KM Umsini Jadi Pusat Perawatan Covid-19, Pasien Isolasi Bisa Memancing untuk Mengisi Waktu Luang

Bukan hanya di luar negeri yang mengubah kapal menjadi sebuah bangsal rumah sakit atau ruang untuk perawatan pasien terdampak Covid-19. Di Indonesia, tepatnya di Makassar, Sulawesi Selatan, hal ini pun dilakukan. Kapal yang digunakan adalah kapal  penumpang yang memiliki berat 14.500 gross ton.

Baca juga: Kapal Penumpang di Swedia Dikonversi jadi Rumah Sakit

Kapal ferry bernama KM Umsini itu berusia 36 tahun dan biasanya menangkut penumpang sebanyak 1.600 orang dan juga kargo. Kini setelah dikonversi oleh pihak berwenang pada Juli kemarin, KM Umsini menjadi pusat isolasi dengan 800 tempat tidur dan 60 tenaga medis yang merawat pasien Covid-19.

Dilansir KabarPenumpang.com dari maritime-executive.com (17/8/2021), banyak fasilitas yang dihadirkan untuk menunjang pelaksanaan isolasi mandiri pasien terinfeksi Covid-19. Ada pun fasilitasnya yakni kamera pengintai atau CCTV, poliklinik dan jogging track dengan dek atas diubah menjadi ruang terbuka untuk berolahraga atau berjemur.

Uniknya lagi, karena isolasi di atas sebuah kapal, pasien bisa mendengarkan musik dan berpartisipasi memancing dari geladak kapal untuk mengisi waktu luang selama isolasi mandiri. KM Umsini merupakan kapal penumpang yang dimiliki oleh PT Pelni yang diproduksi oleh pabrik kapal asal Papenburg, Jerman yang bernama Jos L Meyer.

Nama kapal Umsini ini diambil dari nama sebuah gunung yang bernama Gunung Umsini. Letak gunung Umsini berada di Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat. Kapal KM Umsini dilengkapi dengan beberapa fasilitas seperti tempat tidur, pendingin ruangan, makanan, restoran, salon dan mushola.

Selain Umsini, PT Pelni pekan lalu mengoperasikan empat kapal penumpang lainnya untuk dijadikan lokasi isolasi terapung. Keempat kapal tersebut antara lain KM Tatamailau yang akan sandar di Bitung, KM Bukit Raya di Pelabuhan Belawan, KM Sirimau di Pelabuhan Sorong dan KM Tidar di Pelabuhan Jayapura.

“Sebelum digunakan, semua kapal akan disterilkan dan dilengkapi dengan fasilitas pendukung penerapan floating isolasi oleh pemerintah dan instansi setempat. Hal ini harus dilakukan agar memenuhi standar sebagai lokasi isolasi mandiri yang ditetapkan Kementerian Kesehatan seperti yang telah dilakukan di KM Umsini Makassar,” kata Insan Purwarisya Tobing, Direktur Utama PT Pelni.

Keempat kapal tersebut akan menyediakan total 906 tempat tidur untuk pasien Covid-19 dan 23 tempat tidur untuk tenaga medis. Indonesia bukan negara pertama yang menggunakan kapal penumpang untuk membuat tambahan tempat tidur medis untuk isolasi.

Baca juga: Detroit Kedatangan Sepuluh Minivan Odyssey Guna Bantu Penanganan Pasien Covid-19

Di awal pandemi, Italia juga menggunakan feri dan kapal pesiar untuk menyediakan ruang bangsal tambahan bagi mereka yang tidak sakit kritis. Italia juga telah menggunakan feri untuk membuat bangsal isolasi bagi beberapa migran yang mencapai pantainya.






















Beda Pemandangan Evakuasi Warga di C-17 Globemaster India dan Amerika dari Afghanistan

Pesawat Boeing C-17 Globemaster menjadi salah satu yang menyita perhatian setelah peristiwa kejatuhan Kabul ataupun istana kepresidenan Afghanistan ke tangan Taliban, 15 Agustus lalu.

Baca juga: Mengenal Sidewall Seats, Kursi C-17 Globemaster yang ‘Hilang’ Saat Evakuasi Warga di Afghanistan

Di antara video-foto viral di jagat dunia maya terkait pesawat angkut militer itu, momen ketika pesawat hendak lepas landas dari Bandara Kabul namun masyarakat justru menyertainya seraya mencoba menaiki bagian luar pesawat adalah salah satunya.

Tak cukup sampai di situ, di bagian dalam, pesawat angkut dengan jarak tempuh 10.390 km, bentang sayap 52 meter, dan kecepatan maksimum mencapai 950 km per jam ini juga menyita perhatian dari bagian dalamnya.

