Merespon turunnya minat penerbangan masyarakat, Cina, memberikan suntikan modal (subsidi) yang tak tanggung-tanggung ke maskapai. Meskipun besarannya masih simpang siur, namun, nyatanya, banyak maskapai di negara tersebut berani memberikan harga super murah.
Seperti dilansir marketwatch.com, Rabu, (4/3), South China Morning Post melaporkan bahwa maskapai bertarif rendah terbesar di China, Spring Airlines, memberikan harga yang sangat murah, yaitu 29 yuan atau sekitar Rp60 ribu penerbangan dari Shanghai ke Chongqing, dengan jarak perjalanan 1.400 km atau hampir sama dengan jarak Jakarta (CGK)-Lombok (LOP).
Selain perjalanan dari Shanghai ke Chongqing yang menawarkan harga sangat murah, perjalanan dari Shanghai ke Harbin, ibu kota Provinsi Heilongjiang, juga menawarkan harga fantastis. Dengan jarak 1.600 km, harganya turun hingga menjadi 69 yuan atau sekitar Rp 141 ribu.
Tak ketinggalan, Shenzhen Airlines juga menawarkan 100 yuan atau sekitar Rp200 ribu untuk penerbangan satu arah selama 2 jam 15 menit dari Shenzhen ke Chongqing dengan jarak 1.000 km. Padahal harga standarnya 1.940 yuan atau Rp3.980.000.
Demikian juga dengan Chengdu Airlines yang juga memberikan harga cukup murah, yaitu seharga 100 yuan atau sekitar Rp200 ribu untuk penerbangan dari Shenzhen ke Chengdu. Jarak yang ditempuh mencapai 1.300 km.
Menurut sebagian kalangan, langkah Cina tersebut diakui sulit ditiru oleh negara lain. Indonesia, misalnya, dengan jarak yang sama (Jakarta (CGK)-Lombok (LOP) sejauh hampir 1.400 km) dan kelas yang sama (LCC) hanya memberikan diskon 50 persen atau rata-rata sekitar Rp350 ribuan di setiap keberangkatan. Itupun hanya untuk 25 persen penumpang atau 40 seat setiap penerbangan. Artinya, ada syarat tertentu untuk sebuah diskon yang diberikan, bukan diberikan secara cuma-cuma seperti di Cina.
Maskapai lainnya di negara-negara maju seperti Amerika, misalnya, memang memberikan diskon juga untuk beberapa rute tertentu. Hanya saja penurunannya juga tak se-drastis seperti di Cina. Untuk rute internasional, menurut Hopper, agen perjalanan di AS, mengatakan bahwa harga tiket antara AS dan sejumlah negara juga tak begitu drastis penurunannya. Ia puna mengambil contoh, penerbangan antara AS dan Vietnam yang hanya turun sebesar 5,7 persen. Begitupun juga dengan penerbangan lainnya ke sejumlah negara.
Padahal, diskon besar-besaran untuk meningkatkan minat masyarakat bepergian dengan pesawat sangat dibutuhkan, sekalipun hal tersebut tidak dapat memastikan adanya perubahan yang signifikan, mengingat, saat ini, penerbangan dari AS ke Asia sangat menurun.
“Pariwisata ke tujuan di Vietnam, Filipina, Malaysia, dan banyak lagi di Asia Tenggara kemungkinan besar akan terkena dampak virus, karena 30 persen atau lebih dari penerbangan yang tersedia dari AS ke negara-negara ini termasuk singgah di Cina,” kata Ekonom Hopper, Hayley Berg, dalam sebuah laporan.
Industri penerbangan global saat ini tengah memasuki periode kritis akibat imbas wabah virus corona. Beberapa maskapai bahkan terpaksa harus menawarkan sejumlah karyawannya untuk mengambil cuti secara sukarela atau tanpa dibayar, mulai dari pegawai darat hingga awak kabin. Khusus untuk awak kabin, sepinya penerbangan bukan saja berdampak pada pendapatan atau take home pay mereka, melainkan juga berpengaruh dengan gaya hidup.
Menurut pengamat penerbangan Indra Setiawan, dengan iklim penerbangan seperti sekarang ini, hal tersebut tentu bukanlah keinginan semua pihak, termasuk airlines. Untuk di Indonesia sendiri, terkait pramugari, sepinya penerbangan memang tak mempunyai pilihan lain kecuali standby di rumah.
“Ya sama saja dengan bisnis lainnya yang sepi akibat sedikitnya tamu yang datang. Dengan sepinya penerbangan, ya mau gimana, itu juga bukan keinginannya airlines. Mau tidak mau mereka di rumah atau terserah mereka-lah selama penerbangan sepi mau ngapain,” katanya, kepada KabarPenumpang.com, Rabu, (4/3).
Senada dengan Indra, salah satu narasumber yang tak mau disebutkan namanya, mengatakan, sebetulnya dengan sepinya penerbangan, pramugari atau pramugara menjadi serba salah. Pasalnya, setiap dua pekan sekali, biasanya, bagian operational maskapai akan membuatkan schedule untuk pramugari dengan skema pengaturan by sistem.
Saat dahulu ia masih aktif bekerja, salah satunya mengatur schedule awak kabin dan kru kokpit, sistem yang dibuat berdasarkan kesepakatan dari pembuat program dan pengguna program, dimana di dalam aplikasi tersebut akan mengakomodir semua keinginan dari para pembuat kebijakan schedule crew. Dengan begitu, diharapkan, pembagian tugas awak kabin dapat mencapai tujuan berupa rata destinasi, rata jam terbang, dan rata pendapatan dimana aplikasi akan memproses CROPA mengikuti kaidah tersebut.
Pramugari Malaysia Airlines
Efek Penerbangan Sepi
Masalah pun muncul ketika penerbangan sepi. Bagi mereka yang telah memilih rute, dalam hal ini internasional, tak ada pilihan lain kecuali di rumah. Selain itu, bila pun ada penerbangan, hal tersebut bukan pula menjadi sebuah berkah buatnya. Justru sebaliknya, bisa jadi menjadi petaka, dalam artian, tunjangan atau away from base yang mereka dapatkan dari airlines untuk penerbangan internasional tersebut bisa saja habis tak tersisa, bahkan tak jarang bisa saja harus merogoh kocek pribadi untuk bertahan hidup selama menunggu untuk sampai ke penerbangan berikutnya, tergantung pada pola hidup mereka selama di sana. Kalau terlalu boros, hal itu mungkin bisa saja terjadi.
