Japan Display Inc. Siap Pasang Ribuan Smart Bus Stop di Tahun 2019

Jepang dan inovasi bisa diibaratkan satu tarikan nafas. Ketika dunia perkeretaapiannya tidak perlu diragukan lagi kapabilitasnya, kini Negeri Sakura melalui salah satu perusahaannya, Japan Display Inc. memamerkan smart bus stop, sebuah titik pemberhetian bus yang menggabungkan tenaga surya dan baterai internal sebagai pembangkit dayanya. Penggunaan energi berkelanjutan sebagai pembangkit daya inilah yang akhirnya menjadi penarik perhatian banyak kalangan.

Baca Juga: Seorang Desainer Industri Rancang Halte Bus yang Dilengkapi Pengisian Daya EV Nirkabel!

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman japantimes.co.jp (4/12/2018), smart bus stop yang dikembangkan bersama dengan Nishi-Nippon Railroad Co. ini juga dilengkapi dengan layar berukuran 32-inci yang bisa tetap nyala walaupun tengah ada pemadaman listrik yang diakibatkan oleh bencana alam. Ini dikarenakan penggunaan energi berkelanjutan – dimana halte bus ini tidak berpangku pada penggunaan listrik konvensional.

Japan Display Inc. berencana untuk memasang smart bus stop ini di sekitar 2.000 titik yang tersebar di seluruh Jepang pada tahun 2019 mendatang. Adapun uji coba dari smart bus stop ini berlangsung di kota Kitakyushu. Nantinya, informasi terkait jadwal pemberangkatan dan kedatangan bus serta berbagai informasi lain akan terpampang di layar tersebut, dan terus di-update dengan menggunakan teknologi informasi yang ada.

Terkait masalah layar, Japan Display Inc. menambahkan, akan ada juga iklan, penunjuk arah ke pusat evakuasi jika terjadi bencana, hingga informasi lokal akan turut pula terpampang di layar. Salah seorang eksekutif dari Japan Display Inc. mengatakan bahwa perusahaannya ingin sekali memperkuat pengembangan produk. Maka dari itu, ada sedikit bocoran dimana jika tidak meleset, layar-layar besar untuk di smart bus stop tersebut akan disokong oleh Apple Inc.

“Kami perlu melakukan sesuatu yang baru di jaman yang sudah serba modern seperti saat ini. Pun dengan pergeseran jauh di pengabdian kami yang intensif di perangkat seluler,” ujar Managing Executive Officer di Japan Display Inc., Yoshiaki Ito.

Baca Juga: Imbangi Pertumbuhan Smart City, Konsorsium ini Hadirkan Halte Bus Pintar Pertama di Jepang!

Jika dibandingkan dengan Indonesia, nampaknya perbandingan apple-to-apple yang tepat untuk smart bus stop semacam ini dapat diberlakukan di halte-halte Bus Rapid Transit (BRT) seperti TransJakarta. Karena pada dasarnya, halte-halte bus konvensional di Indonesia, atau khususnya Jakarta lebih banyak digunakan sebagai tempat berteduh ketika hujan ketimbang tempat menaik-turunkan penumpang.

Bayi 5 Bulan Keliling 50 Negara Bagian Amerika Serikat

Apakah Anda berpikir telah melakukan banyak perjalanan ke berbagai tempat? Mungkin bisa jadi iya, tetapi perjalanan tersebut akan kalah dibandingkan dengan seorang bayi perempuan berusia lima bulan di Amerika Serikat. Pasti Anda mulai bertanya-tanya apakah bayi mampu berkeliling negara bagian Amerika Serikat?

Baca juga: Seorang Ibu Melahirkan Bayi Kelima di Kursi Penumpang Mobil

Jawabannya iya. Sebab, bayi lima bulan bernama Harper Yeats ini menjadi orang termuda yang pernah mengunjungi 50 negara bagian di Amerika Serikat. Pasalnya kedua orang tua Harper yakni Cindy Lim dan Tristan Yeast membawa bayi lima bulan tersebut dalam perjalanan mereka.

