Ngeri, di Bandara Dubai, Mata Jadi Paspor Wisatawan!

Bandara tersibuk di dunia untuk perjalanan internasional, Bandara Dubai, sangat familiar dengan pendingin udaranya yang sangat dingin bak kutub utara, air terjun dan pohon palem buatan, hingga desain terminal ciamik. Tak berhenti sampai di situ, baru-baru ini, bandara yang dibangun pada 1960 itu mulai menerapkan iris scanner alias pemindai iris untuk memverifikasi identitas atau pengganti paspor.

Baca juga: Keren, Dubai Gunakan Teknologi Kecerdasan Buatan, Pastikan Sopir dan Penumpang Pakai Masker

Laporan Associated Press menyebut, teknologi biometrik yang menjadi bagian dari program kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan ini tercipta berkat dorongan lebih untuk mengurangi interaksi antar manusia. Itu dilakukan untuk membantu mencegah penularan virus Corona.

Program pemindai selaput pelangi atau iris mata di Bandara Dubai dimulai sejak bulan lalu. Setelah check-in, wisatawan diminta untuk melewati iris scanner dan bila tak ada kendala, pemeriksaan paspor tuntas hanya dalam hitungan detik, tak seperti di bandara lain yang masih mengharuskan wisatawan untuk menunjukkan paspor fisik dan lain sebagainya.

Cara kerjanya, data iris wisatawan mancanegara maupun domestik nantinya akan terhubung langsung dengan database face recognition Uni Emirat Arab tanpa mengharuskan mereka menunjukkan identitas masing-masing. Dengan begitu, check-in dan boarding jauh lebih cepat dibanding sistem face recognition sekalipun.

“Masa depan akan datang. Sekarang, semua prosedur menjadi ‘pintar’ (membutuhkan waktu) sekitar lima hingga enam detik,” kata Mayor Jenderal Obaid Mehayer Bin Suroor, wakil direktur Direktorat Jenderal Karesidenan dan Luar Negeri.

Teknologi biometrik atau iris scan ini belakangan memang menggema di seluruh dunia seiring penilaian buruk tentang keakuratan teknologi face recognition.

Meski dianggap lebih akurat dan cepat, namun, iris scan dinilai sama saja dengan teknologi biometrik lain yang mengancam privasi pengguna. Biometrik iris dinilai menargetkan para jurnalis dan aktivis hak asasi manusia sedunia untuk diawasi tanpa persetujuan yang bersangkutan.

Jonathan Frankle, seorang mahasiswa doktoral dalam kecerdasan buatan di Institut Teknologi Massachusetts, menyebut, “Segala jenis teknologi pengawasan menimbulkan tanda bahaya, terlepas dari negaranya seperti apa. Tapi di negara demokrasi, jika teknologi pengawasan digunakan secara transparan, setidaknya ada peluang untuk melakukan percakapan publik tentang itu.”

Terlepas dari kekhawatiran itu, Emirates, salah satu maskapai yang telah mengintegrasikan data pribadi penumpang, seperti paspor dan KTP, data penerbangan, data pengenal wajah atau face recognition, dan lain sebagainya, memastikan bahwa data penumpang digunakan dengan wajar sesuai kebutuhan penerbangan tanpa ada satupun pihak lain yang bisa mengakses.

Baca juga: Dubai Pasang ‘Mata-mata’ Canggih untuk Monitor Suhu dan Physical Distancing

Uni Emirat Arab memang terkenal dengan teknologi kamera canggih yang tersebar di seluruh penjuru kota.

Tak seperti di negara Komunis seperti Cina, negara Islam itu mengklaim menyebar banyak kamera pengawas untuk membuat aman dan nyaman masyarakat, termasuk memantau penggunaan masker, physical distancing, dan lain sebagainya terkait penanganan Covid-19. Saking banyaknya kamera pengawas, negara itu disebut menjadi negara dengan kamera pengawas terbanyak di dunia bila dihitung berdasarkan per kapita.

Terungkap! Airbus A320 Batik Air Mendarat Darurat Gegara Api dan Asap di Nose Gear

Pesawat Airbus A320 Batik Air ID-6803 rute Jambi-Jakarta memutuskan untuk kembali atau return to base (RTB) dan mendarat darurat di Bandara Sultan Thaha Jambi, karena salah satu indikator menyala di ruang kokpit (yang memberitahukan atau menunjukkan) kemungkinan ada kendala teknis (technical reason).