“Jangan salah, pramugari itu keliatannya doang loh (mewah gaya hidupnya). Loh iya, mereka kan memang harus terlihat ‘wah’ gitu ya. Masa pramugari hidupnya ya begitu (ala kadarnya), kan tidak enak juga. Seumpama, mereka terbang ke luar negeri, mereka ya enak dapat tunjangan berupa travel allowance dan away from base. Tapi, kalau penerbangannya hanya sekali atau dua kali dalam sepekan, ya mereka tidak bisa membawa uang yang banyak ketika kembali. Kan mereka hanya mendapatkan fasilitas berupa penginapan saja tidak untuk biaya hidup selama di sana,” jelasnya.
Selama di sana, lanjutnya, itulah momen mereka (awak kabin) untuk jalan-jalan serta menelusuri berbagai destinasi wisata favorit di negara tujuan. Saat itulah pramugari tampak glamor dengan gaya hidup mewah bak anak sultan. Namun, di balik semua itu, sebetulnya ia bisa saja tengah menjerit. Salah satu faktornya, itu tadi, penerbangan internasional dalam sepekan hanya satu atau dua kali. Paling tidak, untuk rute internasional, awak kabin minimal bertugas tiga kali dalam sepekan. Jika hal itu terjadi, barulah mereka pulang ke tanah air dengan membawa sejumlah uang yang tak sedikit.
Akan tetapi, ketika ditanya besaran travel allowance dan away from base untuk awak kabin yang bertugas, ia pun urung menyebutkannya. Ia mengatakan, bahwa besarannya bisa saja sudah berubah. Kemudian, ia mengakui, bahwa minimal take home pay atau uang yang dibawa pulang setiap bulannya berada dikisaran UMR atau lebih. Namun, ia juga tak menampik bahwa awak kabin (dalam kondisi normal) bisa membawa pulang uang yang cukup banyak.
Pesawat Airbus A320 milik United Airlines yang berangkat dari Bandara Internasional Newark Liberty menuju ke Bahama harus mendarat darurat di Bandara Internasional Daytona Beach, Florida. Pendaratan darurat ini dilakukan karena charger portabel untuk laptop milik seorang penumpang terbakar. Pihak Bandara Daytona mengatakan, api terlihat dari dalam tas penumpang yang kemudian charger portabel tersebut dimasukkan ke dalam kotak tahan api hingga pesawat mendarat dengan aman.
“Tidak ada cedera atau kerusakan baik pesawat atau penumpang,” tulis Bandara Daytona di akun Twitter.
Juru bicara United Leigh Schramm mengatakan, personil darurat langsung menangani insiden itu ketika pesawat tiba di Florida dan semua penumpang tetap di dalam kabin sebelum pesawat kembali diterbangkan ke Bandara Nassau di Bahama.
“Kami menghargai kerja cepat staf kami untuk menjaga pelanggan dan sesama awak tetap aman,” kata Leigh.
Tak hanya itu, seorang penumpang yang berada di dalam pesawat tersebut memuji kerja cepat tanggap awak United dalam mengendalikan penyebaran api. Dia mengaku terkesan dengan cara para awak kabin tersebut dalam menangani keadaan darurat di dalam pesawat.
Dilansir KabarPenumpang.com dari iol.co.za (2/3/2020), mengingat kebakaran charger portabel ini, administrasi penerbangan federal menyebutkan bahwa mendaftarkan barang yang dapat diisi ulang dan baterai lithium yang tidak dapat diisi ulang, baterai ponsel dan baterai laptop sebagai barang berbahaya serta telah menempatkannya dalam daftar barang terlarang. Ini artinya barang-barang tersebut tidak dapat hadir sama sekali dalam tas yang sudah diperiksa dan hanya bisa dibawa naik selama perangkat yang digunakan dalam kondisi mati.
Peraturan baru ini diadopsi setelah 268 insiden yang melibatkan baterai lithium-ion yang dilaporkan ke FAA dalam 15 tahun terakhir. Bahkan kebakaran charger portabel yang terjadi di pesawat United tersebut bukanlah yang pertama kali.
Pada 2016, Samsung Galaxy Note 7 dilarang sepenuhnya terbang oleh Departemen Perhubungan setelah gambar ponsel penumpang terbakar dan dalam beberapa kasus meledak yang kemudian menjadi viral. Samsung akhirnya mengeluarkan penarikan penuh telepon, tetapi tidak sebelum Galaxy Note 7 yang terbakar memaksa evakuasi penerbangan Southwest Airlines.
Pada tahun 2018, tiga maskapai penerbangan AS memberlakukan batasan pada “tas pintar” seperti yang dijual oleh merek bagasi populer Away atas FAA bahwa baterai lithium-ion yang mendukung fitur seperti pengisi daya telepon dan perangkat pelacakan internal berpotensi terbakar dan meledak. Away mematuhi peraturan dengan membuat baterai mereka bisa dilepas.
Diketahui, FAA telah melaporkan 191 kasus baterai lithium-ion terbakar, berasap atau meledak di pesawat atau di bandara sejak 1991. Insiden serupa telah menyebabkan pembatasan baterai lithium pada pesawat kargo. Tahun lalu, penerbangan Virgin Atlantic dari New York menuju London harus dialihkan untuk pendaratan darurat di Boston setelah kru penerbangan melihat kebakaran di kabin yang diyakini para penyelidik disebabkan oleh charger telepon.
Dalam tiga tahun terakhir, rokok elektrik bertanggung jawab atas lebih dari 30 insiden asap atau kebakaran di bandara atau di pesawat. Mereka termasuk insiden pada penerbangan SkyWest dari Los Angeles pada 2017, di mana seorang pramugari berimprovisasi dengan menggunakan ember es untuk menghentikan rokok elektrik yang membara sebelum memasukkannya ke dalam kantung penahan api.
