Mau Jadi Pramugari? Siap-siap 5 Risiko Besar Ini

Sekilas, kehidupan pramugari tampak sangat glamor dan menyenangkan ketika berkeliling dunia, mengunjungi tempat-tempat eksotis, dan menikmati pengalaman baru. Namun, dibalik semua itu, ada harga mahal yang harus ‘dibayar’ oleh para bidadari angkasa tersebut.

Baca juga: Enam Pramugari Curhat Delapan Hal Soal Lika-Liku Kerja Saat Covid-19, Nomor Lima Bikin Naik Darah!

Selain kerja keras, pramugari sering kali terpaksa meninggalkan banyak agenda pribadi, seperti datang ke resepsi pernikahan sahabat, keluarga, bahkan menghadiri prosesi pemakaman orang tua, karena tidak mendapat cuti ataupun sedang bertugas di luar negeri. Ini dianggap sebagai kelemahan menjadi seorang pramugari/pramugara atau kru kabin.

Tak cukup sampai di situ, menjadi seorang pramugari/pramugara atau awak kabin juga memiliki banyak risiko besar yang kapan saja bisa merenggut nyawa. Dilansir dari berbagai sumber, berikut 5 risiko besar yang umumnya dihadapi pramugari.

1. Tertular penyakit

Di masa pandemi Covid-19, sudah tak terhitung pramugari/pramugara maskapai dunia yang terinfeksi virus tersebut. Memang, siapapun bisa saja tertular. Tetapi, bukan itu permasalahannya.

Sebagai profesi yang wajib bertemu dengan orang banyak, pramugari sangat rentan tertular Covid-19. Menariknya, profesi ini sulit untuk bisa dikerjakan secara remote, sebagaimana profesi lainnya.

Karenanya, apapun wabah yang sedang merebak, selama maskapai masih menerbangkan armadanya, pramugari harus siap membersamai penerbangan tersebut dan menerima segala risikonya, dalam hal ini tertular penyakit atau wabah tersebut.

2. Kecelakaan pesawat

Kecelakaan pesawat sudah pasti mau tidak mau dan suka tidak suka akan menimpa pramugara/pramugara. Kabar buruknya adalah sampai saat ini belum ada teknologi yang mampu menyelamatkan mereka saat terjadi kecelakaan.

Meski begitu, kabar baiknya adalah pesawat merupakan moda transportasi paling aman di dunia. Dari miliaran penerbangan dalam setahun, bisa terhitung dengan jari jumlah kecelakaan fatal yang menelan korban jiwa.

3. Instabilitas politik dan zona perang

Sebagai penerbangan komersial yang tidak dilengkapi dengan peralatan militer atau tempur, maskapai manapun di dunia pasti mengarahkan krunya untuk tidak terbang melewati rute-rute rawan konflik atau yang sedang berkonflik atau perang, seperti kawasan sekitar Rusia dan Ukraina.

Namun, dalam berbagai kasus, pesawat tetap melewati rute dari berbagai negara yang sebetulnya dalam kondisi relatif stabil tetapi kerap bersitegang. Itu pada akhirnya menyebabkan kecelakaan fatal. Salah satunya adalah kecelakaan Boeing 737-800 Ukraine International Airlines pada pertengahan 2020 lalu.

Baca juga: Positif Negatif Menjadi Pramugari, Gaji Rendah hingga Jadi ‘Pemain’ Cadangan

2. Bahaya di negeri orang saat layover

Layover adalah salah satu kenikmatan menjadi pramugari/pramugara. Di sini, mereka bisa traveling sepuasnya dengan tetap menjaga nama baik perusahaan. Selain itu, pramugari/pramugara juga mendapat uang saku untuk bekal selama singgah di negara tujuan rute maskapai.

1. Ketidakpastian pekerjaan atau gaji

Dalam kondisi normal, profesi pramugari/pramugara sangat menjadi primadona. Namun, di tengah kondisi yang tidak stabil di bawah pandemi Covid-19, posisi pramugari/pramugara berada di ujung tanduk dan kerap terpinggirkan sekalipun memegang peranan kunci bersama pilot dalam mengoperasikan penerbangan.