Baca juga: Dengan Mesin Eco-Friendly, Batik Air Datangkan Airbus A320NEO Pertama

Usai mendarat dengan selamat dan seluruh penumpang yang berjumlah 114 dewasa, 2 (dua) tamu anak-anak serta 1 (satu) balita dievakuasi dan diberangkatkan kembali, bahkan sampai saat ini pun, penyebab insiden itu masih misteri. Tetapi, satu yang pasti, nose gear atau roda bagian depan pesawat patah, menunjukkan ada yang salah dengannya.

Dalam keterangan resmi maskapai melalui Corporate Communications Strategic of Batik Air Danang Mandala Prihantoro, pesawat Batik Air lepas landas pada pukul 13.28 WIB.

Namun, setelah lepas landas, pesawat, yang sempat berputar-putar selama beberapa menit untuk mempersiapkan pendaratan dan mengurangi bahan bakar untuk mengurangi risiko, akhirnya landing kembali ke Bandara Sulthan Thaha Jambi pada pukul 13.51 WIB karena salah satu indikator menyala di ruang kokpit (yang memberitahukan atau menunjukkan) kemungkinan ada kendala teknis (technical reason).

Akan tetapi, menurut keterangan Executive General Manager Bandara Sultan Thaha Jambi, Indra Gunawan, pesawat kembali ke bandara lantaran ada kendala pada roda depan. Tak disebutkan dengan jelas kendala apa yang dimaksud.

Usai mendarat, roda bagian depan nampak patah meski proses pendaratan dilaporkan mulus. Lain cerita bila pendaratan hard landing diambil dan pesawat sampai bouncing berkali-kali, mungkin hal itu bisa saja menyebabkan roda depan pesawat patah dan menyebabkan insiden berdarah seperti yang terjadi pada Garuda Indonesia flight 200. Tetapi, nyatanya tidak.

Namun, menurut The Aviation Herald, selama proses lepas landas dan terbang sampai di ketinggian 3.000 kaki, observer bandara melihat ada percikan api dan asap dari nose gear dan dilaporkan ada kendala teknis. Hal itu kemudian diperkuat dengan aktifnya alarm di kokpit.

Baca juga: Makin Strong! Batik Air Terima Kedatangan Airbus A320-200CEO Ke-44

Pesawat Airbus A320-200 PK-LUT diketahui baru berusia 3,9 tahun atau dikirim ke Batik Air pada Mei 2017 silam. Saat ini, maskapai full service bagian dari Lion Group itu mengoperasikan 45 pesawat tersebut.

Meski roda depan patah dan menyulitkan evakuasi, sehari setelah insiden itu, pesawat berhasil dipindahkan atas kerjasama teknisi maskapai, regulator, instansi, dan pihak bandara.

Jalur Kereta Tadami di Jepang, disebut “Kereta Api Paling Romantis di Dunia” oleh Warga Taiwan

Bosan melihat sudut pandang pemandangan dari dalam kereta? Bagaimana bila melihat sudut pandang dari lensa para fotografer? Sepertinya ini akan asyik dan membuat sesuatu menjadi baru. Karena bukan hanya melihat pemandangan dari luar, tetapi bisa melihat kereta secara keseluruhan pemandangan yang ada hingga jalur yang dilintasi.

Baca juga: Stasiun Seiryu Miharashi di Jepang, Stasiun Unik Tanpa Pintu Keluar

KabarPenumpang.com merangkum asiaone.com (8/2/2021), sejak pukul 06.00 pagi waktu Jepang, sekitar 30 fotografer berada di posisi masing-masing untuk menangkap kereta yang melintas di jembatan lengkung di Oku Aizu prefektur Fukushima, Jepang. Dengan ketepatan waktu hasil gambar yang indah muncul dari hasil jepretan foto sebuah kereta hijau dan putih sepanjang dua gerbong dari hutan jalur Tadami.

Jalur kereta Tadami ini memiliki panjang sekitar 135 km yang melintas wilayah Tohoku, bagian paling utara dari pulau utama Honshu. Yang mana jalur ini menghubungkan Oku Aizu Wakamatsu di Fukushima dengan Koide di prefektur Niigata. Bisa dikatakan kereta api paling romantis di dunia yang melintasi jalur tersebut.

Sebab Tohoku sendiri merupakan tujuan ideal bagi pelancong yang ingin kembali ke alam dan menikmati kesunyian tanpa keramaian. Pada 2019, sedikitnya dua persen dari pelancong asing bepergian ke daerah ini. Daerah ini juga terhindar dari gempa bumi tetapi tahun 2011 dilanda badai hebat yang memicu banjir dan menghancurkan tiga jembatan di sepanjang jalur Tadami.

