Usulkan Stasiun Rajapolah Sebagai Naik Turun Penumpang KA yang Berdeketan dengan Pusat Kerajinan Rajapolah

Jika bepergian dengan kereta api ke jalur selatan di wilayah Jawa Barat antara Bandung – Banjar, pasti menemukan kawasan wisata belanja di beberapa daerah tersebut.

Baca juga: KA Galunggung Rute Kiaracondong-Tasikmalaya Mulai Beroperasi

Bagi yang belum mengetahui, KabarPenumpang.com akan ajak mengunjungi pusat kerajinan yang terbuat dari anyaman bambu, pandan dan mendong khas dari Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Ya, mungkin bagi sebagian orang belum mengetahui lokasi pusat kerajinan tersebut. Namun bagi warga Jawa Barat dan sekitarnya, pusat kerajinan ini sudah menjadi destinasi wajib untuk dikunjungi.

Berdekatan dengan Stasiun Rajapolah antara petak Stasiun Ciawi dengan Stasiun Indihiang, Tasikmalaya kerajinan asli buatan warga sekitar rasanya bisa lebih mudah menuju akses ke lokasi wisata tersebut.

Namun sayangnya, Stasiun Rajapolah tidak melayani naik dan turun penumpang KA. Banyaknya kereta api yang melintas hanya berhenti di Stasiun Tasikmalaya yang merupakan stasiun besar di kota teresebut.

Menurut KAI Daerah Operasi (Daop) 2 Bandung, ada beberapa kereta api yang berhenti di Rajapolah, namun hanya untuk persilangan antara kereta api lain yang berlawanan arah. Mengingat jalur kereta api di sepanjang jalur selatan (Cicalengka – Banjar – Kroya) masih menggunakan satu jalur (single track).

Wakil Bupati Tasikmalaya Cecep Nurul Yakin berharap kedepannya Stasiun Rajapolah bisa difungsikan sebagai naik dan turun penumpang, karena stasiun ini merupakan lokasi paling dekat dengan penjualan kerajinan tersebut.

Baca juga: Lebih Enak Mana, Naik Kereta Api Jalur Selatan atau Jalur Utara?

Dengan begitu dampak positif yang dihasilkan dari perputaran ekonomi industri kreatif atau UMKM di Rajapolah akan terus meningkat. Pedagang yang menjual hasil kerajinan tersebut memiliki variasi harga, yaitu dimulai dari harga Rp 5.000.

Banyak pengunjung diberbagai wilayah termasuk warga Jakarta selalu mampir untuk membeli perabotan rumah tangga dari bahan anyaman tersebut, terlebih saat hari libur dengan penjualannya yang meningkat drastis.

PRAS – Cinta Kereta Api

Miliki Peran Vital, Masihkah Ada Air Marshal di Setiap Penerbangan Saat Ini?

Keberadaan air marshal dan peran vitalnya di setiap pesawat diingatkan kembali lewat sebuah film berjudul Non Stop yang dibintangi aktor kawakan Liam Nesson. Meski jarang terlihat di banyak penerbangan, sebetulnya masih adakah air marshal atau marsekal udara di setiap penerbangan saat ini?

Baca juga: Begini Gaya Marshaller Cilik di Bandara Thailand Parkir Pesawat

Air marshal memainkan peran penting dalam melindungi penumpang dan penerbangan secara keseluruhan, baik dari ancaman terorisme, pembajakan pesawat, dan kejahatan lainnya.

Terbaru, pada 17 Juni lalu, air marshal, sekali lagi, berhasil mencegah penumpang menerobos masuk ke kokpit karena marah penerbangan Jordan Aviation yang mereka tumpangi dialihkan ke Bandara Kano, Nigeria.

Dalam video yang beredar di media sosial Twitter, air marshal yang hanya seorang diri, menodongkan senjata ke beberapa penumpang bertubuh tegap tinggi sambil meminta kepada mereka agar menghentikan aksinya untuk menerobos masuk ke kokpit. Di akhir video, nampak penumpang menuruti dan beranjak kembali ke kursi masing-masing.

Keberadaan air marshal di pesawat bisa dibilang rahasia. Seseorang yang ditugaskan sebagai air marshal biasanya tidak akan unjuk gigi ataupun diinformasikan oleh kru kokpit dan kru kabin tentang keberadaannya di pesawat. Karenanya, tidak ada jumlah pasti air marshal di seluruh dunia karena itu bersifat rahasia dan instansi yang bersangkutan tidak akan pernah berbagi informasi terkait hal itu.