Dirangkum KabarPenumpang.com dari laman travelandleisure.com (12/12/2018), awal perjalanan Harper dan kedua orang tuanya bisa dilihat dalam Instagram @harper.yeats. Lim dan Yeast yang berasal dari Canberra di Australia dan tinggal di Kanada, memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Amerika Serikat. Mereka melakukan hal tersebut untuk menghabiskan cuti hamil Lim setelah Harper lahir. Awalnya, Lim dan Yeast tidak bermaksud kunjungan mereka menjadi sangat epik dan viral.

Perjalanan ketiganya dimulai bulan Juni dan bergabung menjadi anggota All Fifty States Club yang memiliki aplikasi untuk menerima sertifiikat yang membuktikan secara resmi mengunjungi setiap negara bagian Amerika Serikat. Untuk menjadi anggota, pelancong sudah harus mengunjungi lebih dari 35 negara bagian.

Jika Anda membuka situs web organisasi dan mengeklik setiap negara bagian yang pernah Anda kunjungi, Anda akan menyadari betapa sulitnya mengunjungi begitu banyak orang. Tetapi hak-hak membanggakan dan menyombongkan karena berkeliling negara nagian Amerika Serikat tidak ada dalam pikiran keluarga kecil ini.

“Mengapa tidak pergi ke seluruh 50 negara bagian? Itu hanya rencana kami untuk melakukannya bersama dan bersenang-senang” kata Lim.

Sekarang, mereka hampir berada di akhir perjalanan mereka. Mulai 18 Oktober, keluarga akan berada di Vermont, perhentian terakhir di perjalanan dan mereka bahkan pernah ke Alaska dan Hawaii juga.

Baca juga: Bentak Bayi Menangis di Penerbangan, PNS Wanita Ini Terancam Kehilangan Pekerjaan!

“Saya harap ketika dia melihat foto-foto itu dan saya menceritakan semua ceritanya, bahwa dia dapat memiliki keyakinan bahwa dia dapat melakukan apa saja. Saya suka berpikir itu berdampak pada siapa dia akan menjadi,” kata Lim.

Satu hal yang pasti, Haper saat ini sudah menjadi penjelajah yang cerdas dengan usianya di bawah enam bulan.

Populasi Golongan Menengah Meningkat, Cina Akan Miliki 450 Bandara di Tahun 2035

Cina dengan jumlah penduduk 1,38 miliar jiwa memiliki 234 bandara sipil hingga Oktober 2018 kemarin dan jumlah ini akan mencapai 450 di tahun 2035 mendatang. Penambahan ini sendiri merupakan ambisi Cina untuk menjadi kekuatan penerbangan terbesar di dunia.

Baca juga: Manufaktur Rudal dari Cina Buat Pemindai Tubuh di Bandara dengan Keakuratan 95 Persen

Administrasi Penerbangan Sipil Cina atau The Civil Aviation Administration of China (CAAC) mengatakan hal tersebut pada Senin (10/12/2018) kemarin. Dari data yang ada, pada tahun 2035, permintaan transportasi udara penumpang Cina akan melampaui Amerika Serikat dan dalam dekade berikutnya sebagai kelas menengah yang semakin meluas . Ini akan mewakili hampir seperempat dari total penerbangan dunia.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman airport-technology.com (12/12/2018), pada tahun 2017 kemarin, bandara di Cina menampung 552 juta wisatawan dan diperkirakan tumbuh menjadi 720 juta pada tahun 2020. Dengan jumlah bandara saat ini, tidak akan mampu menampung kenaikan volume seperti sekarang.

Hal ini yang menjadikan CAAC memiliki rencana membangun bandara baru yang menjadi tambahan untuk mengatasi jumlah penumpang yang terus meningkat. Penambahan bandara baru sendiri, rencananya akan dibangun di wilayah Beijing-Tianjin-Hebei, wilayah Delta Sungai Yangtze, Area Teluk Besar Guangdong-Hong Kong-Macau, serta di kota-kota Chongqing dan Chengdu.

Selain karena peningkatan konektivitas antar daerah, bandara baru akan menjadi salah satu promosi pariwisata untuk pertumbuhan ekonomi di daerah-daerah tersebut. Baru-baru ini, perencana negara Cina, Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional (NDRC) memberikan izin untuk proyek perluasan Bandara Urumqi (URC) di Xinjiang dengan nilai RMB42.1bn ($6.06bn).