Sayangnya karena biaya perbaikan tinggi dan populasi yang berkurang di daerah itu, maka pemulihan jembatan tidak dilakukan. Bahkan enam stasiun pun ditutup permanen setelah rusak karena banjir dan mebuat penumpang harus naik bus selama satu jam dari Aizu Kawaguchi dan Tadami. Salah seorang penduduk setempat, Ken Hoshi sudah memotret daerah Oku Aizu selama 25 tahun dan mengabadikan pemandangan kereta Tadami kecil yang melintasi lembah berkabut, hutan ajaib dan pengunungan yang menjulang tinggi dengan latar belakang berbagai musim.

Hoshi mulai memposting fotonya di Facebook dan kemudian mengunjungi Taiwan untuk memamerkan fotonya dan mempromosikan tanah airnya. Responnya sangat mengejutkan karena banyak dari pengunjung tersebut berasal dari Taiwan dan merekalah yang menciptakan julukan “kereta api paling romantis di dunia”, yang pertama kali muncul di Weibo.

“Saya selamanya berterima kasih kepada orang-orang Taiwan. Banyak dari mereka telah mengunjungi kami lebih dari sepuluh kali,” kata Hoshi.

Berkat ledakan minat publik ini, pemerintah daerah telah berbagi visi Hoshi untuk merevitalisasi daerah tersebut melalui pariwisata, dan Japan Railway East telah memutuskan untuk memperbaiki Jalur Tadami.

Ini akan beroperasi penuh pada akhir 2022 dan ada juga rencana untuk memasang sudut pandang baru di sepanjang jalur yang membuat pemandangan spektakuler lebih mudah diakses, termasuk di jembatan nomor 5, 6 dan 7, setelah diperbaiki. Inisiatif Hoshi akan ditampilkan dalam film dokumenter tentang Garis Tadami, oleh sutradara Wataru Abiko, yang dijadwalkan rilis musim panas ini di Jepang dan di festival film Taiwan.

“Saya memotret Jalur Tadami bukan karena saya suka kereta, tetapi karena saya ingin mempromosikan pemandangan indah Oku Aizu. Daerah itu sangat terpukul oleh reformasi ekonomi di awal tahun 2000-an. Jumlah pekerjaan di sini turun menjadi hampir sepersepuluh dari tingkat sebelumnya. Untuk menyegarkan kembali wilayah ini, kami harus memikat orang ke sini. Saya yakin pemandangan yang indah ini cukup kuat untuk mendatangkan banyak pengunjung ke sini,” katanya.

Baca juga: Stasiun Tokyo, Merangkap Jadi Museum dan Saksi Bisu Pembunuhan Dua PM Jepang

Setelah berhasil melobi pihak berwenang setempat untuk membangun tangga ke Sudut Pandang Jembatan Sungai Tadami No 1, yang dibangun di sebuah bukit di luar kota Mishima, sekitar 500 meter dari penyeberangan, Hoshi mendesak mereka untuk memasang lift juga, sehingga orang-orang dari segala usia bisa menikmati pemandangan, terutama saat pemandangan tertutup salju.

Ternyata Ini Penyebab Mesin Boeing 777 United Airlines Terbakar di Udara

Badan Keselamatan Transportasi Nasional Amerika Serikat (NTSB) akhirnya berhasil mengungkap penyebab mesin Boeing 777-200 United Airlines terbakar. Muara dari temuan itu, Pratt & Whitney, selaku produsen mesin PW4077 yang terbakar, merevisi inspeksi rutin blade kompresor rendah (LPC) menjadi per 1.000 siklus.

Baca juga: NTSB Sebut Metal Fatigue Jadi Penyebab Mesin Boeing 777 United Airlines Terbakar

Menurut data black box cockpit voice recorder (CVR) pesawat yang didapat NTSB, seperti dilansir Simple Flying, pada 20 Februari 2021 lalu, Boeing 777-200 United Airlines dengan nomor penerbangan 328 lepas landas dengan mulus dari Bandara Denver menuju Honolulu, AS.

Empat menit kemudian, ketika mencapai ketinggian 12.500 kaki di kecepakan 280 knot, pilot mendorong tuas throttle ke posisi up untuk meningkatkan tenaga pada mesin. Itu dilakukan guna menghindari turbulensi yang biasanya kerap menghantui penerbangan di sekitar Bandara Denver.

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by KabarPenumpang.com (@kabar.penumpang)

Setelah throttle pada posisi up, beberapa menit berselang terdengar suara ledakan keras di bagian mesin kanan pesawat, diikuti peringatan kebakaran mesin. Beberapa bagian mesin pun jatuh ke daratan dan nyaris menimpa rumah warga.