Dilansir executiveflyers.com, cikal bakal adanya air marshal di setiap penerbangan muncul pertama kali pada tahun 1961 usai dibentuknya Federal Air Marshal Service (FAMS) sebagai tanggapan atas pembajakan pesawat.

https://twitter.com/aviationbrk/status/1537764572962201600?s=20&t=Csb-y-oYve-gSCkYHJSrNA

Sejak saat itu sampai tahun 1985, air marshal hampir ditemukan di seluruh pesawat atau penerbangan domestik di Amerika Serikat (AS).

Akan tetapi, pasca pembajakan pesawat TWA Flight 847, FAMS mengalihkan fokusnya ke penerbangan internasional. Barulah setelah peristiwa 9/11, fokus utama penempatan air marshal digeser kembali ke rute-rute domestik.

Saat ini, di AS, air marshal hanya ditemukan di sekitar 5 persen penerbangan domestik atau 3.000-5.000 petugas. Jumlahnya di setiap penerbangan biasanya antara satu atau dua petugas, lebih sedikit dibanding air marshal internasional yang berjumlah minimal tiga atau empat petugas.

Sedangkan untuk jumlah air marshal di dunia, seperti yang sudah disebutkan di atas, jumlahnya tidak ada yang tahu pasti karena itu bersifat rahasia.

Di masing-masing negara, sebutan air marshal berbeda-beda. Di Inggris, air marshal, yang hadir sejak tahun 2002 lewat Program Operasi Perlindungan Pesawat (APO) lebih dikenal sebagai petugas pelindung pesawat. Sebutan serupa juga diadopsi Kanada, yang juga sama-sama memulai program air marshal sejak tahun 2002.

Di Australia, yang juga mulai menghadirkan air marshal sejak tahun 2002, air marshal disebut sebagai sky marshal dan ditempatkan di pernerbangan domestik maupun internasional.

Namun, sama seperti negara lainnya yang mengadopsi adanya sky atau air marshal, seperti Austria, Irlandia, India, Israel, Pakistan, dan Singapura, jumlah sky marshal di Australia tidak ada data pasti.

Baca juga: Bak Cerita Novel, Kisah Cinta Pramugari Pan Am dan Anggota CIA di Pesawat Bikin Gemes

Meski sebutan dan jumlah air marshal di setiap negara herbeda-beda, namun satu hal yang pasti mereka tidak pernah diungkap ke publik, baik secara kuantitas maupun secara penugasan saat di pesawat.

Meski begitu, air marshal biasanya mempunyai ciri-ciri khusus, seperti tidak atau mempunyai sedikit barang bawaan (tidak seperti penumpang pada umumnya), paling terlambat boarding, sendirian, duduk di kursi pinggir dekat aisle di bagian belakang, tidak tidur, dan mayoritas adalah laki-laki.

India Mau Ubah “VT” dari Awalan Kode Registrasi Pesawat, Diklaim Tak Berdaulat Gegara Warisan Inggris

Politisi Partai Bhartiya Janata, yang notabene sedang berkuasa di India, bersama advokat Ashwini Kumar Upadhyay mengajukan petisi ke Pengadilan Tinggi Delhi terkait call sign (tanda panggil) atau kode “VT” sebagai awal kode registrasi pesawat di India. Kode “VT” tersebut adalah warisan Inggris dan diklaim bertentangan dengan kedaulatan India.

Baca juga: Call Sign Aneh dan Kece Badai Maskapai Seluruh Dunia, Salah Satunya Cedar Jet

Sama halnya seperti negara koloni Inggris lainnya, sejak merdeka 75 tahun lalu dari Inggris, India terus menerus menggunakan kode “VT” sebagai awalan kode registrasi pesawat.

Bedanya, kode “VT” yang digunakan India tak digunakan oleh negara koloni Inggris lainnya, seperti kode “VP” yang digunakan oleh beberapa negara, seperti Bermuda, Anguilla, British Virgin Islands, Falkland Islands, Gibraltar, dan lainnya sekalipun mereka adalah negara berdaulat.

Kode VT yang digunakan seluruh maskapai yang diregistrasi di India merupakan singkatan dari “Victorian territory atau Viceroy territory” yang artinya sebagai wilayah kolonial Inggris. Upadhyay selaku pemohon menyebut, itu bertentangan dengan kedaulatan India.

“Kode ‘VT’ adalah cerminan dari aturan kolonial. India adalah negara berdaulat sehingga tidak dapat menjadi wilayah Raja Muda. Mengapa India melanjutkan kode VT?” jelasnya, seperti dikutip Simple Flying.