Kita tahu, dalam proses evakuasi oleh Angkatan Udara AS menggunakan pesawat tersebut, setidaknya ada 800 penumpang di bagian dalam kabin. Padahal, Boeing C-17 Globemaster biasanya membawa 102 pasukan payung atau 150 pasukan reguler dengan konfigurasi palet dan sidewall seats atau kursi samping menempel di dinding pesawat. Jauh melebihi kapasitas, bukan?

Akan tetapi, dalam proses evakuasi menggunakan jenis pesawat yang sama oleh Angkatan Udara India (IAF), penampakan di luar apalagi di dalam kabin sangat jauh berbeda. Entah karena timing atau memang jumlah yang dievakuasi tak sebanyak AS, yang jelas evakuasi oleh IAF sangat berjalan sebagaimana mestinya.

Evakuasi diplomat, pejabat, dan wartawan oleh militer India menggunakan pesawat Boeing C-17 Globemaster. Foto: Twitter @ZaidZamanHamid

Dilansir hindustantimes.com, India melalui IAF disebut mengirim Boeing C-17 Globemaster untuk menjemput pulang sekitar 120 orang, terdiri dari diplomat, pejabat, dan wartawan, dari Kabul, Afghanistan pada Selasa lalu.

Pesawat itu kemudian berhasil mendarat di New Delhi pada pukul 13:30 siang setelah transit di Jamnagar Gujarat. Ini diketahui merupakan gelombang kedua dari proses evakuasi oleh IAF dari Afghanistan.

Adapun penerbangan evakuasi pertama oleh pemerintah India sudah dilakukan pada hari Minggu kemarin, persis setelah Taliban menduduki istana kepresidenan Afghanistan, menggunakan pesawat sipil Air India.

“Sambutan Anda berdampak pada kita semua. Terima kasih kepada Angkatan Udara India yang menerbangkan kami dalam kondisi yang tidak normal,” kata duta besar India untuk Afghanistan, Rudrendra Tandon.

Baca juga: [Foto-foto] Kekacauan di Bandara Kabul Sampai Ada yang Tewas Terlindas Pesawat

Saat ini, India masih menunggu penerbangans sipil dibuka kembali oleh AS selaku pemegang otoritas sementara Bandara Hamid Karzai atau Bandara Kabul.

Sejak Senin lalu, Bandara Kabul memang berada di tangan otoritas AS setelah Turki secara tiba-tiba meninggalkan bandara dan negara itu. Taliban yang buta huruf dan tak tahu cara mengatur lalu lintas bandara akhirnya menyerahkan itu ke AS.

Nyaris 54 Tahun, Ini Pesawat Komersial Aktif Tertua di Dunia

Meski pesawat terbaru dengan sederet fitur canggih di kokpit maupun kabin penumpang diburu maskapai. Tetapi, di seantero dunia masih ada maskapai yang mengoperasikan pesawat tua. Bahkan, salah satu maskapai di Benua Amerika masih mengoperasikan pesawat yang nyaris berumur 54 tahun. Luar biasa, bukan?

Baca juga: Setelah 68 Tahun Beroperasi, Pesawat Convair 580 Air Chathams Akhirnya Pensiun

Menurut data dari ch-aviation.com, pesawat komersial aktif tertua di dunia saat ini dioperasikan oleh maskapai Meksiko Aeronaves TSM. Maskapai charter dan kargo ini diketahui memiliki 11 pesawat McDonnell Douglas DC-9.

Seluruh pesawat twin jet yang mesinnya terletak di bagian belakang ini diketahui buatan akhir 1960-an dan awal 1970-an. Pesawat tertua teregistrasi sebagai XA-TIG, berusia 53,93 tahun. Pesawat ini akan merayakan 54 tahun sepak terjangnya di udara pada bulan September mendatang.

Sejak pertama kali selesai dibuat, pesawat itu terbang melayani penumpang bersama Texas International dan Air National dari 1967 hingga 1984, sebelum diubah menjadi konfigurasi kargo setelahnya dan bergabung dengan Aeronaves TSM pada tahun 2017.

Selain McDonnell Douglas, Boeing juga mempunyai pesawat tertua di dunia yang masih aktif beroperasi, meskipun di luar layanan komersial. Masih menurut ch-aviation.com, Boeing 737-200 yang diregistrasi sebagai FAP354 tercatat sebagai pesawat tertua di dunia yang berusia 51,64 tahun.

