Benarkah Penumpang yang Duduk di Sebelah Pintu Darurat Pesawat Mendapat Legroom Lebih Luas?

Meski sama-sama duduk di kursi kelas ekonomi, penumpang yang duduk di kursi kelas ekonomi deretan (row) sebelah pintu keluar darurat (emergency exit door) mendapat keuntungan legroom yang lebih luas dibanding kursi ekonomi di row lainnya. Kenapa demikian?

Baca juga: Kenapa Penumpang Diminta Tutup Tirai Jendela pada Penerbangan Siang Hari? Dilarang Lihat Pemandangan?

Pesawat sudah sedemikian rupa didesain tetap aman dalam keadaan dararurat. Aman dalam artian dipersiapkan cara penumpang dan kru menyelamatkan diri dengan cepat saat itu terjadi.

Saat dalam keadaan normal, penumpang keluar pesawat lewat airstair atau melalui garbarata. Namun dalam keadaan darurat, penumpang keluar pesawat melalui pintu darurat (emergency exit door) yang biasanya berada di row 11 dan 12, dilanjut turun ke ground menggunakan emergency evacuation slide.

Emergency exit door dan emergency evacuation slide memang telah menjadi satu kesatuan saat terjadi keadaan darurat. Cara kerja fitur itu bisa dibilang mudah, begitu juga saat mengaktifkan dan menggunakannya agar proses evakuasi berlangsung cepat.

Mula-mula, saat terjadi keadaan darurat, awak kabin akan memutar tuas slide posisi armed. Letaknya ada di pintu pesawat. Andai mereka tak melakukan itu, penumpang yang duduk menempel dengan pintu darurat diwajibkan untuk membukanya. Hal ini biasanya sudah diberi pengarahan oleh kru sebelum penerbangan dimulai.

Setelah itu pintu dibuka dan evacuation slide siap digunakan. Biasanya –sebagaimana rekomendasi FAA- evacuation slide akan siap digunakan setelah enam detik. Penumpang cukup menjatuhkan diri ke evacuation slide dengan posisi berbaring menghadap ke langit untuk membantunya meluncur ke permukaan.

Bahan evacuation slide sendiri terbuat dari nilon berlapis urethane. Namun, cat khusus yang disemprotkan membuatnya tahan api sekalipun hanya 90 detik. Itu mengapa proses evakuasi harus rampung dalam tempo kurang dari 90 detik dan ini tentu saja harus dilakukan dengan cepat tanpa membawa bagasi di pesawat.

Selain dapat memperlambat proses mobilisasi penumpang keluar kabin pesawat, perilaku penumpang yang materialistis dan mementingkan harta pribadi daripada keselamatan nyawa sendiri dan orang banyak, juga bisa membuat emergency evacuation slide robek tergesek bagasi.

Dengan ketinggian pesawat di atas dua meter dari darat, bukan tak mungkin penumpang bisa cedera bila melompat dari ketinggian tersebut untuk keluar dari pesawat.

Baca juga: Mengapa Tirai Jendela di Exit Row Terbalik? Ini Alasannya

Target evakuasi penumpang dan kru hanya 90 detik dalam keadaan darurat juga mengharuskan mobilisasinya mudah dan ini bisa terwujud bila legroom atau jarak antar kursi di row yang terdapat pintu darurat diperluas. Jadi, itulah alasan mengapa legroom di deretan pintu darurat di kabin pesawat lebih luas, lega, atau lebar dibanding kursi kelas ekonomi lainnya.

Terkait legroom yang lebih luas ini, di beberapa maskapai, penumpang bahkan dimintai biaya lebih, sekalipun mereka juga diminta untuk berkomitmen membantu proses evakuasi.

Kian Matang Menuju Komersialiasi Bus Otonom, Beijing Perluas Zona Demonstrasi Hingga 500 Km2

Bila di Indonesia dan kebanyakan negara, model bus tanpa pengemudi (bus otonom) baru sebatas wacana, atau paling mentok demo terbatas dalam pemeran, maka lain halnya dengan di Cina. Di beberapa kota utana di Negeri Tirai Bambu, sudah dilakukan serangkain demonstrasi publik dari bus otonom. Kota-kota di Cina seolah berlomba untuk bereksperimen dengan teknologi kemudi otonom, siap untuk mempercepat penggunaan komersial.