Kuda Putih Sang Pioner Kereta Api Komuter Tanpa Lokomotif

Sebagian masyarakat mungkin belum mengetahui dengan kereta bertenaga diesel yang legendaris tahun 1980-an yang satu ini. Julukan si Kuda Putih ini keberadaannya tak hanya menyisakan kenangan tapi juga pengharapan untuk tetap beroperasinya KRD kebanggaan masyarakat Yogyakarta ini. Namun hingga kini si Kuda Putih hanya dijadikan monumen yang berada di sebelah timur Stasiun Lempuyangan.

Baca juga: KA Kuda Putih, Menapaki Jejak Kereta Rel Diesel Pertama di Indonesia

Saat kehadiran si Kuda Putih pada masanya merupakan sensasi baru perkembangan KA komuter di Indonesia. Kereta ini juga tida perlu lagi ditarik oleh lokomotif. Tenaga berasal dari mesin diesel yang menggantung pada kerangka bawah. Sebutan Kuda Putih ternyata diambil dari simbol dua kuda putih yang saling membelakangi yang terletak di atas kabin masinis bagian luar. Dalam bahasa Jawa, kuda putih dissebut Turangga Seta. Turangga artinya kuda dan Seta artinya adalah putih.

KA Kuda Putih setelah direstorasi menjadi monumen di Stasiun Lempuyangan. (Foto: Semboyan35.com)

Si Kuda Putih ini diimpor oleh PJKA dari Glossing und Scholer GmbH, Dortmund Jerman sebanyak 7 buah. Dengan didatangkannya Kuda Putih menjadi tonggak penomoran KRD. Kuda Putih diberi nomo MCDW 300. Arti nomor seri: M adalah unit kereta yang dilengkapi motor diesel. Lalu C berarti kereta penumpang kelas 3. Kemudian D dapat membawa barang bagasi. Angka 3 menggunakan jenis transmisi hidrolik, dan angka 00 menunjukkan KRD tipe pertama.

Baca juga: KA Prameks (Prambanan Ekspres) Berhenti Operasi, Ini Dia Sejarahnya

Saat ini keberadaan si Kuda Putih masih teronggok di area Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta. Entah akan dipergunakan tetap sebagai monumen Stasiun Lempuyangan atau memang akan di lestarikan sebagai monumen lainnya. Sebagai informasi tanggal 8 Desember 2011, Unit Pusat Pelestarian dan Benda Bersejarah PT Kereta Api Indonesia memindahkan unit KRD Kuda Putih ke Stasiun Lempuyangan karena sebelumnya dipindahkan dari Depo Solo Balapan. Pemindahan dilakukan menggunakan KRLB (Kereta Luar Biasa) bersamaan dengan rangkaian Crane Kirow. (PRAS – Cinta Kereta Api)























Bukan di Adegan Film, Seekor Buaya Jadi Penyebab Jatuhnya Pesawat dan Tewaskan 20 Penumpang

Seekor buaya bisa menyebabkan jatuhnya pesawat, rasanya seperti ada dalam adegan di film fiksi. Namun, nyatanya hal terjadi dalam dunia nyata. Insiden tersebut menimpa pesawat penumpang bermesin turboprop Let L-410 Turbolet milik Filair yang berbasis di Republik Demokratik Kongo. Tentu yang menjadi pertanyaan, bagaimana hal itu bisa terjadi?

Baca juga: Ada Kelelawar Liar di Dalam Kabin, Boeing 777 Air India ‘Return to Base’

Dikutip dari Simpleflying.com, pada 25 Agustus 2010, penerbangan Filair dijadwalkan beroperasi dari Kinshasa menuju Bokoro, Semendwa, dan Bandundu. Segmen lepas landas dan penerbangan pesawat terbilang lancar. Namun, pada pukul 13.00 waktu setempat, pesawat tersebut menabrak sebuah rumah yang berjarak 1,2 mil dari landasan pacu di Bandundu.

