Jadi Ikon Evakuasi Warga di Afghanistan, Boeing C-17 Globemaster Dijuluki ‘Rusa Besar’! Ini Alasannya

Selama kudeta Taliban di Afghanistan, setidaknya ada dua sejarah besar terjadi. Pertama, saat pesawat angkut militer Amerika Serikat (AS), Boeing C-17 Globemaster, membawa 800 penumpang sekaligus dalam satu penerbangan. Biasanya, pesawat hanya memuat 102 pasukan payung atau 150 pasukan reguler dengan konfigurasi palet dan sidewall seats atau kursi samping menempel di dinding pesawat.

Baca juga: Inilah Mayjen Chris Donahue, Tentara AS Terakhir yang Tinggalkan Bandara Kabul Afghanistan

Adapun sejarah kedua, terjadi saat rombongan tentara AS terakhir di Bandara Kabul Afghanistan yang menumpangi pesawat Boeing C-17 Globemaster meninggalkan negara tersebut. Dari kedua sejarah tersebut, tak berlebihan bila pesawat angkut militer itu adalah aktor utamanya.

Pesawat itu juga diketahui dikerahkan oleh militer negara lain untuk mengevakuasi warga negaranya. Jadi, betul-betul sering dijumpai di Bandara Kabul selama proses evakuasi, khususnya oleh tentara AS.

Terkait pesawat Boeing C-17 Globemaster, selain peran krusialnya mengevakuasi warga dari Bandara Kabul Afghanistan, pesawat ini ternyata punya sebutan yang cukup unik, yaitu Rusa Besar atau Moose, yang juga kebetulan mempunyai bentuk tanduk unik.

Dikutip dari taskandpurpose.com, setiap pesawat angkatan udara sebuah negara memiliki sebutan atau panggilan yang unik. Pesawat serang A-10 Thunderbolt II, misalnya, disebut sebagai Warthog karena penampilannya yang aneh dan garang.

Jet tempur F-16 Fighting Falcon disebut Viper karena menyerupai pesawat ruang angkasa eponymous di Battlestar Galactica, sebuah film sains fiksi di AS.

Terakhir, pesawat pengebom strategis jarak jauh B-52 Stratofortress disebut sebagai BUFF (big ugly fat Fokker) karena dinilai mirip dengan pesawat asal Belanda tersebut.

Dari ketiga sebutan pesawat di atas, pendekatan yang digunakan seluruhnya sama. Sama-sama berdasarkan persamaan fisik, berbeda dengan alasan mengapa Boeing C-17 Globemaster disebut Moose atau Rusa Besar.

Pesawat kargo berusia 30 tahun, yang mampu mengangkut penerjun payung sampai Tank Tempur M1 Abrams seberat 69 ton itu, disebut Moose (jenis rusa terbesar di dunia) karena suara mesinnya yang menyerupai suara rusa betina yang sedang kawin.

Sepintas, banyak orang yang mungkin menduga bahwa sebutan atau panggilan Moose terhadap Boeing C-17 Globemaster didasari oleh bentuknya yang besar, kuat, dan lambat. Mirip dengan rusa besar (kadang kala juga disebut sebagai sapi).

Menurut Departemen Lingkungan dan Sumber Daya Alam Wilayah Barat Laut Kanada, saat musim kawin, rusa besar betina biasanya mengeluarkan raungan seperti tangisan. Sementara rusa besar jantan merespon dengan suara keras seperti dengkuran yang bisa terdengar hingga setengah kilometer jauhnya.

Baca juga: Jepang Dihujat Gegara Pesawat C-130 Hercules Hanya Evakuasi Satu Orang, Ekspektasinya 500 Orang

Sebutan Moose terhadap Boeing C-17 Globemaster yang didasari oleh suara jenis rusa terbesar itu diamini oleh Darrell Lewis, sejarawan 437th Airlift Wing.

“Para pilot dengan tulus menjuluki C-17 sebagai ‘The Moose’ karena suaranya yang khas selama pengisian bahan bakar. Saat mengisi bahan bakar, ventilasi pelepas tekanan di pesawat mengeluarkan suara seperti saat moose meraung,” tambahnya.

India Rancang Bio Toilet Portabel untuk Polsuska Wanita

Seorang pria, untuk buang air kecil mungkin bisa di mana saja dan tak perlu sulit seperti wanita. Atas alasan tersebut Railway Protection Force (RPF) India – semacam Polisi Khusus KA (Polsuska) di PT KAI –  merancang bio toilet yang dapat dipindahkan serta bisa dirakit dan dibongkar dalam beberapa menit.

Baca juga: Stasiun Gandhinagar Jaipur, Gunakan Seluruhnya Petugas Wanita!