Baca juga: ANA Uji Coba Bus Otonom Angkut Karyawan di Bandara Haneda

Jangan kaget jika pengunjung naik taksi atau bus di Shenzhen, pusat teknologi di Provinsi Guangdong, Cina Selatan, maka Anda tidak dapat menemukan pengemudi. Saat ini, semakin banyak kota di Cina yang menawarkan transportasi umum tanpa pengemudi, yang mencerminkan pesatnya pertumbuhan kendaraan otonom di negara tersebut.

Dikutip dari globaltimes.cn (18/9/2022), Beijing baru saja mengumumkan pada hari Jumat lalu, peluncuran pembangunan fase-3 Zona Demonstrasi Mengemudi Otonom Tingkat Tinggi. Sebagai bagian dari fase-3, zona demonstrasi, mencakup area seluas 60 kilometer persegi, dan secara bertahap diperluas ke zona yang lebih besar, 500 kilometer persegi.

Pada bulan Agustus lalu, Kementerian Transportasi Cina merilis seperangkat pedoman nasional untuk mendorong penggunaan self-driving pada armada taksi dalam kondisi tertentu, sebuah langkah yang menurut para analis industri akan membantu mempercepat komersialisasi kendaraan otonom di Cina.

Sebelumnya aada 20 Juli 2022, kota Beijing meluncurkan operasi komersial pertama layanan perjalanan tanpa pengemudi di Cina. Pada bulan Agustus, kota Chongqing di Cina Barat Daya dan kota Wuhan di Cina Tengah mengeluarkan kebijakan baru untuk komersialisasi mengemudi otonom, yang memungkinkan kendaraan tanpa pengemudi untuk melakukan layanan komersial di jalan umum, dan mengeluarkan lisensi untuk gelombang pertama operasi demonstrasi tanpa pengemudi di negara itu.

“Kebijakan pemerintah telah memainkan peran yang kuat dalam mempromosikan pengembangan mengemudi otonom di Cina. Sektor mengemudi otonom negara di Cina muncul sedikit lebih lambat dari AS dan Eropa, tetapi telah mengumpulkan momentum pertumbuhan yang kuat,” Zhang Xiang, profesor tamu di Departemen Teknik dari Universitas Sains dan Teknologi Huanghe.

Baca juga: Sukses Uji Bus Otonom, Singapura Siap Operasionalkan di 3 Distrik Tahun Depan

China sudah memiliki desain tingkat atas dalam rantai industri teknologi mengemudi otonom. Rencana Lima Tahun ke-14 (2021-25) merinci cetak biru ilmiah dan teknologi untuk komunikasi kuantum, 5G/6G, sistem terdistribusi blockchain, Internet of Things, semikonduktor, dan rantai industri kendaraan energi baru (NEV).

Di Uruguay ada Jembatan Melingkar Penuh di Atas Laguna, Ternyata ada Makna di Balik Desainnya

Sesuai fungsinya, ada beberapa jembatan yang diranncang unik dengan alasan tertentu. Seperti di Uruguay contohnya, ada jembatan mobil yang dirancang melingkar penuh. Inilah Jembatan Laguna Garzón yang dirancng oleh arsitek Rafael Viñoly dan memiliki desain yang unik, tidak seperti kebanyakan jembatan.

Baca juga: Ngeri! Inilah Satu-satunya Jembatan Lengkung Kereta Api yang Ekstrim di Jalur Selatan Pulau Jawa

Dari quora.com diungkapkan, ternyata alasan desain jembatan ini cukup sederhana. Yaitu dibuat melingkar untuk memaksa pengemudi kendaraan di jembatan untuk memperlambat laju. Bahkan ada penyeberangan di jembatan yang memungkinkan pejalan kaki berjalan di dalam atau di luar jembatan.

Diresmikan pada bulan Desember 2015, pihak pengembgang Laguna mengatakan bahwa jembatan itu hadir sebagai tindakan yang sangat diperlukan untuk dapat melintasi laguna. Sebelum jembatan dibangun, satu-satunya cara untuk menuju laguna adalah melalui kapal feri kecil yang hanya bisa mengangkut dua mobil sekaligus.