Andai sang politikus itu menang di pengadilan, prosesnya tak ada mudah karena pemerintah India harus berkomunikasi dengan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) dan melihat ketersediaan call sign dan kombinasinya. Ini yang dahulu pernah menjadi batu sandungan India dalam memperjuangkan perubahan awalan kode registrasi “VT” pada pesawat.

Dalam salinan petitum pemohon, terungkap bahwa India sebelumnya sudah pernah mencoba mengubah kode tersebut. Namun, entah kenapa itu sia-sia.

“Upaya sia-sia dilakukan di masa lalu mengenai perubahan tanda panggilan (call sign) untuk pesawat negara kita, tapi semua sia-sia, karena mereka (ICAO) menjawab dengan mengatakan bahwa India tidak bisa mendapatkan BA (Bharat) dan IN (India) karena China dan Italia masing-masing telah mengambil ‘B’ dan ‘I’.”

Perubahan awalan call sign pesawat atau awalan kode registrasi pesawat bukan tak pernah terjadi. Beberapa negara seperti Cina, Pakistan, Bangladesh, dan Nepal pernah mengubah awalan kode registrasi pesawat pasca merdeka.

Menurut ICAO, kode registrasi pesawat secara teknis dikenal sebagai Aircraft Nationality and Registration Marks atau Tanda Pendaftaran dan Kebangsaan Pesawat. ICAO menjalankan hal ini atas amanat Konvensi Chicago pada pasal yang menyebut, “Setiap pesawat yang terlibat dalam navigasi udara internasional harus memiliki kewarganegaraan dan tanda pendaftaran yang sesuai.”

Baca juga: Mengenal Arti Kode “PK” di Badan Pesawat Penumpang

Nomor registrasi pesawat terdiri dari dua bagian:

1) Awalan yang terdiri dari satu atau dua karakter kode alfanumerik yang menunjukkan kebangsaan.

2) Sufiks pendaftaran satu sampai lima karakter untuk pesawat tertentu.

Kode awalan didasarkan pada call sign radio yang dialokasikan oleh International Telecommunications Union (ITU) untuk masing-masing negara. Sejak 1947, ICAO telah mengatur standar kode dan alokasinya.























Terungkap! Pramugari Selalu Bohong Saat Penumpang Tanyakan Hal Ini

Pramugari memiliki banyak tugas dalam penerbangan. Selain harus berkomunikasi dengan kru kokpit, mempersiapkan kabin dan penumpang untuk lepas landas dan mendarat, sampai menyiapkan sajian untuk penumpang, mereka juga wajib menjawab seluruh pertanyaan dari penumpang. Namun, tak semuanya mereka tahu, karenanya mereka selalu berbohong saat ditanyakan hal ini.

Baca juga: Bagaimana Reaksi Pramugari Saat Temukan Penumpang Berhubungan Seks di Pesawat?

Sekilas, kehidupan pramugari tampak sangat glamor dan menyenangkan ketika berkeliling dunia, mengunjungi tempat-tempat eksotis, dan menikmati pengalaman baru. Namun, dibalik semua itu, ada harga mahal yang harus ‘dibayar’ oleh para bidadari angkasa tersebut.

Selain kerja keras, pramugari sering kali terpaksa meninggalkan banyak agenda pribadi, seperti datang ke resepsi pernikahan sahabat, keluarga, bahkan menghadiri prosesi pemakaman orang tua, karena tidak mendapat cuti ataupun sedang bertugas di luar negeri.

Terlepas dari semua itu, nyatanya, memang selalu ada banyak kompetensi untuk posisi pramugari, dan banyak aturan ketat tentang siapa saja yang bisa melamar. Lebih dari itu, setelah berhasil melewati proses wawancara yang sulit, maskapai sering kali menambah aturan yang tak disepakati sebelumnya dan celakanya pramugari harus mematuhinya tanpa terkecuali.

Singkatnya, menjadi pramugari/pramugara tidaklah mudah dan membutuhkan kompetensi tinggi dalam banyak hal. Tak heran, terlepas dari tugasnya untuk melayani penumpang, awak kabin bisa menjawab banyak pertanyaan yang datang dari penumpang dengan tepat dan lugas.

Namun demikian, dalam pengakuan salah seorang pramugari di Reddit, mereka (awak kabin) biasanya akan berbohong kepada penumpang saat ditanyakan terkait posisi pesawat saat itu (di udara).

Dilansir The Sun, untuk menjawab pertanyaan itu, awak kabin tentu saja harus mengintip ke luar jendela untuk mengetahui dimana mereka berada dan itu bisa dibilang menyulitkan mereka.