Seiring berjalannya waktu, di kota-kota besar di banyak negara di dunia mulai mempercantik ruang-ruang publik dengan berbagai desain unik. Terlebih, dengan hadirnya tren digital, dilengkapi dengan platform-platform pendukung, seperti Instagram, Facebook, dan Twitter, ruang-ruang publik atau sarana prasarana umum kini mulai berubah fungsi, dari semula hanya sebagai penunjang aktivitas masyarakat, menjadi salah satu spot menarik untuk berswafoto atau biasa juga disebut spot Instagramable.
Di Jakarta sendiri, dahulu (mungkin di atas tahun 2017) halte bus bisa dikatakan masih sangat kurang menarik. Kusam, tak terawat, kotor, desain seadanya, bau pesing, hingga tidak informatif. Singkatnya, tidak membuat masyarakat betah berlama-lama di halte sambil menunggu bus datang. Namun, seiring berjalannya waktu, di beberapa lokasi di Jakarta, halte bus sudah didesain sedemikian rupa menjadi lebih indah. Tak terkecuali dengan Inggris.
Seperti dilansir laman bbc.com, Senin, (2/3), di Inggris terdapat halte bus unik layaknya Jakarta. Bedanya, jika di Jakarta halte bus ‘dipercantik’ oleh otoritas setempat, di wilayah Thrupp, Oxfordshire, Inggris, halte tersebut justru ‘dipercantik’ secara misterius oleh orang tak dikenal. Halte yang semula usang, ditambah wilayah sekitar yang tergolong sepi dan membosankan, seketika berubah menjadi lebih ‘fresh’, mengundang siapapun yang melihat untuk tersenyum, dan mewarkan sensasi bak ‘rumah nenek’. Rumah nenek sendiri adalah representatif dari sebuah tempat nyaman yang biasa digunakan oleh kaum millenials.
Betapa tidak, berbeda dengan halte-halte bus pada umumnya, halte tersebut kini telah dilengkapi dengan gambar, hiasan, ornamen, rak buku berisi puisi, dan kursi yang nyaman. Di samping itu, di halte bus tersebut juga terdapat berbagai tulisan atau quotes menarik, seperti “Kamu sungguh cantik” dan “Berhenti atas nama cinta.”
Mary Fisk, warga sekitar, ketika pertama kali melihat halte tersebut ia mengaku sempat merasa aneh dengan perubahan drastis pada halte tersebut. Namun, disisi lain, ia juga mengaku merasa memiliki hari yang indah ketika melihatnya. Secara pribadi, sebelum terdapat perubahan, ia memang mengaku bahwa halte tersebut lebih menawarkan sensasi penuh dengan kebosanan, baik ketika melihat, berada di sekitarnya, ataupun menunggu bus di dalamnya. Maka dari itu, ia sangat mendukung perubahan tersebut.
“Mereka hanya ingin menjadikannya lebih indah untuk orang-orang dan membawa senyum ke wajah semua orang saat mereka lewat,” katanya.
Senada dengan Mary Fisk, sang kreator, melalui sebuah tullisan yang di tempet di dalam halte, mengatakan bahwa mereka hanya ingin mengubah halte tersebut menjadi sebuah tempat yang nyaman dan membuat orang lain tersenyum. Selain itu, bahan-bahannya juga membuat halte bus tersebut tergolong ramah lingkungan, terbuat dari bahan-bahan daur ulang.
Meskipun tak sampai mendapatkan penghargaan seperti sebuah halte bus di bagian lain Inggris, tepatnya di Univesity of East Anglia (UEA), yang mendapat penghargaan dari Asosiasi Arsitek Norfolk karena dinilai menjadi salah satu tempat yang memiliki kualitas karbon rendah, halte bus unik di Thrupp, Oxfordshire, Inggris tersebut rupanya berhasil mendapatkan komentar positif dari masyarakat. Bahkan, seorang pengguna Twitter berpendapat bahwa halte bus tersebut adalah yang terbaik di wilayah tersebut. “Halte bus terbaik di #Stroud (nama jalan di Thrupp).”
Kereta api Pakistan dilaporkan ‘hilang’ dari India. Hal itu terjadi setelah otoritas perkertaapian di Gujarat, India, menghapus gambar kereta Pakistan dari aplikasi, untuk keselamatan penumpang yang baru diluncurkan, setelah viral di media sosial. Banyak netizen yang mengomentari, bahwa foto tersebut disebut-sebut dengan jelas menampilkan kereta Pakistan di dalamnya. Hal itu tentu sangat sensitif di tengah kisruh yang terjadi di india.
Dilansir thenews.com.pk, Senin, (3/3), menurut kantor berita di India, NDTV, otoritas setempat menghapus foto setelah netizen di media sosial India menunjukkan bahwa mesin kereta api berwarna hijau, yang muncul di dashboard bertuliskan “Surakshit Safar” atau “Perjalanan yang Aman”, adalah sebuah kereta api Pakistan. Tanpa pikir panjang, mereka pun menghapus foto tersebut.
Dalam penjelasannya, Wakil Inspektur Jenderal Polisi, CID-Crime and Railways, Gautam Parmar, menyatakan bahwa pengembang atau aplikator awalnya hanya ingin membuat tampilan aplikasi menjadi lebih menarik dengan menyertakan beberapa foto. Setelah vital, pengembang barulah menyadari bahwa foto tersebut bukanlah kereta India.
“Untuk membuat aplikasi lebih menarik, pengembang aplikasi telah menaruh beberapa gambar kereta api. Dalam prosesnya, ia secara tidak sengaja menggunakan foto kereta Pakistan. Setelah mengetahui tentang hal itu, kami telah meminta pengembang untuk menghapusnya. Itu adalah suatu kesalahan yang tidak disengaja,” katanya, pekan lalu.
Dengan dihapusnya foto kereta Pakistan di aplikasi tersebut, media-media Pakistan pun ramai memberitakan hal tersebut, selain memberitakan berbagai kekejaman oknum masyarakat di India terhadap kelompok minoritas Muslim di negara tersebut. Hal ini menjadi menarik, mengingat aplikasi ini diluncurkan oleh Kementerian Dalam Negeri India, Pradeepsinh Jadeja, pada 29 Februari silam atau bertepatan dengan peristiwa berdarah di negara tersebut dan baru ‘sadar’ setelah peristiwa berdarah tersebut mereda.