Ini dilakukan oleh Polsuska India demi memberikan privasi kepada petugas wanita selama program pelatihan di luar gedung kantor. KabarPenumpang.com melansir dari laman thehindu.com (8/8/2021), bio toilet yang dirakit ini menggunakan bahan daur ulang sehingga lebih hemat biaya dan mudah ditemukan untuk membuatnya.

“Kami menggunakan sisa-sisa rel kereta api untuk membuat toilet ini. Mereka seperti meja kecil dan bisa dibawa kemana-mana,” kata S. Louis Amuthan, wakil kepala petugas keamanan.

Amuthan menjelaskan, kebutuhan toilet portabel setelah perkeretaapian banyak merekrut perempuan untuk tenaga keamanan. “Ketika kami mengadakan kelas jarak jauh di kawasan hutan dan parade di luar, laki-laki mungkin bisa menyesuaikan. Tapi perjalanan seperti itu selalu menjadi masalah bagi wanita,” kata Amuthan yang mendesain toilet.

Polsuska India telah memanfaatkan toilet dan bahan lainnya dari gerbong tua untuk merancang toilet yang dapat dipindahkan. Pertama, mereka mencoba kayu untuk merakit unit sebelum beralih ke logam dan rexine karena kayu sangat berat. Kelebihan toilet ini adalah sehari setelah digunakan, airnya bisa dikuras untuk menyiram tanaman. Bakteri inokulum di ruang bio-toilet mengubah sampah menjadi bahan yang bermanfaat.

Baca juga: Manakah yang Bakal Jadi Solusi Toilet di Stasiun Kereta India: Bio-Toilet Atau Toilet Hibrida?

RPF telah merancang 18 toilet semacam itu dan mendistribusikan masing-masing dua ke divisi kereta. Ini bisa sangat berguna bagi para wanita di kepolisian reguler.






















Inilah Mayjen Chris Donahue, Tentara AS Terakhir yang Tinggalkan Bandara Kabul Afghanistan

Pentagon memastikan penerbangan terakhir telah berangkat pada Senin malam lalu sebelum berganti hari. Dengan demikain, semua personel militer Amerika Serikat (AS) berada di luar Afghanistan. Penerbangan terakhir pesawat militer tersebut juga sebagai penanda berakhirnya proses evakuasi AS terhadap warga dan loyalisnya dari kelompok Taliban.

Baca juga: Amerika Serikat Pergi dari Afghanistan, Taliban Minta Turki Operasikan Bandara Kabul

Di balik kepergian tentara Amerika Serikat terakhir di Kabul Afghanistan, tak banyak yang tahu, bahwa Mayor Jenderal (Mayjen) Chris Donahue adalah orang terakhir yang naik ke pesawat dan meninggalkan negara tersebut. Itu bukan hanya proses evakuasi biasa, melainkan juga rekor bagi sang Mayjen.

Dilansir First Post, informasi terkait Mayjen Chris Donahue sebagai tentara AS terakhir (atau mungkin juga orang AS terakhir) yang naik ke penerbangan terakhir dan meninggalkan Afghanistan melalui Bandara Kabul, tersiar melalui laman Twitter resmi Pentagon.

Sambil membawa senapan di tangan kanannya, dalam foto komandan Divisi Lintas Udara ke-82 yang diambil menggunakan perangkat night vision itu, ia terlihat melangkah dengan tegas menuju pesawat angkut militer Boeing C-17 Globemaster.

Sebagai komandan divisi, Mayjen Chris Donahue wajar menjadi orang terakhir yang naik ke pesawat di penerbangan terakhir militer AS dari Afghanistan. Selain untuk memastikan prajuritnya tidak ada yang tertinggial, ia juga disebut menyempatkan diri bertemu dengan komandan Taliban.

Pertemuannya itu untuk memberitahu bahwa ia dan tim akan segera pergi. Penerbangan terakhir militer AS dipastikan terjadi persis terjadi pada Senin malam sebelum berganti ke hari Selasa, seperti yang sudah dijanjikan Presiden Joe Biden.

“Jenderal Donahue, salah satu hal terakhir yang dia lakukan sebelum pergi adalah berbicara dengan komandan Taliban yang telah dia koordinasikan tentang waktu kami pergi. Hanya untuk memberi tahu mereka bahwa kita akan pergi,” kata Jenderal Frank McKenzie, komandan Komando Pusat AS.

Sebelum pesawat lepas landas dari Bandara Kabul, Mayjen Chris Donahue juga tak lupa untuk memberikan apresiasi kepada seluruh prajuritnya melalui mIRC chat. “Kerja bagus, saya bangga dengan kalian semua.”

Mayjen Chris Donahue komandan Divisi Lintas Udara ke-82 yang berada di bawah Korps Lintas Udara ke-18 Angkatan Darat AS yang berbasis di Fort Bragg, Carolina Utara.

Lulus dari Akademi Militer Amerika Serikat, Donahue langsung ditugaskan sebagai letnan dua di Cabang Infanteri pada tahun 1992.