Dalam penerbangan jarak pendek, sebelum lepas landas, awak kabin harus mengkondisikan kompartemen bagasi dan penumpang untuk siap lepas landas. Puncaknya, mereka harus melakukan safety induction dihadapan penumpang. Tak lama kemudian, biasanya pesawat mulai pushback dan mereka harus kembali ke tempat duduk dan memakai seat belt.

Beberapa menit usai take off dan saat lampu tanda memakai sabuk pengaman sudah padam, awak kabin biasanya akan menyiapkan sajian makanan untuk penumpang. Setelah itu sampai sebelum mendarat, mereka juga memiliki tugas lain.

Belum lagi ada case khusus, ditambah kondisi tubuh di ketinggian 37 ribu kaki yang mudah lelah dan lapar. Alhasil, awak kabin terlalu sibuk untuk bisa mengintip ke bawah memastikan posisi mereka berada untuk dengan tepat menjawab pertanyaan penumpang. Sekalipun sempat mengintip, belum tentu mereka bisa memberikan kepastian posisi pesawat berada.

Dengan alasan tersebut, pengguna Reddit yang tak disebutkan namanya itu menjamin bahwa hampir pasti awak kabin pasti berbohong terkait pertanyaan itu. Andai mereka menjawab dengan lancar dan tegas, hampir pasti itu karena kemampuan mereka dalam berkomunikasi saja. Sejatinya, mereka tidak tahu persis dimana posisi pesawat berada.

Baca juga: Berapa Banyak Pramugari yang Dibutuhkan di Sebuah Pesawat?

Awak kabin mungkin bisa menjawab pertanyaan dimana posisi pesawat berada saat dalam penerbangan dengan benar ketika ada landmark dari sebuah wilayah, entah itu gedung bertingkat, gunung, dan lain sebagainya. Selebihnya, sekali lagi itu dapat dipastikan bohong.

“Menjawab pertanyaan tentang dimana posisi pesawat, kami (pramugari) tidak tahu kecuali itu jelas seperti grand canyon, jadi jika kami memberi Anda jawaban yang sah, kami mungkin mengada-ada,” ungkapnya.























Di 2024, Selat Inggris dan Perancis Dilayani Kapal Ferry Terbesar Bertenaga Hibrida

Meski antara Inggris dan Perancis telah dihubungkan lewat Terowongan Channel, tapi itu bukan berarti layanan kapal ferry penyeberangan di perairan selat itu mati. Faktanya tetap ada segmen tersendiri, mengingat ada faktor ekonomi yang menjadi latar belakangnya. Dan terkait debut kapal ferry di Selat Channel, ada kabar bahwa nantinya wahana penyeberangan di selat itu akan dilayani oleh jenis kapal ferry terbesar dengan tanaga hibrida.

Baca juga: Serba-Serbi Channel Tunnel, Terowongan Rel Terpanjang Kedua di Dunia

Dikutip dari cnbc.com (23/6/2022), gagasan di balik desain kapal hibrida adalah bahwa wahana ini dapat mendukung teknologi keberlanjutan, yaitu dengan memanfaatkan gas alam cair (bahan bakar fosil) – LNG (liquefied natural gas), daya energi baterai, atau kombinasi dari keduanya. Sang operator kapal adalah Brittany Ferries, yang kini tengan membangun kapal ferry “Saint-Malo” yang memiliki kapasitas baterai 11.5 megawatt hours, atau kira-kira dua kali lipat yang dari yabg biasanya digunakan untuk propulsi hibrida di kapal laut.

Brittany Ferries mengatakan kapal ferry bertenaga hibrida itu akan dikirim pada tahun 2024. Kemudian kapal hibrida kedua akan bergabung dengan armada Brittany Ferries segera setelah itu. Nantinya kapal ferry hibrida ini akan melayani akses antara Portsmouth (Inggris) dan Caen (Perancis).

Baca juga: MS Roald Amundsen – Kapal Hibrida Asal Norwegia, Siap Berlayar Pada Musim Panas 2019 

Brittany Ferries mengungkapkan bahwa total tiga kapal hibrida sedang dibangun oleh Stena RoRo dengan teknologi kapal dari perusahaan Finlandia Wärtsil. “Ukuran baterai yang besar memungkinkan kapal untuk beroperasi dengan kekuatan penuh, menggunakan baling-baling dan semua pendorong untuk bermanuver bebas emisi saat masuk dan keluar pelabuhan, bahkan dalam cuaca buruk sekalipun,” ujar Hakan Agnevall, CEO Wartsila.