Terlepas dari kisruh di antara kedua negara yang menyebabkan dihapusnya foto tersebut, sebetulnya, dengan bantuan aplikasi itu, penumpang kereta api di India dapat terhubung langsung dengan kantor kepolisian terdekat, tanpa harus repot-repot mencari dan menelepon kantor polisi dengan cara manual.
Aplikasi tersebut juga terpantau secara real time sehingga penangan lebih cepat dan akurat. Jadi, jika sewaktu-waktu penumpang tak memiliki kesempatan, akibat keaadaan yang mendesak, untuk menghubungi polisi, penumpang yang membutuhkan bantuan akan tetap bisa terlacak dengan hanya menekan bagian lain dari tombol di dalam aplikasi tersebut dan langsung bisa didatangi oleh petugas dengan melacak sinyal ponsel atau bisa juga dilacak berdasarkan GPS.
Sebagaimana yang umum diketahui, India, termasuk juga Pakistan, memiliki kultur perkeretaapian yang kuat. Layaknya di Indonesia, di negara tersebut juga terdapat istilah mudik di bulan-bulan tertentu. Bahkan, di beberapa momen, kondisi perkeretaapian di sana jauh lebih rumit, dengan tingkat pelecehan dan kejahatan tinggi, dibanding dengan kondisi perkeretaapian di Indonesia.
Menghilangkan tiket kertas dan menggantinya dengan sebuah kartu atau e-ticketing menjadi salah satu hal yang sudah banyak dilakukan di berbagai moda transportasi. Kali ini Jepang menawarkan eticketing untuk jalur Shinkansen yang akan dimulai pada 14 Maret 2020.
KabarPenumpang.com melansir asia.nikkei.com (29/2/2020), tiga operator kereta api regional Negeri Sakura ini yakni East Japan Railway, West Japan Railway and Hokkaido Railway mulai menawarkan layanan ini. Sehingga memungkinkan penumpang yang menggunakan kartu IC terdaftar untuk naik kereta Shinkansen tanpa tiket kertas.
Central Japan dan JR West sudah sudah mengoperasikan layanan serupa yang disebut Smart Ex serta berencana memasukkan Kyushu Railway ke dalam layanan baru pada musim semi 2022. Tujuan ini adalah membuat kereta api penumpang Jepang terkenal di dunia menjadi lebih nyaman.
Jalur Shinkansen Hokkaido dan Hokuriku yang melayani Jepang utara khususnya dengan tujuan untuk menjadi lebih kompetitif dengan maskapai penerbangan. Layanan e-tiket baru mencakup semua jalur shinkansen yang dioperasikan oleh tiga perusahaan yakni di jalur Tohoku, Joetsu, Hokuriku, Yamagata dan Akita.
Perjalanan shinkansen tanpa tiket akan tersedia melalui salah satu dari sepuluh kartu IC yang populer di kalangan pelanggan, termasuk JR East’s Suica; Pasmo, dikeluarkan oleh operator kereta bawah tanah Tokyo Metro; dan Icoca, kartu IC untuk pelanggan kereta komuter di wilayah Osaka. Saat ini, penumpang dapat memesan dan naik kereta shinkansen menggunakan aplikasi ponsel cerdas Suica, tetapi tidak dengan kartu IC.
Kurangnya e-ticketing mengarah ke antrean panjang di loket tiket dan mesin penjual otomatis, terutama selama musim liburan yang sibuk. Tiga perusahaan JR memprediksi bahwa tiket yang lebih cepat dan lebih mudah akan mendorong lebih banyak orang untuk menggunakan jalur Hokkaido dan Hokuriku shinkansen, yang menghadapi persaingan ketat dari maskapai.
Untuk menggunakan layanan ini, pelanggan mendaftarkan kartu IC mereka di situs pemesanan tiket Ekinet JR East atau situs web JR West e5489. Setelah kartu terdaftar, pengendara cukup memesan kursi secara online, tap kartu pada pembaca di gerbang dan papan. ternyata layanan e-ticketing bukan sistem kartu pintar pertama yang dirancang untuk shinkansen.
JR Central dan JR West telah memiliki layanan Smart EX, yang mencakup jalur Tokaido dan Sanyo shinkansen, sejak 2017. Penumpang yang menggunakan JR East dan operator shinkansen lainnya telah lama berharap untuk hal seperti itu. Meskipun layanan baru telah lama datang, ia menawarkan peningkatan atas layanan Smart EX.
Sistem baru menggunakan teknologi cloud untuk otentikasi tiket, menyederhanakan perawatan dan pembaruan. Dengan Smart EX, gerbang tiket di setiap stasiun memproses informasi pemesanan dan data lain yang disimpan pada kartu IC. Sistem baru menggunakan server pusat untuk mengelola dan mengotentikasi data.
Ketika penumpang memegang kartu di atas pembaca, pembaca menghubungi server, memverifikasi bahwa informasi pemesanan cocok dengan informasi yang dikodekan pada kartu IC. Jika ada perbedaan, gerbang ditutup dan server pusat lebih mudah dirawat dan diperbarui daripada gerbang tiket individu, menghemat waktu dan uang.
Layanan baru ini menjadikan pengalaman pelanggan yang lebih baik juga. Smart EX mengharuskan penumpang untuk mencetak tiket kertas di mesin tiket ketika bepergian dengan kelompok atau dengan anak-anak, layanan baru ini memungkinkan hingga enam orang dalam satu pemesanan, dengan setiap orang dapat naik menggunakan kartu IC mereka sendiri. Anak-anak usia sekolah dasar atau lebih muda dapat menggunakan kartu IC anak mereka.
JR East akan menghentikan layanan tiket Mobile Suica shinkansen ketika layanan baru berlaku. Tapi itu akan melanjutkan layanan Touch de Go yang memungkinkan anggota naik di kursi non-cadangan untuk jalur shinkansen Tohoku, Joetsu, dan Hokuriku menggunakan kartu IC yang diisi dengan uang elektronik. Layanan ini mencakup area terbatas di dekat Tokyo dan memiliki banyak pelanggan bisnis. Ini akan dipertahankan secara paralel dengan layanan tanpa tiket yang baru.
“Kami ingin membuat 50 persen dari penggunaan shinkansen tanpa tiket pada akhir tahun fiskal 2022,” kata Presiden JR East Yuji Fukasawa.
