Tepat hari ini 20 tahun lalu, dunia penerbangan komersial mencatatkan tonggak sejarah penting pada 26 Agustus 2006. Pabrikan pesawat raksasa asal Amerika Serikat, Boeing, secara resmi memperkenalkan (unveiled/rollout) varian terbaru dari keluarga Next-Generation 737, yaitu Boeing 737-900ER (Extended Range).
Momen bersejarah tersebut menjadi perhatian publik penerbangan global karena menempatkan maskapai penerbangan swasta asal Indonesia, Lion Air, sebagai launch customer atau pemesan pertama di dunia untuk tipe pesawat berbadan sempit (narrow-body) berkapasitas ekstra ini. Kehadiran 737-900ER tidak hanya mengubah peta persaingan industri aviasi nasional, tetapi juga membuktikan ambisi besar maskapai berbiaya hemat (Low-Cost Carrier/LCC) asal Indonesia dalam memimpin ekspansi rute di kawasan Asia Tenggara.
Pengembangan varian 737-900ER lahir dari kebutuhan pasar akan pesawat lorong tunggal yang mampu mengangkut lebih banyak penumpang dengan jarak tempuh yang lebih jauh. Dibandingkan dengan varian 737-900 standar yang memiliki keterbatasan kapasitas pintu darurat, Boeing merancang 737-900ER dengan penambahan sepasang pintu keluar darurat di belakang sayap (exit doors) serta sekat tekanan belakang (flat-rear pressure bulkhead).
Perubahan desain ini memungkinkan kapasitas angkut dinaikkan hingga 215 penumpang dalam konfigurasi kelas tunggal hemat (all-economy class). Selain itu, dengan dukungan tangki bahan bakar tambahan dan teknologi blended winglets, pesawat ini mampu melayang sejauh 3.200 mil laut (sekitar 5.925 km), menjadikannya armada yang sangat ekonomis dan efisien untuk rute-rute padat jarak menengah.
Keputusan Lion Air memesan pesawat ini dalam jumlah besar—yang dimulai dari komitmen awal 30 unit hingga membengkak menjadi puluhan unit berikutnya—menjadi bahan pembicaraan hangat di kalangan analis penerbangan dunia. Langkah berani yang dipelopori oleh pendiri Lion Air saat itu tidak hanya memperkuat posisi armada mereka di pasar domestik yang sedang tumbuh pesat, tetapi juga memberikan tekanan kompetitif kepada kompetitor regional. Efisiensi biaya operasional per kursi (cost per seat) yang 7 persen lebih murah dibandingkan pesaing sekelasnya membuat model bisnis penerbangan bertarif rendah di Indonesia kian kompetitif dan terjangkau bagi masyarakat luas.
Kini, tepat dua dekade sejak babak baru Boeing 737-900ER diumumkan ke hadapan publik, jajaran armada ini telah menjadi tulang punggung utama mobilitas masyarakat di tanah air. Kesuksesan integrasi 737-900ER oleh Lion Air kemudian diikuti oleh berbagai maskapai internasional ternama lainnya di dunia.
Peluncuran pesawat ini pada Agustus 2006 menjadi bukti nyata bagaimana maskapai penerbangan asal Indonesia pernah menjadi pendorong utama tren industri penerbangan komersial global, membuktikan bahwa pasar aviasi Nusantara memiliki pengaruh yang sangat diperhitungkan di panggung dunia.
Lion Air Telah Hadirkan “WiFi on Board Entertainment” di Tujuh Armada Boeing 737-900ER