Sama seperti DC-9, pesawat yang dioperasikan oleh Fuerza Aérea del Per (Angkatan Udara Peru) ini awalnya melayani penerbangan penumpang bersama Aer Lingus sejak tahun 1970. Selain Boeing 737-200, Angkatan Udara AS juga tercatat masih mengoperasikan pesawat tua Boeing 707-300 berusia lebih dari 50 tahun.

Di kelas pesawat regional, ‘Twin Otter’ de Havilland Canada DHC-6-300 menjadi pesawat komersial aktif tertua di dunia, dimana yang paling tua teregistrasi sebagai F-OIJI, sudah berusia 51,62 tahun. Saat ini, maskapai masih rutin terbang bersama Air Loyauté di Kaledonia Baru.

Pesawat tercatat mulai masuk tahun layanan di Australia sebelum keliling dunia dengan beberapa maskapai berbeda dan jatuh ke tangan Air Loyauté pada tahun 2009.

Sebetulnya, gelar pesawat komersial aktif tertua di dunia bisa saja dipegang oleh Convair 580 Air Chathams yang berusia sekitar 68 tahun (buatan tahun 1953).

Sayangnya, tiga pesawat yang dimiliki maskapai asal Selandia Baru itu dipastikan pensiun tahun ini. Meski begitu, bila ditanya maskapai komersial aktif tertua di dunia saat ini, tentu Convair 580 adalah jawabannya.

Selain itu, untuk pesawat aktif tertua di dunia, di luar layanan komersial, bila menurut ch-aviation.com dipegang oleh Boeing 737-200 Fuerza Aérea del Per, maka, menurut sumber lain, bisa saja itu diraih oleh McDonnell Douglas DC-3. Sampai tahun 2017 lalu, masih ada sekitar 2.000an pesawat yang aktif melayani penerbangan komersial di seluruh dunia.

Baca juga: Hawker Siddeley 748 Air North Pensiun Setelah 51 Tahun Mengudara! Masih Ragukan Pesawat Tua?

Sayangnya tak ada data yang memastikan berapa pesawat dari jumlah tersebut yang masih aktif beroperasi.

Andai ada satu saja pesawat yang masih aktif beroperasi, itu akan jadi pesawat aktif tertua di dunia, mengingat pesawat tersebut sudah stop produksi pada dekade 50-an. Itu berarti pesawat DC-3 yang masih aktif beroperasi saat ini berusia sekitar 60-70 tahunan.

Mengenal Sidewall Seats, Kursi C-17 Globemaster yang ‘Hilang’ Saat Evakuasi Warga di Afghanistan

Sedikitnya 800 orang berhasil dievakuasi pesawat militer C-17 Globemaster setelah Taliban berhasil menguasai istana kepresidenan Afghanistan. Dalam kondisi sepenuh itu, sudah pasti warga yang dievakuasi tidak mendapat tempat yang laik di dalam pesawat.

Baca juga: [Foto-foto] Kekacauan di Bandara Kabul Sampai Ada yang Tewas Terlindas Pesawat

Padahal, dalam kondisi normal, sebagaimana pesawat biasa, pesawat tersebut memiliki konfigurasi penumpang tersendiri, meski tidak seperti pesawat komersial dimana penumpang duduk berbaris menghadap depan.

Dilansir Indomiliter.com, Boeing C-17 Globemaster biasaya membawa 102 pasukan payung atau 150 pasukan reguler dengan konfigurasi palet dan sidewall seats atau kursi samping menempel di dinding pesawat.

Kendati begitu, bukan berarti pesawat dengan kapasitas payload hingga 77,5 ton, namun untuk peran angkut personel, rilisan resmi pesawat bermesin empat unit Pratt & Whitney F117-PW-100 turbofan ini tak sanggup mengangkut penumpang jauh di atas itu. Evakuasi mencapai 800 penumpang dalam sekali terbang baru-baru ini menjadi buktinya.

Dengan kondisi chaos dimana penerbangan evakuasi terbatas tetapi warga yang ingin dievakuasi membludak, sudah pasti proses evakuasi berjalan dramatis. Semua orang berlomba untuk ambil bagian sebagai penumpang yang dievakuasi sekalipun Presiden AS Joe Biden sudah memastikan proses evakuasi akan berjalan lancara tanpa gangguan Taliban.

Belum lama ini, dalam pidato terbarunya, Biden mengultimatum Taliban agar tak mengganggu kepentingan AS, dalam hal ini proses evakuasi di bandara.

“Saat kami melakukan evakuasi ini, kami telah menjelaskan kepada Taliban, jika mereka menyerang personel kami atau mengganggu operasi kami, respon AS akan cepat dan kuat,” kata Biden seperti dilansir Associated Press.

