Sejarah perkeretaapian di Indonesia bukan sekadar dilihat dari perjalanan panjang yang melayani masyarakat hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Tapi sejarah melihat dari hasil pembangunan di area kereta api yang masih berdiri kokoh sejak jaman Kolonial Belanda. Bahkan bangunan tersebut masih tetus digunakan karena perawatan yang kerap kali dilakukan hingga kini.
Salah satu bangunan yang paling legenda bahkan bisa dibilang usianya yang sangat tua adalah terowongan. Karena di balik megahnya lanskap perbukitan baik Jawa maupun Sumatera, berdiri kokoh puluhan terowongan kereta api bersejarah yang menjadi saksi bisu lahirnya moda transportasi modern di Indonesia sejak akhir abad ke-19. Tak sekadar lorong batu, infrastruktur ini menyimpan kisah perjuangan teknik konstruksi masa lalu dalam mendukung pengangkutan hasil bumi hingga industri pertambangan.
PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI merangkum sepuluh terowongan legendaris yang menggambarkan betapa ekstremnya tantangan geografis Indonesia saat jaringan rel mulai dibentangkan. Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menyampaikan bahwa terowongan bersejarah ini menyimpan nilai pendidikan yang sangat penting bagi generasi muda.
Anne menambahkan, terowongan bersejarah memiliki nilai edukasi yang penting untuk dikenalkan kepada masyarakat. Keberadaannya menggambarkan perkembangan teknik konstruksi pada masa lalu sekaligus memperlihatkan bagaimana kondisi geografis Indonesia memengaruhi pembangunan jaringan kereta api. Nah, berikut ini daftar terowongan kereta api yang bahkan sudah memasuki usia paling tua:
1. Terowongan Batulawang – Jawa Barat (1914)
Memiliki panjang 281,5 meter di jalur nonaktif Banjar–Cijulang, Terowongan Batulawang dahulu menjadi jalur penting penghubung kawasan selatan Jawa Barat dengan jaringan transportasi nasional.
2. Terowongan Sasaksaat – Jawa Barat (1902–1903)
Terowongan sepanjang 949 meter di lintas Purwakarta–Padalarang ini menyimpan kisah teknis luar biasa. Saat menembus cadas keras, pekerja menambang secara manual tanpa bahan peledak demi menjaga stabilitas tanah, dibantu penerangan dinamo listrik.
3. Terowongan Garahan – Jawa Timur (1901–1902)
Berada di medan perbukitan lintas Jember–Banyuwangi, Terowongan Garahan membentang sepanjang 113 meter untuk membuka akses transportasi di ujung timur Pulau Jawa.
4. Terowongan Mrawan – Jawa Timur (1901–1902)
Membendung kawasan Gunung Gumitir dengan panjang 690 meter, Terowongan Mrawan digali secara ekstrem dari dua sisi bukit sekaligus untuk menghubungkan wilayah Jember dan Banyuwangi.
5. Terowongan Kupitan – Sumatra Barat (1892–1894)
Memiliki panjang sekitar 600 meter pada lintas Muara Kalaban–Padang Sibusuk, terowongan ini menjadi bagian dari ekspansi jalur rel Sumatra Barat untuk menyokong pengangkutan komoditas daerah.
6. Terowongan Lubang Kalam – Sumatra Barat (1892–1894)
Terowongan sepanjang 828 meter di lintas Sawahlunto–Muara Kalaban ini terikat erat dengan sejarah Tambang Batu Bara Ombilin. Lorong ini menjadi urat nadi pengangkutan batu bara menuju Pelabuhan Emmahaven (Teluk Bayur) untuk pasar internasional, yang kini ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO.
7. Terowongan Lembah Anai I – Sumatra Barat (1890–1891)
Menembus curamnya pegunungan Lembah Anai, terowongan sepanjang 100 meter ini dibangun untuk merajut konektivitas antara wilayah pedalaman Minangkabau dengan kawasan pesisir.
8. Terowongan Lembah Anai II – Sumatra Barat (1890–1891)
Berada di lintasan yang sama dengan panjang 200 meter, medan ekstrem Lembah Anai memicu digunakannya teknologi rel bergigi agar armada kereta sanggup merayap di tanjakan terjal.
9. Terowongan Ijo Lama – Jawa Tengah (1885–1886)
Terletak di Kebumen, terowongan sepanjang 580 meter ini menjadi simpul vital jaringan rel di selatan Pulau Jawa. Keberadaannya menghubungkan pusat-pusat ekonomi dan permukiman warga di balik benteng perbukitan.
10. Terowongan Lampegan – Jawa Barat (1879–1882)
Berada di kawasan Cianjur dengan panjang historis 686 meter, Terowongan Lampegan memegang predikat sebagai terowongan kereta api tertua di Indonesia. Jalur ini dibangun untuk menembus perbukitan Priangan demi memperlancar pengangkutan komoditas hasil perkebunan.
Kabar dari berbagai sumber bahwa pembangunan terowongan di Indonesia berlangsung sejajar dengan era keemasan rekayasa teknik dunia, seperti Terowongan Gotthard di Swiss (15 km, 1882) dan Terowongan Simplon (19,8 km, 1906). Warisan Tambang Batu Bara Ombilin Sawahlunto pun diakui UNESCO pada 2019 atas integrasi pertambangan dan transportasi relnya.
Saat ini tahun 2026 perkeretaapian Indonesia telah memasuki usia 159 tahun. Tentu ini menjadi sangat penting untuk merawat museum dan arsip sejarah agar masyarakat terus memetik pembelajaran lintas bidang dari mahakarya infrastruktur ini.
Sensasi Naik Kereta Api di Bumi Parahyangan Melewati Jembatan Terpanjang dan Tertua