Sejurus kemudian, pilot dan kopilot menyatakan keadaan darurat dan memutuskan untuk return to base atau go around ke Bandara Denver dan melakukan pendaratan darurat. Pada prosesnya, kru mengecek daftar periksa kebakaran mesin untuk memadamkan api. Sayangnya, api tak kunjung padam dan alarm kebakaran mesin masih terus berbunyi.

Meskipun bahan bakar masih terlalu penuh untuk melakukan pendaratan, pilot memutuskan untuk tidak membuang bahan bakar pesawat untuk alasan waktu dan keamanan. Tak lama kemudian, approach berhasil dilakukan dan pesawat berhasil mendarat darurat bersama 241 orang, termasuk penumpang dan awak.

Laporan awal menyebutkan kebakaran mesin Boeing 777 United Airlines lebih disebabkan oleh metal fatigue atau kelelahan (kehausan) logam. Tetapi, Jumat lalu NTSB menjelaskan dengan lebih detail bahwa kecelakaan disebabkan oleh adanya dua bilah kipas yang patah. Patahan bilah kipas itu disebabkan oleh metal fatigue. Selain itu, ada pula bilah mesin yang bergeser akibat overload failure.

Mengetahui hal itu, Pratt & Whitney pun merevisi ambang pemeriksaan gambar akustik termal (TAI) menjadi 1.000 siklus untuk blade kompresor rendah (LPC). Inspeksi ini kemudian ditindaklanjuti Regulator Penerbangan Sipil AS (FAA) dengan Petunjuk Kelaikan Udara Darurat untuk mengetahui adanya retakan pada bilah mesin.

Baca juga: Berkaca dari Insiden Boeing 777 United Airlines, Inilah Perbedaan Kegagalan Mesin Terkendali dan Tidak?

Keduanya juga memberikan panduan tentang perbaikan yang diperlukan untuk diselesaikan United Airlines, agar 24 pesawat Boeing 777-200 yang digrounded pasca kejadian itu bisa kembali ke udara.

Sebagai informasi, United Airlines adalah satu-satunya maskapai di Amerika Serikat (AS) yang masih menggunakan mesin tipe ini. Pengguna lain mesin PW 4000 adalah Jepang dan Korea. Untuk Jepang, regulator penerbangan baru melarang maskapainya menggunakan Boeing 777 dengan mesin PW 4000 setelah terjadi insiden di AS.

Hari Ini, Raymonde de Laroche Jadi Pilot Wanita Berlisensi Pertama di Dunia, Terinspirasi Wright Bersaudara

Hari ini, 111 tahun yang lalu, bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional 8 Maret 1910, Raymonde de Laroche resmi menjadi pilot wanita berlisensi pertama di dunia. Menariknya, de la Roche mendapatkan lisensi pilot pertama yang diberikan kepada wanita bukan atas dasar cita-cita yang tertanam sejak kecil, melainkan terinspirasi dari wright bersaudara.

Baca juga: Hari Ini, Lisensi Pilot Sipil Pertama di Dunia Dimulai Atas Perintah Presiden AS Woodrow Wilson

Dilansir aerotime.aero, keberhasilan wanita kelahiran 1882, di Paris, Perancis, ini mendapatkan lisensi pilot pertama untuk wanita dinilai sangat luar biasa. Betapa tidak, di masa itu, wanita sangat dikucilkan.

Di Amerika Serikat (AS), wanita terus-menerus dipandang sebelah mata sampai itu berubah pada 1920. Begitu juga dengan wanita di Kanada, terus-menerus berada di tempat rendah sampai tahun 1929. Di Perancis pun demikian, sekalipun pada akhirnya ia terus melawan dan tercatat abadi dalam sejarah.

Raymonde Elise de Laroche awalnya menjani karir sebagai seorang aktris. Wanita dari kalangan keluarga miskin ini kemudian mendekati Charles Voisin, seorang pilot dan pembuat pesawat, dan memintanya untuk mengajari cara mengemudikan pesawat.

Bukti lisensi yang dikeluarkan French Aero-Club untuk Elise Raymond de Laroche. Foto: aerotime.aero

Hasratnya untuk menjadi seorang penerbang atau pilot andal muncul ketika ia menghadiri penerbangan demonstrasi Wright bersaudara di Paris pada tahun 1908. Karenanya, ia tak ragu untuk meminta Voisin mengajarinya menjadi pilot.

Pelatihan pertamanya menjadi pilot dimulai pada Oktober 1909, di Chalons, sekitar 140 kilometer sebelah timur Paris. Sayangnya, pesawat Voisin hanya bisa menampung satu orang. Alhasil, de la Roche hanya belajar kontrol penerbangan di darat tanpa menerbangkan pesawat.