Baca juga: Terbentur Masalah Bahasa dan Kultur, Mungkinkah Cina Cantumkan Bahasa Inggris di Sarana dan Pra-Sarana Transportasi?

Pembangunan URC dijadwalkan akan berjalan hingga 2030 ketika bandara diperkirakan untuk mengelola 750 ribu ton kargo dan 63 juta penumpang per tahun. Pada tahun 2015, Bandara Urumqi diperkirakan memiliki 550 ribu kargo yang melewati setahun.

Namun, para pembuat kebijakan Cina juga berharap bahwa rebound dalam investasi infrastruktur dapat memberikan dorongan bagi ekonomi yang meluas pada laju terlemah sejak krisis keuangan global dengan analis memperkirakan pelemahan lebih lanjut dalam beberapa bulan mendatang. Dewan negara mengatakan pada Oktober bahwa negara itu akan meningkatkan investasi di infrastruktur seperti kereta api, jalan raya dan bandara untuk memacu permintaan domestik.

Dalam laporan terbarunya, penyedia solusi TI SITA mengatakan bahwa bandara dan maskapai penerbangan Cina telah meningkatkan pengeluaran TI mereka dengan fokus khusus pada keamanan dunia maya. Fokusnya adalah untuk melengkapi bandara dan terminal baru dengan teknologi terbaru dan mengelola jumlah penumpang yang terus bertambah.

Makin Dekat ke Pembatalan Pesanan, Mungkinkah SJ100 Masuk ke Dalam Daftar Belanja Lion Air?

Setelah kemarin sempat mempertimbangkan untuk melakukan pembatalan pemesanan sejumlah pesawat Boeing, kini PT Lion Air Mentari nampaknya semakin yakin dengan pilihannya tersebut. Sebelumnya, pembatalan pemesanan ini merupakan buntut dari kecelakaan pesawat Lion Air JT-610 pada akhir Oktober silam di Perairan Karawang. Adapun nominal dari pemesanan Lion Air terhadap armada Boeing mencapai US$22 miliar atau yang setara dengan Rp319,3 triliun.

Baca Juga: Buntut Insiden JT-610, Pihak Lion Air Bisa Batalkan Pesanan Pesawat ke Boeing!

Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Rusdi Kirana selaku pemilik Lion Air mengaku kecewa atas tanggapan yang dilontarkan pihak Boeing menanggapi kecelakaan yang menewaskan 189 orang tersebut. Diketahui, Lion Air hingga saat ini memiliki 368 pesanan pesawat kepada Boeing dan Airbus – lebih banyak tiga kali lipat dari 117 armada yang beroperasi saat ini. Khusus untuk Boeing, pihak manufaktur pesawat ini masih memiliki 250 pesawat yang akan dikirim kepada Lion Air.

Mengutip dari laman resmi Boeing, dijelaskan bahwasanya masih terdapat 190 pesanan dari pihak Lion Air yang belum dipenuhi. Dengan pemesanan ini, Lion Air merupakan pelanggan luar negeri terbesar bagi Boeing. Pemesanan dalam jumlah sangat masif ini merupakan salah satu ambisi perusahaan untuk melakukan ekspansi besar-besaran, yaitu menerbangkan 1.000 unit pesawat.

Rusdi juga mengatakan, Lion Air pun bisa jadi akan mendaftarkan unit bisnis Indonesia di pasar saham pada tahun 2019. Masih belum jelas apakah Boeing akan turut memiliki andil dalam ekspansi besar-besaran Lion Air pasca perselisihan yang terjadi di antara kedua belah pihak.

Jika benar pihak Lion Air membatalkan pemesanan terhadap Boeing, maka pilihan untuk menjadi suksesor Boeing dalam hal ini akan jatuh ke pihak Airbus dan bisa jadi akan muncul juga nama Sukhoi sebagai kuda hitam. Varian Airbus A320 dan SJ (Super Jet) 100 milik Sukhoi dinilai mampu untuk menandingi kualitas armada Boeing 737 family, karena secara keseluruhan, tiga armada beda perusahaan ini memiliki spesifikasi yang tidak terlalu jauh berbeda dan mumpuni di kelas narrow body.