Tragisnya, 20 orang di dalam pesawat tewas, meninggalkan satu penumpang wanita sebagai korban selamat. Stasiun radio setempat menyebutkan bahwa pesawat mengalami kehabisan bahan bakar setelah tidak dapat mendarat di Bandundu.

Let L-410 Turbolet

Namun, penyelidik kecelakaan tidak menemukan bukti bahwa terjadi situasi kekurangan bahan bakar. Dan, bukti terbaik kemudian muncul dari kesaksian satu-satunya penumpang yang selamat, yang memberikan rincian tentang pertemuan reptil berupa buaya selama penerbangan.

Penumpang selamat itu mengatakan kepada penyelidik bahwa seorang penumpang telah menyelundupkan seekor buaya ke dalam tas jinjing, yang tetap disembunyikan dari penumpang dan awak lain sampai pesawat mendekati pendaratan.

Pada titik tertentu, buaya itu muncul dari tas dan mulai berlarian di sekitar kabin. Dan seperti sudah bisa ditebak, ada kekacauan yang menyebabkan seorang pramugari panik dan berlari menuju bagian depan pesawat. Sayangnya, sebagian besar penumpang mengikuti ke arah depan, menyebabkan pergeseran berat yang substansial di dalam pesawat.

Pergeseran berat yang cukup besar ke arah bagian belakang pesawat mempengaruhi pusat gravitasi pesawat. Ini adalah kasus penerbangan ini ketika semua penumpang berlari ke depan. Pusat gravitasi pesawat merespons, dan pesawat menjadi kurang stabil dengan pusat gravitasi ke depan. Secara teknis, lokasi pusat gravitasi ke depan meningkatkan kebutuhan akan tekanan elevator belakang yang lebih signifikan.

Baca juga: Bikin Ketar-Ketir Penumpang, Inilah 6 Insiden Binatang Masuk ke Pesawat Tanpa Sengaja

Singkat cerita, kontrol elevator yang memadai diperlukan untuk mengendalikan pesawat sepanjang rentang kecepatan udara hingga ke stall. Dari insiden ini, awak pesawat tidak dapat mengatasi ketidakstabilan dan kemudian kehilangan kendali atas pesawat.

Profil China Airlines, Maskapai Nasional Taiwan yang ‘Alergi’ Pakai Nama ‘China’

Perseteruan Cina dan Taiwan kembali meningkat. Sejak Perang Saudara pada dekade 40an, kedua negara memang sering berseteru. Terlebih setelah PBB mengakui Taiwan bagian dari Cina dan di sisi lain Taiwan memproklamirkan kemerdekaannya seiring kekuangan ekonomi yang telah dicapai. Salah satu kekuatan ekonomi Taiwan datang dari maskapai nasional mereka, China Airlines.

Baca juga: Kesal Berada di Bawah Pengaruh Cina, China Airlines Ingin Ganti Nama Jadi Taiwan Airlines?

Ketika mendengar nama maskapai Taiwan tersebut, banyak yang bertanya kenapa maskapai menggunakan nama China Airlines dan sebaliknya bukan Taiwan Airlines?

Maskapai penerbangan nasional pada umumnya sering membawa nama negara yang mereka wakili. Misalnya, Air India, Air Canada, Air France, Aeromexico, Singapore Airlines, Qatar Airways, dan banyak lagi. Namun, lain halnya dengan Taiwan, flag carrier negara tersebut justru membawa nama Cina, China Airlines.

Dirunut dari sejarahnya, tentu saat pertama kali didirkan oleh mantan perwira Angkatan Udara Republik China (nama resmi Taiwan) pada 16 Desember 1959, memilih nama China Airlines bukanlah suatu hal yang aneh.

Memilih nama China Airlines sama sekali tidak aneh mengingat nama resmi Taiwan adalah Republik of China. Sudah begitu, di Cina daratan, belum ada maskapai yang menggunakan nama tersebut.

