Museum Kereta Api Bondowoso, Saksi Sejarah Gerbong Maut Pengangkut 100 Pejuang Kemerdekaan

Museum kereta api stasiun Bondowoso

Menjadi salah satu dari tiga stasiun kereta api di Indonesia setelah Ambarawa dan Sawahlunto, Bondowoso juga merupakan museum kereta pertama di Jawa Timur. Stasiun ini pernah menjadi saksi sejarah pengangkutan 100 pejuang yang menjadi tawanan penjajah Belanda dan dikenal dengan peristiwa gerbong maut.

Baca juga: Di Sawahlunto, Ternyata Juga Ada Museum Kereta Api

Uniknya museum kereta Bondowoso diresmikan pada perigatan Kemerdekaan Indonesia ke-71 atau pada 17 Agustus 2016 yang juga sekaligus peringatan hari jadi Bondowoso ke 197. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, bahwa stasiun Bondowoso diresmikan menjadi museum oleh bupati Bondowoso Amin Said Husni yang saat itu menjabat.

Museum kereta api Bondowoso sendiri saat ini juga berstastus cagar budaya dan dibagi beberapa ruang pamer. Ruang pamer pengantar, pamer utama, pamer gerbong maut, pamer komoditas dan kedepannya ada ruang PPKA. Koleksi museum Bondowoso ini terdiri dari peralatan kerja yang pernah digunakan kereta api dari masa ke masa seperti Edmonson, mesin cetak tanggal karcis, lampu Hansen, stempel, mesin tik, telepon, topi PPKA, pluit, foto dan reglement.

Stasiun Bondowoso masa lalu

Adapula beberapa miniatur lokomotif, berbagai foto pejuang dan pernak pernik peninggalan masa perjuangan pahlawan Indonesia di Bondowoso. Tak hanya melihat koleksi, para pengunjung museum juga bisa menikmati film suasana kereta api tempo dulu di museum kereta api Bondowoso.

Menjadi salah satu destinasi baru, museum ini juga menjadi sarana pendidikan untuk mengenal sejarah terutama sejarah perkeretaapian Indonesia. Membahas Bondowoso, di ruang museum komoditas, pengunjung akan mendapat informasi tentang peristiwa gerbong maut yang terjadi pada 23 November 1947, saat 46 dari 100 pejuang yang ditawan mati lemas setelah perjalanan 16 jam dengan menahan lapar serta dahaga. Saat itu diketahui, gerbong kereta ketiga tersebut terbuat dari plat baja tanpa ventilasi dan memberangkatkan pejuang yang ditawan dari Bondowoso menuju Surabaya.

Pemindahan tahanan dilakukan dengan menggunakan kereta api. Setiap satu gerbong diisi sekitar 30 orang. Gerbong pertama GR5769 dan gerbong kedua GR4416 masih memiliki lubang ventilasi udara meskipun sangat kecil, namun gerbong ketiga GR10152 tidak ada ventilasi sama sekali meski baru dibuat.

Kini, meski tinggal kenangan, kisah ini menjadi salah satu bukti kepahlawanan anak bangsa melawan penjajah. Stasiun Bondowoso sendiri merupakan stasiun kereta api kelas I yang terletak di Kademangan, Bondowoso.

Stasiun ini berada di ketinggian +253 meter dan masuk dalam Daerah Operasional IX Jember. Dulu sempat melayani kereta lokal tujuan Jember-Panarukan (PP) dan tahun 2004 lalu kereta api tersebut di nonaktifkan karena prasarana yang sudah sangat tua. Berada hanya satu kilometer dari alaun-alun kota, stasiun ini memiliki enam jalur kereta dengan jalur 2 sebagai sepur lurus. Namun sebelum akhirnya di nonaktifkan, jalurnya hanya tersisa dua saja.

Gerbong maut pembawa pejuang Indonesia

Jalur stasiun Bondowoso ini tahun 2017 lalu sempat akan diaktifkan kembali dengan tujuan ke Tamanan dan akan digunakan sebagai angkutan wisata loko uap Bondowoso-Tamanan (PP) sembari menunggu pembangunan kembali jalur kereta api Kalisat-Panarkan yang masih tertunda.

Baca juga: Gandeng Belanda Lestarikan Kereta Jadul, PT KAI Optimis Museum Ambarawa Jadi Yang Terbesar di Asia

Bangunan stasiun Bondowoso memiliki gaya Indische Empire Style yang merupakan gaya arsitektur kolonial pada abad ke-18 dan ke-19 sebelum terjadinya westernisasi pada kota-kota di Indonesia awal abad ke-20. Gaya ini sendiri dibangun dan disesuaikan dengan iklim, teknologi dan bahan bangunan setempat.

Namun Indische Empire Style mengalami perubahan karena di abad ke-19, kota Bondowoso semakin padat sehingga, gaya tersebut yang memerlukan lahan luas terpaksa harus menyesuaikan diri dengan keadaan.