Baca Juga: Laporan Investigasi Awal Lion Air JT-610: KNKT Indikasikan Sensor Angle of Attack Tidak Berlaku Normal

Khusus untuk SJ100 dan Boeing 737-800, seorang pengamat penerbangan, Alvin Lie mengatakan bahwa keduanya tidak jauh berbeda. Alvin menerangkan bahwa SJ100 yang notabene adalah pesawat rakitan Rusia ini mampu take-off dari landas pacu yang pendek – berbanding terbalik dengan Boeing 737-800 yang harus menggunakan landas pacu panjang untuk take-off.

Untuk konfirgurasi bangku, Sukhoi SJ100 memiliki konfigurasi ruang 3-2, sedangkan Boeing 737-800 konfigurasinya adalah 3-3. Sementara untuk harga, SJ100 dibanderol dengan harga yang hampir setengah dari Boeing 737-800. Pada tahun 2012 silam, harga 1 unit SJ100 dibanderol US$32 juta, sedangkan untuk Boeing 737-800 dibanderol dengan harga US$60 juta per unit.

 

 

Terlalu Mahal dan Okupansi Rendah, Mahathir Terpaksa Batalkan Pembangunan Fase 3 MRT Malaysia

Sebagai moda transportasi berbasis massal yang digadang-gadang mampu menjadi solusi kemacetan yang ada, Mass Rapid Transit atau yang biasa disingkat MRT ini tentu kehadirannya diidam-idamkan oleh banyak negara. Tidak perlu jauh-jauh, di Jakarta saja, proyek yang kini tengah ditangani oleh PT MRT Jakarta ini saja telah dinantikan kehadirannya. Namun apa jadinya jika ada satu negara yang membatalkan proyek pengadaan moda transportasi ini?

Baca Juga: Di Malaysia, Jalur MRT Ini Justru Sepi Peminat

Adalah Malaysia, melalui Perdana Menterinya, Dr. Mahathir Mohamad yang pada pertengahan tahun 2018 kemarin membatalkan pembangunan fase 3 MRT Malaysia. Tidak asal membatalkan, Mahathir punya beberapa analisa yang lantas menggiringnya untuk membatalkan mega proyek tersebut – salah satunya adalah kendala ekonomi. “Kami telah membuang banyak uang, dan beberapa proyek ini tidak diperlukan,” ujar Mahathir, dikutip KabarPenumpang.com dari laman freemalaysiatoday.com (30/11/2018).

Ya, sebagaimana yang kita ketahui bersama, biaya pengadaan moda transportasi berbasis massal ini tidaklah murah. Untuk biaya pembangunan MRT yang sekarang eksis di Malaysia saja, otoritas terkait sudah menggelontorkan dana senilai RM50 miliar atau yang setara dengan Rp175,5 triliun (kurs Rp3.500 per ringgit Malaysia). Mahathir berpendapat bahwa dengan dana sebesar itu, atau mungkin lebih untuk pembangunan MRT fase 3, ada baiknya disalurkan ke sektor lain yang lebih membutuhkan.

Memang, tidak bisa dipungkiri bahwa moda-moda mahal nan fungsional semacam ini akan memegang peranan besar bagi sektor transportasi di masa yang akan datang, namun Mahathir mengatakan, “Anda bisa membangun jaringan kereta ringan yang notabene lebih ekonomis dan memiliki daya angkut yang tidak terlalu besar. MRT itu satu kereta utuh, itu besar dan mahal,” tukasnya.

Maksud perkataan Mahathir barusan adalah dengan dana pengadaan yang sangat besar, namun okupansi atau daya angkut dari MRT Malaysia sendiri sangatlah kecil. Sederhananya, okupansi MRT Malaysia tidak sepadan dengan dana yang sudah dikeluarkan untuk pengadaan moda ini.

“Orang-orang senang ketika mereka punya MRT sebagai moda transportasi baru,” ujar Mahathir.

Baca Juga: MRT Malaysia Butuhkan 250.000 Penumpang per Hari Agar Bisa Tembus Break Even Point

“Harganya RM50 miliar, tetapi jumlah penumpang yang menggunakan MRT sangatlah kecil, sekitar 130.000 saja. Itu tidak cukup untuk mengembalikan apa pun,” tandasnya.