Kendati demikian, sepanjang sejarah berdiri sejak 10 Desember 1959, China Airlines (CAL) pernah beberapa kali secara tidak langsung direpotkan karena penggunaan nama ‘China Airlines’ pada maskapai.

Pasca diakui Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) pada tahun 1969, tak lama setelah dinasinoalisasi oleh Pemerintah Taiwan, China Airlines mengalami bencana besar pertama sepanjang sejarah perusahaan berdiri ketika PBB mengakui Republik Rakyat Tiongkok (RRT) pada tahun 1971 sebagai negara sah. Itu otomatis mencabut pengakuan ICAO terhadap China Airlines.

Tidak diakuinya China Airlines oleh ICAO berdampak buruk pada operasi maskapai, yang ketika itu sedang mengalami pertumbuhan penumpang cukup positif dengan load factor rata-rata 80 persen.

Seperti dikutip dari referenceforbusiness.com, pada tahun 1972 dan 1973, China Airlines kehilangan pangsa pasar di Jepang, Malaysia, Korea Selatan, dan Vietnam. Setelah tahun tersebut, China Airlines memang mengalami pasang surut operasi, salah satunya di tahun 1980.

Ketika itu, maskapai untuk pertama kalinya sejak berdiri mengalami kerugian akibat penurunan penumpang domestik seiring pertumbuhan jalan raya (tol) dan kereta api, bukan karena penggunaan nama China Airlines.

Baru pada tahun 2020 kemarin, saat pandemi virus Corona merebak, China Airlines mengalami apa yang pernah mereka alami pada dekade 70an.

Saat itu, tidak sedikit orang, kelompok, atau negara yang mengira bahwa China Airlines adalah maskapai Cina.

Baca juga: Call Sign Aneh dan Kece Badai Maskapai Seluruh Dunia, Salah Satunya Cedar Jet

Taiwan, sebagai pemilik maskapai tersebut, tentu saja dirugikan. Sebab, konotasinya bersifat positif, dimana maskapai China Airlines keliling dunia dengan frekuensi tinggi dengan membawa peralatan dan perlengkapan medis bantuan pemerintah Taiwan untuk melawan penyebaran Covid-19. Ini yang pada akhirnya menyebabkan munculnya desakan dari berbagai pihak.

Pada Februari 2020, berbagai organisasi kemasyarakatan Taiwan mengajukan petisi untuk mengubah nama China Airlines. Tujuannya agar tak terjadi kesalahpahaman, baik ataupun buruk. Petisi tersebut pun mendapat respon positif dari Kementerian Transportasi dan Komunikasi (MOTC). Sampai saat ini, prosesnya masih terus berlangsung.

Akankah Regional Aircraft Kembangan Airbus Mampu Goyang Pasar ATR-72?

Mungkin beberapa dari Anda masih ingat dengan struktur pesawat Bird of Prey yang diperkenalkan secara resmi pada 19 Juli 2019 kemarin – bertepatan dengan diselenggarakannya ajang Royal International Air Tattoo di Inggris. Sebagaimana yang sudah kita ketahui bersama, Bird of Prey merupakan salah satu konsep pesawat rilisan Airbus yang ‘menjiplak’ dari burung elang. Kendati nyeleneh, namun agaknya Airbus enggan melewatkan kesempatan emas untuk mengembangkan Bird of Prey ini.

Baca Juga: “Bird of Prey” – Desain Mahakarya Airbus yang Terinspirasi dari Burung Elang

Nah, kini kabar terbaru dari Bird of Prey sendiri muncul dengan membawa informasi yang lebih detail mengenai pengembangannya kelak. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman imeche.org, tubuh dari burung elang itu sendiri – yang menjadi inspirasi Airbus dalam menciptakan Bird of Prey, dinilai sangat mirip dengan konsep pesawat.