Keras! Qatar Airways Mau Terbang ke Meksiko Demi Piala Dunia tapi Dijegal Aeromexico

Sejak April tahun ini, Qatar Airways berencana melebarkan jaringan rutenya di Amerika Latin dengan terbang ke Meksiko dari Bandara Internasional Doha Hamad, Qatar. Namun, sampai saat ini rencana tersebut belum terwujud. Belakangan terungkap, rencana tersebut terus dijegal maskapai nasional Meksiko, Aeromexico.

Baca juga: Luncurkan QVerse, Qatar Airways Jadi Maskapai Global Pertama Hadir di Metaverse

Kabar Qatar Airways ingin membuka rute Qatar-Meksiko (Doha-Meksiko City) muncul pertama kali dari Menteri Luar Negeri Meksiko, Marcelo Ebrard, usai peresmian Bandara Internasional Felipe Ángeles, April lalu. Tak lama beselang, maskapai mengaku telah berkomunikasi dengan pemerintah Meksiko. Sayangnya, itu tidak konkret. Komunikasi menemui jalan buntu.

Qatar Airways sejatinya sangat bernafsu untuk bisa membuka rute Qatar-Meksiko. Penyebabnya, apalagi kalau bukan gelaran Piala Dunia 2022 November -Desember di Qatar, dimana Qatar Airways menjadi official airline.

Terlebih, Meksiko adalah salah satu tim peserta Piala Dunia 2022 dan memiliki basis fanatisme terhadap sepak bola yang sangat kuat. Karenanya, akan terjadi gelombang serbuan suporter Timnas Meksiko ke Qatar dan Qatar Airways tidak ingin menyianyiakan peluang itu.

Tentu itu tak akan mudah mengingat di sana ada maskapai Aeromexico yang juga berambisi untuk menjadi lebih besar.

Benar saja, maskapi nasional Meksiko itu disebut berupaya melobi pemerintah agar Qatar Airways tak terbang ke Meksiko. Hal itu diungkap langsung CEO Qatar Airways, Akbar Al Baker dalam pertemuan tahunan IATA.

“Ya, kami ingin terbang ke Meksiko, tetapi kami berada di bawah kekuasaan Aeromexico, yang melobi kami kepada pemerintah, sehingga mereka tidak memberi kami hak untuk terbang,” jelasnya.

Menariknya, seolah membenarkan perkataan Al Baker, pihak Aeromexico menolak berkomentar kepada wartawan Simple Flying terkait hal itu.

Meski demikian, pandangan Aeromexico terhadap rencana Qatar Airways membuka penerbangan ke Meksiko, setidaknya bisa dilihat dari Asosiasi Pilot Meksiko (ASPA). Dalam keterangannya, mereka jelas menolak rencana Qatar Airways terbang ke Meksiko dan menolak fifth freedom ICAO yang mengizinkan maskapai asing dari negaranya terbang ke negara B dan terbang lagi ke negara C.

“Kami tidak mendukung pemberian fifth freedom dan terlebih lagi kepada maskapai yang memiliki biaya berbeda dari standar industri karena karakteristik pemerintah mereka. Kami tidak setuju bahwa maskapai harus mengeksploitasi pasar yang tidak sesuai dengan mereka,” terangnya.

Ini bukan pertama kalinya Aeromexico menjegal maskapai lain mengambil ceruk pasar penerbangan di negara tempat mereka bernaung.

Baca juga: Diduga Menabrak Drone, Hidung Boeing 737-800 Aeromexico Penyok Parah!

Pada tahun 2019, Aeromexico juga pernah menjegal atau menghalang-halangi Emirates untuk membuka penerbangan Dubai-Meksiko City. Ketika itu, maskapai menolak Emirates karena dituding mendapat kucuran dana besar dari negara sehingga mematuk harga murah ke penumpang dan itu dikhawatirkan menimbulkan persaingan yang tidak sehat.

Setahun bertahun-tahun, Meksiko akhirnya mengizinkan Emirates terbang ke Meksiko City via Barcelona mulai 23 Juni mendatang.























Analis Penerbangan Global: Lion Group Kuasai 72 Persen Market Share Penerbangan Domestik

Lion Group terus bersinar di kancah industri penerbangan Indonesia. Data terbaru dari analis penerbangan yang juga founder dari Sobie Aviation, Brendan Sobie, mengungkap bahwa grup maskapai yang dipimpin oleh Rusdi Kirana itu berhasil meraup 72 persen market share penerbangan domestik.

Baca juga: Lion Air Digugat 9 Leasing Pesawat Rp189 Miliar, Pengamat: Tak Ada Iktikad Baik Bayar Utang

Persaingan bisnis antar maskapai di Indonesia semakin ketat, khususnya di segmen low cost carrier (LCC), usai kehadiran maskapai Super Air Jet.