Pembangunan jembatan yang diresmikan pada tahun 2015 ini banyak menuai kritik, namun keunikan pengerjaannya tidak bisa dipungkiri. Jembatan ini sekarang dapat menangani sekitar 1.000 kendaraan per hari dan menyediakan cara yang nyaman dan aman bagi pejalan kaki untuk menyeberangi laguna. Bagi pejalan kaki, berjalan di sepanjang jalan setapaknya dan mengagumi pemandangan indah dari ketinggian adalah suatu kenikmatan tersendiri, bahkan menyaksikan matahari terbenam dari jembatan menjadi favorit bagi para turis.

Baca juga: Miliki Konstruksi Baja Jepang, Jembatan Ini Masih Bertahan Sejak Tahun 1880

Jembatan di atas Laguna Garzón terletak pada jarak 40 km dari Punta del Este dan dibutuhkan sekitar satu jam untuk melakukan perjalanan di sepanjang laut dan pantai-pantai di kawasan Maldonado. Nah, jadi tahu kan sekarang, desain jembatan melingkar untuk apa fungsinya.

Inilah Tips untuk Melarikan Diri Jika Mobil Anda Tenggelam!

Memang, tidak ada diantara kita semua di sini yang mengharapkan suatu bencana alam menimpa Ibu Pertiwi. Namun apabila itu terjadi, maka agaknya Anda akan dilanda kebingungan karena campur aduknya perasaan ketika tengah dihadapkan pada situasi tersebut. Sejumlah orang mengatakan untuk tetap tenang ketika tertimpa bencana, namun agaknya itu terlalu klise karena pada dasarnya setiap orang akan panik dan tidak bisa berpikir jernih.

Baca Juga: Tips Ini Bisa Bantu Hilangkan Udara Panas Dalam Kabin Mobil

Nah, di sini KabarPenumpang.com akan berbagi sedikit tips tentang apa saja yang harus Anda lakukan jikalau mobil yang Anda kendarai tersapu gelombang tsunami atau nyemplung ke dalam sungai atau danau. Kiranya tips ini bisa Anda amalkan ketika dalam situasi terdesak.

Lepas Sabuk Pengaman
Langkah pertama yang harus Anda lakukan adalah melepaskan sabuk pengaman yang mengikat. Jika tombol pembuka sabuk pengaman macet, gunakanlah kunci atau benda tajam lainnya guna memotong sabuk pengaman. Ketika sabuk pengaman sudah terbuka, maka kemungkinan Anda untuk keluar dari dalam mobil menjadi bertambah.

Buka Kaca
Ketika mobil Anda tenggelam, jangan pernah berusaha untuk membuka pintu – karena sejatinya tekanan yang ada di luar jauh lebih besar ketimbang yang ada di dalam. Maka dari itu, satu-satunya akses bagi Anda untuk keluar dari mobil yang sedang tenggelam adalah melalui kaca.

Jika kaca macet, tetap jangan buka pintu. Cobalah untuk mendobrak kaca dengan menggunakan alat yang ada di dalam mobil, seperti kunci stang dan lain-lain.

Selamatkan Anak Terlebih Dahulu
Berbanding terbalik dengan instruksi keselamatan di dalam pesawat, yang harus Anda keluarkan terlebih dahulu dari mobil adalah anak Anda. Jika sudah keluar, barulah Anda boleh menyusulnya keluar.

Baca Juga: Tips Sopan Buang Angin Selama Perjalanan, Intinya Harus Tetap “Dicicil”

Ikuti Gelembung Udara
Dalam keadaan panik, kadang Anda tidak bisa menentukan arah kemana harus berenang. Nah, sebenarnya tips ini juga bisa Anda aplikasikan jika tersesat di bawah laut. Sebelum keluar dari mobil, tariklah napas dalam-dalam dan ikutilah kemana arah gelembung udara. Karena gelembung udara akan mengantarkan Anda menuju permukaan air.

Disebut Lebih Aman, Mengapa Kursi Pesawat Tidak Menghadap ke Belakang?

Bagi pengguna kereta, di beberapa kelas penumpang akan disuguhi kursi menghadap ke belakang. Namun, di pesawat, kursi kelas apapun pada umumnya menghadap ke depan. Ini kemudian menimbulkan banyak pertanyaan kenapa maskapai tidak mengatur agar kursi pesawat menghadap ke belakang, sebagaimana di kereta? Dalam kaitannya dengan safety, kursi menghadap ke belakang juga diklaim lebih aman saat terjadi keadaan darurat.

