Stasiun Cibatu, Nuansa Vintage Yang Tak Lekang Ditelan Zaman

Stasiun Cibatu

Stasiun Cibatu saat ini mungkin tak terlalu dikenal banyak orang, tapi justru popularitas stasiun ini berkibar di era 1920-an, saat dimana perkeretaapian di Tanah Air berada dalam penguasaan Kolonial Belanda. Pada masa kolonial, Cibatu merupakan stasiun kelas I karena peran dan keberadaannya sangat penting. Namun kini stasiun Cibatu hanya merupakan stasiun kelas II yang berada di Cibatu, Garut. Terletak di ketinggian +612 meter ini merupakan stasiun yang masuk dalam Daerah Operasional II Bandung.

Baca juga: Stasiun Lebak Jero, Suguhkan Pemandangan Cantik Hingga Jalur Elok Berbentuk “S”

Dibangun tahun 1889 setelah diresmikannya jalur kereta api yang menghubungkan stasiun Cicalengka dengan Cilacap oleh Staatsspoorwegen (SS) perusahaan kereta milik pemerintah Hindia Belanda. KabarPenumpang.com mendapatkan fakta bahwa, stasiun Cibatu ini pernah disinggahi orang-orang terkenal baik dari dalam maupun luar Indonesia. Seperti komedian bintang Hollywood Charlie Chaplin yang menjejakkan kakinya dua kali di stasiun Cibatu.

Charlie Chaplin saat menyambangi stasiun Cibatu

Pada kunjungannya yang pertama tahun 1927, dirinya sampai ke stasiun Cibatu bersama Mary Pickford dan kunjungannya yang kedua tahun 1935 bersama sang istri Paulette Goddard. Bukti Sir Charles Spencer alias Charlie Chaplin ini datang ke Garut adalah dari foto yang diabadikan oleh Thilly Weissenborn. Thilly merupakan seorang fotografer ketururnan Jerman yang lahir di Kediri, Jawa Timur. Dari Thilly juga Chaplin mengetahui indahnya pesona Garut melalui kartu pos yang dikirimkannya.

Diketahui ada tiga foto yang diabadikan Thilly saat Chaplin tiba di stasiun dan memperlihatkan keceriaan masyarakat Garut. Saat sampai di Cibatu, Chaplin tak menggunakan jas sempit dan celana kedodoran, topi hitam andalan serta kumis petaknya. Melainkan datang dengan setelan jas berdasi rapi yang lengkap dengan topi bundar.

Tak hanya Chaplin, Perdana Menteri Perancis yang menjabat selama dua periode, Georges Clemenceau pernah menjejakkan kakinya di stasiun Cibatu. Clemenceau merupakan pendiri koran La Justice (1880), L’Aurore (1897), dan L’Homme Libre (1913) sekaligus penulis politik terkemuka.

Stasiun Cibatu pada masa lalu

Selang satu tahun setelah Kemerdakaan Indonesia, yakni pada 1946 presiden Soekarno dan wakilnya Mohammad Hatta juga sempat menikmati indahnya stasiun Cibatu bersama ibu Fatmawati dan Rachmi Hatta. Bapak Proklamator ini berhenti di Cibatu dalam rangka perjalanannya menggunakan kereta api luar biasa melalui jalur selatan dan turun di setiap stasiun termasuk Cibatu untuk berpidato karena di minta oleh masyarakat.

Stasiun Cibatu sendiri menjadi salah satu perhentian wisatawan yang ingin melancong ke Garut. Apalagi wisata alam Garut yang terbilang lengkap di tahun 1920-an dimana wisatawan bisa berkunjung ke kawah Papandayan dan Kamojang.

Tak hanya itu bisa menikmati gunung-gunung yang tersebar karena Garut di kepung tak kurang dari lima gunung. Bermain air di situ atau telaga, curug atau air terjun hingga pemandian air panas.

Baca juga: KA “Simandra,” Kereta Api Ekonomi Lokal Tanpa Sensasi Mandra

Bukan hanya pemandangan indah saja yang mengelilingi stasiun Cibatu, dulu di stasiun ini juga terdapat dipo lokomotif. Biasanya digunakan untuk tempat perbaikan serta pemeliharaan lokomotif uap.

Dipo ini juga berfungsi sebagai dipo lokomotif cadangan jika harus ada penggantian dalam perjalanan dikarenakan rusak atau butuh tenaga tambahan. Sayangnya dipo tersebut tak lagi beroperasi sejak tahun 1983 seiring ditutupnya jalur Cibatu-Garut-Cikajang. Padahal dipo tersebut sebagai salah satu dipo utama dan kini hanya berstatus sub dipo.