Ia kemudian dikirim ke Afghanistan pada Agustus lalu untuk membantu mengamankan Bandara Kabul saat AS mendekati batas waktu evakuasi pada Selasa, 31 Agustus 2021.

Baca juga: Jepang Dihujat Gegara Pesawat C-130 Hercules Hanya Evakuasi Satu Orang, Ekspektasinya 500 Orang

Sebelum ini, Donahue telah menjadi asisten khusus untuk Kepala Staf Gabungan di Pentagon dan juga menjabat sebagai komandan satuan tugas gabungan operasi khusus-Afghanistan untuk mendukung Operation Freedom’s Sentinel.

Total, Mayjen Donahue telah dikerahkan 17 kali untuk penugasan operasi di Afghanistan, Irak, Suriah, Afrika utara, dan Eropa timur.

Jepang Dihujat Gegara Pesawat C-130 Hercules Hanya Evakuasi Satu Orang, Ekspektasinya 500 Orang

Jepang dihujat habis-habisan oleh dunia internasional. Penyebabnya, pesawat angkut berat C-130 Hercules mereka hanya mengevakuasi satu orang warganya dari Bandara Kabul, Afghanistan.

Baca juga: Beda Pemandangan Evakuasi Warga di C-17 Globemaster India dan Amerika dari Afghanistan

Padahal, Jepang berencana mengevakuasi 500 orang lebih, terdiri dari warga Jepang dan warga Afghanistan beserta keluarganya yang telah membantu kepentingan Jepang, baik di Kedutaan Besar Jepang maupun organisasi internasional bentukan Jepang.

Laporan The Kyodo News, pesawat Lockheed C-130 Hercules dari Air Self-Defence Force (ASDF) Jepang meninggalkan Bandara Kabul pada tanggal 27 Agustus lalu dengan satu orang penumpang yang diidentifikasi sebagai warga negara Jepang, Hiromi Yasui, 57 tahun.

Hiromi Yasui diketahui berada di Afghanistan untuk berbisnis dan juga kontributor atau jurnalis lepas untuk media lokal di Kabul. Insiden pesawat evakuasi ASDF Jepang yang hanya membawa satu orang penumpang, semakin mengingatkan betapa buruknya manajemen evakuasi Negeri Sakura.

Sehari sebelumnya, seperti dikutip dari surat kabar Asahi Shimbun, ASDF Jepang juga mengevakuasi 14 pejabat pemerintah Afghanistan yang telah digulingkan Taliban atas permintaan Amerika Serikat. Mereka dievakuasi ASDF Jepang dari Bandara Kabul ke Pakistan.

Jauh beberapa hari sebelumnya, Jepang juga pernah dikritik atas lamban dan buruknya manajemen evakuasi. Kritikan tersebut bukan datang dari dunia internasional, melainkan dari dalam negeri Jepang.

Usai Taliban menguasai Istana Kepresidenan Afghanistan pada 15 Agustus, Kedutaan Besar Jepang di Kabul langsung ditutup dan para diplomat Jepang dievakuasi ke Dubai menggunakan pesawat militer Inggris.

Partai Demokrat Liberal yang berkuasa di Jepang pun mengkritik habis hal itu. Mereka mempersoalkan evakuasi menggunakan pesawat militer negara lain, bukan menggunakan pesawat militer sendiri.

Barulah setelah kritikan tersebut, Jepang, melalui, Kepala Sekretaris Kabinet Katsunobu Kato, berjanji akan mengirim tiga pesawat militer ASDF untuk mengevakuasi warganya dan sekutu mereka. Pemerintah pertama-tama akan mengirim satu pesawat angkut C-2 pada Senin (23/8) dan dua C-130 pada Selasa (24/8) ke Afghanistan untuk misi evakuasi.

Baca juga: Ternyata Ini Alasan C-17 Globemaster Angkatan Udara Qatar Pakai Livery Qatar Airways

Ketika itu, tidak diungkap berapa jumlah pasti warga Jepang, sekutu, dan warga Afghanistan lainnya yang tak berhubungan langsung dengan Jepang, yang akan dievakuasi. Tetapi, disebutkan, jumlahnya 500 orang lebih.

Namun sayang, ketika waktunya tiba dan di saat pasukan militer dari negara lain, khususnya Amerika Serikat (AS) sebagai kekuatan penyeimbang untuk kestabilan di kawasan, bersiap pergi, Jepang malah mengevakuasi satu orang warganya alih-alih mengevakuasi 500 WN Jepang dan ratusan warga Afghanistan lainnya yang bekerja untuk Jepang.

