Monday, August 3, 2026
HomeAnalisa AngkutanBersantai dan Menikmati Menu Kafe di Stasiun Bedono yang Legendaris

Bersantai dan Menikmati Menu Kafe di Stasiun Bedono yang Legendaris

Dikenal dengan sejarahnya yang legendaris, stasiun yang berada di wilayah Daerah Operasi (Daop) 4 Semarang ini memang sudah lama tak dioperasikan. Ya, Stasiun Bedono yang sebelumnya merupakan stasiun untuk perjalanan kereta wisata menuju Stasiun Ambarawa ini ternyata sudah beralih fungsi untuk masyarakat. Jika dilihat, Stasiun Bedono memang masih terawat rapi dengan berbagai bangunan yang beridiri kokoh serta jalur kereta api yang masih utuh.

Stasiun yang berada pada ketinggian 711 meter di atas permukaan laut, yang menjadikan stasiun ini sebagai stasiun tertinggi di Jawa Tengah. Karena berada pada wilayah cagar budaya, tentu stasiun ini memiliki sejarah panjang yang melegenda.

Stasiun ini pertama kali dibangun dan diresmikan oleh Nederlandsche Indische Spoorweg Maatschappij, sebagai bagian dari pembangunan jalur kereta api bergerigi dengan sistem Riggenbach antara Stasiun Ambarawa-Stasiun Secang pada tahun 1905.

Stasiun ini berperan sebagai stasiun persinggahan untuk melakukan pergantian posisi lokomotif, baik dari arah Secang maupun arah Ambarawa. Salah satu lokomotif uap yang pernah melakukan pergantian posisi lokomotif adalah lokomotif B25.

Stasiun ini pada awalnya memiliki 4 jalur. Tetapi seiring dengan menurunnya lalu lintas kereta api antara lintas Kedungjati-Ambarawa-Secang, maka Stasiun Bedono pada masa kini hanya memiliki 3 jalur saja. Sampai saat ini, Stasiun Bedono masih digunakan sebagai bagian dari wilayah Museum Kereta Api Ambarawa. Dan juga merupakan saksi bisu kejayaan kereta api dengan jalur bergerigi, satu-satunya di Pulau Jawa dan masih dilestarikan hingga saat ini.

Meski begitu, Stasiun Bedono ternyata tak pernah sepi oleh masyarakat. Karena biasanya, jika stasiun yang tidak adanya aktivitas naik turun penumpang pasti terlihat sepi oleh masyarakat. Stasiun Bedono justru tidak pernah kehilangan pesonanya. Tempat ini justru menjelma menjadi destinasi yang ramah keluarga, menawarkan perpaduan tempat nongkrong yang tenang sekaligus ruang belajar sejarah terbuka bagi si kecil.

Bahkan selain masyarakat bisa melihat dan menikmati kekokohan bangunannya yang bisa di jadikan edukasi, Stasiun Bedono juga hadir dengan wajah baru. Bangunan bersejarah peninggalan era kolonial Belanda itu disulap menjadi tempat ngopi yang menawarkan pengalaman berbeda bagi pengunjung. Transformasi Stasiun Bedono menjadi kafe tidak hanya menghadirkan ruang nongkrong yang unik, tetapi juga menjadi upaya menghidupkan kembali salah satu aset sejarah perkeretaapian di Jawa Tengah.

Hadir dengan nama Train Coffee Stasiun Bedono, kafe ini membuat bangunan yang dahulu menjadi bagian penting jalur kereta api Ambarawa–Secang tersebut kembali ramai dikunjungi masyarakat. Kafe tersebut resmi melakukan grand opening pada 29 Mei 2026 dan menjadi upaya untuk menghidupkan kembali kawasan Stasiun Bedono yang selama ini tidak lagi beroperasi sebagai jalur kereta aktif.

Jika ingin lebih santai, pengelola menyediakan tikar yang dapat digunakan untuk lesehan di bawah pohon. Pengelola Train Coffee Stasiun Bedono, Valen, mengatakan konsep yang diusung tidak sekadar tempat nongkrong, tetapi juga ruang yang menghadirkan suasana nyaman dan tenang di tengah bangunan bersejarah perkeretaapian Indonesia.

Selain menghadirkan kafe, pengelola juga menggandeng pelaku UMKM lokal untuk berjualan di area stasiun. Berbagai kuliner tradisional seperti cendol, pecel dan makanan tradisional lainnya menjadi bagian dari konsep yang ditawarkan kepada pengunjung. Keberadaan UMKM tersebut diharapkan mampu membuka peluang usaha baru bagi warga sekitar sekaligus menggerakkan perekonomian lokal.

Liburan ke Semarang? Yuk, Wisata Edukasi KA ke Lawang Sewu dan Museum Ambarawa

RELATED ARTICLES

Yang Terbaru