Sebelum pandemi Covid-19, pangsa pasar penerbangan domestik Indonesia masuk lima besar dunia. Ini diperkirakan mencapai posisi ke-4 terbesar dunia pada tahun 2030 mendatang. Menariknya, pangsa pasar sebesar ini dimainkan oleh dua grup besar maskapai yang terdiri dari BUMN dan swasta. Lebih menarik lagi, grup swasta-lah yang memenangi persaingan itu sampai saat ini.

Dalam diskusi online IBS baru-baru ini, Brendan Sobie menyebut, sebetulnya pangsa penerbangan domestik di Indonesia memiliki kesamaan dengan pasar domestik maskapai atau negara lain. Di sisi lain, itu juga memiliki beberapa hal yang tidak biasa.

Salah satu kesamaannya adalah tren munculnya maskapai berbiaya murah atau LCC. Maskapai LCC sudah ada di pasar domestik sejak memasuki era millenium. Dalam tempo dua dekade, gabungan maskapai LCC saat ini sudah menguasai 70 persen market share penerbangan domestik Indonesia.

Dilansir Simple Flying, Lion Air menguasai 42 persen pasar penerbangan domestik. Wings Air, yang termasuk dalam Lion Group, mengusai 9 persen. Indonesia AirAsia 5 persen. Super Air Jet 5 persen. Citilink 13, anak perusahaan Garuda Indonesia, 13 persen.

Foto: Sobie Aviation

Secara keseluruhan, bila digabung dengan maskapai medium service dan full service, market share atau pangsa pasar penerbangan domestik Indonesia dikuasai oleh Lion Group sebanyak 72 persen. Sedangkan Garuda Group hanya mengusai 18 persen.

Pasca pandemi, Garuda Indonesia, yang tengah berjuang keluar dari ancaman kebangkrutan, dalam kacamata Sobie, saat ini sudah berada jauh di bawah Citilink.

“Apa yang kami lihat dengan Garuda adalah bahwa mereka memiliki lebih banyak kapasitas dan lebih banyak penerbangan dengan Citilink daripada dengan Garuda. Ini telah terjadi selama pandemi, dan Citilink telah menjadi maskapai yang jauh lebih besar dibandingkan dengan Garuda,” katanya.

“Itu akan tetap ada (Garuda di bawah Citilink). Termasuk dalam fase pasca restrukturisasi Garuda. Mereka akan lebih fokus pada low cost carrier karena di situlah potensi pertumbuhannya,” lanjutnya.

Lebih lanjut, Sobie memandang bahwa pangsa pasar domestik sebesar 72 persen yang dikuasai Lion Group ke depan bukan tak mungkin akan berkurang, seiring persaingan sengit dari Garuda Group dan maskapai pendatang baru.

Dalam kacamantanya, masih banyak pasar penerbangan domestik yang belum tergarap dengan sempurna, khususnya rute point-to-point yang menghindari transit di bandara besar semisal Bandara Soekarno-Hatta.

Baca juga: Lion Group Kembali Hentikan Penerbangan, Pengamat: Mereka ‘Pintar’ Melihat Kondisi

“Mereka selalu menargetkan pangsa pasar yang lebih tinggi, dan saya pikir sebelum pandemi, mereka menargetkan 60 persen. Tapi sekarang mereka menargetkan mendekati 70 persen dan telah mencapai setidaknya 70 persen baru-baru ini,” ungkapnya.

“Angka 70 persen ini mungkin sulit dipertahankan karena maskapai lain membawa kembali kapasitas dan seperti yang kita lihat maskapai baru terus masuk ke pasar pada rute trunk terbaik. Tapi setidaknya untuk saat ini, 70 persen dari kapasitas ditahan oleh ini. empat maskapai dalam Lion Group,” tambahnya.

Cina Buka Rute Kereta Lintasi Gurun Taklimakan Sepanjang 2.712 Km

Sebagai negara pemilik jaringan kereta api terbesar di dunia, maka banyak hal spektakuler yang bisa dilakukan oleh otoritas kereta api di Cina. Yang terbaru adalah Cina telah resmi membuka jalur kereta api yang melintasi wilayah gurun terbesarnya, yakni di Daerah Otonomi Uygur Xinjiang barat.

Baca juga: Etihad Rail Pamer Kereta Gurun Abu Dhabi-Dubai, Jaringan Kereta Api Nasional Pertama 1.200 Km Rampung?