“Tubuh burung elang merupakan gambaran dari fuselage pesawat. Alasan utama dari peniruan ini adalah karena burung elang selalu mengoptimalkan konfirgurasi dari tubuhnya sendiri,” ujar Martin Aston, Airbus Job Transformation Manager.

Jika tidak meleset, maka Bird of Prey ini akan menjadi regional aircraft yang menggunakan propulsi listrik hibrida. Belum ada spesifikasi lebih lanjut yang dibocorkan pihak Airbus terkait pesawat berbentuk unik ini, namun pesawat ini dirancang untuk memboyong 80 penumpang dan bisa menempuh jarak hingga 1.500 km.

Airbus juga rencananya akan menggunakan struktur geodesik dengan serat karbon sebagai material utama dari fuselage-nya.

“Baling-baling akan menawarkan redundansi yang lebih besar, serta daya angkat ekstra pada kecepatan rendah,” sambung Martin.

“Penggunaan bahan bakar dari Bird of Prey juga akan lebih hemat 30 sampai 50 persen dari pada pesawat konvensional yang beroperasi saat ini,” imbuhnya.

Baca Juga: “A380-1000,” Mimpi Airbus Bawa Seribu Penumpang dalam Sekali Terbang

Jika pada pemberitaan sebelumnya disebutkan bahwa pihak Airbus sebenarnya agak sedikit pesimis dengan model Bird of Prey ini, namun dengan hadirnya pernyataan dari Martin Aston ini seolah menyimbolkan bahwa Airbus siap mengambil ancang-ancang untuk mengembangkan Bird of Prey.

Akankah kehadiran Bird of Prey di masa yang akan datang menggoyang pasar regional aircraft yang selama ini disandang oleh ATR-72?

Lion Air Group: Kami Terbangkan Pesawat ATR 72 di Rute Perintis yang Merugikan Demi Pemulihan Ekonomi

Lion Air Group membuka rahasia salah satu maskapai yang masuk dalam grupnya, Wings Air. Maskapai itu tetap mengoperasikan pesawat ATR 72-500 dan ATR 72-600 (propeller/ baling-baling) di rute-rute perintis yang merugikan demi pemulihan ekonomi daerah dan nasional, sejalan dengan pemerintah pusat.

Baca juga: Analis Penerbangan Global: Lion Group Kuasai 72 Persen Market Share Penerbangan Domestik

Dalam keterangan persnya yang diterima KabarPenumpang.com, layanan penerbangan terutama Wings Air yang seluruh armada dioperasikan tipe ATR 72-500 dan ATR 72-600 (propeller/ baling-baling) untuk menjangkau kota tujuan setingkat kecamatan dan kabupaten pada rute antarpulau hingga pulau terluar mencatatkan rata-rata 200 frekuensi terbang setiap hari.

Operasional tersebut masih mengalami kerugian dikarenakan faktor utilisasi (tingkat pemanfaatan) pesawat ATR 72 (propeller/ baling-baling) yang tidak optimal disebabkan melayani daerah-daerah (kota tujuan) perintis, selain harga bahan bakar pesawat (aviation turbine fuel/ avtur) lebih mahal dibandingkan harga avtur di bandar udara besar (kota besar).

Walaupun masih merugi, Wings Air dengan pesawat ATR 72 (propeller/ baling-baling) tetap melayani jaringan penerbangan dimaksud dengan pertimbangan:

  1. Upaya berkontribusi terhadap program pemerintah seiring fase pemulihan perekonomian daerah dan nasional.
  2. Membantu menciptakan transportasi saling terkoneksi: antarkecamatan, antarkabupaten serta antarkabupaten dan kota besar. Penerbangan Wings Air pesawat ATR 72 (propeller/ baling-baling) terhubung dengan layanan penerbangan Lion Air Group yang dioperasikan menggunakan pesawat berbadan sedang (narrow body) dan pesawat berbadan lebar (wide body) di bandar udara besar sebagai penghubung utama (main hub).
  3. Mendukung kelancaran mobilitas masyarakat dan logistik secara cepat, selamat dan aman.
  4. Pesawat ATR 72 (propeller/ baling-baling) mengakomodir penerbangan langsung (point to point) tepat atau sesuai insfrastruktur bandar udara di wilayah-wilayah hingga setingkat kecamatan.