Korea Selatan Lirik Fase 4 MRT Jakarta, Ternyata Dahulu Pernah MoU Terkait Sistem Operasi dan Pemeliharaan

MRT Jakarta saat ini tengah dalam proses pembangunan fase 2 yang akan dibangun dua tahap yakni fase 2A dan fase 2B dari Bundaran Hotel Indonesia menuju ke Kota dan dari Kota ke Ancol Barat letak depo kedua MRT nantinya. Meski fase 2 tengah proses pembangunan, tetapi MRT Jakarta juga mulai bergerak untuk fase 4 yang akan membentang dari Fatmawati menuju ke Taman Mini Indonesia Indah.

Baca juga: PPKM Level 3, Jumlah Penumpang Naik, MRT Jakarta Fase 2 CP203 Mulai Rekayasa Lalu Lintas

Direktur utama PT MRT Jakarta, William Sabandar mengatakan, untuk fase 4 ini pihaknya tengah dalam feasibility study. Dalam proses tersebut ada beberapa perusahaan yang sudah mulai tertarik salah satunya adalah pihak Korea Selatan.

“Kita terus mencari dan mengerjakan fase 4 dengan pendekatan. Untuk mitra dari Korea Selatannya sendiri kita belum bisa diskusi saat ini. Karena proses berjalan fase yang sedang persiapan,“ ujar William dalam forum jurnalis, Selasa (31/8/2021).

William menjelaskan proses feasibility study fase 4 dikoordinasi secara penuh oleh MRT Jakarta. Nantinya terkait hal itu, dikatakan William akan dilaksanakan pada tahun ini dan diperkirakan selesai tahun depan. Sehingga setelah itu MRT Jakarta akan menentukan proses selanjutnya seperti apa.

“Kami koordinasi dengan pemerintah baik pusat atau pemprov DKI Jakarta untuk dapat arahan atau persetujuan dari MRT fase 4 Fatmawati TMII,“ ungkapnya.

Fase 4 ini nilai untuk pembangunannya sekitar Rp28 triliun yang didapat dari hasil perhitungan oleh konsultan. Untuk diketahui, sebelum Korea Selatan melirik fase 4 ini, MRT Jakarta pada 2019 lalu pernah melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan Seoul Metro guna mengembangkan kapasitas operasi dan sistem pemeliharaan perekertaapian di kota besar.

MoU tersebut meliputi pengeksplorasian dalam pengembangan pengoperasian dan pengelolaan pusat kendali atau OCC, pengembangan kemampuan perawatan rolling stock dan depo, pengembangan pengetahuan atas kemampuan SAMBA (Smart Automatic Mechanical Big data Analysis-system) dan smart station, pengelolaan automatic fare collection (AFC) serta berbagai kegiatan knowledge sharing terkait lainnya.

Rencananya Nota Kesepahaman ini akan berlaku selama dua tahun ke depan. Penandatanganan dilakukan langsung oleh Direktur Utama PT MRT Jakarta, William Sabandar, dan Chief Executive Officer Seoul Metro, Taeho Kim.

“Penandatanganan Nota Kesepahaman ini adalah kunjungan balasan sebagai tindak lanjut benchmarking PT MRT Jakarta pada Juni 2019 lalu di Korea Selatan, di mana kami melihat bahwa Seoul Metro sebagai salah satu operator kelas dunia yang mengelola delapan jaringan dengan 340 kilometer jalur, kami menganggap perlu mendapatkan pengetahuan dari keandalan operasional mereka, terutama terkait penggunaan teknologi data raksasa (big data) dalam aspek operasional stasiun dan menjalankan rangkaian kereta. Kami berharap kompetensi operasionalisasi MRT Jakarta dapat meningkat dengan baik melalui kerja sama ini,” ujar William Sabandar.

Baca juga: Pelajari Keunggulan Seoul Metro, MRT Jakarta Kembangkan Kapasitas Operasi dan Sistem Pemeliharaan

Seoul Metro dikenal sebagai peraih penghargaan Operational and Technological Excellence dari UITP (Union Internationale des Transports Publics) adalah the International Association of Public Transport untuk proyek “Introducing Observer Pattern-based system for failure prediction of railway facilities (SAMBA)”.






















8.015 Bohlam LED Maskapai Flyadeal Bertuliskan “Shukran” Sukses Pecahkan Rekor Dunia

Flyadeal berhasil memecahkan rekor dunia baru dalam kategori kata dari bola lampu LED terbesar di dunia. Itu terjadi usai 8.015 bohlam LED bertuliskan kata ‘Shukran’ dalam bahasa Arab, yang berarti ‘Terima kasih’ dalam bahasa Indonesia, bersinar di runway Bandara Thumamah di utara Riyadh, Arab Saudi.

Baca juga: Mengenal Flynas, Maskapai LCC Pertama dan Satu-satunya di Negeri Raja Salman

Dikutip dari laman guinnessworldrecords.com, bohlam LED berukuran 280 meter persegi itu proses pengerjaannya disebut membutuhkan waktu tiga hari. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghargaan setinggi-tingginya terhadap para penumpang yang mencapai 10 juta orang baru-baru ini.

