Wisata ke museum bukan sekadar berkunjung dan melihat koleksi yang dimiliki. Namun betapa pentingnya sejarah yang dipelajari sebagai ilmu dan edukasi penting sejak zaman Kolonial Belanda. Salah satu museum yang terkenal dan hingga kini masih terus dijaga bangunan serta aset didalamnya yaitu Museum Lawang Sewu yang berlokasi di Semarang, Jawa Tengah.
PT Kereta Api Indonesia Persero atau KAI terus mengembangkan pengelolaan aset heritage sebagai ruang edukasi, pelestarian sejarah, dan destinasi wisata masyarakat di Museum Lawang Sewu. Sepanjang 2024 hingga Agustus 2026, Lawang Sewu di Semarang dan Museum Kereta Api Ambarawa di Kabupaten Semarang mencatat total 2.127.125 kunjungan.
Dari jumlah tersebut, Lawang Sewu mencatat 1.636.638 kunjungan, sedangkan Museum Kereta Api Ambarawa menerima 490.487 kunjungan. Angka tersebut mencerminkan besarnya ketertarikan masyarakat untuk menikmati destinasi wisata yang menghadirkan pengalaman sejarah secara langsung.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menyampaikan bahwa sejarah kereta api memiliki kedekatan dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Selama lebih dari satu setengah abad, kereta api telah menjadi bagian dari perjalanan kota, aktivitas ekonomi, perkembangan teknologi, hingga berbagai peristiwa penting bangsa.
Diketahui bahwa Lawang Sewu merupakan salah satu bangunan bersejarah paling dikenal di Semarang. Gedung yang mulai digunakan sebagai kantor pusat administrasi perusahaan kereta api Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) pada 1907 tersebut kini menjadi destinasi yang memperkenalkan perjalanan perkeretaapian melalui koleksi benda, dokumentasi, serta informasi mengenai perkembangan transportasi rel Indonesia.
Selain itu, KAI mencatat 656 aset heritage yang telah berstatus cagar budaya maupun sedang dalam proses penetapan. Aset tersebut mencakup stasiun, bangunan, struktur, serta sarana perkeretaapian yang tersebar di berbagai wilayah operasional. Beberapa di antaranya adalah Stasiun Jakarta Kota, Stasiun Bandung, Stasiun Semarang Tawang, Stasiun Yogyakarta, hingga berbagai jembatan, terowongan, bengkel, depo, dan lokomotif bersejarah.
Salah satu jejak yang memiliki nilai sejarah penting adalah lintas Kedungjati–Tuntang–Ambarawa di Jawa Tengah. Jalur yang berkaitan dengan perkembangan jaringan kereta api sejak 1873 tersebut menjadi bagian dari perjalanan awal transportasi rel di Indonesia dan memiliki potensi pengembangan wisata berbasis sejarah.
Sebagai bagian dari pengenalan dan pelestarian sejarah perkeretaapian, KAI akan menyelenggarakan Rail Heritage Forum 2026 pada 9 November 2026 di Lawang Sewu, Semarang, dengan mengangkat tema 1867 & Beyond: Preserving the Past, Shaping the Future. Forum ini bertujuan untuk membahas nilai sejarah perkeretaapian, pemanfaatan aset heritage, serta peluang kolaborasi dalam menghadirkan pengalaman edukasi dan wisata yang relevan bagi masyarakat.
Tahun 1867 memiliki arti penting karena menandai mulai beroperasinya jalur kereta api Semarang–Tanggung pada 10 Agustus 1867. Dari lintasan awal tersebut, jaringan perkeretaapian Indonesia berkembang dan menjadi bagian penting dalam mobilitas masyarakat hingga saat ini. Warisan sejarah perlu terus dikenalkan agar generasi berikutnya memahami perjalanan yang membentuk Indonesia hari ini.
KAI pun berharap semakin banyak masyarakat menjadikan museum perkeretaapian sebagai pilihan wisata keluarga, tujuan kegiatan pendidikan, dan ruang untuk mengenal sejarah Indonesia dari perspektif transportasi, budaya, dan perkembangan kota.
Museum Kereta Api Bondowoso, Saksi Sejarah Gerbong Maut Pengangkut 100 Pejuang Kemerdekaan