Berkaca pada Malaysia yang pernah gagal dalam pengadaan MRT, warga Indonesia seharusnya dapat lebih bijaksana dan lebih mempertimbangkan penggunaan sarana transportasi umum ketimbang kendaraan pribadi. Selain dapat secara langsung mengatasi masalah kemacetan, dengan menggunakan sarana transportasi berbasis massal, Anda sudah berperan aktif dalam mengatasi masalah polusi.

 

 

Tingkat Pelecehan Seksual di Udara Meningkat, Dua Maskapai India Perkenalkan “Pink Rows”

Pelecehan seksual mulai merambah dunia aviasi! Kini para pria hidung belang tidak hanya berani melakukan aksi-aksi cabulnya di moda transportasi berbasis massal yang penuh sesak saja, seperti bus atau kereta, tapi mereka sudah mulai merambah moda udara. Memang, aksinya tidaklah se-ekstrem di moda-moda darat, tapi tetap saja hal seperti ini patut diberikan perhatian lebih guna mempersempit ruang gerak mereka – salah satunya adalah dengan cara menghadirkan bangku khusus wanita.

Baca Juga: Istilah ‘Chikan’ Masuk Kamus Internasional Berkat Tingginya Angka Pelecehan Seksual di Kereta Jepang

Layaknya gerbong khusus wanita yang selama ini bisa kita lihat di Commuter Line Jabodetabek, atau bus khusus wanita di TransJakarta, bangku khusus kaum hawa ini juga sejatinya diharapkan dapat menjadi solusi dari permasalahan yang dapat menimbulkan trauma mendalam ini. Salah seorang penulis South China Morning Post, Kate Whitehead pernah menjadi korban dari para lelaki hidung belang ini.

Menurut seorang kolumnis ini, sandaran tangan di pesawat merupakan sebuah masalah politik gender, dimana tidak sedikit pria yang kebetulan duduk di samping seorang wanita, akan senantiasa ‘mensabotase’ sandaran tangan yang memisahkan bangku kedua orang ini. “Tidak hanya itu, tetapi sikunya akan sedikit menonjol ke ruang duduk wanita yang ada di sebelahnya,” tandas Kate.

Dikutip KabarPenumpang.com dari laman news.com.au (7/12/2018), ada dua maskapai asal India yang sudah mulai memperkenalkan ‘pink rows’ di dalam armadanya – Air India dan Vistara. ‘Pink rows’ di sini adalah baris khusus wanita di dalam suatu penerbangan. Air India memperkenalkan baris khusus wanita ini pada tahun 2017 silam, menyusul dua insiden dalam satu bulan dimana ada pria yang diduga meraba-raba awak kabin atau penumpang lainnya.

Sementara itu, Vistara memperkenalkan layanannya yang bernama “Woman Flyer”, dimana pihak maskapai menjanjikan tempat duduk yang disukai bagi penumpang wanita yang bepergian sendiri. Bagi para penumpang wanita yang belum menentukan tempat duduknya, maka petugas Vistara akan menjamin tempat duduk khusus bagi mereka, yaitu di pinggir jendela atau di pinggir gangway – tidak di tengah-tengah.

Baca Juga: Antisipasi Pelecehan Seksual di KRL, Ikuti Tips Berikut Ini

Tahun ini, CNN melaporkan bahwa investigasi FBI terhadap serangan seksual di udara telah meningkat 66 persen dari 2014 hingga 2017. Ada 63 investigasi terhadap serangan seksual di pesawat pada tahun 2017, 57 kasus di tahun 2016, 40 kasus di tahun 2015, dan 38 kasus pada tahun 2014. Namun angka-angka ini tidaklah mutlak sama persis dengan jumlah kasus yang terjadi, karena para investigator percaya bahwa di luar sana masih banyak kasus yang tidak dilaporkan.

 

Bergaya “Striptease,” Pramugara Berperut Buncit Lakukan Demo Keselamatan Penerbangan

Keunikan-keunikan kerap kali terjadi dalam sebuah penerbangan, biasanya datang dari awak kabin baik melontarkan candaan hingga aksi yang membuat penumpang tertawa. Seperti yang terjadi pada maskapai berbiaya rendah asal Amerika Serikat, Southwest Airlines, dimana seorang awak kabin pria melakukan demo alat-alat keselamatan dengan cara yang unik.