“Kami akan membela rakyat kami dengan kekuatan menghancurkan jika perlu.” tambahnya.

“Kami akan mengakhiri perang terpanjang Amerika setelah 20 tahun pertumpahan darah. Peristiwa yang kita lihat sekarang ini adalah bukti menyedihkan bahwa tak ada jumlah kekuatan militer sebanyak apa pun yang akan pernah menciptakan Afghanistan yang stabil, bersatu, aman,” ujar Biden.

Baca juga: Penerbangan Repatriasi Qantas Pulangkan Ratusan Aussie dari Bali

Kembali ke soal sidewall seats terkait evakuasi C-17 Globemaster yang mengangkut sekitar 800 penumpang dalam sekali angkut, sebetulnya tak semua pesawat militer memiliki konfigurasi kursi penumpang mengadang ke samping atau menempel di dinding. Model kursi sidewall sifatnya portable dan dapat dilipat, umumnya model  kursi ini dipersiapkan untuk pasukan payung yang akan melaksanakan misi penerjunan dari pesawat angkut. 

 

‘Misteri’ Batik Air PK-BDF, Misi Penerbangan Repatriasi WNI dari Kabul

Dengan tajuk penerbangan repatriasi, beragam pesawat diterbangkan secara charter untuk melakukan evakuasi pada warga negara asing yang ingin segera keluar dari ibu kota Afghanistan, Kabul. Dari Indonesia, disebutkan ada sekitar 15 orang WNI yang berada di kota yang kini dikuasi Taliban tersebut, termasuk di antaranya adalah staf Kedutaan Besar Republik Indonesia.

Baca juga: Ini Deretan Pesawat Maskapai yang Terjebak di Bandara Kabul Usai Chaos

Meski Kedubes RI masih beroperasi di Kabul, serangkaian rencana tengah dimatangkan untuk memulangkan WNI, salah satu kabar yang menarik perhatian adalah adanya penerbangan dari maskapai swasta Indonesia yang melakukan misi repatriasi. Maskapai yang dimaksud adalah Batik Air dengan pesawat narrow body Airbus A320Neo, bahkan nomer registrasi sudah diketahui sebagai PK-BDF yang akan terbang ke Kabul pada 19 Agustus 2021.

Namun, penerbangan repatriasi PK-BDF menjadi tanda tanya, pasalnya informasi dari situs CNBCIndonesia.com (19/8/2021) yang memantau dari FlightRadar24 menyebut, bila penerbangan Batik Air dengan nomor penebangan ID3102 rute Jakarta-Kabul berada dalam status “Unknown” atau tidak diketahui. Sementara itu, pihak Batik Air menyebut bahwa saat ini pihaknya belum menerbangkan armada ke Afghanistan. “Keterangan yang dapat saya sampaikan: Batik Air tidak terbang ke Afghanistan,” ujar Corporate Communications Strategic Lion Air Group, Danang Mandala Prihantoro, dalam sebuah pesan singkat yang didapatkan CNBC Indonesia.

Sebelumnya pihak Kementerian Luar Negeri menyebut bahwa pemerintah Indonesia sedang menyiapkan penerbangan repatriasi bagi WNI yang ada di sana. Kementerian Luar Negeri menyebut bahwa ada 15 orang WNI selain petugas kedutaan. Namun kedutaan RI masih tetap beroperasi.

Informasi awal adanya penerbangan Batik Air menuju Kabul diketahui dari data di aplikasi pelacakan penerbangan FlightRadar24 yang diunggah oleh forum penggemar aviasi Indoflyer. Dalam data itu tertulis bahwa pesawat Batik Air bertipe Airbus A320 neo akan terbang dari Jakarta menuju Kabul dalam misi membawa WNI pulang dari negara Asia Tengah itu.

Baca juga: [Foto-foto] Kekacauan di Bandara Kabul Sampai Ada yang Tewas Terlindas Pesawat

Lepas dari belum ‘misteri’ di atas, Airbus A320Neo dengan kapasitas 160 penumpang (single class) atau 140 penumpang (two class), mampu terbang sejauh 6.940 km non stop. Sementara jarak Jakarta ke Kabul adalah 6.0007 km, ini artinya dimungkinkan untuk dilakukan penerbangan langsung, tetapi mengingat bekal ulang bahan bakar di Bandara Kabul belum dimungkinkan, besar kemungkinan pesawat harus transit terlebih dahulu sebelum mencapai Kabul.






