Bandara Thumamah, yang terletak 60 km sebelah utara kota Riyadh, sendiri bukan menjadi basis maskapai yang baru beroperasi empat tahun belakangan tersebut, tepatnya pada 23 September 2017. Momentum beroperasinya bandara tersebut juga bertepatan dengan perayaan Hari Nasional Kerajaan.

Momentum beroperasinya maskapai flyadeal yang bertepatan dengan Hari Nasional Kerajaan tentu tak mengherankan, mengingat maskapai LCC ini adalah anak perusahaan dari Saudia, yang merupakan maskapai nasional Arab Saudi.

Usai digunakan untuk memecahkan rekor kata dari bola lampu LED terbesar di dunia, ribuan bohlam tersebut kemudian disumbangkan ke Tarmeem, sebuah badan amal lokal Arab Saudi.

Oleh badan amal atau organisasi non profit tersebut, bohlam LED tadi digunakan untuk proyek restorasi rumah. Tak hanya itu, bohlam LED juga diberikan ke masjid-masjid di sekitar dan di luar Riyadh.

Flyadeal adalah salah satu maskapai yang menggunakan single type aircraft atau satu jenis pesawat saja, yaitu all Airbus, yaitu 11 Airbus A320-200 dan satu Airbus A320neo.

Single type operation sendiri sudah bukan barang baru, khususnya bagi maskapai LCC. Menerapkan atau mengoperasikan satu tipe pesawat tentu mempunyai banyak keunggulan.

Dengan menerapkan prinsip tersebut, biaya yang terkait dengan lisensi dan pelatihan awak pesawat, awak kabin, staf darat, teknisi perawatan pesawat serta staf operasi menjadi sangat minim. Selain itu, pengoperasian satu jenis pesawat juga membuat pengelolaan suku cadang maskapai menjadi lebih efisien.

Baca juga: Keren, Saudia Jadi Maskapai Terbesar Timur Tengah Berkat Penerbangan Umroh Indonesia

Berbeda dari maskapai induknya, Saudia, maskapai flyadeal lebih fokus pada jaringan domestik Arab Saudi. Meski negaranya tak seluas Cina, Amerika Serikat, Indonesia, dan lainnya, tetapi, status Arab Saudi sebagai destinasi utama umat Islam di seluruh dunia tentu membuatnya menjadi menarik.

Tak heran bila dalam tempo empat tahun, maskapai sudah berhasil mengangkut 10 juta penumpang sekalipun hanya bermain di wilayah domestik saja.

 

Enam Jenis Turbulensi Pesawat, Mana yang Paling Sering Terjadi?

Di benak banyak orang, turbulensi pesawat umumnya terjadi di tengah cuaca buruk, badai, dan sejenisnya. Faktanya, tidak selalu demikian. Di langit yang cerah sekalipun, turbulensi pesawat atau biasa juga disebut turbulensi udara kerap terjadi.

Baca juga: Jangan Lagi Takut Turbulensi, Teknologi ini Bisa Buat Pesawat Nyaris Terbang Mulus

Setidaknya, ada enam jenis turbulensi pesawat di dunia. Beberapa di antaranya mungkin pernah dirasakan penumpang, tetapi tidak sadar bahwa itu adalah bagian dari turbulensi pesawat. Agar lebih jelas, berikut daftar enam turbulensi udara atau turbulensi pesawat, sebagaimana dikutip dari Simple Flying.

1. Clear air turbulence (CAT)

Turbulensi adalah kondisi dimana perubahan kecepatan aliran udara menyebabkan guncangan pada tubuh pesawat, baik kecil maupun besar. Adapun turbulensi udara bersih atau CAT ini, oleh Administrasi Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) didefinisikan sebagai turbulensi parah yang tiba-tiba terjadi di daerah tak berawan yang menyebabkan hentakan keras pada pesawat.

Lebih lanjut, FAA menyebut bahwa turbulensi CAT merupakan turbulensi yang paling sering terjadi di ketinggian. Turbulensi CAT disebabkan oleh gerakan angin yang tidak beraturan karena perbedaan densitas atau kerapatan udara.

Perbedaan densitas ini karena perbedaan sifat udara atau juga suhu udara yang sangat kontras. Saat pesawat melewati ruang yang densitasnya jauh lebih rendah, pesawat seolah kehilangan daya angkat hingga terhempas turun.

2. Turbulensi wind shear

Turbulensi wind shear adalah perubahan arah dan atau kecepatan angin secara mendadak pada arah mendatar ataupun juga vertikal. Perubahan arah dan kecepatan angin ini menyebabkan terbentuknya turbulensi.

3. Turbulensi termal atau konvektif

Turbulensi termal adalah turbulensi yang terjadi karena proses naiknya massa udara oleh sistem konvektif, seperti saat terbentuknya awan-awan konvektif. Karena proses ini, maka turbulensi termal disebut juga turbulensi konvektif.

