Tepat pada 27 Oktober 1988, dunia penerbangan komuter global mencatatkan sejarah penting dengan dilaksanakannya penerbangan perdana (maiden flight) pesawat penumpang turboprop ATR-72.
Dirancang sebagai pengembangan berkapasitas lebih besar dari pendahulunya, ATR-42, armada turboprop ini lepas landas untuk pertama kalinya dan memulai perjalanan panjang menjadi salah satu tulang punggung penerbangan regional paling sukses di dunia. Kehadirannya hingga kini terus dirasakan manfaatnya secara luas, termasuk dalam menghubungkan antar-pulau dan kota-kota sekunder di seluruh pelosok Nusantara.
Penerbangan perdana ATR-72 diselenggarakan di fasilitas perakitan utama pabrikannya di Toulouse, Perancis, mengingat konsorsium ATR merupakan kemitraan strategis antara produsen dirgantara Aerospatiale dari Perancis dan Aeritalia dari Italia.
Dalam pengujian perdana yang berlangsung selama kurang lebih 1 jam 30 menit tersebut, tim penerbang uji melakukan serangkaian verifikasi awal atas stabilitas penerbangan, kontrol kendali, serta performa mesin. Momen bersejarah ini sekaligus menandai dibukanya program sertifikasi intensif sebelum akhirnya unit komersial pertama resmi dikirimkan kepada maskapai peluncur, Finnair, pada akhir tahun 1989.
Gagasan di balik penciptaan ATR-72 berawal dari kebutuhan maskapai regional akan pesawat berkapasitas muat lebih besar dan jangkauan lebih jauh, namun tetap mempertahankan efisiensi operasional khas mesin turboprop.
Produsen ATR memanjangkan bodi pesawat (fuselage) ATR-42 sekitar 4,5 meter, menambah bentang sayap, serta mengadopsi mesin yang lebih bertenaga. Seiring perjalanan sejarahnya, keluarga pesawat ini terus bertransformasi mulai dari varian awal ATR 72-200, ATR 72-500, hingga varian modern ATR 72-600 yang dibekali kokpit digital glass cockpit berbasis avionik Thales, mesin Pratt & Whitney Canada PW127M yang bertenaga, serta desain kabin Armonia yang ramping dan nyaman bagi penumpang.
Secara spesifikasi teknis pada varian termutakhir ATR 72-600, pesawat yang dioperasikan oleh dua kru kokpit ini mampu mengangkut antara 70 hingga 78 penumpang dalam konfigurasi satu kelas. Memiliki panjang bodi 27,17 meter, bentang sayap 27,05 meter, dan tinggi 7,65 meter, pesawat ini disokong sepasang mesin turboprop Pratt & Whitney Canada PW127M.
Perpaduan tersebut memungkinkan pesawat terbang dengan kecepatan jelajah maksimum mencapai 510 km/jam (276 knots), melaju hingga jangkauan tempuh 1.528 kilometer (905 mil laut) pada muatan penuh, serta beroperasi secara optimal hingga ketinggian jelajah 25.000 kaki.
ATR-72 600 Wings Air Sukses Lakukan Proving Flight di Bandara Taufik Kiemas
Kesuksesan komersial ATR-72 di kancah penerbangan internasional ditopang oleh efisiensi bahan bakarnya yang sangat tinggi jika dibandingkan dengan pesawat jet komuter pada jarak rute pendek dan menengah.
Selain ekonomis, pesawat ini memiliki kapabilitas Short Take-Off and Landing (STOL) yang mumpuni, memungkinkannya beroperasi secara aman di bandara perintis dengan panjang landasan terbatas maupun fasilitas navigasi darat yang minim. Keandalan operasional, fleksibilitas varian kargo hingga patroli maritim, serta daya tahannya di iklim tropis menjadikan ATR-72 pilihan utama dalam mendukung konektivitas udara dan pertumbuhan ekonomi kawasan regional.
Akankah Regional Aircraft Kembangan Airbus Mampu Goyang Pasar ATR-72?