Pengendara Sepeda Berjalan Dijalur Semestinya, Tetsu-ota Berteriak Tak Dapat Hasil Foto Kereta

Memotret menjadi salah satu hobi yang bisa dikatakan santai dan sangat sederhana. Namun bagi otaku kereta api atau “tetsu-ota” (dari testudo/”kereta api”) atau penggemar yang lebih mencintai kereta api, demikian sebutan singkatnya, menganggap ini adalah hal serius. Salah satunya adalah insiden yang terjadi pada Kamis (5/8/2021) malam di sepanjang jalur kereta listrik Enoshima di prefektur Kanagawa.

Baca juga: Nintendo Switch Punya Kontroler Kereta di Jepang

Yang mana jalur ini memiliki lokasi yang indah yakni di pantai Shonan yang modis dan konfigurasi trem yang unik, Enoden, begitu juga dikenal sebagai jalur, sangat populer di kalangan tetsu-ota. Jadi ketika tersiar kabar bahwa uji coba akan dilakukan untuk model baru kereta Enoden, tetsu-ota muncul di tengah malam dengan tujuan mengamankan hak membuat untuk menjadi penggemar pertama yang memotret kereta yang ditingkatkan.

KabarPenumpang.com melansir soranews24.com (7/8/2021), namun saat kereta melewati tikungan di dekat persimpangan di mana banyak orang berkumpul, begitu juga seorang pengendara sepeda non-Jepang. Pengendara itu mengayuh sepedanya berada di antara kereta api dan kamera, dan lengan kirinya terangkat tinggi. Ini langsung membuat tetsu-ota marah, yang mulai berteriak, “Apa yang kamu lakukan?” dan “Minggir, tolol!”

Video kejadian dapat dilihat di sini, dan sulit untuk mengatakan apakah pria itu mengangkat tangannya untuk melambai kepada orang banyak, atau untuk memberi isyarat bahwa dia ingin berbelok ke jalan bahwa beberapa tetsu-ota tampaknya menghalangi jalan dan masuk ke dalam memposisikan diri untuk memotret kereta. Either way, kerumunan terus berteriak saat kereta terus berjalan, dengan beberapa tetsu-ota mendekati pria itu setelah dia menghentikan sepedanya.

“Ini benar-benar berita buruk,” kata seseorang.

Sementara yang lain berteriak, “Bayar!” dan suara “berita buruk” dapat terdengar mendukung mosi tersebut, menyetujui “Bayar. Ya, pasti. Masuk akal bahwa dia harus membayar.”

Tidak jelas apakah penggeledahan yang disarankan akhirnya terjadi atau tidak, tetapi insiden itu telah membagi pendapat secara online. Di satu sisi adalah mereka yang membawa pengendara sepeda ke tugas untuk apa yang mereka lihat sebagai sengaja merusak foto tetsu-ota, dengan mencari-cari kesalahan sejauh beberapa mengatakan pria itu harus dihukum karena perilaku berbahaya mengendarai sepeda (terkesiap !) hanya satu tangan di setang.

Di sisi lain adalah mereka yang menemukan reaksi dari penggemar kereta api di tempat benar-benar tidak proporsional dengan ketidaksopanan yang dirasakan, meninggalkan komentar seperti.

Untuk diketahui, Jepang saat ini tertutup untuk pariwisata internasional, masuk akal bahwa pengendara sepeda kemungkinan adalah penduduk Jepang, dan dengan demikian seseorang yang Anda harapkan setidaknya menyadari betapa bersemangatnya penggemar kereta api Jepang dan betapa kecewanya mereka dengan seseorang yang melakukan photobomb. Di sisi lain, dia menggunakan jalan umum, dan tidak berkewajiban untuk mengubah rutenya hanya untuk membantu seseorang lebih menikmati hobi otaku mereka.

Baca juga: Naik Kereta di Stasiun Nakatsu Jalur Hankyu, Penumpang Jangan Kaget dengan Peron yang Super Sempit

Sungguh, satu-satunya hal yang dapat dikatakan dengan pasti adalah bahwa jika sekelompok orang asing mulai meneriaki Anda dan berbicara tentang kemungkinan merampok Anda, mungkin hal terbaik yang harus dilakukan adalah terus mengayuh.






















Vande Bharat Express, Hubungkan Seluruh India dalam Waktu 75 Minggu

Setiap negara di dunia, memiliki fasilitas pembuatan keretanya masing-masing. Bahkan kereta-kereta tersebut tak hanya digunakan negara itu sendiri, melainkan juga ada yang diekspor ke negara lainnya yang tidak memiliki fasilitas pembuatan kereta api.