Setelah dirasa menguasai teori, ia pun diizinkan terbang dan berhasil melakoni penerbangan pertamanya meski hanya sejauh 270 meter. Ia berhasil menerbangkan pesawat jauh sebelum pilot wanita yang digadang-gadang sebagai yang pertama di dunia, Amelia Earhart, yang baru mulai belajar terbang pada 3 Januari 1921.

Pesawat eksperimental yang diuji Elise Raymond de Laroche jatuh dan menewaskannya. Foto: aerotime.aero

Sampai di sini, sebetulnya ia sempat ditetapkan sebagai pilot wanita pertama di dunia. Meski masih banyak perdebatan, banyak yang percaya bahwa gelar pilot wanita pertama di dunia Therese Peltier, ketika dia melakukan penerbangan solo di Turin, Italia pada tahun 1908.

Terlepas dari hal itu, yang pasti, Raymonde de Laroche berhasil menjadi pilot wanita berlisensi resmi pertama di dunia setelah French Aero-Club secara resmi mengeluarkan lisensi pilot no. 36 untuknya.

Baca juga: Mengenal Yvonne Pope Sintes, Mantan Pramugari yang Jadi Pilot Maskapai Wanita Pertama Inggris

Pasca mendapatkan lisensi pilot resmi, de Laroche menghadiri banyak acara air show atau pertunjukan udara di seluruh dunia. Di Uni Soviet, ia bahkan sampai dipertemukan dengan Tsar Nicholas II, karena kemahirannya dalam menerbangkan pesawat. Ia juga sempat menghadiri pertunjukan udara di Reims, Perancis.

Perjalanan de Laroche sebagai pilot wanita pertama di dunia akhirnya terhenti pada 18 Juli 1919. Ketika itu, ia yang merasa cukup berbakat, ingin menjadi pilot uji untuk membantu produsen pesawat membuat produk-produk yang lebih baik. Sayangnya, pesawat eksperimental yang diuji tiba-tiba menukik dan jatuh. Dua pilot uji dinyatakan tewas, salah satunya de Laroche yang meninggal pada usia 36 tahun.

Japan Airlines Bingung Saat Orang Terberat di Dunia Naik Pesawat, 16 Kursi Jadi ‘Korban’

Hari ini, 35 tahun lalu, bertepatan dengan 6 Maret 1986, Japan Airlines bingung bukan kepalang saat melayani penumpang yang juga orang terberat di dunia ketika hendak ikut dalam penerbangan dari Frankfurt, Jerman. Demi penumpang asal Austria seberat 400 kg tersebut, Japan Airlines akhirnya harus mencopot setidaknya 16 kursi untuk memberikan ruang untuknya.

Baca juga: Punya Berat Badan Berlebih dan Maun Naik Pesawat? Cek Dulu Tips Ini!

Sebetulnya, informasi detail, mulai dari gate masuk, check in, boarding, menuju garbarata, melewati pintu pesawat yang sejatinya cukup kecil, sampai melewati lorong, duduk di kursi, dan melakukan hal serupa saat pesawat tiba di bandara tujuan, terkait peristiwa itu sangat sedikit sekali.

Tetapi, gambaran akan itu mungkin bisa dilihat dari pengalaman orang terberat di dunia lainnya -sekalipun tidak seberat penumpang Japan Airlines- ketika menjadi penumpang pesawat.

Disarikan dari berbagai sumber, pada bulan November tahun 2010 lalu, seorang penumpang salah satu maskapai Amerika Serikat (AS) pernah menyaksikan penumpang lainnya setinggi dua meter lebih dengan berat lebih dari 181 kg berada dalam penerbangan yang sama dengannya.

Dalam kesaksiannya, ia melihat bahwa penumpang terberat di dunia dalam penerbangan dari Denver ke Los Angeles, AS, tersebut berjalan miring selama di lorong pesawat. Tak hanya itu, tangannya juga diangkat seraya mata melirik kesana kemari memastikan agar tak membentur kursi apalagi orang lain yang sudah lebih dahulu duduk.

Menariknya, kesaksiannya itu mengingatkan ia pada masa-masa kelam dahulu ketika ia juga pernah memiliki bobot sebesar itu.

Dahulu, ketika ia masih menjadi orang terbesar di dunia dan ingin naik pesawat, sejak pertama kali memesan tiket, ia mengaku tidak pernah merasa nyaman. Ketika sampai di bandara pun, ia selalu sibuk tengok sana sini untuk memastikan adakah penumpang lain yang sebesar dirinya.

Hal itu terus dilakukan sampai di dalam kabin dan duduk di kursi. Sayangnya, tidak ada yang sebesar dirinya dan ia bisa dibilang menjadi penumpang terbesar atau tergemuk dalam penerbangan tersebut.