Turbulensi termal ini dapat mencapai ketinggian 12 kilometer pada wilayah tropis seperti di negara kita dan 18 kilometer untuk wilayah pada lintang lebih tinggi.

Turbulensi termal dapat terbentuk dalam awan dan di luar awan, utamanya awan Cumulonimbus pada selitar dasar dan juga puncaknya.

4. Turbulensi vortex

Turbulensi vortex adalah turbulensi yang terjadi ketika sebuah pesawat terbang melintas di belakang pesawat lain. Jenis turbulensi ini pernah terjadi, sekalipun tidak begitu sering. Biasanya melibatkan pesawat yang lebih besar di depan, seperti Airbus A380 dan Boeing 747, dengan pesawat yang lebih kecial, seperti pesawat mesin tunggal atau pesawat lainnya.

Turbulensi ini disebabkan oleh wingtip pada pesawat yang menyebabkan vortex besar di belakang. Sehingga, apalagi pesawat lain yang lebih kecil melintas, tentu sisa vortex pesawat di depan akan mengguncang pesawat, bahkan berputar 360 derajat karenanya.

5. Turbulensi mekanik

Turbulensi mekanik adalah turbulensi yang terbentuk karena arus udara melewati hambatan-hambatan di permukaan bumi, seperti bangunan, pohon dan pegunungan. Gesekan udara terhadap adanya hambatan tersebut menghasilkan pusaran-pusaran udara.

Baca juga: Terdampak Turbulensi, Pramugari dengan Sepatu Hak Tinggi Alami Patah Tulang!

6. Turbulensi frontal

Turbulensi frontal adalah turbulensi yang terbentuk pada zona frontal, yaitu pertemuan dua massa udara dengan suhu yang berbeda. Massa udara dengan suhu yang dingin disebut front dingin dan yang hangat disebut front panas.

Karena front panas lebih ringan maka ia akan bergerak naik di atas front dingin. Gesekan udara yang naik ini kemudian membentuk pusaran udara yang merupakan turbulensi.

Selain enam jenis turbulensi pesawat, turbulensi juga dibedakan berdasarkan intensitasnya, yaitu ringan, sedang, berat, dan esktrem.

PPKM Level 3, Jumlah Penumpang Naik, MRT Jakarta Fase 2 CP203 Mulai Rekayasa Lalu Lintas

Setelah pemerintah menurunkan level PPKM dari level 4 menjadi level 3, penumpang MRT Jakarta meningkat cukup drastis yakni 142 persen. Di mana jumnlah tersebut naik dari 12 Agustus – 29 Agustus 2021 dengan total penumpang harian 7.061 orang.

Baca juga: Jumlah Penumpang Turun Drastis Selama PPKM, MRT Jakarta Genjot Pendapatan Non Fare Box

Hal ini dikakatakan oleh direktur utama PT MRT Jakarta William Sabandar saat forum jurnalis, Selasa (31/8/2021). Dia mengatakan, meski begitu pengembangan bisnis di masa pandemi ini dimaksimalkan dari pendapatan non farebox karena jumlah penumpang yang belum kembali normal seperti semula meski sudah ada peningkatan.

“Kita tidak bisa mengandalkan tiket saja. Salah satu terobosan kita tambah satu lagi mitra periklanan yakni PT Trimedia Imaji Rekso sebagai mitra strategis di pedestrian. Ini menggunakan cooling tower dan ventilasi di MRT Jakarta fase 1,“ ujarnya.

Selain itu, untuk Co-working space juga sudah bisa digunakan. Namun William menjelaskan, di masa pandemi ini masih digunakan untuk event dari MRT Jakarta dan belum di sebarkan untuk masyarakat.

“Di Co-working space BHI sudah jadi, koordinasi penggunaannya lihat situasi pandemi Covid. PPKM sudah turun level, kita tunggu arahan Dishub untuk melakukan pergerakan orang dan anytime bisa dibuka. Yang jelas kami buka untuk publik menunggu waktu yang tepat,“ ungkapnya.

Dia juga mengatakan, nantinya cara pemesanan untuk menggunakan Co-working space sendiri akan tertera di website maupun mobile app MRT Jakarta. Selain itu, direktur konstruksi PT MRT Jakarta Silvia Halim menambahkan terkait proyek fase 2 CP203 yang mana saat ini tengah dilakukan rekayasa lalu lintas proyek.

CP203 dikatakan Silvia adalah pembangunan Stasiun Glodok dan Stasiun Kota. Di mana rekayasa lalu lintas untuk Stasiun Glodok dimulai 20 September – 31 Desember 2021, sedangkan Stasiun Kota 1 September – 30 Oktober 2021.