Baca juga: Kereta “Semi High Speed” Vande Bharat Express Resmi Meluncur

Salah satu yang memiliki fasilitas pembuatan kereta api adalah India. Di mana saat ini, fasilitas tersebut memproduksi kereta semi kecepatan tinggi yang nantinya kereta-kereta itu akan beroperasi di seluruh India. Bahkan Vande Bharat Express dalam beberapa bulan mendatang akan diproduksi lebih banyak.

Nantinya kereta tersebut akan beroperasi di seluruh jaringan India Railways. Hal itu diumumkan oleh Perdana Menteri Narendra Modi yang menyebutkan bahwa selama 75 minggu Amrit Mahotsav Kemerdekaan negara, ada sebanyak 75 kereta Vande Bharat Express yang akan menghubungkan semua jaringan kereta api Negeri Bollywood tersebut.

KabarPenumpang.com melansir financialexoress.com (16/8/2021), kereta yang diproduksi di bawah inisiatif “Make in India” merupakan kereta semi kecepatan tinggi pertama di India. Yang mana kereta ini menawarkan beberapa fasilitas penumpang dunia.

Selain itu, rangkaian kereta canggih ini memiliki beberapa fitur dan sistem ultra modern seperti akselerasi cepat, pintu geser otomatis, infotainment dalam kabin, sistem informasi penumpang berbasis Global Positioning System (GPS), toilet bio vakum dengan nol debit, langkah kaki yang dapat ditarik dan lainnya. Kereta Vande Bharat dapat melaju hingga kecepatan maksimum 160 km per jam.

Gerbong set kereta kecepatan semi tinggi ini memiliki sistem pengereman regeneratif, yang dapat menghemat energi listrik hingga 30 persen. Menurut PM Modi, negara ini juga telah mengambil langkah menuju Mobilitas Listrik dan juga pekerjaan Kementerian Perkeretaapian pada elektrifikasi 100 persen jaringan Kereta Api India sedang berkembang dengan pesat.

Baca juga: Train 18 Resmi Punya Nama ‘Vande Bharat Express’

Pada tahun 2030, Kementerian Perkeretaapian telah menetapkan target menjadi Net Zero Carbon Emitter. PM Modi juga menyebutkan menghubungkan semua ibu kota negara bagian di wilayah Timur Laut negara itu dengan jaringan Kereta Api India.

Stasiun Yumegaoka Disebut “Bukit Harapan” dan Tiketnya Jadi Jimat Keberuntungan

Stasiun Yumegaoka yang terletak di kota Izumi Ward Yokohama merupakan stasiun yang paling jarang digunakan di Jalur Sotetsu. Ini karena sebagian besar kota belum berkembang dan hanya sekitar 2.200 orang yang melewati gerbang jika dirata-rata per tahun.

Baca juga: Stasiun Jepang Tanpa Petugas, Penyandang Disabilitas Terancam Kesulitan Bepergian dengan Kereta

KabarPenumpang.com melansir soranews24.com (9/7/2021), stasiun ini dibuka tahun 1999, tujuan visual untuk stasiun ini adalah desain yang bersih dan ramping yang menggugah air jernih. Arsitek memilih untuk melakukannya dengan membangun tabung panjang balok balok biru melengkung dan membungkus bagian struktur dengan kaca.

Stasiun Yumegaoka. Foto: Sora News 24

Selain itu tidak ada pilar besar di tengah peron, sehingga jika Anda melihat ke depan saat kereta menjauh dari stasiun seperti akan melompat dengan kecepatan rendah dalam film fiksi ilmiah. Dengan atap melengkung dan menutup struktur stasiun, Stasiun Yumegaoka mirip dengan stasiun luar angkasa.

Apa lagi dengan sepinya pengguna kereta, ini terlihat seperti stasiun luar angkasa semi terbengkalai. Yumegaoka diterjemahkan menjadi “Bukit Impian,” tapi itu bukan nama daerah sekitarnya yang sudah ada sebelumnya.

Sagami Railway, operator Jalur Sotetsu, hanya menginginkan nama yang positif dan terdengar bahagia, yang juga merupakan logika di balik Kibogaoka, “Bukit Harapan,” stasiun lain di jalur tersebut. Karena itu, tiket kereta api ke dan dari Yumegaoka dan Kibogaoka telah menjadi jimat keberuntungan yang populer, karena merupakan “tiket harapan dan impian”.

Mereka sangat diminati di kalangan siswa yang mengikuti ujian masuk sekolah menengah atau perguruan tinggi, dan Stasiun Yumegaoka sebenarnya menjual tiket khusus Yumegaoka-ke-Kibogaoka, seharga 270 yen (US$2,45), terbuat dari kertas yang lebih kuat, sehingga harapan dan impian si pembawa tidak akan menjadi compang-camping.