Perusahaan percaya bahwa peralihan ke perjalanan tanpa tiket akan mengurangi kemacetan di stasiun dan menghasilkan pelanggan yang lebih puas. Ia juga mengatakan biaya pemeliharaan akan turun dan memungkinkan penggunaan ruang stasiun yang lebih efisien. Akan ada dua layanan tanpa tiket berbeda untuk jalur shinkansen yang dimulai pada bulan Maret akan mencakup Jepang utara yakni jalur Tohoku, Hokkaido, Joetsu, Hokuriku, Yamagata, dan Akita shinkansen.
Layanan untuk jalur Tokaido dan Sanyo Shinkansen, yang berjalan melalui Jepang tengah dan barat, akan diperluas ke pulau selatan Kyushu pada musim semi 2022. Interkoneksi antara kedua layanan tersebut kemungkinan akan menjadi langkah berikutnya, meskipun ada relatif sedikit penumpang yang pindah dari satu jalur shinkansen ke yang lain.
Virus corona yang sudah menginveksi puluhan ribu orang dan menyebabkan hampir tiga ribu orang meninggal dunia membuat dunia penerbangan mulai mengurangi jadwal ke negara-negara terdampak. Karena hal ini pula, maskapai melakukan langkah-langkah lain dengan mendesinfeksi pesawat dan melengkapi kru dengan masker wajah serta melakukan pengecekan suhu badan pada penumpang sebelum diizinkan naik ke pesawat.
International Air transport Association (IATA) juga menerbitkan pedoman untuk melindungi penumpang dan awak dari virus. Dirangkum KabarPenumpang.com dari businesstraveller.com (2/3/2020), sejumlah maskapai mendesinfeksi pesawat dan ruang tunggu mereka lebih sering.
Menurut Organisasi Kesahatan Dunia (WHO), tidak jelas berapa lama virus ini bertahan di permukaan bisa beberapa jam atau mungkin beberapa hari. WHO mengatakan, untuk membersihkan permukaan dengan desinfektan sederhana bisa membunuh virus. Nah bagaimana pandangan dan upaya apa yang diambil maskapai untuk mencegah penyebaran virus corona? Cathay Pacific terkait hal ini mengatakan mengambil langkah pencegahan yang berbeda di kabin maupun ruang tunggu bandara.
Maskapai Hong Kong ini membersihkan dan mendesinfeksi kabin, kursi, dapur dan toilet. Penyemprotan disinfektan juga pada laya IFE, meja makan, meja keranjang bayi, sandaran tangan di kabin setelah selesai melakukan penerbangan. Para penumpang yang bepergian ke Hong Kong dengan Cathay Pacific akan mendapat siaran pesan kesehatan yang diperbarui untuk memastikan penumpang dan awak memiliki informasi terbaru.
“Siaran ini mengingatkan semua orang di atas kapal tentang situasi saat ini dan tindakan yang diperlukan yang diperlukan,” kata maskapai itu.
Cathay juga telah mengurangi penerbangan ke dan dari daratan Cina sekitar 90 persen hingga akhir Maret 2020. Di sisa penerbangan Cina daratan, Cathay telah membatalkan layanan troli di kelas bisnis dan kelas satu. Mereka juga menyajikan makanan pada satu nampan saja pada kelas bisnis dan kelas satu, sedangkan kelas ekonomi dan ekonomi premium akan mendapatkan tas makanan ringan sekali pakai.
Cathay juga menghilangkan handuk panas, bantal, selimut, majalah dan penjualan bebas bea dalam penerbangan juga telah ditangguhkan sementar untuk rute-rute ini. Maskapai ini juga telah menginstal sistem penyaringan pesawat HEPA (High Efficiency Particulate Arresters) di kabinnya yang katanya dapat menyaring 99,999 persen partikel debu dan kontaminan di udara seperti virus dan bakteri.
“Filter HEPA menawarkan tingkat kinerja yang sama dengan yang digunakan untuk menjaga kebersihan udara di ruang operasi rumah sakit dan ruang industri yang bersih,” Cathay.
Selain kabin, lounge atau ruang tunggu khusus milik Cathay ada tiga yang ditutup di Bandara Internasional Hong Kong yakni The Bridge, The Deck dan The Pier First Class Lounge. Ini karena kurangnya permintaan ditengah merebaknya virus corona. Sedangkan Kelas Wing, Lounge Kelas Bisnis Pier, dan Lounge Kelas Bisnis akan tetap terbuka.
Maskapai ini mengatakan bahwa pihaknya juga mengambil tindakan pencegahan di ruang tunggu di Hong Kong, Shanghai Pudong dan Beijing dengan membersihkan permukaan di kamar mandi, lift, dan area lain yang digunakan “lebih sering”. Itu juga telah menghapus semua majalah dari lounge. Bahkan makanan prasmanan digantikan dengan sajian tunggal yang sudah disiapkan sebelumnya serta alat makan sekali pakai di lounge Beijing dan Shanghai Pudong.
Penumpang yang terbang ke atau dari Hong Kong dengan Cathay akan dikenakan pemeriksaan suhu di Bandara Internasional Hong Kong. Penumpang juga dapat menemukan pembersih tangan di seluruh Bandara Internasional Hong Kong, termasuk di konter check in Cathay, titik-titik pemeriksaan imigrasi dan keamanan, area keberangkatan terbatas, gerbang boarding, kedatangan dan di Skypier. Lounge-lounge Cathay di Hong Kong, Shanghai Pudong, dan Beijing juga menyediakan sanitiser di meja resepsionis.
Tak hanya Cathay Pacific, Singapore Airlines (SIA) menggunakan desinfektan untuk membersihkan permukaan seperti meja baki, jendela dan layar IFE pada semua pesawat yang terbang ke Hong Kong dan Cina daratan. Praktik pembersihan SIA sebelum wabah koronavirus untuk semua pesawat yang tiba di Singapura termasuk menghilangkan limbah makanan, mengganti sandaran kepala, sarung bantal, seprei dan selimut dengan “set baru”, serta membersihkan permukaan seperti meja nampan dan karpet penghisap debu.