Baca juga: Kenapa Kursi Kelas Bisnis Miliki 3 Tali Sabuk Pengaman?

Dalam keadaan darurat, kursi menghadap ke depan memang memungkinkan penumpang mengalami cedera pada kepala, leher, dan punggung.

Menurut sebuah studi tahun 2020 oleh dua profesor Polandia dari Universitas Maritim Szczecin yang diterbitkan di ResearchGate, posisi kursi tegak pada pesawat menghadap ke depan memungkinkan penumpang celaka saat terjadi keadaan darurat.

Disebutkan, ada 18 persen kemungkinan penumpang cedera kepala parah, kemungkinan 55 persen cedera serius, dan kemungkinan 90 persen cedera kepala ringan bagi orang dewasa saat terjadi keadaan darurat. Celakanya, persentase ini bahkan terjadi dalam kondisi penumpang mengenakan sabuk pengaman (seat belt) sekalipun.

Dalam penelitian lain berjudul “Kecelakaan Pendaratan Pesawat: Seberapa Aman Penggunaan Passenger Lap Seat Belts di Pesawat?” yang dipublikasikan di MEDLINE®/PubMed®, sabuk pengaman pesawat yang ada sekarang sanggup untuk menghindari penumpang dari cedera saat terjadi turbulensi.

Namun, saat terjadi kondisi darurat lainnya, seperti pesawat mengalami deselerasi mendadak (seperti ngerem mendadak), sabuk pengaman pesawat yang ada sekarang tidak kuasa menahan kepala penumpang untuk tidak terbentur dengan benda di depannya dan membuat penumpang cedera.

Dengan dua penelitian tersebut dan berbagai penelitian lainnya, tercetus ide dari beberapa pakar agar kursi penumpang pesawat menghadap ke belakang.

Meskipun ini dianggap sulit dan melawan norma atau standar yang sudah terbentuk (dari kursi menghadap ke depan), tetapi dalam kaitannya dengan keselamatan penumpang, itu bukan tidak mungkin diubah dan regulator mengatur agar kursi pesawat menghadap ke belakang.

Hanya saja, selain melawan norma tak baku serta psikologis penumpang yang sudah sangat terbiasa sejak awal penerbangan modern dengan kursi menghadap ke depan, gagasan kursi penumpang pesawat menghadap ke belakang juga akan ditentang maskapai.

Menurut editor FlightGlobal.com kepada The Telegraph, kursi penumpang menghadap ke belakang sama dengan memaksa maskapai merogoh kocek besar. Saat terjadi tabrakan, pusat gravitas penumpang akan lebih tinggi dan kursi mengalami lebih banyak tekanan. Itu berarti, kursi dan lantai harus lebih diperkuat agar tidak hancur menghadapi tekanan besar dari penumpang.

Penguatan lantai dan kursi pada akhirnya membuat bobot pesawat bertambah, lalu konsumsi bahan bakar meningkat, dan cost membengkak.

Di masa lalu, kursi di kabin pesawat menghadap ke belakang bukanlah hal aneh. Menurut pengakuan salah seorang pengguna Quora, di tahun 1964, ia pernah bepergian dengan salah satu maskapai yang mengoperasikan pesawat Trident. Dalam ingatannya, dimana ia baru pertama kali menumpangi pesawat itu, terlihat beberapa kursi di bagian belakang pesawat menghadap ke belakang.

Saat ini pun, kursi menghadap ke belakang masih tersedia di beberapa maskapai penerbangan. Di private jet atau pesawat lain di luar pesawat komersial, kursi menghadap ke belakang bahkan lumrah ditemui.

Baca juga: Boeing Akan Lengkapi Pesawat 777X dengan Airbag, Mirip Airbag di Mobil? 

Tak sedikit kelompok atau perseorangan yang menilai bahwa kursi pesawat menghadap ke belakang akan membuat penumpang pusing dan mual.

Akan tetapi, itu dibantah oleh Brian Dunlap, seorang pilot komersial. Menurutnya, potensi penumpang pesawat pusing dan mual karena kursi menghadap ke belakang kecil. Itu karena hanya ada sedikit waktu dari keselurahan penerbangan dimana penumpang merasakan gerak maju pada pesawat, yaitu saat taxiing, lepas landas, dan mendarat. Di luar itu, terlebih saat cruising di ketinggian, penumpang sama sekali tidak merasakan gerak maju pesawat.