Agak mirip dengan stasiun di jalur kereta terpendek Jepang, sebab ada kekosongan yang hampir gamblang di Stasiun Yumegaoka, dan kadang-kadang berfungsi sebagai lokasi pemotretan, seperti ketika penyanyi J-pop Aimyon menggunakannya untuk cover single-nya “Haru no Hi.”

Baca juga: Bikin Sensasi, Idola Muda Jepang Pamer Kekuatan Tarik dan Lepas Kereta di Stasiun

Itu kemungkinan akan berubah, karena ada pengembangan komersial yang direncanakan untuk ruang kosong di depan stasiun, yang dijadwalkan dibuka pada tahun 2023. Namun, hingga saat itu, pengunjung masih dapat menikmati suasana unik lingkungan pedesaan dan arsitektur retro-future Yumegaoka.

[Foto-foto] Kekacauan di Bandara Kabul Sampai Ada yang Tewas Terlindas Pesawat

Dalam beberapa hari terakhir, foto dan video kerumunan masyarakat di Bandara Kabul berseliweran di jagat dunia maya. Bahkan, saking banyaknya masyarakat yang memenuhi bandara, korban tewas akibat terlindas pesawat pun berjatuhan.

Baca juga: Ini Deretan Pesawat Maskapai yang Terjebak di Bandara Kabul Usai Chaos

Warga Afghanistan memenuhi Bandara Kabul semata untuk melarikan diri, mengingat negara tersebut hanya mempunyai akses darat dan udara alias tak punya laut, untuk akses keluar masuk. Mereka berebut menumpangi pesawat, bahkan yang sedang parkir sekalipun.

Bagi yang tak kedapatan tempat di kabin, mereka bahkan rela bergelayutan di landing gear pesawat. Agar lebih lengkap, berikut deretan foto-foto yang kami himpun dari berbagai sumber.

1. Taliban tembaki warga

Foto: Twitter @yamphoto

Taliban memang tak berani mengganggu proses evakuasi di bandara karena sudah diancam oleh AS. Tetapi, ancaman AS tak berlaku untuk di luar bandara. Terlebih penduduk asli Afghanistan. Mereka ditembaki Taliban saat menuju bandara guna melarikan diri.

2. Panjat dinding

Foto: Anadolu Agency via Getty Images

Dikarenakan bagian depan bandara di jaga ketat, warga masuk ke Bandara Kabul dengan memanjat dinding pembatas.

3. Suasana di Bandara Kabul sebelum kudeta

Foto: Twitter @BBCYaldaHakim

Warga Afghanistan, sebelum terjadi kudeta oleh Taliban pada 15 Agustus lalu, sudah mulai memadati bandara untuk melarikan diri ke luar negeri. Banyak di antara mereka yang terbang ke Uni Emirat Arab dan Qatar karena dinilai menjanjikan kehidupan yang lebih sejahtera.

4. Kerumunan di Bandara Kabul

Foto: Twitter BBC

Usai berhasil memanjat dinding pembatas bandara, warga mulai memadati apron bahkan runway Bandara Kabul.

5. Rebutan masuk pesawat

Foto: TRT World

Setelah tiba di area apron, warga langsung menyerbu pesawat yang tengah parkir. Padahal, tak jelas kapan pesawat akan mengudara. Foto sebelah kanan adalah kejadian di Afghanistan dan kiri adalah foto saat terjadi Perang Vietnam.

6. Warga nyaris terlindas pesawat

Foto: Tangkapan layar Twitter @aviationbrk

Bagi warga yang tidak kebagian tempat di kabin manapun pesawat, mereka bahkan rela menumpangi pesawat dengan cara bergelayutan di bagian luar pesawat, seperti landing gear, dan lain sebagainya.

7. Suasana di dalam pesawat

Foto: Twitter @TheInsiderPaper

Bagi yang berhasil mendapat tempat di dalam pesawat untuk evakuasi pun kondisinya sangat tak nyaman, seperti gambar di atas, dimana sekitar 800 warga Afghanistan berhimpitan di lantai.

Baca juga: Tak Seperti di Indonesia, Penumpang Gelap Asal Afrika Tewas di Roda Pesawat Karena Kedinginan

8. Sama-sama evakuasi tapi beda nasib

Foto: Twitter @ZaidZamanHamid

Berbeda dengan wagra Afghanistan yang duduk berhimpitan di dalam pesawat C-17 Globemaster, militer dan intel India yang ditarik dari Afghanistan nyaman dan tidak penuh sesak.