Jalur kereta api yang melintas gurun ini membentang sepanjang 2.712 km dan memungkinkan kecepatan kereta hingga 120 km per jam. Jalur kereta gurun ini memiliki 22 stasiun, dengan 6 di antaranya dapat melayani kereta kargo. Dikutip dari railfreight.com (16/6/2022), dengan pembukaan rute ini menjadikan untuk pertama kalinya jalur kereta api dapat melewati lingkaran penuh area di sekitar gurun.

Megaproyek ini dimulai pada Desember 2018, dan dibuka secara bertahap, yaitu dimulai dari Golmud-Korla seksi Ruoqiang-Korla, dan Korla-Kashgar dan Kashgar-Hotan dari jalur kereta api Xinjiang selatan.

Dari segi geografis, Gurun Taklimakan adalah yang terbesar kedua di dunia dan hanya sedikit lebih kecil dari luas wilayah Jerman. Lantaran dapat dilayani kereta berkecepatan tinggi, maka kereta api dapat menempuh seluruh rute dalam 11 jam 26 menit.

Penyelesaian jalur ini telah menghubungkan lima kabupaten dan kota-kota tertentu di Xinjiang selatan yang sebelumnya tidak dapat diakses dengan kereta api. Ini juga akan memfasilitasi pengangkutan makanan khas Xinjiang termasuk kapas, kenari, kurma merah, dan mineral ke bagian lain negara itu.

Pada saat yang sama, jalur kereta api baru dapat memfasilitasi transportasi ke pasar internasional. Wilayah ini adalah perhentian paling barat di jaringan ke barat. Dengan komitmen baru untuk menyelesaikan China-Kyrgyzstan-Uzbekistan (CKU), lingkaran gurun dapat menghubungkan kawasan itu dengan negara-negara Asia Tengah.

Baca juga: “Mauritania Railway,” Inilah Jalur Kereta Ekstrem yang Belah Gersangnya Gurun Sahara

China Railway menyebut ada lima jembatan dengan total panjang 49,7 km dapat mengangkat rel kereta api untuk melindunginya dari badai pasir. Sementara itu, total 50 juta meter persegi grid rumput telah diletakkan dan 13 juta pohon termasuk rose willow dan buckthorn laut telah ditanam.

Tingkatkan Ketepatan Waktu, KAI Commuter Menambah Kecepatan KRL Lintas Jatinegara – Cikarang

Pernahkah menyadari saat naik Kereta Rel Listrik (KRL) melintas Jatinegara sampai dengan Cakung kecepatan lebih kencang dari biasa? Ya, ini dikarenakan jalur tersebut sudah diperbaharui kecepatan untuk kereta yang melintas termasuk KRL. KAI Commuter telah menambah kecepatan yang semula hanya 70 – 80 km per jam, kini menjadi 90 – 95 km per jam. Jika diukur menggunakan aplikasi kecepatan melalui ponsel, terpantau kecepatan KRL mampu mencapai 90 – 93 km per jam. Kecepatan tersebut guna meningkatkan ketepatan waktu dan juka mempercepat laju KRL agar semakin efisien dalam waktu perjalanan.

Baca juga: Mengenal Marka Batas Kecepatan Kereta Api

Semenjak diberlakukan perubahan jalur lintas Cikarang via Manggarai tujuan Tanah Abang – Kampung Bandan, via Pasar Senen tujuan Kampung Bandan melewati Tanah Abang pastinya membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Belum lagi perjalanan lintas tersebut melewati persinyalan yang harus menahan KRL untuk menunggu aman untuk masuk ke beberapa stasiun besar. KRL yang merupakan jalur Cikarang ini juga tetap menggunakan rangakain 8 hingga 12 kereta. Saat keberangkatan dari Stasiun Jatinegara menuju Bekasi, KRL langsung dikebut sampai Stasiun Klender. Saat berangkat dari Klender, KRL kembali meningkatkan kecepatannya hingga Buaran, dan seterusnya.

Baca juga: Kecepatan Kereta Ternyata Faktor Utama Pembunuh Satwa Liar di Taman Nasional Banff dan Yoho

Hingga saat ini, kecepatan KRL masih dimaksimalkan hingga 95 km per jam, kecuali pada petak tertentu yang mengharuskan perjalanan KRL mengurangi kecepatannya. Bahkan ada beberapa lokasi saat memasuki stasiun harus lambat, karena selain proyek double – double track belum kunjung usai, ada beberapa rel bahkan wesel yang masih perlu diperbaiki hingga adanya pergantian rel. PT KAI optimis saat semua 100 persen selesai, kecepatan kereta api akan disesuaikan bahkan bisa ditingkatkan kecepatannya, mengingat prioritas yang diutamakan untuk kenyamanan penumpang dalam perjalanan termasuk ketepatan waktu. (PRAS – Cinta Kereta Api)

Profile Pilatus Porter PC-6, Pesawat Susi Air Buatan Swiss yang Kecelakaan di Papua

Pesawat Pilatus Porter PC-6 PK BVM Susi Air mengalami kecelakaan di Papua saat melayani penerbangan rute Timika-Duma. Beruntung, enam penumpang dan satu pilot dilaporkan selamat. Belum diketahui secara pasti penyebab kecelakaan.

