang yang luar biasa dari A350 sejalan dengan tujuan kami untuk memodernisasi armada, meningkatkan daya saing penerbangan jarak jauh, dan memberikan pengalaman perjalanan yang lebih baik kepada pelanggan kami,” kata Kao Shing-Hwang, Ketua China Airlines.

“Kami sangat menghargai kemitraan jangka panjang kami dengan China Airlines. Pesanan lanjutan ini merupakan wujud kepercayaan yang kuat terhadap A350-1000 sebagai pesawat yang tepat untuk ambisi jaringan China Airlines di masa depan. Efisiensi, jangkauan, dan kenyamanan kabin generasi berikutnya akan memberikan nilai yang lebih besar bagi maskapai dan penumpangnya,” kata Benoit de Saint-Exupéry, Wakil Presiden Eksekutif Penjualan Pesawat Komersial Airbus.

Profil China Airlines, Maskapai Nasional Taiwan yang ‘Alergi’ Pakai Nama ‘China’

A350 adalah pesawat berbadan lebar paling modern di dunia, dirancang untuk terbang hingga 9.800 mil laut / 18.000 kilometer tanpa henti, menetapkan standar baru untuk perjalanan antarbenua. Pesawat ini mencakup teknologi dan aerodinamika mutakhir yang memberikan standar efisiensi dan kenyamanan yang tak tertandingi.

Mesin Rolls-Royce generasi terbaru dan penggunaan material ringan memberikan keuntungan 25 persen dalam hal konsumsi bahan bakar, biaya operasional, dan emisi karbon dioksida (CO₂) , dibandingkan dengan pesawat pesaing generasi sebelumnya. Kabin Airspace yang unik pada A350 menawarkan kepada penumpang dan awak pesawat produk-produk modern terbaru dalam penerbangan untuk pengalaman terbang yang nyaman.

Seperti semua pesawat Airbus, A350 sudah mampu beroperasi dengan hingga 50% Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan (Sustainable Aviation Fuel/SAF). Airbus menargetkan agar pesawatnya mampu beroperasi hingga 100% menggunakan SAF pada tahun 2030.

Pada akhir November 2025, keluarga A350 telah memenangkan hampir 1.500 pesanan dari 66 pelanggan di seluruh dunia.

Setelah 20 Tahun, Japan Airlines Pensiunkan Unit Perdana Boeing 777-300ER, Digantikan Airbus A350-1000