Menurutnya, memiliki badan besar akan sangat membantu ketika mendapat kursi di pojok dekat jendela atau pinggir dekat lorong. Bila mendapat kursi di tengah, sudah pasti itu akan menjadi pengalaman buruk buatnya dan penumpang lain.

Sepanjang perjalanan, ia mengaku hanya bisa bersandar ke belakang dan ke jendela atau sesekali berpegangan ke kursi sebelah dengan tambahan kaki kiri atau kanan menahan badan karena tak semua bokong mendapat dudukan ketika duduk di kursi pinggir dekat lorong. Silih berganti seperti itu. Tetapi, kakinya selalu keram karena leg room sempit dan kakinya juga terlalu panjang.

Saat makanan datang, ia sama sekali tidak bisa menurunkan meja baki karena terhalang perutnya. Tangannya juga tak bisa bersandar di armrest dan hanya bisa disilangkan di dada.

Baca juga: Pernah Minta Cebok Ke Pramugari, Pria Gemuk Ini Telah Meninggal Dunia

Sabuk pengaman sudah pasti tidak muat dan harus minta petugas memanjangkannya. Proses keluar kurang lebih sama ketika pertama kali masuk ke kabin dan tentu saja seluruh mata tertuju padanya; bahkan ketika hendak menumpangi taksi sekalipun.

Dengan bobot besar, seharusnya penumpang diminta untuk membeli dua kursi sekaligus. Maskapai pada umumnya memberlakukan kebijakan itu. Tetapi, ketika kursi di sebelahnya kosong, biaya untuk satu kursi itu akan dikembalikan. Beruntung, ia tak sampai dikenai biaya tambahan sekalipun ada penumpang lain di sebelahnya.

Okupansi Minim dan Terlalu Dekat dengan Stasiun Manggarai, Stasiun Mampang Nonaktif Secara Permanen

Pernah dengar atau melihat keberadaan Stasiun Mampang? Bila pernah mendengar nama dan melihatnya, stasiun ini bukan berada di Mampang Prapatan d Jakarta Selatan tetapi letaknya justru berada di Jalan Latuharhary, Menteng, Jakarta Pusat. Nama Mampang sendiri karena merujuk dengan empang atau kolam.

Baca juga: Kerangka Dibuat dari Kayu Jati, Bangunan Stasiun Lobener Masih Bertahan Hingga Kini

Namun bisa juga karena Stasiun Mampang dilewati Kanal Banjir Barat yang merupakan aliran air Sungai Ciliwung. Nah, bagaimana keberadaannya apakah masih aktif atau nonaktif?

Ternyata stasiun kelas III atau kecil ini tak lagi beroperasi. Stasiun Mampang merupakan salah satu stasiun yang termasuk dalam Daerah Operasional atau Daop 1 Jakarta. Pada masa jayanya, stasiun ini melayani kereta rel listrik atau KRL Jabodetabek dari Stasiun Tanah Abang ke Stasiun Jakarta Kota.

Dulu stasiun ini juga sempat melayani KRL Ciliwung. Sayangnya karena okupansi yang minim serta jaraknya yang terlalu dekat dengan Stasiun Manggarai, membuat Stasiun Mampang berhenti beroperasi dan dinonaktifkan secara permanen.

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, hingga saat ini tidak jelas kapan Stasiun Mampang ditutup dan berhenti beroperasi. Meski tak lagi beroperasi, bangunan stasiun masih ada meski sudah tak berbentuk seperti stasiun dan juga peron masih terlihat jelas.

Saat ini pun Stasiun Mampang masih tetap ada di dalam peta KRL meski tak lagi ada kereta yang berehenti di sana. Bahkan announcer otomatis KRL pernah menyebutkan nama Stasiun Mampang saat KRL melintasinya. Sebenarnya untuk sampai ke Stasiun Mampang cukuplah mudah diakses.

Bekas Stasiun Mampang dekat dengan Gereja St Ignasius Loyola Menteng dan hanya menempuh lima menit berjalan kaki. Bila menggunakan kendaraan umum seperti bus TransJakarta, bisa turun di Halte Pasar Rumput dan berjalan kaki sekitar 300 meter. Untuk diketahui, PT KCI sudah menjalankan sistem loopline, tetapi sepertinya Stasiun Mampang tak masuk dalam stasiun yang dihidupkan.

Baca juga: Stasiun Kedundang di Yogyakarta, Punya Arsitektur Bersejarah Tinggi 

Kondisi stasiun ini telah rusak walaupun sejatinya stasiun ini dapat dioperasikan apabila Stasiun Manggarai mengalami antrean. Di stasiun ini terdapat sinyal muka Stasiun Manggarai, KA yang tertahan sinyal masuk akan berhenti di stasiun ini tanpa turun naik penumpang.