Baca juga: Bocah 8 tahun, Fasih Peragakan Alat Keselamatan di Dalam Kabin

Awak kabin ini melakukannya seperti seorang penari bar striptease yang menggoyangkan dan menaik turunkan tubuhnya saat mendemokan alat keselamatan. KabarPenumpang.com melansir dari thesun.co.uk (3//12/2018), kejadian unik tersebut terjadi pada penerbangan dari Chicago menuju Omaha.

Seorang awak kabin mengenakan baju pelampung melalui kepalanya dan menggesekkan tubuhnya ke dinding kabin. Dia juga berputar-putar erotis sembari memegang dinding kabin dan kemudian meniup corong untuk mengisi udara di baju pelampung dengan gayanya memonyongkan bibir dengan mimik ‘nakal.’

Tak hanya itu, awak kabin itu juga berjalan di lorong seperti seorang pragawati yang memamerkan busana dan penumpang yang melihat hal tersebut tertawa. Seorang penumpang bernama Bethany Joy Brenes menggambarkan situasi itu sebagai momen yang tak terlupakan. Dia mengatakan, mungkin ini pertama kalinya penumpang mendapatkan demonstrasi alat keselamatan yang unik.

Namun ternyata hal tersebut bukanlah pertama kalinya terjadi, dalam penerbangan lain seorang pria yang berpakaian seperti awak kabin diizinkan untuk membantu menerangkan demo alat keselamatan. Para penumpang yang melihat itu pun tertawa. Penumpang yang menggunakan akun @Racingsnake mentweet video pria berpakaian seperti awak kabin perempuan tersebut memberikan sedikit hiburan selama demo.

“Play fair untuk @Ryanair dan anggota awak kabin Ryan. Ini yang pertama bagi saya,” tulis akun itu lagi.

Tak hanya itu, awal tahun 2018, ternyata seorang awak Ryanair menari dengan iringan lagu Toxic milik Britney Spears untuk menghibur penumpang. Seorang penumpang mengaku, perlakuan awak kabin tersebut setelah penumpang disajiikan minuman tidak lama sebelum mendarat.

Baca juga: Sempat Viral, Awak Kabin AirAsia X Ini Tirukan Gaya Britney Spears

“Kemudian mereka mengumumkan di atas speaker bahwa kami akan disuguhi hiburan di dalam pesawat.”

Sebelumnya seorang pramugari yang bosan memperlakukan penumpang dengan rendisi Despacito di atas sistem PA pesawat, membawa kegembiraan bagi penumpang di atas pesawat. Di Indonesia pun tak kalah menarik, salah satu maskapai LCC yakni Citilink kerap kali melontarkan pantun-pantun unik sesaat sebelum pesawat mendarat di kota tujuan. Ini membuat penumpang terhibur dan menjadi satu bagian unik tersendiri yang dimiliki Citilink.

BlueSG Singapura Hadirkan Stasiun Pengisian Daya untuk Mobil Listrik Lain

Operator car-sharing di Singapura, BlueSG yang melayani wahana bertenaga listrik kini mengambil bagian untuk menumbuhkan ekosistem kendaraan listrik dengan membuat stasiun pengisian bagi pemilik kendaraan listrik lain yang rencananya akan dimulai tahun depan. Nantinya titik pengisian (charging point) mobil listrik milik pribadi akan berlokasi di tempat parkir Housing and Development Board dan parkir mobil pribadi.

Baca juga: Palembang Dapat Bantuan Mobil Listrik Hidrogen, Ini Dia Bedanya dengan Mobil Listrik Biasa!

Pengoperasian tersebut akan dilakukan oleh Urban Redevelopment Authority dan pengembang industri nasional JTC. Dilansir KabarPenumpang.com dari straitstimes.com (12/12/2018), pengumuman ini disampaikan saat ulang tahun pertama BlueSG pada Selasa (11/12/2018) kemarin. Dalam pengumuman yang disampaikan Direktur pelaksana BlueSG Franck Vitte, rincian lebih lanjut terkait biaya dan lainnya akan diumumkan dalam waktu dekat.

BlueSG merupakan anak perusahaan dari Blue Solutions yang dimiliki oleh konglomerat Prancis Bollore Group, sebelumnya mengatakan bahwa pada tahun 2020, sekitar 20 persen poin pengisiannya akan tersedia untuk mobil listrik milik pribadi. Ia juga berencana untuk mengembangkan armadanya dari 300 mobil yang ada saat ini menjadi seribu mobil, dan memiliki 500 stasiun yang menyediakan dua ribu titik pengisian.