Merasakan Perjalanan Kereta Api Antara Kelas Eksekutif dengan Kelas Bisnis

Kalian tentu sudah merasakan naik kereta api dengan berbagai kelas yang dimiliki Kereta Api Indonesia. Bahkan ada yang menjadikan kelas tersebut menjadi kelas favorit karena dari segi kenyamanan, praktis bahkan harga yang ekonomis. Namun bagaimana pengalaman kalian jika naik kereta api menggunakan kelas eksekutif atau bisnis? Seperti diketahui bahwa kelas bisnis dalam perjalanan kereta api kini sudah semakin sedikit rangkaiannya. Kelas bisnis hanya kereta api tertentu saja yang masih bertahan perjalanannya.

Baca juga: Yuk Intip Kelas Apa Saja yang Telah Dimiliki Kereta Api Indonesia, Sudah Lengkap?

Kelas bisnis yang sudah ada sejak jaman PJKA ini merupakan kelas yang cukup ramai bagi pengguna kereta api karena nyaman dan harga yang cukup ekonomis pada jamannya. Namun kini kelas bisnis sudah tembus harga diatas rata – rata, bahkan bisa mencapai diatas Rp 200.000. Memiliki kapasitas 64 tempat duduk, kereta api kelas bisnis terbagi atas 2+2 dengan kursi yang memiliki sandaran agak miring dan dapat diubah dengan cara menarik sandaran kedepan atau kebelakang. Bahan kursi yang empuk dan ruang kaki yang cukup luas memungkinkan kelas bisnis menjadi terlihat cukup besar untuk interiornya. Kereta api yang menggunakan rangkaian kelas bisnis adalah KA Gumarang, KA Logawa, KA Ranggajati, KA Malabar, dan KA Sribilah Utama.

Beda dengan kelas bisnis, beda lagi dengan kelas eksekutif yang sedikit lebih mewah. Fasilitas yang mumpuni, menggunakan kereta api kelas eksekutif dari segi kenyamanan memang lebih baik untuk kelas ini. Dengan kapasitas 50 tempat duduk kelas eksekutif memiliki fasilitas lebih lengkap. Kursi di eksekutif lebih empuk dan bisa direbahkan (reclining seat) dan juga diputar (rotary seat). Penumpang diikelas ini juga dapat menikmati anek fasilitas, antara lain televisi saat diperjalanan, bantal, selimut, dan juga meja makan. Harga yang dikeluarkan pun untuk kelas eksekutif memang terbilang menengah keatas, bisa mencapai lebih dari Rp300.000.

Baca juga: “Kelas Ekonomi Rasa Eksekutif,” PT KAI Siap Luncurkan 66 Gerbong Ekonomi Premium

Bagi penumpang yang menggunakan eksekutif biasanya yang ingin menempuh perjalanan lebih cepat dari keberangkatan hingga tujuan. Waktu yang menjanjikan saat ditujuan dan juga saat ini telah menambah kecepatan untuk rangkaian kereta api kelas eksekutif. Kira – kira kalian lebih suka kelas eksekutif atau kelas bisnis? (PRAS – Cinta Kereta Api)

Berapa Kerugian Maskapai Penerbangan Atas Kecelakaan Pesawat?

Bisnis penerbangan oleh maskapai sangat berisiko tinggi. Kendati pesawat adalah moda transportasi paling aman di dunia, namun, saat terjadi kecelakaan bisnis maskapai sangat terancam sampai membuat kerugian besar. Lantas, berapa kerugian maskapai penerbangan ketika kecelakaan terjadi?

Baca juga: Mengapa Perusahaan Leasing ‘Diburu’ Maskapai dan Mengapa Maskapai Menyewa Pesawat? Ini Jawabannya

Maskapai penerbangan tentu tidak sendiri dalam mengoperasikan pesawat dan melayani penumpang. Ini melibatkan banyak pihak.

Dari segi pesawat, maskapai bekerjasama dengan produsen dan lessor atau leasing pesawat dalam hal sewa-menyewa. Hampir seluruh maskapai di dunia diketahui menyewa pesawat untuk menjalankan layanan penerbangan, baik itu maskapai besar dengan kapital super besar seperti Qatar Airways, Emirates, dan lainnya, maupun maskapai kecil.