Untuk pesawat yang tiba dari Cina melalui langkah pembersihan mendalam yang dikenal sebagai fogging. Sebelum prosedur, tim kebersihan dari penyedia layanan penerbangan SATS memasuki pesawat untuk menghapus semua selimut untuk mempersiapkan kabin untuk fogging. Linen yang kotor dan tidak terpakai dikeluarkan dari pesawat dan didesinfeksi sebelum dikirim ke binatu untuk “pencucian suhu tinggi”. Prosedur fogging memakan waktu sekitar 90 menit untuk pesawat A380, dan 60 menit untuk semua jenis pesawat lainnya.
Beberapa maskapai dunia sudah mulai mengurangi jadwal penerbangan mereka ke beberapa negara terdampak virus corona atau Covid-19. Mereka juga mengandangkan armada-armada mereka karena pengurangan jadwal tersebut. Cathay Pacific Group yang memiliki 120 pesawat telah memarkirkan sekitar setengah dari jumlah keseluruhan armadanya.
Selain itu juga membatalkan lebih dari tiga perempat penerbangan mingguan pada bulan Maret. Bahkan kemungkinan jumlah armada yang akan di parkir juga akan bertambah ketika Cathay mengingatkan tentang pemangkasan lebih lanjut pada jadwal penerbangan.
“Kami terus menerus menilai penyebaran armada untuk menyelaraskan kapasitas dengan permintaan pasar,” ujar Cathay.
Pekan lalu, Cathay mengatakan 75 persen staf atau 25 ribu karyawan grup akan mengambil cuti yang tidak dibayar. Jadwal penerbangan maskapai untuk bulan Maret juga menunjukkan penurunan sekitar 75 persen menurut sebuah studi yang dilakukan South China Morning Post.
Dilansir dari bangkokpost.com (2/3/2020), awalnya sebanyak 1470 penerbangan perminggu dijadwalkan pada Maret untuk Cathay Pacific fan Cathay Dragon. Namun jumlah itu kini sudah dikurangi lebih dari 1120. Padahal pada masa virus SARS menyebar di tahun 2003, Cathay mengurangi jadwal penumpangnya sebesar 45 persen dan memarkir 22 pesawat dari 80 armadanya.
Krisis di Cathay, maskapai yang paling parah di luar China, direplikasi secara global karena maskapai besar menerapkan penghematan biaya darurat untuk memotong penerbangan secara menyeluruh. Ketakutan bepergian bertepatan dengan epidemi virus corona yang menyebar di luar Asia ke Eropa dan Amerika Serikat. Kasus Covid-19 yang menyebar cepat di luar China, terutama di Italia, Iran dan Korea Selatan.
Saham maskapai penerbangan telah jatuh dalam sepekan terakhir, minggu terburuk bagi pasar keuangan sejak krisis keuangan 2008, menghapus miliaran dari nilai perusahaan-perusahaan ini. American Airlines, maskapai terbesar di dunia, melihat sahamnya jatuh 21,6 persen selama lima hari. IAG, perusahaan induk dari British Airways, anjlok 17 persen.
“Wabah adalah jenis dampak makro yang sangat sulit bagi maskapai penerbangan untuk merencanakan. Selama wabah, semua itu runtuh karena orang tidak peduli titik harga yang mereka tidak mau lagi terbang,” kata analis Bocom International Luya You.
Langkah-langkah yang diadopsi oleh maskapai lain juga termasuk menyimpan, menjual pesawat atau menunda pengirimanjet baru, menempatkan staf pada cuti atau pemotongan yang tidak dibayar, membekukan pekerjaan ditambah mencari pemotongan dalam pengeluaran diskresioner dan proyek-proyek non-kritis, dan menekan pemasok. CEO Singapore Airlines Goh Choon Phong telah melangkah lebih jauh, mengambil potongan gaji 15 persen dari 1 Maret.
Pada hari Jumat, United Airlines memperluas pemotongan penerbangan Asia ke Korea Selatan, Jepang dan Singapura, mencatat permintaan untuk penerbangan transpasif turun 75 persen. Lufthansa Group, yang telah menerbangkan 23 pesawat jarak jauh, mengatakan akan memotong penerbangan jarak pendek dan menengah sebesar seperempat karena Covid-19 kasus naik di Eropa, mendorong permintaan untuk turun.
Kelompok perdagangan maskapai IATA memperkirakan pada 21 Februari bahwa maskapai penerbangan global akan kehilangan pendapatan US$29,3 miliar. Namun jumlahnya bisa lebih besar mengingat penyebarannya ke lebih banyak negara.
“Virus ini memiliki dampak yang lebih global. Pembatalan berbagai konferensi dan acara bersama dengan penghentian perjalanan korporat yang tidak penting telah memperburuk penurunan permintaan ini. Tren ini akan sangat sulit bagi maskapai penerbangan karena perpanjangan virus akan mempengaruhi musim panas yang akan datang untuk perjalanan,” kata pakar penerbangan David Yu, seorang profesor keuangan di New York University Shanghai.
Sejak pertama kali terbang perdana pada 5 Desember 2009, Boeing 787 Dreamliner berhasil melesat dengan lebih dari 800 pesawat yang melayani berbagai maskapai di seluruh dunia. Tak hanya itu, Dreamliner juga telah tumbuh menjadi salah satu terlaris Boeing dengan lebih dari 1.400 pesanan.
Selain itu, Dreamliner juga berhasil mencatatkan namanya dalam sejarah penerbangan, sebagai pesawat dengan pesanan terbesar untuk pesawat jet penumpang baru, setelah pada tahun 2004 All Nippon Airways Jepang memesan US$6 miliar untuk 50 pesawat baru.
Dilansir dari laman businessinsider.com, Senin, (2/3), melesatnya Boeing 787 Dreamliner hingga berhasil mencatatkan rekor tersebut, tentu tidak mengherankan, mengingat Boeing telah mempromosikan pesawat tersebut secara masif, dengan segala kelebihannya. Saat masih pada fase pengembangan, Dreamliner disebut-sebut akan menggunakan bahan komposit termasuk serat karbon untuk membuat pesawat lebih ringan dan fitur mesin yang efisien dari Rolls Royce dan General Electric yang akan memberikan jangkauan yang lebih luas sekaligus mengurangi konsumsi bahan bakar.