BlueSG sekarang memiliki 135 stasiun dengan 531 titik pengisian daya. Pada akhir tahun ini, mereka memperkirakan jumlah ini akan bertambah menjadi 591 titik pengisian daya di 150 lokasi. Terkait sistem yang bekerja untuk pengemudi mobil listrik pihak ketiga, BlueSG mengatakan bahwa pemilik kendaraan pribadi dapat memesan titik pengisian terlebih dahulu melalui aplikasi seluler BlueSG, dan akan membayar biaya tersebut setiap menit.

Untuk semester pertama tahun 2019, BlueSG juga akan meluncurkan rencana keanggotaan perusahaan, tersedia dalam beberapa paket yang bisa dipilih pengemudi. Perusahaan akan ditagih langsung untuk penggunaan karyawan mereka.

Operator telah melakukan pembicaraan dengan bisnis selama dua hingga tiga bulan terakhir, dan mengatakan bahwa harga saham perusahaan juga akan diketahui lebih dekat dengan peluncuran. Bulan November 2018 kemarin, BlueSG melakukan survei kepuasan terhadap 1249 responden yang menggunakan layanannya dan didapat bahwa 90 persen dari mereka ingin melihat lebih banyak stasiun pengisian yang sedang dibangun.

“Ketika kami bertanya kepada mereka perbaikan apa yang ingin mereka lihat, jawaban pertama adalah mereka ingin memiliki lebih banyak stasiun. Ini adalah tujuan kami untuk membangun lebih banyak stasiun di mana mereka berada, ke mana mereka pergi,” kata Vitte.

Baca juga: Nanyang University Punya Bus Kampus Elektrik? Unpad dan UI Juga Punya Tapi…

Survei juga menemukan bahwa lebih dari sepertiga responden harus berjalan lebih dari 11 menit ke stasiun BlueSG. Perusahaan itu mengatakan akan melakukan ini dengan menyediakan lebih banyak lokasi pengisian daya.

“Disinilah kami terus bekerja, untuk melihat bagaimana kami dapat memiliki stasiun lebih dekat ke tempat pelanggan ingin pergi, atau ingin mulai menyewa mobil,” ujar Direktur komersial dan jaringan BlueSG, Jenny Lim

Troli Tak Hanya Angkut Barang, di Bandara India Menjadi Tempat Penyelundupan Emas

Troli biasa digunakan penumpang untuk mengangkut barang bawaan mereka di bandara. Namun apa jadinya bila troli tersebut digunakan untuk melakukan kejahatan dengan menyelundupkan barang terlarang ataupun emas? Juni 2018 kemarin, sebuah troli di Bandara Internasional Chhatrapati Shijavi (CSIA) menjadi alat menyelundupkan emas.

Baca juga: Bawa Benih Lobster, Penumpang Lion Air Terancam Pidana 10 Tahun!

KabarPenumpang.com melansir dari laman hindustantimes.com (10/6/2018), awalnya seorang petugas Intilejen Udara (AIU) mencegat Sheikh Zulfekar Ali setelah tiba dari Dubai dan menggunakan paspor India pada hari Selasa (5/6/2018). Kemudian Ali berjalan di jalur dan keluar dari bandara ketika petugas merasa ada yang ganjal dan mendeteksi sesuatu dari troli yang digunakannya.

Ali kemudian dicegat dan troli yang digunakannya diperiksa serta didapatkan empat batang emas seberat 1200 gram atau 1,2 kg senilai Rs34 lakh.

“Dia telah menempelkan emas batangan di troli menggunakan dua pita perekat transparan. Emas itu menempel pada panggangan logam dari keranjang,” ujar seorag perwira senior AIU.

Sedangkan hari Kamis (7/6/2018) atau dua hari setelahnya seorang pemilik pasapor India Sajid Shaikh,juga di cegat setelah melewati keamanan.

“Shaikh sedang menuju pintu keluar ketika dia dihentikan. Petugas menemukan 15 keping emas senilai Rs25.19 lakh, ”kata petugas itu.