Baca juga: Lion Group Kembali Hentikan Penerbangan, Pengamat: Mereka ‘Pintar’ Melihat Kondisi

“Utilisasi (tingkat pemanfaatan) pengoperasian pesawat udara jenis/ tipe ATR 72 (propeller/ baling-baling) yang dioperasikan oleh Wings Air tidak hanya tidak maksimal, tetapi juga harga avtur yang lebih mahal dibandingkan harga avtur di bandar udara besar,” jelas Corporate Communications Strategic of Lion Air Group, Danang Mandala Prihantoro.

“Hal ini karena melayani penerbangan perintis (bandar udara kecil setingkat kecamatan) sehingga operasional merugi. Untuk pengoperasion jenis pesawat ATR (propeller/ baling-baling) tidak seperti pesawat jet,” tutupnya.

Kereta Bagasi, Angkutan yang Selalu Dipilih Saat Jelang Lebaran

Nama kereta yang didesain khusus untuk mengangkut barang yaitu kereta bagasi. Kereta bagasi saat ini lebih dominan dengan warna hijau dan jarang sekali menggunakan jendela di tiap rangkaiannya. Dilihat dari bentuk keretanya memang sama seperti kereta angkutan penumpang, yang membedakan adalah bagian interior tidak dipasangi kursi hanya dibiarkan kosong. Fungsi dibiarkan kosong ini tentu saja untuk menyimpan barang – barang yang dikirim dari satu kota ke kota lainnya. Umumnya barang – brang yang diangkut merupakan pemesanan dari pelanggan yang mengirim melalui kereta api. Maka dari itu, kereta bagasi memberikan peran penting untuk pengirman barang.

Baca juga: Taruh Barang di Bagasi Kereta, Pahami Ketentuannya!

Seperti diinformasikan bahwa kereta bagasi ini tidak memiliki jendela, hanya ada beberapa ventilasi udara dan 2 buah pintu dorong. Kadang pintu dorong tersebut dibuka sedikit agar ventilasi udara bisa masuk ke interior, karena kereta bagasi sendiri tidak memiliki alat pendingin udara (AC) hanya penerangan lampu saja yang dialiri listrik dari kereta pembangkit. Dulu rangkaian kereta bagasi memiliki variasi warna, mulai dari warna kuning, biru, abu – abu dan hijau bercorak totol totol. Namun saat ini PT KAI khususnya bagian angkutan barang hanya cukup 1 warna, yaitu hijau bertuliskan CARGO.

Perjalanan kereta bagasi pun jika keberangkatan dari Stasiun Jakarta Gudang ada dua rute, yaitu rute utara dan selatan. Untuk rute utara keberangkatan dari Jakarta lebih dominan pada malam hari melewati Stasiun Cirebon Prujakan, Semarang Poncol, Cepu hingga Surabaya Pasar Turi. Sedangkan untuk jalur selatan, kereta bagasi ini melintasi Stasiun Cirebon Prujakan, Purwokerto, Lempuyangan, Madiun, Surabaya Gubeng bahkan hingga ke Malang. Namun ada juga angkutan kereta bagas ini keberangkatan dari Stasiun Bandung dengan tujuan Surabaya.