Banyak hal yang mendasari ini, termasuk mahalnya biaya membeli pesawat. Merujuk pada daftar harga, pada pesawat Boeing, misalnya, satu unit Boeing 787-8 baru dibanderol sekitar US$240 juta atau Rp3,7 triliun (kurs Rp 15,808). Demi kelancaran operasi, maskapai tentu saja membutuhkan lebih banyak armada dan itu akan menguras ketersediaan uang tunai maskapai.

Karena itu, maskapai mayoritas lebih memilih menyewa pesawat ke lessor dan umumnya dari tiga model bisnis yang dilakukan, mulai dari sewa basah atau wet lease, sewa kering atau dry lease, dan sewa lembab atau damp lease, sewa kering lebih banyak dipilih. Kendati lebih cenderung menyewa pesawat, maskapai tetap berinvestasi dengan membeli sebagian kecil pesawat dari total armada.

Lessor tentu tak ingin mengambil risiko dan mengasuransikan pesawat yang dibelinya selama disewa maskapai. Sudah jadi rahasia umum bahwa seluruh pesawat yang beroperasi di dunia dilindungi atau dijamin asuransi.

Baca juga: Pilihan Pengadaan Pesawat, Mengapa Maskapai Pilih Airbus dan Boeing? 

Itu kenapa, saat terjadi peperangan atau konflik bersenjata di sebuah wilayah, maskapai ramai-ramai menghindari terbang di atas wilayah tersebut karena pihak asuransi tidak akan menanggung andai terjadi sesuatu atau tidak termasuk dalam insiden yang bisa ditanggung asuransi. Dengan begitu, terbentuk pola saling ketergantungan satu sama lain dalam bisnis maskapai.

Sampai di sini, saat terjadi kecelakaan pesawat maskapai, bisa dibilang maskapai tidak mengalami kerugian materil sedikitpun dari rusaknya pesawat. Lalu, bagaimana dengan penumpang?

Dihimpun dari berbagai sumber, selain mengasuransikan pesawat, pihak manufaktur juga diketahui telah mengasuransikan penumpang selama pesawat dioperasikan. Saat terjadi kecelakaan, penumpang otomatis telah ter-cover asuransi dari produsen maskapai yang bersangkutan. Sampai di sini, maskapai juga tidak mengalami kerugian atas sebuah kecelakaan.

Namun, dalam aturan perundang-undangan di Indonesia, saat terjadi kecelakaan pesawat, maskapai diwajibkan membayar kompensasi sebesar Rp 1,25 miliar per penumpang yang dibayarkan ke ahli waris. Dalam beberapa kasus, maskapai selalu memenuhi kewajiban ini, meski prosesnya ada yang mencicil dan cash.

Namun, di balik layar, tidak pernah diketahui apakah pembayaran kompensasi tersebut berasal dari keuangan murni maskapai atau dari pihak asuransi yang telah digandeng maskapai.

Baca juga: Empat Alasan Mengapa Maskapai Selalu ‘Rugi’, Nomor 1 Dilematis

Secara umum, dalam sebuah kecelakaan, sebagaimana dalam sebuah pendapat di Quora, kerugian tidak dialami maskapai dari insiden tersebut, melainkan dari hilangnya kepercayaan penumpang terhadap maskapai.

Dalam sebuah kasus, pesawat yang dioperasikan maskapai mengalami kecelakaan. Setelahnya, maskapai melakukan perubahan besar. Namun, penumpang sudah kehilangan kepercayaan dan itu mengakibatkan mereka kehilangan US$60.000 setiap hari selama 18 bulan. Itulah yang pada akhirnya membuat maskapai gulung tikar alias bangkrut.

Air Canada dan SAS Airlines Borong Pesawat Listrik Berkapasitas 30 Penumpang, 2028 Beroperasi

Semakin banyak maskapai yang tertarik mengoperasikan pesawat listrik. Terbaru, Air Canada dan SAS Airlines mengumumkan telah memesan puluhan unit pesawat listrik ES-30 berkapasitas 30 penumpang buatan start-up asal Swedia, Heart Aerospace. Bila segalanya sesuai rencana, pesawat listrik ES-30 mulai beroperasi secara komersial pada tahun 2028.