“Pada pengerjaan CP203, untuk Stasiun Glodok rekayasa lalu lintas akan mulai dan pengerjaan yang dilakukan MRT Jakarta adalah pembongkaran meidan jalan, relokasi pohon dan utilitas serta konstruksi halte sementara untuk TransJakarta,“ jelas Silvia.

Sedangkan untuk Stasiun kota ada dua tahap rekayasa lalu lintas yakni tahap 0 dan tahap 1. Di mana pada tahap 0, Silvia mengatakan akan melakukan pekerjaan dengan merelokasi utilitas dan drainase kota, pelebaran jalan, relokasi pos polisi sub sektor Glodok dan preconstruction survey.

Sedangkan tahap 1 akan dilakukan pembongkaran median, relokasi pohon dan ekskavasi arkeologi. Kadishub DKI Syafrin Liputo menambahkan, rekayasa lalu lintas CP203 pihaknya membantu untuk penertiban di Jalan Pancoran dan memindahkan parkir liar ke parkiran ex Glodok. Nantinya jugal Jalan Pinangsia 1 akan dibuat menjadi satu arah.

Selain itu ada pengurangan satu lajur reguler dan untuk TransJakarta tetap tidak ada perubahan. Sedangkan untuk jalur di Stasiun Glodok, ada pergeseran jalur TransJakarta dengan dua arah akan ada pengurangan satu jalur masing–masing sehingga menyisakan empat jalur kanan dan empat jalur kiri yang mana TransJakarta akan menyatu dengan jalur reguler.

Baca juga: PPKM Darurat: TransJakarta dan MRT Jakarta Lakukan Pembatasan Penumpang serta Jam Operasional

“Kita lakukan sosialisasi secara masif. Jalan Pintu Besar selatan akan ada satu arah ke arah utara sehingga menampung pergerakan lalu lintas dari selatan ke utara agar tidak ada pemadatan lalu lintas selama rekayasa ini,“ ungkap Syafrin.






















Kisah Lockheed L-1049 Super Constellation, Pesawat Pembuka Jalan Penerbangan Nyaman

Selain Wright bersaudara, Howard Hughes juga diakui sebagai salah satu tokoh penerbangan di dunia. Lewat tangan dinginnya, pilot, pebisnis, dan juga perancang pesawat ini menghasilkan gebrakan dan karya-karya monumental, salah satunya Lockheed Super Constellation.

Baca juga: Mengenal Howard Hughes, Pilot, Pebisnis dan Perancang Pesawat yang Ubah Dunia Penerbangan

Ide untuk membuat program pesawat yang juga disebut Connie tersebut dimulai saat Hughes menjadi pemilik baru maskapai Trans World Airlines (TWA) pada tahun 1939.

Ketika itu, Hughes bertemu dengan tokoh-tokoh kunci Lockheed Corporation, seperti chief engineer Hall Hibbard, chief research engineer Kelly Johnson, dan presiden Robert Gross, dan menyampaikan ide-idenya tentang pesawat masa depan untuk kebutuhan TWA. Keempatnya sepakat untuk membuat atau mengembangkan pesawat Super Constellation.

Keputusan Hughes bisa dibilang cukup berani, mengingat ia sempat didesak oleh para pilot untuk membeli pesawat Boeing Stratoliner, pesawat dengan kabin bertekanan pertama di dunia. Tujuannya, agar TWA bisa membawa penumpang terbang lebih tinggi untuk pengalaman terbang baru yang lebih mengesankan.

Mengingat pesawat Super Constellation adalah permintaan spesial darinya, Hughes meminta agar Lockheed tidak menjual pesawat itu ke maskapai lain sampai 35 unit pesawat diterima TWA.

Benar saja, bersama pesawat ini (usai diperkenalkan pada 1943 dan dioperasikan TWA sebagai maskapai komersial pertama dua tahun berselang), TWA perlahan mulai berkembang, seperti memulai layanan internasional terjadwal pada 5 Februari 1946 hingga memulai layanan kargo transatlantik terjadwal yang pertama pada 30 Oktober 1947.

Pesawat dengan empat mesin baling-baling Wright R-3350 ini disebut menjadi pembuka sejarah bagi penerbangan penumpang nyaman.

Pesawat Boeing Stratoliner boleh saja menjadi pesawat dengan kabin bertekanan pertama di dunia, tetapi, Super Constellation terbang lebih tinggi di atas cuaca buruk -lebih dari 12.500 kaki (3.810 m), pertama di dunia- sehingga pesawat terbang 90 persen lebih mulus dan 44 penumpang jadi jauh lebih nyaman.

Pesawat juga terbang lebih cepat mencapai 563 km per jam. Dengan begitu, maskapai bisa mengoperasikan penerbangan komersial nonstop pertama dari pantai ke pantai (dari timur ke barat atau sebaliknya).