Baca juga: Bandara Zurich Swiss Punya AirPortr, Solusi Bagasi Pintar Bebas Tenteng Tas/Koper

Angkutan menggunakan kereta bagasi akhir – akhir ini masih terus dilakukan karena permintaan pelanggn setia pengiriman barang menggunakan kereta api pun cukup antusias. Tak hanya kiriman melalui perjalanan ekspres, ada pula kereta bagasi yang menggunakan perjalanan secara reguler, yaitu mengikuti rangkaian kereta api sesuai dengan tujuan. Belum lagi saat jelang libur nasional bahkan hari raya keagamaan bahkan tahun baru. Biasanya kereta bagasi selalu dijalankan hingga adanya perjalanan tambahan demi prioritas pelanggan setia jasa angkutan barang. (PRAS – Cinta Kereta Api)

Mengenal Sinyal Blok Antara, Bagian Vital dalam Perjalanan Kereta Api

Sinyal blok antara merupakan sinyal bantu yang menjadi petunjuk bagi masinis untuk mempersiapkan kereta api yang dijalankan nya sebelum memasuki sinyal muka. Biasanya posisi sinyal blok antara terletak sebelum sinyal muka. Di jalur KA Jabodetabek banyak sekali ditemukan sinyal blok antara ini. Biasanya terdiri dari dua sampai tiga lampu yang berbeda warna. Untuk dua aspek lampu biasanya berwarna merah dan hijau, sedangkan tiga aspek lampu memiliki tiga warna terdiri dari merah kuning dan hijau.

Baca juga: Sinyal Kereta Api Mekanik, Meski Tertinggal, Tapi Masih Tetap Digunakan

Untuk jalur KA yang berada di wilayah Jabodetabek atau yang kerap kali dilewati KRL sinyal blok antara ini memiliki tiga aspek lampu dan berada pada jarak lebih dari 2 kilometer. Biasanya fungsi digunakanannya sinyal blok antara ini mencegah dari kecelakaan atau tabrakan antar kereta dan masinis bisa mengetahui jika didepannya masih terdapat kereta yang jaraknya belum terlalu jauh.

Pada lampu sinyal blok antara ini terdapat plat segi empat bercat hitam dengan tanda satu atau dua garis putih. Di bawah plat terdapat plat lagi bertuliskan kode huruf B dan 3 atau 4 digit angka. Huruf B tersebut adalah kepanjangan dari kata Blok. Untuk sinyal blok antara diluar wilayah Jabodetabek, biasanya menggunakan hanya dua aspek lampu yang terdiri di merah dan hijau.

Baca juga: PT Len Gandeng Thales Kembangkan Sistem Sinyal Kereta Api Indonesia

Jarak sinyal blok antara dua aspek lampu ini jaraknya tidak terlalu dekat seperti jalur yang dilintasi KRL. Dan penempatan sinyal blok antara untuk jalur KA jarak jauh ini hanya brada di wilayah tertentu yang memiliki daerah kepadatan lalu lintas kereta api. Biasanya sinyal blok antara berada pada jalur yang memiliki sistem elektrifikasi. Lalu untuk sistem mekanik/manual tidak terdapat sinyal blok antara, melainkan hanya memiliki sinyal muka, sinyal masuk, dan sinyal keluar saat memasuki stasiun. (PRAS – Cinta Kereta Api)

Sambut Kemerdekaan RI ke-77, Yuk Berburu Promo Tiket Kereta Api. Catat Tanggalnya!

Seperti yang diberitakan kabarpenumpang.com, informasi mengenai promo tiket kereta api dalam memeriahkan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia akhirnya terwujud. Ya, tarif promo yang ditawarkan PT Kereta Api Indonesia (KAI) bagi penumpang setia dengan perjalananan kereta api akan memberikan harga khusus. Harga yang sangat luar biasa ini sayang sekali kalau dilewatkan.

Baca juga: Desas – desus Informasi Promo Tiket Kereta Api Jelang HUT Kemerdekaan RI

Seperti yang di informasikan melalui akun instagram resmi @kai121_ mengadakan tarif Promo Merdeka yang bisa dilakukan perjalananannya bagi penumpang mulai tanggal 8 – 11 Agustus 2022 dan tanggal 15 – 16 Agustus 2022. Pemesanan bagi penumpang yang ingin menggunakan tarif promo ini bisa melalui aplikasi KAI Access saja . Tidak berlaku pembelian di loket penjualan maupun pemesanan melalui loket. Bagi penumpang yang ingin memesan tiket promo tersebut bisa dilakukan mulai tanggal 7 – 17 Agustus 2022.