Di samping itu, Dreamliner juga dinilai lebih ‘mengerti’ (untuk mencapai efisiensi) maskapai dengan dimensi yang ditawarkannya. Alih-alih mengejar kapasitas, seperti kompetitornya, Airbus, yang meluncurkan pesawat komersial terbesar di dunia, Airbus A380, Dreamliner justru tampil beda, dengan mengusung mesin twinjet (dua mesin) serta konfigurasi penumpang dikisaran 200-330 penumpang, dari total tiga varian yang ada, 787-8, 9, dan10.
Meskipun berhasil digandrungi banyak maskapai di seluruh dunia, Boeing 787 Dreamliner bukan tanpa masalah. Hingga kini, bahkan, maskapai-maskapai yang menggunakannya harus memutar otak akibat permasalahan pada mesin Rolls-Royce-nya.
Di antaranya ada Air New Zealand’s yang menangguhkan layanan penerbangan Auckland ke Shanghai dengan menggunakan Dreamliner. Ada juga British Airways yang biasa menerbangkan 787-9 ke Beijing dan Shanghai. Kemudian LOT Polish Airlines menggunakan Dreamliner untuk penerbangan ke Beijing dari Tallinn (ibukota Estonia) dan Warsawa (ibukota Polandia) hingga Virgin Atlantic Airways yang mengoperasikan penerbangan hariannya ke Shanghai dengan 787-9.
Jauh sebelum permasalah pada mesin muncul, Boeing 787 Dreamliner juga pernah memiliki riwayat permasalahan pada sistem oksigen. Sistem ini bekerja untuk tetap memasok oksigen bagi penumpang dan awak, saat tekanan udara dalam kabin turun (dekompresi). Masker udara akan turun dari langit-langit pesawat untuk memasok oksigen dari tabung gas. Tanpa sistem ini, siapa pun yang ada di pesawat akan lumpuh.
Pada ketinggian 35.000 kaki (sekitar 10.600 meter), kurang dari semenit penumpang akan pingsan. Pada ketinggian 40.000 kaki, mereka akan pingsan kurang dari 20 detik. Ini bisa disusul dengan kerusakan otak, bahkan kematian. Dekompresi sebetulnya jarang terjadi, tetapi bukan tidak pernah.
Bulan April 2018, jendela pesawat Southwest Airlines meledak, sesudah terhantam serpihan mesin yang rusak. Seorang penumpang yang duduk di samping jendela cedera parah dan kemudian meninggal dunia. Adapun penumpang lain bisa meraih oksigen darurat dan selamat. Masalah tersebut, walaupun tidak masif, namun cukup membuktikan bahwa permasalahan Dreamliner yang dilaporkan oleh John Barnett, eks manajer pengendalian kualitas di pabrik Boeing, benar adanya.
Dengan dua masalah di atas, banyak kalangan menilai bahwa 2020 mungkin akan menjadi tahun revolusi bagi Dreamliner atau dalam artian menjadi tahun penentuan. Terlebih, tahun ini juga menjadi tahun kelahiran varian anyar jenis pesawat paling laris di dunia, Boeing 777X, yang sebagian besar mengadopsi banyak sisitem dari Boeing 787 Dreamliner. Bisa dibilang juga Boeing 777X adalah Boeing 787 Dreamliner yang ditingkatkan.
Jika sudah begitu, tentu saja banyak maskapai akan beralih ke Boeing 777X, dengan berbagai kelebihannya, di samping, Boeing 787 Dreamliner juga tergolong usang bila dibandingkan dengan kompetitornya, Airbus, yang melahirkan A350 xwb pada 2013 dan A330neo pada 2017. Menarik ditunggu, akankah Boeing 787 Dreamliner berhasil bertahan di tengah kondisi penerbangan global yang lesu akibat diterjang virus corona?
Virus Corona ‘akhirnya’ sampai di Indonesia, setelah dua warga asal Depok dinyatakan positif mengidap Covid-19, mengingat, sebelum benar-benar ditemukan kasus WNI positif virus corona, terlebih dahulu sudah ada beberapa warga negara asing yang positif mengidap virus tersebut sepulang dari Indonesia atau mempunyai riwayat perjalanan ke Indonesia.
Dengan positifnya WNI mengiap virus corona, bagi dunia penerbangan, hal tersebut tentu sangat berdampak sangat buruk, mengingat, pemerintah, melalui berbagai kementerian dan pelaku bisnis aviasi, tengah berjuang menghadapi terpaan badai virus yang diklaim berasal dari Wuhan tersebut.
Dihimpun KabarPenumpang,com dari berbagai sumber, Sabtu lalu, dengan pemberian insentif kolaborasi berbagai pihak, seperti Pemerintah, AP I dan II, Airnav Indonesia, dan Pertamina, maskapai pun akhirnya bisa sedikit bernapas lega, setelah Februari lalu ‘terpaksa’ menutup rute internasional dari dan ke Cina hingga batas yang belum dapat dipastikan, mengikuti perkembangan virus corona di negara tersebut. Insentif tersebut dinilai dapat membuat maskapai menurunkan harga tiket pesawat hingga 40-50 persen.
Benar saja, bak gayung bersambut, maskapai penerbangan nasional Garuda Indonesia dan anak perusahaannya, Citilink, misalnya, mulai Minggu (1/3) mengumumkan telah memberlakukan potongan harga pada sejumlah rute yaitu dari dan ke Batam, Denpasar, Yogyakarta, Labuan Bajo, Lombok, Malang, Manado, Toba (Silangit), Tanjung Pandan, dan Tanjung Pinang. Pemberlakuan potongan harga ini merupakan tindak lanjut kebijakan pemberian insentif dari Pemerintah untuk menurunkan tarif penerbangan ke 10 Destinasi Wisata.
Sesuai keputusan Pemerintah, skema pemberian potongan (diskon) harga tiket ke 10 destinasi wisata dilaksanakan selama 3 bulan kedepan dimulai tanggal 1 Maret hingga 31 Mei 2020, dimana Pemerintah menetapkan besaran insentif untuk maskapai adalah dengan potongan harga tiket hingga 50 persen. Hanya saja, diskon tersebut hanya untuk 25 persen dari total jumlah penumpang, bukan untuk seluruhnya, atau sekitar 40 seat untuk program tersebut. Bila ditotal, dalam sebulan, seat yang tersedia untuk program itu sekitar 65.700 seat.