Baca juga: Pesawat Listrik Rolls-Royce dan Tecnam Meluncur 2026, Norwegia Jadi Pasar Terbesar

Dalam keterangan resminya, Air Canada menyatakan minat untuk membeli 30 pesawat listrik ES-30. Selain itu, maskapai nasional Kanada itu juga menyuntikkan modal sebesar US$ 5 juta ke Heart Aerospace untuk melanjutkan penelitian dan pengembangan pesawat tersebut.

“Pengenalan armada pesawat listrik regional ES-30 kami dari Heart Aerospace akan menjadi langkah maju menuju tujuan kami untuk mencapai nol emisi bersih pada tahun 2050,” kata Presiden sekaligus Chief Executive Officer Air Canada, Michael Rousseau.

“Sudah, Air Canada mendukung pengembangan teknologi baru, seperti bahan bakar penerbangan berkelanjutan dan penangkapan karbon, untuk mengatasi perubahan iklim. Kami sekarang memperkuat komitmen kami dengan berinvestasi dalam teknologi pesawat listrik revolusioner, baik sebagai pelanggan ES-30 maupun sebagai mitra ekuitas di Heart Aerospace,” tambahnya.

Nantinya, pesawat listrik ES-30 berkapastias 30 Air Canada akan dioperasikan oleh anak usahanya yang fokus pada penerbangan regional, Air Canada Express, yang operasinya dijalani oleh Jazz Air. Sebelumnya, maskapai mengoperasikan pesawat CRJ200 dengan kapasitas 50 penumpang di rute-rute regional.

Setali tiga uang, maskapai SAS Airlines juga demikian. Maskapai nasional yang dimiliki tiga negara ini diketahui sudah sejak tahun 2019 silam mendukung dan menyatakan minatnya membeli pesawat listrik buatan Heart Aerospace.

Meski tak ada keterangan pasti, minat tersebut datang tak lepas dari kepemilikan saham SAS oleh Swedia. Ada semangat nasionalisme yang melatarbelakanginya. Sayangnya, SAS Airlines tak merinci berapa pesawat listrik yang bakal dipesan.

“Bersama dengan seluruh industri, kami memiliki tanggung jawab untuk membuat perjalanan udara lebih berkelanjutan. SAS didedikasikan untuk mengubah penerbangan sehingga generasi mendatang dapat terus menghubungkan dunia dan menikmati manfaat perjalanan – tetapi dengan jejak yang lebih berkelanjutan. Surat dukungan dengan Heart Aerospace merupakan langkah penting ke arah itu,” jelas CEO SAS, Anko van der Werff.

Baca juga: Mungkinkah Seluruh Penerbangan di Masa Mendatang Gunakan Pesawat Listrik?

Selain SAS Airlines, ada juga maskapai negara-negara Nordik yang tergabung dalam program Nordic Network for Electric Aviation (NEA), yang turut mendukung pengembangan pesawat listrik Heart Aerospace asal Swedia, seperti Air Greenland, Avinor, Braathens Regional Airlines, El-fly AS, Finnair, Icelandair, NISA (Nordic Innovation Sustainable Aviation), RISE, SAS dan Swedavia.

Pengembangan pesawat listrik Heart Aerospace juga banyak didukung oleh perusahaan besar Swedia lainnya. SAAB, perusahaan dirgantara yang berbasis di Stockholm, Swedia, diketahui menyuntik modal US$ 5 juta. Lessor asal Swedia, Rockton diketahui telah menandatangani perjanjian pesanan hingga 40 pesawat.

Deutsche Bahn dan Talgo Luncurkan New ICE L, Kereta Jarak Jauh Eropa Beroperasi di 2024

Pada pertengahan tahun 2024, rencana di Eropa akan beropersi kereta jarak jauh generasi terbaru. Kereta yang dimaksud adalah New ICE L, yang belum lama ini diluncurkan oleh perusahaan kereta api nasional Jerman Deutsche Bahn (DB) dan Talgo, manufaktur kereta asal Spanyol. New ICE L nantinya akan beroperasi pada rute domestik di Jerman, selain menghubungkan Jerman dengan perbatasan Belanda, Austria, dan Swiss.