Ini Ternyata Alasan AC Bus Berada di Bagian Atap atau Belakang

Fitur pendingin udara atau Air Conditioner (AC) sudah lazim melengkapi bus terutama di negara berklim tropis seperti Indonesia. AC menjadi salah satu fitur yang membantu penumpang merasa sejuk ketika cuaca di luar bus sedang panas.

Baca juga: Pintu Kupu-kupu (Lipat) Ditinggalkan Bus/Angkot dan Kereta Api, Inilah Alasannya

Pernah lihat letak sistem AC pada bus? KabarPenumpang.com mengutip kompas.com, ada dua model sistem AC pada bus yakni ditempatkan di atap dan bagian belakang tepatnya dekat dengan mesin. Nah kenapa ada perbedaan lokasi tempat sistem pendingin udara di bus?

AC bus berada di bagian belakang (haltebus.com)

Ternyata perbedaan tempat ini juga disesuaikan dengan bodi bus itu sendiri. Werry Yulianto, Export Manager Karoseri Laksana mengatakan, bus biasa letak AC berada di atas atap, sedangkan sistem AC yang letaknya di belakang bus karena bodi yang tinggi, seperti double decker.

AC bus yang berada di atap merupakan bagian kondensor dan bagian kompresor ada di dekat mesin serta blower di bagian kabin bus. Werry menyebutkan bahwa, bus dengan AC di belakang, posisi kondensornya berada di atas mesin.

Design Development karoseri New Armada Deddy Hermawan menambahkan, posisi AC yang berada di atap bus karena blower AC mengalirkan udara dingin ke sisi depan dan belakang kabin yang sama. Dia menyebutkan AC yang berada di belakang bus biasanya digunakan bus tingkat mengingat ketinggian bus maksimal 4,2 meter agar tidak menambah tinggi bus.

”AC belakang juga memiliki spesifikasi khusus,” ucap Deddy.

Deddy mengatakan, semakin dekat posisi AC dengan kompresor yang ada di mesin, membuat sistemnya semakin efisien. Hal ini dikarenakan jarak sirkulasi freon dingin yang semakin pendek.

Baca juga: Pelayanan Rumah Makan Minang dan Karakter Penumpang, Jadi Sebab Bus AKAP Lintas Sumatera Tak Sediakan Makan

Werry menegaskan, dua model AC bus ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Biaya dan kemudahan memasang menjadi pembeda antara kedua model AC ini.

“Kalau yang di atap lebih murah, tapi memakan tempat dan ribet pasangnya. Kalau yang di belakang, lebih simpel modelnya, tapi dengan harga yang cukup mahal,” kata Werry.

Penumpang Ngaku Bawa Bahan Peledak, Ternyata Isi Tasnya ‘Teh Hitam’

Pada Kamis malam (25/2/2021) seorang pria membuat semua penumpang di dalam Taiwan High-Speed ​​Rail (THSR) ketakutan. Pasalnya pria tersebut mengaku membawa bahan peledak dan ternyata yang ada di dalam tasnya adalah teh hitam. Pria bermarga Lin kemudian menjadi tersangka ketika polisi menerima laporan dari pusat kendali THSR pukul 22.20 waktu setempat.

Baca juga: Gara-Gara Takut Tertinggal Kereta, Pria Ini Laporkan Adanya Bom

Di mana dalam laporan tersebut ada seorang pria berusia 40-an yang naik kereta No.857 di Stasiun Tainan menuju Stasiun Zuoying Kaohsiung. Pria itu kemudian memberitahukan kepada kondektur bahwa dirinya membawa peledak di dalam kereta.

Isi kotak kartonnya termasuk dua karton teh hitam (taiwannews.com.tw)

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman taiwannews.com.tw (26/2/2021), karena laporan tersebut tim SWAT dari Kepolisian, petugas pemadam kebakaran dan ahli bahan peledak dari Biro Investigasi Kriminal (CIB) bergegas ke Stasiun Zuoying dan mengevakuasi penumpang dari daerah tersebut. Ketika tersangka, bermarga Lin, turun dari kereta dan naik ke peron di Zuoying pada pukul 22.30, dia berseru, “Ada bahan peledak di dalam!”.

Dia kemudian menjatuhkan kotak karton ke platform dan kemudian pakar bahan peledak segera menutupi kotak itu dengan selimut penekan bom. Polisi mengalami ketegangan yang tegang dengan pria itu dan mereka berkomunikasi dengannya selama lebih dari 30 menit.