Baca juga: Mengenal Jasa Penerbangan Charter di Indonesia

Terlepas dari itu, pesawat Pilatus Porter PC-6 yang dipiloti oleh Capt. Dayle Peter Houzet itu sejatinya adalah pesawat tangguh. Pesawat ini memang didesain untuk beroperasi di wilayah-wilayah terpencil dengan medan perbukitan, pegunungan, dan perhutanan.

Pilatus PC-6 Porter tercatat memegang rekor sebagai pesawat yang mampu mendarat di lokasi tertinggi, untuk kategori fixed-wing aircraft. Pesawat bermesin tunggal ini tercatat pernah mendarat di gletser Dhaulagiri, Nepal, yang memiliki ketinggian 18.865 kaki atau 5.750 meter di atas permukaan laut.

Dilansir disciplesofflight.com, Pilatus Porter PC-6 buatan Pilatus Aircraft pertama kali diperkenalkan pada tahun 1959. Ketika itu, pesawat masih ditenagai oleh flat six 340 hp Lycoming GSO-480 yang hanya mampu mengangkut beban di bawah 2.000 pon. Cukup kecil untuk ukuran pesawat yang beroperasi di medan berat.

Barulah pada tahun 1961, pesawat dengan kemampuan STOL atau lepas landas dan mendarat di landasan pendek ini mulai mendapat banyak peningkatan pada mesin tanpa mengubah desain awal pesawat. Seri ini dinamakan PC-6/A Turbo Porter dengan mesin 523 shp Turbomeca Astazou. Pesawat inilah masuk ke jajaran armada Susi Air dan hari ini dilaporkan kecelakaan.

Seri Pialtus Porter PC-6 yang lebih bertenaga baru dirilis pada tahun 1964 menggunakan mesin Pratt & Whitney. Meski begitu, seluruh varian pesawat PC-6 keluaran dekade 60-70an belum ada yang mencolok.

Barulah pada tahun 1984, Pilatus Aircraft mengeluarkan seri yang paling populer sampai saat ini, Pilatus Porter PC-6/B2. Model B2 ini dilengkapi dengan mesin Pratt Whitney PT6A-27 yang sangat andal dan mampu menghasilkan 680 shp. Sayangnya itu diturunkan menjadi 550 shp di seri PC-6 selanjutnya.

Saat ini, Pilatus Porter sudah dibangun sampai 600 pesawat sejak tahun 1960an. Dari jumlah tersebut, 300 di antaranya masih beroperasi sampai saat ini di seluruh dunia. Sampai saat ini, pesawat itu masih diproduksi oleh Pilatus Aircraft hingga kini karena ada saja permintaan.

Baca juga: Susi Air, Maskapai Eks Menteri Susi yang Meroket Pasca Tsunami Aceh dan ‘Tenggelam’ Gegara Virus Corona

Di dunia, pesawat Pilatus Porter PC-6 digunakan untuk banyak operasi, mulai dari survei udara dan pemetaan, perang (perang Vietnam), kargo, komuter, operasi SAR, pemadam kebakaran hutan, operasi medis, terjun payung, joyflight, dan banyak lagi, baik di medan padang pasir, salju, hutan, pegunungan, dan sebagainya.

Spesifikasi Porter Pilatus PC-6 (PC-6/B2-H4)

Mesin : 550 shp Pratt & Whitney PT6A-27 turboprop

Propeller : Hartzell three-blade feathering kecepatan konstan; tersedia empat bilah

Rentang Sayap : 52.1′

Panjang : 35.75′

Tinggi : 10.5′

Kapasitas Bahan Bakar : 298 galon

Berat T/O Maksimum : 6.173 lbs

Berat Kosong Standar : 2.800 lbs

Beban Berguna : 3.373 lbs

Rentang : 870 NM (dengan tangki bawah sayap)

Plafon Servis : 25.000′

Jarak Lepas landas di atas 50′ rintangan : 1.444′

Jarak Mendarat di atas 50′ rintangan : 1,030′

Kecepatan Pelayaran Maks : 125 kts

Kecepatan Kios: konfigurasi pendaratan 52 kts

Penumpang : hingga sepuluh