Tarif yang ditawarkan oleh PT KAI pun luar biasa mencengangkan. Untuk kelas ekonomi saja dengan harga Rp17.000 dengan rute Jakarta – Surabaya, Bandung – Surabaya, Purwokerto – Jember, Malang – Jember, Jakarta – Jombang. Kemudian untuk kelas eksekutif dan bisnis harga yang tawarkan adalah Rp77.000 dengan rute Purwokerto – Jember dan kelas argo/rangkaian full eksekutif hanya Rp170.000 dengan rute Jakarta – Surabaya, Jakarta – Malang, Jakarta – Solo, Jakarta – Semarang, Jakarta – Jombang, Bandung – Surabaya, Bandung – Solo dan Purwokerto – Malang.

Baca juga: Ini Livery Lokomotif dan Kereta Sambut HUT RI Ke-76

Dengan hadirnya tarif promo tersebut, pihak PT KAI berharap makin setianya masyarakat untuk menggunakan angkutan kereta api dan menjadikan sarana yang aman, nyaman, strategis, dan efisien. PT KAI juga menghimbau agar selalu perhatikan jadwal keberangkatan penumpang sebelum memesan. Pastikan tidak sampai salah naik maupun salah tanggal keberangkatan. (PRAS – Cinta Kereta Api)

Desas – desus Informasi Promo Tiket Kereta Api Jelang HUT Kemerdekaan RI

Baru – baru ini dikejutkan mengenai informasi tarif promo kereta api yang akan diadakan jelang HUT kemerdekaan Republik Indonesia. Kabarpenumpang.com sempat mencari informasi tersebut baik di media sosial maupun pihak PT KAI. Namun belum ada respon maupun tanggapan mengenai hal tersebut.

Baca juga: Sambut Wisatawan, Monumen Lokomotif Uap Jadi Ikonik Stasiun Bandung

Desas – desus informasi hal tersebut hanya sebatas melalui aplikasi teks percakapan di grup melalui ponsel. Hanya segelintir informasi menyebutkan bahwa tarif promo yang akan digunakan berupa harga terendah yaitu Rp17 ribu hingga harga tertinggi Rp170 ribu. Untuk kelas yang akan dijadikan promo pun beragam, mulai dari kelas ekonomi (split), ekonomi premium, bisnis, dan eksekutif.

Informasin yang diperoleh beberapa kereta api yang akan dijadikan tarif promo merupakan akses jarak menengah hingga jarak jauh. Kereta api yang mendapat promo rencananya keberangkatan dari Jakarta maupun Bandung ke berbagai kota di Pulau Jawa seperti Cirebon, Semarang, Purwokerto, Yogyakarta, Madiun, Malang, Surabaya, hingga Ketapang (Banyuwangi). Dan jalur Pulau Sumatera hanya berlaku untuk KA Sribilah dengan rute Rantau Prapat sampai dengan Medan. Tarif promo ini rencana bisa digunakan pulang pergi sesuai dengan tanggal yang ditentukan.

Baca juga: KA Joglosemarkerto Rute Cilacap – Yogyakarta Segera Beroperasi, Ini Jadwal dan Tarif Promonya

Seperti saat tahun 2016 lalu jelang HUT Kemerdekaan RI, PT KAI melakukan tarif promo dengan harga yang sangat unik yaitu Rp17.845, tarif tersebut berlaku pada perjalanan kereta api jarak jauh, dan menengah. Promo mengusung kemerdekaan saat itu dilakukan selama 7 hari dengan informasi bertuliskan “promo merdeka naik kereta api kemana saja bayar hanya 17.845 Rupiah”. Nah, jika memang tahun ini kereta api akan mengadakan promo kembali, pastinya berita baik untuk semua pengguna setia kereta api yang melakukan perjalanan jelang Kemerdekaan Republik Indonesia. Kita tunggu saja informasi berikut dan selengkapnya. (PRAS – Cinta Kereta Api)