Baca juga: Dibangun dalam Waktu 12 Bulan, ICE 3neo Kereta Berkecepatan Tinggi dari Siemens

Dikutip dari railway-technology.com (15/9/2022), New ICE L diharapkan menjadi referensi Eropa untuk kereta api masa depan, ICE L disebut dapat beroperasi pada kecepatan komersial tertinggi 230 km per jam. DB berencana dapat mengoperasikan New ICE L pada paruh kedua tahun 2024. Untuk mempersingkat waktu tempuh, untuk tahap awal, KA baru ini akan beroperasi di jalur internasional antara Berlin dan Amsterdam.

Tentang New ICE L, kereta ini akan dilengkapi dengan gerbong yang ditarik dengan lokomotif. CEO DB Michael Peterson mengatakan, “Kami membuat perjalanan kereta api menjadi lebih inklusif dan nyaman. Selain akses level, pelanggan kami juga akan merasakan desain interior terbaru. Suasana living room di atas rel hanya dimungkinkan saat bepergian dengan layanan Deutsche Bahn.”

New ICE L kompatibel dengan lokomotif lain termasuk listrik dan diesel, rangkaian ICE L akan terdiri dari lokomotif multi-sistem dengan 17 gerbong penumpang. Kereta ini akan memiliki 562 kursi, terdiri dari 85 kursi kelas satu dan 477 kursi kelas dua.

Beberapa fitur teknis dari kereta baru termasuk akses bebas langkah ke semua pintu dari platform standar dengan ketinggian 760 mm, monitor informasi di pintu masuk, dan area tempat duduk yang menampilkan data real-time.

New ICE L juga akan dilengkapi WiFi dan hiburan seperti halnya di pesawat, gerbong penumpang restoran di dalam pesawat dengan bar dan kursi berkelompok, serta area terpisah untuk anak kecil dan keluarga dengan area bermain untuk anak-anak dan ruang penyimpanan untuk kereta bayi.

Baca juga: Hadirkan Kereta Bertenaga Surya, Jerman Selidiki Potensi Fotovoltaik di Jaringan Rel

Pada tahun 2019, Talgo menerima kontrak senilai €550 juta dari Deutsche Bahn untuk pebuataan 23 kereta komposisi, termasuk satu lokomotif dan 17 gerbong penumpang.

PT KAI akan Merubah Nama Stasiun di Wilayah Jabodetabek

Banyaknya stasiun kereta api yang tersebar di wilayah Jabodetabek membuat penumpang sebagai pelangga setia kereta api sudah mengingat betul stasiun mana yang mereka akan naik dan tiba ditujuan. Stasiun di Jabodetabek lebih dominan cukup dekat dengan daerah atau nama lokasi tersebut, agar memudahkan penumpang untuk naik dan turun kereta api. Bahkan sangat mudah dengan adanya peta petunjuk di tiap stasiun maupun di dalam interior kereta api/KRL. Namun kabarpenumpang.com mendapat informasi dari berbagai sumber bahwa beberapa stasiun di Jabodetabek akan berubah namanya.

Baca juga: Soal Penamaan Stasiun, Di India Ternyata Operator Kereta Tak Ikut Ambil Bagian 

Dilansir dari laman KAI, hal tersebut merupakan bentuk inovasi KAI dalam mengoptimalkan aset perusahaan. Beberapa penamaan stasiun yang terpilih bukan berarti sepenuhnya akan diganti namanya, hanya saja menambahkan nama merk/brand yang menjadi ikonik stasiun tersebut. Seperti yang kita ketahui stasiun BNI City yang kini menjadi Sudirman Baru. Berawal dari sebuah Bank BNI yang berlokasi dekan dengan Stasiun Sudirman Baru yang juga merupakan stasiun kedatangan dan keberangkatan stasiun bandara. Kini beberapa stasin yang akan dijadikan penambahan nama merk/brand rencananya adalah Stasiun Pasar Senen, Jatinegara, Tanah Abang, Tebet, Cikini, Sudirman, Juanda, Manggarai, Gondangdia, dan Palmerah.

Baca juga: Keunikan Papan Nama Stasiun Kereta dari Masa ke Masa

Rencananya, stasiun yang menggunakan nama brand sebagai contoh bekerjasama dengan brand Telkomsel, maka namanya menjadi Tanah Abang Telkomsel dan begitu seterusnya. Dengan dilakukan program ini, KAI dengan calon mitra berharap dapat menjalin kerjasama yang produktif dan berkelanjutan sehingga dapat menarik baik dari sisi reputasi maupun berkelanjutan bisnis antar perusahaan. (PRAS – Cinta Kereta Api)