9. Warga Afghanistan jatuh dari langit

Foto: Twitter @AsvakaNews

Ulah sebagian warga yang bergelantungan di landing gear pun berakhir tragis. Laporan media lokal, ada salah satu penumpang gelap yang jatuh dari langit sebagaimana foto di atas. Laporan lain menyebut ada beberapa korban tewas lainnya yang ditemukan di roda pesawat karena terlindas.

Ini Deretan Pesawat Maskapai yang Terjebak di Bandara Kabul Usai Chaos

Dalam beberapa hari terakhir, foto dan video kerumunan masyarakat di Bandara Kabul berseliweran di jagat dunia maya. Bahkan, saking banyaknya masyarakat yang memenuhi bandara dan mengiringi pesawat, korban tewas akibat terlindas pesawat pun berjatuhan.

Baca juga: Kabul Dikuasai Taliban, Warga dan WNA Tak Bisa Kabur Lewat Bandara Kabul?

Tak hanya itu, masyarakat bahkan berdesakan masuk ke dalam pesawat komersial maupun militer. Bagi yang tak kedapatan tempat di kabin, mereka bahkan bergelayutan di landing gear. Semua upaya dilakukan semata untuk keluar dari Afghanistan, yang notabene sudah dikuasai kembali oleh Taliban.

Sebelum mulai ricuh pada 15 Agustus lalu, penerbangan komersial masih berjalan sekalipun tensi politik sudah menegang, dimana Taliban mulai merangsek masuk ke ibu kota Afghanistan, Kabul.

Ketika itu, operasional satu-satunya pintu keluar masuk Afghanistan tersebut masih berada di bawah otoritas negara itu. Tetapi, setelah Taliban menguasai Afghanistan dan menduduki istana kepresidenan, barulah Amerika Serikat (AS) mengambil alih operasional bandara dan melarang seluruh penerbangan komersial.

Celakanya, sebelum bandara ditutup dari aktivitas komersial, pesawat-pesawat yang sempat mendarat di Bandara Internasional Hamid Karzai masih nyaman di apron. Jadilah sampai saat ini pesawat-pesawat tersebut terjebak dan pada akhirnya diserbu serta dipenuhi penumpang tanpa tiket yang ingin melarikan diri.

Catatan FlightRadar24.com, setidaknya ada tujuh pesawat komersial yang di-grounded di Bandara Kabul sampai saat ini dan tidak jelas kapan diizinkan terbang kembali.

Tujuh pesawat itu diketahui dimiliki oleh tiga maskapai Afghanistan, dua flag carrier, Ariana Afghan Airlines dan Bakhtar Afghan Airlines, serta satu maskapai swasta, Kam Air.

Kam Air tercatat menjadi pemilik pesawat terbanyak yang terjebak di Bandara Kabul dengan tiga armada; satu Airbus A340 yang teregistrasi sebagai YA-KMH dan dua 737-300 (YA-KMJ dan YA-KML).

Pesawat lainnya yaitu satu Airbus A310 (YA-CAV) dan dua 737-400 (YA-PIC dan YA-PID) milik Ariana Afghan Airlines dan satu Boeing 737-500 (YA-FGA) milik Bakhtar Afghan Airlines.

Adapun pesawat-pesawat lain dari berbagai maskapai yang juga terbang reguler ke Bandara Kabul, seperti Safi Airways, Pamir Airways, Air India, East Horizon Airlines, Emirates, Silk Way Airlines, Turkish Airlines, dan Spicejet sudah lebih dahulu meninggalkan bandara sebelum situasi chaos.

Sampai saat ini, pesawat tersebut dipastikan masih akan terkatung-katung karena AS, selaku pemegang otoritas Bandara Kabul saat ini, masih memfokuskan bandara untuk penerbangan evakuasi.

Baca juga: Inilah Ariana Afghan Airlines, Maskapai Nasional Afghanistan yang Viral Gegara Taliban

Presiden AS, Joe Biden, bahkan mengancam akan memberangus Taliban andai berani mengganggu kepentingan AS dalam mengevakuasi warganya, diplomat, dan warga negara Afghanistan yang bersekutu dengannya selama 20 tahun operasi di negara itu.

Saking tingginya aktivitas evakuasi warga negara AS, warga negara Afghanistan yang tak diundang pun turut menyerbu pesawat C-17 Globemaster Angkatan Udara AS saat hendak lepas landas. Saking banyaknya masyarakat yang mengiringi, laporan terbaru menyebut setidaknya tiga orang tewas terlindas roda pesawat saat lepas landas.