Akan tetapi, bagi sebagian pengamat, seberapa besar pun diskon yang ditawarkan, ketika masyarakat tengah was-was, sekalipun belum ada pernyataan dari pemerintah bahwa Indonesia darurat virus corona, tetap saja mereka (masyarakat) memilih untuk menahan diri bepergian ke sana sini. Singkatnya, jika bukan karena urusan super penting, masyarakat mungkin akan urung bepergian apalagi ke daerah wisata, sebagaimana destinasi yang ditawarkan pada diskon tersebut.
Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Wikipedia)
Akibatnya, tentu saja berdampak pada penurunan jumlah penumpang dan frekuensi penerbangan. Seperti di Bandara I Gusti Ngurah Rai Denpasar, misalnya, Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub, Novie Riyanto, menyebut pergerakan pesawat di bandara ini menurun dari semula 470-480 pergerakan pesawat menjadi hanya kurang lebih 400 pergerakan.
Hal itu baru pergerakan, belum spesifik ke okupansi di masing-masing penerbangan dari total 400 pergerakan tersebut. Sangat mungkin jumlahnya juga menurun karena banyak turis yang cenderung menghindari penerbangan ke Asia. Jika pergerakan pesawat menurun, pertanyaan yang paling mungkin adalah, kemana kah pesawat-pesawat yang biasa melayani penumpang?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, sebetulnya redaksi KabarPenumpang.com sudah berusaha untuk mendapatkan jawaban dari pihak Garuda Indonesia dan Lion Grup. Namun, keduanya belum memberikan tanggapan spesifik. Pasalnya, dari kedua maskapai tersebut, ada banyak penerbangan internasional. Rute internasional ke Cina, misalnya, setidaknya terdapat 75 penerbangan dari kedua maskapai tersebut, 30 penerbangan milik Garuda Indonesia dan sisanya milik Lion Air.
Dengan ditutupnya rute tersebut (dari dan ke Cina), pesawat widebody yang biasa digunakan untuk terbang ke sana bukan tak mungkin mangkrak di apron bandara. Sebetulnya, bisa saja dipaksakan terbang dengan dua pilihan. Pertama, mengalihkan pesawat-pesawat tersebut ke rute-rute internasional lainnya. Namun, pilihan tersebut rasanya sulit, mengingat, maskapai-maskapai Indonesia bisa dibilang masih sulit bersaing di rute internasional melawan maskapai raksasa dengan reputasi tinggi, seperti Singapore Airlines, Qatar, Emirates, dan Etihad, di samping iklim penerbangan global yang tengah tak baik. Ditambah memang demand sedang rendah ke tujuan-tujuan yang dimaksud.
Pilihan kedua, pesawat-pesawat widebody yang biasa melayani rute internasional putar haluan menjadi melayani rute dalam negeri. Pilihan tersebut rasanya juga sulit, mengingat butuh perjuangan ekstra keras. Pasalnya, bila okupansi rendah, menggunakan pesawat widebody untuk rute domestik dengan jarak tempuh singkat justru malah membuat maskapai rugi besar.
Nyatanya, gairah penumpang untuk menggunakan pesawat pun juga tengah menurun. Selain konektivitas darat dan laut yang sudah mulai membaik, persoalan tiket masih dikeluhkan penumpang, di tengah perlambatan ekonomi global, termasuk Indonesia, akibat berbagai hal. Tahun lalu, misalnya, penumpang pesawat tercatat turun 19,14 persen atau turun sebanyak 17,5 juta orang.
Sebetulnya, di luar kedua pilihan tersebut, maskapai masih bisa tertolong dengan pilihan lainnya, yakni penerbangan khusus umroh. Namun, harapan tersebut pupus, mengingat pemerintah Arab Saudi memutuskan untuk menyetop layanan umroh. Akibatnya, calon pesawat mangkrak pun jadi bertambah meskipun belum jelas ada berapa pesawat yang akan terdampak.
Kemudian, pilihan untuk memarkirkan pesawat di apron bandara pun juga bukan pilihan bagus, mengingat, pesawat tetap harus membayar biaya parkir pesawat dan tetap harus melaksanakan perawatan rutin. Setidaknya, setiap pesawat membutuhkan kocek sebesar Rp43 miliar untuk perawatan rutin, mencakup Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO).
Hanggar 4 GMF. Sumber: Twitter
Pada dasarnya, perawatan rutin tidak melihat pesawat digunakan atau tidak. Tentu, hal tersebut akan sangat menyedihkan maskapai. Sudah pesawat tidak menghasilkan (karena tidak melayani penumpang), namun di sisi lain tetap harus mengeluarkan uang untuk membayar biaya parkir dan perawatan pesawat. Kondisi yang sangat sulit bagi maskapai.
International Air Transport Association (IATA) atau Asosiasi Transportasi Udara Internasional sendiri memperkirakan, jika krisis virus corona sama dengan wabah SARS pada awal 2000-an silam hal itu sangat mungkin akan menyebabkan hilangnya pendapatan (profit loss) maskapai global tahun ini sebesar $29 miliar atau Rp417 triliun. Bila itu terjadi, tentu saja ekosistem bisnis di dunia aviasi juga akan kena imbasnya. Celakanya, IATA memperkirakan, dampak tersebut (profit loss) sebagian besar akan terkonsentrasi di beberapa maskapai di kawasan Asia-Pasifik, termasuk di dalamnya Indonesia.
Menariknya, berkaca pada peristiwa serupa (wabah SARS), upaya recovery-nya pun tak sebentar, membutuhkan setidaknya sembilan bulan untuk memulihkan ekosistem bisnis di dunia aviasi. Lantas, bagaimana dengan virus corona, akankah sama dengan SARS (dalam hal recovery yang mencapai 9 bulan)?
Jika sudah begini, bagaimana kah strategi maskapai untuk memaksimalkan armadanya yang mangkrak akibat penutupan rute dari dan ke Cina, rute umroh, serta rute-rute internasional lainnya yang juga terdampak akibat virus corona sampai iklim penerbangan global benar-benar pulih kembali? Khusus untuk Garuda Indonesia, di tengah kewajiban membayar utang sebesar Rp6,8 Triliun yang sudah jatuh tempo, bagaimana kah upaya maskapai pelat merah tersebut? Akankah bernasib sama dengan anak perusahaannya, Merpati Airlilnes?