Syaikh telah menyembunyikan emas di batang baja yang dia lekatkan pada kerangka troli bagasi. Sumber menyatakan bahwa penyelundup memilih teknik baru yang lebih inovatif untuk menghindari pihak pabean.

Baca juga: Lagi, Calon Penumpang Kedapatan Selundupkan Emas ke Dalam Botol Suplemen Makanan

“Para penyelundup memilih untuk menempelkan emas ke troli setelah mengambil koper dari sabuk. Tidak mungkin untuk memeriksa setiap troli karena banyaknya volume penumpang,” kata petugas itu.

Rute udara telah menjadi pilihan populer untuk menyelundupkan sindikat yang mempekerjakan operator dengan menjanjikan mereka imbalan yang baik untuk membawa emas melalui bea cukai. Di masa lalu, pihak berwenang telah menemukan emas yang disembunyikan di tas katun yang disimpan di toilet belakang pesawat, kantong jaket pelampung, pemegang kertas tisu di toilet pesawat, kursi pesawat di bawah, toilet counter imigrasi dan rongga masker oksigen toilet belakang di pesawat antara lain lokasi.

Meluncur Maret 2019, Inilah Hexa, Mini Copter Kursi Tunggal dengan 18 Propeller

Dewasa ini, layanan taksi udara seperti Uber Elevate dan nama-nama lain memang tengah digembar-gemborkan bakal menjadi solusi kemacetan dan polusi yang sudah semakin tidak bisa ditolerir. Namun kendala perijinan dan regulasi pada akhrinya menghambat moda-moda futuristik ini untuk mulai unjuk gigi di depan khalayak ramai dan membuktikan kapabilitasnya untuk mengentaskan masalah-masalah tersebut. Lalu, akankah taksi udara ini dapat ijin untuk mulai beroperasi dalam waktu singkat?

Baca Juga: Inggris Berdayakan Drone Untuk Pantau Para Pelanggar dan Inspeksi Jalur Kereta

Seperti yang sudah pernah diberitakan sebelumnya, berbagai perusahaan penyedia jasa layanan transportasi masih terbentur urusan regulasi dan terpaksa mengurungkan niatnya untuk segera meluncurkan produk andalannya tersebut. Alih-alih menunggu lama, Anda memiliki kesempatan untuk menjajal moda udara otonom ini di tahun 2019 mendatang – dimana salah satu perusahaan yang berbasis di Austin, Amerika Serikat, Lift Aircraft tengah mempersiapkan untuk memulai debut perdana dari pesawat Vertical Take-Off Landing (VTOL) 18-prop-nya yang bernama Hexa.

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (12/12/2018), Hexa sendiri merupakan moda udara berkursi tunggal yang menggunakan bahan dasar serat karbon ringan dan memiliki bentuk sederhana. Hexa memiliki empat bantalan pada bagian bawahnya yang memungkinkan moda ini untuk mendarat dimana pun – aspal, tanah, atau air sekalipun. Sistem kontrolnya pun sangatlah sederhana, yaitu hanya dengan menggunakan joystick dan iPad Pro.

Hexa tidaklah rumit seperti helikopter – sederhananya, moda ini memiliki bentuk layaknya sebuah drone raksasa dengan 18 propeller dengan satu kursi pengemudi pada bagian tengahnya dan empat bantalan untuk menunjang pendaratannya. Alih-alih menggunakan satu baterai sentral, Hexa menggunakan 18 baterai kecil yang terletak di bawah setiap baling-balingnya (propeller).

Baca Juga: Ternyata Drone Dilarang di Negara-Negara Ini

“Baterai adalah salah satu bagian yang paling tidak dapat diandalkan dari powertrain. Motor dan propeller dapat diandalkan, hanya ada beberapa bagian yang bergerak, tetapi baterai cenderung memiliki lebih banyak kegagalan daripada kedua komponen itu,” ujar CEO Lift Aircraft, Matt Chasen.

Keunikan lain dari Hexa adalah moda ini tergolong ke dalam jenis ultralight vehicle, dimana Anda tidak membutuhkan sertifikasi pilot untuk mengemudikannya. Kecepatan maksimum untuk ultralights vehicle ini adalah 55 knot, atau yang setara dengan 101 km per jam. Rencananya, Lift Aircraft akan mulai menyewakan moda-moda ini pada bulan Maret 2019 mendatang.