Di dekade 60-an, seperti dikutip dari Simple Flying, Lockheed membeli model prototipe XC-69 Constellation dari Hughes Tool Company, melengkapi varian L-749 yang juga dibeli dari perusahaan itu. Tetapi, mereka memanjangkannya hingga 5,5 m untuk membentuk struktur pesawat L-1049 Super Constellation. Pesawat ini berhasil terbang perdana pada 14 Juli 1951.

Pesawat L-1049 Super Constellation akhirnya memasuki tahun layanan bersama Eastern Airlines pada 17 Desember 1951.

Secara keseluruhan, 579 dari jenis itu diproduksi antara tahun 1951 dan 1958. Maskapai penerbangan komersial menerbangkan 259 pesawat sementara militer mengoperasikan 320 unit.

Baca juga: Inilah Lockheed L-1011 TriStar, Pesawat yang Tak Laku Karena Terlalu Canggih

Berkat perpanjangan kabin, varian L-1049 Super Constellation bisa memuat penumpang antara 47 hingga 106 penumpang. Selama beberapa tahun, pesawat sempat merajai pasar.

Namun sayang, setelah kemunculan Boeing 707 dan Douglas DC-8 dengan mesin jetnya, Lockheed Super Constellation, termasuk varian L-1049 Super Constellation dan lainnya, harus berakhir. L-1049 Super Constellation melakukan penerbangan terakhir bersama Eastern Airlines, maskapai pertama yang mengoperasikannya, pada tahun 1993.

Amerika Serikat Pergi dari Afghanistan, Taliban Minta Turki Operasikan Bandara Kabul

Taliban disebut meminta Turki untuk mengelola Bandara Kabul usai rombongan militer Amerika Serikat (AS) terakhir meninggalkan Afghanistan. Hal itu disampaikan langsung oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Jumat lalu.

Baca juga: Penerbangan di Afghanistan Mulai Pulih, Ini Asal Kedatangan dan Negara Tujuan Utamanya

“Taliban meminta agar kami mengoperasikan Bandara Kabul. Kami belum membuat keputusan tentang masalah ini,” ujarnya seperti dilaporkan kantor berita Anadolu.

Sejak Taliban menguasai Istana Kepresidenan Afghanistan pada 15 Agustus, AS bergerak cepat mengambil alih operasi bandara yang juga disebut sebagai Bandara Hamid Karzai itu. Di tangan AS, penerbangan sipil dibekukan untuk memberikan keleluasaan proses evakuasi menggunakan pesawat militer.

Pentagon mengatakan penerbangan terakhir telah berangkat pada Senin malam sebelum berganti hari. Semua personel militer AS berada di luar Afghanistan. Penerbangan terakhir pesawat militer tersebut juga sebagai penanda berakhirnya proses evakuasi AS terhadap warga dan loyalisnya dari kelompok Taliban.

Setelah kepergian AS, praktis operasional bandara juga ikut dilepas. Mengingat Taliban tak mampu mengoperasikan bandara, Turki sebagai sekutu terdekat pun diminta untuk menjadi suksesornya.

Erdogan sendiri tidak ingin gegabah menerima tawaran Taliban. Sebab, ancaman keamanan masih akan terjadi di luar dan di dalam Bandara Kabul dalam beberapa hari ke depan, seperti serangan bom bunuh diri pada Kamis lalu

Erdogan sendiri mengutuk serangan yang diklaim oleh ISIS tersebut. Menurutnya, serangan itu menandakan bahwa keamanan di Afghanistan masih sangat krusial. Karena itu, ia masih akan fokus untuk mengevakuasi warga Turki yang tersisa.

“Serangan keji itu telah memperjelas betapa pentingnya keamanan di Afghanistan, dan bahwa prioritas negara untuk saat ini adalah evakuasi warga Turki,” jelasnya.

Selain sibuk mengevakuasi warganya, Turki saat ini juga diketahui tengah sibuk membendung migrasi warga Afghanistan ke negaranya. Secara teritorial, Turki memang terletak agak jauh dari Afghanistan. Tetapi, Turki dinilai lebih menjanjikan dibanding negara tetangga Afghanistan, seperti Pakistan, Tajikistan, India, Tibet, Uzbekistan, Turkmenistan, dan Iran.

Menurut kementerian Dalam Negeri Turki, “Saat ini ada sekitar 300.000 imigran Afghanistan yang terdaftar dan tidak terdaftar di Turki.”

Baca juga: Ingin ‘Kuasai’ Bandara Kabul Afghanistan, Erdogan Minta Restu AS

Merunut ke belakang, sebetulnya, Taliban meminta Turki mengambil alih operasi Bandara Kabul bukan tanpa alasan.

Pada akhir Juli lalu, Turki pernah berencana ingin mengambil alih operasional bandara tersebut. Turki bahkan sudah meminta restu dari AS terkait itu. Ini dilakukan sebagai upaya Turki untuk menggantikan peran AS dan sekutu yang belum lama ini menarik pasukannya dari negara tersebut.