Sekitar pukul 23.10, ketika Lin tampak lengah, petugas bergegas ke depan, menjatuhkannya ke tanah dan menahannya. Karena kehati-hatian, petugas sekitar pukul 24.05 menggunakan mesin sinar-X untuk memindai kotak yang ditinggalkan di peron oleh tersangka tetapi tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan.

Setelah memastikan tidak ada bahan peledak di dalam kotak, mereka membukanya dan hanya menemukan pakaian dan dua karton kecil teh hitam. Kondektur mengatakan kepada polisi bahwa menurutnya Lin bertingkah mencurigakan dan bertanya apakah dia membutuhkan bantuan. Saat itulah Lin tiba-tiba berteriak, “Saya membawa bahan peledak.”

Baca juga: Bom di Kereta Bawah Tanah, Lumpuhkan Transportasi Metro di St. Petersburg

Polisi mengatakan bahwa Lin tampaknya dalam kondisi mental yang buruk dan memiliki riwayat perawatan medis untuk penyakit mental. Menurut polisi, tersangka dan saksi masih menjalani pemeriksaan terkait kejadian tersebut hingga Jumat pagi (26/2/2021). Setelah pemeriksaan selesai, Lin akan dipindahkan ke kantor kejaksaan untuk diperiksa karena melanggar Pasal 305 KUHP karena mengancam dan membahayakan keselamatan publik.

AirAsia Food Siap Bersaing di Segmen Layanan Antar Makanan Online

Satu tahun sudah Covid-19 menjadi pandemi di dunia dan membuat industri penerbangan serta pariwisata masih belum bisa menarik banyak penumpang maupun pelancong untuk bepergian. Bahkan membuat beberapa maskapai di dunia berhenti operasi sementara. Namun meski begitu, demi membuat para pekerjanya kembali melakukan aktivitas, maskapai melakukan berbagai inovasi.

Baca juga: AirAsia Buka Restoran Darat di Mall Kuala Lumpur dengan Menu di Penerbangan

Salah satunya adalah maskapai berbiaya hemat milik Malaysia AirAsia yang kini merambah layanan pengantaran makanan. Maskapai ini menghadirkan produk barunya yakni AirAsia Food yang sudah diluncurkan pada awal Maret ini di Malaysia.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Tony Fernandes (@tonyfernandes)


Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, CEO AirAsia Tony Fernandes bahkan turun tangan sendiri dalam pengantaran makanan ke pelanggan. Sehingga bagi warga Malaysia yang beruntung dan menggunakan aplikasi tersebut bisa saja bertemu dengan sang CEO ini.

Dia juga mengunggah foto ketika mengantar makanan ke akun Instagram pribadinya dan beberapa pelanggan mengaku melihat sekilas Tony saat mengantar makanan pesanan mereka. Pada awal kehadirannya, ada program menarik dari AirAsia Food yakni menyediakan hadiah berupa makanan gratis selama sebulan dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.

Tak hanya di Malaysia, AirAsia Food pun membentangkan sayap layanan antar makanannya ke Singapura. Bahkan maskapai ini juga berencana hadir di Indonesia, Filipina serta Thailand sebelum akhir tahun 2021. Saat ini setelah merambah ke Singapura, layanan tersebut masih dalam tahap pengenalan.

Jika di Malaysia, AirAsia Food menawarkan pengiriman gratis dalam radius 15 km dari Klang Valley di Kuala Lumpur. Di Singapura, AirAsia Food menawarkan pengiriman gratis selama dua minggu untuk pesanan dalam jarak delapan kilometer. Peluncuran di Singapura dilakukan pada awal minggu ini dan AirAsia Food sudah bekerja sama dengan 24 gerai.

“AirAsia dalam hal ini harus bertarung dengan pemain-pemain mapan yang sudah ada sebelumnya. Sejauh ini, AirAsia Food sudah memiliki 500 pengendara dan 300 operator makanan lainnya sedang dalam proses untuk bergabung,” kata Lim Ben-Jie, kepala e-commerce untuk aplikasi AirAsia.

Baca juga: AirAsia Buka Restoran Darat di Mall Kuala Lumpur dengan Menu di Penerbangan

Pemesanan dapat dilakukan di situs web AirAsia Food atau melalui aplikasi supernya, di mana penerbangan juga dapat dipesan di sana. Ada tiga platform layanan pengiriman makanan utama di Singapura, yakni GrabFood, Foodpanda, dan Deliveroo. Mereka mengenakan tarif antara 25 dan 35 persen. Lim memperkirakan bahwa layanan AirAsia Food dapat menghasilkan rata-rata hingga SGD700 seminggu jika mereka mengirimkan sepuluh pesanan per hari selama enam hari seminggu.